Kepulauan Indonesia

Cerita dari, untuk dan tentang Kepulauan Indonesia beserta Penghuni dan Penduduknya

Archive for the ‘Mengenal Indonesia’ Category

Pulau Batugoyang

Posted by wahyuancol pada Januari11, 2015

Pulau Batugoyang

Koordinat: 06° 57′ 01″ LS, 134° 11′ 38″ BT

Titik Referensi: No. TR. 102

Titik Dasar: No. TD. 102

Letak Administrasi: Kecamatan Aru Selatan, Kabupaten Kepulauan Aru, Propinsi Maluku.

Catatan:

  • Pulau mana yang dimaksud dengan Pulau Batugoyang tidak dapat ditunjukkan dengan pasti (Gambar 1). Menurut posisi yang diberikan di atas oleh Atlas Pulau-pulau Kecil Terluar, lokasi itu menunjuk ke sebuah pulau batu yang agak jauh di sebelah selatan Tanjung Ngabordamlu (Pada citra diberi nama Pulau Batugoyang 01). Tetapi, pada citra satelit yang disajikan di dalam atlas tersebut,  diberi tanda pada pada sebuah pulau yang persis di sebelah selatan Tanjung Ngabordamlu (Pada citra diberi nama Pulau Batugoyang 02).
Aru Tanjung Ngabordamlu ket

Gambar 1. Kawasan Tanjung Ngabordamlu.

 

  • Posisi koordinat Pulau Batugoyang 02 pada Google Earth: 6° 56′ 36,34″ LS, 134° 11′ 59,43″ BT (di bagian tengah pulau).
  • Situs Direktori Pulau-pulau Kecil dari Kementerian Kelautan dan Perikanan menyebutkan nama lain dari pulau ini adalah Pulau Dimel. Situs ini menyebutkan posisi koordinat pulau ini sama dengan posisi yang diberikan oleh Atlat Pulau-pulau Kecil Terluar. Situs ini menyebutkan bahwa Pulau Batugoyang adalah sebuah sea stack. Sea stack adalah sebuah untuk sebuah pulau yang terbentuk karena mundurnya garis pantai dari suatu pulau yang lebih besar. Apabila kita berpegang pada pernyataan ini., maka yang dimaksud dengan Pulau Batugoyang adalah pulau yang pada Gambar 1 di atas ditandai dengan Pulau Batugoyang 02.
  • Untuk mengetahui pulau mana yang dimaksud dengan Pulau Batugoyang, perlu dilakukan konfirmasi dengan Peta Laut dari Dinas Hidro-oseanografi TNI AL.

Underconstruction

Kembali

Posted in Mengenal Indonesia, Pulau Kecil Terluar | Dengan kaitkata: , , , , | Leave a Comment »

Pulau Laag

Posted by wahyuancol pada Desember10, 2014

Pulau Laag

Koordinat: 05° 23′ 14″ LS, 137° 43′ 07″ BT

Titik Referensi: No. TR.092

Titik Dasar: No. TD.092

Letak Administrasi: Distrik , Kabupaten Asmat, Propinsi Papua.

Catatan:

  • Koordinat yang dikutip dari Atlas Pulau-pulau Kecil Terluar di atas bila diplot pada Google Earth jatuh di laut.
  • Posisi koordinatberikut ini dari Geographic.Org,  05° 22′ 00″ LS, 137° 44′ 00″ BT.
  • Nama lain pulau ini adaah Laag-eiland (Geonames.org),
  • Direktori Pulau-pulau Kecil Kementrian Kelautan dan Perikanan menyebutkan nama lain Pulau Laag adalah Pulau Jat (KKP). Kemungkinan nama ini salah karena menurut Getamap.net ada pulau lain di sebelah utara Pulau Laag yang bernama Pulau Djats.
  • Kata “laag” berasal dari Bahas Belanda yang berarti “rendah” (low – Bahasa Inggris)
  • Pulau Laag tidak berpenduduk.
  • Di pulau ini terdapat mercusuar tetapi tidak belum terekam di dalam citra satelit (World of Lighthouses)
  • Berdasarkan definisi atau pengertian pulau, maka Pulau Laag ini tidak dapat lagi disebut sebagai sebuah pulau. Secara visual bentuk pulau sudah tidak ditemukan lagi karena telah bergabung dengan Pulau Papua. Namun demikian, secara politis pulau ini masih diakui keberadaannya sebagai sebuah pulau, karena di pulau itu ada titik referensi dan titik dasar yang dipergunakan sebagai dasar penentuan batas negara.
  • Berbagai sumber menyebutkan bahwa di sebelah timur Pulau Laag terdapat Pulau Kecil (Pulau Klein), tetapi sekarang pulau itu tidak dijumpai lagi.

