Kepulauan Indonesia

Cerita dari, untuk dan tentang Kepulauan Indonesia beserta Penghuni dan Penduduknya

Archive for the ‘Manusia dan Alam’ Category

Banjir 24 Oktober 2016 di Pasteur (Dataran Tinggi, Cekungan Bandung) Bandung

Posted by wahyuancol pada Oktober29, 2016

Kota Bandung berada di kawasan dataran tinggi Bandung. Secara fisik, kawasan tersebut merupakan suatu cekungan yang dikelilingi oleh gunung-gunung dan di kenal sebagai Cekungan Bandung. Cekungan Bandung, secara administratif merupakan bagian dari Kabupaten Bandung, Bandung Barat dan Sumedang, serta Kota Bandung dan Cimahi. Sejarah geologi kawasan tersebut menunjukkan bahwa cekungan tersebut sebelumnya adalah sebuah danau. Danau antar gunung (Gambar 1). Di dalam cekungan tersebut diendapkan endapan danau. Pada tahun 2005, penduduk yang mendiami Cekungan Bandung mencapai lebih dari 7 juta jiwa (Abidin et al., 2009).

001-cekungan-bandung

Gambar 1. Topografi kawasan Cekungan Bandung dan sekitarnya (Gumilar et al., 2015).

Sesuai dengan karakter fisik lingkungannya itu, maka adalah wajar bila banjir rutin melanda kawasan yang rendah dari Kota Bandung yang merupakan bagian yang paling rendah dari cekungan tersebut. Keadaan tersebut diperparah oleh terjadinya penurunan permukaan tanah (Gumilar et al., 2014).

Pada hari Senin tanggal 24 Oktober 2016, terjadi banjir yang “tidak biasa” di Kota Bandung setelah hujan deras turun sangat lama. Banjir terjadi di kawasan Pasteur yang berada di bagian yang tinggi dari Kota Bandung. Aliran air yang sangat deras mengalir di jalan Pasteur, melanda dan menghanyutkan segala sesuatu yang ada di jalan tersebut, termasuk mobil.

Pertanyaannya adalah mengapa bisa demikian? Apa yang salah dengan tata air di kawasan itu?

Secara sederhana, bila hujan turun ke permukaan Bumi (presipitasi = P), maka air hujan akan mengalami penguapan (evaporasi = E) dan meresap masuk ke dalam tanah (infiltrasi = I). Apabila volume air hujan yang jatuh ke Bumi lebih kecil daripada volume air yang mengusap dan meresap ke dalam tanah, maka air hujan itu akan habis dan tidak ada air yang mengalis di permukaan Bumi. Sebaliknya, apabila volume air hujan yang jatuh ke Bumi itu lebih besar daripada air yang menguap ke udara dan meresap ke dalam tanah, maka terjadilah kelebihan air di permukaan Bumi yang mengalir sebagai aliran air di permukaan Bumi.

Pada mulanya, aliran air di permukaan Bumi bergerak bebas menuruni lereng. Kemudian aliran air itu bergabung satu sama lain dan akhirnya membentuk tali air. Tali air itu kemudian berkembang menjadi alur-alur, alur-alur bergabung dan akhirnya menjadi sungai. Semua itu merupakan satu sistem aliran air permukaan.

Di kawasan perkotaan, sistem aliran air tersebut terganti oleh sistem drainase kota. Air hujan yang turun di kawasan perkotaan akan masuk ke dalam sistem drainase kota, dan kemudian dialirkan ke sungai-sungai yang mengalir melintasi kota.

Di daeah yang masih alamiah, ketika musim hujan, curah hujan tinggi, maka kita akan melihat aliran air yang besar debitnya di sungai-sungai. Hal itu karena banyaknya air permukaan yang masuk ke dalam alur-alur sungai. Apabila terjadi curah hujan yang sangat tinggi, aliran permukaan menjadi sangat banyak maka alur sungai tidak dapat menampung volume air yang masuk. Air meluap keluar, dan kita mengenalnya sebagai banjir. Luapan air sungai ini biasanya terjadi di daerah hilir dan terjadi karena sungai utama tidak mampu menampung air yang masuk dari cabang-cabangnya dari daerah hulu.

