Kepulauan Indonesia

Cerita dari, untuk dan tentang Kepulauan Indonesia beserta Penghuni dan Penduduknya

Archive for the ‘Batuan’ Category

Tentang seluk beluk batuan.

Granit

Posted by wahyuancol pada Januari19, 2011

Gambaran Umum

Granit adalah batuan beku intrusif yang berwarna cerah, berukuran butir kristal kasar (Gambar 1, Gambar 2 ). Komposisi mineral utamanya adalah kuarsa, ortoklas (K-Feldspar), dan ploagioklas (plagioklas-Ca). Mineral-mineral tersebut memberikan warna cerah pada granit yang berkisar dari putih (Gambar) sampai merah jambu (pink). Mineral tambahan yang banyak dijumpai dalam granit adalah biotit (mika hitam) dan hornblende. Kedua mineral tersebut berwarna gelap atau hitam sehingga memberikan bintik-bintik hitam pada granit.

Pembentukan Granit

Granit terbentuk di daerah kontinen atau benua sebagai batuan beku intrusif. Ukuran butir kristal mineral penyusunnya yang berukuran kasar menunjukkan granit terbentuk melalui proses pembekuan magma yang sangat lambat.

Sebagai batuan intrusif, granit terbentuk karena pembekuan magma yang terjadi jauh di dalam bumi. Dijumpainya granit di permukaan bumi sekarang menunjukkan bahwa kerak bumi telah mengalami erosi sangat dalam.

Definisi Granit

Granit dapat didefinisikan dari tiga sudut pandang, yaitu definisi sederhana, definisi menurut ilmui petrologi, dan definisi komersil atau dagang.

Secara sederhana, granit didefinisikan sebagai batuan beku berwarna cerah, berukuran butir kasar, berkomposisi mineral dominan feldspar dan kuarsa, kompisisi mineral minor mika dan amfibol.

Definisi menurut ilmu petrologi, granit adalah batuan beku yang mengandung kuarsa berkisar dari 10 – 50 % daru seluruh mineral felsik, dan mengandung alkali feldspar 65 – 90 % dari kandungan total mineral feldspar. Untuk dapat menerapkan definisi ini diperlukan kemampuan melakukan identifikasi mineral.

Menurut industri batuan komersil, granit adalah batuan yang butirannya dapat dilihat dan memiliki kekerasan yang lebih keras daripada marmer. Menurut definisi ini maka gabro, basalt, pegmatit, skis, gneis, syienit, monzonit, anorthosit, granodiorit, diabas, diorit disebut sebagai “granit”.

Iklan

Posted in Batuan, G, LITOSFER | Dengan kaitkata: , , , , , | Leave a Comment »

Batuan 5 (Batuan Piroklastik)

Posted by wahyuancol pada Januari9, 2011

Apabila terjadi erupsi letusan dari suatu gunungapi, seperti yang belum lama ini ditunjukkan oleh Gunung Merapi di perbatasan Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah, selain mengeluarkan gas-gas volkanik juga ikut keluar  magma. Magma dilontarkan ke udara melalui kawah gunungapi itu. Magma yang dilontarkan itu membeku dengan cepat membentuk material padat dengan berbagai ukuran, mulai dari yang berukuran debu sampai berukuran bongkah. Selain magma, dapat pula tubuh gunungapi itu ikut hancur dan materialnya juga ikut terlempar. Semua material itu disebut sebagai material piroklastik. Batuan yang terbentuk oleh material piroklastik itu disebut sebagai batuan piroklastik. Tephra adalah sebutan untuk semua fragmen batuan volkanik atau lava tanpa memperhatikan ukurannya yang dolontarkan ke udara ketika terjadi erupsi letusan gunungapi atau oleh semburan gas panas dalam kolom erupsi atau oleh semburan lava (lava fountain).

Komponen penyusun batuan piroklastik yang utama adalah material yang berasal dari magma yang dilontarkan ketiak erupsi letusan gunungapi terjadi. Komponen penyusun lainnya dapat berasal dari batuan tubuh gunungapi yang ikut hancur dan terlempar ke udara, dari sumbat lava, atau dari batuan yang lebih tua yang diterobos oleh magma seperti batuan volkanik, batuan plutonik;  kadang-kadang juga bisa ada batuan sedimen atau batuan metamorfik.