Informasi lain:

  • Pulau Laag adalah pulau yang telah kehilangan bentuknya dan karakternya sebagai sebuah pulau karena telah menyatu dengan daratan Pulau Papua. Kesimpulan ini dibuat berdasarkan pengamatan terhadap citra satelit dari Google Earth. Citra satelit tersebut memperlihatkan bahwa kawaan pesisir selatan Pulau Papua adalah daerah yang memiliki tingkat sedimentasi yang tinggi. Hal itu ditunjukkan dari banyaknya gosong pasir atau lumpur di perairan pesisir dekat pantai, terutama di sekitar muara-muara sungai (Gambar 1). Sangat mungkin bahwa Pulau Laag semula adalah sebuah mangrove cay, yaitu gosong pasir atau lumpur yang ditumbuhi oleh vegetasi mangrove.
  • Pulau Kecil atau Pulau Klein, saya duga juga mangrove cay. Karena dinamika kawasan tersebut yang sangat tinggi, maka pulau tersebut hilang. Beberapa situs, yang saya kutip di atas, masih menyebutkan lokasi keberadaan pulau tersebut.
Pulau Laag dan sekitarnya 02 ket

Gambar 1. Pulau Laag dan kawasan sekitarnya. Sumber Citra dari Google Earth, tanggal pencitraan 13 Desember 2011.

  • Menurut Buku Panduan Pelayaran, yang dipublikasikan oleh Pemerintah Amerika, pulau ini memiliki panjang 1000 m pada arah Utara – Selatan dan lebar 463 m, berelevasi rendah dan banyak ditumbuhi vegetasi. Pulau ini terletak sekitar 5 mil di sebelah Selatan – Baratdaya muara Sungai Blumen. Informasi ini memperkuat dugaan mengenai sejarah pulau ini yang diuraikan di atas. Buku ini juga menyebutkan keberadaan Pulau kecil yang sudah tidak ada lagi wujudnya itu.
  • Malam ini (11 Des 2014), dugaan saya tentang Pulau Laag dan tentang Pulau Kecil (Pulau Klein) yang saya uraikan di atas terjawab. Saya berhasil menemukan sebuah peta koleksi dari The University of Texas at Austin yaitu peta dari Joint Operations Graphic yang bissa dikenal sebagai JOG Map. Lembar: Pulau Laag, Indonesia; Nomor Seri: 1501 AIR; Nomor Lembar: SB 53-8; Edisi 1; Skala 1:250.000. Peta hasil kompilasi data terbaik sampai tahun 1967. Dipublikasikan oleh U.S. Army Map Service. Cuplikan peta itu yang memperlihatkan keberadaan Pulau Laag dapat dilihat pada Gambar 2.
Pulau Laag  JOG Map txu-oclc-224033150-sb53-08

Gambar 2. Pulau Laag dan kawasan sekitarnya tahun 1967. Tanda panah menunjuk ke Pulau Laag dan Pulau Kecil (Pulau Klein). Bandingkan dengan Gambar 1. Tampak Pulau Laag masih terpisah dari Pulau Papua, dan Pulau Kecil masih hadir. Sekarang, Pulau Laag telah menyatu dengan Pulau Papua dan Pulau Kecil telah hilang. Peta ini dikutip dari Peta Lembar Pulau Laag (JOG Map Lembar SB 53-8).

 

  • Peta Pulau Laag di atas juga memberikan nama lain dari Sungai Momats, yaitu Sungai Lecoco D’Armandville.
  • Mempertimbangkan sejarah perkembangan pulau ini, diperkirakan di masa mendatang garis pantai pulau ini akan terus berubah karena sedimentasi.

Prediksi Respon Terhadap kenaikan Muka Laut Global:

  • Karena pulau ini berada di lingkungan dengan tingkat sedimentasi yang tinggi, kenaikan muka laut global diperkirakan tidak akan berpengaruh terhadap kehadiran pulau ini meskipun elevasinya rendah.

