Kepulauan Indonesia

Cerita dari, untuk dan tentang Kepulauan Indonesia beserta Penghuni dan Penduduknya

Posts Tagged ‘Hujan’

Jakarta, Hujan dan Macet

Posted by wahyuancol pada Februari7, 2013

Hari Rabu tanggal 6 Februari 2013 kemaren saya merasa sangat beruntung berada di tengah hujan deras yang mengguyur kota Jakarta dan kemacetan lalu lintas kota itu. Saya merasa beruntung karena berkesempatan berada secara langsung ditengah proses yang selama ini hanya ada di dalam bayangan di dalam kepala. Pengalaman saya kemaren dapat dikatakan “lengkap”, karena dimulai ketika hari mulai hujan sekitar jam 15.30 di daerah Rawamangun (Jakarta Timur) hingga lepas dari kemacetan sekitar jam 20.00 di daerah Pademangan (Jakarta Utara). Saya menjalani semua itu dengan berada di dalam sistem transportasi Transjakarta.

Hujan dimulai ketika saya berada di Rawamangun untuk suatu kepentingan keluarga. Oleh saudara, saya diantar ke halte Transjakarta di Rawamangun di samping lapangan Golf Rawamangun. Dengan harapan perjalanan yang lebih mudah dan cepat, saya berganti bis dari jurusan ke Tanjung Periuk ke bis jurusan ke Dukuh Atas dengan harapan akan berganti bis ke Ancol di Matraman. Hujan ketika itu turun sangat deras ketika saya berjalan pindah koridor. Sambil berjalan saya sempat melihat genangan air yang muncul di sidut jalan penghunung yang menghubungkan jalan By Pass dan jalan Pramuka. Sebuah sedan hitam tampak berhenti di batas genangan karena tidak berani melintasi genangan. Tidak butuh waktu lama, mobil-mobil segera mengular di belakangnya.

Perjalanan ke Matraman lancar meskipun agak lama menunggu bis. Ketika di halte Matraman, genangan terlihat di pojok simpang empat Matraman. Mobil-mobil yang datang dari arah Salemba Raya, Matraman dan Matraman raya tampak memperlambat lajunya dan memilih jalur kanan jalan yang belum tergenang. Sambil berjalan pindah koridor, saya melihat bibit kemacetan muncul di simpang empat ini.

Bis Transjakarta ke Ancol yang kemudian saya naik masih dapat melalui simpang empat Matraman, tetapi segera terkunci menjelang sampai ke halte di depan RS Carolus. Ekor kemacetan dari simpang empat Matraman ternyata telah sampai ke simpang tiga jalan Diponegoro. Butuh waktu yang agak lama bagi bis yang saya naiki untuk berhasil melewati kekusutan lalu lintas di simpang tiga itu. Sementara bis berjalan tersendat saya mendengar pertugas yang melayani penumpang di dalam bis bercerita dengan penumpang lain yang berdiri di dekatnya.

Saya dengan dia berkata: “Makin lama hujan, genangan makin dalam dan lebar di tepi kiri jalan. Akibatnya banyak kenderaan yang memilih jalur kanan dan akhirnya masuk ke jalur Transjakarta”. Ternyata benar. jalur kiri jalan memang lebih rendah daripada jalur kanan; dan drainase yang tidak memadai menyebabkan genangan air yang timbul makin tinggi bila hujan makin lama turun. Dengan demikian, dapat diduga kemacetan akan terjadi.

Lepas dari kekusutan di simpang tiga jalan Diponegoro, perjalanan ke halte Pasar Senen lancar. Memang jalur bus Transjakarta ke Pasar Senen telah dimasuki kenderaan lain, tetapi perjalanan masih cukup lancar. Sesampai di depan terminal bis Senen, bis benar-benar terkunci karena kekusutan di persimpangan. Lampu pengatur lalu lintas tidak ada artinya. Para pengendara mobil atau sepeda motor atau kenderaan lainnya menyerobot kesempatan kecil yang muncul di depannya, tidak saling memberikan kesempatan. Seluruh persimpangan yang ada di sepanjang jalan Kalilio dan Gunung Sahari menjadi titik-titik simpul kemacetan. Polisi lalu lintas tidak terlihat mengatur lalu lintas yang kusut itu. Butuh waktu lebih dari 3,5 jam untuk melintas dari Matraman sampai Pademangan.

