Kepulauan Indonesia

Cerita dari, untuk dan tentang Kepulauan Indonesia beserta Penghuni dan Penduduknya

Arsip untuk ‘Banjir’ Kategori

Tentang banjir yang terjadi di Indonesia, baik banjir karena air permukaan maupun banjir karena pasang surut

Puncak Banjir Jakarta di Januari 2014

Posted by wahyuancol pada Januari24, 2014

Banjir yang terjadi di Jakarta tanggal 17 januari 2014 yang lalu terasa menghentak warga Jakarta, terutama yang tinggal di kawasan Jakarta Utara. Banjir di pagi hari itu bertepatan dengan kondisi laut pasang tertinggi saat itu, yaitu 1,0 m dan curah hujan yang tinggi di malam hari hingga menjelah pagi.

Berdasarkan tabel pasang-surut yang dipulikasikan oleh sebuah situs internet, pasanglaut.com, ternyata kondisi pasang di tanggal 17 Januari itu belumyang tertinggi. Pasang laut yang tertinggi akan terjadi pada tanggal 28, 29 dan 30 dengan ketinggian air 1,1 m. Sebelum tanggal tersebut, yaitu tanggal 26 dan 27, ketinggian muka laut adalah 1,0 m, sama dengan ketinggian muka laut pada tanggal 17 Januari. Perlu diperhatikan juga bahwa kondisi pasang yang tinggi tersebut terjadi di pagi hari.

Sehubungan dengan kondisi tersebut, bagi yang hendak berangkat kerja di pagi hari, hendaklah berangkat lebih cepat.

——————————

Selasa, 28 Januari 2014, hari pertama pasang tertinggi di bulan Januari. Jakarta mendung tetapi tidak hujan. Curah hujan yang rendah sangat menggembirakan karena hari ini tidak terjadi genangan banjir seperti waktu sebelumnya di tanggal 17 Januari yang lalu. Namun demikian, masih ada kekhawatiran akan muncul kembali banjir atau genangan yang luas, karena dari prediksi BMKG di JakartaUtara berpotensi hujan lebat pada tanggal 29 januari 2014.

Semoga ramalan tidak menjadi kenyataan.

Ditulis dalam Banjir, PROSES (BENCANA) ALAM | Dengan kaitkata: , , , , | Leave a Comment »

Banjir 2014 di Pulau Jawa

Posted by wahyuancol pada Januari21, 2014

Musim hujan di awal tahun 2014 ini menyebabkan banjir di berbagai wilayah di Indonesia. Khusus di Pulau Jawa banjir terjadi menyeluruh di kawasan pesisir utara mulai dari daerah Serang, Banten di bagian barat hingga Rembang di bagian timur. Banyak kerugian materil yang timbul karena banjir tersebut, baik karena pemukiman yang terendam air maupun lumpuhnya transportasi. Pada kesempatan ini kita tidak membicarakan tentang berbagai kerugian tersebut atau penyebab banjir, tetapi akan kita lihat banjir tersebut dari sudut pandang yang lain, yaitu banjir sebagai proses geomorfologi.

Air adalah salah satu agen geomorfologi yang penting di bumi ini. Dengan aktifitas air, permukaan bumi diukir dan berbagai bentang alam dibentuk. Kita yang hidup di permukaan bumi ini, khususnya di Indonesia, sebagian besar hakekatnya adalah hidup di atas bentang alam hasil bentukan oleh proses geomorfologi yang dikerjakan oleh air, baik itu yang tinggal di daerah pegunungan, perbukitan maupun di dataran rendah.

Melalui proses erosi, air mengukir pegunungan atau perbukitan menghasilkan lereng-lereng, punggungan-punggungan dan lembah-lembah. Sementara itu, melalui proses sedimentasi air membentuk dataran.

Aliran air di daerah pegunungan atau perbukitan mengukir pegunungan atau perbukitan tersebut. Rempah-rempah batuan hasil ukiran tersebut kemudian ditransportasikan ke daerah yang lebih rendah untuk kemudian diendapkan. Maka terbentuklah berbagai lahan datar. Melalui mekanisme seperti itulah sebagian besar bagian Pulau Jawa ini diukir dan dibentuk oleh air.

