Kepulauan Indonesia

Cerita dari, untuk dan tentang Kepulauan Indonesia beserta Penghuni dan Penduduknya

Posts Tagged ‘Curah hujan’

Bumi, Januari 2014

Posted by wahyuancol pada Januari22, 2014

Apa yang sedang terjadi di Bumi?

An idealized view of Earth rising above the lunar terrain, using a focal length similar to the lens used for the Earthrise photographs.

Gambar 0. Bumi dilihat dari Bulan.
(Sumber: http://svs.gsfc.nasa.gov/vis/a000000/a004100/a004129/index.html)
Akses: 22 Januari 2014

Belahan Bumi selatan, Australia, kepanasan karena kebakaran hutan (Gambar 1 dan Gambar 2).

Australia Fires from space

Gambar 1. Lokasi Kebakaran Hutan di Australia
(Sumber: http://veracitystew.com/2013/01/10/climate-watch-australian-heat-literally-off-the-charts/).
Akses: 22 Januari 2014.

Gambar 2. Kebakaran hutan di Australia
(Sumber: http://english.cntv.cn/program/asiatoday/20130108/108295.shtml)
Akses: 22 Januari 2014

Belahan Bumi utara, Amerika, kedinginan membeku karena selimut salju (Gambar 3, 4 dan 5).

File:Snow depth chart noaa nsm depth 2014010705 National.jpg

Gambar 3. Tutupan salju di Amerika Utara pada Januari 2014.
(Sumber: http://en.wikipedia.org/wiki/File:Snow_depth_chart_noaa_nsm_depth_2014010705_National.jpg)
Akses: 22 Januari 2014

USA Kältewelle 07.01.2014

Gambar 4. Amerika Utara Membeku.
North American big freeze: colder than Mars. Chilling temperatures and huge snow falls are gripping the US and Canada. DW English social media followers sent pictures to show us just what’s it’s like to experience temperatures lower than on the surface of Mars. Picture: Iwona, New Hampshire.
(Sumber: http://www.dw.de/north-american-big-freeze-colder-than-mars/g-17347532)
Akses: 22 Januari 2014

A pedestrian's umbrellas is upset during a winter snowstorm in Philadelphia 21 January 2014

Gambar 5. Salju dan Dingin Membeku di Amerika Utara.
(Sumber: http://www.bbc.co.uk/news/world-us-canada-25831549)
Akses: 22 Januari 2014

Di bagian tengah, Indonesia, panas dingin karena Sinabung dan  direndam banjir (Gambar 6 dan 7).

Gambar 6. Erupsi Gunung Sinabung.
(Sumber: http://www.shnews.co/detile-30977-sinabung-butuh-perhatian.html)
Akses 22 Januari 2014

Apa yang sedang terjadi di Bumi?

Mungkinkah sebagian fenimena ini berkaitan dengan perubahan iklim global?

Adakah campur tangan manusia?

Salam,

WBS

Iklan

Posted in FENOMENA ALAM | Dengan kaitkata: , , , , , , , , , | Leave a Comment »

Penyebab Banjir di Jakarta

Posted by wahyuancol pada Januari20, 2014

Tulisan ini dibuat ketika Jakarta dilanda banjir tahun 2014 di bulan Januari berdasarkan hasil pengamatan langsung di lapangan maupun mengamati berita-berita tentang banjir dari berbagai media. Dari hasil pengamatan tersebut, saya sampai pada kesimpulan bahwa ada beberapa kondisi yang menyebabkan banjir di Jakarta, yaitu:

  1. Curah hujan yang tinggi. Curah hujan menjadi penyebab utama banjir, baik hujan yang terjadi di wilayah Jakarta maupun di Bogor. Curah hujan menjadi penyebab utama karena bila tidak ada hujan maka tidak akan ada banjir. Bulan-bulan Desember, Januari dan Februari memang bulan-bulan dengan curah hujan tinggi untuk kawasan Jakarta dan sekitarnya. Secara umum, tingginya curah hujan terlihat menyebabkan banjir di banyak wilayah di Indonesia, seperti di Jawa, Sumatera, Sulawesi dan Papua.
  2. Salah memilih tempat tinggal. Banyak daerah-daerah terbangun di Jakarta sebelumnya adalah daerah-daerah dihindari untuk dijadikan daerah pemukiman karena merupakan lahan basah atau rawa atau aliran sungai. Perkembangan jumlah penduduk di Jakarta penyebabkan daerah-daerah rawa dan tepi sungai dijadikan daerah pemukiman.
    1. Rawa-rawa. Rawa-rawa memang tempatnya air, sehingga bila hujan turun maka air akan berkumpul di daerah tersebut sehingga wajar bila bila hujan pemukiman di daerah tersebut akan banjir. Banyak daerah pemukiman di Jakarta memiliki nama dengan kata depan “Rawa”.
    2. Tepi sungai. Daerah tepi sungai atau bantaran sungai di Jakarta juga sudah menjadi daerah hunian. Bila debit air sungai naik, maka daerah ini yang pertama kali akan terjena banjir karena memang daerah tersebut bagian dari alur sungai. Seperti daerah Kampung Pulo, Kampung Melayu.
    3. Cekungan. Daerah cekungan adalah tempat air permukaan berkumpul bila terjadi hujan. Daerah cekungan yang berada di tempat yang tinggi dalam kondisi alamiah bisa merupakan daerah yang kering. Bila daerah cekungan di jadikan daerah hunian maka persoalan banjir bisa muncul bila curah hujan tinggi.
    4. Daerah labil. Daerah labil atau belum stabil terdapat di daerah pesisir. Bila mendapat beban, maka permukaannya akan turun. Apabila permukaan tanah turun menjadi lebih rendah daripada permukaan laut, maka daerah ini menjadi daerah banjir pasang-surut. Kasus seperti ini terjadia di Jakarta Utara.
  3. Drainase yang buruk. Drainase kota yang buruk menjadi salah satu penyebab genangan atau memperparah kondisi banjir. Buruknya sistem drainase kota dapat dilihat dari terjadinya genangan ketika curah hujan masih sangat rendah dan / atau kondisi  air harus dipompa untuk mengeringkan genangan. Masalah drainase kota ini muncul antara lain karena daerah pemukiman yang lebih rendah daripada daerah sekitarnya seperti di cekungan atau rawa. Hal lain yang berkaitan dengan drainase ini adalah masalah sampah.
  4. Sampah kota. Sampah kota merupakan salah satu masalah di Jakarta. Sampah-sampah dapat menyumbat drainase atau menghambat aliran sungai. Tingginya volume sampah yang terperangkap di pintu air Manggarai merup[akan salah satu bukti masalah sampah di Jakarta.
  5. Turunnya permukaan tanah. Turunnya permukaan tanah atau subsiden menjadi salah satu faktor yang menyebabkan banjir di Jakarta, khususnya di Jakarta Utara. Turunnya permukaan tanah menyebabkan permukaan tanah menjadi lebih rendah daripada permukaan air sungai ketika laut dalam kondisi pasang. Keadaan ini menyebabkan tidak ada hujan pun Jakarta Utara dapat mengalami banjir. Salah satu contohnya adalah di Jalan Gunung Sahari bagian utara. Bila kondisi tersebut berkombinasi dengan curah hujan yang tinggi, maka ketinggian air banjir dan luas daerah genangannya makin besar.
  6. Pasang-surut. Pasang-surut telah berkembang menjadai salah satu penyebab banjir di Jakarta Utara karena berkombinasi dengan turunnya permukaan tanah. Bila kondisi laut pasang berkombinasi dengan curah hujan yang tinggi, maka akan menimbulkan genangan yang luas dan lebih tinggi daripada bila faktor itu sendiri.

Dari hasil pengamatan tersebut, secara umum dapat disebutkan bahwa penyebab banjir di Jakarta terjadi karena kombinasi faktor alam dan faktor manusia. Hal tersebut dapat diuraikan lebih lanjut sebagai berikut:

  1. Faktor alam. Faktor ini terdiri dari kondisi Meteorologi (berkaitan dengan curah hujan), kondisi Geomorfologi (berkaitan dengan bentang alam: sistem aliran sungai dan morfologi permukaan lahan), dan Oseanografi (berkaitan dengan pasang-surut).
  2. Faktor manusia. Faktor ini berkaitan dengan manajemen pemerintahan dan tatakota, serta tingakah laku warga kota.

