Kepulauan Indonesia

Cerita dari, untuk dan tentang Kepulauan Indonesia beserta Penghuni dan Penduduknya

Posts Tagged ‘Rob’

Puncak Banjir Jakarta di Januari 2014

Posted by wahyuancol pada Januari24, 2014

Banjir yang terjadi di Jakarta tanggal 17 januari 2014 yang lalu terasa menghentak warga Jakarta, terutama yang tinggal di kawasan Jakarta Utara. Banjir di pagi hari itu bertepatan dengan kondisi laut pasang tertinggi saat itu, yaitu 1,0 m dan curah hujan yang tinggi di malam hari hingga menjelah pagi.

Berdasarkan tabel pasang-surut yang dipulikasikan oleh sebuah situs internet, pasanglaut.com, ternyata kondisi pasang di tanggal 17 Januari itu belumyang tertinggi. Pasang laut yang tertinggi akan terjadi pada tanggal 28, 29 dan 30 dengan ketinggian air 1,1 m. Sebelum tanggal tersebut, yaitu tanggal 26 dan 27, ketinggian muka laut adalah 1,0 m, sama dengan ketinggian muka laut pada tanggal 17 Januari. Perlu diperhatikan juga bahwa kondisi pasang yang tinggi tersebut terjadi di pagi hari.

Sehubungan dengan kondisi tersebut, bagi yang hendak berangkat kerja di pagi hari, hendaklah berangkat lebih cepat.

——————————

Selasa, 28 Januari 2014, hari pertama pasang tertinggi di bulan Januari. Jakarta mendung tetapi tidak hujan. Curah hujan yang rendah sangat menggembirakan karena hari ini tidak terjadi genangan banjir seperti waktu sebelumnya di tanggal 17 Januari yang lalu. Namun demikian, masih ada kekhawatiran akan muncul kembali banjir atau genangan yang luas, karena dari prediksi BMKG di JakartaUtara berpotensi hujan lebat pada tanggal 29 januari 2014.

Semoga ramalan tidak menjadi kenyataan.

Iklan

Posted in Banjir, PROSES (BENCANA) ALAM | Dengan kaitkata: , , , , | 1 Comment »

Rob 2 (Rob [masalah lingkungan khas] di Kota Pesisir)

Posted by wahyuancol pada Desember17, 2011

Rob sudah sejak lama sangat akrab dengan kota Semarang. Dalam dua dekade terakhir ini, rob juga menjadi akrab dengan Jakarta. Sementara itu, tahap awal perkembangan fenomena rob dapat kita lihat di bagian barat Kota Tegal, tepatnya di Desa Muarareja.

Pertanyaan yang muncul kemudian adalah apakah rob (banjir pasang surut) merupakan bencana yang spesifik untuk kawasan pesisir berpemukiman?

Jawabannya adalah ya, karena di daerah pesisir yang tidak berpenghuni tidak dikenal rob. Fenomena penggenangan kawasan pesisir tak berpenghuni yang masih dalam kondisi alamiah oleh air laut ketika pasang adalah fenomena yang alamiah, dan daerah itu merupakan daerah rawa atau daerah pasang surut. Jadi, dengan pemikiran demikian, kalau kita memilih tinggi di daerah pasang surut, maka kita tidak bisa mengatakan bahwa kita terkena rob.

Lalu, bagaimana rob bisa terjadi di Kota Pesisir?

Terjadinya rob di kota pesisir dapat dipastikan memiliki sejarah panjang yang panjangnya hampir sama dengan sejarah perkembangan kota pesisir yang bersangkutan. Secara sederhana dapat kita katakan bahwa orang yang tinggal atau bermukim di kawasan kota pesisir yang terkena rob adalah orang-orang yang terjebak. Dapat kita pastikan bahwa pada awalnya mereka datang dan bermukim di kawasan rob itu, di daerah tersebut belum terjadi rob. Logika sederhana, bahwa orang akan memilih lokasi tempat tinggal yang aman dan nyaman. Tidak ada orang yang mau atau sengaja untuk tinggal di daerah rob. Orang yang akan tinggal di daerah rawa pun akan menimbun rawa itu sebelum mendirikan bangunan sehingga diperoleh lahan kering.