Kawasan pesisir utara Pulau Jawa yang sekarang ini tergenang air banjir terbentuk dengan cara seperti itu. Air banjir yang turun dari daerah pegunungan atau perbukitan di bagian tengah pulan hakekatnya saat ini sedang bekerja dalam skala besar mengukir pegunungan dan perbukitan, mentranspor rempah-rempah hasil ukiran ke laut. Dalam perjalanannya ke laut, sebagian dari rempah-rempah tersebut diendapkan di dataran rendah.

Rempah-rempah atau material atau sedimen yang ditranportasikan oleh aliran air tersebut kaya akan zat hara. Oleh karena itu, mudah dimengerti kalau dataran rendah yang ada di pesisir utara Pulau Jawa itu adalah lahan yang subur. Di lapangan kita melihat bahwa dataran pesisir di utara Pulau Jawa tersebut adalah daerah pertanian yang subur. Dengan pola pikir seperti itu, maka dapat dikatakan bahwa banjir yang berulang terjadi di daerah tersebut hakekatnya adalah cara Tuhan untuk menjaga kelangsungan hidup kita, yaitu dengan memperbaiki kesuburan lahan terus menerus tanpa kita memintanya.

Jadi, banjir yang terjadi sekarang ini menunjukkan Tuhan sedang memperbaiki lahan agar kita dapat memanfaatkannya lagi setelah banjir berakhir. Selain itu, peristiwa ini juga mengingatkan kita bahwa lahan yang sekarang ini mengalami banjir adalah lahan pertanian yang subur. Mengingatkan kembali tentang hal ini penting karena sekarang banyak lahan pertanian yang telah dikonversi untuk penggunaan lain, termasuk pemukiman.

Kemudian, banjir yang merupakan rahmat Tuhan itu sekarang menjadi bencana. Ini mengingatkan agar kita manusia menyesuaikan diri dengan sistem alam yang diciptakan Tuhan dengan mempergunakan akal dan pikiran yang juga telah diberikan kepada kita.

Salam,

WBS

Ditulis dalam Air, Banjir, Cara Bumi di Hidupkan, Erosi, FILSAFAT, HIDROSFER, HUMANIORA, Manusia dan Alam, PROSES (BENCANA) ALAM, Sedimentasi | Dengan kaitkata: , , , , , , , , , , , , | Leave a Comment »

Penyebab Banjir di Jakarta

Posted by wahyuancol pada Januari20, 2014

Tulisan ini dibuat ketika Jakarta dilanda banjir tahun 2014 di bulan Januari berdasarkan hasil pengamatan langsung di lapangan maupun mengamati berita-berita tentang banjir dari berbagai media. Dari hasil pengamatan tersebut, saya sampai pada kesimpulan bahwa ada beberapa kondisi yang menyebabkan banjir di Jakarta, yaitu:

  1. Curah hujan yang tinggi. Curah hujan menjadi penyebab utama banjir, baik hujan yang terjadi di wilayah Jakarta maupun di Bogor. Curah hujan menjadi penyebab utama karena bila tidak ada hujan maka tidak akan ada banjir. Bulan-bulan Desember, Januari dan Februari memang bulan-bulan dengan curah hujan tinggi untuk kawasan Jakarta dan sekitarnya. Secara umum, tingginya curah hujan terlihat menyebabkan banjir di banyak wilayah di Indonesia, seperti di Jawa, Sumatera, Sulawesi dan Papua.
  2. Salah memilih tempat tinggal. Banyak daerah-daerah terbangun di Jakarta sebelumnya adalah daerah-daerah dihindari untuk dijadikan daerah pemukiman karena merupakan lahan basah atau rawa atau aliran sungai. Perkembangan jumlah penduduk di Jakarta penyebabkan daerah-daerah rawa dan tepi sungai dijadikan daerah pemukiman.
    1. Rawa-rawa. Rawa-rawa memang tempatnya air, sehingga bila hujan turun maka air akan berkumpul di daerah tersebut sehingga wajar bila bila hujan pemukiman di daerah tersebut akan banjir. Banyak daerah pemukiman di Jakarta memiliki nama dengan kata depan “Rawa”.
    2. Tepi sungai. Daerah tepi sungai atau bantaran sungai di Jakarta juga sudah menjadi daerah hunian. Bila debit air sungai naik, maka daerah ini yang pertama kali akan terjena banjir karena memang daerah tersebut bagian dari alur sungai. Seperti daerah Kampung Pulo, Kampung Melayu.
    3. Cekungan. Daerah cekungan adalah tempat air permukaan berkumpul bila terjadi hujan. Daerah cekungan yang berada di tempat yang tinggi dalam kondisi alamiah bisa merupakan daerah yang kering. Bila daerah cekungan di jadikan daerah hunian maka persoalan banjir bisa muncul bila curah hujan tinggi.
    4. Daerah labil. Daerah labil atau belum stabil terdapat di daerah pesisir. Bila mendapat beban, maka permukaannya akan turun. Apabila permukaan tanah turun menjadi lebih rendah daripada permukaan laut, maka daerah ini menjadi daerah banjir pasang-surut. Kasus seperti ini terjadia di Jakarta Utara.
  3. Drainase yang buruk. Drainase kota yang buruk menjadi salah satu penyebab genangan atau memperparah kondisi banjir. Buruknya sistem drainase kota dapat dilihat dari terjadinya genangan ketika curah hujan masih sangat rendah dan / atau kondisi  air harus dipompa untuk mengeringkan genangan. Masalah drainase kota ini muncul antara lain karena daerah pemukiman yang lebih rendah daripada daerah sekitarnya seperti di cekungan atau rawa. Hal lain yang berkaitan dengan drainase ini adalah masalah sampah.
  4. Sampah kota. Sampah kota merupakan salah satu masalah di Jakarta. Sampah-sampah dapat menyumbat drainase atau menghambat aliran sungai. Tingginya volume sampah yang terperangkap di pintu air Manggarai merup[akan salah satu bukti masalah sampah di Jakarta.
  5. Turunnya permukaan tanah. Turunnya permukaan tanah atau subsiden menjadi salah satu faktor yang menyebabkan banjir di Jakarta, khususnya di Jakarta Utara. Turunnya permukaan tanah menyebabkan permukaan tanah menjadi lebih rendah daripada permukaan air sungai ketika laut dalam kondisi pasang. Keadaan ini menyebabkan tidak ada hujan pun Jakarta Utara dapat mengalami banjir. Salah satu contohnya adalah di Jalan Gunung Sahari bagian utara. Bila kondisi tersebut berkombinasi dengan curah hujan yang tinggi, maka ketinggian air banjir dan luas daerah genangannya makin besar.
  6. Pasang-surut. Pasang-surut telah berkembang menjadai salah satu penyebab banjir di Jakarta Utara karena berkombinasi dengan turunnya permukaan tanah. Bila kondisi laut pasang berkombinasi dengan curah hujan yang tinggi, maka akan menimbulkan genangan yang luas dan lebih tinggi daripada bila faktor itu sendiri.

Dari hasil pengamatan tersebut, secara umum dapat disebutkan bahwa penyebab banjir di Jakarta terjadi karena kombinasi faktor alam dan faktor manusia. Hal tersebut dapat diuraikan lebih lanjut sebagai berikut:

  1. Faktor alam. Faktor ini terdiri dari kondisi Meteorologi (berkaitan dengan curah hujan), kondisi Geomorfologi (berkaitan dengan bentang alam: sistem aliran sungai dan morfologi permukaan lahan), dan Oseanografi (berkaitan dengan pasang-surut).
  2. Faktor manusia. Faktor ini berkaitan dengan manajemen pemerintahan dan tatakota, serta tingakah laku warga kota.

————————-

Rabu 5 Februari 2014

Hari ini kembali Jakarta digenangi air di banyak lokasi termasuk kawasan di jalan Merdeka dan Thamrin. Genangan itu terjadi setelah sejak menjelang pagi Jakarta diguyur hujan. Sementara itu, hari ini dikabarkan kawasan Bogor dan Depok cerah.

Dari peristiwa munculnya genangan hari ini di Jakarta dengan kondisi tanpa hujan di Bogor dan Depok (Detiknews), maka kita dapat mengeliminasi faktor hujan di kawasan hulu sebagai penyebab banjir di Jakarta hari ini.

Sementara itu, di pihak yang lain, ketinggian pasang-surut di Jakarta hari ini juga rendah. Hanya 0,8 m pada puncaknya di jam 06.00, dan setelah itu turun. Keadaan ini menunjukkan pasang air laut tidak berkontribusi besar dalam banjir di kawasan utara Jakarta pagi ini (pasanglaut.com).

Dengan demikian, maka dapat kita katakan bahwa banjir yang terjadi pada hari ini di Jakarta merupakan bukti bagi buruknya sistem drainase kota Jakarta.

