Kepulauan Indonesia

Cerita dari, untuk dan tentang Kepulauan Indonesia beserta Penghuni dan Penduduknya

Archive for the ‘Air’ Category

Tentang air.

Banjir 2014 di Pulau Jawa

Posted by wahyuancol pada Januari21, 2014

Musim hujan di awal tahun 2014 ini menyebabkan banjir di berbagai wilayah di Indonesia. Khusus di Pulau Jawa banjir terjadi menyeluruh di kawasan pesisir utara mulai dari daerah Serang, Banten di bagian barat hingga Rembang di bagian timur. Banyak kerugian materil yang timbul karena banjir tersebut, baik karena pemukiman yang terendam air maupun lumpuhnya transportasi. Pada kesempatan ini kita tidak membicarakan tentang berbagai kerugian tersebut atau penyebab banjir, tetapi akan kita lihat banjir tersebut dari sudut pandang yang lain, yaitu banjir sebagai proses geomorfologi.

Air adalah salah satu agen geomorfologi yang penting di bumi ini. Dengan aktifitas air, permukaan bumi diukir dan berbagai bentang alam dibentuk. Kita yang hidup di permukaan bumi ini, khususnya di Indonesia, sebagian besar hakekatnya adalah hidup di atas bentang alam hasil bentukan oleh proses geomorfologi yang dikerjakan oleh air, baik itu yang tinggal di daerah pegunungan, perbukitan maupun di dataran rendah.

Melalui proses erosi, air mengukir pegunungan atau perbukitan menghasilkan lereng-lereng, punggungan-punggungan dan lembah-lembah. Sementara itu, melalui proses sedimentasi air membentuk dataran.

Aliran air di daerah pegunungan atau perbukitan mengukir pegunungan atau perbukitan tersebut. Rempah-rempah batuan hasil ukiran tersebut kemudian ditransportasikan ke daerah yang lebih rendah untuk kemudian diendapkan. Maka terbentuklah berbagai lahan datar. Melalui mekanisme seperti itulah sebagian besar bagian Pulau Jawa ini diukir dan dibentuk oleh air.

Kawasan pesisir utara Pulau Jawa yang sekarang ini tergenang air banjir terbentuk dengan cara seperti itu. Air banjir yang turun dari daerah pegunungan atau perbukitan di bagian tengah pulan hakekatnya saat ini sedang bekerja dalam skala besar mengukir pegunungan dan perbukitan, mentranspor rempah-rempah hasil ukiran ke laut. Dalam perjalanannya ke laut, sebagian dari rempah-rempah tersebut diendapkan di dataran rendah.

Rempah-rempah atau material atau sedimen yang ditranportasikan oleh aliran air tersebut kaya akan zat hara. Oleh karena itu, mudah dimengerti kalau dataran rendah yang ada di pesisir utara Pulau Jawa itu adalah lahan yang subur. Di lapangan kita melihat bahwa dataran pesisir di utara Pulau Jawa tersebut adalah daerah pertanian yang subur. Dengan pola pikir seperti itu, maka dapat dikatakan bahwa banjir yang berulang terjadi di daerah tersebut hakekatnya adalah cara Tuhan untuk menjaga kelangsungan hidup kita, yaitu dengan memperbaiki kesuburan lahan terus menerus tanpa kita memintanya.

Jadi, banjir yang terjadi sekarang ini menunjukkan Tuhan sedang memperbaiki lahan agar kita dapat memanfaatkannya lagi setelah banjir berakhir. Selain itu, peristiwa ini juga mengingatkan kita bahwa lahan yang sekarang ini mengalami banjir adalah lahan pertanian yang subur. Mengingatkan kembali tentang hal ini penting karena sekarang banyak lahan pertanian yang telah dikonversi untuk penggunaan lain, termasuk pemukiman.

