Kepulauan Indonesia

Cerita dari, untuk dan tentang Kepulauan Indonesia beserta Penghuni dan Penduduknya

Archive for the ‘Volkanisme’ Category

Tentang kegunungapian.

Erupsi Sinabung 2013-2014: zona bahaya bukan untuk dilanggar!

Posted by wahyuancol pada Januari22, 2014

Sampai bulan Januari 2014 Gunung Sinabung masih terus aktif menyemburkan material dari dalam perutnya. Erupsi gunungapi tersebut telah berlangsung selama 4 bulan lamanya, dan belum ada indikasi kapan erupsi itu akan berhenti. Ada hal yang menarik untuk dicatat terkait dengan erupsi Gunung Sinabung ini, yaitu tidak ada korban jiwa karena erupsi gunung tersebut. Hal ini perlu mendapat perhatian karena ini merupakan suatu prestasi yang pantas dicermati.

Tidak adanya korban jiwa dalam erupsi gunungapi dapat karena berbagai hal, antara lain:

  1. Pemerintah yang sigap menangani masalah ini. Termasuk dalam kategori ini adalah hal-hal yang berkaitan dengan: (a) sistem peringatan dini terhadap bahaya erupsi gunungapi, (b) cara penyampaian informasi yang baik sehingga dapat diterima oleh masyarakat, (c) proses pengungsian yang baik, dan (d) manajemen pengungsi yang baik di lokasi pengungsian. Erupsi gunungapi yang sulit diperkirakan kondisinya sering menjadi masalah ketika menyampaikan anjuran kepada masyarakat di sekitar kawasan gunungapi untuk mengungsi.
  2. Masyarakat patuh terhadap anjuran untuk mengungsi. Kepatuhan masyarakat untuk memenuhi anjuran untuk mengungsi merupakan hal yang sangat penting. Dalam kasus pengungsian terkait dengan erupsi gungapi, meraih kepercayaan masyarakat sehingga mereka mau untuk mengungsi merupakan hal yang sering tidak mudah. Banyak alasan yang bisa dipakai untuk menolak anjuran untuk mengungsi, mulai dari keyakinan  bahwa bencana erupsi tidak akan mengenainya hingga kekhawatiran akan keselamatan harta benda yang ditinggalkan.

Hal lain yang rasanya perlu disampaikan di sini adalah bahwa kita dapat memandang erupsi Gunung Sinabung sebagai hal yang patut disambut dengan kegembiraan atau disyukuri. Tentu ada yang bertanya, mengapa demikian?

Perlu di ketahui bahwa kawasan lereng Gunung Sinabung yang sekarang ini sedang diselimuti oleh debu volkanik adalah daerah pertanian yang penting di Sumatera bagian utara. Hasil-hasil pertaniannya dirasakan manfaatnya hingga Banda Aceh di Propinsi Nangroe Aceh Darussalam, di ujung barat Pulau Sumatera. Aktifitas pertanian di kawasan Gunung Sinabung yang telah berlangsung sekian lama hingga sebelum eruposi di bulan September 2013 ternyata telah menyebabkan turunnya kesuburan lahan-lahan pertanian dan telah meningkatkan penggunaan pupuk. Saat ini, lahan pertanian yang telah turun kesuburan alamiahnya sedang diselimuti debu volkanik. Pada saatnya nanti, setelah erupsi berakhir dan material debu volkanik itu mengalami pelapukan, maka akan hadir tanah yang sangat subur di daerah tersebut. Dengan pola pikir yang demikian ini, maka pantaslah bila kita bersyukur dengan terjadinya erupsi gunungapi tersebut, karena erupsi tersebut menunjukkan Tuhan sedang memperbaiki lahan pertanian kita yang telah turun kesuburannya. Yang diperlukan sekarang ini hanyalah bersabar menunggu proses penyuburan lahan itu selesai.

