Kepulauan Indonesia

Cerita dari, untuk dan tentang Kepulauan Indonesia beserta Penghuni dan Penduduknya

Posts Tagged ‘Indonesia’

Hak Asasi Manusia di Sektor Industri Perikanan

Posted by wahyuancol pada November29, 2017

Kewajiban sertifikasi Hak Asasi Manusia di sektor industri perikanan tercantum di dalam Peraturan Menteri kelautan dan Perikanan No.35/PERMEN-KP/2015 tentang Sistem dan Sertifikasi Hak Asasi Manusia Pada Usaha Perikanan. “Ini adalah kebijakan yang pertama kali di dunia, bahwa industri perikanan harus mendapatkan sertifikasi HAM. Di negara lain belum ada kebijakan seperti ini,” jelas Mas Achmad Santosa, Ketua Tim Satuan Tugas (Satgas) Pemberantasan Praktik Mafia Pencurian Ikan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), di Jenewa, Minggu (26/11/2017). Kebijakan itu diapresiasi dunia.

Delegasi Indonesia yang dipimpin oleh Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pujiastuti, akan berbagi pengalaman mengenai upaya mendorong praktek bisnis berbasis HAM yang dilakukan oleh Pemerintah Indonesia. Pengalaman tersebut akan disampaikan Menteri Susi dalam forum tahunan mengenai bisnis dan HAM di Kantor PBB di Jenewa, 27-29 November 2017.

Dalam acara ini, Menteri Susi akan memaparkan Peraturan Menteri KP No. 35/2015 tentang Sertifikasi HAM pada Industri Perikanan sebagai best practice dalam praktek bisnis yang berperspektif HAM.

Di dalam Pasal 5 Peraturan Menteri itu disebutkan Pengusaha Perikanan untuk berkomitmen:

  1. Menghormati hak untuk kondisi kerja yang adil dan layak, antara lain hak untuk: (1) remunerasi dan waktu istirahat yang cukup dan layak; (2) standar hidup layak, termasuk akomodasi, makan dan minum; (3) mendapatkan pengobatan; (4) mendapatkan asuransi jaminan sosial; (5) mendapatkan perlindungan dari risiko kerja; dan (6) hak khusus wanita, anak, dan penyandang disabilitas.
  2. Menghindari terjadinya kerja paksa dalam bentuk: (1) penyalahgunaan kerentanan, (2) penipuan, (3) pembatasan ruang gerak, (4) pengasingan, (5) kekerasan fisik dan seksual, (6) intimidasi dan ancaman, (7) penahanan dokumen identitas, (8) penahanan upah, (9) jeratan utang, (10) kondisi kerja dan kehidupan yang menyiksa, dan (11) kerja lembur yang berlebihan.

Peraturan Menteri tersebut lahir karena terinspirasi oleh Kasus Benjina pada tahun 2015. Kasus itu adalah kasus perbudakan yang dialami oleh Anak Buah Kapal (ABK).

Salam

WBS

Iklan

Posted in Dari Indonesia untuk Dunia | Dengan kaitkata: , , , , , , , | Leave a Comment »

Gelombang Bono di Sungai Kampar, Riau

Posted by wahyuancol pada Oktober9, 2016

Afif Farhan di dalam detikTravel pada tanggal 6 Oktober 2016 menulis tentang Gelombang Bono di Sungai Kampar, Kabupaten Pelalawan, Propinsi Riau sebagai salah satu objek wisata. Disebutkan bahwa gelombang itu dapat mencapai ketinggian 6 meter, kecepatan 40 km/jam dan panjang 300 meter. Gelombang bergerak dari arah muara sungai ke hulu sungai. Waktu kejadiannya hanya pada waktu-waktu tertentu, yaitu biasanya pada saat bulan purnama setiap tanggal 10-20 perhitungan bulan Melayu (Arab) atau pada kisaran bulan Agustus – Desember tanggal Masehi.

