Kepulauan Indonesia

Cerita dari, untuk dan tentang Kepulauan Indonesia beserta Penghuni dan Penduduknya

Posts Tagged ‘ENERGI’

Volkanisme 3 (hakekat, kerugian dan manfaat)

Posted by wahyuancol pada November6, 2010

Hakekat Volkanisme

Apabila kita memandang volkanisme sebagai suatu proses alam, maka kita akan dapat melihat bahwa:

  1. Volkanisme sesungguhnya adalah pergerakan material dari dalam bumi ke permukaan bumi. Melalui volkanisme magma yang berada di dalam bumi keluar ke permukaan bumi.
  2. Melalui volkanisme, terjadi suplai material (batuan) ke permukaan bumi. Hal ini terlihat dari munculnya material baru dari dalam bumi yang menyertai volkanisme. Dengan demikian, volkanisme dapat dikatakan sebagai salah satu mekanisme untuk menyeimbangkan keberadaan batuan di permukaan bumi. Apabila tidak ada volkanisme, maka batuan yang tererosi oleh proses erosi tidak dapat terbarukan.
  3. Melalui volkanisme, tidak hanya terjadi suplai batuan, tetapi juga terjadi suplai mineral-mineral dari dalam bumi ke permukaan bumi. Perlu disadari bahwa deposit mineral di dalam bumi yang primer terjadi melalui aktifitas magma yang naik ke permukaan bumi ini.

Demikian hakekat volkanisme.

Kerugian karena Volkanisme

Dari sudut pandang manusia, volkanisme dapat menimbulkan kerugian bagi manusia apabila berbagai fenomena yang timbul yang berkaitan dengan volkanisme ini menimpa manusia. Kerugian dapat terjadi dalam bentuk kehilangan nyawa dan harta benda.

Tulisan ini dibuat ketika Gunung Merapi di perbatasan Propinsi Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta sedang bererupsi (Sabtu, 6 Nopember 2010). Drama erupsi Merapi itu memberikan gambaran yang sangat jelas tentang kerugian volkanisme bagi manusia. Telah lebih dari 100 orang meninggal dunia, ribuan orang menjadi pengungsi. Tidak terhitung berapa jumlah  hewan ternak yang mati dan berapa luas areal perkebunan dan pertanian yang rusak. Juga belum terhitung berapa rumah yang rusak dan harta benda bergerak yang rusak atau hilang. Debu tersebar ke mana-mana menebarkan ancaman masalah kesehatan. Sementara itu endapan pasir di lereng gunung tesedia dan siap meluncur ke bawah sebagai banjir lahar yang dalam meratakan apapun yang dilaluinya. Belum terhitung berapa panjang jalan yang rusak dan jembatan yang putus. Pelabuhan udara di Yogyakarta dan Solo ditutup sehingga banyak orang yang tidak dapan datang atau pergi memaluinya.

Demikian gambaran kerugian karena volkanisme.

Manfaat Volkanisme

Sekarang mari kita lihat gunung yang menjulang tinggi dengan lereng yang menghijau karena tanaman yang menumbuhinya. Siapapun akan mengatakan itu pemandangan yang indah (Pemandangan Indah). Kemudian, morfologi yang menjulang tinggi dari gunungapi memberikan hawa yang sejuk, sehingga banyak lokasi wisata berada di lingkungan aktifitas volkanisme ini (Tempat berhawa sejuk).

Volkanisme menghasilkan endapan debu dan pasir serta batu (Bahan Galian Golongan C, Bahan Bangunan). Sebelum mengalami pelapukan, semua material itu adalah bahan bangunan yang baik dan diidamkan manusia. Banyak orang menggantungkan hidupnya dengan menambang batu dan pasir di lingkungan gunungapi. Kemudian, apabila semua material itu lapuk, maka akan menghasilkan lahan pertanian yang subur (Lahan yang Subur). Kita banyak melihat sawah, ladang, kebun dan hutang berada di lereng gunungapi. Banyak pemukiman berkembang di lereng gunungapi karena kehidupan yang dijanjikannya melalui tanah yang subur dan air yang melimpah (Sumber air tawar).