Di daerah perkotaan, sebelum air hujan masuk ke aliran sungai, air terlebih dahulu masuk ke sistem drainase kota. Pengelolaan sistem drainase yang buruk bisa menyebabkan aliran air permukaan tidak dapat masuk ke dalam sistem saluran air. Atau, sistem saluran air yang dibuat terlalu sempit  sehingga air meluap. Apabila air hujan gagal masuk ke dalam sistem drainase kota, maka air akan bergerak liar dan mengalir masuk ke jalan-jalan karena jalanlah yang kondisinya memberi kemudahan bagi air untuk mengalir. Banjir seperti inilah ke kemaren itu terjadi di Kota Bandung.

Jadi, sebagai kesimpulan, banjir yang terjadi pada tanggal 24 Oktober 2016 di Kota Bandung itu, selain karena angka curah hujan yang tinggi, juga karena buruknya sistem drainase kota tersebut. Curah hujan yang tinggi menyebabkan tingginya debit aliran air permukaan. Buruknya sistem drainase menyebabkan debit aliran air permukaan yang tinggi itu tidak dapat masuk mengalir di dalam saluran air sehingga air mengalir di jalan raya.

Dalam skala yang lebih kecil, kasus seperti ini juga terjadi di Desa Sekaran, Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang di dekat Kampus Universitas Negeri Semarang. Apabila hujan lebat terjadi dalam waktu cukup lama, maka jalan utama yang di desa itu yang melintasi kampus UNNES menjadi seperti sungai.

Salam,

WBS

Posted in Banjir, FENOMENA ALAM, HIDROSFER, HUMANIORA, Manusia dan Alam, PROSES (BENCANA) ALAM, Sungai | Dengan kaitkata: , , , , | Leave a Comment »

Erupsi Sinabung 2013-2014: zona bahaya bukan untuk dilanggar!

Posted by wahyuancol pada Januari22, 2014

Sampai bulan Januari 2014 Gunung Sinabung masih terus aktif menyemburkan material dari dalam perutnya. Erupsi gunungapi tersebut telah berlangsung selama 4 bulan lamanya, dan belum ada indikasi kapan erupsi itu akan berhenti. Ada hal yang menarik untuk dicatat terkait dengan erupsi Gunung Sinabung ini, yaitu tidak ada korban jiwa karena erupsi gunung tersebut. Hal ini perlu mendapat perhatian karena ini merupakan suatu prestasi yang pantas dicermati.

Tidak adanya korban jiwa dalam erupsi gunungapi dapat karena berbagai hal, antara lain:

  1. Pemerintah yang sigap menangani masalah ini. Termasuk dalam kategori ini adalah hal-hal yang berkaitan dengan: (a) sistem peringatan dini terhadap bahaya erupsi gunungapi, (b) cara penyampaian informasi yang baik sehingga dapat diterima oleh masyarakat, (c) proses pengungsian yang baik, dan (d) manajemen pengungsi yang baik di lokasi pengungsian. Erupsi gunungapi yang sulit diperkirakan kondisinya sering menjadi masalah ketika menyampaikan anjuran kepada masyarakat di sekitar kawasan gunungapi untuk mengungsi.
  2. Masyarakat patuh terhadap anjuran untuk mengungsi. Kepatuhan masyarakat untuk memenuhi anjuran untuk mengungsi merupakan hal yang sangat penting. Dalam kasus pengungsian terkait dengan erupsi gungapi, meraih kepercayaan masyarakat sehingga mereka mau untuk mengungsi merupakan hal yang sering tidak mudah. Banyak alasan yang bisa dipakai untuk menolak anjuran untuk mengungsi, mulai dari keyakinan  bahwa bencana erupsi tidak akan mengenainya hingga kekhawatiran akan keselamatan harta benda yang ditinggalkan.

Hal lain yang rasanya perlu disampaikan di sini adalah bahwa kita dapat memandang erupsi Gunung Sinabung sebagai hal yang patut disambut dengan kegembiraan atau disyukuri. Tentu ada yang bertanya, mengapa demikian?