Magma yang dilontarkan ke udara ketika terjadi erupsi letusan segera membeku. Material yang terbentuk bisa berupa gelas volkanik, kristal mineral atau batuan beku. Ukuran butirannya dapat bervariasi mulai dari berukuran debu, pasir, kerikil maupun bongkah.

Material piroklastik disebut sebagai debu volkanik bila berukuran < 2 mm. Komponen penyusunnya dapat berupa gelas volkanik maupun kristal mineral. Debu volnaik ini apabila menjadi batuan disebut sebagai tuff.

Apabila butiran material piroklastik itu memiliki diameter butiran berukuran 2 – 64 mm, maka disebut sebagai lapilli.

Breksi piroklastik (pyroclastic breccia) adalah breksi yang tersusun oleh frakmen piroklastik yang berukuran butir > 2 mm dan bentuk butirannya menyudut (Free Dictionary).

Ketika terjadi erupsi letusan, lava yang mengalir sering juga ikut terlempar ke udara dalam kondisi yang belum sepenuhnya memadat. Lava yang terlempar itu dapat membentuk butiran batuan yang membulat, seperti kotak (blocky), atau meruncing. Material yang terbentuk dari lava yang terlempar ini disebut sebagai agglomerat.

Selanjutnya, berdasarkan karakteristiknya agglomerat dapat dibedakan menjadi bom (bomb), blok (block) atau breksi (breccia). Bom atau blok biasanya lebih besar dari 32 mm (Encyclodia Britanica).

Apabila batuan piroklastik itu berbentuk membulat maka disebut bom volkanik (volcanic bomb). Bentuk bom volkanik ini aneka macam (Gambar 1, Gambar 2) namun bentuk dasarnya tetap membulat. Bom volkanik ini menunjukkan material yang dilontarkan dalam bentuk cair.

Apabila batuan piroklastik itu berbentuk seperti kotak (blocky) maka disebut volcanic block. Volcanic block ini menunjukkan material dilontarkan dalam bentuk padat, biasanya merupakan lava yang telah membeku sebelumnya yang merupakan bagian dari tubuh gunungapi (Gambar 1, Gambar 2). Kumpulan material volcanic block ini akan membentuk volcanic breccia.

Semoga bermanfaat.

Salam,

Wahyu

Posted in Batuan, LITOSFER | Dengan kaitkata: , , , , , , , , , | Leave a Comment »

Erupsi 2 (Tipe-tipe erupsi: erupsi celah)

Posted by wahyuancol pada November8, 2010

Klasifikasi Tipe Erupsi

Tipe erupsi dapat diklasifikasikan dengan berbagai dasar, yaitu:

  1. Berdasarkan pada bentuk dan lokasi bukaan (vent) yang darinya magma keluar,
  2. Berdasarkan pada hubungannya dengan air,
  3. Berdasarkan cara magma keluar dari kawah.

Tipe Erupsi Berdasarkan Bentuk dan Lokasi Bukaan (Vent)

Berdasarkan bentuk bukaan, erupsi dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu:

  1. Erupsi Celah (fissure eruption): bila material volkanik keluar melalui bukaan berupa retakan atau celah yang memanjang.
  2. Erupsi Kawah (central vent eruption): bila material volkanik keluar melalui lubang yang bulat. Bila kawah gunungapi berada di puncak gunung, maka disebut erupsi puncak (summit erupsion); sedang bila berada di lereng gunungapi, disebut erupsi lereng (flank erupsion).

Erupsi Celah

Erupsi celah umumnya terjadi di daerah-daerah yang banyak mengalami sistem retakan memanjang atau sistem retakan yang sejajar. Bila sistem retakan tersebut berada di atas dapur magma basalt, maka magma basalt yang berviskositas rendah akan bererupsi (keluar) melalui celah-celah tersebut. Erupsi tipe ini bersifat tenang dan sedikit sekali material yang terlontarkan ke udara. Bila erupsi ini berhenti, magma yang berada di dalam celah akan mendingin dan mengkristal membenuk tubuh batuan beku yang dikenal sebagai dike (dyke).