Dari sisi yang lain, volkanisme menyebabkan mineral-mineral dari magma terendapkan ke dekat atau di permukaan bumi sehingga dapat dimanfaatkan oleh manusia (Bahan Galian Mineral, Bahan Tambang). Tanpa volkanisme, manusia tidak akan bisa mendapatkan mineral-mineral yang ada di dalam magma. Manusia tidak akan mendapatkan besi, emas, perak, tembaga, nikel, timah dan sebagainya yang ada di dalam magma apabila tanpa volkanisme. Tanpa logam-logam itu, tidak terbayangkan manusia bisa membuat pesawat terbang seperti sekarang ini.

Volkanisme juga memberikan energi bagi manusia (Energi Panas Bumi, Energi Geothermal). Banyak pembangkit listrik yang digerakkan oleh energi dari panas bumi di lingkungan volkanisme. Selain itu, ada pula sumber air panas atau mata air panas di lingkungan volkanisme (Air Panas).

Demikianlah gambaran manfaat volkanisme.

Penutup

Setelah mengatahui hakekat, kerugian dan manfaat volkanisme, satu hal utama yang patut dipahami adalah bahwa volkanisme adalah salah satu cara Tuhan menghidupkan bumi ini. Dengan volkanisme, Tuhan memberikan bahan-bahan atau perangkat untuk kehidupan manusia. Kepada manusia, Tuhan memberikan akal sehingga manusia dapat memanfaatkan sumber-sumber kehidupan itu, dan menghindar dari bahaya yang mengancamnya.

Perlu juga diketahui bahwa dalam jangka panjang, Jangka Waktu Geologi, volkanisme juga mendaur ulang Lithosfer, Hidrosfer dan Atmosfer. Dengan sistem bersiklus inilah Tuhan menghidupkan Bumi kita ini.

Artikel terkait: Magma

Volkanisme 1 (Volkanisme: pengertian dan fenomena)

Volkanisme 2 (Erupsi Gunungapi: proses geologi berdampak global)

Posted in Cara Bumi di Hidupkan, FILSAFAT, PROSES (BENCANA) ALAM, V, Volkanisme | Dengan kaitkata: , , , , , , , , , , , , | Leave a Comment »

Sedimen Pantai

Posted by wahyuancol pada November22, 2008

Sedimen pantai adalah material sedimen yang diendapkan di pantai. Berdasarkan ukuran butirnya, sedimen pantai dapat berkisar dari sedimen berukuran butir lempung sampai gravel. Kemudian, berdasarkan pada tipe sedimennya, pantai dapat diklasifikasikan menjadi:

  1. Pantai gravel, bila pantai tersusun oleh endapan sedimen berukuran gravel (diameter butir > 2 mm).
  2. Pantai pasir, bila pantai tersusun oleh endapan sedimen berukuran pasir (0,5 – 2 mm).
  3. Pantai lumpur, bila pantai tersusun oleh endapan lumpur (material berukuran lempung sampai lanau, diameter < 0,5 mm).

Klasifikasi tipe-tipe pantai berdasarkan pada sedimen penyusunnya itu juga mencerminkan tingkat energi (gelombang dan atau arus) yang ada di lingkungan pantai tersebut. Pantai gravel mencerminkan pantai dengan energi tinggi, sedang pantai lumpur mencerminkan lingkungan berenergi rendah atau sangat rendah. Pantai pasir menggambarkan kondisi energi menengah. Di Pulau Jawa, pantai berenergi tinggi umumnya diojumpai di kawasan pantai selatan yang menghadap ke Samudera Hindia, sedang pantai bernergi rendah umumnya di kawasan pantai utara yang menghadap ke Laut Jawa.

Posted in Pantai, S, Sedimen | Dengan kaitkata: , , , , | Leave a Comment »

SB: Pergerakan Material dan Energi di Bumi

Posted by wahyuancol pada Juni11, 2008

Pergerakan material di Bumi terjadi dalam bentuk pergerakan bersiklus[1]. Hal ini berarti bahwa pergerakan terjadi secara kontinyu atau terus menerus. Gambaran ini memberikan kerangka yang baik yang dapat membantu kita mempelajari bagaimana materi dan energi tersimpan dan bagaimana keduanya digerakkan dalam suatu siklus dari satu reservoir ke reservoir yang lain oleh sistem Bumi. Ada dua aspek yang penting bagi gerakan bersiklus, yaitu (1) reservoir tempat material berada, dan (2) aliran atau fluks material-material dari reservoir yang satu ke reservoir yang lain.

