Kepulauan Indonesia

Cerita dari, untuk dan tentang Kepulauan Indonesia beserta Penghuni dan Penduduknya

Archive for the ‘BELAJAR DARI’ Category

Banjir 7: Akibat Drainase Buruk (Pelajaran dari China)

Posted by wahyuancol pada Juli30, 2012

Kota Beijing

Beijing adalah ibu kota negara China. Kota itu telah mengalirkan dana puluhan miliar dolar AS untuk melakukan modernisasi infrastruktur kota. Sejumlah bangunan megah didirikan saat kota itu menjadi tuan rumah Olimpiade 2008. Bandar udara nomor dua terbesar di dunia dibangun dan gedung pencakar langit bermunculan. Tetapi nbampaknya sistem drainase kota terlupakan. Dalam teknologi drainase, China ketinggalan puluhan tahun dari negara-negara maju.

Apa akibatnya?

Akibat dari buruknya sistem drainase kota, ketika terjadi hujan lebat sekitar dua minggu yang lalu, kota Beijing kebanjiran. Kondisi hujan yang terburuk dalam 60 tahun terakhir itu telah menyebabkan 37 orang tewas. Dari jumlah itu, 25 orang tewas tenggelam. Hampir 57.000 orang diungsikan dari rumah mereka. Pemerintah kota memberitakan bahwa kerugian akibat badai mencapai sedikitnys 10 miliyar yuan (setara dengan 1,6 miliar dolar AS atau 14,7 triliun rupiah).

Itulah akibat dari mengabaikan drainase.

Bagaimana dengan Jakarta? Bagi warga Jakarta, silahkan dipikirkan sendiri dahulu kondisi Jakarta. Hujan sebentar saja dapat menyebabkan Jakarta mengalami banjir.

Salam,

WBS

 

Sumber: Kompas 24 Juli 2012 hal 10

Iklan

Posted in B, Banjir, China, GLOSARIUM, PROSES (BENCANA) ALAM | Dengan kaitkata: , , , , | Leave a Comment »

Hampir Bangkrut karena Korupsi: Pelajaran dari Yunani

Posted by wahyuancol pada Desember22, 2011

Dalam sejarah lama, Yunani dikenal sebagai tempat lahirnya Ilmu Filsafat, dan menjadi “tanah suci” bagi filsafat dan etika, serta menjadi referensi bagi kiblat pengajaran dan referensi etika. Bahkan sampai para anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Republik Indonesia pada tahun 2010 sempat berkeinginan kuat untuk belajar ke Yunani. Katanya: “ingin belajar langsung ke tempat lahirnya ilmu etika”. Mau tahu berita itu? Klin ini, ini dan ini.

Sejarah lama Yunani memang harum. Tetapi sekang, Yunani menjadi lahan yang subur bagi budaya korup dan suap. Bahkan, keadaan tersebut membuat negara tersebut hampir bangkrut. Negara itu bisa selamat dari kebangkrutan karena diselamatkan oleh masyarakat Eropa.

Untuk mengetahui lebih jauh tentang persoalan Korupsi yang hampir membangkrutkan Yunani itu, mari kita simak naskah yang saya kutip dari Kaontor Berita Antara di bawah ini:

——————————-

Jakarta (ANTARA News) – Uni Eropa mulanya terlihat enggan membantu Yunani, tapi karena dikhawatirkan menulari seisi benua, Uni Eropa akhirnya turun tangan menangani krisis utang Yunani yang memuncak pada April 2010.

Tiga atau empat tahun lalu, saya sudah tahu bahwa salah satu dari karakteristik Yunani adalah korupsi. Krisis Yunani sebenarnya bisa dihindari jika negerit itu memulai segala sesuatu dengan cara yang sama sekali berbeda sejak dekade-dekade lalu,” kata Jean Claude Juncker, Presiden Uni Eropa yang juga Perdana Menteri Luksemburg, seperti dikutip Irish Times (9/10).

Pernyataan Juncker mewakili pandangan umum Eropa bahwa Yunani memang korup. Sulit dipercaya, negeri dari mana filsuf-filsuf agung peletak dasar etika berasal itu, malah menenggak kultur korup.

Rakyat Yunani sendiri mengakui negerinya terperangkap budaya korup dan juga suap, seperti terungkap dalam laporan Wall Street Journal pada 15 April 2010.

