Kepulauan Indonesia

Cerita dari, untuk dan tentang Kepulauan Indonesia beserta Penghuni dan Penduduknya

Posts Tagged ‘Manusia’

Karakter Orang Indonesia 03: menurut Rhenald Kasali

Posted by wahyuancol pada Juli11, 2014

Artikulasi Sifat Buruk 2: Pemilu dan Sifat Buruk Kita

Kita baru menyelesaikan pemilihan presiden yang baru tanggal 9 Juli 2014 yang lalu. Sekarang ini memasuki tahap penghitungan suara. Pemilihan presiden 9 Juli diawali dengan kegiatan kampanye para calon presiden dan wakil presiden. Setelah pemilihan presiden, suasana diwarnai oleh kegiatan Hitung Cepat yang dilakukan oleh berbagai lembaga survei, dan kemudian dilanjutkan oleh klaim kemenangan oleh kedua belah pihak berdasarkan hasil dari perhitungan cepat oleh lembaga survei yang mereka percaya kebenarannya.

Berbagai hal terjadi ketika kampanye, mulai dari kampanye kreatif hingga kampanye hitam. Sifat-sifat baik dan sifat-sifat buruk bangsa Indonesia muncul kepermukaan. Keadaan ini dipotret oleh Profesor Rhenald Kasali, khususnya yang berkaitan dengan Sifat-sifat Buruk.

Saya telah membaca apa yang ditulis oleh Profersor Rhenald Kasali itu, dan saya menyetujuinya. Oleh karena itu saya rasa ada baiknya bila isi tulisan itu diketahui oleh banyak orang yang menginginkan kebaikan bagi Bangsa Indonesia. Itulah alasan mengapa saya turut menyebarkan pandangan tersebut. Tulisan tersebut saya kutip tanpa modifikasi dari tulisan yang berjudul Pemilu dan Sifat-sifat Buruk Kita (http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2014/07/11/060200626/Pemilu.dan.Sifat-sifat.Buruk.Kita?utm_source=WP&utm_medium=box&utm_campaign=Kknwp).

Bila kita melihat dari sudut pandang yang lain, kita bisa melihat bahwa Pemilu di tahun 2014 ini membawa berkah bagi bangsa Indonesia, karena memunculkan sifat-sifat buruk yang selama ini terpendam. Dengan mengetahui sifat-sifat buruk itu maka bisa diharapkan sifat-sifat buruk itu dapat diperbaiki.

—————————

Seorang teman yang tahunan tinggal di Berlin tiba-tiba begitu bersemangat ikut mencoblos. Padahal, dulu di Jakarta dia sama sekali tidak pernah menyentuh undangan untuk ikut memilih. “Malas,” katanya.

Sama seperti sebagian besar kita, malas karena banyak alasan. Malas karena lawannya, atau kecurangan yang bakal dihadapinya sudah tak berimbang. Ada calon yang kita sukai, namun lawannya ternyata mempunyai wajah yang lebih cameragenic. Jadi, apalah artinya suara kita, mudah diduga hasilnya. Tak memilih pun tak ada pengaruhnya.

Ada lagi suasana lain, kita sudah yakin jagoan akan menang. Nyatanya kalah juga. Kabarnya, banyak kecurangan yang bisa dilakukan, mulai dari suara yang bisa dibeli, panitia yang bisa diatur, sampai komputer yang bisa dimainkan. Tetapi kini, 16 tahun setelah reformasi, sepertinya kita sudah sama-sama pintar.

Mereka yang dulu menang, dua bulan lalu marah-marah di tivi karena tahun ini kalah dalam pileg. Tapi dengarkanlah kemarahannya, “Saya bukan kalah, tapi dicurangi. Ini kecurangan ada dimana-mana,” ujarnya ketus. Seorang teman yang dulu dikalahkan terkekeh-kekeh mendengar ocehan politisi yang suka bicara seenaknya di tivi itu. “Lha, orang-orang lain belajar curangnya dari mana kalau bukan dari dia?”

Sampai hari ini kita masih banyak mendengar sas-sus tentang aneka kecurangan yang dilakukan berbagai pihak dalam pemilu beberapa tahun lalu. Modusnya amat beragam. Ada yang mengaitkan dengan pembobolan bank, mafia migas, impor bahan-bahan pokok, dan lain sebagainya. Otak kita keruh dipenuhi hal-hal itu.

Tapi mengapa teman saya dan juga tenaga-tenaga kerja kita di luar negeri begitu bersemangat mencoblos? Ia memberikan alasan. “Pertama, saya serem melihat mafia makin bertebaran di Indonesia. Saya takut jago saya kalah,” ujarnya.