 

Wassalam,

WBS

Ditulis dalam Banjir, HUMANIORA, Manusia dan Alam, PROSES (BENCANA) ALAM | Dengan kaitkata: , , , , , , , , , , | Leave a Comment »

Jakarta Banjir 2014

Posted by wahyuancol pada Januari17, 2014

Hari ini, 17 Januari,  setahun yang lalu Jakarta banjir. Tentang hal ini saya tulis sehari kemudian di dalam blog ini.

Hari ini, 17 Januari 2014, Jakarta kembali banjir hebat. Oh ya, tentang patokan banjir ini saya berpegang pada kondisi banjir di lingkungan Ancol Timur. Jalan masuk ke kawasan wisata Ancol tergenang karena curah hujan yang tinggi. Hujan yang menyebabkan genangan itu dimulai sejak malam hari sekitar jam 20.00.  Menjelang waktu subuh, ketika terbangun jam 04 dini hari, hujan lebah menyiram Ancol. Sejak saat itu, air perlahan-lahan naik menggenangi jalanan di kawasan Ancol timur. Di halaman Balai Samudera, genangan air mencapai lutut orang dewasa; jalan keluar dari kawasan wisata Ancol juga demikian. Curah hujan yang tinggi dan bulan mendekati purnama sangat berperanan dalam memunculkan genangan banjir ini.

Penambahan kawasan genangan yang terjadi pagi ini tampaknya dominan terjadi di kawasan utara Kota Jakarta, seperti di Ancol, Gunung Sahari, dan  Kelapa Gading. Kawasan Stasiun Kota di kabarkan sempat tergenang.

Menurut cerita rekan-rekan kerja yang datang dari kawasan selatan Kota Jakarta, di kawasan selatan kota hanya terjadi sedikit hujan. Sementara itu, di kawasan Bogor, bendungan Katulampa masih Siaga III.

Hari-hari sebelumnya, banjir atau genangan sudah dilaporkan terjadi di berbagai kawasan Jakarta di bagian selatan menyusul hujan yang terjadi di kawasan tersebut. Sementara itu di kawasan Kampung Melayu juga telah dilaporkan banjir yang terjadi lebih awal, yaitu di Kampung Pulo. 

Gambar-gambar menyusul ya.

 

Ditulis dalam Banjir, PROSES (BENCANA) ALAM | Dengan kaitkata: , , , , | Leave a Comment »

Jakarta Under Water

Posted by wahyuancol pada Januari18, 2013

Kemaren, Kamis 17 Januari 2013, Kota Jakarta dilanda banjir yang menggenangi sebagian besar kawasan kota itu. Banjir bahkan mencapai istana negara, dan acara penerimaan tamu negara, Presiden Argentina, sempat ditunda. Presiden sempat turun ke lapangan meninjau daerah banjir di Kali Ciliwung dengan mempergunakan Sea Rider. Gubernus DKI mengkoordinir kegiatan penanganan dampak banjir langsung dari lapangan. Sekolah-sekolah dan kantor-kantor banyak yang diliburkan. Tanggap darurat banjir diumumkan oleh Gubernur DKI sampai tanggal 27 Januari 2013.

Banjir dimulai dengan siraman hujan lebat yang dimulai sekitar jam 02 dini hari. Setelah itu, air perlahan naik dan menggenangi berbagai kawasan kota Jakarta. Sebelum jam 08 pagi, para pekerja masih dapat mencapai kantor; setelah jam itu, lalu lintas kota lumpuh (Gambar 1). Banyak pegawai atau pekerja yang kembali sebelum sampai ke tempat kerjanya; dan yang sudah sampai berusaha pulang, meskipun dengan berjalan kaki. Ada juga yang memilih menginap di kantor dan pulang di pagi harinya. Militer mengerahkan truknya sebagai alat angkut menggantikan transportasi kota yang lumpuh. Kereta commuter line dari Bekasi hanya sampai Jatinegara, dan yang dari Bogor sampai Manggarai. Sore hari genangan banjir mulai surut, tetapi belum sampai habis semua genangan.

Banjir Bundaran HI Dari Atas Gedung

Gambar 1. Banjir di Bundaran Hotel Indonesia.

(Sumber: http://foto.detik.com/readfoto/2013/01/17/134103/2144944/157/2/banjir-bbanjir-bundaran-hi-dari-atas-gedung)

Banjir tahun ini lebih parah dari pada banjir tahun 2007 dan 2002. Jalan protokol dan istana negara sempat tergenang banjir. Kondisi ini terjadi antara lain karena jebolnya tanggul Kanal Banjir Barat di Latuharhari sepanjang 10 m. Gubernus DKI mengkoorinir langsung upaya memperbaiki tanggul yang jebol itu. Di malam hari, tersiar kabar bahwa tanggul telah diperbaiki.