Dari pengalaman melintasi kemacetan yang dipicu hujan itu saya sampai pada kesimpulan bahwa:

  1. Kondisi jalan dan drainase yang buruk di Jakarta menyebabkan timbulnya genangan di bagian-bagian jalan tertentu;
  2. Genangan yang terjadi di sebagian jalan menyebabkan lalu lintas terganggu karena kenderaan-kenderaan yang rendah tidak dapat melaluinya atau takut melaluinya sehingga bagian jalan yang dapat dilalui menyempit,  atau kenderaan diperlambat ketika melalui genangan; keadaan ini menyebabkan kelancaran arus lalu lintas terganggu dan menimbulkan titik-titik kemacetan;
  3. Kemacetan yang terjadi dapat menyebabkan antrian kenderaan yang sangat panjang sehingg mempengaruhi ruas jalan yang lain di depatnya;
  4. Melihat kondisi arus lalu lintas yang tidak lancar, para pengendara kenderaan menjadi main serobot; lampu pengatur lalu lintas menjadi hiasan yang tidak bermanfaat.
  5. hanya waktu yang bisa menguraikan kemacetan itu.

Salam,

WBS

Iklan

Posted in HUMANIORA, Manusia dan Alam | Dengan kaitkata: , , , , , , | Leave a Comment »

SB: Siklus Hidrologi

Posted by wahyuancol pada Juni17, 2008

Siklus hidrologi adalah fenomena yang terutama terjadi di atmosfer dan digerakkan oleh panas dari Matahari yang menguapkan air dari samudera dan daratan (Gambar 4A). Uap air yang dihasilkan bergerak naik masuk ke atmosfer dan kemudian bergerak bersama aliran udara. Dalam perjalanannya bersama aliran udara, beberapa bagian uap air mengalami kondensasi dan kemudian mengalami presipitasi dalam bentuk hujan atau salju dan kembali ke samudera atau daratan Gambar 4B. Air hujan yang jatuh ke daratan dapat mengalir masuk kedalam aliran sungai, meresap ke dalam tanah, atau menguap kembali ke udara untuk bergerak kembali dalam siklus. Sebagian air yang di dalam tanah diserap oleh tanaman, dan kemudian mengembalikan air itu ke atmosfer melalui daun dengan proses transpirasi. Salju dapat tetap berada di daratan selama satu atau dua musim dan bisa lebih lama hingga mencair dan airnya mengalir meninggalkan salju. Berbagai reservoir dan alur pergerakan air dalam siklus hidrologi adalah seperti pada Gambar 4C.

Gambar 4A. Siklus hidrologi (panah abu-abu) dan energi Matahari (panah putih). Sumber: Ingmanson dan Wallace (1985).

Gambar 4B. Siklus hidrologi dan transfer material tahunan. Sumber: Duxbury et al. (2002).

Gambar 4C. Siklus hidrologi. Menggambarkan proses dan pergerakan air dari reservoir satu ke reservoir yang lain. Sumber: Skinner dan Porter (2000).

Kembali Terus

Posted in Air, Alam Semesta, Cara Bumi di Hidupkan | Dengan kaitkata: , , , , , , , | 13 Comments »

Lahar

Posted by wahyuancol pada Mei19, 2008

Asal Kata

Istilah “Lahar” berasal dari kata “lahar” dalam Bahasa Indonesia yang berasal dari Bahasa Jawa. Kata “lahar” sekarang merupakan salah satu istilah dalam ilmu volkanologi atau ilmu kegunungapian yang dipakai secara international.

Pengertian Lahar

Lahar adalah campuran yang panas atau dingin dari air dan fragmen batuan yang mengalir menuruni lereng gunungapi dan atau lembah sungai. Material yang tertransportasikan di dalam lahar berkisar dari material berukuran butir lempung sampai bongkah dengan diameter butiran lebih dari 10 m.

Lahar memiliki ukuran dan kecepatan meluncur yang bervariasi. Lahar kecil berukuran lebar beberapa meter dan dalam beberapa senti-meter dan kecepatan alirannya beberapa meter per detik. Lahar besar memiliki ukuran leber beberapa ratus meter dan dalam beberapa puluh meter dan dapat meluncur dengan mengalir dengan kecepatan beberapa puluh meter per detik.

Pemicu Lahar

Lahar dapat terjadi karena beberapa pemicu berikut ini, yaitu:

1) Erupsi gunungapi, dapat memicu lahar secara langsung dengan pencairan salju dan es secara cepat pada suatu tubuh gunungapi atau melontarkan air dari danau kawah.

