Kepulauan Indonesia

Cerita dari, untuk dan tentang Kepulauan Indonesia beserta Penghuni dan Penduduknya

Archive for the ‘Kebaikan’ Category

Tentang kebaikan.

Setelah 20 Tahun

Posted by wahyuancol pada Februari7, 2009

Ini adalah kisah tentang bagaimana benih-benih yang disemai dan 20 tahun kemudian tumbuh dan berkembang menjadi pohon yang besar. Tentang bagaimana kebaikan yang disemai dan tumbuh menjadi kebaikan yang lebih besar lagi setelah 20 tahun kemudian. Tentang bagaimana “kampanye” telah dimulai 20 tahun lebih awal jauh sebelum kebutuhan kampenye itu sendiri. Tentang bagaaimana orang yang lemah menjadi pembela yang kuat setelah 20 tahun kemudian.

Ini adalah kisah tentang Presiden Amerika Serikat ke-44, Barrack Obama, yang baru dilantik 20 Januari 2009 yang lalu. Saya menemukannya secara kebetulan ketika sedang mencari anti virus “Avast” atas permintaan anak saya yang dipusingkan dengan virus komputer yang sering menghambat ia menyelesaikan tugas-tugasnya. Bekerja mengerjakan tugas dalam kelompok membuatnya tidak dapat menghindari mentransfer file-file dari teman-temannya yang tidak terjamin bebas virus.

Saya menemukan naskah ini, yang berjudul “Obama ‘rescued’ Mary – paid trip to Norway”, ketika mengunjungi blog ini. Naskah ini dipublikasikan oleh sebuah harian, VG, di Norwegia. Terjemahannya dalam Bahasa Inggris saya peroleh dari Google. Karena saya pikir kisah ini sangat menarik dan ada pelajaran berharga yang bisa kita peroleh darinya, maka saya menterjemahkannya untuk hadirin sekalian.

Selamat menikmati dan semoga bermanfaat.

Salam,

Wahyu

————————–

Ketika itu Mary baru menikah dan bersiap-siap untuk pindah ke Norwegia, tetapi ia dihentikan di bandara karena ia tidak memiliki uang yang cukup untuk membiayai perjalanannya. Barrack Obama muncul dan membayarkan keperluannya.

Mary Mentha Andersen ketika itu berusia 31 tahun dan baru menikah dengan Dag Andersen seorang berwarga negara Norwegia. Ia berencana memulai hidup baru di Åsgårdstrand di Vestfold dengan suaminya. Pertama-tama ia harus mengirim barang-barang modalnya ke Norwegia. Saat itu adalah 2 Nopember 1988.

Di bandara Miami, ada antrian panjang di meja pelayanan check in. Ketika giliran Mary dilayani, ia meletakkan bagasinya di atas timbangan, dan mendapat pesan yang menghilangkan semua kegembiraannya.

“Anda harus membayar $ 103 untuk kelebihan berat bagasi bila ingin membawa bagasi itu ke Norwegia, ” kata laki-laki di belakang counter.

Mary tidak memiliki uang. Suaminya telah berangkat lebih dahulu ke Norwegia, dan Mary tidak memiliki siapapun lagi yang dapat dimintai pertolongan.

“Saya benar-benar putus asa dan mencoba berpikir bagasi mana yang dapat ditinggalkan. Tetapi bagasi-bagasi itu berisi barang-barang milik saya, ” kata Mary.

Walaupun ia menerangkan kondisinya kepada laki-laki di counter itu, laki-laki itu tidak memperlihatkan tanda-tanda memberi keringanan.

“Saya mulai menangis, air mata bercucuran dan saya tidak mengetahui jalan keluar. Kemudian saya mendengar suara yang lembut dan bersahabat di belakang saya: ‘Saya membayar untuknya.”‘

Mary berputar dan dibelakangnya tampak berdiri seorang laki-laki yang tinggi dan berkulit gelap yang belum pernah dilihat sebelumnya.

“Ia memiliki suara yang lembut dan bersahabat. Yang pertama kali terpikir adalah: ‘Siapa laki-laki ini?'”

Meskipun kejadian itu terjadi 20 tahun yang lalu, Mary masih mengingat kekuatan yang dipancarkan laki-laki itu.

“Ia tampak menarik dan gaya dengan jaket kulit berwarna coklat, baju katun terbuka dan celana pendek berwarna coklat khaki.”

Mary senang bisa membawa kedua bagasinya ke Norwegia dan meyakinkan orang asing itu bahwa ia akan mengembalikan uangnya. Laki-laki itu menulis nama dan alamatnya pada sepotong kertas yang diberikan Mary. Mary mengucapkan terima kasih berulang kali. Ketika akhirnya Mary berjalan ke meja peneriksaan keamanan, laki-laki itu memberi isyarat selamat jalan kepada Mary.

Pada sepotong kertas tertulis “Barrack Obama” dan alamatnya di Kansas, negara bagian asal ibunya. Lappen Mary menyimpannya di dalam dompet selama beberapa tahun sebelum membuangnya.

“Ia penolong saya,” kata Mary dan tersenyum.

Mary mengembalikan uang $ 103 kepada Obama setelah ia sampai di Norwegia. Katika itu Obama telah menyelesaikan pekerjaannya sebagai pekerja soaial yang dibayar rendah di Chicago, dan mulai belajar di Sekolah Hukum di Hardvard.

Pada Musim Semi 2006 orang tua Mary mendengar bahwa Obama berencana mencalonkan diri menjadi presiden, tetapi belum diputuskan. Mereka menulis surat dan memberitahukan bahwa mereka akan memilihnya. Pada saat yang sama mereka juga mengucapkan terima kasih kepada Obama yang telah membantu anaknya 18 tahun yang lalu.

Dalam suratnya untuk Mary bertanggal 4 Mei 2006 dan berstempel “United States Senate, Washington DC,” Barrack Obama menulis balasan:

“Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada anda yang telah menulis kata-kata demikian indah tentang saya dan yang mengingatkan saya tentang kejadian di bandara Miami. Saya senang bahwa saya dapat membantu saat itu, dan senang mendengar anak anda bergembira di Norwegia. Tolong sampaikan salam saya. Salam Takzim, Barrack Obama, United States Senator.”

Orang tua Mary menyampaikan surat itu kepadanya.

Minggu ini VG menemui Mary dan suaminya di café yang dijalankan bersama temannya Lisbet Tollefsrud di Åsgårdstrand.

“Sangat luar biasa, orang yang membantu saya 20 tahun yang lalu sekarang mungkin menjadi presiden Amerika,” kata Mary.bergetar.

Ia telah memberikan suaranya untuk Obama. Terakhir, ia menyumbang dana kampanye untuk Obama sebesar $ 100.

Ia sering bercerita tentang kisah dari bandara Miami, baik ketika isu-isu rasial muncul, maupun ketika percakatan tentang pemilihan presiden.

—————————-

Catatan:

Akhirnya harapan Mary itu menjadi kenyataan. Barrack Obama terpilih menjadi Presiden Amerika Serikat yang ke -44.

Iklan

Posted in Cara Bumi di Hidupkan, Kebaikan | Dengan kaitkata: , , , , , | Leave a Comment »