Rob 1, Rob 3, Rob 4.

Posted in Banjir, Pasang surut, PROSES (BENCANA) ALAM, Rob, Wilayah Pesisir | Dengan kaitkata: , , , | 2 Comments »

Rob 1 (arti istilah, makna praktis)

Posted by wahyuancol pada Januari24, 2011

Arti Istilah

Rob adalah istilah lain untuk menyebutkan banjir pasang-surut. Tidak diketahui persis asal kata dari istilah itu, tetapi istilah itu populer di Semarang. Perlu diketahui bahwa Kota Semarang adalah salah satu kota pesisir di Indonesia yang bermasalah dengan banjir pasang-surut.

Makna praktis Rob

Apabila kita melihat banjir pasang-surut atau rob melanda suatu kawasan, satu hal yang penting dicatat adalah, bahwa kawasan tersebut memiliki ketinggian permukaan tanah yang lebih rendah daripada permukaan air laut pada saat air laut pasang. Keadaan itu bersifat permanen. Artinya adalah banjir pasang surut rutin terjadi di kawasan itu dan diperlukan campur tangan manusia untuk menghindarinya.

Mengapa  demikian? Karena secara alamiah, dalam kurun waktu hidup manusia permukaan tanah atau daratan tidak mungkin naik dengan sendirinya sehingga melebihi ketinggian muka laut ketika pasang. Hal seperti itu hanya mungkin terjadi bila ada gerak tektonik yang mengangkat kawasan tersebut, dan itu hanya terjadi dalam skala waktu geologi, atau bila ada guncangan gempa yang luar bias seperti yang terjadi di Nias pada peristiwa Tsunami 26 Desember 2004.

Demikian pula dengan fenomena pasang-surut. Tidak mungkin kurun waktu sejarah hidup manusia permukaan laut turun sehingga permukaan daratan menjadi lebih tinggi. Bahkan sekarang ada kecenderungan muka laut naik yang memberikan gambaran bahwa di masa depan banjir pasang-surut akan lebih parah dalam arti genangan air akan makin dalam dan luar areal genangan akan makin luas menjangkau ke arah daratan.

Semoga bermanfaat,

Salam.

Lebih jauh tentang Rob? Silahkan klik link di bawah ini:

Rob 2, Rob 3, Rob 4

Posted in Air, Banjir, GLOSARIUM, HIDROSFER, Pasang surut, PROSES (BENCANA) ALAM, R | Dengan kaitkata: , , , , , | 2 Comments »

Rob 3 (Menanti Kedatangan Rob [bencana bersiklus])

Posted by wahyuancol pada November4, 2009

Berikut ini adalah kutipan dari KOMPAS.com edisi pagi ini Rabu 4 Nopember 2009 (http://megapolitan.kompas.com/read/xml/2009/11/04/06154523/rob.datang.pagi.hari)

JAKARTA, KOMPAS.comWarga Marunda, Jakarta Utara, dikejutkan dengan datangnya air pasang atau rob pada pukul 09.00. Padahal, biasanya, rob hanya datang pada malam atau dini hari. Untuk persiapan menghadapi banjir, Jakarta harus menambah 15 polder lagi dari 33 polder yang sudah ada sekarang.

Datangnya rob pada pagi hari kemarin benar-benar membuat warga Marunda sibuk memindahkan barang-barang rumah tangganya. Warga meninggalkan kesibukan mereka karena harus membendung air yang terus masuk dari laut.

”Biasanya air pasang datang malam hari. Eh, kok, sekarang pagi, saya jadi tidak bisa jualan,” kata Nisah (45), warga RT 003 RW 07 Marunda, Cilincing, Jakarta Utara (Jakut). Dia harus memindahkan isi rumahnya, seperti bangku, meja, pakaian, dan perabot masak.

Usman, Ketua RT 003 RW 07 Marunda, Cilincing, menjelaskan, air pasang yang datang pagi hingga siang ini memang di luar dugaan warga. ”Apalagi sekarang belum memasuki angin barat, wajar saja jika warga banyak yang panik dan terburu-buru memberesi perabotan rumahnya. Rob biasanya terjadi pada musim angin barat,” kata Usman.

