Kepulauan Indonesia

Cerita dari, untuk dan tentang Kepulauan Indonesia beserta Penghuni dan Penduduknya

Archive for the ‘Sungai’ Category

Banjir 24 Oktober 2016 di Pasteur (Dataran Tinggi, Cekungan Bandung) Bandung

Posted by wahyuancol pada Oktober29, 2016

Kota Bandung berada di kawasan dataran tinggi Bandung. Secara fisik, kawasan tersebut merupakan suatu cekungan yang dikelilingi oleh gunung-gunung dan di kenal sebagai Cekungan Bandung. Cekungan Bandung, secara administratif merupakan bagian dari Kabupaten Bandung, Bandung Barat dan Sumedang, serta Kota Bandung dan Cimahi. Sejarah geologi kawasan tersebut menunjukkan bahwa cekungan tersebut sebelumnya adalah sebuah danau. Danau antar gunung (Gambar 1). Di dalam cekungan tersebut diendapkan endapan danau. Pada tahun 2005, penduduk yang mendiami Cekungan Bandung mencapai lebih dari 7 juta jiwa (Abidin et al., 2009).

001-cekungan-bandung

Gambar 1. Topografi kawasan Cekungan Bandung dan sekitarnya (Gumilar et al., 2015).

Sesuai dengan karakter fisik lingkungannya itu, maka adalah wajar bila banjir rutin melanda kawasan yang rendah dari Kota Bandung yang merupakan bagian yang paling rendah dari cekungan tersebut. Keadaan tersebut diperparah oleh terjadinya penurunan permukaan tanah (Gumilar et al., 2014).

Pada hari Senin tanggal 24 Oktober 2016, terjadi banjir yang “tidak biasa” di Kota Bandung setelah hujan deras turun sangat lama. Banjir terjadi di kawasan Pasteur yang berada di bagian yang tinggi dari Kota Bandung. Aliran air yang sangat deras mengalir di jalan Pasteur, melanda dan menghanyutkan segala sesuatu yang ada di jalan tersebut, termasuk mobil.

Pertanyaannya adalah mengapa bisa demikian? Apa yang salah dengan tata air di kawasan itu?

Secara sederhana, bila hujan turun ke permukaan Bumi (presipitasi = P), maka air hujan akan mengalami penguapan (evaporasi = E) dan meresap masuk ke dalam tanah (infiltrasi = I). Apabila volume air hujan yang jatuh ke Bumi lebih kecil daripada volume air yang mengusap dan meresap ke dalam tanah, maka air hujan itu akan habis dan tidak ada air yang mengalis di permukaan Bumi. Sebaliknya, apabila volume air hujan yang jatuh ke Bumi itu lebih besar daripada air yang menguap ke udara dan meresap ke dalam tanah, maka terjadilah kelebihan air di permukaan Bumi yang mengalir sebagai aliran air di permukaan Bumi.

Pada mulanya, aliran air di permukaan Bumi bergerak bebas menuruni lereng. Kemudian aliran air itu bergabung satu sama lain dan akhirnya membentuk tali air. Tali air itu kemudian berkembang menjadi alur-alur, alur-alur bergabung dan akhirnya menjadi sungai. Semua itu merupakan satu sistem aliran air permukaan.

Di kawasan perkotaan, sistem aliran air tersebut terganti oleh sistem drainase kota. Air hujan yang turun di kawasan perkotaan akan masuk ke dalam sistem drainase kota, dan kemudian dialirkan ke sungai-sungai yang mengalir melintasi kota.

Di daeah yang masih alamiah, ketika musim hujan, curah hujan tinggi, maka kita akan melihat aliran air yang besar debitnya di sungai-sungai. Hal itu karena banyaknya air permukaan yang masuk ke dalam alur-alur sungai. Apabila terjadi curah hujan yang sangat tinggi, aliran permukaan menjadi sangat banyak maka alur sungai tidak dapat menampung volume air yang masuk. Air meluap keluar, dan kita mengenalnya sebagai banjir. Luapan air sungai ini biasanya terjadi di daerah hilir dan terjadi karena sungai utama tidak mampu menampung air yang masuk dari cabang-cabangnya dari daerah hulu.