Perlu di ketahui bahwa kawasan lereng Gunung Sinabung yang sekarang ini sedang diselimuti oleh debu volkanik adalah daerah pertanian yang penting di Sumatera bagian utara. Hasil-hasil pertaniannya dirasakan manfaatnya hingga Banda Aceh di Propinsi Nangroe Aceh Darussalam, di ujung barat Pulau Sumatera. Aktifitas pertanian di kawasan Gunung Sinabung yang telah berlangsung sekian lama hingga sebelum eruposi di bulan September 2013 ternyata telah menyebabkan turunnya kesuburan lahan-lahan pertanian dan telah meningkatkan penggunaan pupuk. Saat ini, lahan pertanian yang telah turun kesuburan alamiahnya sedang diselimuti debu volkanik. Pada saatnya nanti, setelah erupsi berakhir dan material debu volkanik itu mengalami pelapukan, maka akan hadir tanah yang sangat subur di daerah tersebut. Dengan pola pikir yang demikian ini, maka pantaslah bila kita bersyukur dengan terjadinya erupsi gunungapi tersebut, karena erupsi tersebut menunjukkan Tuhan sedang memperbaiki lahan pertanian kita yang telah turun kesuburannya. Yang diperlukan sekarang ini hanyalah bersabar menunggu proses penyuburan lahan itu selesai.

————————–

Selasa 4 Februari 2014

Catatan lebih dari empat bulan erupsi yang tidak memakan korban jiwa dari erupsi Gunung Sinabung ternyata harus berakhir di hari Sabtu 1 Februari 2014. Erupsi yang meluncurkan awan panas di hari itu telah menewaskan 14 orang.  Dari jumlah tersebut, 4 orang korban adalah pelajar SMK, 4 orang mahasiswa, 4 orang warga luar daerah, 1 orang guru, dan 1 orang warga Kabanjahe (Inilah.com).  Disebutkan juga,  2 orang mahasiswa yang tewas adalah dari  Sekolah Tinggi Komunikasi Pembangunan Medan (Vivanews). Warga setempat yang tewas diduga adalah pemandu para pelajar/mahasiswa (Tempo). Selain itu, ada pula yang menyebutkan bahwa 7 orang dari 14 orang yang tewas itu adalah para relawan GMKI yang tewas di dalam tugas (Metrotvnews).

Berkaitan dengan korban jiwa tersebut, perlu kita ketahui siapa mereka dan bagaimana mereka bisa menjadi korban. Memang belum jelas diberitakan siapa sesungguhnya mereka yang tewas, tetapi yang pasti ternyata mereka sebagian besar adalah bukan penduduk setempat yang tidak mau mengungsi, melainkan warga luar daerah yang masuk ke zona bahaya dengan panduan penduduk setempat. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa telah terjadi pelanggaran zona bahaya. Kesimpulan ini diketahui dari berita yang menyebutkan masih ada yang masuk ke zona bahaya (Metrotvnews), berita yang menyebutkan TNI AD dan Brimob menjaga perlintasan agar warga tidak masuk ke zona bahaya (Okezone).

Apapun yang kemudian dilakukan setelah jatuh korban jiwa memang tidak dapat mengembalikan para korban, tetapi peristiwa ini menjadi pelajaran bahaya penetapan zona bahaya bukan pernyataan isapan jempol yang bila dilanggar tidak mendatangkan resiko.

Salam,

Wahyu 

Posted in Cara Bumi di Hidupkan, FILSAFAT, HUMANIORA, Manusia dan Alam, Memahami Pengaturan, PROSES (BENCANA) ALAM, TUHAN, Volkanisme | Dengan kaitkata: , , , , , , | Leave a Comment »

Banjir 2014 di Pulau Jawa

Posted by wahyuancol pada Januari21, 2014

Musim hujan di awal tahun 2014 ini menyebabkan banjir di berbagai wilayah di Indonesia. Khusus di Pulau Jawa banjir terjadi menyeluruh di kawasan pesisir utara mulai dari daerah Serang, Banten di bagian barat hingga Rembang di bagian timur. Banyak kerugian materil yang timbul karena banjir tersebut, baik karena pemukiman yang terendam air maupun lumpuhnya transportasi. Pada kesempatan ini kita tidak membicarakan tentang berbagai kerugian tersebut atau penyebab banjir, tetapi akan kita lihat banjir tersebut dari sudut pandang yang lain, yaitu banjir sebagai proses geomorfologi.