2) Curah hujan yang tinggi selama atau setelah erupsi gunungapi. Air hujan dapat dengan mudah mengerosi batuan volkanik yang lepas-lepas dan tanah di lereng gunungapi atau bukit, dan di dalam lembah sungai. Cara pembentukan lahar seperti adalah yang paling sering terjadi.

3) Dimulai dari gerakan tanah dari batan jenuh dan mengalami alterasi hidrotermal di lereng gunungapi atau lereng bukit didekatnya. Gerakan tanah dipicu oleh erupsi gunungapi, gempa bumi, hujan, atau peningkatan tarikan gravitasi di gunungapi.

Klasifikasi Lahar

Lahar dapat dibedakan berdasarkan suhunya menjadi dua kategori:

  1. Lahar dingin: bila lahar bersuhu normal seperti suhu udara normal di sekitar kita. Lahar jenis ini melibatkan material volkanik bersuhu dingin yang telah diendapkan di lereng gunungapi.
  2. Lahar panas: bila lahar bersuhu tinggi. Lahar jenis ini melibatkan material volkanik yang baru dihasilkan oleh siuatu proses erupsi gunungapi sehingga masih panas.

Lahar bisa juga dibedakan berdasarkan pemicu terjadinya lahar:

  1. Lahar letusan: bila lahar terjadi karena dipicu oleh peristiwa letusan gunungapi. Pada lahar jenis ini, aliran lahar didahului oleh erupsi letusan gunungapi.
  2. Lahar hujan: bila lahar terjadi karena dipicu oleh curah hujan.

Dampak Aliran Lahar

Aliran lahar yang bergerak cepat menuruni lembah sungai dan kemudian menyebar di dataran banjir di daerah kaki gunungapi dapat menyebabkan kerusakan ekonomi dan lingkungan yang serius.

Dampak langsung dari turbulensi yang terjadi di ujung aliran lahar atau dari bongkah-bongkah batuan dan kayu yang dibawa aliran lahar adalah menghancurkan, menggerus atau menggosok segala sesuatu yang ada di jalan jalur aliran lahar. Bila tidak hancur atau tergerus oleh liran lahar, bangunan-bangunan dan lahan-lahanyang berharga dapat sebagian atau seluruhnya tertimbun oleh endapan lahar. Aliran lahar juga bisa merusak jalan dan jembatan sehingga aliran lahar juga dapat menyebabkan orang-oramng terisolasi atau terkurung di daerah bahaya erupsi gunungapi.

Selain memberikan dampak yang merugikan, aliran lahar juga memberikan dampak yang menguntungkan, yaitu memberikan endapan batuan dan pasir yang sangat banyak yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan bangunan. Sebagai contoh, banyak aktifitas penambangan pasir dan batu yang dilakukan di lereng Gunung Merapi yang terletak di perbatasan Propinsi Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Hal itu menunjukkan bahwa endapan lahar dapat memberikan dampak positif kepada aktifitas perekonomian masyarakat secara langsung yang tinggal di sekitar gunungapi, dan menyediakan bahan bangunan yang melimpah. Selain itu, setelah bertahun – puluhan sampai ratusan tahun, dan tanah terbentuk di permukaannya, endapan lahar juga dapat menjadi lahan pertanian yang subur.

Sebutan/terminologi lain untuk Lahar

Debris flow: bila lahar mengandung muatan sedimen > 80% berat.

Mudflow: bila lahar dominan tersusun oleh partikel-partikel batuan berukuran halus, dominan berdiameter < 2 mm (pasir dan lanau).

Hyperconcentrated streamflow: bila lahar mengandung mutan sedimen 40-80 %.

Cohesive lahars: bila debris flow atau mudflow mengandung lebih dari 3-5% sedimen berukuran lempung.

Non-cohesive lahars: bila debris flow atau mudflow mengandung kurang dri 3-5% sedimen berukuran lempung.

Referensi

USGS Volcano Hazards Program. Lahar and Their Effects. [URL http://volcanoes.usgs.gov/Hazards/What/Lahars/lahars.html%5D. Akses 12 Mei 2008.

USGS Volcano Hazards Program. Terms often used to refer to lahars. [URL http://volcanoes.usgs.gov/Hazards/What/LaharTerms.html%5D. Akses 12 Mei 2008.

