Kepulauan Indonesia

Cerita dari, untuk dan tentang Kepulauan Indonesia beserta Penghuni dan Penduduknya

Posts Tagged ‘Kekeringan’

Kekeringan 1: Dimensi Internasional Kekeringan (Karena Tempe, Kekeringan di Amerika Serikat terasa di Indonesia)

Posted by wahyuancol pada Juli27, 2012

Saat ini Amerika Serikat sedang mengalami bencana alam kekeringan. Sementara itu, di China terjadi bencana banjir. Lalu, apa urusannya dengan Indonesia?

Secara fisik, Amerika Serikat memang jauh dari Indonesia. Meskipun demikian, perdagangan internasional telah menyebabkan bencana kekeringan yang terjadi di Amerika Serikat itu terasa panasnya sampai ke Indonesia. Data yang dipublikasikan oleh surat kabar harian Kompas menyebutkan bahwa Indonesia mengimpor Gandum 900 ribu metrik ton (mt) (total impor 5.900 ribu mt), Jagung 2.450 ribu mt (total impor 2.500 ribu mt), dan Kedelai 1.730 ribu mt (total impor 1.897 ribu mt) dari Amerika Serikat. Akibatnya adalah industri pangan yang berbasis ketiga komoditas perdagangan tersebut seperti roti, dagung ayam, daging sapi, tahu dan tempe terpengaruh oleh kekeringan tersebut.

Masyarakat Indonesia adalah pengkonsumsi tahu dan tempe yang tinggi. Dengan perbandingan antara total impor kedelai dengan impor kedelai dari Amerika Serikat yang seperti di atas, maka industri tempe di Indonesia dapat dipastikan terpengaruh. Harga perdagangan internasional kedelai naik, maka industri tahu dan tempe di Indonesia terganggu.

Apa yang terjadi itu memberikan gambaran lebih lanjut bahwa ketergantungan menyebabkan ketahanan pangan Indonesia sangat rentan. Selain itu, keadaan itu memberikan gambaran bahwa Indonesia belum dapat mengelola kebutuhan pangannya dengan baik. Ini juga memberikan pelajaran bahwa pemerintah perlu memperbaiki kebijakan pertaniannya.

Salam,

Wahyu

Referensi: Kompas tanggal 24 Juli 2012.

Posted in Kekeringan | Dengan kaitkata: , , , , , , , , | Leave a Comment »

Bencana Alam di Indonesia 1 (Pencetus)

Posted by wahyuancol pada November3, 2009

Bencana alam didefinisikan sebagai bencana yang menimpa manusia murni karena proses alam. Definisi ini mengisyaratkan ada bencana karena aktifitas manusia dan ada pula bencana alam yang dipicu atau diperhebat  oleh aktifitas manusia. pada kesempatan ini kita hanya membicarakan bencana yang murni karena proses alam.

Proses alam dapat terjadi di geosfer atau lithosfer, hidrosfer atau di air atau di laut, dan atmosfer atau di udara. Proses alam yang terjadi di tiga domain itu dapat saling berkaitan satu sama lain. Dengan demikian, bencana alam yang terjadi di suatu kawasan, termasuk di Indonesia, sangat ditentukan oleh kondisi geologi, oseanografi dan meteorologi kawasan atau daerah tersebut.

Meskipun kita dapat membedakan adanya geosfer, hidrosfer dan atmosfer, namun proses yang terjadi sering sangat berkaitan satu sama lain dan kadang tidak dapat berdiri sendiri.

Bencana terkait Kondisi atau Proses Geologi

Berikut ini kita meninjau bencana alam yang proses utamanya adalah proses geologi. Proses geologi  dapat dibedakan menjadi proses-proses endogen (yang bekerja di dalam Bumi)  dan proses-proses eksogen (yang bekerja di permukaan Bumi).

Proses endogen terdiri dari:

  1. Gerak Tektonik – menyebabkan gempa. Gempa dapat mengebabkan terjadinya patahan di kerak bumi. Guncangan gempa dapat mencetuskan Longsor atau Gerakan Tanah seperti yang terjadi di Padang Pariaman. Adapun patahan yang terjadi di dasar laut dapat memicu terjadinya Tsunami (proses terjadi di laut atau hidrosfer), seperti yang terjadi ketika gempa 26 Desember 2004 di Samudera Hindia. Sementara itu, longsor yang terjadi di palung-palung laut dalam juga dapat menimbulkan Tsunami.
  2. Magmatisme – menimbulkan gunungapi – menyebabkan letusan gunungapi yang menimbulkan aliran Awan Panas atau Lahar Panas bila ada danau kawah yang ikut jebol. Kemudian, endapan pasir di lereng gunungapi bila terkena hujan lebat (proses atmosfer) dapat menimbulkan aliran Lahar, baik lahar panas maupun lahar dingin. Contohnya seperti yang terjadi Gunung  MerapiYoguyakarta.