Air adalah salah satu agen geomorfologi yang penting di bumi ini. Dengan aktifitas air, permukaan bumi diukir dan berbagai bentang alam dibentuk. Kita yang hidup di permukaan bumi ini, khususnya di Indonesia, sebagian besar hakekatnya adalah hidup di atas bentang alam hasil bentukan oleh proses geomorfologi yang dikerjakan oleh air, baik itu yang tinggal di daerah pegunungan, perbukitan maupun di dataran rendah.

Melalui proses erosi, air mengukir pegunungan atau perbukitan menghasilkan lereng-lereng, punggungan-punggungan dan lembah-lembah. Sementara itu, melalui proses sedimentasi air membentuk dataran.

Aliran air di daerah pegunungan atau perbukitan mengukir pegunungan atau perbukitan tersebut. Rempah-rempah batuan hasil ukiran tersebut kemudian ditransportasikan ke daerah yang lebih rendah untuk kemudian diendapkan. Maka terbentuklah berbagai lahan datar. Melalui mekanisme seperti itulah sebagian besar bagian Pulau Jawa ini diukir dan dibentuk oleh air.

Kawasan pesisir utara Pulau Jawa yang sekarang ini tergenang air banjir terbentuk dengan cara seperti itu. Air banjir yang turun dari daerah pegunungan atau perbukitan di bagian tengah pulan hakekatnya saat ini sedang bekerja dalam skala besar mengukir pegunungan dan perbukitan, mentranspor rempah-rempah hasil ukiran ke laut. Dalam perjalanannya ke laut, sebagian dari rempah-rempah tersebut diendapkan di dataran rendah.

Rempah-rempah atau material atau sedimen yang ditranportasikan oleh aliran air tersebut kaya akan zat hara. Oleh karena itu, mudah dimengerti kalau dataran rendah yang ada di pesisir utara Pulau Jawa itu adalah lahan yang subur. Di lapangan kita melihat bahwa dataran pesisir di utara Pulau Jawa tersebut adalah daerah pertanian yang subur. Dengan pola pikir seperti itu, maka dapat dikatakan bahwa banjir yang berulang terjadi di daerah tersebut hakekatnya adalah cara Tuhan untuk menjaga kelangsungan hidup kita, yaitu dengan memperbaiki kesuburan lahan terus menerus tanpa kita memintanya.

Jadi, banjir yang terjadi sekarang ini menunjukkan Tuhan sedang memperbaiki lahan agar kita dapat memanfaatkannya lagi setelah banjir berakhir. Selain itu, peristiwa ini juga mengingatkan kita bahwa lahan yang sekarang ini mengalami banjir adalah lahan pertanian yang subur. Mengingatkan kembali tentang hal ini penting karena sekarang banyak lahan pertanian yang telah dikonversi untuk penggunaan lain, termasuk pemukiman.

Kemudian, banjir yang merupakan rahmat Tuhan itu sekarang menjadi bencana. Ini mengingatkan agar kita manusia menyesuaikan diri dengan sistem alam yang diciptakan Tuhan dengan mempergunakan akal dan pikiran yang juga telah diberikan kepada kita.