Ada tiga siklus yang sangat penting yang menggerakkan material dan energi di Bumi, yaitu:

1) Siklus hidrologi. Siklus ini menggerakkan air di dalam hidrosfer. Keberadaan siklus ini ditunjukkan oleh adanya hujan, salju dan aliran air sungai. Siklus ini terjadi dari hari ke hari dan jangka panjang.

2) Siklus batuan. Siklus ini menggambarkan berbagai proses yang membentuk, memodifikasi, mendekomposisi, dan membentuk kembali batuan oleh proses-proses internal dan eksternal Bumi.

3) Siklus tektonik. Siklus ini berkaitan dengan pergerakan dan interaksi antar lempeng-lempeng litosfer, dan proses di bagian dalam Bimu yang dalam yang mengendalikan pergerakan lempeng-lempeng litosfer.

Ketiga siklus tersebut berkaitan erat satu sama lain melalui proses-proses fisika, kimia dan biologi. Pentingnya ketiga siklus itu akan terlihat bila membicara siklus biogeokimia dari unsur-unsur kimia yang penting bagi kehidupan seperti karbon, oksigen, nitrogen sulfur, hidrogen dan fosfor.

Kembali Terus


[1] Uraian tentang tiga siklus utama di Bumi ini dikutip dari Skinner dan Porter (2000).

Posted in Alam Semesta, Cara Bumi di Hidupkan | Dengan kaitkata: , , , , , | 1 Comment »

(Kualitas Perencanaan Pemerintah) Program Konversi Minyak Tanah ke LPG, Pertamina Kedodoran.

Posted by wahyuancol pada Juni8, 2008

Untuk keperluan pengurangan subsidi Pemerintah pada pemakaian bahan bakar, program konversi penggunaan minyak tanah dengan gas untuk keperluan rumah tangga telah dicanangkan Pemerintah. Pada awal pencanangannya, Pemerintah begitu yakin dengan program tersebut. Semua pendapat yang tidak setuju dengan program tersebut dianggap seperti angin lalu. Tetapi, sekarang apa yang terjadi? Ternyata Pertamina kedodoran.

Tentu wajar bila kemudian kita bertanya, Bagaimana kualitas perencanaan yang dilakukan oleh Pemerintah? Apakah Pemerintah tidak serius? Atau, memang hanya sedemikian itu kemampuan Pemerintah kita dalam menyelesaikan masalah?

Atau, ada yang tidak selangkah dengan program pemerintah itu?

Semoga bermanfaat.

————————————

Mari kita simak hal-hal yang LUCU berkaitan dengan program konversi ini.

Pertama: Konsumsi PLG.

  • Kata Pak Wapres pada tahun 2006, diperkirakan 567.000 ton. Tahun 2008, Direktur Niaga dan Pemasaran Pertamina, Achmad Faisal, menyebutkan angka 400.000 ton. Eh, ……, Pertamina sudah kedodoran.

Ke-dua: Keuntungan.

  • Kata Pak Wapres pada tahun 2007, keuntungan Pertamina 19 triliun per tahun. Tahun 2008, eh……….., Pak Direktur Niaga dan Pemasaran mengatakan: masih menanggung rugi.

Ke-tiga: Kesiapan infrastruktur.

  • Kata Pak Wapres pada tahun 2006, Pemerintah akan mempercepat program konversi minyak tanah ke elpiji dari 6 tahun menjadi 4 tahun. Tahun 2008, eh….., kembali Pak Direktur Niaga dan Pemasaran mengatakan: infrastruktur penyimpanan dan pendistribusian elpiji, baik untuk tabung 12 kg maupun 3 kg, tidak memadai.

Ke-empat: Keterlibatan Swasta.