“Dan kedua, apa yang mereka lakukan kepada jago saya, adalah cerminan dari apa yang dilakukan orang-orang jahat  terhadap saya. Dan itu adalah cerminan dari sifat-sifat buruk bangsa kita, yang harus dikalahkan,” ujarnya.

 

Seperti apa?

Seperti apakah sifat-sifat buruk itu? Tidak sulit menemukannya karena ia hidup nyata dalam perjalanan karier kita sehari-hari. Bahkan di dunia akademik, ini pun biasa sekali dihadapi banyak orang. Di perusahaan swasta juga makin banyak ditemui. Dalam birokrasi, sifat-sifat buruk itu biasa kita dengar saat menjelang pelantikan pejabat. Orang yang sudah terpilih bisa tak jadi dilantik gara-gara sms atau surat kaleng. Gunjingan negatif justru disebarkan pada orang-orang bagus.

Dalam soal tender, bukan hal baru orang saling sikat dan menjelekkan, bahkan membawa pesaingnya ke ranah hukum, menyebarkan kesalahan kepada wartawan abal-abal yang siap melakukan pemerasan. Sewaktu menjadi pansel KPK, saya juga biasa menerima black campaign yang ditujukan pihak tertentu terhadap calon-calon tertentu. Jangan heran, black campaign tak pernah diarahkan pada kandidat yang lemah.

Di sini kita menjadi biasa melihat kebenaran dijungkir balikkan. Orang yang bersih dituduh korupsi dan sebaliknya. Akademisi pintar dikatakan plagiat, yang plagiat menjadi aktivis antiplagiat. Demikian seterusnya. Kalau kita biarkan, jangankan keluar dari middle income trap, memutuskan siapa yang layak ya menjadi presiden saja kita tak akan mampu.

Lihatlah tak mudah orang mengakui kekalahan, meski itu bagian dari karakter pemenang. Ditambah lagi KPU dan Bawaslu cenderung mendiamkan. Bayangkan di zaman kecepatan dan keakurasian data seperti ini kita harus menunggu sampai tanggal 22. Maksudnya kita dibiarkan ribut terus selama dua minggu?

Yang saya maksud adalah sifat-sifat buruk dalam menghadapi persaingan. Maklum, selama lebih dari 30 tahun kita tidak menghadapi persaingan. Semua jabatan publik adalah pemberian presiden atau atasan. Atasan pun mendapatkannya bukan karena memenangkan persaingan, melainkan karena mendapatkan melalui rekomendasi atau kebaikan budi.

Sifat-sifat buruk itu diawali dengan penghinaan, lalu diikuti dengan fitnah demi fitnah, selebaran gelap, lempar batu sembunyi tangan, mudah terhina, merasa cepat tersinggung, sakit hati, lalu membalas dendam dengan mengirim kebencian. Kita bukan membuat puisi untuk menyatakan kekaguman pada seseorang, melainkan untuk mencacinya. Alih-alih menyampaikan program, sifat-sifat buruk itu justru ditampilkan dengan menjelek-jelekkan calon pemenang. Kita beranggapan akan menjadi terlihat hebat karena mampu menghina orang yang disangka hebat. Kita menjadi termotivasi untuk menang bukan karena kita memiliki sifat-sifat sebagai pemenang, melainkan karena kita tak mampu menerima kekalahan.

Kita berdoa untuk menang karena kita tidak mau mendengar sabda Tuhan. Kita hanya berbicara terus tiada henti agar Tuhan menutup mulut, dan beranggapan hanya kita yang punya hak untuk menjadi pemenang. Padahal hidup ini adalah sebuah keseimbangan, dan dalam setiap kompetisi hanya akan ada satu pemenang, namun tentara sejati tahu persis: terdapat perbedaan antara memenangkan pertempuran dengan memenangkan peperangan.

Dan prajurit sejati akan menjunjung tinggi kehormatannya, tahu dimana medan pertempuran dan siapa yang harus dilindungi. Demokrasi adalah kompetisi untuk merebut suara rakyat, bukan untuk membumihanguskan negeri.

Prilaku seperti ini pernah dibahas Denis Waitley dalam buku Psychology of Winning untuk menjelaskan karakter yang biasa dimiliki para pemenang. Pemenang menjalankan prinsip-prinsip yang membuatnya dihormati, bukan sebaliknya.

Salim Bueno (209) menulis: “Winners train and grain, losers complain. Losers seek attention, while winners earn respect. Losers blame others for their problems, while winners find solution.