————————-

Rabu 5 Februari 2014

Hari ini kembali Jakarta digenangi air di banyak lokasi termasuk kawasan di jalan Merdeka dan Thamrin. Genangan itu terjadi setelah sejak menjelang pagi Jakarta diguyur hujan. Sementara itu, hari ini dikabarkan kawasan Bogor dan Depok cerah.

Dari peristiwa munculnya genangan hari ini di Jakarta dengan kondisi tanpa hujan di Bogor dan Depok (Detiknews), maka kita dapat mengeliminasi faktor hujan di kawasan hulu sebagai penyebab banjir di Jakarta hari ini.

Sementara itu, di pihak yang lain, ketinggian pasang-surut di Jakarta hari ini juga rendah. Hanya 0,8 m pada puncaknya di jam 06.00, dan setelah itu turun. Keadaan ini menunjukkan pasang air laut tidak berkontribusi besar dalam banjir di kawasan utara Jakarta pagi ini (pasanglaut.com).

Dengan demikian, maka dapat kita katakan bahwa banjir yang terjadi pada hari ini di Jakarta merupakan bukti bagi buruknya sistem drainase kota Jakarta.

 

Wassalam,

WBS

Posted in Banjir, HUMANIORA, Manusia dan Alam, PROSES (BENCANA) ALAM | Dengan kaitkata: , , , , , , , , , , | Leave a Comment »

Jakarta Under Water

Posted by wahyuancol pada Januari18, 2013

Kemaren, Kamis 17 Januari 2013, Kota Jakarta dilanda banjir yang menggenangi sebagian besar kawasan kota itu. Banjir bahkan mencapai istana negara, dan acara penerimaan tamu negara, Presiden Argentina, sempat ditunda. Presiden sempat turun ke lapangan meninjau daerah banjir di Kali Ciliwung dengan mempergunakan Sea Rider. Gubernus DKI mengkoordinir kegiatan penanganan dampak banjir langsung dari lapangan. Sekolah-sekolah dan kantor-kantor banyak yang diliburkan. Tanggap darurat banjir diumumkan oleh Gubernur DKI sampai tanggal 27 Januari 2013.

Banjir dimulai dengan siraman hujan lebat yang dimulai sekitar jam 02 dini hari. Setelah itu, air perlahan naik dan menggenangi berbagai kawasan kota Jakarta. Sebelum jam 08 pagi, para pekerja masih dapat mencapai kantor; setelah jam itu, lalu lintas kota lumpuh (Gambar 1). Banyak pegawai atau pekerja yang kembali sebelum sampai ke tempat kerjanya; dan yang sudah sampai berusaha pulang, meskipun dengan berjalan kaki. Ada juga yang memilih menginap di kantor dan pulang di pagi harinya. Militer mengerahkan truknya sebagai alat angkut menggantikan transportasi kota yang lumpuh. Kereta commuter line dari Bekasi hanya sampai Jatinegara, dan yang dari Bogor sampai Manggarai. Sore hari genangan banjir mulai surut, tetapi belum sampai habis semua genangan.

Banjir Bundaran HI Dari Atas Gedung

Gambar 1. Banjir di Bundaran Hotel Indonesia.

(Sumber: http://foto.detik.com/readfoto/2013/01/17/134103/2144944/157/2/banjir-bbanjir-bundaran-hi-dari-atas-gedung)

Banjir tahun ini lebih parah dari pada banjir tahun 2007 dan 2002. Jalan protokol dan istana negara sempat tergenang banjir. Kondisi ini terjadi antara lain karena jebolnya tanggul Kanal Banjir Barat di Latuharhari sepanjang 10 m. Gubernus DKI mengkoorinir langsung upaya memperbaiki tanggul yang jebol itu. Di malam hari, tersiar kabar bahwa tanggul telah diperbaiki.

Pada banjir kali ini sebuah peristiwa yang dramatis lain terjadi. Air banjir masuk membanjiri basement gedung UOB dan menjebak 4 orang pekerja kebersihan.