Di daerah perkotaan, sebelum air hujan masuk ke aliran sungai, air terlebih dahulu masuk ke sistem drainase kota. Pengelolaan sistem drainase yang buruk bisa menyebabkan aliran air permukaan tidak dapat masuk ke dalam sistem saluran air. Atau, sistem saluran air yang dibuat terlalu sempit  sehingga air meluap. Apabila air hujan gagal masuk ke dalam sistem drainase kota, maka air akan bergerak liar dan mengalir masuk ke jalan-jalan karena jalanlah yang kondisinya memberi kemudahan bagi air untuk mengalir. Banjir seperti inilah ke kemaren itu terjadi di Kota Bandung.

Jadi, sebagai kesimpulan, banjir yang terjadi pada tanggal 24 Oktober 2016 di Kota Bandung itu, selain karena angka curah hujan yang tinggi, juga karena buruknya sistem drainase kota tersebut. Curah hujan yang tinggi menyebabkan tingginya debit aliran air permukaan. Buruknya sistem drainase menyebabkan debit aliran air permukaan yang tinggi itu tidak dapat masuk mengalir di dalam saluran air sehingga air mengalir di jalan raya.

Dalam skala yang lebih kecil, kasus seperti ini juga terjadi di Desa Sekaran, Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang di dekat Kampus Universitas Negeri Semarang. Apabila hujan lebat terjadi dalam waktu cukup lama, maka jalan utama yang di desa itu yang melintasi kampus UNNES menjadi seperti sungai.

Salam,

WBS

Iklan

Posted in Banjir, FENOMENA ALAM, HIDROSFER, HUMANIORA, Manusia dan Alam, PROSES (BENCANA) ALAM, Sungai | Dengan kaitkata: , , , , | Leave a Comment »

Gelombang Bono di Sungai Kampar, Riau

Posted by wahyuancol pada Oktober9, 2016

Afif Farhan di dalam detikTravel pada tanggal 6 Oktober 2016 menulis tentang Gelombang Bono di Sungai Kampar, Kabupaten Pelalawan, Propinsi Riau sebagai salah satu objek wisata. Disebutkan bahwa gelombang itu dapat mencapai ketinggian 6 meter, kecepatan 40 km/jam dan panjang 300 meter. Gelombang bergerak dari arah muara sungai ke hulu sungai. Waktu kejadiannya hanya pada waktu-waktu tertentu, yaitu biasanya pada saat bulan purnama setiap tanggal 10-20 perhitungan bulan Melayu (Arab) atau pada kisaran bulan Agustus – Desember tanggal Masehi.

Gelombang Bono sesungguhnya adalah fenomena Tidal Bore. Menurut Bartsch-Winkler & Lynch (1988), Tidal Bore adalah fenomena gelombang tunggal yang terjadi secara alamiah karena pasang-surut dengan ketinggian gelombang berkisar dari 0,2 – 6 meter. Gelombang bergerak dari muara sungai ke arah hulu.  Terjadi di dalam estuari dengan pasang surut semidiurnal atau hampir semidiurnal dengan amplitudo lebih dari 4 meter. Pembentukan Tidal Bore tergantung pada kedalaman air dan kecepatan air pasang yang masuk dan aliran sungai yang keluar. Donnelly & Chasnson (2002) menyebutkan bahwa di Sungai Pungue, Mozambique, tidal bore memasuki aliran sungai sampai 80 km. Tidal Bore berpengaruh terhadap ekosistem.

Menurut Chanson (2013), tidal bore adalah suatu seri gelombang yang menjalar ke arah hulu sungai ketika aliran arus pasang-surut berbalik masuk ke muara sungai selama periode awal pasang naik. Pembentukan tidal bore terjadi ketika amplitudo pasang-surut 4,5 – 6 meter (makrotidal), zona estuari atau mulut sungai berbentuk corong yang dapat memperbesar amplitudo pasang-surut, dan ada perubahan kedalaman yang tiba-tiba. Proses pembentukan tidal bore adalah amplitudo pasang-surut yang besar dan mengalami amplifikasi di dalam estuari.