Gelombang Bono sesungguhnya adalah fenomena Tidal Bore. Menurut Bartsch-Winkler & Lynch (1988), Tidal Bore adalah fenomena gelombang tunggal yang terjadi secara alamiah karena pasang-surut dengan ketinggian gelombang berkisar dari 0,2 – 6 meter. Gelombang bergerak dari muara sungai ke arah hulu.  Terjadi di dalam estuari dengan pasang surut semidiurnal atau hampir semidiurnal dengan amplitudo lebih dari 4 meter. Pembentukan Tidal Bore tergantung pada kedalaman air dan kecepatan air pasang yang masuk dan aliran sungai yang keluar. Donnelly & Chasnson (2002) menyebutkan bahwa di Sungai Pungue, Mozambique, tidal bore memasuki aliran sungai sampai 80 km. Tidal Bore berpengaruh terhadap ekosistem.

Menurut Chanson (2013), tidal bore adalah suatu seri gelombang yang menjalar ke arah hulu sungai ketika aliran arus pasang-surut berbalik masuk ke muara sungai selama periode awal pasang naik. Pembentukan tidal bore terjadi ketika amplitudo pasang-surut 4,5 – 6 meter (makrotidal), zona estuari atau mulut sungai berbentuk corong yang dapat memperbesar amplitudo pasang-surut, dan ada perubahan kedalaman yang tiba-tiba. Proses pembentukan tidal bore adalah amplitudo pasang-surut yang besar dan mengalami amplifikasi di dalam estuari.

Tidal Bore adalah fenomena alam yang umum dijumpai di berbagai belahan bumi. Bartsch-Winkler & Lynch (1988) telah membuat katalog tidal bore untuk seluruh dunia. Setidaknya tercetat tidal bore di 67 lokasi di 16 negara. Namun, fenomena Gelombang Bono di Sungai Kampar ini belum tercatat.

Fenomena tidal bore di Sungai Kampar, Kabupaten Pelalawan, Riau, sebenarnya sudah lama dikenal oleh masyarakat setempat. Efek negatif gelombang tersebut yang dapat menyebabkan kematian membuat gelombang tersebut ditakuti oleh masyarakat setempat. Pada tahun 2010 keadaan berubah. Hal itu terjadi setelah beberapa peselancar profesional dari Brazil dan Perancis berhasil berselancar di Gelombang Bono. Sejak itu Gelombang Bono dipandang sebagai potensi wisata (Setiawan, 2012).

Semoga bermanfaat.

Salam,

WBS

Daftar Pustaka

Bartsch-Winkler, S. & Lynch, D.K., 1988. Catalog of Worldwide Tidal Bore Occurences and Characteristic. U.S. Geological Survey Circulas 1022.

Chanson, H., 2013. Environmental Fluid Dynamics of Tidal Bore: Theoretical Consideration and Fields Observation. In: Fluid Mechanics of Environmental Interfaces, C. Gualtieri and D.T. Mihailovic (eds.), 2nd Edition, Chapter 10, pp. 295-321 (ISBN 978-041-5621564), Taylor & Francis, Leiden, The Netherlands.

Donnelly, C. & Chanson, H., 2002. Environmental Impact of Tidal Bore in Tropical Rivers. Proc. 5th Intl. River Manage. Symp., Brisbane, Australia, Sept 2002.

Setiawan, H., 2013. Bono Tidal Bore: Unique Riau River Surfing (https://www.engagemedia.org/Members/Hisam/videos/surf_bono/view). Akses 9 Okt 2016.

 

Posted in Dari Indonesia untuk Dunia, FENOMENA ALAM, Gelombang, HIDROSFER, Objek Wisata, Pasang surut, PROSES (BENCANA) ALAM, Sungai, Wilayah Pesisir | Dengan kaitkata: , , , , , , , | Leave a Comment »

Pulau Sentut

Posted by wahyuancol pada Oktober22, 2014

Pulau Sentut

Koordinat: 01° 02′ 52″ LU, 104° 49′ 50″ BT

Titik Referensi: No. TR.001A

Titik Dasar: No. TD.001A

Letak Administrasi: Desa Mapur, Kecamatan Bintan Timur, Kabupaten Bintan, Propinsi Kepulauan Riau.