Kemudian, banjir yang merupakan rahmat Tuhan itu sekarang menjadi bencana. Ini mengingatkan agar kita manusia menyesuaikan diri dengan sistem alam yang diciptakan Tuhan dengan mempergunakan akal dan pikiran yang juga telah diberikan kepada kita.

Salam,

WBS

Iklan

Posted in Air, Banjir, Cara Bumi di Hidupkan, Erosi, FILSAFAT, HIDROSFER, HUMANIORA, Manusia dan Alam, PROSES (BENCANA) ALAM, Sedimentasi | Dengan kaitkata: , , , , , , , , , , , , | Leave a Comment »

Rob 1 (arti istilah, makna praktis)

Posted by wahyuancol pada Januari24, 2011

Arti Istilah

Rob adalah istilah lain untuk menyebutkan banjir pasang-surut. Tidak diketahui persis asal kata dari istilah itu, tetapi istilah itu populer di Semarang. Perlu diketahui bahwa Kota Semarang adalah salah satu kota pesisir di Indonesia yang bermasalah dengan banjir pasang-surut.

Makna praktis Rob

Apabila kita melihat banjir pasang-surut atau rob melanda suatu kawasan, satu hal yang penting dicatat adalah, bahwa kawasan tersebut memiliki ketinggian permukaan tanah yang lebih rendah daripada permukaan air laut pada saat air laut pasang. Keadaan itu bersifat permanen. Artinya adalah banjir pasang surut rutin terjadi di kawasan itu dan diperlukan campur tangan manusia untuk menghindarinya.

Mengapa  demikian? Karena secara alamiah, dalam kurun waktu hidup manusia permukaan tanah atau daratan tidak mungkin naik dengan sendirinya sehingga melebihi ketinggian muka laut ketika pasang. Hal seperti itu hanya mungkin terjadi bila ada gerak tektonik yang mengangkat kawasan tersebut, dan itu hanya terjadi dalam skala waktu geologi, atau bila ada guncangan gempa yang luar bias seperti yang terjadi di Nias pada peristiwa Tsunami 26 Desember 2004.

Demikian pula dengan fenomena pasang-surut. Tidak mungkin kurun waktu sejarah hidup manusia permukaan laut turun sehingga permukaan daratan menjadi lebih tinggi. Bahkan sekarang ada kecenderungan muka laut naik yang memberikan gambaran bahwa di masa depan banjir pasang-surut akan lebih parah dalam arti genangan air akan makin dalam dan luar areal genangan akan makin luas menjangkau ke arah daratan.

Semoga bermanfaat,

Salam.

Lebih jauh tentang Rob? Silahkan klik link di bawah ini:

Rob 2, Rob 3, Rob 4

Posted in Air, Banjir, GLOSARIUM, HIDROSFER, Pasang surut, PROSES (BENCANA) ALAM, R | Dengan kaitkata: , , , , , | 2 Comments »

Sungai 2 (hulu dan hilir)

Posted by wahyuancol pada Januari22, 2011

Pembagian Daerah Aliran Sungai

Aliran sungai dimulai dari daerah yang lebih tinggi di kawasan pegunungan atau perbukitan dan berakhir di kawasan pesisir atau tepi pantai. Daerah tempat aliran sungai berawal disebut sebagai daerah hulu sungai, dan daerah tempat aliran sungai berakhir disebut sebagai daerah hilir. Di antara kedua daerah tersebut terdapat daerah pertengahan yang merupakan daerah transisi. Jadi, dalam kondisi ideal, daerah aliran sungai dapat dibedakan menjadi daerah hulu, daerah pertengahan atau transisi, dan daerah hilir.

Profil memanjang aliran sistem aliran sungai. Sumber: Fitzpatrick et al (2006)

Bagaimana perbedaan karakter antara daerah hulu, pertengahan, dan hilir berkaitan dengan aspek-aspek berikut ini?