Ketika orang Yunani ditanya mengapa negara mereka demikian boros, namun di sisi lain begitu susah mengumpulkan kekayaan pajak, mereka akan menjawab dengan dua kata,fakelaki dan rousfeti.

Fakelaki artinya “amplop kecil,” yaitu simbol suap yang mengharu biru Yunani, sementararousfeti berarti upeti mahal yang juga merembes ke semua hal.

Budaya korup dan praktik kroni yang akut membuat Yunani nyaris bangkrut dan hampir meracuni Eropa.

Menurut Brookings Institution, Washington, suap, patronase dan korupsi lainnya adalah penyebab utama menggunungnya utang Yunani, dan membuat anggaran bocor 8 persen dari PDB setiap tahun.

Masalah dasar kami adalah korupsi yang sistemik,” aku Perdana Menteri George Papandreou.

Defisit anggaran Yunani lima tahun terakhir rata-rata 6,5 persen dari PDB. Tahun 2009 angka itu amblas hingga 13 persen.

“Andai korupsi Yunani ditangani lebih baik, setidaknya selevel dengan Spanyol, negeri ini bisa menekan defisit sampai 4 persen dari PDB,” kata peneliti senior Brookings, Daniel Kaufmann.

Yunani menempati urutan buncit dari 16 negara anggota zona euro dalam hal memerangi korupsi, sedangkan Transparency International mendudukkannya di terbawah dari 27 negara anggota Uni Eropa dalam praktik suap.

Bayangkan, 13,5 persen rumah tangga Yunani harus mengeluarkan suap rata-rata 1.355 euro (Rp16,8 juta).

Orang Yunani terbiasa mengeluarkan sogokan untuk mendapatkan SIM, pelayanan kesehatan, izin mendirikan bangunan, atau demi mengakali pajak.

Tidak madani

Dalam tiga tahun terakhir, sejumlah politisi senior didakwa menerima suap diantararanya akibat penggelembungan harga obligasi untuk dana pensiun.

Pada 2008 para pejabat senior pemerintah terbukti membantu satu gereja Ortodoks Yunani dalam mendapatkan hak kepemilikan tanah dengan melipatgandakan nilai klaim tanah sehingga negara dirugikan 100 juta euro.

Skandal itu membuat pemerintahan konservatif Yunani jatuh pada 2009.

Korupsi juga ditempuh dengan mengakali pajak. Pemerintah pun menjadi tidak berwibawa di mata wajib pajak.

“Inti masalahnya adalah kami tidak mempunyai kultur masyarakat madani,”kata profesor Universitas Ionian, Stavros Katsios. “Di Yunani, Anda disebut bodoh jika taat aturan.”

PM Papandreou bukannya tak serius memerangi suap, tapi langkah-langkahnya seperti sentralisasi data pajak dan penghematan anggaran, dianggap tak akan berbuah banyak.

Di Yunani, korupsi jarang bisa diungkap karena pengadilan tak serius menanganinya, bahka para saksi disuap untuk tak bersaksi, sementara para politisi bebas dari tuduhan karena mendapat kekebalan.

Pada 2007, miliaran euro sekuritas yang dijual ke dana pensiun kedapatan digelembungkan harganya. Kerugian dana pensiun ini ditalangi pemerintah, dan itu memperburuk defisit anggaran.

Komisi anti pencucian utang lalu menyelidiki sejumlah transaksi, kemudian menyimpulkan ada suap dan penggelapan pajak oleh pejabat-pejabat pemerintah. Anehnya, jaksa mencampakkan temuan ini dengan alasan laporan hanya ditandatangani kepala komisi anti pencucian uang, bukan oleh semua anggota komisi.

Kasus suap justru sering terungkap ketika peradilan asing memperkarakan perusahaan-perusahaan mereka yang berhubungan dengan Yunani.

Pengadilan Inggris memenjarakan mantan eksekutif perusahaan pemasok alat kesehatan DePuy International Ltd karena menyuap para dokter bedah Yunani dengan 7 juta dolar AS.

Suap ini membuat DePuy memperoleh kontrak pengadaan alat-alat ortopedis dengan harga dua kali lipat pasar Eropa.

Pada 2008, giliran raksasa Jerman, Siemens AG, dituduh menyuap sejumlah pejabat Yunani. Siemens bersalah telah menyuap para pejabat partai-partai utama Yunani. Ironisnya, tak satu pun pejabat Yunani diadili pengadilan Yunani.