Catatan:

Foto:

Pulau Sentut. Upacara pengibaran bendera di Pulau Sentut (Sumber: TNI AL

Informasi lain :

Info Publik Menkominfo

ANZA association

Kembali

 

Posted in Mengenal Indonesia, Pulau Kecil Terluar | Dengan kaitkata: , , , , , , | Leave a Comment »

Pulau-pulau Kecil Terluar Indonesia

Posted by wahyuancol pada Oktober22, 2014

Pada tahun 2007 BAKOSURTANAL (Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional) menerbitkan Atlas Pulau-pulau Kecil Terluar Indonesia. Sekarang BAKOSURTANAL telah berubah nama menjadi BIG (Badan Informasi Geospasial). Tujuan menerbitkan atlas tersebut adalah menyajikan informasi spasial untuk pemerintah dan masyarakat luas tentang pulau-pulau kecil terluar yang dimiliki Indonesia sesuai dengan Peraturan Presiden No. 78 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Pulau-pulau Kecil Terluar. Saya mendapatkan atlas tersebut dengan cara membelinya pada tahun 2011 ketika berkunjung ke instansi pemerintah tersebut untuk keperluan membeli peta. Sampai hari ini, 22 Oktober 2014, saya belum sempat membaca atau melihat isi atlas tersebut secara menyeluruh. Hanya pulau-pulau tertentu saja yang sempat saya lihat karena berkaitan dengan pekerjaan. Rasanya sia-sia saya membeli atlas itu karena tidak terbaca isinya. Keadaan itu membuat saya merasa tidak ada bedanya dengan mereka yang tidak membeli atlas itu. Oleh karena itu, untuk merubah hal yang sia-sia itu menjadi lebih bermanfaat, maka saya bertekad untuk membaca satu per satu tentang pulau-pulau kecil yang ada di dalam atlas tersebut, dan kemudian membuat catatan singkat dan mempublikasikan di dalam blog ini agar para pembaca yang tidak memiliki atlas tersebut dapat juga mengetahui tentang pulau-pulau kecil terluar Indonesia melalui blog ini.

Menurut atlas tersebut, Indonesia memiliki 92 (sembilan puluh dua) buah pulau kecil terluar. Tentu memakan banyak waktu untuk membaca tentang pulau-pulau tersebut dan kemudian menuliskan catatannya di dalam blog ini. Oleh karena itu saya akan mencicilnya sedikit demi sedikit. Sejauh ini telah saya buat catatan untuk 7 buah pulau.

  1. Pulau Sentut
  2. Pulau Tokongmalangbiru
  3. Pulau Damar
  4. Pulau Mangkai
  5. Pulau Tokongnanas
  6. Pulau Tokongbelayar
  7. Pulau Tokongboro
  8. Pulau Semium
  9. Pulau Sebetul
  10. Pulau Sekatung
  11. Pulau Senua
  12. Pulau Subi Kecil
  13. Pulau Kepala
  14. Pulau Sebatik
  15. Gosong Makasar – (Catatan: per definisi pulau, maka gosong tidak dapat disebut sebagai sebuah pulau)
  16. Pulau Maratua
  17. Pulau Sambit
  18. Pulau Ligian
  19. Pulau Salando
  20. Pulau Dolangan
  21. Pulau Bangkit
  22. Pulau Manterawu
  23. Pulau Makalehi
  24. Pulau Kawalusu
  25. Pulau Kawiro
  26. Pulau Marore
  27. Pulau Batubawaikang
  28. Pulau Miangas
  29. Pulau Marampit
  30. Pulau Intata
  31. Pulau Kakarutan
  32. Pulau Jiew
  33. Pulau Budd
  34. Pulau Fani
  35. Pulau Miossu
  36. Pulau Fanildo
  37. Pulau Bras
  38. Pulau Bepondi
  39. Pulau Liki
  40. Pulau Kolepon
  41. Pulau Laag – (Catatan: per definisi pulau, Pulau Laag tidak dapat disebut sebagai sebuah pulau)
  42. Pulau Atarkula
  43. Pulau Karaweira
  44. Pulau Panambulai
  45. Pulau Kultubai Utara
  46. Pulau Kultubai Selatan
  47. Pulau Karang
  48. Pulau Enu
  49. Pulau Batugoyang
  50. Pulau Larat
  51. Pulau Asutubun
  52. Pulau Selaru
  53. Pulau Batarkusu
  54. Pulau Masela
  55. Pulau Meatimiarang
  56. Pulau Leti
  57. Pulau Kisar
  58. Pulau Wetar
  59. Pulau Liran
  60. Pulau Alor
  61. Pulau Batek
  62. Pulau Dana
  63. Pulau Dana
  64. Pulau Mangudu
  65. Pulau Sophialouisa
  66. Pulau Barung
  67. Pulau Sekel
  68. Pulau Panehan
  69. Pulau Nusakambangan
  70. Pulau Manuk
  71. Pulau Deli
  72. Pulau Batukecil
  73. Pulau Enggano
  74. Pulau Mega
  75. Pulau Sibarubaru
  76. Pulau Sinyaunyau
  77. Pulau Simuk
  78. Pulau Wunga
  79. Pulau Simeulucut
  80. Pulau Salaut Besar
  81. Pulau Raya
  82. Pulau Rusa
  83. Pulau Benggala
  84. Pulau Rondo
  85. Pulau Berhala
  86. Pulau Batu Mandi
  87. Pulau Iyu Kecil
  88. Pulau Karimun Kecil
  89. Pulau Nipa
  90. Pulau Pelampong
  91. Pulau Batuberhanti
  92. Pulau Nongsa