Tidal Bore adalah fenomena alam yang umum dijumpai di berbagai belahan bumi. Bartsch-Winkler & Lynch (1988) telah membuat katalog tidal bore untuk seluruh dunia. Setidaknya tercetat tidal bore di 67 lokasi di 16 negara. Namun, fenomena Gelombang Bono di Sungai Kampar ini belum tercatat.

Fenomena tidal bore di Sungai Kampar, Kabupaten Pelalawan, Riau, sebenarnya sudah lama dikenal oleh masyarakat setempat. Efek negatif gelombang tersebut yang dapat menyebabkan kematian membuat gelombang tersebut ditakuti oleh masyarakat setempat. Pada tahun 2010 keadaan berubah. Hal itu terjadi setelah beberapa peselancar profesional dari Brazil dan Perancis berhasil berselancar di Gelombang Bono. Sejak itu Gelombang Bono dipandang sebagai potensi wisata (Setiawan, 2012).

Semoga bermanfaat.

Salam,

WBS

Daftar Pustaka

Bartsch-Winkler, S. & Lynch, D.K., 1988. Catalog of Worldwide Tidal Bore Occurences and Characteristic. U.S. Geological Survey Circulas 1022.

Chanson, H., 2013. Environmental Fluid Dynamics of Tidal Bore: Theoretical Consideration and Fields Observation. In: Fluid Mechanics of Environmental Interfaces, C. Gualtieri and D.T. Mihailovic (eds.), 2nd Edition, Chapter 10, pp. 295-321 (ISBN 978-041-5621564), Taylor & Francis, Leiden, The Netherlands.

Donnelly, C. & Chanson, H., 2002. Environmental Impact of Tidal Bore in Tropical Rivers. Proc. 5th Intl. River Manage. Symp., Brisbane, Australia, Sept 2002.

Setiawan, H., 2013. Bono Tidal Bore: Unique Riau River Surfing (https://www.engagemedia.org/Members/Hisam/videos/surf_bono/view). Akses 9 Okt 2016.

 

Posted in Dari Indonesia untuk Dunia, FENOMENA ALAM, Gelombang, HIDROSFER, Objek Wisata, Pasang surut, PROSES (BENCANA) ALAM, Sungai, Wilayah Pesisir | Dengan kaitkata: , , , , , , , | Leave a Comment »

Banjir 6 (Dimensi Internasional Bencana Banjir: Pelajaran dari Thailand)

Posted by wahyuancol pada Oktober28, 2011

Sekarang Thailand sedang dilanda bencana banjir. Kota Bangkok terendam banjir yang terburuk dalam sejarahnya. Ribuan orang menjadi pengungsi. Bandara terbesar di negara itu ditutup. Kawasan industri tergenang. Pertanyaannya adalah apakah dampak banjir tersebut juga akan kita rasakan? dan pelajaran apa yang dapat kita ambil dari banjir tersebut?

———————-

Sungai Chao Praya

Sungai Chao Praya adalah sungai utama di Thailand yang bermuaran ke Teluk Thailand. Secara etimologi, Chao Praya berarti Sungai Raja-raja. Sungai ini adalah gabungan dari aliran Sungai Ping dan Sungai Nam, dan memiliki dua anak sungai, yaitu Sungai Pa Sak dan Sungai Sakae Krang. Luas Daerah Aliran Sungai (DAS) Chao Praya sekitar 160.000 km persegi. Luas DAS sungai tersebut mencakup sekitar 35% luas daratan Thailand. Debit rata-rata sungai tersebut sekitar 718 meter kubik per detik, dan debit maksimum mencapai 5.960 meter kubik per detik. Terdapat sepuluh buah kota di sepanjang aliran sungai tersebut, termasuk Kota Bangkok (Ibu Kota Thailand) yang berpenduduk lebih dari 12 jutra jiwa.