Terus, ada kebiasan aneh di Yunani, yaitu parpol kerap membuat pos baru di kantor-kantor pemerintah untuk pendukung setianya. Misalnya, sebulan sebelum pemilu lalu, pemerintah merekrut 27 ribu orang baru untuk menempati pos-pos dadakan di berbagai kantor pemerintah.

Rekrutmen pegawai yang tak transparan membuat suap dan perkoncoan menghisap uang negara. Ini ditambah pembukuan yang buruk di kantor-kantor pelayanan publik. Rakyat pun menjadi ogah membayar pajak.

4-4-2

Jika para politisi saja korup, mengapa saya harus membayar pajak?” kata PM Papandreou menirukan keluhan rakyatnya.

Tak heran, seperempat pajak Yunani tidak bisa ditagih, kata Friedrich Schneider, ekonom Universitas Linz, Austria. Sepertiga lainnya menguap karena suap. “Anda kongkolikong dengan pengawas pajak, maka Anda mendapat diskon,” kata Schneider.

Penggelapan pajak di Yunani memakai taktik ala sepakbola “4-4-2”. Jika wajib pajak memiliki tagihan pajak Rp10 miliar, maka Rp4 miliar untuk pengawas pajak, Rp4 miliar tetap dikantong wajib pajak, sedangkan negara cuma kebagian Rp2 miliar.

Fakta ini menjelaskan mengapa di negara maju berpenduduk 11 juta orang ini hanya ada 15 ribu orang berpenghasilan di atas 100 ribu euro, kata Menteri Keuangan Yunani.

Biasanya jumlah pajak turun drastis menjelang pemilu, sebagian karena politisi perlu dana kampanye.

“Naiknya defisit anggaran dari 6 persen menjadi 13 persen Oktober tahun lalu bertepatan dengan masa pemilu dan turun drastisnya setoran pajak,” kata ekonom Nikos Christodoulakis.

Yunani juga aneh karena sekolah-sekolahnya kelebihan pengajar. Sampai-sampai, ada sekolah kecil yang mempunyai 15 guru olah raga, sementara di sekolah lain jumlah guru lebih banyak dari murid.

Masyarakat yang memilih melawan korupsi sering menemui jalan terjal, misalnya keluarga George Theodoridis yang berbisnis impor ikan segar dari Turki.

Selama bertahun-tahun mereka harus mengeluarkan suap agar ikan impornya memenuhi standard kelayakan. Januari tahun lalu, mereka mengadukan perkara ini ke Kementerian Pertanian, tapi tak ditanggapi.

November, Wakil Menteri Pertanian baru yang adalah aktivis antikorupsi, Michael Karchimakis, membuka kasus Theoridisi. Penerima suap akhirnya didenda.

Theodoridis beruntung karena istrinya bekerja di Kementerian Pertanian sehingga beroleh akses ke orang yang benar. “Bayangkan apa yang terjadi pada orang yang tak punya koneksi?” katanya seperti dikutip Wall Street Journal. 

Itulah Yunani. Tak heran, meski menjadi “tanah suci” untuk filsafat dan etika, kiblat pengajaran dan referensi etika justru telah lama hijrah dari negeri itu ke Jerman, Prancis, Inggris, dan Amerika Serikat. (*)

ANT/B010

Sumber: http://www.antaranews.com/print/1287878344/tentang-yunani

——————-

Negara kita, Republik Indonesia, dikenal sebagai negara para koruptor. Korupsi terjadi di setiap lapisan masyarakat, dan korupsi dilakukan berjamaah.

Pertanyaannya adalah Akankah kita mengikuti jalan Yunani?

Semoga bermanfaat dan ada pelajaran yang kita ambil dari Yunani.

Salam,

WBS

Posted in BELAJAR DARI, Yunani | Dengan kaitkata: , , , , , , | Leave a Comment »

Ketika Keinginan Manusia Dituruti 1: Kepincangan populasi (Pelajaran dari India)

Posted by wahyuancol pada November3, 2011

Tuhan menciptakan segala sesuatu di dunia ini berpasang-pasangan. Dari satu pasangan hasil ciptaan itu, keduanya memang berbeda tetapi perbedaan itu tidak membuat yang satu menjadi lebih tinggi nilainya atau kedudukannya dari yang satunya lagi. Pada suatu pasangan, keduanya yang berbeda itu saling melengkapi satu sama lain dengan kedudukan yang setara.