Hari-hari lalu kita telah menyaksikan sifat-sifat buruk yang dipertontonkan orang-orang yang katanya bertarung untuk menjadi pemimpin. Ada mantan petinggi di berbagai lembaga yang dulu kita pikir mereka sangat terhormat. Sebagai pendidik, harus saya katakan saya sangat kecewa dan sedih menyaksikan ulah mereka. Apalagi bila membiarkan pihaknya melakukan cara-cara curang, memelintir fakta, menyebarkan kebencian demi kemenangan.

Anak-anak muda, perhatikanlah, itu bukan karakter winners. Mereka menganut azas-azas yang dianut para losers. Apakah mereka bisa menang? Bisa! Bisa saja, tetapi kalau kita ingin membangun bangsa ini menjadi bangsa yang besar, bukan itu caranya. Tengoklah bangsa-bangsa besar. Mereka justru mengadopsi mentalitas pemenang.

Dengarkan pula kata bijak Vince Lombardi berikut ini:“Winning is not a sometime thing; it’s an all time thing. You don’t win once in a while, you don’t do things right once in a while, you do them right all the time. Winning is habit. Unfortunately, so is losing.”(Prof. Rhenald Kasali)

————————-

Artikulasi sifat buruk 1

Semoga bermanfaat.

Salam,

WBS

Posted in Ah... Indonesia ku, HUMANIORA, Kualitas Bangsa | Dengan kaitkata: , , , , , , , , , , | Leave a Comment »

Penyebab Banjir di Jakarta

Posted by wahyuancol pada Januari20, 2014

Tulisan ini dibuat ketika Jakarta dilanda banjir tahun 2014 di bulan Januari berdasarkan hasil pengamatan langsung di lapangan maupun mengamati berita-berita tentang banjir dari berbagai media. Dari hasil pengamatan tersebut, saya sampai pada kesimpulan bahwa ada beberapa kondisi yang menyebabkan banjir di Jakarta, yaitu:

  1. Curah hujan yang tinggi. Curah hujan menjadi penyebab utama banjir, baik hujan yang terjadi di wilayah Jakarta maupun di Bogor. Curah hujan menjadi penyebab utama karena bila tidak ada hujan maka tidak akan ada banjir. Bulan-bulan Desember, Januari dan Februari memang bulan-bulan dengan curah hujan tinggi untuk kawasan Jakarta dan sekitarnya. Secara umum, tingginya curah hujan terlihat menyebabkan banjir di banyak wilayah di Indonesia, seperti di Jawa, Sumatera, Sulawesi dan Papua.
  2. Salah memilih tempat tinggal. Banyak daerah-daerah terbangun di Jakarta sebelumnya adalah daerah-daerah dihindari untuk dijadikan daerah pemukiman karena merupakan lahan basah atau rawa atau aliran sungai. Perkembangan jumlah penduduk di Jakarta penyebabkan daerah-daerah rawa dan tepi sungai dijadikan daerah pemukiman.
    1. Rawa-rawa. Rawa-rawa memang tempatnya air, sehingga bila hujan turun maka air akan berkumpul di daerah tersebut sehingga wajar bila bila hujan pemukiman di daerah tersebut akan banjir. Banyak daerah pemukiman di Jakarta memiliki nama dengan kata depan “Rawa”.
    2. Tepi sungai. Daerah tepi sungai atau bantaran sungai di Jakarta juga sudah menjadi daerah hunian. Bila debit air sungai naik, maka daerah ini yang pertama kali akan terjena banjir karena memang daerah tersebut bagian dari alur sungai. Seperti daerah Kampung Pulo, Kampung Melayu.
    3. Cekungan. Daerah cekungan adalah tempat air permukaan berkumpul bila terjadi hujan. Daerah cekungan yang berada di tempat yang tinggi dalam kondisi alamiah bisa merupakan daerah yang kering. Bila daerah cekungan di jadikan daerah hunian maka persoalan banjir bisa muncul bila curah hujan tinggi.
    4. Daerah labil. Daerah labil atau belum stabil terdapat di daerah pesisir. Bila mendapat beban, maka permukaannya akan turun. Apabila permukaan tanah turun menjadi lebih rendah daripada permukaan laut, maka daerah ini menjadi daerah banjir pasang-surut. Kasus seperti ini terjadia di Jakarta Utara.
  3. Drainase yang buruk. Drainase kota yang buruk menjadi salah satu penyebab genangan atau memperparah kondisi banjir. Buruknya sistem drainase kota dapat dilihat dari terjadinya genangan ketika curah hujan masih sangat rendah dan / atau kondisi  air harus dipompa untuk mengeringkan genangan. Masalah drainase kota ini muncul antara lain karena daerah pemukiman yang lebih rendah daripada daerah sekitarnya seperti di cekungan atau rawa. Hal lain yang berkaitan dengan drainase ini adalah masalah sampah.
  4. Sampah kota. Sampah kota merupakan salah satu masalah di Jakarta. Sampah-sampah dapat menyumbat drainase atau menghambat aliran sungai. Tingginya volume sampah yang terperangkap di pintu air Manggarai merup[akan salah satu bukti masalah sampah di Jakarta.
  5. Turunnya permukaan tanah. Turunnya permukaan tanah atau subsiden menjadi salah satu faktor yang menyebabkan banjir di Jakarta, khususnya di Jakarta Utara. Turunnya permukaan tanah menyebabkan permukaan tanah menjadi lebih rendah daripada permukaan air sungai ketika laut dalam kondisi pasang. Keadaan ini menyebabkan tidak ada hujan pun Jakarta Utara dapat mengalami banjir. Salah satu contohnya adalah di Jalan Gunung Sahari bagian utara. Bila kondisi tersebut berkombinasi dengan curah hujan yang tinggi, maka ketinggian air banjir dan luas daerah genangannya makin besar.
  6. Pasang-surut. Pasang-surut telah berkembang menjadai salah satu penyebab banjir di Jakarta Utara karena berkombinasi dengan turunnya permukaan tanah. Bila kondisi laut pasang berkombinasi dengan curah hujan yang tinggi, maka akan menimbulkan genangan yang luas dan lebih tinggi daripada bila faktor itu sendiri.