Delta Chao Praya

Dataran delta Chao Praya adalah kawasan yang sangat penting bagi Thailand. Kota Bangkok berkembang di delta tersebut. Persawahan ada di delta tersebut sejak Abad ke-13 dan Thailand sundah dikenal sebagai pengekspor beras sejak tahun 1855. Di zaman moderen, di kawasan delta tersebut berkembang berbagai aktifitas manusia. Berkembang kawasan industri, pertanian, perkebunan, peternakan, turisme dan perdagangan di dataran delta itu. Jepang membangun basis industri mobilnya di sana. Demikian pula dengan berbagai perusahaan elektronika khususnya komputer.

Pembangunan di kawasan Delta Chao Praya memberikan tekanan yang berat terhadap kawasan delta tersebut. Kawasan delta mengalami subsiden. Keadaan tersebut membuat Organization for Economic Co-operation and Development (OECD) mengkategorikan Kota Bangkok sebagai kota yang terancam banjir di kawasan pesisir (coastal flooding) pada tahun 2070.

Banjir Oktober 2011

Bulan Oktober  adalah bulan musim penghujan di Thailand. Curah hujan yang tinggi telah menyebabkan kawasan Delta Chao Praya dilanda banjir. Kota Bangkok mengalami banjir yang terburuk di dalam sejarahnya. Air laut yang pasang memperparah genangan banjir di kota tersebut. Ribuan jiwa penduduk kota tersebut menjadi pengungsi. Transportasi mengalami gangguan. Bandara Don Muang yang merupakan bandara terbesar di Thailand tergenang (Gambar). Tidak hanya itu, banjir itu juga menggenangi kawasan industri, pertanian, peternakan, perkebunan, turisme dan perdagangan.

Dimensi Internasional

Dampak banjir di dataran Delta Chao Praya tidak hanya dirasakan di Thailand, tetapi juga dirasakan oleh negara-negara lain. Perdagangan dan industri internasional merupakan penghubungnya.

Tergenangnya kawasan industri (Gambar) di Delta Chao Praya menyebabkan banyak pabrik mobil atau komponen mobil berhenti berproduksi (Gambar) (Tabel). Keadaan tersebut mempengaruhi industri mobil di Jepang, Malaysia, Indonesia dan bahkan sampai Amerika.

Banjir juga mengganggu industri komputer dunia, khususnya notebook dan PC Desktop. Menurut catatan analisis Data Corp, pabrik-pabrik yang tergenang banjir memproduksi 120 juta unit hard disk per tahun, atau sepertiga dari total produksi hard disk di Thailand. menurut pengamat pasar iSuppli, Thailand menghasilkan seperempat dari total produksi hard disk dunia.

Banjir Thailand dan Indonesia

Bagi Indonesia, selain mempengaruhi industri perakitan mobil, banjir di Thailand tersebut dapat menyebabkan krisis pangan. Hal itu karena Indonesia sering mengimpor beras dari Thailand dan Vietnam untuk memenuhi kekurangan produksi beras di dalam negeri.

——————

Sebagai penutup dapat dikatakan bahwa banjir di Thailand memberikan dampak bersifat internasional. Perdagangan dan industri internasional adalah benang merah penghubunganya.

Semoga bermanfaat.

Salam,

WBS

Sumber: Wikipedia, KOMPAS.com, CNN, AFP, Reuters.

Ingin tahu lebih jauh tentang banjir?

Banjir 1, Banjir 2, Banjir 3, Banjir 4, Banjir 5

Ingin tahu lebih jauh tentang dampak banjir Thailand terhadap industri automitif? Silahkan klik link ini. Atau Elektronik? Klik ini. Atau dampaknya terhadap ekspor beras yang memunculkan masalah pangan di Indonesia? Klik ini.