————————–

Selasa 4 Februari 2014

Catatan lebih dari empat bulan erupsi yang tidak memakan korban jiwa dari erupsi Gunung Sinabung ternyata harus berakhir di hari Sabtu 1 Februari 2014. Erupsi yang meluncurkan awan panas di hari itu telah menewaskan 14 orang.  Dari jumlah tersebut, 4 orang korban adalah pelajar SMK, 4 orang mahasiswa, 4 orang warga luar daerah, 1 orang guru, dan 1 orang warga Kabanjahe (Inilah.com).  Disebutkan juga,  2 orang mahasiswa yang tewas adalah dari  Sekolah Tinggi Komunikasi Pembangunan Medan (Vivanews). Warga setempat yang tewas diduga adalah pemandu para pelajar/mahasiswa (Tempo). Selain itu, ada pula yang menyebutkan bahwa 7 orang dari 14 orang yang tewas itu adalah para relawan GMKI yang tewas di dalam tugas (Metrotvnews).

Berkaitan dengan korban jiwa tersebut, perlu kita ketahui siapa mereka dan bagaimana mereka bisa menjadi korban. Memang belum jelas diberitakan siapa sesungguhnya mereka yang tewas, tetapi yang pasti ternyata mereka sebagian besar adalah bukan penduduk setempat yang tidak mau mengungsi, melainkan warga luar daerah yang masuk ke zona bahaya dengan panduan penduduk setempat. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa telah terjadi pelanggaran zona bahaya. Kesimpulan ini diketahui dari berita yang menyebutkan masih ada yang masuk ke zona bahaya (Metrotvnews), berita yang menyebutkan TNI AD dan Brimob menjaga perlintasan agar warga tidak masuk ke zona bahaya (Okezone).

Apapun yang kemudian dilakukan setelah jatuh korban jiwa memang tidak dapat mengembalikan para korban, tetapi peristiwa ini menjadi pelajaran bahaya penetapan zona bahaya bukan pernyataan isapan jempol yang bila dilanggar tidak mendatangkan resiko.

Salam,

Wahyu 

Iklan

Posted in Cara Bumi di Hidupkan, FILSAFAT, HUMANIORA, Manusia dan Alam, Memahami Pengaturan, PROSES (BENCANA) ALAM, TUHAN, Volkanisme | Dengan kaitkata: , , , , , , | Leave a Comment »

Magma 2 (Tipe-tipe magma dan sifat-sifatnya)

Posted by wahyuancol pada November10, 2010

Tipe dan Sifat Magma

Magma dapat dibedakan berdasarkan kandungan SiO2. Dikenal ada tiga tipe magma, yaitu:

  1. Magma Basaltik (Basaltic magma) — SiO2 45-55 %berat; kandungan Fe dan Mg tinggi; kandungan K dan Na rendah.
  2. Magma Andesitik (Andesitic magma) — SiO2 55-65 %berat, kandungan Fe, Mg, Ca, Na dan K menengah (intermediate).
  3. Magma Riolitik (Rhyolitic magma) — SiO2 65-75 %berat, kandungan Fe, Mg dan Ca rendah; kandungan K dan Na tinggi.

Tiap-tiap magma memiliki karakteristik yang berbeda. Rangkuman dari sifat-sifat mangma itu seperti terlihat di dalam Tabel.

Rangkuman Sifat-sifat Magma
Tipe Magma Batuan Beku yang dihasilkan Komposisi Kimia Temperatur Viskositas Kandungan Gas
Basaltik Basalt 45-55 SiO2 %, kandungan Fe, Mg, dan Ca tinggi, kandungan K, dan Na rendah. 1000 – 1200oC Rendah Rendah
Andesitik Andesit 55-65 SiO2 %, kandungan Fe, Mg, Ca, Na, dan K menengah. 800 – 1000oC Menengah Menengah
Rhyolitik Rhyolit 65-75 SiO2 %, kandungan Fe, Mg, dan Ca rendah, kandungan K, dan Na tinggi. 650 – 800 oC Tinggi Tinggi

Temperatur magma tidak diukur secara langsung, melainkan dilakukan di laboratorium dan dari pengamatan lapangan.