Proses eksogen terdiri dari:

  1. Pelapukan batuan – menyebabkan gerakan tanah atau longsor. Longsong yang terjadi pada batuan yang lapuk dapat terjadi karena dipicu oleh guncangan gempa (proses endogen), atau oleh curah hujan (proses di atmosfer) yang tinggi.
  2. Banjir – terjadi karena curah hujan yang tinggi. Aliran air yang terjadi dapat menimbulkan erosi di tebing-tebing sungai. Muatan sedimen yang masuk ke laut karena aliran sungai akan menimbulkan sedimentasi di laut.

Bencana terkait Proses di Atmosfer

Berikut ini adalah bencana yang terjadi dengan proses-proses di atmosfer sebagai proses utama.

  1. Angin – terjadi karena proses-proses yang terjadi di atmosfer. Tiupan angin terjadi karena perbedaan tekanan udara. Di Indonesia, pola angin musiman secara umum dipengaruhi oleh perbedaan tekanan udara di Benua Asia dan Benua Australia (Kepulauan Indonesia terletak di antara kedua benua itu). Kita mengenal adanya Musim Angin Barat dan Musim Angin Timur. Untuk daerah pesisir, daerah yang terbuka dari arah barat akan terkena pukulan gelombang yang timbul karena angin barat; sedang untuk daerah pesisir yang terbuka dari arah timur akan terkena pukulan gelombang yang timbul karena angin yang bertiup dari arah timur. Di daerah-daerah tertentu, karena kondisi morfologi daratannya yang bergunung-gunung, dapat terjadi tiupan angin lokal yang merusak. Kita di Kepulauan Indonesia tidak mengalami Badai Tropis. Tetapi, badai yang terjadi di Samudera Hindia dapat menimbulkan gelombang tinggi di pantai-pantai dari pulau-pulau di Kepulauan Indonesia yang menghadap ke Samudera Hindia. Pukulan gelombang di pantai dapat menyebabkan erosi pantai.
  2. Kekeringan (dan Banjir) – terjadi di Indonesia berkaitan dengan perubahan musim angin yang berkaitan dengan posisi Kepulauan Indonesia yang diapit oleh dua benua itu. Atau karena pengaruh dari proses atmosfer yang terjadi di Samudera Pasifik (El Nino atau La Nina). Karena pengaruh proses Samudera Pasifik, musim kering dapat berlangsung lebih panjang durasinya, musim hujan datang terlambat, atau curah hujan sangat tinggi. Kekeringan dapat menimbulkan kebakaran hutan (seperti terjadi di Sumatera dan Kalimantan)  atau kelaparan (atau kekurangan stok pangan nasional) karena kehabisan bahan pangan.

Demikian gambaran tentang berbgai bencana alam yang dapat terjadi di Kepulauan Indonesia.

Dengan memahami bagaimana suatu bencana alam dapat terjadi dan faktor-faktor yang mencetuskan atau mempengaruhi kejadiannya, maka kita dapat memperkirakan tempat kejadian atau yang akan terlanda bencana, dan waktu kedatangan atau kejadian suatu bencana.

Khusus untuk gempa, memang kita belum dapat memperkirakan waktu kejadiannya, tetapi kita dapat menentukan daerah-daerah yang berbahaya bila terjadi gempa.

Semoga bermanfaat.

Salam,

Wahyu

Artikel terkait:

Manusia dan Bencana Alam,

Bencana Alam di Indonesia 2

Bencana Alam di Indonesia 3

Bencana Alam di Indonesia 4

Posted in Banjir, Erosi, Gelombang, Gempa, HIDROSFER, LITOSFER, PROSES (BENCANA) ALAM, Tsunami, Volkanisme | Dengan kaitkata: , , , , , , , , , , | 8 Comments »

PERUBAHAN IKLIM GLOBAL, Dampaknya terhadap Manusia secara Global

Posted by wahyuancol pada Juni2, 2009

Mengutip Kantor Berita AFP, Harian Kompas, Senin 1 Juni 2009 menurunkan berita tentang dampak perubahan iklim global terhadap manusia di Bumi.

Diberitakan bahwa laporan yang dikerjakan oleh Global Humanitarian Forum di London, Inggris, menyebutkan, perubahan iklim global telah menewaskan 300.000 jiwa setiap tahunnya. kerugian yang ditimbulkan mencapai 125 miliar dollar Amerika Serikat. Disebutkan pula bahwa 325 juta jiwa kaum miskin adalah yang paling menderita. Laporan itu diungkapkan pada hari Jum’at (29/5/2009), dan di klaim sebagai laporan pertama mengenai dampak perubahan iklim terhadap manusia secara global.