Catatan Tambahan:

  • Berdasarkan hal-hal yang saya sampaikan di atas, maka dengan ini saya menyatakan bahwa Atlat Pulau-pulau Kecil Terluar dari Badan Informasi Geospasial (BIG – dahulu Bakosurtanal) perlu dikoreksi.
  • Koreksi juga perlu dilakukan untuk jumlah pulau-pulau kecil terluar yang sampai saat ini masih menyebutkan adanya Pulau Laag.

 Kembali

 

Posted in Mengenal Indonesia, Pulau Kecil Terluar | Dengan kaitkata: , , , , , , , , , , , , | 1 Comment »

Agats, Kabupaten Asmat, Papua

Posted by wahyuancol pada November20, 2014

Agats

Kota Agats sekarang adalah ibukota dari Kabupaten Asmat, Propinsi Papua. Kota ini terletak di dataran rendah di kawasan pesisir di bagian selatan Pulau Papua (Gambar 1). Secara fisik, kota ini berada di kawasan rawa mangrove berelumpur di tepi sungai Asewets (Gambar 2).

Agats

Gambar 1. Agats di pesisir selatan Pupau Papua. Sumber citra: Tageo.

Agats Lokasi

Gambar 2. Agats. Kenampakan detil kondisi lingkungan fisik tempat kota berada. Sumber Citra: Google Earth.

Lokasi tempat berkembangnya kota ini di tepi sungai di kawasan rawa mangrove membuat kota ini berkembang menjadi kota yang unik di Indonesia. Semua bangunan di kota ini berkaki karena kota ini harus berkembang dengan menyesuaikan diri dengan kondisi lingkungan rawa mangrove (Gambar 3), dan Agats berkembang menjadi waterfront city (Gambar 4).

Agats typical street

Gambar 3. Kota Agats yang berkembang sebagai kota berkaki karena menyesuaikan diri dengan lingkungan rawa. Sumber foto: Henry S, Panoramio.

Agats dari udara

Gambar 4. Kota Agats di tepi sungai dari udara. (Sumber: Lubis, 2010)

Agats dari sungai

Gambar 5. Kota Agats dilihat dari arah sungai. (Sumber: Lubis, 2010)

————————–

Kondisi Agats dan lingkungan tempat kota itu berada mungkin dapat dibandingkan dengan Venesia di Italia. Kota Venesia dikenal sebagai Kota Terapung. Kota itu berkembang di atas rawa-rawa, dan dibangun di atas pondasi kayu yang ditancapkan ke dalam lumpur rawa hingga mencapai batuan yang kuat menahan beban (Gambar 6).

Wooden Foundations of Venice

Gambar 6. Pondasi kayu Kota Venesia. Sumber: Dhwty, 2014.

 

Kota Venesia unik karena kota itu dibangun di suatu lagoon dan dikelilingi oleh tubuh air. Kota itu dibangun dengan menggabungkan lebih dari seratus pulau yang dipisahkan oleh kanal-kanal dan dihubungkan oleh 433 jembatan (Finn et al., 2011, hal. 1).

Kota Venesia dan lingkungan lagoonnya adalah hasil dari proses dinamis yang menggambarkan interaksi antara manusia dan ekosistem alamiahnya (UNESCO World Heritage Centre, tanpa tahun)

Kota Venesia didirikan tahun 421 AD oleh para pengungsi dari kawasan pesisir yang bernama Venesia. Pada mulanya kota itu hanya mencakup sejumlah pulau kecil. Mereka membangun desa-desa di dalam areal lagoon yang berfungsi sebagai barier pelindung yang melindungi mereka dari serangan musuh yang sering terjadi ketikan mereka hidup di daratan utama. Dengan berjalannya waktu, kota berkembang hingga mencakup semua pulau di tengah lagoon, dan secara bertahap digabungkan mendaji satu. Gabungan pulau-pulau itu pertama kali dikelola sebagai satu kesatuan pemerintahan dalam bentuk republik pada tahun 726 AD (Finn et al., 2011, hal. 3).