Pulau-pulau kecil tersebut tersebar di sekeliling Kepulauan Indonesia. Sebagaimana diketahui bahwa secara tektonik Kepulauan Indonesia adalah hasil dari interaksi beberapa lempeng kerak Bumi, sehingga kelompok-kelompok pulau kecil tersebut akan berada di lingkungan teknonik yang berbeda. Kemudian, secara geologis, pulau-pulau tersebut tersusun oleh batuan yang berbeda sehingga memiliki karakter yang berbeda pula dalam merespon kondisi lingkungan disekitarnya. Selanjutnya, menarik juga untuk diungkapkan bagaimana kemungkinan efeki kenaikan muka laut global menurut skenario IPCC terhadap keberadaan pulau-pulau tersebut. Hal ini penting karena akan berdampak pada penentuan batas wilayah negara bila pulau tersebut hilang.

Perserikatan Bangsa-Bangsa melalui UNCLOS 1982 telah memberikan definisi pulau. Menurut definisi pulau dari PBB tersebut, Gosong tidak dapat disebut sebagai Pulau. Oleh karena itu, menurut penulis, Gosong Makasar (Nomor 15) tidak dapat dikategorikan sebagai salah satu Pulau-pulau Kecil Terluar Indonesia.

Selain itu, Pulau Laag (Nomor 41), menurut penulis, sudah tidak dapat lagi disebut sebagai sebuah pulau, karena telah menyatu dengan Pulau Papua. Perubahan status pulau ini tidak akan berpengaruh terhadap batas negara, karena di pulau ini ada Titik Referensi dan Titik Dasar.

 

 

Posted in Mengenal Indonesia, Pulau Kecil Terluar | Dengan kaitkata: , , , , | Leave a Comment »

Karakter Orang Indonesia 03: menurut Rhenald Kasali

Posted by wahyuancol pada Juli11, 2014

Artikulasi Sifat Buruk 2: Pemilu dan Sifat Buruk Kita

Kita baru menyelesaikan pemilihan presiden yang baru tanggal 9 Juli 2014 yang lalu. Sekarang ini memasuki tahap penghitungan suara. Pemilihan presiden 9 Juli diawali dengan kegiatan kampanye para calon presiden dan wakil presiden. Setelah pemilihan presiden, suasana diwarnai oleh kegiatan Hitung Cepat yang dilakukan oleh berbagai lembaga survei, dan kemudian dilanjutkan oleh klaim kemenangan oleh kedua belah pihak berdasarkan hasil dari perhitungan cepat oleh lembaga survei yang mereka percaya kebenarannya.

Berbagai hal terjadi ketika kampanye, mulai dari kampanye kreatif hingga kampanye hitam. Sifat-sifat baik dan sifat-sifat buruk bangsa Indonesia muncul kepermukaan. Keadaan ini dipotret oleh Profesor Rhenald Kasali, khususnya yang berkaitan dengan Sifat-sifat Buruk.

Saya telah membaca apa yang ditulis oleh Profersor Rhenald Kasali itu, dan saya menyetujuinya. Oleh karena itu saya rasa ada baiknya bila isi tulisan itu diketahui oleh banyak orang yang menginginkan kebaikan bagi Bangsa Indonesia. Itulah alasan mengapa saya turut menyebarkan pandangan tersebut. Tulisan tersebut saya kutip tanpa modifikasi dari tulisan yang berjudul Pemilu dan Sifat-sifat Buruk Kita (http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2014/07/11/060200626/Pemilu.dan.Sifat-sifat.Buruk.Kita?utm_source=WP&utm_medium=box&utm_campaign=Kknwp).