  • Kata Pak Wares pada tahun 2006, Kami akan minta swasta untuk ikut program ini. Tahun 2008, ternyata Pak Direktur berkata lagi: badan usaha lain bisa masuk. ”Masalahnya sampai sekarang tata niaga elpiji belum ada,” ujarnya.

Ke-lima: Perhitungan ekonomi.

  • Tahun 2006 ketika program dicanangkan sudah diberikan gambaran rentang keuntungan program ini. Antara lain mengurangi subsidi untuk bahan bakar. Dan, pemerintah akan mengajak pihak swasta. Logikanya, tentu sudah dilakukan perhitungan ekonomi sebelum keputusan pelaksanaan program konversi dilakukan. Eeeeeeeeee, …….., ternyata tahun 2008, kata Pak Direktur dari Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Tekstil, dan Aneka Departemen Perindustrian Ansari Bukhari, mengatakan, industri bisa didorong untuk memproduksi tabung elpiji 12 kg jika ada hitungan skala ekonomi yang jelas. Namun, harus ada kepastian penyerapan hasil produksi. ”Pertamina harus menegaskan berapa kebutuhannya dan sampai tahun berapa produksi bisa diserap,” tuturnya.

———

Dengan menguktip beberapa sumber surat kabar nasional, mari kita simak perkembangan Program Konvers Minyak Tanah:

Agustus 2006 (dari Tempo Interaktif)

  • Pemerintah akan mempercepat program konversi minyak tanah ke elpiji dari 6 tahun menjadi 4 tahun. Total minyak tanah yang dialihkan itu ditargetkan mencapai 90 persen dari konsumsi minyak tanah sekitar 10 juta kiloliter.
    “Kita bisa, sebab Indonesia produsen elpiji (gas tabung),” kata Wakil Presiden Jusuf Kalla saat mengunjungi Pertamina kemarin.
  • Pemerintah menganggarkan dana Rp 1,93 triliun bagi program konversi minyak tanah ini.
  • Dari program ini, diperkirakan terjadi pengurangan konsumsi minyak tanah mencapai 988.280 kiloliter. Sedangkan konsumsi elpiji menjadi naik sebesar 567.700 ton.
  • Jusuf Kalla menjelaskan, bila ini tercapai, dalam 4 tahun ada penghematan subsidi Rp 30 triliun. Namun, diperlukan tambahan investasi sekitar Rp 15 triliun. “Kami akan minta swasta untuk ikut program ini,” ujarnya.

Agustus 2007? (dari Website Menkokesra, tahunnya tak jelas)

· “Total penghematan dari program konversi minyak tanah ke gas ini sebesar Rp 22 triliun per tahun lebih besar dari keuntungan PT Pertamina sebesar Rp 19 triliun per tahun. Jadi ini serius,” kata Wapres M Jusuf Kalla kepada wartawan, seusai meninjau pabrik kompor dan tabung gas PT Hamasa Steel Centre serta PT Wijaya Karya Intrade di Cilungsi, Bogor, Jabar, Senin (13/8).

· Menurut Wapres program konversi minyak tanah ke gas LPG ini akan sangat menguntungkan semua pihak, baik pemerintah, masyarakat maupun pengusaha.
“Satu-satunya yang rugi dengan program ini, pengoplos minyak tanah,” kata Wapres M Jusuf Kalla dengan serius.

Juni 2008 (dari Kompas)

· PT Pertamina mengaku kewalahan memenuhi pasokan elpiji untuk masyarakat. Alasannya, selain infrastruktur terbatas, Pertamina juga masih menanggung rugi dari bisnis elpiji dan lebih fokus menyiapkan pendistribusian elpiji yang disubsidi. Direktur Niaga dan Pemasaran PT Pertamina Achmad Faisal mengemukakan hal itu di Jakarta, Jumat (6/6). Ia menjelaskan, sejak program konversi elpiji dilakukan, terjadi peningkatan konsumsi elpiji dalam kemasan 12 kg.

  • ”Banyak usaha kecil dan menengah yang lebih memilih memakai elpiji 12 kg. Namun, karena Pertamina masih menanggung rugi dari bisnis elpiji 12 kg, ya suplainya tidak ditambah, akhirnya terjadi kekurangan,” kata Faisal.