Di hari kedua, Jum ‘at 18 Januari 2013, sebagian besar daerah genangan banjir di hari pertama masih ada. Di pagi hari transportasi kota masih belum beroperasi. Menjelang siang, beberapa jalur busway bisa dioperasikan. Untuk kantor-kantor yang tidak tergenang banjir, pegawai-pegawainya adanyang masuk untuk bekerja. Namun, tanggul di Latuharhari jebol kembali dengan bukaan sepanjang 30 m. Gubernus DKI meminta bantuan kepada pihak swasta untuk memperbaiki tanggul itu.

—————————–

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika memberitakan bahwa curah hujan yang terjadi di Jakarta pada saat banjir kali ini lebih rendah daripada curah hujan yang terjadi ketika bannir di tahun 2007. Ini artinya bahwa kontribusi curah hujan di tahun 2013 lebih kecil daripada di tahun 2007. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa, sebagai penyebab banjir, kontribusi aliran sungai yang berhulu di daerah Bogor lebih besar daripada kontribusi curah hujan. Di lapangan, aliran Kali Ciliwung meluap.

Di Kota Jakarta sendiri bukan tidak ada masalah yang turut menyebabkan banjir lebih parah. Sampah yang tidak tertangani dengan baik dan sistem drainase kota yang buruk tidak disangkal lagi menyumbang bagi buruknya kondisi banjir tahun ini. Selain itu, jebolnya tanggul Kanal Banjir Barat berkontribusi nyata bagi terjadinya genangan banjir di jalan Thamrin sampai ke istana negara.

—————————-

Ketika musim hujan datang dan banjir seperti sekarang ini, Bendungan Katulampa di Bogor mendapat perhatian yang tinggi (Gambar 2). Ketinggian airnya dipantau 24 jam dan terus menerus dilaporkan perkembangannya kepada khalayak umum. Hal itu karena volume air yang datang dari bendung itu menentukan kondisi banjir di Jakarta. Bagi pengendalian banjir di Jakarta, bendungan tersebut memegang peran yang sangat vital.  Muncul di dalam pikiran, apa yang akan terjadi dengan Kota Jakarta bila bendungan itu jebol di saat seperti sekarang ini? Rasanya sudah waktunya pula kita memikirkan kondisi bendungan tersebut, karena bendung itu adalah buatan Belanda dahulu dan umurnya sudah tua. Bendung Katulampa dibuat oleh Belanda pada tahun 1911 dan diresmikan tahun 1912. Berarti tahun ini genap 100 tahun umur bendung tersebut.

Gambar 2. Bendungan Katulampa. Keselamatan Jakarata dari bencana banjir sangat ditentukan oleh kondisi bendungan ini.

(Sumber: http://news.detik.com/read/2013/01/18/220704/2146941/10/kata-belanda-katulampa-bagian-pengendalian-banjir-batavia?nd772205mr)

—————————

Hari ini, Sabtu 19 Januari 2013, adalah hari ketiga sejak banjir yang melumpuhkan Jakarta. Kota Jakarta terasa hangat meski mendung putih menutupi kota. Cuaca yang cerah sudah terlihat tadi malam. Langit bersih dengan bintang-bintang dan bulan sabit. Sebagian besar angkutan umum, termasuk busway telah beroperasi kembali, menandakan Jakarta telah berdenyut kembali meskipun beberapa kawasan masih tergenang banjir. Pelayanan kereta api masih terganggu. Secara umum, genangan banjir di Jakarta telah surut. Namun di daerah Penjaringan banjir masih tinggi dan ada kecenderungan naik.

Musim hujan masih akan berlangsung sampai Februari. Kondisi bulan purnama akan terjadi pada tanggal 27 Januari 2013. Ada yang memprediksi bahwa pada tanggal tersebut kemungkinan banjir akan datang kembali. Prediksi itu bisa menjadi kenyataan bila tanggal 25 dan 26 Januari 20113 terjadi curah hujan yang tinggi di Bogor dan Jakarta. Apabila tidak ada curah hujan yang tinggi di kedua kawasan tersebut, maka hanya akan terjadi banjir pasang-surut biasa di bagian utara Jakarta.

Semoga prediksi itu tidak menjadi kenyataan. Amin.

