Kepulauan Indonesia

Cerita dari, untuk dan tentang Kepulauan Indonesia beserta Penghuni dan Penduduknya

Posts Tagged ‘Volkanisme’

BG: Tsunami

Posted by wahyuancol pada Juni24, 2008

Tsunami adalah fenomena gelombang raksasa yang melanda ke daratan. Fenomena ini dapat terjadi karena gempa bumi atau gangguan berskala besar di dasar laut, seperti longsoran bawah laut atau erusi letusan gunungapi di bawah laut (Skinner dan Porter, 2000). Gelombang tsunami dapat merambat sangat cepat (dapat mencapai kecepatan 950 km/jam), panjang gelombangnya sangat panjang (dapat mencapat panjang 250 km). Di samudera, tinggi gelombang tsunami cukup rendah sehingga sulit diamati, dan ketika mencapai perairan dangkal ketinggiannya dapat mencapai 30 m. Sifat kedatangan gelombang tsunami sangat mendadak dan tidak adanya sistem peringatan dini merupakan penyebab dari banyaknya korban jiwa yang jatuh ketika gelombang tsunami melanda ke daratan pesisir yang banyak penduduknya. Contoh yang paling mutakhir peristiwa kencana tsunami ini adalah ketika tsunami melanda pesisir barat dan utara Pulat Sumatera di Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam pada tanggal 26 Desember 2004.

Tsunami yang terjadi karena gempa bumi atau longsoran di bawah laut kejadiannya berkaitan erat dengan sistem interaksi lempeng kerak bumi yang membentuk sistem penunjaman dan palung laut dalam. Sementara itu, tsunami yang terjadi karena erupsi letusan gunungapi kejadiannya berkaitan erat dengan kehadiran gunungapi bawah laut, baik yang muncul di permukaan laut maupun yang tidak muncul di permukaan laut. Dengan demikian, potensi suatu kawasan pesisir untuk dilanda tsunami dapat diperhitungkan dari keberadaan sistem penunjaman lempeng yang membentuk palung laut dalam, dan keberadaan gunungapi bawah laut. Meskipun demikian, kita tidak dapat melakukan prediksi tentang kapan akan terjadinya tsunami karena kita tidak dapat melakukan prediksi tentang kapan terjadinya gempa, longsoran bawah lautm atau letusan gunungapi bawah laut yang dapat mencetuskan tsunami.

Dalam sejarah moderen, di Indonesia pernah terjadi tsunami karena erupsi letusan gunungapi, yaitu ketika Gunung Krakatau di Selat Sunda meletus pada tahun 1883. Sementara itu, tsunami yang terjadi karena londsoran bawah laut pernah terjadi pada tahun 1998 di sebelah utara Papua New Guinea (Synolakis dan Okal, 2002; Monastersky, 1999).

Dari uraian tentang tsunami dan berbagai pencetusnya itu, maka kita dapat menentukan kawasan-kawasan pesisir yang potensial untuk terlanda tsunami, yaitu dengan memperhitungkan posisi kawasan-kawasan pesisir terhadap keberadaan sistem penunjaman dan palung laut dalam, serta kehadiran gunungapi bawah laut, meskipun kita tidak dapat menentukan kapan tsunami akan terjadi. Bagi Kepulauan Indonesia, posisi geografisnya yang diapit oleh dua samudera (Samudera Pasifik dan Hindia), serta posisi tektonik yang terletak di kawasan interaksi tiga lempeng kerak bumi utama, dan kehadiran gunungapi bawah laut membuatnya menjadi sangat potensial untuk terkena bencana tsunami. Gambaran tentang kejadian tsunami di Indonesia dalam dua dekade terakir dapat dilihat pada Tabel 3 dan Gambar 1. Secara garis besar dapat dikatakan bahwa kawasan-kawasan pesisir Indonesia yang sangat berpotensi terkena tsunami adalah:

1) Kawasan pesisir dari pulau-pulau yang menghadap ke Samudera Pasifik dan Samudera Hindia. Potensi sumber kejadian tsunami yang utama di kawasan-kawasan itu adalah sistem penunjamanyang ada di hadapan kawasan-kawasan pesisir itu.