Dari hasil pengamatan tersebut, secara umum dapat disebutkan bahwa penyebab banjir di Jakarta terjadi karena kombinasi faktor alam dan faktor manusia. Hal tersebut dapat diuraikan lebih lanjut sebagai berikut:

  1. Faktor alam. Faktor ini terdiri dari kondisi Meteorologi (berkaitan dengan curah hujan), kondisi Geomorfologi (berkaitan dengan bentang alam: sistem aliran sungai dan morfologi permukaan lahan), dan Oseanografi (berkaitan dengan pasang-surut).
  2. Faktor manusia. Faktor ini berkaitan dengan manajemen pemerintahan dan tatakota, serta tingakah laku warga kota.

————————-

Rabu 5 Februari 2014

Hari ini kembali Jakarta digenangi air di banyak lokasi termasuk kawasan di jalan Merdeka dan Thamrin. Genangan itu terjadi setelah sejak menjelang pagi Jakarta diguyur hujan. Sementara itu, hari ini dikabarkan kawasan Bogor dan Depok cerah.

Dari peristiwa munculnya genangan hari ini di Jakarta dengan kondisi tanpa hujan di Bogor dan Depok (Detiknews), maka kita dapat mengeliminasi faktor hujan di kawasan hulu sebagai penyebab banjir di Jakarta hari ini.

Sementara itu, di pihak yang lain, ketinggian pasang-surut di Jakarta hari ini juga rendah. Hanya 0,8 m pada puncaknya di jam 06.00, dan setelah itu turun. Keadaan ini menunjukkan pasang air laut tidak berkontribusi besar dalam banjir di kawasan utara Jakarta pagi ini (pasanglaut.com).

Dengan demikian, maka dapat kita katakan bahwa banjir yang terjadi pada hari ini di Jakarta merupakan bukti bagi buruknya sistem drainase kota Jakarta.

 

Wassalam,

WBS

Posted in Banjir, HUMANIORA, Manusia dan Alam, PROSES (BENCANA) ALAM | Dengan kaitkata: , , , , , , , , , , | Leave a Comment »

Ketika Keinginan Manusia Dituruti 1: Kepincangan populasi (Pelajaran dari India)

Posted by wahyuancol pada November3, 2011

Tuhan menciptakan segala sesuatu di dunia ini berpasang-pasangan. Dari satu pasangan hasil ciptaan itu, keduanya memang berbeda tetapi perbedaan itu tidak membuat yang satu menjadi lebih tinggi nilainya atau kedudukannya dari yang satunya lagi. Pada suatu pasangan, keduanya yang berbeda itu saling melengkapi satu sama lain dengan kedudukan yang setara.

Demikian pula manusia. Ia diciptakan berpasangan antara laki-laki dan perempuan. Laki-laki berbeda dari perempuan. Dalam berbagai hal, laki-laki lebih unggul daripada perempuan, tetapi dalam berbagai hal lainnya lagi perempuan lebih unggul daripada laki-laki. Apabila laki-laki dan perempuan berpasangan, maka keduanya menjadi saling melengkapi sehingga banyak hal yang tidak dapat diselesaikan bila sendirian menjadi dapat diselesaikan dengan bersama-sama. Termasuk, dalam hal menyempurnakan kebahagiaan hidup.