  • Elevasi
  • Gravitasi
  • Kecepatan aliran
  • Volume air
  • Volume muatan sedimen
  • Proses erosi
  • Proses deposisi
  • Ukuran butir muatan sedimen
  • Transportasi muatan sedimen
  • Sifat erosi (vertikal, ke samping, ke hulu)
  • Bentuk aliran sungai (lurus, berkelok)
  • Profil melintang lembah sungai

 

Karakter Daerah Hulu

Bentuk lembah: Berbentuk huruf “V”.

Alur sungai: Lembah sungai tidak dapat dibedakan dari alur sungai. Cenderung relatif lurus. Alur-alur cabang sungai bertemu membentuk alur utama.

Kondisi dasar sungai: Berbatu, sering ada air terjun atau riam (rapids), potholes, dasar sungai tidak teratur.

Bentang alam: Air terjun, riam, potholes, boulder-boulder di dasar sungai.

Debit sungai: Relatif kecil dan sangat dipengaruhi oleh curah hujan. Tidak pernah banjir (air sungai meluap).

Proses Erosi: Aksi hidrolik dan attrisi. Sebagian besar erosi vertikal, mengerosi batuan induk.

Proses Transportasi: Sebagian besar muatan dasar. Sedikit muatan suspensi dan terlarut.

Proses Deposisi: Terbatas untuk boulder, di dasar sungai.

Sedimen: Sebagian besar berukuran boulder.

 

Karakter Daerah Transisi

Bentuk lembah: Berbentuk huruf “U”.

Alur sungai: Lembah sungai lebih lebar daripada alur sungai. Cenderung berkelok membentuk meander.

Kondisi dasar sungai: Dasar sungai teratur, berendapan pasir. Boulder berkurang dan menghilang.

Bentang alam: Riam, meander kecil, dataran banjir sempit.

Proses Erosi: Sebagian besar attrisi dengan sedikit aksi hidrolik; erosi vertikal sedikit, erosi lateral dimulai.

Proses Transportasi: Muatan dasar berukuran kecil digerakkan secara traksi, muatan suspensi meningkat, dan sedikit muatan terlarut.

Proses Deposisi: Pengendapan material kasar (pasir kasar dan gravek halus), pengendapan di slip-off slope, pengendapan di dataran banjir.

Sedimen: Dominan pasir

Karakter Daerah Hilir

Bentuk lembah: Berbentuk huruf “U” yang melebar.

Alur sungai: Lembah sungai jauh lebih lebar daripada alur sungai. Aliran sungai mengalir di atas endapannya sendiri. Apabila terbentuk delta, alur sungai cenderung lurus dan terbagi menjadi beberapa cabang sungai yang menyebar.

Kondisi dasar sungai: Halus berlumpur. Aliran air permanen meskipun debit airnya dipengaruhi oleh musim.

Bentang alam: Meander besar, tanggul alam, dataran banjir luas (Gambar). Di daerah muara sungai dapat terbentuk delta.

Proses Erosi: Erosi berkurang, beberapa erosi lateral terjadi di sisi luar kelokan meander (cut-off slope.)

Proses Transportasi: Mendapat air dan muatan sedimen dari alur di hulu. Kondisi debit air diopengaruhi oleh kondisi di daerah hulu. Sebagian besar muatan tertransport dalam bentuk suspensi. Banjir terjadi bila debit air dari hulu melebihi daya tampung alur.

Proses Deposisi: Sebagian besar partikel halus, membentuk slip-off slope, tanggul alam dan dataran banjir. Pengendapan di dataran banjir dan tanggul alam terjadi ketika banjir.

Sedimen: Dominan lanau dan lempung.

 

 

Semoga bermanfaat.

 

Terus, kembali ke Sungai-1

Posted in Air, Banjir, Erosi, HIDROSFER, PROSES (BENCANA) ALAM, Sungai | Dengan kaitkata: , , , , , , , , , , | 23 Comments »

Sungai 1 (pengertian, struktur aliran, banjir)

Posted by wahyuancol pada Januari21, 2011

Pengertian

Sungai dapat didefinisikan sebagai saluran di permukaan bumi yang terbentuk secara alamiah yang melalui saluran itu air dari darat menglir ke laut.

