Kepulauan Indonesia

Cerita dari, untuk dan tentang Kepulauan Indonesia beserta Penghuni dan Penduduknya

Posts Tagged ‘Kepulauan Indonesia’

Pulau-pulau Kecil Terluar Indonesia

Posted by wahyuancol pada Oktober22, 2014

Pada tahun 2007 BAKOSURTANAL (Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional) menerbitkan Atlas Pulau-pulau Kecil Terluar Indonesia. Sekarang BAKOSURTANAL telah berubah nama menjadi BIG (Badan Informasi Geospasial). Tujuan menerbitkan atlas tersebut adalah menyajikan informasi spasial untuk pemerintah dan masyarakat luas tentang pulau-pulau kecil terluar yang dimiliki Indonesia sesuai dengan Peraturan Presiden No. 78 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Pulau-pulau Kecil Terluar. Saya mendapatkan atlas tersebut dengan cara membelinya pada tahun 2011 ketika berkunjung ke instansi pemerintah tersebut untuk keperluan membeli peta. Sampai hari ini, 22 Oktober 2014, saya belum sempat membaca atau melihat isi atlas tersebut secara menyeluruh. Hanya pulau-pulau tertentu saja yang sempat saya lihat karena berkaitan dengan pekerjaan. Rasanya sia-sia saya membeli atlas itu karena tidak terbaca isinya. Keadaan itu membuat saya merasa tidak ada bedanya dengan mereka yang tidak membeli atlas itu. Oleh karena itu, untuk merubah hal yang sia-sia itu menjadi lebih bermanfaat, maka saya bertekad untuk membaca satu per satu tentang pulau-pulau kecil yang ada di dalam atlas tersebut, dan kemudian membuat catatan singkat dan mempublikasikan di dalam blog ini agar para pembaca yang tidak memiliki atlas tersebut dapat juga mengetahui tentang pulau-pulau kecil terluar Indonesia melalui blog ini.

Menurut atlas tersebut, Indonesia memiliki 92 (sembilan puluh dua) buah pulau kecil terluar. Tentu memakan banyak waktu untuk membaca tentang pulau-pulau tersebut dan kemudian menuliskan catatannya di dalam blog ini. Oleh karena itu saya akan mencicilnya sedikit demi sedikit. Sejauh ini telah saya buat catatan untuk 7 buah pulau.

  1. Pulau Sentut
  2. Pulau Tokongmalangbiru
  3. Pulau Damar
  4. Pulau Mangkai
  5. Pulau Tokongnanas
  6. Pulau Tokongbelayar
  7. Pulau Tokongboro
  8. Pulau Semium
  9. Pulau Sebetul
  10. Pulau Sekatung
  11. Pulau Senua
  12. Pulau Subi Kecil
  13. Pulau Kepala
  14. Pulau Sebatik
  15. Gosong Makasar – (Catatan: per definisi pulau, maka gosong tidak dapat disebut sebagai sebuah pulau)
  16. Pulau Maratua
  17. Pulau Sambit
  18. Pulau Ligian
  19. Pulau Salando
  20. Pulau Dolangan
  21. Pulau Bangkit
  22. Pulau Manterawu
  23. Pulau Makalehi
  24. Pulau Kawalusu
  25. Pulau Kawiro
  26. Pulau Marore
  27. Pulau Batubawaikang
  28. Pulau Miangas
  29. Pulau Marampit
  30. Pulau Intata
  31. Pulau Kakarutan
  32. Pulau Jiew
  33. Pulau Budd
  34. Pulau Fani
  35. Pulau Miossu
  36. Pulau Fanildo
  37. Pulau Bras
  38. Pulau Bepondi
  39. Pulau Liki
  40. Pulau Kolepon
  41. Pulau Laag – (Catatan: per definisi pulau, Pulau Laag tidak dapat disebut sebagai sebuah pulau)
  42. Pulau Atarkula
  43. Pulau Karaweira
  44. Pulau Panambulai
  45. Pulau Kultubai Utara
  46. Pulau Kultubai Selatan
  47. Pulau Karang
  48. Pulau Enu
  49. Pulau Batugoyang
  50. Pulau Larat
  51. Pulau Asutubun
  52. Pulau Selaru
  53. Pulau Batarkusu
  54. Pulau Masela
  55. Pulau Meatimiarang
  56. Pulau Leti
  57. Pulau Kisar
  58. Pulau Wetar
  59. Pulau Liran
  60. Pulau Alor
  61. Pulau Batek
  62. Pulau Dana
  63. Pulau Dana
  64. Pulau Mangudu
  65. Pulau Sophialouisa
  66. Pulau Barung
  67. Pulau Sekel
  68. Pulau Panehan
  69. Pulau Nusakambangan
  70. Pulau Manuk
  71. Pulau Deli
  72. Pulau Batukecil
  73. Pulau Enggano
  74. Pulau Mega
  75. Pulau Sibarubaru
  76. Pulau Sinyaunyau
  77. Pulau Simuk
  78. Pulau Wunga
  79. Pulau Simeulucut
  80. Pulau Salaut Besar
  81. Pulau Raya
  82. Pulau Rusa
  83. Pulau Benggala
  84. Pulau Rondo
  85. Pulau Berhala
  86. Pulau Batu Mandi
  87. Pulau Iyu Kecil
  88. Pulau Karimun Kecil
  89. Pulau Nipa
  90. Pulau Pelampong
  91. Pulau Batuberhanti
  92. Pulau Nongsa