Salam,

WBS

Posted in Air, Banjir, Cara Bumi di Hidupkan, Erosi, FILSAFAT, HIDROSFER, HUMANIORA, Manusia dan Alam, PROSES (BENCANA) ALAM, Sedimentasi | Dengan kaitkata: , , , , , , , , , , , , | Leave a Comment »

Penyebab Banjir di Jakarta

Posted by wahyuancol pada Januari20, 2014

Tulisan ini dibuat ketika Jakarta dilanda banjir tahun 2014 di bulan Januari berdasarkan hasil pengamatan langsung di lapangan maupun mengamati berita-berita tentang banjir dari berbagai media. Dari hasil pengamatan tersebut, saya sampai pada kesimpulan bahwa ada beberapa kondisi yang menyebabkan banjir di Jakarta, yaitu:

  1. Curah hujan yang tinggi. Curah hujan menjadi penyebab utama banjir, baik hujan yang terjadi di wilayah Jakarta maupun di Bogor. Curah hujan menjadi penyebab utama karena bila tidak ada hujan maka tidak akan ada banjir. Bulan-bulan Desember, Januari dan Februari memang bulan-bulan dengan curah hujan tinggi untuk kawasan Jakarta dan sekitarnya. Secara umum, tingginya curah hujan terlihat menyebabkan banjir di banyak wilayah di Indonesia, seperti di Jawa, Sumatera, Sulawesi dan Papua.
  2. Salah memilih tempat tinggal. Banyak daerah-daerah terbangun di Jakarta sebelumnya adalah daerah-daerah dihindari untuk dijadikan daerah pemukiman karena merupakan lahan basah atau rawa atau aliran sungai. Perkembangan jumlah penduduk di Jakarta penyebabkan daerah-daerah rawa dan tepi sungai dijadikan daerah pemukiman.
    1. Rawa-rawa. Rawa-rawa memang tempatnya air, sehingga bila hujan turun maka air akan berkumpul di daerah tersebut sehingga wajar bila bila hujan pemukiman di daerah tersebut akan banjir. Banyak daerah pemukiman di Jakarta memiliki nama dengan kata depan “Rawa”.
    2. Tepi sungai. Daerah tepi sungai atau bantaran sungai di Jakarta juga sudah menjadi daerah hunian. Bila debit air sungai naik, maka daerah ini yang pertama kali akan terjena banjir karena memang daerah tersebut bagian dari alur sungai. Seperti daerah Kampung Pulo, Kampung Melayu.
    3. Cekungan. Daerah cekungan adalah tempat air permukaan berkumpul bila terjadi hujan. Daerah cekungan yang berada di tempat yang tinggi dalam kondisi alamiah bisa merupakan daerah yang kering. Bila daerah cekungan di jadikan daerah hunian maka persoalan banjir bisa muncul bila curah hujan tinggi.
    4. Daerah labil. Daerah labil atau belum stabil terdapat di daerah pesisir. Bila mendapat beban, maka permukaannya akan turun. Apabila permukaan tanah turun menjadi lebih rendah daripada permukaan laut, maka daerah ini menjadi daerah banjir pasang-surut. Kasus seperti ini terjadia di Jakarta Utara.
  3. Drainase yang buruk. Drainase kota yang buruk menjadi salah satu penyebab genangan atau memperparah kondisi banjir. Buruknya sistem drainase kota dapat dilihat dari terjadinya genangan ketika curah hujan masih sangat rendah dan / atau kondisi  air harus dipompa untuk mengeringkan genangan. Masalah drainase kota ini muncul antara lain karena daerah pemukiman yang lebih rendah daripada daerah sekitarnya seperti di cekungan atau rawa. Hal lain yang berkaitan dengan drainase ini adalah masalah sampah.
  4. Sampah kota. Sampah kota merupakan salah satu masalah di Jakarta. Sampah-sampah dapat menyumbat drainase atau menghambat aliran sungai. Tingginya volume sampah yang terperangkap di pintu air Manggarai merup[akan salah satu bukti masalah sampah di Jakarta.
  5. Turunnya permukaan tanah. Turunnya permukaan tanah atau subsiden menjadi salah satu faktor yang menyebabkan banjir di Jakarta, khususnya di Jakarta Utara. Turunnya permukaan tanah menyebabkan permukaan tanah menjadi lebih rendah daripada permukaan air sungai ketika laut dalam kondisi pasang. Keadaan ini menyebabkan tidak ada hujan pun Jakarta Utara dapat mengalami banjir. Salah satu contohnya adalah di Jalan Gunung Sahari bagian utara. Bila kondisi tersebut berkombinasi dengan curah hujan yang tinggi, maka ketinggian air banjir dan luas daerah genangannya makin besar.
  6. Pasang-surut. Pasang-surut telah berkembang menjadai salah satu penyebab banjir di Jakarta Utara karena berkombinasi dengan turunnya permukaan tanah. Bila kondisi laut pasang berkombinasi dengan curah hujan yang tinggi, maka akan menimbulkan genangan yang luas dan lebih tinggi daripada bila faktor itu sendiri.