· Seiring dengan program konversi dari minyak tanah ke elpiji, tahun ini diperkirakan kebutuhan elpiji meningkat 400.000 ton. Kebutuhan tabung 3 kg sebanyak 6 juta unit.

· Menurut Faisal, infrastruktur penyimpanan dan pendistribusian elpiji, baik untuk tabung 12 kg maupun 3 kg, tidak memadai.

· Bisnis elpiji 12 kg adalah bisnis terbuka. Dengan demikian, badan usaha lain bisa masuk. ”Masalahnya sampai sekarang tata niaga elpiji belum ada,” ujarnya.

· Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Tekstil, dan Aneka Departemen Perindustrian Ansari Bukhari menjelaskan, semua pabrik tabung yang sebelumnya menyuplai tabung elpiji 12 kg untuk Pertamina kini beralih memproduksi tabung elpiji 3 kg.

· Ansari meyakini, industri bisa didorong untuk memproduksi tabung elpiji 12 kg jika ada hitungan skala ekonomi yang jelas.

  • Namun, harus ada kepastian penyerapan hasil produksi. ”Pertamina harus menegaskan berapa kebutuhannya dan sampai tahun berapa produksi bisa diserap,” tuturnya.

———

Berikut ini adalah naskah lengkap yang saya jadikan bahan penulisan keprihatinan ini, yang poin-poinnya saya buat di atas..

Pemerintah Percepat Program Konversi Minyak Tanah
Rabu, 30 Agustus 2006 | 20:04 WIB

http://www.tempointeraktif.com/hg/ekbis/2006/08/30/brk,20060830-82960,id.html

TEMPO Interaktif, Jakarta:Pemerintah akan mempercepat program konversi minyak tanah ke elpiji dari 6 tahun menjadi 4 tahun. Total minyak tanah yang dialihkan itu ditargetkan mencapai 90 persen dari konsumsi minyak tanah sekitar 10 juta kiloliter.

“Kita bisa, sebab Indonesia produsen elpiji (gas tabung),” kata Wakil Presiden Jusuf Kalla saat mengunjungi Pertamina kemarin.

Sebelumnya, pemerintah menganggarkan dana Rp 1,93 triliun bagi program konversi minyak tanah ini. Program konversi minyak tanah ke elpiji ini berdasarkan surat Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Purnomo Yusgiantoro kepada Menko Perekonomian, Menteri Keuangan, Dirjen Migas, dan PT Pertamina (persero). Dananya berasal dari pengurangan subsidi minyak tanah yang dialihkan ke elpiji.

Dari program ini, diperkirakan terjadi pengurangan konsumsi minyak tanah mencapai 988.280 kiloliter. Sedangkan konsumsi elpiji menjadi naik sebesar 567.700 ton. Saat ini harga jual elpiji di dalam negeri Rp 4.250 per kilogram. Padahal sebagian pasokan elpiji diimpor Pertamina dengan biaya Rp 6.000-7.000. Jadi selama ini Pertamina mensubsidi konsumen dalam negeri Rp 1.750-2.750 per kilogram. Tahun ini konsumsi elpiji rata-rata 1 juta ton.

Jusuf Kalla menjelaskan, bila ini tercapai, dalam 4 tahun ada penghematan subsidi Rp 30 triliun. Namun, diperlukan tambahan investasi sekitar Rp 15 triliun. “Kami akan minta swasta untuk ikut program ini,” ujarnya.

Berdasarkan uji coba konversi elpiji yang dilakukan Pertamina, lanjut Kalla, hasilnya 85 persen konsumen beralih dari minyak tanah ke elpiji. Hasil lainnya, ada kenaikan pendapatan rill masyarakat hingga Rp 25 ribu sebulan untuk keluarga sederhana. “Jadi ini harus segera berjalan.”

Direktur Utama PT Pertamina (persero) Arie Soemarno menambahkan, tidak ada tambahan subsidi untuk Pertamina. Skemanya subsidi minyak tanah akan dialihkan ke elpiji dengan perbandingan 1:1. Jadi bisa saja untuk sementara Pertamina menanggung dulu selisih harga jual elpiji. “Yang penting diganti dengan subsidi minyak tanah karena ada pengurangan konsumsi minyak tanah,” ujarnya.