Erupsi tipe ini umumnya dijumpai di daerah Pematang Tengah Samudera (Mid Oceanic Ridge) seperti di Pulau Eslandia dan di daerah Hot Spot di tengah samudera seperti di Hawaii.

flow flow in rift zone

Erupsi celah di Hawai. Sumber: National Park of Hawaii.

Erupsi celah. Photo: USGS. Dikutip dari Hawai Lava Daily.

 

Pulau Eslandia adalah bagian dari Pematang Tengah Samudera (Mid-Atlantic Ridge) yang tersingkap ke udara. Oleh karena itu erupsi celah disebut juga Erupsi Tipe Eslandik (Icelandic Eruption). Aliran lava karena erupsi ini yang terbesar terjadi tahun 1783 yang dikenal sebagai Aliran Laki (Laki flow). Erupsi itu terjadi melalui celah sepanjang 25 km, menghasilkan 12 kilometer kubik lava yang mengisi dua lembah sungai yang dalam dan menutupi suatu kawasan dengan luas lebih dari 500 km persegi. Aliran lavanya mengalir mencapai 40 km.

Di Hawai, erupsi celah yang terjadi dikenal sebagai Tirai Api (Curtain of Fire), yang terjadi karena magma basalt yang miskin akan gas keluar melalui celah dan membentuk dinding yang menyala.

Banjir Basalt

Dalam sejarah geologi Bumi, diketahui ada tiga kejadian erupsi celah yang mengeluarkan lava basal yang sangat banyak, yang setiap erupsinya menutupi permukaan bumi seluas ratusan kilometer persegi, dan dikenal sebagai Erupsi Banjir Basalt (Flood Basalts Eruption). Fenomena banjir basalt dapat terjadi di lingkungan darat maupun di lingkungan laut. Contoh empat kejadian banjir basalt di lingkungan darat adalah sebagai berikut:

  1. Ethiopian Flood Basalt di Ethiopia yang bererupsi sekitar 30 juta tahun yang lalu, dengan durasi erupsi 1 juta tahun.
  2. Columbia River Flood Basalts di Amerika Serikat yang berupa rangkaian erupsi yang berlangsung antara 17-14 juta tahun yang lalu. Salah satu alirannya mencapai jarak 500 km dari sumbernya;
  3. Deccan Flood Basalts di India yang bererupsi sekitar 65 juta tahun yang lalu, dengan durasi erusi 6 juta tahun, dan
  4. Siberian Flood Basalts di Siberia yang bererupsi sekitar 245 juta tahun yang lalu.

 

Lokasi banjir basalt yang utama menurut Jerram dan Widdowson (2005). Dikutip dari Reeg.

Peta lokasi Ethipian Flood Basalt. Sumber: Hofmann et al (1997)

Peta penyebaran Columbia River Flood Basalt. Sumber: Camp & Ross (2004)

Peta penyebaran Deccan Flood Basalt. Dikutip dari: Geological Survey of India.

Peta penyebatan Siberian Flood Basalt menurut Ivanov (2008).

 

Menurut Hofmann et al (1997), banjir basalt merupakan bukti dari mantle plume yang menerobos litosfer, dan berkaitan dengan fenomena pecahnya kerak kontinen. Selain itu juga disebutkan bahwa banjir basalt berkaitan dengan fenomena krisis iklim global dan kepunahan massal yang pernah terjadi dalam perjalanan sejarah Bumi.

Mantle plume yang naik (A) dan kemudianb membentur litosfer dan menyebabkan banjir basalt (B) atau pulau-pulau volkanik (C).

 

Continental breakup dalam kondisi normal (Kasus A)  dan dengan penerobosan mantle plume yang mencetuskan banjir basal (Kasus B). Sumber: Korenaga (2004).