Usman menambahkan, agar pihak Pemerintah Kota (Pemkot) Jakut secepatnya membuat tanggul atau dam di pesisir pantai. Tujuan agar warga Pantai Marunda tak lagi cemas dan khawatir ketika banjir rob tiba. Apalagi, sekarang ini banjir rob sulit diprediksi. Kalau dahulu warga bisa berpatokan pada bulan dan datangnya angin, sekarang ini harus selalu siap dan waspada.

———————————

Dengan kutipan berita di atas saya ingin menunjukkan bahwa Kalender Bencana dapat dibuat dengan mudah bahkan untuk skala suatu pemukiman sekali pun.

Kutipan berita di atas menunjukkan bahwa masyarakat sebenarnya telah melihat hubungan antara rob (bencana) dengan posisi bulan dan musim (hubungan bumi bulan dan matahari). Hanya mungkin mereka belum mengerti betul bagaimana kaitan antara posisi bulan dan matahari terhadap bumi, hubungannya dengan musim angin dan kedatangan rob.

Mereka sebelumnya telah mengamati kapan rob datang ke pemukiman mereka. Tetapi ketidak pahaman akan hal yang saya sebutkan di atas menyebabkan mereka berkesimpulan bahwa rob hanya datang pada malam dan dini hari.

Apa yang terjadi di kalangan penduduk Marunda itu menunjukkan bahwa secara tersirat mereka telah memiliki Kalender Bancana Rob, hanya saja, kalender itu masih berada di dalam pikiran mereka masing-masing dan belum dituliskan. Dengan sedikit menambah pemahaman mereka tentang pasang surut, saya kira mereka akan dapat membuat kalender bencana mereka sendiri dengan baik.

Salam,

Wahyu

Posted in Pasang surut, PROSES (BENCANA) ALAM, Rob | Dengan kaitkata: , , , | Leave a Comment »

Bencana Alam di Indonesia 2 (Siklus)

Posted by wahyuancol pada Januari13, 2009

Bencana alam adalah fenomena yang sangat biasa bagi sebagian besar penduduk Indonesia. Sepanjang tahun dapat dipastikan bencana alam itu pasti datang silih berganti. Hal itu dapat terjadi karena karakteristik Kepulauan Indonesia yang unik, yaitu karena: (1) terletak di daerah tropis, (2) terletak di antara dua samudera, (3) terletak di antara dua benua, dan (4) kondisi fisik yang berupa pulau-pulau baik besar maupun kecil dengan kondisi geomorfologi yang bervasiasi dari lahan basah di dekat pantai sampai pegunungan berlereng terjal.

Kondisi Berulang

Letak Kepulauan Indonesia di daerah tropis menyebabkan Matahari selalu berada di atasnya dan dilintasi Matahari ketika bergerak dari posisinya di belahan Bumi bagian utara ke belahan Bumi bagian selatan dan sebaliknya.

Perubahan posisi Matahari yang bergerak pulang balik tersebut di atas mempengaruhi perubahan temperatur udara di Benua Asia dan Australia yang mengapit Kepulauan Indonesia. Perubahan tersebut selalu berulang sepanjang tahun seiring dengan pergerakan Matahari yang telah disebutkan di atas. Ketika Matahari berada di belahan Bumi bagian selatan, daratan di Benua Australia lebih panas daripada daratan di Benua Asia, sehingga terjadi gerakan udara dari Benua Asia ke Benua Australia. Di kawasan Kepulauan Indonesia secara umum pada saat itu terjadi apa yang dikenal sebagai Musim Angin Barat, seperti yang sedang terjadi sekarang ini. Sebaliknya, ketika Matahari berada di belahan Bumi bagian utara, daratan Benua Asia lebih panas daripada daratan Benua Australia, sehingga terjadi gerakan angin dari Benua Australia ke Benua Asia. Di kawasan Kepulauan Indonesia secara umum pada saat itu terjadi Musim Angin Timur.