Ketika Venesia berkembang dari tempat pengungsian temporer menjadi kota permanen, penduduk kota itu menyadari bahwa mereka membangun di atas lahan rawa dengan membuat pondasi kayu yang ditancapkan ke dalam lumpur rawa hingga mencapai endapan lempung keras di dasar lagoon. Sampai sekarang telah jutaan tiang kayu ditancapkan untuk membangun jembatan, kanal dan gedung-gedung. Untuk membangun pondasi bangunan, lapisan-lapisan papan kayu oak diletakkan di atas tiang-tiang pondasi, dan kemudian di atasnya diletakkan bata (brick) dari marmer (Cocks, 2006).

Sampai Abad ke-16, tiang-tiang pondasi ditanam dengan palu yang dipukulkan dengan tangan. Pekerjaan dilakukan di dalam air dan dimulai dengan membangun dinding pelindung. Kemudian air dibuang dan tiang-tiang kayu sepanjang 3-6 meter dengan diameter 20-25 cm ditancapkan. Sebelum ada mesin untuk memukul palu, tiang-tiang ditancapkan  sedalam 2-3 meter, tetapi setelah ada mesin, tiang-tiang ditancapkan lebih dalam lagi. Rata-rata kepadatan tiang adalah 9 tiang per meter persegi, dan bila diperlukan jumlah tiang ditambah (De Miranda et al., tanpa tahun).

Penggunaan kayu untuk mendukung struktur bangunan lebih menguntungkan daripada batu atau logam. Kayu hanya lapuk oleh mikroorganisme. Kayu pondasi di Venesia berada di dalam air dan tidak berhubungan dengan udara, sehingga mikroorganisme tidak dapat berkembang. Dengan demikian pelapukan oleh mikroorganisme tidak terjadi. Sebaliknya, kontak kayu dengan air garam yang terus menerus menyebabkan kayu mengeras karena mengalami petrifikasi. Kayu berubah menjadi keras seperti batu (Dhwty, 2014).

Dengan memberikan uraian tentang Kota Venesia ini saya berharap semoga dalam membangun Kota Agats kita dapat mengambil pelajaran dari perkembangan Kota Venesia.

———————————

Agats adalah kota kecil di pesisir selatan Papua. Letaknya yang jauh dari Ibukota negara dan akses yang sulit untuk mencapai kota itu membuat kota itu tidak menarik perhatian. Tetapi, pada bulan Nopember 1961, mata dunia pernah tertuju ke kota itu, yaitu ketika Michael Clark Rockefeller, anak Gubernur Kota New York, Amerika Serikat, hilang di perairan sekitar Agast. Agats adalah tempat keberangkatannya yang terakhir sebelum hilang. Setelah sebelumnya melakukan perjalanan selama dua bulan di pedalaman, pada pertengahan Nopember rombongannya kembali ke Agats untuk mengisi perbekalan untuk sebulan perjalanan. Pada tanggal 17 Nopember 1961 ia berangkat kembali meninggalkan untuk menuju ke Laut Arafura untuk mengunjungi pesisir selatan. Ketika melintasi muara Sungai Betsj atau Eilanden, perahunya terbalik diterpa gelombang.

Michael Clark Rockefeller (23) berangkat bersama seorang ahli antropologi berkebangsaan Belanda, Dr. ReneW. Wassing (34) dan didampingi oleh dua orang penduduk lokal sebagai asisten melakukan melakukan perjalanan untuk mencari benda-benda seni primitif Asmat dengan mempergunakan perahu penduduk lokal (The Miami News 26 Nov. 1961). Setelah perahu terbalik, dua asisten penduduk lokal berenang ke pantai untuk mencari bantuan. Setelah hampir seharian terapung dengan berpegangan pada perahu yang terbalik dan tanpa pertolongan, pada tanggal 19 Nopember 1961 karena khawatir hanyut ke laut lepas Michael berenang ke darat dengan bantuan dua drum minyak kosong sebagai pelampung yang diikatkan ke pinggangnya (Smithsonian Magazine March 2014). Michael tenggelam dalam upayanya berenang ke darat. Dr. Wassing berhasil diselamatkan tanggal 20 Nopember 1961. Pencarian terhadap Michael dilakukan dari darat, laut dan udara. Di darat pencarian dilakukan dengan bantuan 5000 orang penduduk setempat yang menyisir seluruh kawasan rawa mangrove di kawasan itu. Upah diberikan untuk penduduk lokal dalam bentuk tembakau (Chicago Tribune 26 Nov. 1961).