Pulau-pulau kecil tersebut tersebar di sekeliling Kepulauan Indonesia. Sebagaimana diketahui bahwa secara tektonik Kepulauan Indonesia adalah hasil dari interaksi beberapa lempeng kerak Bumi, sehingga kelompok-kelompok pulau kecil tersebut akan berada di lingkungan teknonik yang berbeda. Kemudian, secara geologis, pulau-pulau tersebut tersusun oleh batuan yang berbeda sehingga memiliki karakter yang berbeda pula dalam merespon kondisi lingkungan disekitarnya. Selanjutnya, menarik juga untuk diungkapkan bagaimana kemungkinan efeki kenaikan muka laut global menurut skenario IPCC terhadap keberadaan pulau-pulau tersebut. Hal ini penting karena akan berdampak pada penentuan batas wilayah negara bila pulau tersebut hilang.

Perserikatan Bangsa-Bangsa melalui UNCLOS 1982 telah memberikan definisi pulau. Menurut definisi pulau dari PBB tersebut, Gosong tidak dapat disebut sebagai Pulau. Oleh karena itu, menurut penulis, Gosong Makasar (Nomor 15) tidak dapat dikategorikan sebagai salah satu Pulau-pulau Kecil Terluar Indonesia.

Selain itu, Pulau Laag (Nomor 41), menurut penulis, sudah tidak dapat lagi disebut sebagai sebuah pulau, karena telah menyatu dengan Pulau Papua. Perubahan status pulau ini tidak akan berpengaruh terhadap batas negara, karena di pulau ini ada Titik Referensi dan Titik Dasar.

 

 

Iklan

Posted in Mengenal Indonesia, Pulau Kecil Terluar | Dengan kaitkata: , , , , | Leave a Comment »

Bumi, Januari 2014

Posted by wahyuancol pada Januari22, 2014

Apa yang sedang terjadi di Bumi?

An idealized view of Earth rising above the lunar terrain, using a focal length similar to the lens used for the Earthrise photographs.

Gambar 0. Bumi dilihat dari Bulan.
(Sumber: http://svs.gsfc.nasa.gov/vis/a000000/a004100/a004129/index.html)
Akses: 22 Januari 2014

Belahan Bumi selatan, Australia, kepanasan karena kebakaran hutan (Gambar 1 dan Gambar 2).

Australia Fires from space

Gambar 1. Lokasi Kebakaran Hutan di Australia
(Sumber: http://veracitystew.com/2013/01/10/climate-watch-australian-heat-literally-off-the-charts/).
Akses: 22 Januari 2014.

Gambar 2. Kebakaran hutan di Australia
(Sumber: http://english.cntv.cn/program/asiatoday/20130108/108295.shtml)
Akses: 22 Januari 2014

Belahan Bumi utara, Amerika, kedinginan membeku karena selimut salju (Gambar 3, 4 dan 5).