Posted in Banjir, HIDROSFER, PROSES (BENCANA) ALAM, Subsiden, Sungai, Thailand, Wilayah Pesisir | Dengan kaitkata: , , , , , , , , , , , , | Leave a Comment »

Sungai 2 (hulu dan hilir)

Posted by wahyuancol pada Januari22, 2011

Pembagian Daerah Aliran Sungai

Aliran sungai dimulai dari daerah yang lebih tinggi di kawasan pegunungan atau perbukitan dan berakhir di kawasan pesisir atau tepi pantai. Daerah tempat aliran sungai berawal disebut sebagai daerah hulu sungai, dan daerah tempat aliran sungai berakhir disebut sebagai daerah hilir. Di antara kedua daerah tersebut terdapat daerah pertengahan yang merupakan daerah transisi. Jadi, dalam kondisi ideal, daerah aliran sungai dapat dibedakan menjadi daerah hulu, daerah pertengahan atau transisi, dan daerah hilir.

Profil memanjang aliran sistem aliran sungai. Sumber: Fitzpatrick et al (2006)

Bagaimana perbedaan karakter antara daerah hulu, pertengahan, dan hilir berkaitan dengan aspek-aspek berikut ini?

  • Elevasi
  • Gravitasi
  • Kecepatan aliran
  • Volume air
  • Volume muatan sedimen
  • Proses erosi
  • Proses deposisi
  • Ukuran butir muatan sedimen
  • Transportasi muatan sedimen
  • Sifat erosi (vertikal, ke samping, ke hulu)
  • Bentuk aliran sungai (lurus, berkelok)
  • Profil melintang lembah sungai

 

Karakter Daerah Hulu

Bentuk lembah: Berbentuk huruf “V”.

Alur sungai: Lembah sungai tidak dapat dibedakan dari alur sungai. Cenderung relatif lurus. Alur-alur cabang sungai bertemu membentuk alur utama.

Kondisi dasar sungai: Berbatu, sering ada air terjun atau riam (rapids), potholes, dasar sungai tidak teratur.

Bentang alam: Air terjun, riam, potholes, boulder-boulder di dasar sungai.

Debit sungai: Relatif kecil dan sangat dipengaruhi oleh curah hujan. Tidak pernah banjir (air sungai meluap).

Proses Erosi: Aksi hidrolik dan attrisi. Sebagian besar erosi vertikal, mengerosi batuan induk.

Proses Transportasi: Sebagian besar muatan dasar. Sedikit muatan suspensi dan terlarut.

Proses Deposisi: Terbatas untuk boulder, di dasar sungai.

Sedimen: Sebagian besar berukuran boulder.

 

Karakter Daerah Transisi

Bentuk lembah: Berbentuk huruf “U”.

Alur sungai: Lembah sungai lebih lebar daripada alur sungai. Cenderung berkelok membentuk meander.

Kondisi dasar sungai: Dasar sungai teratur, berendapan pasir. Boulder berkurang dan menghilang.

Bentang alam: Riam, meander kecil, dataran banjir sempit.

Proses Erosi: Sebagian besar attrisi dengan sedikit aksi hidrolik; erosi vertikal sedikit, erosi lateral dimulai.

Proses Transportasi: Muatan dasar berukuran kecil digerakkan secara traksi, muatan suspensi meningkat, dan sedikit muatan terlarut.

Proses Deposisi: Pengendapan material kasar (pasir kasar dan gravek halus), pengendapan di slip-off slope, pengendapan di dataran banjir.

Sedimen: Dominan pasir

Karakter Daerah Hilir

Bentuk lembah: Berbentuk huruf “U” yang melebar.

Alur sungai: Lembah sungai jauh lebih lebar daripada alur sungai. Aliran sungai mengalir di atas endapannya sendiri. Apabila terbentuk delta, alur sungai cenderung lurus dan terbagi menjadi beberapa cabang sungai yang menyebar.

Kondisi dasar sungai: Halus berlumpur. Aliran air permanen meskipun debit airnya dipengaruhi oleh musim.

Bentang alam: Meander besar, tanggul alam, dataran banjir luas (Gambar). Di daerah muara sungai dapat terbentuk delta.

Proses Erosi: Erosi berkurang, beberapa erosi lateral terjadi di sisi luar kelokan meander (cut-off slope.)