Demikian pula manusia. Ia diciptakan berpasangan antara laki-laki dan perempuan. Laki-laki berbeda dari perempuan. Dalam berbagai hal, laki-laki lebih unggul daripada perempuan, tetapi dalam berbagai hal lainnya lagi perempuan lebih unggul daripada laki-laki. Apabila laki-laki dan perempuan berpasangan, maka keduanya menjadi saling melengkapi sehingga banyak hal yang tidak dapat diselesaikan bila sendirian menjadi dapat diselesaikan dengan bersama-sama. Termasuk, dalam hal menyempurnakan kebahagiaan hidup.

Namun demikian, tetap masih ada sekelompok orang yang memandang laki-laki lebih baik daripada perempuan, atau sebaliknya. Mereka menentang kehendak Tuhan yang menciptakan pasangan yang saling berbeda  itu dengan tujuan untuk saling melengkapi. Salah satu contoh adalah apa yang sekarang ini diberitakan terjadi di India. Sekelompok masyarakat memandang lebih anak laki-laki daripada anak perempuan. Sedemikian tinggi penilaian yang mereka berikan kepada anak laki-laki sehingga mereka melakukan pengguguran kandungan yang diketahui akan melahirkan anak perempuan.

Akibat dari pandangan mereka itu adalah terjadi kepincangan populasi di dalam kelompok mereka. Jumlah laki-laki lebih banyak daripada perempuan. Efek susulannya adalah (1) banyak laki-laki yang tidak menikah karena tidak ada perempuan yang dinikahi; dan muncul suatu hal yang aneh bagi kita di sini, yaitu (2) meminjamkan istri kepada orang lain (selain suaminya).

Itulah suatu kenyataan yang benar-benar terjadi di dalam suatu kelompok masyarakat di India.

Semoga bermanfaat.

Salam,

WBS

Ingin tahu lebih jauh silahkan simak naskah asli di bawah ini, atau silahkan klik ini.

Tradisi Pinjam Istri karena Jumlah Perempuan Makin Sedikit

(AN Uyung Pramudiarja – detikHealth)

Warga India cenderung memilih anak lelaki, sehingga populasi perempuan terus menyusut karena sering diaborsi sejak dalam kandungan. Akibatnya muncul praktik saling meminjamkan istri karena tak semua lelaki bisa dapat pasangan sendiri.

Praktik semacam ini bisa ditemui di distrik Baghpat, negara bagian Uttar Pradesh yang terletak di wilayah India bagian utara. Salah satu korbannya adalah Munni, perempuan berusia 40-an tahun yang sehari-hari harus melayani hingga 3 orang lelaki.

Munni bukan seorang pekerja seks, ia adalah ibu rumah tangga biasa seperti halnya para perempuan di belahan dunia lain. Bedanya, selain melayani suaminya sendiri ia juga harus menjadi istri 2 saudara iparnya yang semuanya tidak beruntung mendapatkan istri sendiri.

Sebagai istri pinjaman, Munni juga harus memberikan kepuasan lahir batin kepada kedua saudara iparnya ini dan melayaninya seperti suami sendiri. Karena itu dalam sehari, ia harus berperan sebagai istri dari 3 lelaki sekaligus meski statusnya hanya sebagai pinjaman.

“Suami saya dan orangtuanya menyuruh saya melayani kedua saudara ipar saya, siang malam dan kapanpun mereka mau. Kalau menolak saya dipukul,” ungkap Munni yang telah memiliki 3 anak hasil kerjasama para suaminya, seperti dikutip dari Reuters, Rabu (2/11/2011).

Diyakini, kasus yang menimpa Munni juga dialami banyak perempuan lain di Baghpat hanya saja tidak ada yang berani melapor karena perempuan di wilayah itu diharamkan keluar rumah sendirian. Munni sendiri baru berani berbagi cerita setelah didatangi para pekerja sosial.

Menurut para pekerja sosial yang kini mendampingi Munni, tradisi meminjamkan istri marak di wilayah miskin seperti Baghpat. Pemicunya adalah populasi perempuan yang makin menyusut, akibat praktik aborsi yang sering dilakukan terhadap janin perempuan.

Dugaan ini diperkuat oleh data sensus terbaru yang dilakukan pemerintah setempat. Pada tahun 2011, perbandingan jenis kelamin di distrik Baghpat tercatat hanya 858 perempuan tiap 1.000 lelaki sementara rasio nasionalnya adalah 940 perempuan tiap 1.000 lelaki.