Dari hasil pengamatan tersebut, secara umum dapat disebutkan bahwa penyebab banjir di Jakarta terjadi karena kombinasi faktor alam dan faktor manusia. Hal tersebut dapat diuraikan lebih lanjut sebagai berikut:

  1. Faktor alam. Faktor ini terdiri dari kondisi Meteorologi (berkaitan dengan curah hujan), kondisi Geomorfologi (berkaitan dengan bentang alam: sistem aliran sungai dan morfologi permukaan lahan), dan Oseanografi (berkaitan dengan pasang-surut).
  2. Faktor manusia. Faktor ini berkaitan dengan manajemen pemerintahan dan tatakota, serta tingakah laku warga kota.

————————-

Rabu 5 Februari 2014

Hari ini kembali Jakarta digenangi air di banyak lokasi termasuk kawasan di jalan Merdeka dan Thamrin. Genangan itu terjadi setelah sejak menjelang pagi Jakarta diguyur hujan. Sementara itu, hari ini dikabarkan kawasan Bogor dan Depok cerah.

Dari peristiwa munculnya genangan hari ini di Jakarta dengan kondisi tanpa hujan di Bogor dan Depok (Detiknews), maka kita dapat mengeliminasi faktor hujan di kawasan hulu sebagai penyebab banjir di Jakarta hari ini.

Sementara itu, di pihak yang lain, ketinggian pasang-surut di Jakarta hari ini juga rendah. Hanya 0,8 m pada puncaknya di jam 06.00, dan setelah itu turun. Keadaan ini menunjukkan pasang air laut tidak berkontribusi besar dalam banjir di kawasan utara Jakarta pagi ini (pasanglaut.com).

Dengan demikian, maka dapat kita katakan bahwa banjir yang terjadi pada hari ini di Jakarta merupakan bukti bagi buruknya sistem drainase kota Jakarta.

 

Wassalam,

WBS

Posted in Banjir, HUMANIORA, Manusia dan Alam, PROSES (BENCANA) ALAM | Dengan kaitkata: , , , , , , , , , , | Leave a Comment »

Jakarta, Hujan dan Macet

Posted by wahyuancol pada Februari7, 2013

Hari Rabu tanggal 6 Februari 2013 kemaren saya merasa sangat beruntung berada di tengah hujan deras yang mengguyur kota Jakarta dan kemacetan lalu lintas kota itu. Saya merasa beruntung karena berkesempatan berada secara langsung ditengah proses yang selama ini hanya ada di dalam bayangan di dalam kepala. Pengalaman saya kemaren dapat dikatakan “lengkap”, karena dimulai ketika hari mulai hujan sekitar jam 15.30 di daerah Rawamangun (Jakarta Timur) hingga lepas dari kemacetan sekitar jam 20.00 di daerah Pademangan (Jakarta Utara). Saya menjalani semua itu dengan berada di dalam sistem transportasi Transjakarta.

Hujan dimulai ketika saya berada di Rawamangun untuk suatu kepentingan keluarga. Oleh saudara, saya diantar ke halte Transjakarta di Rawamangun di samping lapangan Golf Rawamangun. Dengan harapan perjalanan yang lebih mudah dan cepat, saya berganti bis dari jurusan ke Tanjung Periuk ke bis jurusan ke Dukuh Atas dengan harapan akan berganti bis ke Ancol di Matraman. Hujan ketika itu turun sangat deras ketika saya berjalan pindah koridor. Sambil berjalan saya sempat melihat genangan air yang muncul di sidut jalan penghunung yang menghubungkan jalan By Pass dan jalan Pramuka. Sebuah sedan hitam tampak berhenti di batas genangan karena tidak berani melintasi genangan. Tidak butuh waktu lama, mobil-mobil segera mengular di belakangnya.