Proses Transportasi: Mendapat air dan muatan sedimen dari alur di hulu. Kondisi debit air diopengaruhi oleh kondisi di daerah hulu. Sebagian besar muatan tertransport dalam bentuk suspensi. Banjir terjadi bila debit air dari hulu melebihi daya tampung alur.

Proses Deposisi: Sebagian besar partikel halus, membentuk slip-off slope, tanggul alam dan dataran banjir. Pengendapan di dataran banjir dan tanggul alam terjadi ketika banjir.

Sedimen: Dominan lanau dan lempung.

 

 

Semoga bermanfaat.

 

Terus, kembali ke Sungai-1

Posted in Air, Banjir, Erosi, HIDROSFER, PROSES (BENCANA) ALAM, Sungai | Dengan kaitkata: , , , , , , , , , , | 23 Comments »

Sungai 1 (pengertian, struktur aliran, banjir)

Posted by wahyuancol pada Januari21, 2011

Pengertian

Sungai dapat didefinisikan sebagai saluran di permukaan bumi yang terbentuk secara alamiah yang melalui saluran itu air dari darat menglir ke laut.

Di dalam Bahasa Indonesia, kita hanya mengenal satu kata “sungai”. Sedang di dalam Bahasa Inggris dikenal kata “stream” dan “river”. Kata “stream” dipergunakan untuk menyebutkan sungai kecil, sedang “river” untuk menyebutkan sungai besar.

Asal Air Sungai

Dalam siklus hidrologi, aliran sungai digolongkan sebagai aliran permukaan (Gambar).

Air sungai bisa berasal dari air hujan (terutama di daerah tropis) dan bisa pula berasal dari es yang mencair di gunung atau pegunungan (terutama di daerah empat musim). Oleh karena itu, debit air sungai bisa sangat dipengaruhi oleh musim. Bagi kita di Indonesia yang berada di daerah tropis, depit air sungai akan tinggi bila musim hujan dan rendah di musim kemarau. Sementara itu, di daerah empat musim, debit aliran sungai meningkat ketika musim dingin berakhir karena salju mencair.

Daerah Aliran Sungai (DAS)

Air hujan yang jatuh ke permukaan bumi akan mengalir di permukaan bumi dan kemudian masuk ke dalam alur sungai dan mengalir sebagai aliran sungai. Kawasan di permukaan bumi yang bila turun hujan air itu masuk ke suatu aliran sungai tertentu disebut sebagai Daerah Aliran Sungai atau dikenal sebagai DAS (Gambar). Jadi, besar atau kecilnya debit air sungai, selain ditentukan oleh tingginya curah hujan juga ditentukan oleh luas DAS.

Struktur Aliran Sungai

Aliran sungai di suatu kawasan atau di dalam DAS dapat kita umpamakan seperti sebatang pohon. Sungai utama sebanding dengan batang pohon, dan anak-anak sungai sebanding dengan cabang-cabang pohon dan rantingnya. Ibarat sebatang pohon, makin besar sungai itu, maka makin banyak pula anak-anak sungai yang mengalirkan aliran airnya ke dalam sungai utama. Pada sistem aliran sungai, cabang sungai yang paling luar atau yang terjauh dari sungai induk disebut sengan sungai orde satu. Pertemuan antara dua sungai orde satu menghasilkan sungai orde dua dan seterusnya sampai ke sungai induk.

Jadi, makin besar sebuah sungai berarti makin banyak cabang dan anak-anak sungainya. Dengan demikian pula dengan debit sungai, makin banyak cabang atau anak sungai, maka makin besar pula debit sungai induknya.

Sungai dan Banjir

Aliran sungai sangat erat hubungannya dengan banjir. Banjir di sekitar aliran sungai, seperti yang terjadi di Australia dalam bulan Januari ini, terjadi karena volume air termukaan yang masuk ke dalam aliran sungai melebihi kapasitas alur sungai untuk menampungnya.

Semoga bermanfaat.

Terus ke Sungai-2

Posted in Air, Banjir, GLOSARIUM, HIDROSFER, PROSES (BENCANA) ALAM, S, Sungai | Dengan kaitkata: , , , , , , , | 4 Comments »