Posted in Dari Indonesia untuk Dunia, L, Volkanisme | Dengan kaitkata: , , , , , , , , , , , , , , , , | 6 Comments »

Banjir 3 (proses alam atau bencana?)

Posted by wahyuancol pada Mei13, 2008

Banjir adalah salah satu proses alam yang tidak asing lagi bagi kita. Kita dapat melihat banjir sebagai rahmat Tuhan atau sebagai bencana, tergantung pada pilihan kita sendiri. Sebagai proses alam, banjir terjadi karena debit air sungai yang sangat tinggi hingga melampaui daya tampung saluran sungai lalu meluap ke daerah sekitarnya. Debit air sungai yang tinggi terjadi karena curah hujan yang tinggi. Sementara itu, banjir juga dapat terjadi karena kesalahan manusia.

Sebagai proses alam, banjir adalah hal yang biasa terjadi dan merupakan bagian dari siklus hidrologi. Banjir tidak dapat dihindari dan pasti terjadi. Hal ini dapat kita lihat dari adanya dataran banjir pada sistem aliran sungai. Saat banjir, terjadi transportasi muatan sedimen dari daerah hulu sungai ke hilir dalam jumlah yang luar biasa. Muatan sedimen itu berasal dari erosi yang terjadi di daerah pegunungan atau perbukitan. Melalui mekanisme banjir ini, muatan sedimen itu disebarkan sehingga membentuk dataran. Perlu kita ingat, bahwa daerah persawahan kita hakikatnya terbentuk melalui mekanisme banjir ini. Tanpa mekanisme banjir ini, dataran rendah yang subur tidak akan terbentuk.

Banjir dapat berarti peremajaan kembali daerah-daerah persawahan. Daerah itu mendapat kembali suplai zat hara yang baru dari pegunungan atau perbukitan. Dengan kata lain, melalui mekanisme banjir ini, daerah persawahan mengalami penyuburan kembali secara alamiah.

Banjir juga berarti masuknya zat-zat hara atau nutrien – dalam bentuk senyawa kimia fosfat dan nitrat, dari daratan ke perairan dalam jumlah yang sangat besar. Hadirnya zat hara di perairan laut menyebabkan perairan menjadi subur. Fosfat dan nitrat adalah dua senyawa kimia yang penting bagi pembentukan material organik (karbohidrat) melalui proses fotosintesis oleh fitoplankton atau sintesa kimia oleh bakteri.

Dalam skala yang lebih besar, banjir-banjir itu membentuk delta di muara-muara sungai, dan mengalirkan muatan sedimen ke laut yang akhirnya menjadi lapisan-lapisan batuan sedimen. Dari delta-delta dan lapisan-lapisan batuan itu manusia mendapatkan berbagai hal untuk kehidupannya. Sebagai contoh, minyak bumi banyak kita dapatkan dari endapan delta.

Banjir memberikan suplai muatan sedimen yang besar dari daratan ke laut. Selain membentuk delta seperti yang disebutkan di atas, dengan bantuan aktifitas gelombang, sedimen yang dikirim dari daratan itu dapat membentuk daratan sehingga kita mendapatkan daratan di sepanjang pantai.

Banjir yang pada hakekatnya proses alamiah dapat menjadi bencana bagi manusia bila proses itu mengenai manusia dan menyebabkan kerugian jiwa maupun materi. Dalam konteks sistem alam, banjir terjadi pada tempatnya. Banjir akan mengenai manusia jika mereka mendiami daerah yang secara alamiah merupakan dataran banjir. Jadi, bukan banjir yang datang, justru manusia yang mendatangi banjir.

Apabila hal tersebut dapat kita terima, maka bencana banjir yang dialami manusia sebenarnya adalah buah dari kegagalan manusia dalam membaca karakter alam. Kegagalan manusia membaca apakah suatu daerah aman atau tidak untuk didiami. Misalnya, kegagalan manusia membaca karakter suatu daerah sehingga tidak mengetahui daerah tersebut merupakan daerah banjir. Atau, sudah mengetahui daerah tersebut daerah banjir tetapi tidak peduli. Contoh ini bisa kita lihat dari orang-orang yang memilih tinggal di tepi aliran sungai atau di lembah-lembah sungai.

Menghadapi masalah banjir, setidaknya kita memiliki tiga pilihan, yaitu: jangan mendiami daerah aliran banjir, beradaptasi dengan membuat rumah panggung berkaki tinggi, atau membuat pengendali banjir berupa tanggul, kanal, atau mengalihkan aliran air.