 

Artikel terkait:

BasaltErupsi 1

Referensi:

Kinds of Volcanic Eruptions [http://volcano.oregonstate.edu/education/vwlessons/kinds/kinds.html]

How Volcanoes Work: Fissure Eruption [http://www.geology.sdsu.edu/how_volcanoes_work/Fissure.html]

Posted in Batuan, E, GLOSARIUM, LITOSFER, PROSES (BENCANA) ALAM, Volkanisme | Dengan kaitkata: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a Comment »

Batuan 4 (Mineral Penyusun Batuan Sedimen)

Posted by wahyuancol pada Oktober25, 2010

Sebelum membicarakan mineral penyusun batuan sedimen, ada baiknya kita menoleh kembali pada macam-macam batuan sedimen. Tentang macam-macam batuan sedimen, secara sangat sederhana telah kita bicarakan sekilas di dalam posting Batuan 1 tentang klasifikasi batuan. Tetapi, pengelompokan batuan yang sangat sederhana tersebut masih sulit bagi kita untuk memahami tentang komposisinya. Agar lebih jelas, sebaiknya kita meninjau klasifikasi batuan sedimen berdasarkan asal usulnya atau genesanya.

Berdasarkan genesanya, batuan sedimen dapat kita klasifikasikan menjadi:

  1. Batuan sedimen terrigen: batuan sedimen yang berasal dari hasil erosi batuan di daratan.
  2. Batuan sedimen volkanogenik: batuan sedimen hasil erupsi letusan gunungapi.
  3. Batuan sedimen biogenik: batuan sedimen hasil aktifitas biologi.
  4. Batuan sedimen hidrogenik: batuan sedimen hasil reaksi kimia an-organik di dalam air laut. Batuan ini disebut juga batuan sedimen autigenik.
  5. Batuan sedimen kosmogenik: batuan sedimen yang berasal dari luar angkasa.

Dari kelima kelompok batuan sedimen tersebut, bila kita lihat berdasarkan klasifikasi batuan sedimen yang membedakan batuan sedimen menjadi batuan sedimen klastik dan non-klastik, maka jenis batuan sedimen nomor 1 dan 2 masuk ke dalam batuan sedimen klastik, sedang nomor 3 dan 4 masuk kelompok batuan sedimen non-klastik. Untuk yang nomor 5, tidak dapat dimasukkan dalam skema klasifikasi yang hanya membedakan antara sedimen klastik dan non-klastik. Tetapi kita tidak perlu risau karena material yang berasal dari ruangkasa itu amat sangat sedikit dan tidak pernah dijumpai membentuk tubuh batuan tersendiri, sehingga dapat kita abaikan dalam pembicaraan ini.

Batuan Sedimen Klastik Terrigen

Secara sederhana, komposisi mineral batuan sedimen ini ditentukan oleh komposisi mineral batuan asalnya. Apa bila berasal dari rombakan batuan beku, misalnya granit, maka mineral-mineral dari granit tersebut menjadi penyusun batuan sedimennya. Jadi, mineral-mineral penyusunnya sangat ditentukan oleh batuan asal. Tetapi persoalannya tidak sesederhana itu. Ada proses pelapukan yang bekerja, baik kimiawi maupun mekanis. Pelapukan kimiawi terjadi dalam proses perombakan batuan asalnya sehingga mineral-mineral penyusunnya terlepas. Sementara itu, pelapukan fisik terutama bekerja ketika transportasi butiran mineral terjadi. Kedua macam pelapukan ini akan menyisakan mineral-mineral yang resisten (berdaya tahan kuat), sedang mineral-mineral yang lemah secara kimiawi akan hilang berubah menjadi mineral lain hasil pelapukannya, seperti mineral-mineral lempung (clay minerals); sedang yang mudah lapuk secara fisik akan mudah hancur menjadi butiran halus yang pada gilirannya juga mudah lapuk secara kimiawi. Mineral yang paling resisten adalah kuarsa, dan kemudian tingkat di bawahnya adalah feldspar. Sedang mineral-mineral lainnya sangat mudah lapuk, sehingga tidak dapat terawetkan di dalam batuan sedimen.  Pada tingkat pelapukan yang sangat lanjut, seluruh mineral asal dapat berubah sehingga kita tidak dapat lagi mengetahui batuan asalnya. Dengan demikian, tingkat pelapukan akan menentukan mineral penyusun batuan sedimen. Kesimpulannya, komposisi mineral di dalam batuan sedimen klastik terrigen ditentukan oleh komposisi mineral batuan asalnya, mekanisme perombakan batuan asalnya, transportasi sedimen, tingkat pelapukan batuan sedimen.