Angka kelahiran bayi perempuan di wilayah ini juga tercatat semakin sedikit dari tahun ke tahun. Sepanjang tahun 2011 hanya ada 837 kelahiran bayi perempuan, padahal 10 tahun sebelumnya yakni pada 2001 angkanya masih mencapai 850 kelahiran bayi perempuan.

“Kami telah menyaksikan sendiri dampak terburuk dari menyusutnya populasi perempuan di beberapa lingkungan masyarakat,” ungkap Bhagyashri Dengle, direktur eksekutif Plan India, sebuah organisasi sosial yang mendampingi Munni dan korban-korban tradisi meminjamkan istri lainnya.

Dalam tradisi sebagian masyarakat India, kelahiran bayi laki-laki memang dianggap membawa keberuntungan dan berkah bagi orangtua ketika mulai memasuki usia lanjut. Karena itu praktik aborsi ilegal marak dilakukan, khususnya terhadap janin perempuan.

Tak heran jika populasi perempuan di wilayah tersebut makin menyusut. Akibatnya bukan membawa keberuntungan, kondisi ini justru menciptakan penderitaan bagi para lelaki yang tidak mendapat pasangan maupun para perempuan yang terpaksa dijadikan istri pinjaman.

“Di tiap desa paling tidak ada 5-6 bujangan yang tidak mendapat pasangan. Bahkan di wilayah lain, dalam satu keluarga bisa ada 3-4 anak laki-laki yang tidak pernah menikah. Ini masalah yang sangat serius,” tutur Shri Chand (57 tahun), seorang pensiunan polisi di Baghpat.

Posted in BELAJAR DARI, India, Penciptaan, TUHAN | Dengan kaitkata: , , , , , , | Leave a Comment »

Banjir 6 (Dimensi Internasional Bencana Banjir: Pelajaran dari Thailand)

Posted by wahyuancol pada Oktober28, 2011

Sekarang Thailand sedang dilanda bencana banjir. Kota Bangkok terendam banjir yang terburuk dalam sejarahnya. Ribuan orang menjadi pengungsi. Bandara terbesar di negara itu ditutup. Kawasan industri tergenang. Pertanyaannya adalah apakah dampak banjir tersebut juga akan kita rasakan? dan pelajaran apa yang dapat kita ambil dari banjir tersebut?

———————-

Sungai Chao Praya

Sungai Chao Praya adalah sungai utama di Thailand yang bermuaran ke Teluk Thailand. Secara etimologi, Chao Praya berarti Sungai Raja-raja. Sungai ini adalah gabungan dari aliran Sungai Ping dan Sungai Nam, dan memiliki dua anak sungai, yaitu Sungai Pa Sak dan Sungai Sakae Krang. Luas Daerah Aliran Sungai (DAS) Chao Praya sekitar 160.000 km persegi. Luas DAS sungai tersebut mencakup sekitar 35% luas daratan Thailand. Debit rata-rata sungai tersebut sekitar 718 meter kubik per detik, dan debit maksimum mencapai 5.960 meter kubik per detik. Terdapat sepuluh buah kota di sepanjang aliran sungai tersebut, termasuk Kota Bangkok (Ibu Kota Thailand) yang berpenduduk lebih dari 12 jutra jiwa.

Delta Chao Praya

Dataran delta Chao Praya adalah kawasan yang sangat penting bagi Thailand. Kota Bangkok berkembang di delta tersebut. Persawahan ada di delta tersebut sejak Abad ke-13 dan Thailand sundah dikenal sebagai pengekspor beras sejak tahun 1855. Di zaman moderen, di kawasan delta tersebut berkembang berbagai aktifitas manusia. Berkembang kawasan industri, pertanian, perkebunan, peternakan, turisme dan perdagangan di dataran delta itu. Jepang membangun basis industri mobilnya di sana. Demikian pula dengan berbagai perusahaan elektronika khususnya komputer.

Pembangunan di kawasan Delta Chao Praya memberikan tekanan yang berat terhadap kawasan delta tersebut. Kawasan delta mengalami subsiden. Keadaan tersebut membuat Organization for Economic Co-operation and Development (OECD) mengkategorikan Kota Bangkok sebagai kota yang terancam banjir di kawasan pesisir (coastal flooding) pada tahun 2070.