2) Kawasan pesisir dari pulau-pulau di kawasan Laut Banda. Di kawasan ini, tsunami dapat berasal dari kawasan Busur Banda maupun berasal dari Samudera Pasifik atau Samudera Hindia yang masuk ke kawasan itu.

3) Kawasan pesisir pulau-pulau yang berhadapan dengan gunungapi bawah laut, seperti kawasan pesisir di kedua sisi Selat Sunda yang mengelilingi Gunung Krakatau.

Koreksi untuk Tabel 3. Pada nomor urut ke-10, tertulis “Pangandaran, Jawa Tengah”; yang benar adalah “Pangandaran, Jawa Barat”. Terima kasih untuk Sdr. Yan Yan (Komentar 1) yang menunjukkan kekeliruan ini.

Kembali Terus

Iklan

Posted in PROSES (BENCANA) ALAM, Tsunami, Volkanisme, Wilayah Pesisir | Dengan kaitkata: , , , , , , , , , | 3 Comments »

SB: Siklus Tektonik

Posted by wahyuancol pada Juni21, 2008

Berbeda dari sikus batuan yang terutama merupakan fenomena yang terjadi di kerak benua, maka siklus tektonik terutama melibatkan kerak samudera, dan prosesnya didominasi oleh proses-proses di bagian dalam Bumi yang digerakkan oleh energi geotermal Bumi.

Gambaran siklus tektonik dapat dilihat pada Gambar 6A dan B. Ketika magma yang datang dari mantle muncul di tempat pemekaran lantai samudera, maka ditempat itu akan terbentuk kerak samudera baru. Kerak samudera yang tua akan kembali ke dalam mantle di zona penunjaman. Dengan demikian, masa hidup kerak samudera lebih pendek daripada masa hidup kerak benua.

Gambar 6A. Siklus tektonik. Kontak antara magma dengan air laut di zona pemekaran samudera menunjukkan interaksi antara geosfer dan hidrosfer yang mempengaruhi komposisi air laut, sementara itu volkanisme menunjukkan kontak antara geosfer dan atmosfer yang mempengaruhi komposisi udara. Sumber: Skinner dan Porter (2000).

Gambar 6B. Siklus tektonik. Menggambarkan aliran proses dan pergerakan material. Sumber: Skinner dan Porter (2000).

Fenomena volkanisme dapat terjadi berkaitan dengan mekanisme penunjaman. Ketika kerak samudera masuk kembali ke dalam mantel dan meleleh kembali, unsur-unsur volatil dari kerak samudera itu menyebabkan kerak benua di atasnya meleleh. Magma yang terbentuk muncul ke permukaan sebagai gunungapi. Dengan demikian terjadi penambahan material baru ke kerak benua. Di pihak lain, aktifitas gunungapi yang mengeluarkan debu dan gas dari dalam Bumi mempengaruhi komposisi udara. Kondisi ini menunjukkan interaksi antara geosfer dan atmosfer.

Selain di zona penunjaman, magma dapat muncul di daerah pemekar lantai samudera. Di daerah pemekaran lantai samudera, interaksi antara kerak samudera dengan samudera di atasnya mempengaruhi komposisi air laut disekitarnya. Magma yang muncul di zona pemekaran dan membentuk kerak samudera baru membentuk batuan beku yang panas dan bereaksi dengan air laut. Unsur-unsur dari dalam batuan yang panas bereaksi dengan unsur-unsur yang ada di dalam air laut. Ini adalah salah satu cara mantle mempengaruhi komposisi air laut, dan juga cara yang penting bagaimana material dan proses dari siklus tektonik berinteraksi dengan siklus hidrologi.