Selain itu, kita juga harus memahami karakteristik banjir. Ada banjir tahunan, 5 tahunan, 10 tahunan, 25 tahunan, 50 tahunan dan seterusnya. Pengenalan karakter ulangan itu hanya dapat dilakukan dengan pengamatan yang panjang dan studi yang luas.

Banjir akibat kesalahan manusia setidaknya disebabkan oleh dua hal; pengelolaan daerah hulu sungai yang buruk, dan pengelolaan drainase yang buruk. Dalam siklus hidrologi, daerah hulu sebenarnya adalah daerah resapan air. Pengelolaan daerah hulu yang buruk menyebabkan air banyak mengalir sebagai air permukaan yang dapat menyebabkan banjir. Pengelolaan drainase yang buruh terjadi berkaitan dengan pengembangan daerah pemukiman atau aktivitas lainnya. Akibat buruknya drainase, air permukaan tidak dapat mengalir dengan baik sehingga menggenang menjadi banjir.

————–

Versi awal tulisan ini sebelumnya telah dipublikasikan di dalam web site Harian Suara Merdeka (http://suaramerdeka.com/), Semarang di dalam Suara Warga pada tanggal 25 Februari 2008.

Ingin tahu lebih jauh tentang banjir?

Banjir 1, Banjir 2, Banjir 4, Banjir 5, Banjir 6

Posted in Air, B, Banjir, Cara Bumi di Hidupkan, GLOSARIUM, HIDROSFER | Dengan kaitkata: , , , , , , , , , , , , , , , , | 2 Comments »

Rumitnya Masalah Banjir di Jakarta

Posted by wahyuancol pada Februari4, 2007

Banjir dapat dipastikan terjadi setiap tahun di Jakarta pada bulan Januari-Febuari. Meskipun demikian, persoalan itu sangat rumit untuk diselesaikan. Mengapa? Persoalannya ternyata tidak hanya berkaitan dengan kondisi alam, tetapi juga menyangkut hubungan antar daerah yang makin diperumit oleh otonomi daerah. Sikap masyarakat pun ternyata juga menjadi masalah tersendiri.

Banjir benar-benar telah melanda Jakarta. Bila kemaren Jum’at 2 Febuari 2007 Jakarta dinyatakan Siaga III, maka pada hari Sabtu 3 Febuari 2007 telah dinyatakan Siaga I dalam menghadapi masalah banjir. Banjir kali ini mengingatkan kita pada banjir pada tahun 2002 yang lalu. Siklus banjir lima tahunan telah datang.Dengan banjir ini, berbagai upaya mengatasi masalah banjir yang telah dilakukan dalam kurun waktu 5 tahun (2002 – 2007) seakan tidak ada artinya. Berbagai pernyataan yang muncul sebelumnya tentang kesiapan menghadapi banjir, telah terbukti hanya isapan jempol belaka.

Persoalan banjir di Jakarta tidak mungkin diselesaikan oleh Jakarta sendiri. Sama-sama kita ketahui bahwa air yang datang melanda Jakarta datang dari Bogor. Kenyataan ini adalah hal yang tidak mungkin di nafikan. Setiap musim hujan tiba, volume air yang datang dari Bogor tidak sanggup ditampung oleh sistem aliran sungai yang melintas di Jakarta. Keadaan ini terekspresikan dengan hadirnya Banjir. Berbagai ide untuk menyelesaikan masalah banjir di jakarta ini sebenarnya telah dikemukakan. Perlunya upaya yang terpadu untuk mengatasi masalah banjir di Jakarta juga telah diungkapkan sejak lama oleh para ahli. Tetapi semua usulan yang diajukan itu kandas.

Mengapa???