Perjalanan ke Matraman lancar meskipun agak lama menunggu bis. Ketika di halte Matraman, genangan terlihat di pojok simpang empat Matraman. Mobil-mobil yang datang dari arah Salemba Raya, Matraman dan Matraman raya tampak memperlambat lajunya dan memilih jalur kanan jalan yang belum tergenang. Sambil berjalan pindah koridor, saya melihat bibit kemacetan muncul di simpang empat ini.

Bis Transjakarta ke Ancol yang kemudian saya naik masih dapat melalui simpang empat Matraman, tetapi segera terkunci menjelang sampai ke halte di depan RS Carolus. Ekor kemacetan dari simpang empat Matraman ternyata telah sampai ke simpang tiga jalan Diponegoro. Butuh waktu yang agak lama bagi bis yang saya naiki untuk berhasil melewati kekusutan lalu lintas di simpang tiga itu. Sementara bis berjalan tersendat saya mendengar pertugas yang melayani penumpang di dalam bis bercerita dengan penumpang lain yang berdiri di dekatnya.

Saya dengan dia berkata: “Makin lama hujan, genangan makin dalam dan lebar di tepi kiri jalan. Akibatnya banyak kenderaan yang memilih jalur kanan dan akhirnya masuk ke jalur Transjakarta”. Ternyata benar. jalur kiri jalan memang lebih rendah daripada jalur kanan; dan drainase yang tidak memadai menyebabkan genangan air yang timbul makin tinggi bila hujan makin lama turun. Dengan demikian, dapat diduga kemacetan akan terjadi.

Lepas dari kekusutan di simpang tiga jalan Diponegoro, perjalanan ke halte Pasar Senen lancar. Memang jalur bus Transjakarta ke Pasar Senen telah dimasuki kenderaan lain, tetapi perjalanan masih cukup lancar. Sesampai di depan terminal bis Senen, bis benar-benar terkunci karena kekusutan di persimpangan. Lampu pengatur lalu lintas tidak ada artinya. Para pengendara mobil atau sepeda motor atau kenderaan lainnya menyerobot kesempatan kecil yang muncul di depannya, tidak saling memberikan kesempatan. Seluruh persimpangan yang ada di sepanjang jalan Kalilio dan Gunung Sahari menjadi titik-titik simpul kemacetan. Polisi lalu lintas tidak terlihat mengatur lalu lintas yang kusut itu. Butuh waktu lebih dari 3,5 jam untuk melintas dari Matraman sampai Pademangan.

Dari pengalaman melintasi kemacetan yang dipicu hujan itu saya sampai pada kesimpulan bahwa:

  1. Kondisi jalan dan drainase yang buruk di Jakarta menyebabkan timbulnya genangan di bagian-bagian jalan tertentu;
  2. Genangan yang terjadi di sebagian jalan menyebabkan lalu lintas terganggu karena kenderaan-kenderaan yang rendah tidak dapat melaluinya atau takut melaluinya sehingga bagian jalan yang dapat dilalui menyempit,  atau kenderaan diperlambat ketika melalui genangan; keadaan ini menyebabkan kelancaran arus lalu lintas terganggu dan menimbulkan titik-titik kemacetan;
  3. Kemacetan yang terjadi dapat menyebabkan antrian kenderaan yang sangat panjang sehingg mempengaruhi ruas jalan yang lain di depatnya;
  4. Melihat kondisi arus lalu lintas yang tidak lancar, para pengendara kenderaan menjadi main serobot; lampu pengatur lalu lintas menjadi hiasan yang tidak bermanfaat.
  5. hanya waktu yang bisa menguraikan kemacetan itu.

Salam,

WBS

Posted in HUMANIORA, Manusia dan Alam | Dengan kaitkata: , , , , , , | Leave a Comment »