Namun demikian, tetap masih ada sekelompok orang yang memandang laki-laki lebih baik daripada perempuan, atau sebaliknya. Mereka menentang kehendak Tuhan yang menciptakan pasangan yang saling berbeda  itu dengan tujuan untuk saling melengkapi. Salah satu contoh adalah apa yang sekarang ini diberitakan terjadi di India. Sekelompok masyarakat memandang lebih anak laki-laki daripada anak perempuan. Sedemikian tinggi penilaian yang mereka berikan kepada anak laki-laki sehingga mereka melakukan pengguguran kandungan yang diketahui akan melahirkan anak perempuan.

Akibat dari pandangan mereka itu adalah terjadi kepincangan populasi di dalam kelompok mereka. Jumlah laki-laki lebih banyak daripada perempuan. Efek susulannya adalah (1) banyak laki-laki yang tidak menikah karena tidak ada perempuan yang dinikahi; dan muncul suatu hal yang aneh bagi kita di sini, yaitu (2) meminjamkan istri kepada orang lain (selain suaminya).

Itulah suatu kenyataan yang benar-benar terjadi di dalam suatu kelompok masyarakat di India.

Semoga bermanfaat.

Salam,

WBS

Ingin tahu lebih jauh silahkan simak naskah asli di bawah ini, atau silahkan klik ini.

Tradisi Pinjam Istri karena Jumlah Perempuan Makin Sedikit

(AN Uyung Pramudiarja – detikHealth)

Warga India cenderung memilih anak lelaki, sehingga populasi perempuan terus menyusut karena sering diaborsi sejak dalam kandungan. Akibatnya muncul praktik saling meminjamkan istri karena tak semua lelaki bisa dapat pasangan sendiri.

Praktik semacam ini bisa ditemui di distrik Baghpat, negara bagian Uttar Pradesh yang terletak di wilayah India bagian utara. Salah satu korbannya adalah Munni, perempuan berusia 40-an tahun yang sehari-hari harus melayani hingga 3 orang lelaki.

Munni bukan seorang pekerja seks, ia adalah ibu rumah tangga biasa seperti halnya para perempuan di belahan dunia lain. Bedanya, selain melayani suaminya sendiri ia juga harus menjadi istri 2 saudara iparnya yang semuanya tidak beruntung mendapatkan istri sendiri.

Sebagai istri pinjaman, Munni juga harus memberikan kepuasan lahir batin kepada kedua saudara iparnya ini dan melayaninya seperti suami sendiri. Karena itu dalam sehari, ia harus berperan sebagai istri dari 3 lelaki sekaligus meski statusnya hanya sebagai pinjaman.

“Suami saya dan orangtuanya menyuruh saya melayani kedua saudara ipar saya, siang malam dan kapanpun mereka mau. Kalau menolak saya dipukul,” ungkap Munni yang telah memiliki 3 anak hasil kerjasama para suaminya, seperti dikutip dari Reuters, Rabu (2/11/2011).

Diyakini, kasus yang menimpa Munni juga dialami banyak perempuan lain di Baghpat hanya saja tidak ada yang berani melapor karena perempuan di wilayah itu diharamkan keluar rumah sendirian. Munni sendiri baru berani berbagi cerita setelah didatangi para pekerja sosial.

Menurut para pekerja sosial yang kini mendampingi Munni, tradisi meminjamkan istri marak di wilayah miskin seperti Baghpat. Pemicunya adalah populasi perempuan yang makin menyusut, akibat praktik aborsi yang sering dilakukan terhadap janin perempuan.

Dugaan ini diperkuat oleh data sensus terbaru yang dilakukan pemerintah setempat. Pada tahun 2011, perbandingan jenis kelamin di distrik Baghpat tercatat hanya 858 perempuan tiap 1.000 lelaki sementara rasio nasionalnya adalah 940 perempuan tiap 1.000 lelaki.

Angka kelahiran bayi perempuan di wilayah ini juga tercatat semakin sedikit dari tahun ke tahun. Sepanjang tahun 2011 hanya ada 837 kelahiran bayi perempuan, padahal 10 tahun sebelumnya yakni pada 2001 angkanya masih mencapai 850 kelahiran bayi perempuan.

“Kami telah menyaksikan sendiri dampak terburuk dari menyusutnya populasi perempuan di beberapa lingkungan masyarakat,” ungkap Bhagyashri Dengle, direktur eksekutif Plan India, sebuah organisasi sosial yang mendampingi Munni dan korban-korban tradisi meminjamkan istri lainnya.