Di dalam Bahasa Indonesia, kita hanya mengenal satu kata “sungai”. Sedang di dalam Bahasa Inggris dikenal kata “stream” dan “river”. Kata “stream” dipergunakan untuk menyebutkan sungai kecil, sedang “river” untuk menyebutkan sungai besar.

Asal Air Sungai

Dalam siklus hidrologi, aliran sungai digolongkan sebagai aliran permukaan (Gambar).

Air sungai bisa berasal dari air hujan (terutama di daerah tropis) dan bisa pula berasal dari es yang mencair di gunung atau pegunungan (terutama di daerah empat musim). Oleh karena itu, debit air sungai bisa sangat dipengaruhi oleh musim. Bagi kita di Indonesia yang berada di daerah tropis, depit air sungai akan tinggi bila musim hujan dan rendah di musim kemarau. Sementara itu, di daerah empat musim, debit aliran sungai meningkat ketika musim dingin berakhir karena salju mencair.

Daerah Aliran Sungai (DAS)

Air hujan yang jatuh ke permukaan bumi akan mengalir di permukaan bumi dan kemudian masuk ke dalam alur sungai dan mengalir sebagai aliran sungai. Kawasan di permukaan bumi yang bila turun hujan air itu masuk ke suatu aliran sungai tertentu disebut sebagai Daerah Aliran Sungai atau dikenal sebagai DAS (Gambar). Jadi, besar atau kecilnya debit air sungai, selain ditentukan oleh tingginya curah hujan juga ditentukan oleh luas DAS.

Struktur Aliran Sungai

Aliran sungai di suatu kawasan atau di dalam DAS dapat kita umpamakan seperti sebatang pohon. Sungai utama sebanding dengan batang pohon, dan anak-anak sungai sebanding dengan cabang-cabang pohon dan rantingnya. Ibarat sebatang pohon, makin besar sungai itu, maka makin banyak pula anak-anak sungai yang mengalirkan aliran airnya ke dalam sungai utama. Pada sistem aliran sungai, cabang sungai yang paling luar atau yang terjauh dari sungai induk disebut sengan sungai orde satu. Pertemuan antara dua sungai orde satu menghasilkan sungai orde dua dan seterusnya sampai ke sungai induk.

Jadi, makin besar sebuah sungai berarti makin banyak cabang dan anak-anak sungainya. Dengan demikian pula dengan debit sungai, makin banyak cabang atau anak sungai, maka makin besar pula debit sungai induknya.

Sungai dan Banjir

Aliran sungai sangat erat hubungannya dengan banjir. Banjir di sekitar aliran sungai, seperti yang terjadi di Australia dalam bulan Januari ini, terjadi karena volume air termukaan yang masuk ke dalam aliran sungai melebihi kapasitas alur sungai untuk menampungnya.

Semoga bermanfaat.

Terus ke Sungai-2

Posted in Air, Banjir, GLOSARIUM, HIDROSFER, PROSES (BENCANA) ALAM, S, Sungai | Dengan kaitkata: , , , , , , , | 4 Comments »

Banjir 2 (dimensi manusia)

Posted by wahyuancol pada November1, 2009

Secara alamiah, banjir adalah proses alam yang biasa dan merupakan bagian penting dari mekanisme pembentukan dataran di Bumi kita ini. Melalui banjir, muatan sedimen tertransportasikan dari daerah sumbernya di pegunungan atau perbukitan ke daratan yang lebih rendah, sehingga di tempat yang lebih rendah itu terjadi pengendapan dan terbentuklah dataran. Melalui banjir pula muatan sedimen tertransportasi masuk ke laut untuk kemudian diendapkan diendapkan di tepi pantai sehingga terbentuk daratan, atau terus masuk ke laut dan mengendap di dasar laut. Banjir yang terjadi secara alamiah ini sangat ditentukan oleh curah hujan.