Mari kita simak artikel di bawah ini yang saya kutip dari Kompas Cyber Media, Sabtu, 3 Febuari 2007.
******************


Banjir Jakarta Perlu Solusi Terintegrasi

(Pembuka artikel dihilangkan)
Pada tahun 2001, Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) merilis foto satelit mengenai perubahan penggunaan lahan di Bogor, terutama di daerah tangkapan air (catchment area) hulu Sungai Ciliwung, dari kawasan hijau yang diisi vegetasi menjadi kawasan terbangun. Setahun kemudian, banjir besar melanda Jakarta dan sekitarnya.
Data LAPAN, kawasan terbangun di daerah itu, yang pada 1992 hanya 101.363 hektar, pada 2006 naik dua kali lipat menjadi 225.171 hektar. Sedangkan kawasan tidak terbangun yang semula 665.035 hektar menyusut menjadi 541.227 hektar. Menurut Bambang S Tedjasukmana, Deputi Bidang Penginderaan Jauh LAPAN, di Bogor, permukiman meluas di sepanjang daerah tangkapan air Sungai Ciliwung. Limpahan penduduk dan aktivitas dari Jakarta menyebabkan perumahan, kawasan jasa dan perdagangan, serta industri terus menyebar ke Citeureup, sampai ke Depok. Di hulu, air hujan yang seharusnya terserap ke tanah justru mengalir ke sungai. Tidak ada lagi pepohonan yang menyimpan air di dalam tanah. Tidak ada lagi tanah yang terbuka untuk menyimpan air. Kawasan yang semula diperuntukkan untuk kawasan hijau telah berganti fungsi karena tuntutan perkembangan ekonomi kota. Fungsi konservasi lingkungan tidak lagi diperhatikan.

Di hilir, daerah aliran sungai yang masuk ke Jakarta pun dipadati oleh rumah-rumah penduduk dan bangunan lainnya. Bahkan, beberapa bagian badan sungai menyempit karena banyaknya rumah yang didirikan di atas sungai. Pengamatan Kompas, Sungai Ciliwung yang dulu lebarnya mencapai 40 meter, kini menyempit antara 13 meter sampai 20 meter. Kedalaman sungai di beberapa lokasi juga tinggal dua meter. Dengan kondisi itu, hujan dengan intensitas sedang di kawasan hulu atau bahkan hujan di dalam Kota Jakarta pun akan membuat Sungai Ciliwung langsung meluap. Banjir pun tidak terhindarkan di Jakarta.

Langkah terintegrasi

Menurut peneliti hidrologi dan rekayasa lingkungan Universitas Indonesia, Firdaus Ali, masalah banjir yang kompleks dari hulu sampai hilir membutuhkan penanganan yang terintegrasi, dari hulu sampai hilir juga.
“Menangani banjir di hilir tanpa memperbaiki kawasan hulu akan menjadi pekerjaan sia-sia karena limpahan air banjir dari hulu akan selalu lebih besar dari daya tampung sungai,” ujarnya.

Pada kondisi normal, kata Firdaus, debit air yang masuk Sungai Ciliwung sampai di Pintu Air Manggarai mencapai 28 meter kubik per detik. Sedangkan pada saat hujan lebat dan banjir, debit air melonjak sampai 200 meter kubik per detik. Fluktuasi debit air yang sangat tajam itu menandakan rendahnya daya serap air di hulu dan kecilnya daya tampung di hilir. Menanggapi kondisi itu, Kepala Dinas Pekerjaan Umum DKI Jakarta Wisnu Subagyo Yusuf mengemukakan, perbaikan kawasan hulu dengan reboisasi atau pembatasan pengalihan penggunaan lahan sulit dilakukan.

Otonomi daerah membuat pemerintah kabupaten dan kota di kawasan hulu lebih memilih peningkatan pendapatan asli daerah (PAD) dari pemberian izin untuk perumahan atau kawasan komersial. Oleh karena itu, ujar Wisnu, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta mengajukan dua usul pencegahan banjir di hulu. Kedua usulan itu adalah sudetan Sungai Ciliwung yang dihubungkan ke Sungai Cisadane dan membangun bendungan Ciawi di hulu Sungai Ciliwung. Kedua usulan itu bertujuan untuk mengatur debit air yang akan masuk ke hilir Sungai Ciliwung. Sudetan Sungai Ciliwung ke Sungai Cisadane dimaksudkan untuk mengalihkan debit air banjir Ciliwung ke sungai yang mengalir ke Tangerang itu. Daerah resapan air Cisadane yang relatif masih hijau dan badan sungai yang belum menyempit dinilai sanggup menampung limpahan air banjir dari Sungai Ciliwung.

Sayangnya, proyek yang rencananya akan didanai oleh Jepang itu ditolak oleh para pemuka masyarakat dan Pemerintah Kota Tangerang. Tanpa dilimpahi air dari Ciliwung, Sungai Cisadane pun sering menimbulkan banjir di Tangerang.