Siapa Michael C. Rockefeller? Ia adalah anak dari laki-laki termuda dari Nelson Aldrich dan Mary Todhunter Clark Rockefeller. Neneknya, Abby Aldrich Rockefeller, adalah pendiri the Museum of Modern Art (Museum Seni Moderen), dan ayahnya mendirikan the Museum of Primitive Art (Museum Seni Primitif), dan kedua museum itu sekarang menjadi bagian dari the Metropolitan Museum of Art (Museum Seni Metropolitan) di Kota New York, Amerika Serikat. Michael adalah seorang sarjana lulusan Universitas Hardvard. Ia melakukan perjalanan ke Papua (New Guinea) mempelajari kehidupan Suku Ndani di Lembah Baliem dan budaya Asmat di pesisir selatan Papua (Sumber: Fredonia University).

Hilangnya Michael C. Rockefeller di perairan selatan Papua memunculkan berbagai spekulasi, seperti: (1) Dia ditangkap dan ditahan sebagai tawanan, (2) Dia bergabung dengan penduduk asli dan bersembunyi di dalam hutan, (3) Dia tewas dimakan ikan hiu, dan (4) Dia mencapai pantai, kemudian dibunuh dan dimakan oleh penduduk asli Asmat. Kisahnya berkembang menjadi bersifat mistis. Kisahnya dimainkan di panggung sandiwara Broardway, ditulis sebagai novel, lirik musik rock, dan bahkan acara televisi (television show) tahun 1980 (Sumber:Smithsonian Magazine edisi Maret 2014).

Dr. Rene Wassing kembali ke Belanda dan menjadi kurator Museum voor Volkenkunde (Ethnographic Museum, Museum Etnografi) di Rotterdam yang sekarang dikenal sebagai the Wereld (World) Museum. Dr. Wassing lahir di Palembang. Sampai sekarang, di masa tuanya, dia masih memandang dirinya sebagai anak daerah tropis (Sumber: Papua Heritage Foundation).

Bacaan:

Lubis, B.U., 2010. Agats: the waterfront city of the Asmat. Nakhara 6: 75-82.

Finn, O., Ouellette, J., Hutchinson, K. and Muller, R., 2011. The Building Block of Venice. Worcester Polytechnic Institute. (http://www.wpi.edu/Pubs/E-project/Available/E-project-121611-063819/unrestricted/Final_Report_B11_Maint_2.6.pdf). Akses 20 Nopember 2014.

UNESCO World Heritage Centre, tanpa tahun. Venice and Its Lagoon. (http://whc.unesco.org/en/list/394). Akses 21 Nopember 2014.

Cocks, A.S., 2006. The Science of Saving Venice. WMF.org. (http://www.wmf.org/sites/default/files/wmf_article/pg_23-29_venice_c.pdf). Akses 20 Nopember 2014.

De Miranda, M., Barbisan, U., Pogacnik, M. and Skansi, L., (tanpa tahun). Bridges in Venice – Architectural and Structural engineering aspects. (http://www.iuav.it/Ricerca1/ATTIVITA-/aree-temat/costruttiv/arte-del-c/materiali/iabse/iabse-scalzi.pdf). Akses 20 Nopember 2014.

Dhtwy, 2014. The Construction of Venice, the Floating City. Ancient Origin. (http://www.ancient-origins.net/ancient-places-europe/construction-venice-floating-city-001750). Akses 20 Nopember 2014.

 

(under construction)

 

Posted in Kota Kecil, Mengenal Indonesia | Dengan kaitkata: , , , , , , , , , , | Leave a Comment »

Pulau Kolepon

Posted by wahyuancol pada November14, 2014

Pulau Kolepon

Koordinat: 08° 12′ 49″ LS, 137° 41′ 24″ BT

Titik Referensi: No. TR.088

Titik Dasar: No. TD.088E

Letak Administrasi: Distrik Kimaam, Kabupaten Merauke, Propinsi Papua.