Batuan Sedimen Volkanik Klastik

Material penyusun batuan sedimen ini berasal dari hasil erupsi letusan gunungapi yang melemparkan batuan ke udara. Seperti letusan Gunung Merapi beberapa waktu yang lalu. Ketika masih dalam bentuk sedimen lepas, kita masih dapat mengenal kehadiran mineral-mineral plagioklas, piroksin atau fragmen batuan. Tetapi bila telah menjadi batuan dan sangat lapuk, maka mineral-mineral dan fragmen batuan tersebut jarang terawetkan.

Batuan Sedimen Biogenik

Batuan sedimen biogenik adalah hasil aktifitas organisme. Berbagai macam organisme yang dapat dijumpai menyusun batuan sedimen antara lain adalah: koral, moluska,  foraminifera, diatom, radiolaria. Kelompok koral, moluska dan foraminifera menghasilkan sedimen karbonat (CaCO3), sedang diatom dan radiolaria menghasilkan sedimen silika. Batuan sedimen biogenik yang dominan adalah batuan karbonat, yaitu batugamping terumbu. Batugamping terumbu adalah hasil aktifitas organisme koral. Organisme penyusun batuan ini terutama adalah koral. Organisme penyusun lainnya yang mungkin dijumpai antara lain adalah  foraminifera, moluska, dan alga. Secara mineralogi, mineral penyusunnya yang  utama adalah mineral karbonat, yaitu kalsit. Pada kondisi tertentu, foraminifera (batugamping foraminifera) atau moluska (batugamping moluska) atau alga (batugamping alga) dapat menjadi penyusun batuan yang dominan. Untuk sedimen silika, diatom dapat dominan sehingga membentuk diatomit, sedang radiolaria membentuk radiolarit.

Batuan Sedimen Hidrogenik

Kelompok batuan ini dapat terbentuk oleh proses evaporasi air laut atau oleh pengendapan dari air laut melalui proses kimia. Batuan hasil evaporasi air laut seperti halit (garam batu) tersusun oleh mineral halit, gipsum (batu gipsum) tersusun oleh mineral gipsum, dolomit tersusun oleh mineral dolomit. Adapun batuan yang terbentuk oleh pengendapan kimia air laut antara lain rijang (chert) yang tersusun oleh mineral-mineral silika, dan batuan sedimen kaya besi (iron-rich sedimentary rock) yang tersusun oleh mineral-mineral silikat yang kaya besi seperti hematit, magnetit, glaukonit, pirit.

Penutup

Batuan sedimen yang umumnya kita jumpai adalah batuan sedimen klastik. Di lingkungan tertentu banyak kita jumpai batuan karbonat.

Batuan sedimen klastik biasa diklasifikasi berdasarkan ukuran butirnya seperti menjadi batupasir, batulanau atau batulempung. Berkaitan dengan komposisi kimianya, biasanya hanya disebutkan mengandung material karbonat atau tidak mengandung mineral karbonat. Berkaitan dengan material penyusunnya, biasa diamati batuan itu mengandung material volkanik atau tidak, atau mengandung organisme atau tidak (misalnya dengan menyebut mengandung fragmen moluska, atau berfosil), atau mengandung material lain seperti fragmen kayu, fragmen batuan dan lainnya.

Posted in Batuan, LITOSFER, Sedimen | Dengan kaitkata: , , , , , , | 2 Comments »

Batuan 3 (analisis megaskopis)

Posted by wahyuancol pada November10, 2009

Analisis megaskopis terhadap batuan adalah pengamatan terhadap batuan yang dilakukan terhadap sampel genggaman atau singkapan di lapangan dengan menggunakan mata telanjang atau dengan bantuan lensa pembesar.