Arie menjelaskan, untuk tabung pertama kali, diupayakan gratis. Sedangkan harga jual elpiji tetap dijual Rp 4.250 per kilogram sehingga Pertamina masih menanggung kerugian sekitar Rp 1,9 triliun. “Itu akan kami cari jalan dan dibicarakan dengan pemegang saham,” tutur dia.

Wapres: Keuntungan Konversi Minyak Tanah Rp 22 Triliun

http://www.menkokesra.go.id/content/view/4729/1/

http://www.menkokesra.go.id/content/view/4792/1/

http://www.menkokesra.go.id/content/view/4792/1/

http://www.menkokesra.go.id/content/view/4792/1/

http://www.menkokesra.go.id/content/view/4792/1/

http://www.menkokesra.go.id/content/view/4792/1/

http://www.menkokesra.go.id/content/view/4792/1/

http://www.menkokesra.go.id/content/view/4792/1/

KESRA–13 AGUSTUS: Wakil Presiden M Jusuf Kalla mengatakan keuntungan pemerintah melalui program konversi minyak tanah ke gas LPG sebesar Rp 22 triliun per tahun, lebih besar dari keuntungan PT Pertamina yang sebesar Rp 19 triliun per tahun.

“Total penghematan dari program konversi minyak tanah ke gas ini sebesar Rp 22 triliun per tahun lebih besar dari keuntungan PT Pertamina sebesar Rp 19 triliun per tahun. Jadi ini serius,” kata Wapres M Jusuf Kalla kepada wartawan, seusai meninjau pabrik kompor dan tabung gas PT Hamasa Steel Centre serta PT Wijaya Karya Intrade di Cilungsi, Bogor, Jabar, Senin (13/8).

Menurut Wapres program konversi minyak tanah ke gas LPG ini akan sangat menguntungkan semua pihak, baik pemerintah, masyarakat maupun pengusaha.
“Satu-satunya yang rugi dengan program ini, pengoplos minyak tanah,” kata Wapres M Jusuf Kalla dengan serius
.

Karena itu, tambah Wapres program ini harus tetap jalan. Namun untuk itu, Wapres memerintahkan agar dilakukan kontrol yang ketat mengenai kualitas, serta kecepatan penyelesaian.

Mengenai kurangnya sosialisasi di masyarakat, Wapres mengakui memang ada namun diminta segera dilakukan penambahan untuk iklan di TV, pencetakan brosur maupun menggunakan tenaga penyuluh lapangan.

Wapres optimis program ini akan berhasil karena hampir seluruh kalangan akan meraih keuntungan. Ketika ditanyakan apakah ada rencana untuk menarik kompor minyak di masyarakat, Wapres mengatakan biarkan saja hal itu tetap. Kompor minyak tambahnya bisa digunakan sebagai cadangan.

“Hasil survei, orang yang sudah pakai gas LPG, 99 persen tak akan kembali ke minyak tanah,” kata Wapres.

Mengenai adanya laporan beberapa produk tabung gas yang tidak sesuai dengan kualitas yang ada, Wapres menilai hal itu harus diperbaiki. Namun, tambahnya jika hanya ada satu atau dua yang bocor hal itu masih wajar. Untuk itu, tambah Wapres akan dilakukan perbaikan-perbaikan dan dilakukan kontrol yang lebih ketat.

Menurut Menteri Perindustrian Fahmi Idris, spesifikasi dan SNI untuk tabung gas sudah keluar. Sedangkan untuk kompor gas, tambah Fahmi, spesifikasinya sudah dilakukan dan SNI-nya diharapkan sebentar lagi akan keluar.

Dalam kesempatan itu Wapres menegaskan bahwa program konversi minyak tanah ke gas LPG tetap akan dilanjutkan dengan target empat tahun selesai. Sementara mengenai kekurangan-kekurangan yang ada akan terus diperbaiki.