Catatan:

  • Pulau ini dikenal dengan banyak nama. Selain memiliki nama resmi yang diakui sekarang yaitu: Pulau Kolepon, pulau ini juga dikenal dengan empat nama yang lain, yaitu Pulau Kimaam atau Kimaan, Pulau Dolok atau Dolak, Pulau Yos Sudarso, dan Pulau Frederik Hendrik (lihat Atlas Pulau-pulau Kecil halaman 105; JPL CIT Photojournal).
  • Pulau ini berhadapan dengan Australia.
  • Pulau ini berbentuk seperti daun (Gambar 1). Panjangnya sekitar 165 km. Luas pulau ini 11.691, 07 km². Pulau ini dipisahkan dari daratan Papua oleh Selat Muli. Sebagian kawasan pulau ini adalah rawa mangrove. Di sekeliling pulau terdapat rataan lumpur yang lebar terutama di bagian utara hingga barat laut.
Pulau Kolepon 20090812-indonesia-full copy

Gambar 1. Citra Pulau Kolepon, 29 Agustus 2009. Titik kotak kuning: Distrik Kimaam. Sumber Citra: Earth Snapshot, Frederik Hendrik Island. (Nopember 2014).

 

  • Penduduk pulau ini terutama terdapat di Distrik Kimaam. Terdapat landasan udara dengan panjang sekitar 650 meter (diukur pada Citra Satelit Google Earth) (Gambar 2) di distrik tersebut. Dermaga di tepi sungai dijumpai di Kiworo di bagian timur pulau. Lokasi pemukiman penduduk lainnya dijumpai di bagian utara pulau seperti di Tabonji di bagian utara pulau (Gambar 3). Bahasa asli penduduk setempat adalah Ndom dan Riantana (JPL CIT Photojournal)
Distrik Kimaam

Gambar 2. Distrik Kimaam di Pulau Kolepon dengan landasan pesawat terbang sepanjang sekitar 650 meter. Tanggal pencitraan 5 April 2012.  Sumber Citra: Google Earth (Nopember 2014).

Tabonji Kolepon Papua

Gambar 3. Daerah Tabonji di bagian utara Pulau Kolepon 5 April 2012. Sumber Citra: Google Earth (Nopember 2014).

 

  • Posisi koordinat yang tertera di atas dikutip dari Atlas Pupau-pulau Kecil halaman 105. Ketika posisi itu di plot pada Google Earth, jatuhnya di perairan pantai sebelah barat pulau.
  • Kenampakan visual kondisi lingkungan di sekitar pulau ini berada dari citra satelit dan pengamatan detil terhadap citra pulau ini dari Google Earth, bisa disimpulkan bahwa Pulau Kolepon adalah pulau yang berelevasi rendah. Pulau ini terbentuk sebagai hasil dari pengendapan sedimen yang tinggi di perairan pesisir sebelah selatan Pulau Papua di Laut Arafura (Gambar 1). Pulau ini adalah perkembangan dari suatu gosong pasir yang kemudian ditumbuhi vegetasi mangrove (mangrove cay). Mangrove dijumpai sampai jauh di pedalaman pulau. Di tengah pulau juga banyak danau-danau kecil. Bekas-bekas alur sungai sangat banyak dijumpai hingga di bagian tengah pulau (Gambar 4).
Danau-danau Kolepon

Gambar 4. Danau-danau di Pulau Kolepon. Sumber Citra: Google Earth, pencitraan 10 April 2013 (Nopember 2014)

 

  • Menurut direktori mercusuar di pulau ini terdapat mercusuar di dua lokasi. Pertama, letaknya tidak diketahui dengan pasti karena masih baru sehingga belum sempat terekam oleh citra satelit yang disajikan, tetapi diperkirakan berada di ujung barat daya pulau ini, yaitu di Cape Valsch atau Tanjung Vals atau Ujung Salah (Gambar 5). Tanjung ini adalah ujung paling selatan Pulau Kolepon. Kemudian, lokasi Titik Referensi dan Titik Dasar yang ada di pulau ini diperkirakan juga berada di tanjung ini. Kedua, letaknya di kawasan Pelabuhan Kimaam (Gambar 6).
Ujung Salah Kolepon

Gambar 5. Ujung Salah di bagian baratdaya Pulau Kelopen. Sumber Citra: Google Earth (Nopember 2014)

Pelabuhan Kimaan Pulau Kolepon GetMap

Gambar 6. Pelabuhan Kimaam Pulau Kolepon. Mercusuar terlihat di tepi pantai di pangkal dermaga. Sumber Citra: Bing (Nopember 2014).