Dalam tradisi sebagian masyarakat India, kelahiran bayi laki-laki memang dianggap membawa keberuntungan dan berkah bagi orangtua ketika mulai memasuki usia lanjut. Karena itu praktik aborsi ilegal marak dilakukan, khususnya terhadap janin perempuan.

Tak heran jika populasi perempuan di wilayah tersebut makin menyusut. Akibatnya bukan membawa keberuntungan, kondisi ini justru menciptakan penderitaan bagi para lelaki yang tidak mendapat pasangan maupun para perempuan yang terpaksa dijadikan istri pinjaman.

“Di tiap desa paling tidak ada 5-6 bujangan yang tidak mendapat pasangan. Bahkan di wilayah lain, dalam satu keluarga bisa ada 3-4 anak laki-laki yang tidak pernah menikah. Ini masalah yang sangat serius,” tutur Shri Chand (57 tahun), seorang pensiunan polisi di Baghpat.

Posted in BELAJAR DARI, India, Penciptaan, TUHAN | Dengan kaitkata: , , , , , , | Leave a Comment »

Banjir 2 (dimensi manusia)

Posted by wahyuancol pada November1, 2009

Secara alamiah, banjir adalah proses alam yang biasa dan merupakan bagian penting dari mekanisme pembentukan dataran di Bumi kita ini. Melalui banjir, muatan sedimen tertransportasikan dari daerah sumbernya di pegunungan atau perbukitan ke daratan yang lebih rendah, sehingga di tempat yang lebih rendah itu terjadi pengendapan dan terbentuklah dataran. Melalui banjir pula muatan sedimen tertransportasi masuk ke laut untuk kemudian diendapkan diendapkan di tepi pantai sehingga terbentuk daratan, atau terus masuk ke laut dan mengendap di dasar laut. Banjir yang terjadi secara alamiah ini sangat ditentukan oleh curah hujan.

Perlu benar kita sadari bahwa banjir itu melibatkan air, udara dan bumi. Ketiga hal itu hadir di alam ini dengan mengikuti hukum-hukum alam tertentu yang selalu dipatuhinya. Seperti: air mengalir dari atas ke bawah, apabila air ditampung di suatu tempat dan tempat itu penuh sedang air terus dimasukkan maka air akan meluap, dan sebagainya.

Tetapi, manusia dapat juga menyebabkan banjir.

Bila air hujan turun dan sampai di permukaan Bumi, sebagian air itu meresap ke dalam tahan dan membentuk  air tanah, sebagian lainnya mengalir di permukaan tanah sebagai aliran permukaan yang secara umum terekspresikan sebagai aliran sungai, dan sebgaian kecil menguap kembali. Secara alamiah, pada waktu-waktu tertentu, ketika curah hujan sangat tinggi di musim hujan, aliran air permukaan menjadi sangat besar memebihi kapasitas alur sungai sehingga tidak dapat tersalurkan dengan baik melalui aliran sungai. Air meluap dan terjadilah apa yang kita sebut banjir.

Aliran permukaan = curah hujan – (peresapan air + penguapan air)

Besarnya curah hujan dan penguapan air di suatu kawasan adalah faktor yang ditentukan oleh kondisi alam dan manusia tidak dapat mempengaruhinya. Manusia hanya dapat mempengaruhi peresapan air ke dalam tanah.

Peresapan air ke dalam tanah ditentukan oleh faktor-faktor berikut ini:

  1. Kondisi tanah. Tanah berpasir yang gembur lebih mudah menyerap air daripada tanah yang banyak mengandung lempung. Untuk faktor ini, manusia dapat mengurangi peresapan air melalui cara pemadatan tanah, atau menutup permukaan tanah dengan material yang kedap air seperti menutup permukaan tanah dengan semen.
  2. Kondisi permukaan tanah. Permukaan tanah yang ditumbuhi rumbut atau belukar lebih banyak menyerap air daripada tanah yang tanpa rumput/belukar atau rumput/belukarnya jarang. Manusia dapat mempengaruhi faktor ini dengan cara memelihara rumput/belukar, atau menghilangkan rumput/belukar.
  3. Besarnya kemiringan lereng permukaan tanah. Tanah dengan sudut kemiringan lereng yang lebih kecil lebih  mudah menyerap air daripada tanah dengan sudut kemiringan lereng lebih besar. Manusia dapat mempengaruhi faktor ini mengurangi kemiringan lereng, seperti dengan membuat lahan berteras.
  4. Vegetasi penutup. Tanah yang banyak ditumbuhi pohon lebih banyak menyerap air daripada tanah sedikit atau tidak ditumbuhi pohon. Manusia dapat mempengaruhi faktor ini dengan menanam atau memelihara pohon untuk mengurangi aliran permukaan, atau menebang pohon yang dapat meningkatkan aliran permukaan.