Magma mengandung gas-gas terlarut. Gas-gas yang terlarut di dalam cairan magma itu akan lepas dan membentuk fase tersendiri ketika magma naik ke permukaan bumi. Analoginya sama seperti gas yang terlarut di dalam minuman ringan berkaborasi di dalam botol dengan tekanan tinggi. Ketika, tutup botol dibuka, tekanan turun dan gas terlepas membentuk fase tersendiri yang kita lihat dalam bentuk gelembung-gelembung gas. Juga sering kita lihat ketika pemberian meali bagi para pemenang balap kenderaan. Kepada mereka diberikan minuman di dalam botol dan kemudian mereka mengkocok-kocok botol tersebut sebelum membuka tutupnya. Kemudian, ketika tutup botol yang telah dikocok itu dibuka, maka tersemburlah isi botol tersebut keluar. Demikian pula halnya dengan magma ketika keluar dari dalam bumi. Kandungan gas di dalam magma ini akan mempengaruhi sifat erupsi dari magma bila keluar ke permukaan bumi.

Viskositas adalah kekentalan atau kecenderungan untuk tidak mengalir. Cairan dengan viskositas tinggi akan lebih rendah kecenderungannya untuk mengalir daripada cairan dengan viskositas rendah. Demikian pula halnya dengan magma.

Viskositas magma ditentukan oleh kandungan SiO2 dan temperatur magma. Makin tinggi kandungan SiO2 maka makin rendah viskositasnya atau makin kental. Sebaliknya, makin tinggi temperaturnya, makin rendah viskositasnya. Jadi, magma basaltik lebih mudah mengalir daripada magma andesitik atau riolitik. Demikian pula, magma andesitik lebih mudah mengalir drripada magma riolitik.

Perubahan Komposisi Magma

Proses pembekuan magma menjadi batuan dimulai dari pembentukan kristal-kristal mineral. Sesuai dengan komposisi kimianya, pembentukan kristal-kristal mineral itu terjadi pada temperatur yang berbeda-beda. Perlu dipahami bahwa dengan terbentuknya kristal, berarti ada unsur-unsur kimia dari larutan magma yang diambil dan diikat ke dalam kristal, sehingga kandungan unsur itu di dalam cairan atau larutan magma berkurang.

Bila kristal-kristal yang terbentuk di dalam magma memiliki densitas lebih besar daripada magma, maka kristal-kristal akan mengendap dan cairan akan terpisah dari kristal.. Sebaliknya bila kristal-kristal yang terbentuk lebih rendah densitasnya dripada magma, maka kristal-kristal akan mengapung. Bila cairan magma keluar karena tekanan, maka kristal-kristal akan tertinggal.

Keadaan tersebut akan merubah komposisi kimia cairan magma sisa. Apabila banyak komposisi kimia yang berkurang dari magma awal karena pembentukan kristal-kristal mineral, maka akan terbentuk magma baru dengan komposisi yang berbeda dari magma awalnya. Perubahan komposisi kimia magma seperti itu disebut sebagai diferensiasi magma oleh fraksinasi kristal (magmatic differentiation by crystal fractionation). Proses inilah yang dapat menyebabkan magma basaltik di dalam suatu gunungapi dapat berubah dari basaltik menjadi andesitik dan bahkan riolitik. Perubahan komposisi magma inilah yang dapat merubah tipe erupsi suatu gunungapi.