Kembali Terus

Posted in Batuan, Cara Bumi di Hidupkan, Volkanisme | Dengan kaitkata: , , , , , , , , , , , , , | 2 Comments »

Krakatau Purba 535 AD: “A super colossal eruption”

Posted by wahyuancol pada Mei13, 2008

Senin 27 Agustus 1883 pukul 10.00 WIB adalah saat terakhir penduduk di sekitar Selat Sunda melihat Matahari tengah naik ke puncaknya. Setengah jam kemudian, mereka meregang nyawa diseret gelombang laut setinggi sampai 40 meter…Jumlah seluruhnya 36.417 orang berasal dari 295 kampung di kawasan pantai Banten dan Lampung. Keesokan harinya dan keesokan harinya lagi, penduduk sejauh sampai Jakarta dan Lampung tak melihat lagi Matahari – gelap gulita. Apa yang terjadi di hari yang seperti kiamat itu adalah letusan Gunung Krakatau di Selat Sunda. Suara letusannya terdengar sampai sejauh 4600 km dan di dengar di kawasan seluas 1/8 permukaan Bumi. Telah banyak tulisan dan film di seluruh dunia dibuat tentang kedahsyatan letusan Krakatau ini. University of North Dakota Volcanic Explosivity Index (VEI) mencantumkan dua gunungapi di seluruh dunia yang letusannya paling hebat dalam sejarah moderen : Krakatau 1883 (VEI : 6) dan Tambora 1815 (VEI : 7). Dua-duanya ada di Indonesia, tak jauh dari kita. Semoga kita, bangsa Indonesia – terlebih yang menamakan dirinya geologist, mengenal dengan baik dua gunungapi ini.

Tetapi, banyak dokumen menunjukkan bahwa Krakatau 1883 bukanlah satu-satunya letusan dahsyatnya. Sebelumnya, masih di Krakatau juga, ada letusannya yang kelihatannya jauh lebih dahsyat lagi daripada letusan 1883, yang terjadi pada masa sejarah, pada masa kerajaan-kerajaan Hindu pertama di Indonesia tahun 400-an atau 500-an AD (Anno Domini, Masehi). Tentu saja letusan ini tak banyak ditulis apalagi difilmkan sebab pengetahuan kita tentangnya masih samar-samar, walaupun nyata. Adalah B.G. Escher (1919, 1948) yang berdasarkan penyelidikannya dan penyelidikan Verbeek (1885) – dua-duanya adalah ahli geologi Belanda yang lama bekerja di Indonesia – yang menyusun sejarah letusan Krakatau sejak zaman sejarah – moderen.

Saat ini, di Selat Sunda ada Gunung Anak Krakatau (lahir Desember 1927, 44 tahun setelah letusan Krakatau 1883 terjadi), yang dikelilingi tiga pulau : Sertung (Verlaten Eiland, Escher 1919), Rakata Kecil (Lang Eiland, Escher, 1919) dan Rakata. Berdasarkan penelitian geologi, ketiga pulau ini adalah tepi-tepi kawah/kaldera hasil letusan Gunung Krakatau (Purba, 400-an/500-an AD). Escher kemudian melakukan rekonstruksi berdasarkan penelitian geologi batuan2 di ketiga pulau itu dan karakteristik letusan Krakatau 1883, maka keluarlah evolusi erupsi Krakatau yang menakjubkan (skema evolusi Krakatau dari Escher ini bisa dilihat di buku van Bemmelen, 1949, 1972, atau di semua buku moderen tentang Krakatau).