File:Snow depth chart noaa nsm depth 2014010705 National.jpg

Gambar 3. Tutupan salju di Amerika Utara pada Januari 2014.
(Sumber: http://en.wikipedia.org/wiki/File:Snow_depth_chart_noaa_nsm_depth_2014010705_National.jpg)
Akses: 22 Januari 2014

USA Kältewelle 07.01.2014

Gambar 4. Amerika Utara Membeku.
North American big freeze: colder than Mars. Chilling temperatures and huge snow falls are gripping the US and Canada. DW English social media followers sent pictures to show us just what’s it’s like to experience temperatures lower than on the surface of Mars. Picture: Iwona, New Hampshire.
(Sumber: http://www.dw.de/north-american-big-freeze-colder-than-mars/g-17347532)
Akses: 22 Januari 2014

A pedestrian's umbrellas is upset during a winter snowstorm in Philadelphia 21 January 2014

Gambar 5. Salju dan Dingin Membeku di Amerika Utara.
(Sumber: http://www.bbc.co.uk/news/world-us-canada-25831549)
Akses: 22 Januari 2014

Di bagian tengah, Indonesia, panas dingin karena Sinabung dan  direndam banjir (Gambar 6 dan 7).

Gambar 6. Erupsi Gunung Sinabung.
(Sumber: http://www.shnews.co/detile-30977-sinabung-butuh-perhatian.html)
Akses 22 Januari 2014

Apa yang sedang terjadi di Bumi?

Mungkinkah sebagian fenimena ini berkaitan dengan perubahan iklim global?

Adakah campur tangan manusia?

Salam,

WBS

Posted in FENOMENA ALAM | Dengan kaitkata: , , , , , , , , , | Leave a Comment »

Bencana Alam di Indonesia 5 (Bencana di Musim Angin Barat)

Posted by wahyuancol pada Januari14, 2013

Macam-macam Bencana

Bulan Desember, Januari dan Februari adalah masa bertiupnya angin barat di sebagian besar Kepulauan Indonesia. Bersamaan dengan itu juga terjadi curah hujan yang tinggi. Konsekuensi dari keadaan tersebut adalah terjadinya gelombang tinggi di perairan Kepulauan Indonesia. Sementara itu di darat terjadi banjir, tanah longsor dan angin ribut.

Perencanaan Menghadapi Bencana

Kepulauan Indonesia terletak di antara Benua Australia dan Asia. Benua Australia terletak di belahan bumi selatan, dan Benua Asia terletak di belahan bumi utara; sedang Kepulauan Indonesia di khatulistiwa. Konsekuensi dari keadaan tersebut salah satunya adalah kawasan Kepulauan Indonesia dipengaruhi oleh monson yang bergerak dari Banua Australia ke Asia dan sebaliknya pada waktu-waktu tertentu.

Pada bulan Desember, Januari dan Februari, angin bertiup dari Benua Asia ke Benua Australia. Sebaliknya, pada bulan Juni, Juli dan Agustus, angin bertiup dari Benua Austalia ke Benua Asia. Pergantian musim angin tersebut berlangsung sepanjang tahun secara teratur. Berkaitan dengan bencana yang berasosiasi dengan musim angin barat di atas, maka dapat dipastikan bahwa asosiasi bencana tersebut akan berulang juga secara teratur setiap tahun.

Asosiasi bencana alam yang datang ketika musim angin barat telah diketahui. Lokasi kejadiannya pun diketahui sehingga dapat dipetakan penyebarannya. Apabila suatu kejadian dapat diketahui lokasi dan waktu kejadiannya, maka dapat pula direncanakan tindakan atau upaya untuk menghadapi dampaknya.

Untuk dapat membuat perencana menghadapi bencana, maka perlu dikatahui aneka dampak dari bencana tersebut bagi kehidupan manusia.

Dampak Bencana Alam bagi Kehidupan Manusia

Pengaruh atau dampak dari berbagai bencana tersebut diatas terhadap kehidupan manusia di Kepulauan Indonesia terjadi dalam berbagai bentuk. Berikut ini digambarkan secara singkat tentang hal itu.

Gelombang tinggi memberikan pengaruh dalam bentuk terganggunya aktifitas pelayaran di perairan maupun di selat-selat yang menyebabkan terganggunya pelayaran antar pulau, serta nelayan tidak dapat ke laut mencari ikan. Terganggunya pelayaran antar pulau atau penyeberangan menyebabkan terganggunya transportasi barang dan manusia antar pulau. Sebagai contoh, terganggunya penyeberangan di Selat Sunda. Gelombang tinggi di perairan selat tersebut menyebabkan penyeberangan ferri tidak dapat beroperasi. Dampak lanjutannya adalah truk-truk pengangkut barang tidak dapat menyeberang. Kerugian ekonomi terjadi antara lain karena terlambatnya pengiriman barang. Untuk daerah-daerah yang pengiriman bahan pokok semata-mata melalui penyeberangan atau pelayaran antar pulau, terganggunya pengiriman barang mengakibatkan terganggunya kehidupan masyarakat dalam bentuk langkanya barang pokok dan naiknya harga-harga. Selain itu, untuk pulau tertentu, musim angin yang menyebabkan gelombang tinggi dapat menyebabkan pulau tersebut terisolir; seperti Pulau Bawean.