Bila kita melihat dari sudut pandang yang lain, kita bisa melihat bahwa Pemilu di tahun 2014 ini membawa berkah bagi bangsa Indonesia, karena memunculkan sifat-sifat buruk yang selama ini terpendam. Dengan mengetahui sifat-sifat buruk itu maka bisa diharapkan sifat-sifat buruk itu dapat diperbaiki.

—————————

Seorang teman yang tahunan tinggal di Berlin tiba-tiba begitu bersemangat ikut mencoblos. Padahal, dulu di Jakarta dia sama sekali tidak pernah menyentuh undangan untuk ikut memilih. “Malas,” katanya.

Sama seperti sebagian besar kita, malas karena banyak alasan. Malas karena lawannya, atau kecurangan yang bakal dihadapinya sudah tak berimbang. Ada calon yang kita sukai, namun lawannya ternyata mempunyai wajah yang lebih cameragenic. Jadi, apalah artinya suara kita, mudah diduga hasilnya. Tak memilih pun tak ada pengaruhnya.

Ada lagi suasana lain, kita sudah yakin jagoan akan menang. Nyatanya kalah juga. Kabarnya, banyak kecurangan yang bisa dilakukan, mulai dari suara yang bisa dibeli, panitia yang bisa diatur, sampai komputer yang bisa dimainkan. Tetapi kini, 16 tahun setelah reformasi, sepertinya kita sudah sama-sama pintar.

Mereka yang dulu menang, dua bulan lalu marah-marah di tivi karena tahun ini kalah dalam pileg. Tapi dengarkanlah kemarahannya, “Saya bukan kalah, tapi dicurangi. Ini kecurangan ada dimana-mana,” ujarnya ketus. Seorang teman yang dulu dikalahkan terkekeh-kekeh mendengar ocehan politisi yang suka bicara seenaknya di tivi itu. “Lha, orang-orang lain belajar curangnya dari mana kalau bukan dari dia?”

Sampai hari ini kita masih banyak mendengar sas-sus tentang aneka kecurangan yang dilakukan berbagai pihak dalam pemilu beberapa tahun lalu. Modusnya amat beragam. Ada yang mengaitkan dengan pembobolan bank, mafia migas, impor bahan-bahan pokok, dan lain sebagainya. Otak kita keruh dipenuhi hal-hal itu.

Tapi mengapa teman saya dan juga tenaga-tenaga kerja kita di luar negeri begitu bersemangat mencoblos? Ia memberikan alasan. “Pertama, saya serem melihat mafia makin bertebaran di Indonesia. Saya takut jago saya kalah,” ujarnya.

“Dan kedua, apa yang mereka lakukan kepada jago saya, adalah cerminan dari apa yang dilakukan orang-orang jahat  terhadap saya. Dan itu adalah cerminan dari sifat-sifat buruk bangsa kita, yang harus dikalahkan,” ujarnya.

 

Seperti apa?

Seperti apakah sifat-sifat buruk itu? Tidak sulit menemukannya karena ia hidup nyata dalam perjalanan karier kita sehari-hari. Bahkan di dunia akademik, ini pun biasa sekali dihadapi banyak orang. Di perusahaan swasta juga makin banyak ditemui. Dalam birokrasi, sifat-sifat buruk itu biasa kita dengar saat menjelang pelantikan pejabat. Orang yang sudah terpilih bisa tak jadi dilantik gara-gara sms atau surat kaleng. Gunjingan negatif justru disebarkan pada orang-orang bagus.

Dalam soal tender, bukan hal baru orang saling sikat dan menjelekkan, bahkan membawa pesaingnya ke ranah hukum, menyebarkan kesalahan kepada wartawan abal-abal yang siap melakukan pemerasan. Sewaktu menjadi pansel KPK, saya juga biasa menerima black campaign yang ditujukan pihak tertentu terhadap calon-calon tertentu. Jangan heran, black campaign tak pernah diarahkan pada kandidat yang lemah.

Di sini kita menjadi biasa melihat kebenaran dijungkir balikkan. Orang yang bersih dituduh korupsi dan sebaliknya. Akademisi pintar dikatakan plagiat, yang plagiat menjadi aktivis antiplagiat. Demikian seterusnya. Kalau kita biarkan, jangankan keluar dari middle income trap, memutuskan siapa yang layak ya menjadi presiden saja kita tak akan mampu.