B.G. Escher berkisah, dulu ada sebuah gunungapi besar di tengah Selat Sunda, kita namakan saja KRAKATAU PURBA yang disusun oleh batuan andesitik. Lalu, gunungapi ini meletus hebat (kapan ? ada dokumen2 sejarah tentang ini, ditulis di bawah) dan membuat kawah yang besar di Selat Sunda yang tepi-tepinya menjadi pulau Sertung, Rakata Kecil dan Rakata. Lalu sebuah kerucut gunungapi tumbuh berasal dari pinggir kawah dari pulau Rakata, sebut saja gunungapi Rakata, terbuat dari batuan basaltik. Kemudian, dua gunungapi muncul di tengah kawah, bernama gunungapi Danan dan gunungapi Perbuwatan. Kedua gunungapi ini kemudian menyatu dengan gunungapi di Rakata yang muncul terlebih dahulu. Persatuan ketiga gunungapi inilah yang disebut KRAKATAU. Tahun 1680, gunung Krakatau meletus menghasilkan lava andesitik asam. Tanggal 20 Mei 1883, setelah 200 tahun tertidur, sebuah erupsi besar terjadi, dan terus-menerus sampai puncak erupsi terjadi antara 26-28 Agustus 1883 (Inilah letusan Krakatau 1883 yang terkenal itu). Erupsi ini telah melemparkan 18 km3 batuapung dan abu volkanik. Gunungapi Danan dan Perbuwatan hilang karena erupsi dan runtuh, dan setengah kerucut gunungapi Rakata hilang karena runtuh, membuat cekungan kaldera selebar 7 km sedalam 250 meter. Desember 1927, ANAK KRAKATAU muncul di tengah-tengah kaldera.

Seberapa besar dan kapan erupsi KRAKATAU PURBA terjadi ? Inilah tujuan utama tulisan saya kali ini. Tulisan2 yang berhasil dikumpulkan (buku2 dan paper2 lepas) menunjuk ke dua angka tahun : 416 AD atau 535 AD. Angka 416 AD adalah berasal dari sebuah teks Jawa kuno berjudul ”Pustaka Raja Purwa” yang bila diterjemahkan bertuliskan : ”Ada suara guntur yang menggelegar berasal dari Gunung Batuwara. Ada goncangan Bumi yang menakutkan, kegelapan total, petir dan kilat. Lalu datanglah badai angin dan hujan yang mengerikan dan seluruh badai menggelapkan seluruh dunia. Sebuah banjir besar datang dari Gunung Batuwara dan mengalir ke timur menuju Gunung Kamula. Ketika air menenggelamkannya, pulau Jawa terpisah menjadi dua, menciptakan pulau Sumatra” . Di tempat lain, seorang bishop Siria, John dari Efesus, menulis sebuah chronicle di antara tahun 535 – 536 AD, “ Ada tanda-tanda dari Matahari, tanda-tanda yang belum pernah dilihat atau dilaporkan sebelumnya. Matahari menjadi gelap, dan kegelapannya berlangsung sampai 18 bulan. Setiap harinya hanya terlihat selama empat jam, itu pun samar-samar. Setiap orang mengatakan bahwa Matahari tak akan pernah mendapatkan terangnya lagi” . Dokumen di Dinasti Cina mencatat : ”suara guntur yang sangat keras terdengar ribuan mil jauhnya ke baratdaya Cina”. (Semua kutipan diambil dari buku Keys, 1999 : Catastrophe : A Quest for the Origins of the Modern Worls, Ballentine Books, New York).

Itu catatan2 dokumen sejarah yang bisa benar atau diragukan. Tetapi, penelitian selanjutnya menemukan banyak jejak-jejak ion belerang yang berasal dari asam belerang volkanik di temukan di contoh-contoh batuan inti (core) di lapisan es Antarktika dan Greenland, ketika ditera umurnya : 535-540 AD. Jejak2 belerang volkanik tersebar ke kedua belahan Bumi : selatan dan utara. Dari mana lagi kalau bukan berasal dari sebuah gunungapi di wilayah Equator ? Kumpul-kumpul data, sana-sini, maka semua data menunjuk ke satu titik di Selat Sunda : Krakatau ! Adalah letusan KRAKATAU PURBA penyebab semua itu.