Klasifikasi batuan sederhana yang saya posting sebelumnya sebenarnya adalah klasifikasi batuan untuk analisis megaskopis.

Dengan analisis megaskopis kita dapat menentukan jenis dan nama batuan. Faktor kunci yang diperlukan adalah (1) pemahaman tentang karakteristik dari setiap jenis batuan sehingga mampu membedakan antara batuan beku, batuan sedimen dan batuan metamorfik, (2) kemampuan mengidentifikasi mineral-mineral utama penyusun batuan atau komponen lainnya sehingga mampu menyebutkan komposisi batuan, (3) kemampuan mengenal berbagai macam tekstur atau struktur dari setiap jenis batuan.

Batuan Beku

Batuan beku secara umum dapat kita bedakan dengan mudah dari warna dan ukuran butir kristal mineral penyusunnya.

Warna batuan: dapat dibedakan menjadi kelompok batuan berwarna cerah, abu-abu, gelap (hitam dan hijau). Warna batuan mencerminkan komposisi mineral penyusunnya. Selanjutnya lihat klafikasi sederhana.

Ukuran butir mineral: dapat dibedakan menjadi kasar (fanerik kasar), halus (fanerik halus) dan sangat halus (afanitis).

Kelompok batuan yang berbutir kasar sampai medium: granit, diorit,  gabro; berbutir halus sampai afanitik: riolit, andesit, basalt.

Kelompok batuan ultramafik mineral penyusunnya berukuran butir sangat besar.

Mineral-mineral penyusun batuan yang umum kita jumpai menyusun batuan beku adalah kuarsa, feldspar, biotit, hornblende, piroksin, olivin.

Kuarsa: bening-putih seperti kaca.

Feldspar: putih sampai abu-abu, kilat kaca sampai agak suram.

Biotit: hitam, kilat kaca.

Hornblende: hitam, kilat kaca, memanjang.

Piroksin: hitam, kilat kaca, tampak endek.

Olivin: berwarna hijau, kilat kaca.

Tekstur batuan beku menggambarkan tingkat kristalisasi batuan yang terekspresikan dalam bentuk ukuran butir mineral penyusunnya.  Secara megaskopis kita dapat membedakan tekstur ekuigranular (butiran relatif berukuran seragam), porfiritik (terdapat butiran yang lebih kasar atau fenokris  di antara butiran yang lebih halus yang lebih banyak atau massa dasar), dan afanitik (butiran tak dapat dibedakan secara megaskopis).

Struktur batuan beku memperlihatkan adanya kenampakan tanda-tanda yang menunjukkan proses yang terjadi ketika pembekuan berlangsung. Bila batuan tampak homogen, dikatakan berstruktur masif; bila tampak ada kesan orientasi tertentu dari butiran mineral atau lubang, dikatakan berstruktur aliran atau fluidal yang menunjukkan bahwa magma mengalir ketika pembekuan berlangsung.

Batuan Sedimen

Batuan sedimen dapat dikenal dengan dari bentuk dan ukuran butir komponen penyusunnya dan komposisi. Secara umum butiran batuan sedimen mengesankan adanya mekanisme transportasi yang terlihat dari butirannya yang terkesan mengalami penggerusan. Setiap butiran komponen penyusunnya tampak benar-benar terpisah satu sama lain dengan kata lain tidak ada kesan tumbuh bersama. Hubungan antar butiran penyusunnya juga mengesankan kehadiran melalui bantuan media traspotasi yang terlihat dari butiran yang benar-benar terpisah satu sama lain. Keadaan ini berbeda dengan batuan beku atau batuan metamorf. Pada kedua jenis batuan tersebut butiran mineral penyusunnya dapat saling mengunci karena tumbuh atau terbentuk di dalam lingkungan yang relatif sama dan berdampingan dengan kontak fisik.

Kenampakan berlapis yang jelas batas perlapisannya secara fisik menjadi ciri umum batuan sedimen. Perlapisan dapat terjadi karena perbedaan ukuran butir yang tegas, dan setiap unit lapisan terpisah secara fisik.

Komponen penyusun batuan sedimen dapat berupa mineral, dan dapat pula fragmen cangkang, fragmen tumbuhan atau fragmen batuan lain. Semua komponen berupa fragmen tersebut bila ada akan dapat kita kenal dengan mudah. Untuk komponen berupa mineral, mungkin sulit mengenal jenis mineralnya, tetapi kita dapat kita kenal dari sifat fisiknya seperti mineral lempung yang lunak. Mineral-mineral kristalin umunya terasa seperti butiran pasir.

Ukuran butiran sangat bervariasi, yang dalam pengertian sehari-hari dapat berukuran butir mulai dari sangat halus seperti bedak; berukuran pasir seperti pasir yang dipergunanan oleh tukang bangunan untuk membuat pasangan tembok; kerikil yang berukuran gotri, kelereng, bola pingpon, bola tenis dan seterus nya sampai bola basket yang kita kenal sebagai bongkahan batu. Keadaan ini berbeda dari batuan beku atau metamorf yang ukuran butirannya secara umum berada dalam kisaran beberapa milimeter. Di dalam batuan beku mungkin dijumpai mineral yang berukuran mencapai 1 senti meter, tetapi itu untuk kondisi khusus yang jarang.

Apabila kita menjumpai batuan sedimen atau mengamati sampel batuan sedimen, maka bila kita meraba permukaannya akan terasa permukaan yang kasar seperti amplas. Bila batuan itu lunak, dapat terasa permukaan yang halus. Bila butirannya mudah lepas maka kita dapat mengerusnya dengan kuku dan melepaskan butirannya. Kita tidak pernah menjumpai kondisi batuan yang lunak dan mudah digerus kuku pada batuan beku. Pada batuan metamorfik, kondisi batuan yang butirannya mudah dilepas atau lunak  juga sangat jarang.

Batuan sedimen yang umum dijumpai adalah batu pasir yang butirannya berukuran pasir; batulempung yang berbutir halus dan menjadi liat bila basah; batu lanau bila berbutir halus tetapi terasa seperti ampelas.

Apabila ada fragmen di dalam batuan sedimen, maka kita akan dengan mudah mengenalnya apakah itu fragmen batuan, fragmen hewan yang umumnya berupa cangkang, atau fragmen kayu.

Batuan Metamorfik

Batuan metamorfik mudah dikenal dari mineral penyusunnya yang kristalin dan umumnya berbentuk lempengan, memanjang atau pipih. Pada satu sampel batuan, sering kita melihat kesan penjajaran di satu sisi dan kesan berbutir di sisi yang lain yang tegak lurus dengannya.

Batuan metamorf mudah dibedakan dari komponen penyusunnya dan kenampakan fisiknya. Sering batuan metamorfik memiliki kenampakan seperti batuan beku, tetapi kita dapat membedakannya dari batuan beku dari kehadiran mineral-mineral pipih atau mika dan adanya kenampakan butiran yang terorientasi.

Kehadiran mineral pipih yang banyak kadang membuat batuan metamorfik tampak seperti tersusun oleh lempengan mineral yang mudah dipisahkan seperti lembaran kertas. Sementara kehadirn mika sering memberi kenampakan berkilat pada permukaan batuan.

Perlu kita ingat bahwa faktor temperatur dan tekanan adalah dua hal penting dalam pembentukan batuan metamorfik. Faktor tekanan itulah yang menimbulkan penjajaran mineral di dalam batuan metamorfik. Kehadiran mineral mika merupakan indikator penting yang membedakan batuan metamorfik dari batuan beku, dan menentukan tingkat metamorfime yang dialami batuan metamorfik.

Demikian uraian singkat tentang pengenalan batuan secara megaskopis.

Semoga bermanfaat.

Salam,

Wahyu

Posted in Batuan, LITOSFER | Dengan kaitkata: , , | 4 Comments »