Artikel terkait:

Magma 1, Erupsi 1, Erupsi Celah, Basalt

Referensi:

Volnacoes, Magma and Volcanic Eruptions

http://www.tulane.edu/~sanelson/geol204/volcan&magma.htm

Posted in GLOSARIUM, M, PROSES (BENCANA) ALAM, Volkanisme | Dengan kaitkata: , , , , , , , , , , , , | 7 Comments »

Erupsi Merapi 2010 3 (Siklus erupsi Merapi 10 hari?)

Posted by wahyuancol pada November9, 2010

Mekanisme Erupsi

Erupsi gunungapi adalah proses keluarnya magma dari dalam bumi. Ketika magma bergerak naik, banyak gas dilepaskan, dan tekanan gas itulah yang menimbulkan semburan material volkanik.

Gas yang dilepaskan oleh magma yang naik itu tidak serta merta bisa keluar. Adanya material volkanik di kawah mencegah gas yang lepas dari magma untuk bisa segera keluar. Agar gas dapat keluar, diperlukan adanya tekanan yang cukup. Bila tekanan gas sudah mencapai tahap cukup kuat untuk mendobrak sumbat yang ada di kawah, maka gas akan keluar dengan tekanan yang tinggi. Proses keluanya gas itu kadang disertai dentuman, sehingga kita kadang kita dapat mendengar suara dentuman bersamaan dengan terjadinya semburan material volkanik.

Proses meningkatnya tekanan  gas itu membuthkan waktu. Jebolnya sumbat kawah oleh tekanan gas tergantung oleh laju produksi gas dari magma yang meningkatkan tekanan gas, dan kekuatan sumbat kawah menahan tekanan gas. Makin kuat sumbat kawah, maka makin besar kemungkinan terjadinya erupsi letusan yang kuat.

Siklus Erupsi

Dalam periode erupsi Gunung Merapi di akhir tahun 2010 ini, erupsi pertama yang kuat terjadi pada tanggal 26 Oktober 2010. Setelah itu kondisi mereda dan hanya ada erupsi yang kecil-kecil. Kemudian terjadi lagi erupsi yang kuat, bahkan lebih kuat, pada tanggal 5 Nopember 2010. Setelah itu, keadaan kembali relatif mereda sampai hari ini. Hanya ada beberapa erupsi yang kecil.

Pertanyaannya adalah: “Apakah itu menandakan erupsi Merapi sudah mulai mereda?”.

Pertanyaan ini belum dapat dijawab secara langsung. Kita perlu memperhatikan kemungkinan siklus erupsi Gunung Merapi.

Dari data yang ada, antara erupsi pertama tanggal 26 Oktober 2010 sampai 5 Nopember 2010 berjarak sekitar 9 hari. Di hari ke sepuluh erupsi terjadi. Apabila kita berasumsi bahwa waktu yang diperlukan untuk satu periode erupsi (waktu untuk mengumpulkan tekanan gas) adalah 10 hari, maka kita bisa memperhitungkan bahwa erupsi selanjutnya akan terjadi nanti di sekitar tanggal 15 Nopember 2010.

Bila nanti pada tanggal 15 Oktober 2010 terjadi erupsi, maka berarti erupsi Merapi masih terus perlanjut, Merapi belum memasuki periode penurunan intensitas erupsi.

Sebaliknya, bila nanti pada tanggal 15 Oktober 2010 tidak terjadi erupsi, maka kita bisa berharap bahwa Merapi sudah mulai memasuki periode penurunan intensitas erupsi.

Prediksi ini hanya prediksi berdasarkan perhitungan matematis sederhana. Harapannya adalah prediksi dapat memberikan gambaran sederhana tentang perkembangan kondisi erupsi Merapi.

Kita tentu berharap bahwa erupsi Merapi sudah memasuki periode penurunan intensitas erupsi.