Banjir menyebabkan tergenangnya daerah pemukiman, pertanian dan terganggunta transportasi darat karena jalan-jalan yang tergenang. Kerugian ekonomi terjadi karena rusaknya rumah-rumah, lahan pertanian dan sarana transportasi; selain itu juga dapat terjadi kerugian karena terganggunya kegiatan pengiriman barang melalui jalan darat seperti melalui jalan tol. Misalnya banjir yang terjadi di awal tahun 2013 ini yang menggenangi jalan tol Jakarta – Merak.

Tanah longsor menimbulkan kerugian dalam bentuk rusaklnya rumah bila longsor mengenai rumah, dan mengganggu transportasi bila longsor yang terjadi menimbun jalan. Sementara itu angin ribut menyebabkan kerusakan rumah-rumah yang terkena.

Apa yang perlu Dilakukan?

Sampai di sini dulu ya!

Posted in PROSES (BENCANA) ALAM | Dengan kaitkata: , , , , , | Leave a Comment »

Angin Barat 2: Persoalan di Musim Angin Barat

Posted by wahyuancol pada Desember17, 2010

Kini kita di Indonesia telah memasuki Musim Angin Barat tahun 2010. Apabila kita mengikuti berita di berbagai surat kabar atau media massa lainnya, maka akan kita ketahui adanya berbagai persoalan yang timbulnya berkaitan erat dengan hadirnya musim angin barat. Berbagai persoalan itu adalah:

  1. Gangguan transportasi antar pulau. Gelombang yang tinggi dan angin yang kencang di kawasan Selat Sunda telah menyebabkan penyeberangan ferry tidak dapat beroperasi. Akibatnya adalah banyak truk pengangkut barang yang tidak dapat menyeberang dari Pulau Jawa ke Sumatera, dan sebaliknya. Sementar itu, gangguan transportasi juga terjadi di Selat Bali. Operasi penyeberangan Ketapang – Gilimanuk dilakukan buka-tutup. Di Kupang, lintas penyeberangan antar pulau dibatalkan dari Pelabuhan Kupang ke berbagai pulau di kawasan tersebut dibatalkan.
  2. Gangguan aktifitas laut di Bengkulu. Gelombang yang tinggi dan angin yang kencang di perairan Bengkulu menyebabkan para nelayan di daerah tersebut tidak dapat ke laut mencari ikan, dan kapal penumpang tidak dapat beroperasai.
  3. Gangguan transportasi batubara. Transportasi batubara dari Samarinda ke PLTU di Cilacap terganggu karena cuaca buruk di Samudera Hindia.
  4. Gelombang tinggi di perairan Propinsi Banten yang menyebabkan beraktifitas di kawasan pantai menjadi kegiatan yang berbahaya.
  5. Banjir di berbagai kawasan di Indonesia seperti di Pulau Sumatera, Jawa, Bali dan Kalimantan.

Demikianlah gambaran singkat tentang dampak hadirnya musim angin barat di Kepulauan Indonesia. Apa yang diuraikan di atas hanyalah sekedar memberikian contoh yang sedang terjadi sekarang. Masih banyak persoalan yang sama terjadi di kawasan lain di Indonesia yang tidak sempat diberitakan sehingga tidak tercatat.

Kehadiran musim angin barat dan berbagai efek yang ditimbulkan itu bersifat rutin. Pasti terjadi setiap tahunnya sesuai dengan perubahan musim angin atau perubahan monsoon di Kepulauan Indonesia. Oleh karena itu, sebenarnya kita dapat memperhitungkannya kapan datangnya dan efek yang ditimbulkannya, sehingga kita dapat menghadapinya dengan baik.

Gambaran lebih jauh tentang masalah ini dapat dibaca pada Angin Barat 1. Sedang tentang siklus bencana alam di Indonesia dapat dibaca pada Siklus dan Kalender Bencana Alam.

Salam.