Letusan KRAKATAU PURBA begitu dahsyat, sehingga dituduh sebagai penyebab semua abad kegelapan di dunia. Penyakit sampar Bubonic (Bubonic plague) terjadi karena temperatur mendingin. Sampar ini secara signifikan telah mengurangi jumlah penduduk di seluruh dunia. Kota-kota super dunia segera berakhir, abad kejayaan Persia purba berakhir, transmutasi Kerajaan Romawi ke Kerajaan Bizantium terjadi, peradaban South Arabian selesai, berakhirnya rival Katolik terbesar (Arian Crhistianity), runtuhnya peradaban2 purba di Dunia baru – berakhirnya negara metropolis Teotihuacan, punahnya kota besar Maya Tikal, dan jatuhnya peradaban Nazca di Amerika Selatan yang penuh teka-teki. Kata Keys (1999), semua peristiwa abad kegelapan dunia ini terjadi karena bencana alam yang mahabesar, yang sangat mengurangi cahaya dan panas Matahari selama 18 bulan, menyebabkan iklim global mendingin.

K. Wohletz, seorang ahli volkanologi di Los Alamos National Laboratory, mendukung penelitian David Keys, melalui serangkaian simulasi erupsi KRAKATAU PURBA yang terjadi pada abad keenam Masehi tersebut. Artikelnya (Wohletz, 2000 : Were the Dark Ages Triggered by Volcano-Related Climate Changes in the Sixth Century ? – If So, Was Krakatau Volcano the Culprit ? EOS Trans American Geophys Union 48/81, F1305) menunjukkan simulasi betapa dahsyatnya erupsi ini. Inilah beberapa petikannya. Erupsi sebesar itu telah melontarkan 200 km3 magma (bandingkan dengan Krakatau 1883 yang 18 km3), membuat kawah 40-60 km, letusan hebat terjadi selama 34 jam, tetapi terus terjadi selama 10 hari dengan mass discharge 1 miliar kg/detik. Eruption plume telah membentuk perisai di atmosfer setebal 20-150 meter, menurunkan temperatur 5-10 derajat selama 10-20 tahun.

Begitulah, Escher dan Verbeek menyelidiki ada erupsi Krakatau Purba; dokumen2 sejarah dari Indonesia (Pustaka Raja), Siria, dan Cina mencatat sebuah bencana yang sangat dahsyat terjadi di abad 5 atau 6 Masehi; ice cores di Antarktika dan Greenland mencatat jejak2 ion sulfate volkanik dengan umur 535-540 AD, peristiwa2 Abad Kegelapan d seluruh dunia terjadi pada abad ke-6, dan simulasi volkanologi erupsi Krakatau Purba : semuanya kelihatannya bisa saling mendukung untuk a Super Collosal Eruption of proto-Krakatau 535 AD.

Kalau benar, gunungapi itu hanya di Selat Sunda, tak jauh dari kita, semoga kita mengenalnya dengan lebih baik, dan makin banyak ahli2 Indonesia yang meneliti serta menuliskannya (sebab kini sedikit sekali bilangan ahli kita yang mempelajari dan menuliskannya – cukup dihitung dengan jari-jari di satu tangan !).

Salam,

awang

——————–

Dikutip sebagaimana yang ditulis oleh Awang Harun Satyana di dalam IAGI-net, 23 Juni 2006.

Posted in Dari Indonesia untuk Dunia, Volkanisme | Dengan kaitkata: , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a Comment »

Tambora, April 1815

Posted by wahyuancol pada Mei8, 2008

Erupsi Gunung Tambora, Perubahan Iklim Global, Sejarah Eropa, Fenomena Astronomi

Gunung Tambora adalah salah satu gunungapi di Indonesia yang aktifitasnya dikenang oleh dunia. Dunia mencatat bahwa erupsi letusan Gunung Tambora pada bulan April 1815 menyebabkan perubahan iklim global di Bumi dan mempengaruhi jalan sejarah Eropa.

Tulisan ini dibuat berdasarkan tulisan dari Bapak Ma’rufin Sudibyo yang disebarkan melalui e-mail pada tanggal 25 April 2008, dengan izin tertulis via e-mail.