Perlu benar kita sadari bahwa banjir itu melibatkan air, udara dan bumi. Ketiga hal itu hadir di alam ini dengan mengikuti hukum-hukum alam tertentu yang selalu dipatuhinya. Seperti: air mengalir dari atas ke bawah, apabila air ditampung di suatu tempat dan tempat itu penuh sedang air terus dimasukkan maka air akan meluap, dan sebagainya.

Tetapi, manusia dapat juga menyebabkan banjir.

Bila air hujan turun dan sampai di permukaan Bumi, sebagian air itu meresap ke dalam tahan dan membentuk  air tanah, sebagian lainnya mengalir di permukaan tanah sebagai aliran permukaan yang secara umum terekspresikan sebagai aliran sungai, dan sebgaian kecil menguap kembali. Secara alamiah, pada waktu-waktu tertentu, ketika curah hujan sangat tinggi di musim hujan, aliran air permukaan menjadi sangat besar memebihi kapasitas alur sungai sehingga tidak dapat tersalurkan dengan baik melalui aliran sungai. Air meluap dan terjadilah apa yang kita sebut banjir.

Aliran permukaan = curah hujan – (peresapan air + penguapan air)

Besarnya curah hujan dan penguapan air di suatu kawasan adalah faktor yang ditentukan oleh kondisi alam dan manusia tidak dapat mempengaruhinya. Manusia hanya dapat mempengaruhi peresapan air ke dalam tanah.

Peresapan air ke dalam tanah ditentukan oleh faktor-faktor berikut ini:

  1. Kondisi tanah. Tanah berpasir yang gembur lebih mudah menyerap air daripada tanah yang banyak mengandung lempung. Untuk faktor ini, manusia dapat mengurangi peresapan air melalui cara pemadatan tanah, atau menutup permukaan tanah dengan material yang kedap air seperti menutup permukaan tanah dengan semen.
  2. Kondisi permukaan tanah. Permukaan tanah yang ditumbuhi rumbut atau belukar lebih banyak menyerap air daripada tanah yang tanpa rumput/belukar atau rumput/belukarnya jarang. Manusia dapat mempengaruhi faktor ini dengan cara memelihara rumput/belukar, atau menghilangkan rumput/belukar.
  3. Besarnya kemiringan lereng permukaan tanah. Tanah dengan sudut kemiringan lereng yang lebih kecil lebih  mudah menyerap air daripada tanah dengan sudut kemiringan lereng lebih besar. Manusia dapat mempengaruhi faktor ini mengurangi kemiringan lereng, seperti dengan membuat lahan berteras.
  4. Vegetasi penutup. Tanah yang banyak ditumbuhi pohon lebih banyak menyerap air daripada tanah sedikit atau tidak ditumbuhi pohon. Manusia dapat mempengaruhi faktor ini dengan menanam atau memelihara pohon untuk mengurangi aliran permukaan, atau menebang pohon yang dapat meningkatkan aliran permukaan.

Perlu kita ingat bahwa ke-empat faktor tersebut tidak berdiri sendiri, melainkan dapat berkaitan satu sama lain. Sebagai contoh: apabila kita memiliki lahan yang berlereng dan kita ingin meningkatkan banyaknya air yang meresap di lahan itu atau mengurangi aliran permukaan, maka kita dapat melakukannya dengan menanaminya dengan pohon-pohon atau membuatnya berteras-teras. Contoh sebaliknya, apabila ada lahan miring bervegetasi, seperti lereng gunung yang berhutan, jumlah air yang mengalir sebagai air permukaan akan meningkat apabila kita menebang pohon-pohon itu. Pada contoh yang terakhir inilah, maka banjir tidak lagi murni alamiah, tetapi telah dipengaruhi oleh campur tangan manusia.

Manusia dapat memilih takdirnya.

Karena manusia dapat mempengaruhi debit aliran permukaan dan dapat mempelajari karakter aliran sungai, maka berkaitan dengan banjir kita dapat mengatakan bahwa manusia dapat memilih takdirnya sendiri.