Pada saat Musim Angin Barat, di Kepulauan Indonesia juga terjadi Musim Hujan dengan curah hujan yang tinggi. Sebaliknya, pada saat Musim Angin Timur di Kepulauan Indonesia terjadi musim kering atau kemarau.

Selain kondisi yang berulang tahunan itu, ada kondisi yang berulang bulanan, yaitu kondisi pergantian antara Bulan Purnama dan Bulan Mati.

Bencana Terkait

Gelombang Tinggi

Bencana ini muncul setiap tahun berkaitan dengan musim angin yang bertiup kencang. Bencana ini terjadi di pantai-pantai yang berhadapan dengan arah datangnya angin. Bila Musim Angin Barat, maka pantai-pantai yang terbuka dari arah barat yang terkena. Demikian pula sebaliknya bila Musim Angin Timur maka pantai-pantai yang terbuka dari arah timur yang kena.

Banjir

Bencana ini muncul setiap tahun tatkala Musim Hujan tiba dengan curah hujan yang tinggi. Bencana ini melanda dataran rendah di sekitar aliran sungai atau di dataran banjir atau di pemukiman yang buruk sistem drainasenya. Di daerah pesisir, genangan banjir ini dapat saling memperkuat dengan banjir karena pasang surut. Daerah yang terkena bencana banjir ini dapat meluas dan banjir dapat makin hebat seiring dengan kerusakan di daerah aliran sungai atau kerusakan lingkungan.

Banjir Pasang Surut (Rob)

Bencana ini muncul berkaitan dengan siklus gerak bulan. Dengan demikian banjir ini berulang bulanan. Daerah yang terkena bencana ini adalah dataran pantai di daerah pesisir yang rendah atau daerah rawa-rawa pantai. Genangan banjir ini dapat diperkuat dengan banjir karena curah hujan. Jadi, banjir ini dapat terjadi lebih hebat di saat musim hujan.

Kekeringan

Bencana ini muncul setiap tahun pada saat Musim Kering atau Kemarau. Daerah-daerah yang terkena bencana ini adalah daerah-daerah yang kondisi sumberdaya air tawarnya terbatas dan bercurah hujan rendah. Daerah yang terkena bencana ini makin meluas seiring dengan terjadinya kerusakan lingkungan.

Tanah Longsor

Bencana tanah longsor atau gerakan tanah terjadi setiap tahun bertepatan dengan Musim Hujan. Daerah-daerah yang terancam oleh bencana ini adalah daerah pegunungan atau perbukitan yang berlereng terjal. Bencana ini dapat makin hebat seiring dengan meningkatnya kerusakan lingkungan di sekitarnya.

Kebakaran Hutan

Kebakaran hutan dapat terjadi setiap tahun pada saat Musim Kemarau. Di Indonesia, munculnya bencana ini berkaitan erat dengan cara pembukaan lahan yang dilakukan dengan membakar. Bencana ini umumnya terjadi di Pulau Sumatera dan Kalimantan.

Siklus Bencana

Bila kita cermati waktu-waktu terjadinya bencana alam tersebut di atas, maka kita dapat menggambarkan suatu siklus bencana alam di Indonesia dalam periode satu tahun. Siklus itu berjalan sesuai dengan berjalannya perubahan musim yang disebabkan oleh perjalanan Matahari berpindah dari langit belahan Bumi bagian utara ke selatan atau sebaliknya.

Penutup

Sebagai penutup dapat kita katakan bahwa ada bencana alam yang terjadi berulang di Indonesia setiap tahun. Kita dapat memperkirakan rentang waktu terjadinya, dan kawasan yang akan mengalami bencana itu. Menghadapi bencana-bencana itu, pemetaan daerah-daerah yang mungkin terkena bencana-bencana itu merupakan salah satu langkah yang penting.

Semoga bermanfaat.

WBS

Salam,

Wahyu

Bencana Alam di Indonesia 1

Bencana Alam di Indonesia 3

Bencana Alam di Indonesia 4

Posted in PROSES (BENCANA) ALAM | Dengan kaitkata: , , , , , , , , , | 3 Comments »