Wahyu

Posted in Banjir, Gelombang, PROSES (BENCANA) ALAM, Wilayah Pesisir | Dengan kaitkata: , , , , , | Leave a Comment »

Ironi Negara Kepulauan Indonesia

Posted by wahyuancol pada November3, 2010

Indonesia adalah negara kepulauan. Perjuangan panjang di masa lalu telah membuahkan pengakuan itu dari dunia internasional. Negara kepulauan artinya negara yang terdiri dari banyak pulau, dan laut menjadi bagian yang dominan atas daratan. Logikanya, laut bukanlah hal yang asing bagi penghuni negara kepulauan. Laut bukan masalah, dan laut menjadi sumber kehidupan. Namun demikian, apa yang terjadi akhir-akhir ini di Indonesia tidak mencerminkan sama sekali bahwa Indonesia adalah negara kepulauan. Mari kita menilai diri kita sendiri dengan menyimak kutipan tulisan dari DetikNews.Com berikut ini.

———————————-

Puluhan relawan hanya bisa termangu menatap hujan di Pulau Sikakap, Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat. Beberapa mengusir suntuk dengan menyeduh kopi ditenda-tenda darurat. Beberapa lainnya mengobrol atau sekedar bertukar informasi tentang kondisi terakhir.

Kerutan-kerautan wajah mereka terlihat gelisah. “Kami ingin ke lokasi bencana, tapi melihat ombak setinggi rumah, siapa tidak takut,” kata Ismail, (32), relawan asal Palembang kepada detikcom beberapa waktu lulu.

Pertimbangan ini terbukti oleh alam. Kapal boat dengan ukuran cukup besar yang ditumpangi relawan dari PLN terbalik ditelan ombak. Pun begitu, 24 relawan yang juga berisi wartawan antv sempat hilang kontak akibat terseret ombak hingga terdampar di pantai yang belum terjamah. Kondisi di udara pun sempat merepotkan helikopter dengan kondisi angin yang tak bersahabat selama 3 hari terakhir.

“Ya begitulah kondisinya,” komentar Staf Khusus Presiden, Heru Lelono.

Sebagai negara kepulauan, kenyataan di atas mungkin sangatlah miris. Sebagai kabupaten baru, tak nampak satupun kapal ukuran besar milik Pemkab yang mendistribusikan bantuan ke titik lokasi bencana. Malah, Kapal Polair Antasena yang datang ratusan mil dari Jakarta yang berada di garda depan pendistribusian bantuan.

“Boat mereka hanya sekali mengantarkan ke darat, setelah itu kabur, malah kami yang bolak-balik dari pagi hingga petang,” jelas komandan kapal, Kompol Herry Noor .

Pada sekup regional, konsep pembangunan yang pincang ini paling dekat dilihat dari konsep pembangunan Jakarta. Berlogokan ombak, namun tidak ada pembangunan yang berpihak kepada keberlangsungan laut Jakarta. Hutan bakau dibabat habis, pantai diuruk, nelayan tradisional di usir, tambak diganti dengan menara apartemen, pantai lumpur di ganti pantai pasir, serta jalan amblas dibilang kesalahan konstruksi semata.

Secara nasional, negara bahari tinggal slogan. Lagu nenek moyangku seorang pelaut menjadi guyonan. Dengan luas laut lebih dari 2/3 luas daratan tidak diikuti pembangunan berkonsep bahari.

Penambahan kapal TNI hanya cukup jadi isu manis di DPR. Kapal laut ukuran besar hanya hitungan jari. Tidak sedikit pembangunan dermaga baru malah berakhir di KPK/ kejaksaan. Penahanan 3 anggota DKP oleh Malaysia malah dirayakan dengan 20 menit pidato pujian kepada Malaysia. Pertumbuhan ekonomi berarti meningkatnya lapangan pekerjaan di sektor pertanian. Nelayan selalu di strata sosial paling rendah. Bahkan, tsunami hanya sebagai resiko orang yang tinggal di pulau.

Sehingga jangan heran jika ada bencana, orang lebih suka menyalahkan alam.  Padahal, Mentawai sangat terkenal di mancanegara karena keindahan pantai dan ombaknya yang menyihir para peselancar internasional.

Sumber:

http://www.detiknews.com/read/2010/11/03/025012/1483406/10/tsunami-mentawai-dan-hilangnya-mindset-negara-kepulauan?991102605

Akses: 3 Nopember 2010

Salam,

WBS

 

Posted in Ah... Indonesia ku, HUMANIORA, Kualitas Bangsa | Dengan kaitkata: , , | 2 Comments »