April 1815 adalah salah satu saat yang dicatatan di dalam sejarah dunia. Saat itu adalah saat ketika terjadinya erupsi letusan Gunung Tambora. Erupsi letusan itu menyemburkan debu volkanik ke atmosfer, dan debu itu kemudian mengelilingi Bumi dan menghambat penyinaran Matahari ke Bumi, yang kemudian menyebabkan terjadinya penyimpangan iklim yang dramatis, yaitu terjadinya tahun tanpa musim panas pada tahun 1816.

Gunung Tambora sebelum April 1815

Gunung Tambora berlokasi di Semenanjung Sanggar, Sumbawa, dan telah tumbuh sejak 200 ribu tahun silam. Pertumbuhan gunung ini demikian pesatnya sehingga menutupi sisa gunung Kawindana Toi di utaranya yang lebih tua (muncul 410 ribu tahun silam). Pada puncak perkembangannya, sebelum April 1815, Tambora memiliki ketinggian 4.300 m sehingga bisa terlihat dengan jelas dari daratan Pulau Bali yang jaraknya 300-an km. Gunung ini dikelilingi oleh 20 kerucut parasiter yang rata-rata berketinggian 1.000 meter.

Di kaki Tambora berkembang tiga kerajaan yaitu: Sanggar (di sebelah utara), Tambora (di sebelah barat) dan Pekat (di sebelah selatan). Penduduknya hidup makmur dari pertanian dengan produksi utamanya beras, kacang ijo, kopi, lada dan kapas. Jalinan perdagangan dengan mancanegara juga sudah terjalin. Kerajaan-kerajaan ini mengekspor beras, madu, kapas dan kayu merah, sementara impornya diantaranya keramik Cina.

Erupsi April 1815

Erupsi letusan Tambora pada 1815 dimulai sejak 1812 ketika asap tebal menyembur dari puncaknya diiringi getaran-getaran kecil. Ini adalah ciri khas erupsi freatik, yang terjadi ketika magma yang sedang bergerak naik ke atas mulai bersentuhan dengan air tanah sehingga terbentuk uap panas bertekanan tinggi yang akhirnya menjebol penghalang diatasnya. Biasanya erupsi freatik menjadi erusi pembuka dari episode erupsi sebuah gunung berapi (kecuali Gunung Merapi). Erupsi freatik Tambora itu berlangsung terus menerus hingga tiga tahun kemudian. Erupsi freatik Tambora yang lama itu disebabkan oleh kombinasi dapur magmanya yang sangat dalam, magma sangat kental dan sangat kaya asam, sehingga kecepatan naiknya ke tubuh gunung sangat lambat. Letusan2 freatik ini mengendapkan debu setebal 20 cm di kaki gunung.

Perubahan mulai terjadi pada 5 April 1815 ketika magma sudah mencapai puncak gunung dan memulai erupsi magmatik nan dahsyat. Hari itu Tambora menyemburkan debu dan batu apung hingga setinggi 35 km dalam erupsi tipe plinian yang murni didominasi gas. Di kaki Tambora, endapan batu apung dan abu itu sampe setebal 50 cm.

Setelah 5 April Tambora terus aktif dengan getaran-getaran keras dan erupsi freatomagmatik, yaitu erupsi freatik yang sudah dicampuri magma. Erupsi tipe itu adalah tanda bahwa suplai magma segar yang baru terus berjalan menuju ke puncak gunung dari reservoirnya. Jika pada saat itu telah ada seismograf, tentu akan terekam ribuan gempa vulkanik dalam dan dangkal per hari hingga peralatan itu tersaturasi. Dan jika saat itu sudah ada barometer, tentu akan terekam penurunan tekanan udara yang anomalik di sekitar Tambora, tanda akan terjadinya letusan mahadahsyat (paroksismal).