Banjir Oktober 2011

Bulan Oktober  adalah bulan musim penghujan di Thailand. Curah hujan yang tinggi telah menyebabkan kawasan Delta Chao Praya dilanda banjir. Kota Bangkok mengalami banjir yang terburuk di dalam sejarahnya. Air laut yang pasang memperparah genangan banjir di kota tersebut. Ribuan jiwa penduduk kota tersebut menjadi pengungsi. Transportasi mengalami gangguan. Bandara Don Muang yang merupakan bandara terbesar di Thailand tergenang (Gambar). Tidak hanya itu, banjir itu juga menggenangi kawasan industri, pertanian, peternakan, perkebunan, turisme dan perdagangan.

Dimensi Internasional

Dampak banjir di dataran Delta Chao Praya tidak hanya dirasakan di Thailand, tetapi juga dirasakan oleh negara-negara lain. Perdagangan dan industri internasional merupakan penghubungnya.

Tergenangnya kawasan industri (Gambar) di Delta Chao Praya menyebabkan banyak pabrik mobil atau komponen mobil berhenti berproduksi (Gambar) (Tabel). Keadaan tersebut mempengaruhi industri mobil di Jepang, Malaysia, Indonesia dan bahkan sampai Amerika.

Banjir juga mengganggu industri komputer dunia, khususnya notebook dan PC Desktop. Menurut catatan analisis Data Corp, pabrik-pabrik yang tergenang banjir memproduksi 120 juta unit hard disk per tahun, atau sepertiga dari total produksi hard disk di Thailand. menurut pengamat pasar iSuppli, Thailand menghasilkan seperempat dari total produksi hard disk dunia.

Banjir Thailand dan Indonesia

Bagi Indonesia, selain mempengaruhi industri perakitan mobil, banjir di Thailand tersebut dapat menyebabkan krisis pangan. Hal itu karena Indonesia sering mengimpor beras dari Thailand dan Vietnam untuk memenuhi kekurangan produksi beras di dalam negeri.

——————

Sebagai penutup dapat dikatakan bahwa banjir di Thailand memberikan dampak bersifat internasional. Perdagangan dan industri internasional adalah benang merah penghubunganya.

Semoga bermanfaat.

Salam,

WBS

Sumber: Wikipedia, KOMPAS.com, CNN, AFP, Reuters.

Ingin tahu lebih jauh tentang banjir?

Banjir 1, Banjir 2, Banjir 3, Banjir 4, Banjir 5

Ingin tahu lebih jauh tentang dampak banjir Thailand terhadap industri automitif? Silahkan klik link ini. Atau Elektronik? Klik ini. Atau dampaknya terhadap ekspor beras yang memunculkan masalah pangan di Indonesia? Klik ini.

Posted in Banjir, HIDROSFER, PROSES (BENCANA) ALAM, Subsiden, Sungai, Thailand, Wilayah Pesisir | Dengan kaitkata: , , , , , , , , , , , , | Leave a Comment »

Di Tengah Bencana Dahsyat, Warga Jepang Tetap Tertib

Posted by wahyuancol pada Maret13, 2011

Saat ini Bangsa Jepang sedang mendapatkan musibah berupa bencana Gempa Bumi dan Tsunami. Gempa dan Tsunami tersebut tidak kalah hebatnya dari Tsunami yang terjadi pada tanggal 26 Desember 2004 yang menimpa sebagian besar Propinsi Nangroe Aceh Darussalam. Rusaknya Reaktor Nuklir Pembangkit Tenaga Listrik yang menyebakan terjadinya kebocoran radioaktif seakan menyempurnakan kehebatan bencana alam itu. Di sana bercampur menjadi satu antara bencana alam (Gempa dan Tsunami) dengan bencana karena partisipasi manusia (seperti runtuhnya gedung, kebakaran, dan kebocoran radioaktif).

Di tengah bencana alam yang demikian hebatnya itu, ternyata ada pelajaran yang sangat berharga yang masih bisa diberikan oleh Bangsa Jepang bagi dunia. Sepanjang berita yang tersiarkan, tidak ada kepanikan, tidak ada tangis histeris, tidak ada rebutan atau kerusuhan. Bangsa Jepang telah memberikan contoh tentang ketertiban yang luar biasa. Mungkin saat ini tidak ada bangsa lain yang mampu menandingi ketertiban itu.