——————————

Hari ini, Minggu 20 Januari 2013, daerah Pluit, Penjaringan menjadi fokus perhatian dalam penanganan masalah banjir di Jakarta. Sementara di kawasan lain genangan banjir telah surut, genangan banjir di Penjaringan meningkat ketinggiannya. Hari ini  genangan masih mencapai lebih dari 1,5 m. Bagi kawasan Penjaringan, banjir kali ini adalah yang terburuk dalam sejarah kawasan itu. Untuk mempercepat penanganan masalah banjir di kawasan Pluit, Marinir TNI AL mengerahkan 3 kendaraan angkut amfibi yang dipergunakan untuk evakuasi, dan penyebaran bantuan logistik.

Pada hari ini, perbaikan tanggul di Latuharhary selesai dengan tanggul sementara. Upaya mencari pekerja yang terjebak di basement gedung UOB juga selesai, dengan 2 orang ditemukan selamat dan 2 orang tewas.

Presiden mengunjungi pengungsi banjir di daerah Jatinegara. Saat tulisan ini di-update, Menteri PU sedang memberikan penjelasan tentang program penanganan banjir Jakarta kepada Presiden di lapangan. Di sebutkan beberapa kali bahwa salah satu masalah utama dalam upaya penangulangan banjir adalah masalah pembebasan lahan.

Ada yang menarik, Presiden mengoreksi menterinya dalam berbahasa Indonesia. Pak menteri menyebutkan Banjir Kanal Barat, dan dikoreksi oleh Presiden bahwa dalam Bahasa Indonesia yang benar adalah Kanal Banjir Barat.

Pada penjelasan Menteri PU tersebut disampaikan beberapa rencana: (1) Penyelesaiam Kanal banjir Barat, (2) Sodetan dari Kali Ciliwung ke Kanal Banjir Timur, (3) Pembuatan Waduk Ciawi, (4) Terowongan bawah tanah serba guna, dan (4) Tanggul lepas pantai di Teluk Jakarta.

Setelah penjelasan Menteri PU, kemudian diadakan rapat tertutup antara Presiden, beberapa menteri terkait, Gubernur DKI, Ketua BNBP. Setelah pertemuan itu, Presiden mengumumkan pada konferensi pers bahwa prioritas upaya mengatasi banjir di Jakarta adalah: (1) Membuat sodetan dari Kali Ciliwung ke Kanal Banjir Timur; kegitan ini ditanggung oleh Pemerintah Pusat dan diharapkan selesai pertengahan 2014, dan (2) Menata aliran Kali Ciliwung; kegiatan ini ditanggung bersama antara Pemerintah Pusat dan Pmda DKI.

Pada kesempatan ini Presiden juga menyinggung masalah sampah. Diperlukan kerjasama masyarakat luas untuk mengatasi masalah sampah ini.

Semoga berhasil.

——————————-

Hari Senin 21 Januari 2013, fokus utama penanganan banjir di daerah Pluit. Air masih menggenangi jalan-jalan di kawasan itu. Selain masalah pertolongan korban banjir, di media massa muncul berita tentang penjarahan meski terbatas, dan orang mulai menghitung-hitung kerugian karena banjir.

Hari Selasa 22 Januari 2013, banyak perhitungan kerugian karena banjir muncul. Menurut Gubernur DKI, kerugian akibat banjir mencapai Rp 20 triluyun. Sedang BNBP menyebutkan 20 korban jiwa dan 50.000 pengungsi (Sumber: http://news.detik.com/read/2013/01/22/182253/2149936/10/jokowi-kerugian-akibat-banjir-jakarta-rp-20-triliun?nd771104bcj). Jalan berlubang yang terjadi karena banjir menyebabkan kecelakaan yang menewaskan pengendara sepeda motor.

Hari Rabu 23 Januari 2013, mulai dilihat dampak banjir terhadap kegiatan industri di Jakarta.