Perlu kita ingat bahwa ke-empat faktor tersebut tidak berdiri sendiri, melainkan dapat berkaitan satu sama lain. Sebagai contoh: apabila kita memiliki lahan yang berlereng dan kita ingin meningkatkan banyaknya air yang meresap di lahan itu atau mengurangi aliran permukaan, maka kita dapat melakukannya dengan menanaminya dengan pohon-pohon atau membuatnya berteras-teras. Contoh sebaliknya, apabila ada lahan miring bervegetasi, seperti lereng gunung yang berhutan, jumlah air yang mengalir sebagai air permukaan akan meningkat apabila kita menebang pohon-pohon itu. Pada contoh yang terakhir inilah, maka banjir tidak lagi murni alamiah, tetapi telah dipengaruhi oleh campur tangan manusia.

Manusia dapat memilih takdirnya.

Karena manusia dapat mempengaruhi debit aliran permukaan dan dapat mempelajari karakter aliran sungai, maka berkaitan dengan banjir kita dapat mengatakan bahwa manusia dapat memilih takdirnya sendiri.

Apabila kita tidak ingin terkena banjir maka perlu melakukan hal-hal berikut ini:

  1. Jangan bertempat tinggal di daerah yang secara alamiah merupakan tempat penampungan air bila aliran sungai meluap, seperti di dataran tepi sungai yang akan dilalui oleh air sungai bila debitnya meningkat, di dataran banjir di sepanjang aliran sungai yang akan digenangi air bila air sungai meluap ketika curah hujan tinggi di musim hujan, atau di rawa-rawa.
  2. Jangan merusak hutan di daerah peresapan air di pegunungan atau perbukitan, karena lahan yang terbuka akan meningkatkan aliran permukaan yang menyebabkan banjir di waktu yang sebenarnya tidak terjadi banjir, atau memperhebat banjir yang biasanya terjadi.
  3. Menjaga alur tetap baik sehingga aliran air sungai  lancar. Alur sungai yang menyempit atau terbendung akan menyebabkan banjir.
  4. Untuk daerah pemukiman atau perkotaan, kita harus menjaga saluran drainase agar tetap baik dan tidak tersumbat sehingga dapat berfungsi sebagaimana mestinya menyalurkan air hujan yang turun atau menyalurkan aliran permukaan ke sungai-sungai atau saluran yang lebih besar.

Itulah hal-hal yang perlu dilakukan agar manusia tidak terkena banjir atau memilih takdirnya untuk tidak kena banjir.

Perlu Kerjasama.

Untuk dapat memilih takdir tidak terkena banjir, manusia tidak dapat berdiri sendiri, melainkan harus bekerjasama. Skala kerjasama bisa dalam satu komplek pemukiman, satu kota, satu DAS (Daerah Aliran Sungai) dan bahkan harus seluruh umat manusia.

Kerjasama seluruh umat manusia di bumi ini diperlukan untuk dapat menghadapi banjir yang disebabkan oleh perubahan iklim global. Dengan kata lain, diperlukan kerjasama internasional untuk menghadapinya.

Kerjasama seluruh manusia yang tinggal di suatu DAS diperlukan untuk dapat mengatasi masalah banjir yang melibatkan suatu sistem tata air yang melibatkan suatu DAS.

Untuk banjir yang terjadi di suatu kawasan pemukiman atau kota karena buruknya drainase, maka perlu kerjasama seluruh penghuni pemukiman atau kota tersebut dalam arti yang seluas-luasnya, baik itu kerjasama antar anggota masyarakat, kerjasama antara masyarakat dan pemerintah, dan kerjasama antar instansi pemerintah, serta kerjasaman antara eksekutif, legislatif dan yudikatif. Misalnya: apabila masyarakat dihimbau tidak membuang sampah sembarangan, tentu pemerintah harus menyediakan tempat pembuangan sampah yang memadai dan selalu mengangkutnya ke TPA (Tempat Pembuangan Akhir); bila DinasKebersihan membutuhkan tambahan armada pengangkut sampah maka Pemerintah harus memenuhinya; dan sebagainya.

Penutup

Sebagai penutup, perlu kita ingat bahwa banjir adalah proses alam dan manusia dapat mempengaruhi kejadiannya. Dengan pengetahuannya, manusia dapat memilih takdirnya untuk kena banjir atau tidak kena banjir. Dalam memilih takdirnya itu, manusia perlu bekerjasama. Skala kerjasama yang diperlukan disesuaikan dengan skala persoalan yang dihadapi.