Salam,

WBS

Posted in PROSES (BENCANA) ALAM, Volkanisme | Dengan kaitkata: , , , , , , , | Leave a Comment »

Erupsi 2 (Tipe-tipe erupsi: erupsi celah)

Posted by wahyuancol pada November8, 2010

Klasifikasi Tipe Erupsi

Tipe erupsi dapat diklasifikasikan dengan berbagai dasar, yaitu:

  1. Berdasarkan pada bentuk dan lokasi bukaan (vent) yang darinya magma keluar,
  2. Berdasarkan pada hubungannya dengan air,
  3. Berdasarkan cara magma keluar dari kawah.

Tipe Erupsi Berdasarkan Bentuk dan Lokasi Bukaan (Vent)

Berdasarkan bentuk bukaan, erupsi dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu:

  1. Erupsi Celah (fissure eruption): bila material volkanik keluar melalui bukaan berupa retakan atau celah yang memanjang.
  2. Erupsi Kawah (central vent eruption): bila material volkanik keluar melalui lubang yang bulat. Bila kawah gunungapi berada di puncak gunung, maka disebut erupsi puncak (summit erupsion); sedang bila berada di lereng gunungapi, disebut erupsi lereng (flank erupsion).

Erupsi Celah

Erupsi celah umumnya terjadi di daerah-daerah yang banyak mengalami sistem retakan memanjang atau sistem retakan yang sejajar. Bila sistem retakan tersebut berada di atas dapur magma basalt, maka magma basalt yang berviskositas rendah akan bererupsi (keluar) melalui celah-celah tersebut. Erupsi tipe ini bersifat tenang dan sedikit sekali material yang terlontarkan ke udara. Bila erupsi ini berhenti, magma yang berada di dalam celah akan mendingin dan mengkristal membenuk tubuh batuan beku yang dikenal sebagai dike (dyke).

Erupsi tipe ini umumnya dijumpai di daerah Pematang Tengah Samudera (Mid Oceanic Ridge) seperti di Pulau Eslandia dan di daerah Hot Spot di tengah samudera seperti di Hawaii.

flow flow in rift zone

Erupsi celah di Hawai. Sumber: National Park of Hawaii.

Erupsi celah. Photo: USGS. Dikutip dari Hawai Lava Daily.

 

Pulau Eslandia adalah bagian dari Pematang Tengah Samudera (Mid-Atlantic Ridge) yang tersingkap ke udara. Oleh karena itu erupsi celah disebut juga Erupsi Tipe Eslandik (Icelandic Eruption). Aliran lava karena erupsi ini yang terbesar terjadi tahun 1783 yang dikenal sebagai Aliran Laki (Laki flow). Erupsi itu terjadi melalui celah sepanjang 25 km, menghasilkan 12 kilometer kubik lava yang mengisi dua lembah sungai yang dalam dan menutupi suatu kawasan dengan luas lebih dari 500 km persegi. Aliran lavanya mengalir mencapai 40 km.

Di Hawai, erupsi celah yang terjadi dikenal sebagai Tirai Api (Curtain of Fire), yang terjadi karena magma basalt yang miskin akan gas keluar melalui celah dan membentuk dinding yang menyala.

Banjir Basalt

Dalam sejarah geologi Bumi, diketahui ada tiga kejadian erupsi celah yang mengeluarkan lava basal yang sangat banyak, yang setiap erupsinya menutupi permukaan bumi seluas ratusan kilometer persegi, dan dikenal sebagai Erupsi Banjir Basalt (Flood Basalts Eruption). Fenomena banjir basalt dapat terjadi di lingkungan darat maupun di lingkungan laut. Contoh empat kejadian banjir basalt di lingkungan darat adalah sebagai berikut:

  1. Ethiopian Flood Basalt di Ethiopia yang bererupsi sekitar 30 juta tahun yang lalu, dengan durasi erupsi 1 juta tahun.
  2. Columbia River Flood Basalts di Amerika Serikat yang berupa rangkaian erupsi yang berlangsung antara 17-14 juta tahun yang lalu. Salah satu alirannya mencapai jarak 500 km dari sumbernya;
  3. Deccan Flood Basalts di India yang bererupsi sekitar 65 juta tahun yang lalu, dengan durasi erusi 6 juta tahun, dan
  4. Siberian Flood Basalts di Siberia yang bererupsi sekitar 245 juta tahun yang lalu.