Puncak aktifitas erupsi Tambora terjadi pada Senin 10 April 1815 pukul 19:00 WITA sebagaimana dicatat Raja Sanggar. Didahului gempa vulkanik kuat dengan magnitude minimum 7,5 skala Richter yang getarannya dirasakan sampai Surabaya, gunung ini memuntahkan 150 km kubik material vulkanik dengan tiga kolom asap yang menyembur hingga setinggi 43 km. Energi letusan ini setara dengan 34.000 megaton TNT. Sebagai pembanding, andaikata seluruh hululedak nuklir dalam puncak Perang Dingin dikumpulkan dan diledakkan bersama-sama, energi ledakannya ‘hanya’ 20.000 megaton TNT.

Dahsyatnya erupsi letusan itu membuat puncak gunung terpenggal dan runtuh (ambles) hingga membentuk kaldera berdiameter 7 km dengan kedalaman 1,1 km, sementara tinggi gunung tinggal 2.800 meter. Proses ini menciptakan awan panas yang sangat luar biasa, volumenya sekitar 5,6 km kubik, yang segera bergerak turun ke bawah menyapu lereng yang tersisa menerjang apa saja sebagai lautan api dengan kecepatan 60 km/jam. Kerajaan Sanggar, Tambora dan Pekat musnah karena terjangan awan panas bersuhu 800 derajat Celcius itu. Demikian banyaknya volume awan panas sehingga sebagian diantaranya masuk ke Laut Flores, menciptakan tsunami dengan tinggi awal > 10 meter dan kecepatan penjalaran 250 km/jam. Tsunami ini menghajar pantai Besuki (Jawa Timur), Madura dan Maluku berselang 3 jam setelah letusan utama, sebagai gelombang dengan tinggi gelombang 1 – 2 meter dan menelan banyak korban. Berselang 19 jam kemudian tsunami lain yang lebih kecil kembali melanda.

Gemuruh suara letusan 5 April terdengar sampai ke Yogyakarta sebagaimana dicatat oleh Raffles, demikian pula hujan abunya. Namun dentuman suara letusan mahadahsyatnya terdengar hingga ke Bengkulu, sementara abunya jatuh lebih jauh lagi, hingga berjarak 1.300 km dari Tambora. Demikian pekat abunya hingga pada radius 600 km dari gunung mengalami kegelapan total selama 72 jam.

Awan panas dan tsunami produk letusan Tambora diperkirakan menelan korban 10.000 jiwa. Namun daratan Pulau Sumbawa dan Lombok yang dibuat tandus tanpa bisa ditanami mengakibatkan sekitar 38.000 penduduk Sumbawa dan 44.000 penduduk Lombok meninggal dunia akibat bencana kelaparan. Maka total korban yang jatuh akibat letusan Tambora mencapai 92.000 jiwa, hanya di Indonesia saja.

Erupsi Tambora dan Gangguan Iklim Dunia

Erupsi letusan Gunung Tambora menyebabkan penyimpangan iklim dramatik di seluruh dunia. Sekitar 50 km kubik debu letusan Tambora diinjeksikan ke lapisan stratosfer dan terbawa oleh rotasi Bumi hingga menyebar kemana-mana. Reaksi belerang dalam debu dengan butir-butir air membentuk 200 juta ton butir-butir asam sulfat yang selanjutnya berperan sebagai tirai penahan cahaya Matahari yang sangat efektif. Akibatnya intensitas cahaya Matahari yang sampe ke Bumi tinggal 75 % dari nilai normalnya, sehingga terjadi pendinginan Bumi, dimana suhu global menurun 0,4 – 0,7 derajat Celcius dari nilai normalnya. Akibatnya timbullah penyimpangan iklim global.

Di Asia, bencana kelaparan merebak dimana-mana menyertai musim yang tak menentu. Kelaparan melanda Bangladesh, menelan korban puluhan ribu jiwa. Mayat-mayat mereka tak bisa dikuburkan dengan baik, sehingga pada 1817 muncul epidemi kolera asiatik yang sangat ganas, yang menghinggapi pula pasukan Inggris hingga terbawa menyebak ke Afghanistan dan nepal. Dari pasukan Inggris ini pula epidemi menyebar ke Russia dan Amerika utara.