“Kekurangan-kekurangan kita perbaiki akan tetapi program konversi ini tetap kita jalankan dan empat tahun selesai,” kata Wapres M Jusuf Kalla.

Menurut Wapres program konversi minyak tanah ke gas LPG ini akan menguntungkan semua pihak. Dari segi pemerintah akan ada penghematan subsidi BBM sebesar Rp 22 triliun rupiah per tahun, sedangkan konsumen atau rakyat akan ada penghematan sebesar Rp 20 s/d Rp 25 ribu per bulan per Kepala Keluarga. Hal itu didapatkan dari hitungan jika menggunakan minyak tanah satu liter setara dengan 0,4 kg LPG.

Wapres mengeluarkan hitungan jika penggunaan minyak tanah sebanyak 20 liter minyak tanah per bulan per KK maka akan setara dengan 2,5 tabung. “Tidak ada lagi negara di dunia yang menggunakan minyak tanah untuk keperluan rumah tangga,” kata Wapres.

Menurut Wapres, minyak tanah saat ini hampir sama dengan Avtur baik dari segi kualitas maupun harganya. Dengan demikian, tambah Wapres selama ini rumah tangga Indonesia sama saja dengan menggunakan avtur. (rol/broto)

Elpiji

Pertamina Tak Bisa Penuhi Kebutuhan

Sabtu, 7 Juni 2008 | 01:13 WIB

http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/06/07/01133152/pertamina.tak.bisa.penuhi.kebutuhan

Jakarta, Kompas – PT Pertamina mengaku kewalahan memenuhi pasokan elpiji untuk masyarakat. Alasannya, selain infrastruktur terbatas, Pertamina juga masih menanggung rugi dari bisnis elpiji dan lebih fokus menyiapkan pendistribusian elpiji yang disubsidi.

Direktur Niaga dan Pemasaran PT Pertamina Achmad Faisal mengemukakan hal itu di Jakarta, Jumat (6/6). Ia menjelaskan, sejak program konversi elpiji dilakukan, terjadi peningkatan konsumsi elpiji dalam kemasan 12 kg.

”Banyak usaha kecil dan menengah yang lebih memilih memakai elpiji 12 kg. Namun, karena Pertamina masih menanggung rugi dari bisnis elpiji 12 kg, ya suplainya tidak ditambah, akhirnya terjadi kekurangan,” kata Faisal.

Konsumsi elpiji untuk rumah tangga umum rata-rata 1,1 juta ton per tahun, dengan jumlah tabung 12 kg yang beredar mencapai 15 juta buah.

Seiring dengan program konversi dari minyak tanah ke elpiji, tahun ini diperkirakan kebutuhan elpiji meningkat 400.000 ton. Kebutuhan tabung 3 kg sebanyak 6 juta unit.

Menurut Faisal, infrastruktur penyimpanan dan pendistribusian elpiji, baik untuk tabung 12 kg maupun 3 kg, tidak memadai.

Bisnis elpiji 12 kg adalah bisnis terbuka. Dengan demikian, badan usaha lain bisa masuk. ”Masalahnya sampai sekarang tata niaga elpiji belum ada,” ujarnya.

Pertamina menyiapkan konsep pendistribusian elpiji untuk rumah tangga menengah atas dengan harga lebih mahal, tetapi pelayanan lebih baik. Menurut GM Gas Domestik Pertamina Endang Sri, konsumen bisa memesan dan membayar melalui anjungan tunai mandiri.

Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Tekstil, dan Aneka Departemen Perindustrian Ansari Bukhari menjelaskan, semua pabrik tabung yang sebelumnya menyuplai tabung elpiji 12 kg untuk Pertamina kini beralih memproduksi tabung elpiji 3 kg.

Ansari meyakini, industri bisa didorong untuk memproduksi tabung elpiji 12 kg jika ada hitungan skala ekonomi yang jelas.

Namun, harus ada kepastian penyerapan hasil produksi. ”Pertamina harus menegaskan berapa kebutuhannya dan sampai tahun berapa produksi bisa diserap,” tuturnya. (DOT/DAY)

Posted in Ah... Indonesia ku | Dengan kaitkata: , , , , | Leave a Comment »