Prediksi Respon terhadap Kenaikan Muka Laut Global: Pulau ini dikelilingi oleh pantai mangrove. Vegetasi mangrove menyebar hingga ke pedalaman pulau ini dan sebagaian besar masih berada dalam kondisi alamiahnya. Dengan demikian, bila terjadi kenaikan muka laut yang sesuai dengan skenario IPCC, mangrove di pulau ini diperkirakan masih dapat beradaptasi dengan baik sehingga keberadaan pulau ini tidak akan terganggu secara signifikan. Kemampuan adaptasi dari mangrove tersebut didukung oleh tingginya suplai muatan sedimen dari daratan Pulau Papua ke kawasan tersebut seperti terlihat pada Gambar 1.

Pulau Kolepon ini berada di Paparan Sahul yang stabil. Dalam sejarah geologi, dimasa lalu muka laut pernah turun hingga sekitar 100 meter lebih rendah dari posisi muka laut sekarang. Dengan demikian, pulau ini diperkirakan pada saat itu ukurannya lebih besar. Jejak-jejak alur sungai purba yang berada di bawah laut sekarang dapat terlihat di perairan dekat pantai di sekitar Cape Valsch (Gambar 7).

Ujung Salah Kolepon under water GetMap

Gambar 7. Morfologi bawah laut purba di kawasan Ujung Salah, Pulau Kolepon. Sumber Citra: Bing Map (Nopember 2014)

Informasi lain:

  • Kawasan ini adalah kawasan dengan tingkat sedimentasi yang tinggi (Earth Snapshot).
  • Perubahan garis pantai yang besar (progradasi) terjadi di pantai barat pulau ini (Bird and Ongkosongo, 1980)
  • Di sebelah utara pulau ini terdapat muara Sungai Digul dan Sungai Odammun. Di kawasan muara kedua sungai tersebut sering terjadi fenomena tidal bor atau tidal wave atau Kepala Arus (bahasa lokal). Fenomena itu muncul 2 hari sebelum dan 2 hari setelah bulan baru dan bulan purnama. Fenomena ini hadir dalam bentuk gelombang tunggal dengan ketinggian 1,8 sampai 4 meter yang bergerak cepat masuk ke sungai (Sumber: National Geospacial Intelligence Agency, Pub. 164, Sailing Directions, New Guinea, 2004, 9th Ed., halaman 118) . Informasi tentang kondisi arus, gelombang dan pasang-surut di sekitar pulau ini juga dapat diperoleh dari referensi tersebut.

 

Kembali

 

 

 

Posted in Mengenal Indonesia, Pulau Kecil Terluar | Dengan kaitkata: , , , , , , , , | Leave a Comment »

Pulau Batarkusu

Posted by wahyuancol pada Oktober29, 2014

Pulau Batarkusu

Koordinat: 08° 20′ 30″ LS, 130° 49′ 16″ BT

Titik Referensi: No. TR. 107

Titik Dasar: No. TD. 107

Letak Administrasi: Kecamatan Selaru, Kabupaten Maluku Tenggara Barat, Propinsi Maluku.

Catatan:

  • Posisi koordinat pada Google Earth: 8° 20′ 29,37″ LS, 130° 49′ 14,47″ BT.
  • Nama lain pulau ini adalah Batu Arkusu (JOG Map Lembar Pulau Selaru SC 52-4)
  • Pulau tidak berpenghuni, berbatasan dengan Australia.
  • Berdasarkan kenampakan citra dan foto, pulau ini adalah pulau terumbu karang yang terangkat (uplifted reef island) yang tersusun oleh batugamping terumbu.
  • Berdasarkan foto, elevasi pulau diperkirakan maksimal 2 meter diatas muka laut rata-rata.

Foto / Citra:

Pulau Batarkusu lokasi

Pulau Batarkusu, lokasi. Sumber: Google Earth (Oktober 2014).

Pulau batarkusu

Pulau Batarkusu. Sumber: Pribadi AS (2012)

Prediksi Respon terhadap Kenaikan Muka Laut Global: dapat bertahan tetap muncul di permukaan laut. Namun, berdasarkan kenampakan pulau itu pada foto di atas, menurut UNCLOS 1982 Part VIII Article 121, kenaikan muka laut kemungkinan dapat merubah status pulau ini. Statusnya dapat turun dari pulau (island) menjadi batu (rock).

Informasi lain:

Kembali

Posted in Mengenal Indonesia, Pulau Kecil Terluar | Dengan kaitkata: , , , , , | Leave a Comment »