Eropa dan Amerika utara mencatat tahun 1816 (atau setahun setelah erupsi letusan Tambora) sebagai “tahun tanpa musim panas” atau “tahun membeku”. Hujan salju berwarna kecoklatan dan kemerahan turun tak henti-hentinya di Italia dan Hongaria sepanjang 1816 diselingi beberapa kali badai salju yang membunuh banyak orang dan merusak ladang pertanian. Di Amerika utara badai salju melanda hingga kawasan hangat di selatan yang biasanya tak tersentuh. Kabut muncul setiap saat dan hujan badai mengamuk berkali-kali di Eropa utara dan Amerika, yang membuat sungai-sungai utama banjir. Semua ini membuat ladang pertanian rusak tak bisa ditanami dan akibatnya harga pangan pun melonjak hingga tujuh kali lipat dari sebelumnya. Bencana kelaparan pun menghinggapi semua penjuru dan Swiss terpaksa menyatakan keadaan darurat nasional karena kekurangan pangan telah memicu kerusuhan. Dari angka-angka di Swiss inilah diperkirakan sekitar 200.000 penduduk Eropa dan Amerika utara terenggut jiwanya dalam tahun yang membeku itu.

Erupsi Tambora dan Jalan Sejarah Eropah

“Hujan salah musim” mengguyur Eropa sejak awal Juni 1815 dan terus bertahan selama berminggu-minggu kemudian. Sungai-sungai utama Eropa kebanjiran, sementara jalanan penghubung antarkota dan antarnegara berubah jadi lautan lumpur. Ini sangat menyulitkan Napoleon, yang sedang berusaha menggapai impian menyatukan Eropa dibawah kekuasaan kekaisaran Perancis setelah berhasil meloloskan diri dari Elba, 1812. Rencana menyerbu Brussel berantakan akibat peralatan berat pasukannya tidak sanggup melewati jalan-jalan yang berlumpur. Dan akibat lanjutannya cukup tragis, Le Petit Generale ini terpaksa harus takluk di tangan Jenderal Blutcher dan pasukan Koalisinya dalam pertempuran besar di Waterloo, 15 Juni 1815.

Erupsi Tambora dan Fenomena Astronomi

Bagi yang menggemari astronomi, letusan Tambora 1815 menjadi salah satu bahan kajian yang menarik tentang pengaruh gaya pasang surut Bulan – Matahari terhadap dinamika Bumi, khususnya letusan gunung berapi. Tambora meletus dahsyat hanya beberapa jam pasca konjungsi Bulan – Matahari (ijtima’). Pengaruh konjungsi dengan peningkatan frekuensi kejadian gempa sudah banyak dikaji dan dilaporkan, meski mekanismenya masih diperdebatkan. Sementara pengaruh guncangan gempa terhadap peningkatan aktivitas gunung berapi juga sudah banyak diketahui dan bisa diramalkan probabilitasnya berdasarkan persamaan Manga & Brodsky. Nah, pengaruh konjungsi terhadap letusan gunung, barangkali masih menjadi virgin territory yang menantang. Letusan dahsyat Tambora terjadi pada 5 – 15 April 1815 dengan puncak letusan pada 10 April 1815 19:00 WITA. Sementara konjungsi Bulan – Matahari terjadi pada 10 April 1815 02:21 WITA, atau hanya berselisih 17 jam. Sebagai pembanding, letusan dahsyat Gunung Pinatubo (Filipina) terjadi pada 12 – 15 Juni 1991 dengan puncak letusan pada 15 Juni 1991 13:30 WITA. Sementara konjungsi Bulan – Matahari terjadi pada 12 Juni 1991 13:30 WITA, atau berselisih 65 jam. Entah kebetulan atau tidak, ini menarik.

Salam dari Ancol,

Wahyu

Posted in Dari Indonesia untuk Dunia, Volkanisme | Dengan kaitkata: , , , , , , , , | 1 Comment »