Salam,

WBS

Berikut adalah peta resmi banjir Jakarta:

Peta tanggal 17 januari 2013

Sumber: http://tekno.kompas.com/read/xml/2013/01/17/15432676/Ini.Dia..Peta.Digital.Resmi.Banjir.Jakarta

Peta tanggal 18 Januari 2013

(Sumber:http://www.aifdr.org/wp-content/uploads/2013/01/Jakarta_flood_18_1_13_0600.jpg )

Posted in Banjir, PROSES (BENCANA) ALAM | Dengan kaitkata: , , , , , , , , , , , | Leave a Comment »

Sungai 2 (hulu dan hilir)

Posted by wahyuancol pada Januari22, 2011

Pembagian Daerah Aliran Sungai

Aliran sungai dimulai dari daerah yang lebih tinggi di kawasan pegunungan atau perbukitan dan berakhir di kawasan pesisir atau tepi pantai. Daerah tempat aliran sungai berawal disebut sebagai daerah hulu sungai, dan daerah tempat aliran sungai berakhir disebut sebagai daerah hilir. Di antara kedua daerah tersebut terdapat daerah pertengahan yang merupakan daerah transisi. Jadi, dalam kondisi ideal, daerah aliran sungai dapat dibedakan menjadi daerah hulu, daerah pertengahan atau transisi, dan daerah hilir.

Profil memanjang aliran sistem aliran sungai. Sumber: Fitzpatrick et al (2006)

Bagaimana perbedaan karakter antara daerah hulu, pertengahan, dan hilir berkaitan dengan aspek-aspek berikut ini?

  • Elevasi
  • Gravitasi
  • Kecepatan aliran
  • Volume air
  • Volume muatan sedimen
  • Proses erosi
  • Proses deposisi
  • Ukuran butir muatan sedimen
  • Transportasi muatan sedimen
  • Sifat erosi (vertikal, ke samping, ke hulu)
  • Bentuk aliran sungai (lurus, berkelok)
  • Profil melintang lembah sungai

 

Karakter Daerah Hulu

Bentuk lembah: Berbentuk huruf “V”.

Alur sungai: Lembah sungai tidak dapat dibedakan dari alur sungai. Cenderung relatif lurus. Alur-alur cabang sungai bertemu membentuk alur utama.

Kondisi dasar sungai: Berbatu, sering ada air terjun atau riam (rapids), potholes, dasar sungai tidak teratur.

Bentang alam: Air terjun, riam, potholes, boulder-boulder di dasar sungai.

Debit sungai: Relatif kecil dan sangat dipengaruhi oleh curah hujan. Tidak pernah banjir (air sungai meluap).

Proses Erosi: Aksi hidrolik dan attrisi. Sebagian besar erosi vertikal, mengerosi batuan induk.

Proses Transportasi: Sebagian besar muatan dasar. Sedikit muatan suspensi dan terlarut.

Proses Deposisi: Terbatas untuk boulder, di dasar sungai.

Sedimen: Sebagian besar berukuran boulder.

 

Karakter Daerah Transisi

Bentuk lembah: Berbentuk huruf “U”.

Alur sungai: Lembah sungai lebih lebar daripada alur sungai. Cenderung berkelok membentuk meander.

Kondisi dasar sungai: Dasar sungai teratur, berendapan pasir. Boulder berkurang dan menghilang.

Bentang alam: Riam, meander kecil, dataran banjir sempit.

Proses Erosi: Sebagian besar attrisi dengan sedikit aksi hidrolik; erosi vertikal sedikit, erosi lateral dimulai.

Proses Transportasi: Muatan dasar berukuran kecil digerakkan secara traksi, muatan suspensi meningkat, dan sedikit muatan terlarut.

Proses Deposisi: Pengendapan material kasar (pasir kasar dan gravek halus), pengendapan di slip-off slope, pengendapan di dataran banjir.

Sedimen: Dominan pasir

Karakter Daerah Hilir

Bentuk lembah: Berbentuk huruf “U” yang melebar.

Alur sungai: Lembah sungai jauh lebih lebar daripada alur sungai. Aliran sungai mengalir di atas endapannya sendiri. Apabila terbentuk delta, alur sungai cenderung lurus dan terbagi menjadi beberapa cabang sungai yang menyebar.

Kondisi dasar sungai: Halus berlumpur. Aliran air permanen meskipun debit airnya dipengaruhi oleh musim.

Bentang alam: Meander besar, tanggul alam, dataran banjir luas (Gambar). Di daerah muara sungai dapat terbentuk delta.

Proses Erosi: Erosi berkurang, beberapa erosi lateral terjadi di sisi luar kelokan meander (cut-off slope.)