Lihatlah tak mudah orang mengakui kekalahan, meski itu bagian dari karakter pemenang. Ditambah lagi KPU dan Bawaslu cenderung mendiamkan. Bayangkan di zaman kecepatan dan keakurasian data seperti ini kita harus menunggu sampai tanggal 22. Maksudnya kita dibiarkan ribut terus selama dua minggu?

Yang saya maksud adalah sifat-sifat buruk dalam menghadapi persaingan. Maklum, selama lebih dari 30 tahun kita tidak menghadapi persaingan. Semua jabatan publik adalah pemberian presiden atau atasan. Atasan pun mendapatkannya bukan karena memenangkan persaingan, melainkan karena mendapatkan melalui rekomendasi atau kebaikan budi.

Sifat-sifat buruk itu diawali dengan penghinaan, lalu diikuti dengan fitnah demi fitnah, selebaran gelap, lempar batu sembunyi tangan, mudah terhina, merasa cepat tersinggung, sakit hati, lalu membalas dendam dengan mengirim kebencian. Kita bukan membuat puisi untuk menyatakan kekaguman pada seseorang, melainkan untuk mencacinya. Alih-alih menyampaikan program, sifat-sifat buruk itu justru ditampilkan dengan menjelek-jelekkan calon pemenang. Kita beranggapan akan menjadi terlihat hebat karena mampu menghina orang yang disangka hebat. Kita menjadi termotivasi untuk menang bukan karena kita memiliki sifat-sifat sebagai pemenang, melainkan karena kita tak mampu menerima kekalahan.

Kita berdoa untuk menang karena kita tidak mau mendengar sabda Tuhan. Kita hanya berbicara terus tiada henti agar Tuhan menutup mulut, dan beranggapan hanya kita yang punya hak untuk menjadi pemenang. Padahal hidup ini adalah sebuah keseimbangan, dan dalam setiap kompetisi hanya akan ada satu pemenang, namun tentara sejati tahu persis: terdapat perbedaan antara memenangkan pertempuran dengan memenangkan peperangan.

Dan prajurit sejati akan menjunjung tinggi kehormatannya, tahu dimana medan pertempuran dan siapa yang harus dilindungi. Demokrasi adalah kompetisi untuk merebut suara rakyat, bukan untuk membumihanguskan negeri.

Prilaku seperti ini pernah dibahas Denis Waitley dalam buku Psychology of Winning untuk menjelaskan karakter yang biasa dimiliki para pemenang. Pemenang menjalankan prinsip-prinsip yang membuatnya dihormati, bukan sebaliknya.

Salim Bueno (209) menulis: “Winners train and grain, losers complain. Losers seek attention, while winners earn respect. Losers blame others for their problems, while winners find solution.

Hari-hari lalu kita telah menyaksikan sifat-sifat buruk yang dipertontonkan orang-orang yang katanya bertarung untuk menjadi pemimpin. Ada mantan petinggi di berbagai lembaga yang dulu kita pikir mereka sangat terhormat. Sebagai pendidik, harus saya katakan saya sangat kecewa dan sedih menyaksikan ulah mereka. Apalagi bila membiarkan pihaknya melakukan cara-cara curang, memelintir fakta, menyebarkan kebencian demi kemenangan.

Anak-anak muda, perhatikanlah, itu bukan karakter winners. Mereka menganut azas-azas yang dianut para losers. Apakah mereka bisa menang? Bisa! Bisa saja, tetapi kalau kita ingin membangun bangsa ini menjadi bangsa yang besar, bukan itu caranya. Tengoklah bangsa-bangsa besar. Mereka justru mengadopsi mentalitas pemenang.

Dengarkan pula kata bijak Vince Lombardi berikut ini:“Winning is not a sometime thing; it’s an all time thing. You don’t win once in a while, you don’t do things right once in a while, you do them right all the time. Winning is habit. Unfortunately, so is losing.”(Prof. Rhenald Kasali)

————————-

Artikulasi sifat buruk 1

Semoga bermanfaat.

Salam,

WBS

Posted in Ah... Indonesia ku, HUMANIORA, Kualitas Bangsa | Dengan kaitkata: , , , , , , , , , , | Leave a Comment »