Berikut ini adalah gambaran tentang bagaimana kerugian itu terjadi, antara lain:

  1. Karena Banjir dan Badai Tahunan. Penduduk Banglades termasuk salah satu masyarakat yang paling menderita karena juitaan jiwa dihantam banjir dan badai tahunan.
  2. Karena Kekeringan Massal. Para petani di Uganda salah satu kelompok yang dihantam kekeringan massal.
  3. Karena Kenaikan Muka Laut. Penduduk di pulau-pulau kecil, seperti di Karibia dan Pasifik terancam kehilangan wilayah karena kanaikan muka laut.

Prediksi 2030

Laporan itu menyebutkan, bila tidak ada penanganan berarti, maka pada 2030 kematian global akibat perubahan iklim akan mendekati setengah juta jiwa per tahun. Kerugian finansial mencapai 300 miliar dollar AS.

Disebutkan bahwa:

  1. Sebagian besar kematian disebabkan oleh degradasi lingkungan yang menimbulkan kekurangan gizi di banyak tempat.
  2. Kenaikan suhu 2 derajad celsius membunuh banyak spesies flora dan fauna yang berguna bagi kehidupan.
  3. Bagi warga pesisir, selain ancaman badai yang meningkat dan kenaikan muka laut, ikan konsumsi bergerak ke tengah laut, sehingga nelayan makin kesulitan menangkap ikan.
  4. Bagi petani, perubahan pola cuaca akan menyulitkan musim tanam. Suhu yang hangat juga mempengaruhi perkembangbiakan serangga penyerbuk di negara-negara empat musim.

Laporan itu juga menyebutkan adanya kegentingan global yang berkaitan dengan perubahan iklim global, yaitu:

  1. Kelaparan Global,
  2. Migrasi Massal, dan
  3. Kematian Massal.

Demikian laporan dari Global Humanitarian Forum.

Persoalannya sekarang, Bagaimana dengan Indonesia?

Bagi Indonesia dampak perubahan iklim juga akan seperti yang digambarkan dalam laporan itu.

  1. Banjir tahunan akan meningkat di banyak daerah, antara lain seperti di Pesisir Timur Pulau Sumatera, Kalimantan, Pesisir Utara Pulau Jawa.
  2. Kekeringan akan makin meluas seperti di pulau-pulau Nusa Tenggara.
  3. Kenaikan muka laut mengancam kita kehilangan banyak daratan pesisir di Sumatera, Jawa, Kalimantan, dan banyak pulau-pulau kecil akan tenggelan seperti pulau-pulau di Kepulauan Seribu, dan Taka Bonerate.
  4. Masalah degradasi lingkungan akan bnayk terjadi di berbagai pulau di Indonesia yang berujung pada ancaman kekurangan gizi penduduknya.
  5. Ancaman gelombang badai dan angin ribut juga akan makin meningkat di banyak kawasan pesisir.
  6. Para nelayan juga akan makin sulit menangkap ikan bila ikan bergerak ke tengah laut.
  7. Para petani kita juga akan kesulitan menghadapi perubahan pola cuaca.

Akhirnya, sudah siapkah kita menghadapi semua kemungkinan itu?

Semoga bermanfaat.

Salam,

Wahyu

Posted in Banjir, Cara Bumi di Hidupkan, Manusia, Wilayah Pesisir | Dengan kaitkata: , , , , , , , , , , | 1 Comment »

Bencana Alam di Indonesia 2 (Siklus)

Posted by wahyuancol pada Januari13, 2009

Bencana alam adalah fenomena yang sangat biasa bagi sebagian besar penduduk Indonesia. Sepanjang tahun dapat dipastikan bencana alam itu pasti datang silih berganti. Hal itu dapat terjadi karena karakteristik Kepulauan Indonesia yang unik, yaitu karena: (1) terletak di daerah tropis, (2) terletak di antara dua samudera, (3) terletak di antara dua benua, dan (4) kondisi fisik yang berupa pulau-pulau baik besar maupun kecil dengan kondisi geomorfologi yang bervasiasi dari lahan basah di dekat pantai sampai pegunungan berlereng terjal.

Kondisi Berulang

Letak Kepulauan Indonesia di daerah tropis menyebabkan Matahari selalu berada di atasnya dan dilintasi Matahari ketika bergerak dari posisinya di belahan Bumi bagian utara ke belahan Bumi bagian selatan dan sebaliknya.