Proses Transportasi: Mendapat air dan muatan sedimen dari alur di hulu. Kondisi debit air diopengaruhi oleh kondisi di daerah hulu. Sebagian besar muatan tertransport dalam bentuk suspensi. Banjir terjadi bila debit air dari hulu melebihi daya tampung alur.

Proses Deposisi: Sebagian besar partikel halus, membentuk slip-off slope, tanggul alam dan dataran banjir. Pengendapan di dataran banjir dan tanggul alam terjadi ketika banjir.

Sedimen: Dominan lanau dan lempung.

 

 

Semoga bermanfaat.

 

Terus, kembali ke Sungai-1

Posted in Air, Banjir, Erosi, HIDROSFER, PROSES (BENCANA) ALAM, Sungai | Dengan kaitkata: , , , , , , , , , , | 23 Comments »

Sungai 1 (pengertian, struktur aliran, banjir)

Posted by wahyuancol pada Januari21, 2011

Pengertian

Sungai dapat didefinisikan sebagai saluran di permukaan bumi yang terbentuk secara alamiah yang melalui saluran itu air dari darat menglir ke laut.

Di dalam Bahasa Indonesia, kita hanya mengenal satu kata “sungai”. Sedang di dalam Bahasa Inggris dikenal kata “stream” dan “river”. Kata “stream” dipergunakan untuk menyebutkan sungai kecil, sedang “river” untuk menyebutkan sungai besar.

Asal Air Sungai

Dalam siklus hidrologi, aliran sungai digolongkan sebagai aliran permukaan (Gambar).

Air sungai bisa berasal dari air hujan (terutama di daerah tropis) dan bisa pula berasal dari es yang mencair di gunung atau pegunungan (terutama di daerah empat musim). Oleh karena itu, debit air sungai bisa sangat dipengaruhi oleh musim. Bagi kita di Indonesia yang berada di daerah tropis, depit air sungai akan tinggi bila musim hujan dan rendah di musim kemarau. Sementara itu, di daerah empat musim, debit aliran sungai meningkat ketika musim dingin berakhir karena salju mencair.

Daerah Aliran Sungai (DAS)

Air hujan yang jatuh ke permukaan bumi akan mengalir di permukaan bumi dan kemudian masuk ke dalam alur sungai dan mengalir sebagai aliran sungai. Kawasan di permukaan bumi yang bila turun hujan air itu masuk ke suatu aliran sungai tertentu disebut sebagai Daerah Aliran Sungai atau dikenal sebagai DAS (Gambar). Jadi, besar atau kecilnya debit air sungai, selain ditentukan oleh tingginya curah hujan juga ditentukan oleh luas DAS.

Struktur Aliran Sungai

Aliran sungai di suatu kawasan atau di dalam DAS dapat kita umpamakan seperti sebatang pohon. Sungai utama sebanding dengan batang pohon, dan anak-anak sungai sebanding dengan cabang-cabang pohon dan rantingnya. Ibarat sebatang pohon, makin besar sungai itu, maka makin banyak pula anak-anak sungai yang mengalirkan aliran airnya ke dalam sungai utama. Pada sistem aliran sungai, cabang sungai yang paling luar atau yang terjauh dari sungai induk disebut sengan sungai orde satu. Pertemuan antara dua sungai orde satu menghasilkan sungai orde dua dan seterusnya sampai ke sungai induk.

Jadi, makin besar sebuah sungai berarti makin banyak cabang dan anak-anak sungainya. Dengan demikian pula dengan debit sungai, makin banyak cabang atau anak sungai, maka makin besar pula debit sungai induknya.

Sungai dan Banjir

Aliran sungai sangat erat hubungannya dengan banjir. Banjir di sekitar aliran sungai, seperti yang terjadi di Australia dalam bulan Januari ini, terjadi karena volume air termukaan yang masuk ke dalam aliran sungai melebihi kapasitas alur sungai untuk menampungnya.

Semoga bermanfaat.

Terus ke Sungai-2

Posted in Air, Banjir, GLOSARIUM, HIDROSFER, PROSES (BENCANA) ALAM, S, Sungai | Dengan kaitkata: , , , , , , , | 4 Comments »