 

Lokasi banjir basalt yang utama menurut Jerram dan Widdowson (2005). Dikutip dari Reeg.

Peta lokasi Ethipian Flood Basalt. Sumber: Hofmann et al (1997)

Peta penyebaran Columbia River Flood Basalt. Sumber: Camp & Ross (2004)

Peta penyebaran Deccan Flood Basalt. Dikutip dari: Geological Survey of India.

Peta penyebatan Siberian Flood Basalt menurut Ivanov (2008).

 

Menurut Hofmann et al (1997), banjir basalt merupakan bukti dari mantle plume yang menerobos litosfer, dan berkaitan dengan fenomena pecahnya kerak kontinen. Selain itu juga disebutkan bahwa banjir basalt berkaitan dengan fenomena krisis iklim global dan kepunahan massal yang pernah terjadi dalam perjalanan sejarah Bumi.

Mantle plume yang naik (A) dan kemudianb membentur litosfer dan menyebabkan banjir basalt (B) atau pulau-pulau volkanik (C).

 

Continental breakup dalam kondisi normal (Kasus A)  dan dengan penerobosan mantle plume yang mencetuskan banjir basal (Kasus B). Sumber: Korenaga (2004).

 

Artikel terkait:

BasaltErupsi 1

Referensi:

Kinds of Volcanic Eruptions [http://volcano.oregonstate.edu/education/vwlessons/kinds/kinds.html]

How Volcanoes Work: Fissure Eruption [http://www.geology.sdsu.edu/how_volcanoes_work/Fissure.html]

Posted in Batuan, E, GLOSARIUM, LITOSFER, PROSES (BENCANA) ALAM, Volkanisme | Dengan kaitkata: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a Comment »

Bencana Alam di Indonesia 3 (yang tidak bersiklus)

Posted by wahyuancol pada November7, 2010

Selain bencana alam yang bersiklus atau rutin terjadi, di Indonesia juga ada bencana alam yang kejadiannya tidak rutin atau tidak bersiklus. Apabila bencana alam yang bersiklus kejadiannya terkaitan dengan proses-proses di Atmosfer atau berkaitan dengan gerakan bumi sebagai bagian dari sistem benda langit, maka bencana alam yang tidak bersiklus ini berkaitan dengan proses-proses geologi yang berlangsung di Bumi.

Berikut ini adalah macam-macam bencana alam yang tidak bersiklus itu.

Bencana terkait dengan Aktifitas Volkanisme

Macam-macam bencana yang berkaitan dengan aktifitas volkanisme adalah:

  1. Aliran awan panas. Bencana ini terjadi ketika gunungapi bererupsi; jadi bencana ini hanya dapat terjadi di sekitar gunungapi yang sedang aktif bererupsi (seperti aktifitas Gunung Merapi sekarang, Oktober dan Nopember 2010)
  2. Aliran lahar. Bencana ini juga terjadi di sekitar tubuh gunungapi. Lahar dapat dibedakan menjadi lahar panas dan lahar dingin. Lahar panas dapat terjadi karena dua kondisi. Pertama, terjadi apabila ada danau kawah di gunungapi yang aktif bererupsi, sehingga ketika terjadi erupsi material panas yang bercampur air mengalir menuruni lereng gunungapi sebagai lahar panas. Kedua, terjadi apabila endapan material panas hasil erupsi gunungapi yang menumpuk di lereng gunungapi mendapat siraman hujan yang banyak, sehingga endapan gunungapi yang panas yang bercampur dengan air mengalir menuruni lereng gunungapi sebagai lahar panas. Lahar dingin terjadi bila endapan material gunungapi yang telah dingin mendapat siraman air hujan yang banyak, sehingga percampuran keduanya mengalir menuruni lereng gunungapi.
  3. Semburan/Hujan abu, pasir dan batu. Bencana ini terjadi ketika gunungapi aktif bererupsi (seperti Merapi sekarang ini). Jangkauan bencana ini bisa bersifat sangat lokal di sekitar gunungapi yang bererupsi itu, dan bisa pula berskala global. Bencana yang berskala global terjadi bila semburan debu oleh gunungapi yang bererupsi dapat masuk ke lapisan atmosfer yang tinggi, seperti letusan Gunung Tambura tahun 1815 dan Krakatau tahun 1883.
  4. Semburan gas beracun. Bencana semburan gas beracun dapat terjdi di lingkungan gunungapi yang berada dalam fase masa akhir erupsi seperti di daerah Dieng. Gas yang disemburkan terutama adalah gas H2S.
  5. Tsunami. Bencana tsunami dapat terjadi karena erupsi letusan gunungapi yang terjadi di laut, seperti yang terjadi ketika letusan Gunung Krakatau tahun 1883. Ketika itu tsunami melanda kawasan pesisir Selat Sunda baik yang di Pulau Jawa (Banten) maupun di Pulau Sumatera (Lampung).

Bencana terkait dengan Gempa Bumi Tektonik

Macam-macam bencana yang berkaitan dengan Gempa Bumi Tektonik adalah:

  1. Bangunan runtuh. Bencana ini terjadi apabila terjadi goncangan gempa yang keras lebih dari 5 skala Richter. Kematian yang berkaitan dengan  gempa terjadi karena bangunan yang runtuh karena gempa dan menimpa manusia. Bencana ini umum terjadi di perkotaan atau kawasan pemukiman.
  2. Gerakan tanah atau Tanah Longsor. Bencana ini dapat terjadi menyusul terjadinya gempa yang kuat yang melanda daerah pegunungan atau perbukitan yang berlereng terjal. Kemungkinan bencana ini membesar apabila gempa terjadi di musim hujan.
  3. Tsunami. Bencana ini dapat terjadi menyusun terjadinya gempa yang kuat di laut. Kawasan yang terlanda tsunami bisa bersifat lokal dan bisa berskala regional. Tsunami bulan Desember 2004 (dikenal sebagai Tsunami Aceh) yang terjadi menyusun gempa di sebelah barat Pulau Sumatera bagian utara adalah contoh tsunami yang berskala regional. Sedang tsunami yang terjadi bulan Oktober 2010 yang melanda Pulau Mentawai adalah contoh tsunami berskala lokal.

Bencana yang umum terjadi di kawasan pesisir

Bencana yang biasa terjadi di kawasan pesisir adalah subsiden, yaitu turunnya permukaan tanah. Menyusul terjadinya subsiden adalah terjadinya banjir karena pasang-surut. Apabila kejadian subsiden bukan di kawasan pesisir, maka bencana yang menyertainya adalah banjir karena hujan.

Bencana karena sebab-sebab lain dan sangat lokal

Bencana alam lain yang sangat lokal dan sangat spesifik adalah  amblesan dan gunung lumpur. Amblesan ini terjadi karena permukaan tanah tiba-tiba turun, dan umumnya terjadi daerah berbukit-bukit. Fenomena gunung lumpur adalah fenomena munculnya lumpur ke permukaan bumi. Lumpur dapat muncul begitu saja di dalam rumah. Fenomena ini banyak terjadi di Jawa Timur.

Salam,

WBS

Bencana Alam di Indonesia 1

Bencana Alam di Indonesia 2

Bencana Alam di Indonesia 4

Posted in Banjir, Gempa, PROSES (BENCANA) ALAM, Semburan Lumpur, Subsiden, Tsunami, Volkanisme | Dengan kaitkata: , , , , , , , , , | Leave a Comment »