Perubahan posisi Matahari yang bergerak pulang balik tersebut di atas mempengaruhi perubahan temperatur udara di Benua Asia dan Australia yang mengapit Kepulauan Indonesia. Perubahan tersebut selalu berulang sepanjang tahun seiring dengan pergerakan Matahari yang telah disebutkan di atas. Ketika Matahari berada di belahan Bumi bagian selatan, daratan di Benua Australia lebih panas daripada daratan di Benua Asia, sehingga terjadi gerakan udara dari Benua Asia ke Benua Australia. Di kawasan Kepulauan Indonesia secara umum pada saat itu terjadi apa yang dikenal sebagai Musim Angin Barat, seperti yang sedang terjadi sekarang ini. Sebaliknya, ketika Matahari berada di belahan Bumi bagian utara, daratan Benua Asia lebih panas daripada daratan Benua Australia, sehingga terjadi gerakan angin dari Benua Australia ke Benua Asia. Di kawasan Kepulauan Indonesia secara umum pada saat itu terjadi Musim Angin Timur.

Pada saat Musim Angin Barat, di Kepulauan Indonesia juga terjadi Musim Hujan dengan curah hujan yang tinggi. Sebaliknya, pada saat Musim Angin Timur di Kepulauan Indonesia terjadi musim kering atau kemarau.

Selain kondisi yang berulang tahunan itu, ada kondisi yang berulang bulanan, yaitu kondisi pergantian antara Bulan Purnama dan Bulan Mati.

Bencana Terkait

Gelombang Tinggi

Bencana ini muncul setiap tahun berkaitan dengan musim angin yang bertiup kencang. Bencana ini terjadi di pantai-pantai yang berhadapan dengan arah datangnya angin. Bila Musim Angin Barat, maka pantai-pantai yang terbuka dari arah barat yang terkena. Demikian pula sebaliknya bila Musim Angin Timur maka pantai-pantai yang terbuka dari arah timur yang kena.

Banjir

Bencana ini muncul setiap tahun tatkala Musim Hujan tiba dengan curah hujan yang tinggi. Bencana ini melanda dataran rendah di sekitar aliran sungai atau di dataran banjir atau di pemukiman yang buruk sistem drainasenya. Di daerah pesisir, genangan banjir ini dapat saling memperkuat dengan banjir karena pasang surut. Daerah yang terkena bencana banjir ini dapat meluas dan banjir dapat makin hebat seiring dengan kerusakan di daerah aliran sungai atau kerusakan lingkungan.

Banjir Pasang Surut (Rob)

Bencana ini muncul berkaitan dengan siklus gerak bulan. Dengan demikian banjir ini berulang bulanan. Daerah yang terkena bencana ini adalah dataran pantai di daerah pesisir yang rendah atau daerah rawa-rawa pantai. Genangan banjir ini dapat diperkuat dengan banjir karena curah hujan. Jadi, banjir ini dapat terjadi lebih hebat di saat musim hujan.

Kekeringan

Bencana ini muncul setiap tahun pada saat Musim Kering atau Kemarau. Daerah-daerah yang terkena bencana ini adalah daerah-daerah yang kondisi sumberdaya air tawarnya terbatas dan bercurah hujan rendah. Daerah yang terkena bencana ini makin meluas seiring dengan terjadinya kerusakan lingkungan.

Tanah Longsor

Bencana tanah longsor atau gerakan tanah terjadi setiap tahun bertepatan dengan Musim Hujan. Daerah-daerah yang terancam oleh bencana ini adalah daerah pegunungan atau perbukitan yang berlereng terjal. Bencana ini dapat makin hebat seiring dengan meningkatnya kerusakan lingkungan di sekitarnya.

Kebakaran Hutan

Kebakaran hutan dapat terjadi setiap tahun pada saat Musim Kemarau. Di Indonesia, munculnya bencana ini berkaitan erat dengan cara pembukaan lahan yang dilakukan dengan membakar. Bencana ini umumnya terjadi di Pulau Sumatera dan Kalimantan.

Siklus Bencana

Bila kita cermati waktu-waktu terjadinya bencana alam tersebut di atas, maka kita dapat menggambarkan suatu siklus bencana alam di Indonesia dalam periode satu tahun. Siklus itu berjalan sesuai dengan berjalannya perubahan musim yang disebabkan oleh perjalanan Matahari berpindah dari langit belahan Bumi bagian utara ke selatan atau sebaliknya.

Penutup

Sebagai penutup dapat kita katakan bahwa ada bencana alam yang terjadi berulang di Indonesia setiap tahun. Kita dapat memperkirakan rentang waktu terjadinya, dan kawasan yang akan mengalami bencana itu. Menghadapi bencana-bencana itu, pemetaan daerah-daerah yang mungkin terkena bencana-bencana itu merupakan salah satu langkah yang penting.

Semoga bermanfaat.

WBS

Salam,

Wahyu

Bencana Alam di Indonesia 1

Bencana Alam di Indonesia 3

Bencana Alam di Indonesia 4

Posted in PROSES (BENCANA) ALAM | Dengan kaitkata: , , , , , , , , , | 3 Comments »