Apabila kita tidak ingin terkena banjir maka perlu melakukan hal-hal berikut ini:

  1. Jangan bertempat tinggal di daerah yang secara alamiah merupakan tempat penampungan air bila aliran sungai meluap, seperti di dataran tepi sungai yang akan dilalui oleh air sungai bila debitnya meningkat, di dataran banjir di sepanjang aliran sungai yang akan digenangi air bila air sungai meluap ketika curah hujan tinggi di musim hujan, atau di rawa-rawa.
  2. Jangan merusak hutan di daerah peresapan air di pegunungan atau perbukitan, karena lahan yang terbuka akan meningkatkan aliran permukaan yang menyebabkan banjir di waktu yang sebenarnya tidak terjadi banjir, atau memperhebat banjir yang biasanya terjadi.
  3. Menjaga alur tetap baik sehingga aliran air sungai  lancar. Alur sungai yang menyempit atau terbendung akan menyebabkan banjir.
  4. Untuk daerah pemukiman atau perkotaan, kita harus menjaga saluran drainase agar tetap baik dan tidak tersumbat sehingga dapat berfungsi sebagaimana mestinya menyalurkan air hujan yang turun atau menyalurkan aliran permukaan ke sungai-sungai atau saluran yang lebih besar.

Itulah hal-hal yang perlu dilakukan agar manusia tidak terkena banjir atau memilih takdirnya untuk tidak kena banjir.

Perlu Kerjasama.

Untuk dapat memilih takdir tidak terkena banjir, manusia tidak dapat berdiri sendiri, melainkan harus bekerjasama. Skala kerjasama bisa dalam satu komplek pemukiman, satu kota, satu DAS (Daerah Aliran Sungai) dan bahkan harus seluruh umat manusia.

Kerjasama seluruh umat manusia di bumi ini diperlukan untuk dapat menghadapi banjir yang disebabkan oleh perubahan iklim global. Dengan kata lain, diperlukan kerjasama internasional untuk menghadapinya.

Kerjasama seluruh manusia yang tinggal di suatu DAS diperlukan untuk dapat mengatasi masalah banjir yang melibatkan suatu sistem tata air yang melibatkan suatu DAS.

Untuk banjir yang terjadi di suatu kawasan pemukiman atau kota karena buruknya drainase, maka perlu kerjasama seluruh penghuni pemukiman atau kota tersebut dalam arti yang seluas-luasnya, baik itu kerjasama antar anggota masyarakat, kerjasama antara masyarakat dan pemerintah, dan kerjasama antar instansi pemerintah, serta kerjasaman antara eksekutif, legislatif dan yudikatif. Misalnya: apabila masyarakat dihimbau tidak membuang sampah sembarangan, tentu pemerintah harus menyediakan tempat pembuangan sampah yang memadai dan selalu mengangkutnya ke TPA (Tempat Pembuangan Akhir); bila DinasKebersihan membutuhkan tambahan armada pengangkut sampah maka Pemerintah harus memenuhinya; dan sebagainya.

Penutup

Sebagai penutup, perlu kita ingat bahwa banjir adalah proses alam dan manusia dapat mempengaruhi kejadiannya. Dengan pengetahuannya, manusia dapat memilih takdirnya untuk kena banjir atau tidak kena banjir. Dalam memilih takdirnya itu, manusia perlu bekerjasama. Skala kerjasama yang diperlukan disesuaikan dengan skala persoalan yang dihadapi.

Semoga bermanfaat.

Salam,

Wahyu

Ingin tahu lebih jauh tentang banjir?

Banjir 1, Banjir 3, Banjir 4, Banjir 5, Banjir 6

Posted in Air, B, Banjir, GLOSARIUM, HIDROSFER, PROSES (BENCANA) ALAM | Dengan kaitkata: , , , , , , , , , , , | 7 Comments »