Mengingat otonomi daerah, Pemprov Jakarta tidak dapat memaksakan kehendaknya dan rencana itu batal. Rencana membangun bendungan Ciawi juga gagal. Pemprov DKI Jakarta yang bersedia membayar Rp 200 miliar untuk pembebasan lahan seluas 200 hektar justru tidak dapat menggunakan dananya. Dana APBD tidak dapat digunakan untuk pembangunan di luar wilayah administrasi, kecuali diberikan dalam bentuk hibah ke Pemerintah Kabupaten Bogor. Namun, karena tidak ada jaminan dari Pemerintah Kabupaten Bogor untuk menggunakan dana hibah guna membangun bendungan Ciawi, rencana itu akhirnya tidak pernah terwujud.

Di sisi hilir, kata Wisnu, Jakarta sangat mengandalkan Banjir Kanal Timur. Saluran yang saat ini sedang dalam masa pembebasan lahan diprediksikan dapat menampung limpahan air dari lima sungai utama di Jakarta dan melindungi kawasan seluas 270 kilometer persegi. Banjir Kanal Timur akan melengkapi Banjir Kanal Barat untuk menampung air dari 40 persen wilayah Jakarta yang lebih rendah dari permukaan laut. Air itu akan dialirkan dengan cepat ke laut dengan menggunakan sistem polder dan pompa.

Solusi

Direktur Tata Ruang dan Perumahan Bappenas Salysra Widya mengutarakan, permasalahan egoisme wilayah dalam menyusun langkah mengatasi banjir dapat dijembatani oleh pemerintah pusat. Jakarta, Bogor, Depok, dan Tangerang dapat duduk bersama dengan pemerintah pusat untuk merealisasikan ide rekayasa sungai dan pembatasan peralihan penggunaan lahan di kawasan daerah resapan air. Namun, Pemprov DKI Jakarta perlu memberikan kompensasi tertentu kepada pemerintah-pemerintah daerah yang bersangkutan agar mereka tetap dapat memperoleh PAD jika menjalankan rencana itu. Dengan demikian, semua daerah saling diuntungkan meskipun Jakarta harus mengeluarkan dana besar untuk itu.

Solusi di hulu harus berkesinambungan, antara pembatasan penggunaan lahan, reboisasi intensif, dan pembangunan bendungan. Jika hanya satu langkah yang dilaksanakan, langkah lain akan menjadi kurang efektif. Di hilir, selain pembuatan Banjir Kanal Timur, Firdaus mengusulkan pembuatan penampungan air bawah tanah dalam skala besar atau deep tunnel reservoir. Penampungan air bawah tanah, seperti yang diterapkan Chicago (Amerika Serikat) dan Singapura mampu menampung sekitar 200 juta meter kubik air dan dapat bertahan 125 tahun. Ide penampungan air bawah tanah adalah menampung semua limpahan air banjir dan limbah cair dari sanitasi lingkungan ke dalam bendungan bawah tanah. Air tampungan itu dapat diolah dan digunakan sebagai cadangan air baku bagi Jakarta.

Saat ini, kata Firdaus, Indonesia menghadapi perubahan iklim akibat pemanasan global. Perubahan iklim tersebut menyebabkan musim hujan lebih pendek, tetapi curah hujan lebih tinggi.Jika air tersebut tidak disimpan dalam penampungan yang besar, Jakarta akan terancam kekeringan dan banjir dalam waktu yang bergantian sepanjang tahun. Bencana yang akan semakin memiskinkan Indonesia. Biaya pembuatan penampungan air bawah tanah itu, menurut Firdaus, diperkirakan “hanya” memerlukan Rp 12 triliun. Jumlah tersebut masih terjangkau oleh APBD DKI Jakarta 2007 yang mencapai Rp 21,5 triliun. (Emilius Caesar Alexey)

******************

Sekarang, mari kita simak solusi yang diajukan itu. Apakah solusi membuat penampungan air bawah tanah akan berhasil?

Rasanya perlu kita pelajari lebih jauh kemungkinannya. Masalah yang dihadapi dalam pembuatan Banjir Kanal Timur mungkin dapat kita cermati.

Selain itu, kurangnya disiplin kita atau ketidak-mampuan kita dalam mengelola sampah dapat menjadi masalah tersendiri bila penampungan itu nantinya dapat terwujud.

Salam dari Ancol, Minggu, 4 Febuari 2007
Wahyu

Posted in Banjir | Dengan kaitkata: , , , | 6 Comments »