Kepulauan Indonesia

Cerita dari, untuk dan tentang Kepulauan Indonesia beserta Penghuni dan Penduduknya

Banjir 5 (Banjir karena Perubahan Tataguna Lahan: Interaksi Hulu – Hilir di Morowali)

Posted by wahyuancol pada November10, 2010

Mungkin kita tidak bermaksud melakukan tindakan yang merusak atau membuat orang lain sengsara. Tetapi, bila kita melakukan tindakan tanpa perhitungan yang baik, apa yang tidak kita inginkan itu bisa saja terjadi. Atau, yang kita inginkan A misalnya, tetapi B yang kita dapatkan karena salah perhitungan atau kecerobohan.

Nampaknya, itulah yang terjadi di Morowali beberapa waktu yang lalu.

Inilah kisahnya:

Kabupaten Morowali memiliki potensi lahan untuk perkebunan sawit, tambang nikel, emas dan galian C. Karena banyaknya warga yang miskin di daerah pemekaran Kabupaten Poso, Bupati Morowali, Anwar Hafid, mendatangkan investor ke Morowali. Salah satu syarat untuk mengeluarkan izin pembukaan kebun sawit adalah perusahaan bersedia membangun pabrik minyak sawit mentah. Diharapkan, apabila perkebunan sudah berjalan dan pabrik dibangun, maka bisa menyerap tenaga kerja.

Terkait pembukaan lahan itu, diakui oleh Bupati memang ada masalah lingkungan, tetapi katanya sudah diselesaikan dengan duduk bersama pihak pemegang izin. Tentang masalah lingkungan telah ditekankan agar pembukaan perkebunan atau tambang tidak boleh dilakukan di daerah yang bisa membahayakan masyarakat.

Niat mensejahterakan warga dengan mengundang investor memang membuahkan hasil. Kehidupan berubah di Desa Solonsa Jaya, Kecamatan Witaponda yang berada di daerah hulu. Tidak sedikit petani sawit desa tersebut menikmati hidup mapan. Mereka yang pada mulanya hanya memiliki rumah berdinding papan dan berlantai tanah, menjadi memiliki rumah tembok berlantai keramik dilengkapi peralatan elektronik. Mereka mampu menyekolahkan anaknya keperguruan tinggi, mengusahakan kios bahan pokok, dan naik haji. Namun, kesejahteraan itu hanya dinikmati mereka yang berada di daerah hulu.

Kisah yang sebaliknya terjadi di daerah hilir.Warga yang tinggal di daerah hilir menjadi langganan banjir setiap tahun, sepertiĀ  Moloenono, Togo, Togo Mulya, Bunta, One, Pute, Tompira, Sampalowo, Koromatantu, dan Modowe. Banjir disebabkan oleh luapan sungai Laa yang rusak hulunya akibat perubahan areal hutan menjadi perkebunan.

Sumber:

Harian Kompas, 18 Oktober 2010, halaman 23.

Semoga bermanfaat.

Salam,

WBS

Ingin tahu lebih jauh tentang banjir?

Banjir 1, Banjir 2, Banjir 3, Banjir 4, Banjir 6

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: