Kepulauan Indonesia

Cerita dari, untuk dan tentang Kepulauan Indonesia beserta Penghuni dan Penduduknya

Posts Tagged ‘Papua’

Pulau Laag

Posted by wahyuancol pada Desember10, 2014

Pulau Laag

Koordinat: 05° 23′ 14″ LS, 137° 43′ 07″ BT

Titik Referensi: No. TR.092

Titik Dasar: No. TD.092

Letak Administrasi: Distrik , Kabupaten Asmat, Propinsi Papua.

Catatan:

  • Koordinat yang dikutip dari Atlas Pulau-pulau Kecil Terluar di atas bila diplot pada Google Earth jatuh di laut.
  • Posisi koordinatberikut ini dari Geographic.Org,  05° 22′ 00″ LS, 137° 44′ 00″ BT.
  • Nama lain pulau ini adaah Laag-eiland (Geonames.org),
  • Direktori Pulau-pulau Kecil Kementrian Kelautan dan Perikanan menyebutkan nama lain Pulau Laag adalah Pulau Jat (KKP). Kemungkinan nama ini salah karena menurut Getamap.net ada pulau lain di sebelah utara Pulau Laag yang bernama Pulau Djats.
  • Kata “laag” berasal dari Bahas Belanda yang berarti “rendah” (low – Bahasa Inggris)
  • Pulau Laag tidak berpenduduk.
  • Di pulau ini terdapat mercusuar tetapi tidak belum terekam di dalam citra satelit (World of Lighthouses)
  • Berdasarkan definisi atau pengertian pulau, maka Pulau Laag ini tidak dapat lagi disebut sebagai sebuah pulau. Secara visual bentuk pulau sudah tidak ditemukan lagi karena telah bergabung dengan Pulau Papua. Namun demikian, secara politis pulau ini masih diakui keberadaannya sebagai sebuah pulau, karena di pulau itu ada titik referensi dan titik dasar yang dipergunakan sebagai dasar penentuan batas negara.
  • Berbagai sumber menyebutkan bahwa di sebelah timur Pulau Laag terdapat Pulau Kecil (Pulau Klein), tetapi sekarang pulau itu tidak dijumpai lagi.

Informasi lain:

  • Pulau Laag adalah pulau yang telah kehilangan bentuknya dan karakternya sebagai sebuah pulau karena telah menyatu dengan daratan Pulau Papua. Kesimpulan ini dibuat berdasarkan pengamatan terhadap citra satelit dari Google Earth. Citra satelit tersebut memperlihatkan bahwa kawaan pesisir selatan Pulau Papua adalah daerah yang memiliki tingkat sedimentasi yang tinggi. Hal itu ditunjukkan dari banyaknya gosong pasir atau lumpur di perairan pesisir dekat pantai, terutama di sekitar muara-muara sungai (Gambar 1). Sangat mungkin bahwa Pulau Laag semula adalah sebuah mangrove cay, yaitu gosong pasir atau lumpur yang ditumbuhi oleh vegetasi mangrove.
  • Pulau Kecil atau Pulau Klein, saya duga juga mangrove cay. Karena dinamika kawasan tersebut yang sangat tinggi, maka pulau tersebut hilang. Beberapa situs, yang saya kutip di atas, masih menyebutkan lokasi keberadaan pulau tersebut.
Pulau Laag dan sekitarnya 02 ket

Gambar 1. Pulau Laag dan kawasan sekitarnya. Sumber Citra dari Google Earth, tanggal pencitraan 13 Desember 2011.

  • Menurut Buku Panduan Pelayaran, yang dipublikasikan oleh Pemerintah Amerika, pulau ini memiliki panjang 1000 m pada arah Utara – Selatan dan lebar 463 m, berelevasi rendah dan banyak ditumbuhi vegetasi. Pulau ini terletak sekitar 5 mil di sebelah Selatan – Baratdaya muara Sungai Blumen. Informasi ini memperkuat dugaan mengenai sejarah pulau ini yang diuraikan di atas. Buku ini juga menyebutkan keberadaan Pulau kecil yang sudah tidak ada lagi wujudnya itu.
  • Malam ini (11 Des 2014), dugaan saya tentang Pulau Laag dan tentang Pulau Kecil (Pulau Klein) yang saya uraikan di atas terjawab. Saya berhasil menemukan sebuah peta koleksi dari The University of Texas at Austin yaitu peta dari Joint Operations Graphic yang bissa dikenal sebagai JOG Map. Lembar: Pulau Laag, Indonesia; Nomor Seri: 1501 AIR; Nomor Lembar: SB 53-8; Edisi 1; Skala 1:250.000. Peta hasil kompilasi data terbaik sampai tahun 1967. Dipublikasikan oleh U.S. Army Map Service. Cuplikan peta itu yang memperlihatkan keberadaan Pulau Laag dapat dilihat pada Gambar 2.
Pulau Laag  JOG Map txu-oclc-224033150-sb53-08

Gambar 2. Pulau Laag dan kawasan sekitarnya tahun 1967. Tanda panah menunjuk ke Pulau Laag dan Pulau Kecil (Pulau Klein). Bandingkan dengan Gambar 1. Tampak Pulau Laag masih terpisah dari Pulau Papua, dan Pulau Kecil masih hadir. Sekarang, Pulau Laag telah menyatu dengan Pulau Papua dan Pulau Kecil telah hilang. Peta ini dikutip dari Peta Lembar Pulau Laag (JOG Map Lembar SB 53-8).

 

  • Peta Pulau Laag di atas juga memberikan nama lain dari Sungai Momats, yaitu Sungai Lecoco D’Armandville.
  • Mempertimbangkan sejarah perkembangan pulau ini, diperkirakan di masa mendatang garis pantai pulau ini akan terus berubah karena sedimentasi.

Prediksi Respon Terhadap kenaikan Muka Laut Global:

  • Karena pulau ini berada di lingkungan dengan tingkat sedimentasi yang tinggi, kenaikan muka laut global diperkirakan tidak akan berpengaruh terhadap kehadiran pulau ini meskipun elevasinya rendah.

Catatan Tambahan:

  • Berdasarkan hal-hal yang saya sampaikan di atas, maka dengan ini saya menyatakan bahwa Atlat Pulau-pulau Kecil Terluar dari Badan Informasi Geospasial (BIG – dahulu Bakosurtanal) perlu dikoreksi.
  • Koreksi juga perlu dilakukan untuk jumlah pulau-pulau kecil terluar yang sampai saat ini masih menyebutkan adanya Pulau Laag.

 Kembali

 

Posted in Mengenal Indonesia, Pulau Kecil Terluar | Dengan kaitkata: , , , , , , , , , , , , | 1 Comment »

Agats, Kabupaten Asmat, Papua

Posted by wahyuancol pada November20, 2014

Agats

Kota Agats sekarang adalah ibukota dari Kabupaten Asmat, Propinsi Papua. Kota ini terletak di dataran rendah di kawasan pesisir di bagian selatan Pulau Papua (Gambar 1). Secara fisik, kota ini berada di kawasan rawa mangrove berelumpur di tepi sungai Asewets (Gambar 2).

Agats

Gambar 1. Agats di pesisir selatan Pupau Papua. Sumber citra: Tageo.

Agats Lokasi

Gambar 2. Agats. Kenampakan detil kondisi lingkungan fisik tempat kota berada. Sumber Citra: Google Earth.

Lokasi tempat berkembangnya kota ini di tepi sungai di kawasan rawa mangrove membuat kota ini berkembang menjadi kota yang unik di Indonesia. Semua bangunan di kota ini berkaki karena kota ini harus berkembang dengan menyesuaikan diri dengan kondisi lingkungan rawa mangrove (Gambar 3), dan Agats berkembang menjadi waterfront city (Gambar 4).

Agats typical street

Gambar 3. Kota Agats yang berkembang sebagai kota berkaki karena menyesuaikan diri dengan lingkungan rawa. Sumber foto: Henry S, Panoramio.

Agats dari udara

Gambar 4. Kota Agats di tepi sungai dari udara. (Sumber: Lubis, 2010)

Agats dari sungai

Gambar 5. Kota Agats dilihat dari arah sungai. (Sumber: Lubis, 2010)

————————–

Kondisi Agats dan lingkungan tempat kota itu berada mungkin dapat dibandingkan dengan Venesia di Italia. Kota Venesia dikenal sebagai Kota Terapung. Kota itu berkembang di atas rawa-rawa, dan dibangun di atas pondasi kayu yang ditancapkan ke dalam lumpur rawa hingga mencapai batuan yang kuat menahan beban (Gambar 6).

Wooden Foundations of Venice

Gambar 6. Pondasi kayu Kota Venesia. Sumber: Dhwty, 2014.

 

Kota Venesia unik karena kota itu dibangun di suatu lagoon dan dikelilingi oleh tubuh air. Kota itu dibangun dengan menggabungkan lebih dari seratus pulau yang dipisahkan oleh kanal-kanal dan dihubungkan oleh 433 jembatan (Finn et al., 2011, hal. 1).

Kota Venesia dan lingkungan lagoonnya adalah hasil dari proses dinamis yang menggambarkan interaksi antara manusia dan ekosistem alamiahnya (UNESCO World Heritage Centre, tanpa tahun)

Kota Venesia didirikan tahun 421 AD oleh para pengungsi dari kawasan pesisir yang bernama Venesia. Pada mulanya kota itu hanya mencakup sejumlah pulau kecil. Mereka membangun desa-desa di dalam areal lagoon yang berfungsi sebagai barier pelindung yang melindungi mereka dari serangan musuh yang sering terjadi ketikan mereka hidup di daratan utama. Dengan berjalannya waktu, kota berkembang hingga mencakup semua pulau di tengah lagoon, dan secara bertahap digabungkan mendaji satu. Gabungan pulau-pulau itu pertama kali dikelola sebagai satu kesatuan pemerintahan dalam bentuk republik pada tahun 726 AD (Finn et al., 2011, hal. 3).

Ketika Venesia berkembang dari tempat pengungsian temporer menjadi kota permanen, penduduk kota itu menyadari bahwa mereka membangun di atas lahan rawa dengan membuat pondasi kayu yang ditancapkan ke dalam lumpur rawa hingga mencapai endapan lempung keras di dasar lagoon. Sampai sekarang telah jutaan tiang kayu ditancapkan untuk membangun jembatan, kanal dan gedung-gedung. Untuk membangun pondasi bangunan, lapisan-lapisan papan kayu oak diletakkan di atas tiang-tiang pondasi, dan kemudian di atasnya diletakkan bata (brick) dari marmer (Cocks, 2006).

Sampai Abad ke-16, tiang-tiang pondasi ditanam dengan palu yang dipukulkan dengan tangan. Pekerjaan dilakukan di dalam air dan dimulai dengan membangun dinding pelindung. Kemudian air dibuang dan tiang-tiang kayu sepanjang 3-6 meter dengan diameter 20-25 cm ditancapkan. Sebelum ada mesin untuk memukul palu, tiang-tiang ditancapkan  sedalam 2-3 meter, tetapi setelah ada mesin, tiang-tiang ditancapkan lebih dalam lagi. Rata-rata kepadatan tiang adalah 9 tiang per meter persegi, dan bila diperlukan jumlah tiang ditambah (De Miranda et al., tanpa tahun).

Penggunaan kayu untuk mendukung struktur bangunan lebih menguntungkan daripada batu atau logam. Kayu hanya lapuk oleh mikroorganisme. Kayu pondasi di Venesia berada di dalam air dan tidak berhubungan dengan udara, sehingga mikroorganisme tidak dapat berkembang. Dengan demikian pelapukan oleh mikroorganisme tidak terjadi. Sebaliknya, kontak kayu dengan air garam yang terus menerus menyebabkan kayu mengeras karena mengalami petrifikasi. Kayu berubah menjadi keras seperti batu (Dhwty, 2014).

Dengan memberikan uraian tentang Kota Venesia ini saya berharap semoga dalam membangun Kota Agats kita dapat mengambil pelajaran dari perkembangan Kota Venesia.

———————————

Agats adalah kota kecil di pesisir selatan Papua. Letaknya yang jauh dari Ibukota negara dan akses yang sulit untuk mencapai kota itu membuat kota itu tidak menarik perhatian. Tetapi, pada bulan Nopember 1961, mata dunia pernah tertuju ke kota itu, yaitu ketika Michael Clark Rockefeller, anak Gubernur Kota New York, Amerika Serikat, hilang di perairan sekitar Agast. Agats adalah tempat keberangkatannya yang terakhir sebelum hilang. Setelah sebelumnya melakukan perjalanan selama dua bulan di pedalaman, pada pertengahan Nopember rombongannya kembali ke Agats untuk mengisi perbekalan untuk sebulan perjalanan. Pada tanggal 17 Nopember 1961 ia berangkat kembali meninggalkan untuk menuju ke Laut Arafura untuk mengunjungi pesisir selatan. Ketika melintasi muara Sungai Betsj atau Eilanden, perahunya terbalik diterpa gelombang.

Michael Clark Rockefeller (23) berangkat bersama seorang ahli antropologi berkebangsaan Belanda, Dr. ReneW. Wassing (34) dan didampingi oleh dua orang penduduk lokal sebagai asisten melakukan melakukan perjalanan untuk mencari benda-benda seni primitif Asmat dengan mempergunakan perahu penduduk lokal (The Miami News 26 Nov. 1961). Setelah perahu terbalik, dua asisten penduduk lokal berenang ke pantai untuk mencari bantuan. Setelah hampir seharian terapung dengan berpegangan pada perahu yang terbalik dan tanpa pertolongan, pada tanggal 19 Nopember 1961 karena khawatir hanyut ke laut lepas Michael berenang ke darat dengan bantuan dua drum minyak kosong sebagai pelampung yang diikatkan ke pinggangnya (Smithsonian Magazine March 2014). Michael tenggelam dalam upayanya berenang ke darat. Dr. Wassing berhasil diselamatkan tanggal 20 Nopember 1961. Pencarian terhadap Michael dilakukan dari darat, laut dan udara. Di darat pencarian dilakukan dengan bantuan 5000 orang penduduk setempat yang menyisir seluruh kawasan rawa mangrove di kawasan itu. Upah diberikan untuk penduduk lokal dalam bentuk tembakau (Chicago Tribune 26 Nov. 1961).

Siapa Michael C. Rockefeller? Ia adalah anak dari laki-laki termuda dari Nelson Aldrich dan Mary Todhunter Clark Rockefeller. Neneknya, Abby Aldrich Rockefeller, adalah pendiri the Museum of Modern Art (Museum Seni Moderen), dan ayahnya mendirikan the Museum of Primitive Art (Museum Seni Primitif), dan kedua museum itu sekarang menjadi bagian dari the Metropolitan Museum of Art (Museum Seni Metropolitan) di Kota New York, Amerika Serikat. Michael adalah seorang sarjana lulusan Universitas Hardvard. Ia melakukan perjalanan ke Papua (New Guinea) mempelajari kehidupan Suku Ndani di Lembah Baliem dan budaya Asmat di pesisir selatan Papua (Sumber: Fredonia University).

Hilangnya Michael C. Rockefeller di perairan selatan Papua memunculkan berbagai spekulasi, seperti: (1) Dia ditangkap dan ditahan sebagai tawanan, (2) Dia bergabung dengan penduduk asli dan bersembunyi di dalam hutan, (3) Dia tewas dimakan ikan hiu, dan (4) Dia mencapai pantai, kemudian dibunuh dan dimakan oleh penduduk asli Asmat. Kisahnya berkembang menjadi bersifat mistis. Kisahnya dimainkan di panggung sandiwara Broardway, ditulis sebagai novel, lirik musik rock, dan bahkan acara televisi (television show) tahun 1980 (Sumber:Smithsonian Magazine edisi Maret 2014).

Dr. Rene Wassing kembali ke Belanda dan menjadi kurator Museum voor Volkenkunde (Ethnographic Museum, Museum Etnografi) di Rotterdam yang sekarang dikenal sebagai the Wereld (World) Museum. Dr. Wassing lahir di Palembang. Sampai sekarang, di masa tuanya, dia masih memandang dirinya sebagai anak daerah tropis (Sumber: Papua Heritage Foundation).

Bacaan:

Lubis, B.U., 2010. Agats: the waterfront city of the Asmat. Nakhara 6: 75-82.

Finn, O., Ouellette, J., Hutchinson, K. and Muller, R., 2011. The Building Block of Venice. Worcester Polytechnic Institute. (http://www.wpi.edu/Pubs/E-project/Available/E-project-121611-063819/unrestricted/Final_Report_B11_Maint_2.6.pdf). Akses 20 Nopember 2014.

UNESCO World Heritage Centre, tanpa tahun. Venice and Its Lagoon. (http://whc.unesco.org/en/list/394). Akses 21 Nopember 2014.

Cocks, A.S., 2006. The Science of Saving Venice. WMF.org. (http://www.wmf.org/sites/default/files/wmf_article/pg_23-29_venice_c.pdf). Akses 20 Nopember 2014.

De Miranda, M., Barbisan, U., Pogacnik, M. and Skansi, L., (tanpa tahun). Bridges in Venice – Architectural and Structural engineering aspects. (http://www.iuav.it/Ricerca1/ATTIVITA-/aree-temat/costruttiv/arte-del-c/materiali/iabse/iabse-scalzi.pdf). Akses 20 Nopember 2014.

Dhtwy, 2014. The Construction of Venice, the Floating City. Ancient Origin. (http://www.ancient-origins.net/ancient-places-europe/construction-venice-floating-city-001750). Akses 20 Nopember 2014.

 

(under construction)

 

Posted in Kota Kecil, Mengenal Indonesia | Dengan kaitkata: , , , , , , , , , , | Leave a Comment »

Pulau Liki

Posted by wahyuancol pada Oktober29, 2014

Pulau Liki

Koordinat: 01° 34′ 26″ LS, 138° 42′ 57″ BT

Titik Referensi: No. TR.079

Titik Dasar: No. TD.079

Letak Administrasi: Distrik Sarmi, Kabupaten Sarmi, Propinsi Papua.

Catatan:

  • Pulau berpenduduk sekitar 301 jiwa, luas 13,36 km², berhadapan dengan Samudera Pasifik.
  • Letak pulau ini jauh dari Papua Nugini. Pernyataan ini mengoreksi pernyataan bahwa pulau ini berbatasan dengan Papua Nugini, seperti KOARMABAR.
  • Elevasi 234 meter (http://elevationmap.net/liki-island-indonesia?latlngs=(-1.6051429,138.72918219999997))
  • Berdasarkan citra dari Google Earth, pulau ini mengalami pengangkatan, memiliki rataan terumbu di sekeliling pulau. Di sekeliling pulau terdapat pantai pasir yang berasosiasi dengan tebing pantai yanmg berupa tabing batugamping.
  • Berdasarkan citra satelit, pemukiman terutama berada di ujung selatan pulau.
  • Di ujung utara pulau ini ada mercusuar (http://www.unc.edu/~rowlett/lighthouse/idpa.htm)

Foto / Citra:

Pulau Liki lokasi

Pulau Liki, lokasinnya jauh dari Papua Nugini.

Pulau Liki Papua

Pulau Liki, Papua. Sumber: Google Earth Oktober 2014.

Pulau Liki ujung tenggara

Pulau Liki, ujung tenggara. Ujung tenggara pulau ini menunjukkan bahwa pulau tersebut mengalami pengangkatan. Sumber: Google Earth, Oktober 2014.

 

Pulau Liki, ujung utara. Lokasi mercusuar. Sumber: Bing Map (Oktober 2014)

 

Prediksi Respon terhadap Kenaikan Muka Laut Global: dapat bertahan tetap muncul di permukaan laut.

Informasi lain:

Data geografi Pulau Liki

Arkeologi Militer

Kembali

Posted in Mengenal Indonesia, Pulau Kecil Terluar | Dengan kaitkata: , , , , | Leave a Comment »

Membangun Setengah Hati (Kegagalan di Merauke, Papua)

Posted by wahyuancol pada November10, 2010

Kelambatan pembangunan di berbagai daerah di Indonesia sebenarnya bukan karena tidak dilakukannya pembangunan di daerah. Pembangunan dilakukan; tetapi mungkin dilakukan dengan setengah hati. Berbagai aspek yang berkaitan dengan kesuksesan atau kegagalan pembangunan itu nampaknya belum dikaji dengan baik. Atau bila hal itu telah dilakukan, tetapi pelaksanaannya di lapangan sering tidak sesuai antara apa yang digariskan dengan apa yang dilaksanakan. Atau, ada pihak-pihak yang tanpa sadar telah melakukan tindakan yang kontra produktif terhadap kegiatan pembangunan, tetapi didiamkan saja oleh pemerintah.

Sebagai gambaran tentang masalah pembangunan yang gagal itu, mari kita simak kisah dari Merauke berikut ini yang saya tulis ulang dari berita Harian Kompas tanggal 18 Oktober 2010, halaman 22.

——————————————-

Gagal karena Monopoli

Wahidin (45) adalah transmigran asal Cilacap, Jawa Tengah yang tinggal di Distrik Sota, Merauke. Dia mengatakan bahwa hampir separuh dari 320 keluarga trasnsmigran di distrik tersebutmeninggalkan lahan pertanian sejak awal tahun 2000. Hal ini terjadi karena biaya operasional selalu lebih besar daripada hasil panen.

Mengapa bisa demikian?

Hal ini karena monopoli. Monopoli oleh gabungan kelompok tani setempat menyebabkan tingginya harga bahan-bahan pendukung lahan pertanian, seperti pupuk dan pestisida.

Gagal karena Janji Kosong

Pilihan meninggalkan lahan pertanian juga terjadi di Kampung Serapu, Distrik Semangga,  Merauke. Puluhan hektar sawah berubah menjadi savana karena ditinggal oleh petani.

Mengapa bisa demikian?

Menurut Eddy Gebze (30), warga Kampung Serapu, petani meninggalkan lahan sejak tahun lalu karena tidak tersedia irigasi. Selama ini, warga bergantung pada air dari rawa untuk mengairi sawah. Namun hal itu hanya dapat dilakukan bila debit air rawa naik di musim hujan. Bila musim kemarau, pengaliran air rawa hanya dapat dilakukan dengan bantuan pompa. Hingga kini, Pemerintah tak kunjung merealisasi janji pemasangan pompa.

Gagal karena Mengabaikan Kondisi Alam

Menurut Kansius Ukurop (50), puluhan hektar sawah di Kampung Kemangi, Distrik Tanah Miring gagal panen karena tergenang air payau. Sawah pun ditinggalkan dan berubah menjadi savana.

Mengapa bisa demikian?

Kondisi itu disebabkan karena pembangunan saluran irigasi yang tidak memperhatikan naiknya muka air laut saat pasang dari pantai di sekitar lokasi. Karena keadaan tersebut, kebanyakan warga lokal kembali berburu demi memenuhi kebutuhan hidup.

———————-

Demikian kisah kegagalan dari Merauke. Semoga kita bermanfaat.

Salam,

WBS

Posted in Ah... Indonesia ku, HUMANIORA, Kualitas Bangsa | Dengan kaitkata: , , , , , | Leave a Comment »

BABO (1935-1942): kota minyak yang hilang di Papua

Posted by wahyuancol pada Februari7, 2009

Ini kisah tentang kemunculan dan kepunahan peradaban minyak di Babo, Papua Barat, antara tahun 1935 sampai 1942.

———————

Pada tahun 1991 ketika rombongan penelitian dari LIPI melakukan penelitian di Teluk Bintuni dan Teluk Berau dengan kapal penelitian Rd. Soerya Atmadja, saya dan rombongan berkesempatan mampir ke Babo. Kami berangkat dari Ambon dan Sorong adalah tempat transit sebelum memasuki Teluk Bintuni. Dari sudut pandang ilmu kelautan, Teluk Bintuni dan Berau terkenal sebagai kawasan mangrove dan daerah penangkapan udang, dan karena alasan itulah kami melakukan penelitian ke sana.

Mendarat di Babo, saya menemukan penduduk yang ramah dan menerima kedatangan kami. Bahkan ketika kami berangkat dari Babo menuju Fak-fak, ada penduduk yang ikut menumpang kapal kami sampai di Fak-fak karena ia ingin mengunjungi saudaranya di sana. Kawasan pemukiman di Babo cukup baik dan teratur meskipun rumah non-permanen, pekarangannya luas. Secara umum lahan pemukiman tampak rata mengesankan adanya campur tangan manusia. Apa yang saya temukan itu jauh sekali berbeda dengan apa yang kami bayangkan ketika akan berangkat dari Ambon.

Ketika mampir ke rumah salah seorang penduduk, saya informasi tentang bekas lapangan terbang. Ketika itu saya berpikir: “Itu peninggalan dari Perang Dunia II.” Ternyata kemudian bahwa apa yang pernah ada di Babo tidak sesederhana pikiran saya itu. Saya mengetahuinya setelah membaca tulisan seorang rekan tentang peradaban perminyakan yang pernah ada di Babo. Atas izinnya, tulisan itu sekarang saya hadirkan di sini.

Selamat menikmati, dan semoga bermanfaat.

Terima kasih untuk Awang Harun Satyana yang telah mengizinkan saya mempublikasikan tulisan ini.

Salam,

Wahyu

————————–

Dua puluh tahun yang lalu, Juni 1988, di tengah saya libur setahun dari kuliah, saya berada di Jajayapura, bekerja selama dua minggu memilih-milih laporan Belanda, memotokopinya, dan menerjemahkannya untuk sebuah perusahaan emas asal Australia. Pada saat itulah saya menemukan buku-buku lapangan asli beberapa geologist Belanda yang pernah bekerja di Papua, yang namanya selama itu hanya saya baca dari buku van Bemmelen (1949), antara lain Molengraaff. Saya pun menemukan beberapa laporan NNGPM tentang awal eksplorasi perminyakan di wilayah Papua.

Jayapura, Juni 1988 adalah sebuah kota yang mahal dan tetap terpencil. Ongkos fotokopi Rp 75 selembar (saat itu di Bandung fotokopi Rp 15-Rp 20). Koran Kompas datang terlambat 3-4 hari. Harian lokal, Cenderawasih, terbit seminggu sekali. Beberapa tabloid yang terbit di Jakarta terlambat satu-dua minggu di sini. Di kota, para pedagang makanan adalah dominan orang2 Bugis : ikan bakar. Satu restoran Padang ada. Sementara itu, penduduk aslinya hanya menggelar tikar 1×1 meter berjualan kapur, sirih, dan buah matoa, itu saja. Malam minggu, hotel tempat saya menginap penuh dengan penduduk asli ini (para pegawai kantor), mereka membelanjakan gajinya untuk minum-minum bir dan membeli porkas (jenis lotere yang populer saat itu). Minggu paginya, saya menemukan mereka bergelimpangan di pinggir jalan – pulas tertidur. Di ujung jalan, saya melihat dua orang dari mereka sedang berkejaran, yang mengejar membawa pecahan botol sambil berteriak “Kubunuh kau…!”. Hm..masih mabuk rupanya. -demikian sepenggal paragraf buku harian saya.

Belum lama ini saya membuka kembali catatan2 saya itu. Sebagian saya ingin menceritakannya di bawah ini. Semoga menjadi variasi bacaan dari tulisan2 saya.

—————

Ini kisah lama, sekitar 75 tahun yang lalu, mungkin masih menarik untuk diketahui lebih luas sebab selama ini hanya tersimpan di buku-buku lama, yang sulit terbuka untuk umum. Ini kisah eksplorasi minyak di Papua, pulau terakhir yang dieksplorasi Belanda di Indonesia.

Tahun 1935, NNGPM (the Nederlandsche Nieuw-Guinee Petroleum Maatschappij) mulai mengeksplorasi bagian barat Papua (Vogel Kop – Bird’s Head, alias Kepala Burung) seluas 10 juta hektar. Pulau besar ini belum pernah dipetakan, peta yang ada hanya peta topografi kasar dalam rangka patroli militer. Maka tim besar di bawah pimpinan Dr A.H. Colijn, manajer eksplorasi dari Tarakan, mulai melakukan perkerjaan raksasa memetakan geologi Papua. Dengan berbagai pertimbangan, NNGPM memilih Babo di Teluk Berau sebagai basecamp. Pekerjaan pemetaan di area yang sangat luas ini dilakukan pertama kali menggunakan pesawat terbang. Pesawat amfibi Sikorski yang bisa mendarat di air ditugaskan untuk pekerjaan ini. Para pilot pesawat ini mesti pandai-pandai membaca cuaca yang sering berkabut dan berubah di atas Papua, mereka pun mesti pandai bermanuver di antara celah-celah tebing batuan gamping di beberapa pegunungan Papua. Dari ketinggian 12.000 kaki, beberapa formasi geologi bisa diketahui. Ini adalah pekerjaan awal –semacam reconnaissance survey.

Pekerjaan selanjutnya, yang jauh lebih menantang adalah ground survey. Torehan banyak sungai di Papua menolong para geologists Belanda memetakan geologi wilayah besar ini. Para kru lapangan semuanya adalah suku2 dari banyak wilayah di Indonesia : Dayak, Manado, Ambon, Jawa, Batak, dan Banda. Suku Papua sendiri kelihatannya tak ada sebab pada zaman itu diceritakan bahwa mereka masih merupakan suku pengayau alias pemenggal kepala yang diceritakan tentara Inggris di perbatasan PNG-Papua sebagai suku pelintas batas yang suka mengejar musuhnya melewati garis batas demarkasi. Para geologists yang memetakan geologi Papua memilih camp-nya di perahu, ini jauh lebih nyaman daripada di dalam hutan yang sangat lebat. Setiap perahu dilengkapi dengan: listrik dari genset, radio, kulkas, lampu2, dan bak mandi untuk berendam dengan cukup nyaman. Mandi harus di atas perahu sebab bila mandi di sungai akan menjadi santapan ramai-ramai para buaya. Detasemen militer tentu selalu berjaga mengawal para geologists dan kru-nya ini, maklum mereka berada di wilayah yang alam dan penduduknya dinilai tidak ramah.

Lama-kelamaan, bumi Papua pun mulai terpetakan dan terbuka. Beberapa wilayah telah dibuka untuk dibangun jalan, dan bahkan beberapa sumur pertama telah dibor: Wasian, Klamono, Jef Lio, Kasim. Pemukiman2 para pendatang mulai meramaikan bagian barat Papua, perahu2 kecil yang pada awalnya kecil telah menjadi kapal-kapal besar bermotor dengan nama : Jan Carstenz, Soedoe, Moeara, Boelian, Minjak Tanah, dan Casuaris. Desa Papua Babo, di sebuah pulau  delta kecil Sianiri Besar, tetap dipilih sebagai base. Ini karena posisinya yang berada di tengah di antara wilayah eksplorasi NNGPM. Sungai di depannya, Sungai Kasira, juga cukup dalam untuk kapal-kapal besar berlabuh. Meskipun deltanya tentu saja berawa-rawa, tetapi Babo base terletak diatas bukit berkerikil setinggi 30 kaki dan masih aman dari pasang naik di sekitarnya. Di bukit ini kantor NNGPM dibangun, juga pemukiman para pekerjanya. Dan di sekitar Babo ada ruang luas yang telah dibuka tempat dibangun aerodrom, hanggar, perbengkelan, rumah
sakit, lapangan golf, dan bioskop (bayangkan di tepi hutan Papua yang terpencil, pada tahun 1930-an telah ada lapangan golf).

Suku2 Papua pun mulai mau bekerja sama dengan para pendatang ini. Sebelumnya, mereka jarang melihat para pendatang berkulit putih, kecuali para pemburu burung cenderawasih atau para pedagang Cina. Orang2 Papua ini diperkerjakan NNGPM untuk membongkar muat barang-barang dari kapal2 yang berlabuh di depan Babo dan menarik batang2 pohon dari sekitar hutan Babo untuk membangun perumahan. Bahkan, mereka juga mau berbulan-bulan meninggalkan kampung2nya membantu NNGPM membuka hutan. Mereka bekerja untuk “Tuan Merah”, begitu mereka memanggil tuan-tuan Belanda ini (mungkin karena muka Belanda ini merah bila kepanasan). Dari suku pemburu menjadi suku pekerja, tentu sebuah perubahan budaya yang besar buat mereka. Diceritakan bahwa suku-suku Papua ahli menggunakan tombak, busur dan anak panah. Keahlian ini telah menjadi rezeki untuk seluruh kru sebab mereka bisa dengan mudah makan daging segar kanguru, babi, dan merpati hutan. Mereka meninggalkan kewajiban mengolah sagu kepada para perempuan di sukunya. Sebelum kedatangan NNGPM, suku2 Papua ini masih menggunakan cangkang kerang sebagai alat pembayaran, kini mereka mempunyai uang Belanda sebagai upah mereka bekerja. Dan saat mereka membawa uang Belanda ke toko-toko yang baru dibuka, mereka begitu takjub bisa mendapatkan barang2 yang semula tak mereka lihat. Dan, standar hidup suku Papua pun meningkat dengan cepat. Mereka mengalami revolusi budaya dalam beberapa tahun saja, jauh lebih cepat daripada lebih dari 1000 tahun sejak nenek moyangnya mulai mendiami wilayah ini.

Para pekerja Eropa NNGPM pun yang semula hanya laki-laki saja mulai membawa kaum perempuannya ke Babo. Maka komunitas seperti di kota besar pun mulai tumbuh, laki-laki perempuan bercampur baur. Bila ada kelahiran anak, maka bendera di kantor NNGPM dinaikkan, bila ada anak kembar lahir; maka dua bendera NNGPM akan dikibarkan. Rute2 penerbangan keluarga mulai ada, sekaligus membawa semua keperluan untuk komunitas. Inilah cikal bakal penerbangan ke Papua. Pada tahun 1940, diresmikan layanan terbang ke wilayah ini “Groote Oost Luchtvaart” (Great East Flight) oleh KNILM (Koninklijke Nederlandsch Indische Luchtvaart Maatschappij) yang punya airport di Babo.

Semua pesta2 penting tentu saja diadakan dengan meriah : Kelahiran Ratu Belanda, festival St Nicholas, Natal, dan Tahun Baru. Setiap malam minggu ada pemutaran film di bioskop perusahaan, ada pertandingan hoki, sepak bola, tenis dan golf. Para wanita Belanda pun dengan bantuan suku2 asli yang telah menjadi pekerja NNGPM punya hobi baru yaitu mengumpulkan anggrek hutan dari berbagai varietas. Para botanist dan zoologist amatir mulai bermunculan dengan kayanya flora dan fauna Papua ini. Komunitas ini pun menghasilkan para etnograf amatir yang meneliti para suku2 Papua di sekitar Babo. Suatu hari, Mr. Wissel, seorang insinyur NNGPM terbang di atas Punggung Papua (Pegunungan Tengah) Papua dan menemukan beberapa danau besar di sekitar wilayah Enarotali sekarang. Pantai danau ini dihuni oleh suku2 Papua yang belum dikenal sama-sekali oleh dunia luar. Saat Wissel turun dari pesawat, ia disambut sebagai “dewa dari langit”. Kemudian, danau ini sekarang terkenal sebagai Danau Wissel. Hubungan baik terbina, beberapa orang suku Papua penghuni pantai danau ini pernah diterbangkan ke Babo untuk operasi darurat.

Begitulah sekelumit sejarah pembukaan wilayah Papua di Kepala Burung. Membuka semuanya: pengetahuan geologi, membawa minyak ke permukaan (lapangan Klamono, Mogoi, Wasian, dll.), dan membuka keterpencilan suku-suku Papua. Ini sebuah contoh bagaimana minyak bisa membuka dunia yang semula “back of beyond”.

Teman-teman ex Petromer Trend (kini PetroChina) yang menemukan lapangan2 besar di Salawati awal tahun 1970-an (misal Walio dan Kasim), BP yang sedang mengembangkan Tangguh di Berau Bay, dan Genting Kasuri yang mau memulai survey di wilayah ex Babo, pasti punya cerita tersendiri dan terkini membuka Kepala Burung ini; saya hanya menceritakan sedikit masa lalunya.

Salam,
awang

—————

Edo, sebenarnya yang menanam ranjau darat (land-mines) di sekitar Babo itu bukan Jepang, tetapi karyawan NNGPM sendiri dalam rangka bersiap menyambut kedatangan Jepang yang mungkin akan menduduki Babo, sebagaimana dilakukan Jepang di lapangan-lapangan minyak lain di Indonesia saat pecah Perang Pasifik Desember 1941.

Menyambung cerita saya tentang awal eksplorasi Papua 1930s, berikut lanjutannya. Bila cerita kemarin mengisahkan awal peradaban di Babo, maka cerita berikut mengisahkan akhir peradaban di Babo.

“Kiamat di Babo” mungkin sebuah judul yang berlebihan, tetapi begitulah mungkin perasaan para karyawan NNGPM dan keluarganya saat bom-bom mulai berjatuhan dari langit oleh pesawat2 tempur Jepang saat mulai pecah Perang Pasifik Desember 1941.

Kegembiraan masyarakat Belanda dan para karyawan NNGPM di tempat terpencil Babo di ujung Teluk Berau, Kepala Burung, tidak berlangsung lama, hanya sekitar setahun, setelah penerbangan umum ke Babo dibuka Belanda pada tahun 1940. Dua bulan dari Desember 1941 sampai awal Februari 1942 semuanya adalah penderitaan, tak ada lagi kegembiraan, tak ada lagi pesta-pesta, tak ada lagi nonton bioskop bersama (lihat cerita saya di bawah). Bahkan, mereka harus “merayakan” malam tahun baru 1942 sambil bertiarap di rawa-rawa Teluk Berau berteman nyamuk2 rawa, sambil ketakutan dimangsa buaya muara Berau.

9 Desember 1941, sebuah sumur tengah dibor di Lapangan Jeflio, Cekungan Salawati. Malam itu, sumur mencapai kedalaman  6275 kaki. Para geologist Belanda memperkirakan pada kedalaman 7000 kaki akan dijumpai lapisan batugamping Miosen yang telah terkenal produktif di daerah itu (inilah Formasi Kais). Tetapi, malam itu juga sumur diperintahkan untuk ditinggalkan sebab genderang Perang Pasifik telah bertalu dengan pemboman Pearl Harbour di Hawaii oleh Jepang.  Ketakutan karyawan NNGPM di Jeflio beralasan sebab tentara Jepang telah menyerang Sorong, kota terdekat.

Markas Besar Belanda di Batavia telah memerintahkan Babo untuk mengevakuasi semua perempuan dan anak2 Eropa sesegera mungkin ke Jawa. Maka pada tanggal 17-26 Desember 1941 rombongan pesawat2 KNILM tiba di Babo kemudian segera berangkat membawa para perempuan dan anak2 berkulit putih. Pesawat2 itu lenyap di balik awan di atas Kepala Burung, meninggalkan para suami dan ayah yang melambaikan tangan dengan berat hati. Akankah mereka saling berjumpa lagi ? Sebagian besar tidak…

Para karyawan NNGPM yang semula membawa alat las, tang besar, pipa,dll. tiba-tiba dipersenjatai bedil double-barreled, milisi garnisun segera terbentuk, sekitar 40 orang kulit putih ada di milisi itu. Garnisun ini dibentuk untuk tindakan persiapan siapa tahu Jepang mendarat di Babo. Babo cukup terpencil tempatnya, sehingga tak segera menjadi sasaran Jepang setelah Sorong jatuh.

Kemudian, rencana tindakan perusakan sendiri atas fasilitas2 perminyakan pun dibuat. Ini selalu dilakukan di lapangan-lapangan minyak Belanda di seluruh Indonesia saat Jepang menyerang. Mengapa dirusak ? Sebab, Jepang memerlukan bahan bakar untuk perang. Bila fasilitas perminyakan dirusak, maka Jepang akan sulit mendapatkan bahan bakar untuk menjalankan mesin-mesin perangnya.

Segera setelah Jepang menyerang Pearl Harbour, telah diputuskan bahwa seluruh material berharga dari berbagai lapangan dan pelabuhan kecil di seluruh Kepala Burung dikumpulkan di Babo. Bila waktu mendesak, barang-barang berharga itu dapat segera diungsikan ke Jawa dari Babo menggunakan pesawat, atau kalau waktu begitu mendesak, maka sekalian barang itu dapat segera dihancurkan. Daftar barang2 berharga ini antara lain : mesin bermotor, dinamo, boiler, steam engine, juga alat2 berat seperti traktor dan buldozer. Peralatan bengkel dan gudang juga masuk dalam daftar barang2 siap dievakuasi atau dihancurkan. Beberapa peralatan berat disembunyikan di hutan sekitar Babo sambil berharap Jepang tak akan menemukannya. Stasiun radio pun mulai dihancurkan satu per satu, kecuali satu yang terbesar dipertahankan untuk berhubungan dengan Batavia atau Ambon.

Sementara itu, 200 tentara dari Batavia, terdiri atas orang2 Indonesia, dipimpin Kapten van Muyen dan dua sersan Belanda mendarat di Babo pada Januari 1942. Pasukan ini membawa banyak ranjau. Dan ranjau pun ditanam di bawah mesin-mesin berat yang tak akan dievakuasi, juga ditanam di beberapa tempat yang diperkirakan akan dilalui tentara Jepang saat mendarat di Babo.

Sementara itu, Jepang yang sudah menduduki Sorong, melakukan patroli rutin sepanjang Selat Sele (teman2 PetroChina tentu rutin melalui selat ini saat mereka dari Sorong akan ke KMT –Kasim marine terminal –stasiun pengumpul minyak2 Salawati; saya rutin melalui selat teduh ini saat ke lapangan di Pulau Salawati pada 1997-2000). Dermaga Kasim saat Jepang melakukan patroli telah termasuk yang dihancurkan.

Pada minggu-minggu pertama setelah pecah Perang Pasifik, Jepang tak menunjukkan ketertarikan kepada Babo, sehingga evakuasi ke Jawa bisa dilakukan beberapa kali. Tetapi, setelah hampir sebulan berlalu; tiba-tiba karyawan NNGPM yang tengah melakukan perusakan fasilitasnya sendiri dikejutkan dengan kedatangan sembilan pesawat bomber Jepang dari sebelah utara yang tanpa ampun menjatuhkan bom-bom. ”Kiamat di Babo” mulai terjadi.

H.W. Minekus, seorang karyawan NNGPM menulis dalam sebuah laporan, ”Kebanyakan dari kami lari dan menjatuhkan diri di parit-parit pinggir jalan. Kemudian pesawat2 Jepang datang kembali, Kami makin melekatkan diri dengan tanah parit sambil gemetaran. Tetapi saat itu tak ada bunyi bom, mungkin mereka sudah kehabisan amunisi. Bomber2 itu pergi ke arah mereka datang.”

Serangan bom ini telah mengejutkan para pegawai NNGPM dari suku asli. Mereka segera lari ke hutan dari mana mereka berasal dan tak pernah keluar lagi. Sementara itu, kuli-kuli bukan suku Papua juga lari ke hutan, tetapi beberapa hari kemudian mereka kembali ke Babo karena kelaparan.

Membalas serangan Jepang, Belanda bekerja sama dengan Tentara Sekutu mendatangkan pesawat2 bomber dari Australia. Karyawan NNGPM menyambut gembira kedatangan pesawat2 ini. Untuk sementara waktu,serangan Jepang dari utara tak muncul lagi. Akhir Januari 1942, pesawat2 ini kembali ke pangkalannya di Australia.

Pada saat yang bersamaan, Jepang berhasil merebut lapangan-lapangan minyak di Bunyu, Tarakan, dan Miri-Sarawak. Ini membuat Batavia memutuskan agar NNGPM merusak semua fasilitas perminyakan dan segera melakukan evakuasi.

25 Januari 1942 pukul 02.00, datang perintah dari komando militer di Belanda agar semua fasilitas perminyakan yang telah dikumpulkan di Babo dihancurkan. Ketika hari masih gelap, pekerjaan penghancuran dimulai. Lapangan terbang dihancurkan menggunakan ranjau-darat. Berdrum-drum minyak ditumpahkan dan kebakaran besar menghancurkan banyak fasilitas. Tangki-tangki air diledakkan. Mesin-mesin dirusak menggunakan palu godam. Banyak barang dibuang ke sungai, termasuk alat-alat berat seperti buldozer dan lori-lori. Lubuk sungai sedalam 36 kaki di Kasira dan Kaitero cocok untuk pembuangan barang2 ini. Laporan-laporan geologi, laporan sumur, contoh2 batuan dan banyak dokumen dibakar di belakang gedung kantor sebelum gedungnya pun dibakar. Yang tidak dirusak hanyalah stasiun pembangkit listrik, yang akan disisakan sampai evakuasi dimulai. Tanggal 1 Februari Ambon jatuh, evakuasi harus segera dimulai.

Awal Februari 1942, lenyaplah semua peradaban perminyakan di Babo, tak sampai sepuluh tahun berjalan sejak dimulai pada pertengahan 1930-an.

Evakuasi semua pekerja dan keluarganya yang masih tertinggal dimulai. Evakuasi akan dilakukan ke Dobo di Kepulauan Aru, bukan ke Jawa karena kuatir Jepang akan menyerang Jawa, pusat pemerintahan Belanda di Hindia Belanda. Keputusan tepat sebab Jepang menyerang Jawa dan menjatuhkannya pada Maret 1942. Evakuasi karyawan di Babo dilakukan dari Sungai Kaitero melalui Taniba. Setelah melintasi hutan rawa dan hutan perbukitan Taniba, rombongan tiba di Teluk Arguni. Di teluk ini, dua kapal NNGPM menunggu : Soedoe dan Minjak Tanah. Kedua kapal ini  membawa rombongan ke Dobo, Kepulauan Aru.

Minekus, karyawan NNGPM menceritakan evakuasi ini, ”Kami merasa susah mesti melalui sungai-sungai kecil berawa-rawa berlumpur coklat. Sebuah perjalanan yang sangat menyiksa melalui daerah tak berpenduduk yang hanya dihuni bakau-bakau yang tinggi. Tanda-tanda kehidupan hanyalah suitan burung kakatua putih di atas kami. Kami juga mesti berjalan cepat sebelum pasang naik menyergap. Ketika kami sampai di perbukitan, pemandangan lumayan indah, tetapi di sepanjang perjalanan kami melihat kampung2 suku Papua yang sudah ditinggalkan.”

Demikianlah sekelumit kisah berakhirnya peradaban perminyakan di Babo yang disusun berdasarkan laporan-laporan Belanda NNGPM.

Minyak membuka dan menutup peradaban di Babo. Semoga tak terulang lagi.

Salam,

Awang

Posted in Bahan bakar, ENERGI, Sejarah | Dengan kaitkata: , , , , , , , , , | 10 Comments »