Untuk memperoleh gambaran yang lebih jauh tentang hal itu, berikut ini adalah kisah tentang ketertiban Bangsa Jepang itu yang saya kutip dari Detik.Com. Sengaja cerita yang masih sangat panas itu saya sebarkan ulang agar makin luas kalangan yang membacanya dan dapat menarik pelajaran darinya.

————————

Dunia berdecak kagum dengan mentalitas masyarakat Jepang. Di saat terjadi bencana gempa dan tsunami yang mematikan, mereka tetap mengantre dengan tertib di supermarket untuk mendapatkan bahan makanan. Tidak ada rebutan, tidak ada kerusuhan!

Rupanya tidak hanya di supermarket saja suasana ketertiban di tengah bencana itu terlihat pada masyarakat negeri sakura. Ketika gempa baru saja terjadi, lalu lintas macet total. Namun, penduduk Jepang tetap bersikap tenang menghadapinya.

“Lalu lintas bagai di neraka dan sering kali hanya satu mobil dapat berjalan ketika lampu lalu lintas berubah menjadi hijau. Tapi semua begitu tenang dan mengemudi dengan aman dan memberikan jalan kepada satu sama lain,” ucap salah salah satu pengendara, Arakawa.

Arakawa mengucapkan hal itu melalui akun twitter, yang lalu diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh seorang translator bernama Aya Watanabe (@vida_es_bella). Watanabe menghimpun beberapa tweet para korban gempa yang menunjukkan ketertiban dan rasa kesetiakawanan warga Jepang.

Masih di jalan raya, seorang pengguna jalan lain mengatakan, ia mengemudi selama 10 jam untuk pulang ke rumah saat gempa menghentak pada Jumat sore, 11 Maret lalu. Lalu lintas sangat padat. Namun, ia tidak mendengar bunyi klakson sekali pun. “Yang terdengar hanyalah ucapan terima kasih antara satu sama lain, karena telah diberi jalan,” katanya.

Sikap tetap tertib dan tidak emosional juga terlihat di stasiun-staiun kereta api. Seperti diberitakan, ketiga gempa terjadi, jaringan KA Tokyo Metro sempat menghentikan operasinya dengan alasan keselamatan penumpang. Banyak penumpang yang terlantar di stasiun. Namun, mereka tetap menunggu dengan sabar sampai KA dapat beroperasi kembali. Para penumpang juga senang dengan cara petugas KA yang tetap melayani mereka dengan senyuman.

Seorang warga Jepang yang ingin menempuh perjalanan dari Oedo menuju Hikari Gaoka mengatakan, stasiun sangat penuh dengan penumpang. Sampai-sampai ada penumpang yang menunggu di luar gerbang tiket. Akan tetapi, semua tertib dan mengikuti arahan petugas stasiun. “Kami membentuk garis sempurna. Tidak ada tali partisi. Tapi kami memberikan ruang untuk orang lain berjalan. Semua orang mengikuti petunjuk yang diberikan oleh staf stasiun. Ketenangan ini sangat mutlak dan nyata. Saya kagum dengan kekuatan mental orang-orang ini,” kata dia.

Bagaimana dengan di Indonesia?

—————————-

Demikian sebuah contoh nyata dari Bangsa Jepang untuk dunia. Bukan cerita fiktif.

Mari kita bayangkan situasi di Jakarta sehari-hari. Suasananya dapat dikatakan bertolak belakang 180 derajad. Dalam hal berlalu lintas, dalam kondisi tanpa bencana pun kemacetan terjadi. Pengguna jalan saling menyerobot. Kemacetan karena kenderaan yang saling mengunci bukan cerita asing di persimpangan. Apa bila ada ruang kosong di depannya, segera diisi meskipun hal itu menimbulkan kemacetan. Tidak ada ceritanya memberi jalan kepada pengguna jalan lain.

Dengan situasi masyarakat kota Jakarta yang seperti itu, cerita tentang ketertiban dari Jepang itu seakan sebuah cerita yang ada hanya di sebuah negeri dongeng.

Saya merasa, hanya ada dua kata kunci tentang ketertiban Bangsa Jeopang itu, yaitu saling percaya satu sama lain yang juga kuat dan saling menghormati.

Semoga menjadi contoh yang bermanfaat.

Salam,

Wahyu

Posted in BELAJAR DARI, Jepang | Dengan kaitkata: , , , , , , , , , | Leave a Comment »