Semoga bermanfaat.

Salam,

Wahyu

Ingin tahu lebih jauh tentang banjir?

Banjir 1, Banjir 3, Banjir 4, Banjir 5, Banjir 6

Posted in Air, B, Banjir, GLOSARIUM, HIDROSFER, PROSES (BENCANA) ALAM | Dengan kaitkata: , , , , , , , , , , , | 7 Comments »

Memahami Proses Penciptaan 3: Partikel elementer dan material organik

Posted by wahyuancol pada September3, 2009

Pada kesempatan sebelumnya, kita telah berbicara tentang partikel elementer dan alam semesta. Sekarang kita coba berbicara tentang partikel elementer dan material organik.

————————-

Material Organik

Di dalam ilmu kimia, orang membedakan antara senyawa organik dan inorganik. Perbedaan awal antara senyawa organik dan inorganik itu didasarkan pada kepercayaan bahwa molekul-molekul dari sistem yang hidup (living system, organisme) adalah unik dan tidak dapat disintesis atau diciptakan di dalam laboratorium. Sekarang, pendapat itu tidak dapat diterima, karena sekarang di dalam industri manufaktur menghasilkan senyawa organik baik dalam riset maupun industri obat-obatan adalah hal yang rutin dilakukan. Memang, secara alamiah, molekul-molekul organik dihasilkan oleh sistem yang hidup.

Senyawa organik adalah senyawa kimia yang mengandung karbon yang memiliki kelompok fungsional.

Di dalam ilmu kimia, sejumlah kecil atom di dalam suatu susunan dapat menentukan sifat-sifat kimia dari suatu kelompok senyawa kimia dan sifat-sifat molekul dimana atom itu bergabung. Kelompok senyawa itu adalah kelompok fungsional (functional groups). Misalnya, group carboxyl COOH, atau group amine NH2.

Material organik dapat didefinisikan sebagai senyawa kimia yang merupakan rantai karbon dan mengandung hidrogen dengan atau tanpa oksigen, nitrogen atau unsur-unsur lain.

Penyusun Tubuh Manusia

Tubuh manusia terutama tersusun oleh empat unsur atau elemen utama, yaitu hidrogen (H), oksigen (O), karbon (C), dan nitrogen (N). Kombinasi dari unsur-unsur kimia itulah yang menentukan atau membentuk berbagai komponen tubuh manusia.

Komponen penyusun tubuh manusia adalah:

  1. Air (H2O), sebanyak 98-99%.
  2. Lemak atau Lipid, dominan tersusun oleh H dan C.
  3. Protein, merupakan senyawa yang tersusun oleh C, H, O, N, S dan unsur-unsur lain.
  4. Karbohidrat, pemberi energi bagi sel, tersusun oleh C, H dan O.
  5. Nucleic Acid adalah penyimpan, penyalur dan pengekspresi informasi genetik. Nucleic acid tersusun oleh sub-unit yang disebut nucleotide yang mengandung satu group fosfat, satu gula dan satu ring atau rantai karbon dan atom nitrogen.

Uraian tentang tubuh manusia ini juga mewakili gambaran tentang hewan.

Penyusun Tumbuhan

Kayu bukan senyawa kimia tunggal, tetapi memiliki berbagai struktur. Semua struktur tersebut dikenal sebagai senyawa organik yang sebagian besar adalah karbon (C), hidrogen (H) dan oksigen (O).

Kayu sebagian besar adalah selulose. Selulose adalah karbohidrat yang tersusun oleh C, H dan O.

———————————

Dari uraian di atas jelas bahwa, senyawa organik atau material organik penyusun tubuh manusia dan hewan serta tumbuhan tersusun oleh unsur-unsur atom yang merupakan bagian unsur-unsur atom yang kita kenal dalam Sistem Periodik atau Susunan Berkala unsur kimia. Unsur-unsur yang dominan adalah C, H, O, N, S dan P.

Dengan demikian, kita pun dapat mengatakan bahwa tumbuhan, hewan dan manusia juga berasal dari partikel elementer, sebagaimana halnya dengan mineral dan batuan serta Bumi yang telah kita bicarakan sebelumnya.

Akhirnya, kembali kita dapat bertanya: siapa yang memberikan potensi kepada atom-atom itu dan mengendalikannya untuk membentuk senyawa organik? Tidak mungkin kan semua itu terjadi secara kebetulan?

Demikian hubungan antara partikel elementer dan material organik.

Semoga bermanfaat.

Selamat berpuasa.

Salam,

Wahyu

Posted in Alam Semesta, Penciptaan, TUHAN | Dengan kaitkata: , , , , , , , , , , , , , , | 3 Comments »