Pada banjir kali ini sebuah peristiwa yang dramatis lain terjadi. Air banjir masuk membanjiri basement gedung UOB dan menjebak 4 orang pekerja kebersihan.

Di hari kedua, Jum ‘at 18 Januari 2013, sebagian besar daerah genangan banjir di hari pertama masih ada. Di pagi hari transportasi kota masih belum beroperasi. Menjelang siang, beberapa jalur busway bisa dioperasikan. Untuk kantor-kantor yang tidak tergenang banjir, pegawai-pegawainya adanyang masuk untuk bekerja. Namun, tanggul di Latuharhari jebol kembali dengan bukaan sepanjang 30 m. Gubernus DKI meminta bantuan kepada pihak swasta untuk memperbaiki tanggul itu.

—————————–

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika memberitakan bahwa curah hujan yang terjadi di Jakarta pada saat banjir kali ini lebih rendah daripada curah hujan yang terjadi ketika bannir di tahun 2007. Ini artinya bahwa kontribusi curah hujan di tahun 2013 lebih kecil daripada di tahun 2007. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa, sebagai penyebab banjir, kontribusi aliran sungai yang berhulu di daerah Bogor lebih besar daripada kontribusi curah hujan. Di lapangan, aliran Kali Ciliwung meluap.

Di Kota Jakarta sendiri bukan tidak ada masalah yang turut menyebabkan banjir lebih parah. Sampah yang tidak tertangani dengan baik dan sistem drainase kota yang buruk tidak disangkal lagi menyumbang bagi buruknya kondisi banjir tahun ini. Selain itu, jebolnya tanggul Kanal Banjir Barat berkontribusi nyata bagi terjadinya genangan banjir di jalan Thamrin sampai ke istana negara.

—————————-

Ketika musim hujan datang dan banjir seperti sekarang ini, Bendungan Katulampa di Bogor mendapat perhatian yang tinggi (Gambar 2). Ketinggian airnya dipantau 24 jam dan terus menerus dilaporkan perkembangannya kepada khalayak umum. Hal itu karena volume air yang datang dari bendung itu menentukan kondisi banjir di Jakarta. Bagi pengendalian banjir di Jakarta, bendungan tersebut memegang peran yang sangat vital.  Muncul di dalam pikiran, apa yang akan terjadi dengan Kota Jakarta bila bendungan itu jebol di saat seperti sekarang ini? Rasanya sudah waktunya pula kita memikirkan kondisi bendungan tersebut, karena bendung itu adalah buatan Belanda dahulu dan umurnya sudah tua. Bendung Katulampa dibuat oleh Belanda pada tahun 1911 dan diresmikan tahun 1912. Berarti tahun ini genap 100 tahun umur bendung tersebut.

Gambar 2. Bendungan Katulampa. Keselamatan Jakarata dari bencana banjir sangat ditentukan oleh kondisi bendungan ini.

(Sumber: http://news.detik.com/read/2013/01/18/220704/2146941/10/kata-belanda-katulampa-bagian-pengendalian-banjir-batavia?nd772205mr)

—————————

Hari ini, Sabtu 19 Januari 2013, adalah hari ketiga sejak banjir yang melumpuhkan Jakarta. Kota Jakarta terasa hangat meski mendung putih menutupi kota. Cuaca yang cerah sudah terlihat tadi malam. Langit bersih dengan bintang-bintang dan bulan sabit. Sebagian besar angkutan umum, termasuk busway telah beroperasi kembali, menandakan Jakarta telah berdenyut kembali meskipun beberapa kawasan masih tergenang banjir. Pelayanan kereta api masih terganggu. Secara umum, genangan banjir di Jakarta telah surut. Namun di daerah Penjaringan banjir masih tinggi dan ada kecenderungan naik.

Musim hujan masih akan berlangsung sampai Februari. Kondisi bulan purnama akan terjadi pada tanggal 27 Januari 2013. Ada yang memprediksi bahwa pada tanggal tersebut kemungkinan banjir akan datang kembali. Prediksi itu bisa menjadi kenyataan bila tanggal 25 dan 26 Januari 20113 terjadi curah hujan yang tinggi di Bogor dan Jakarta. Apabila tidak ada curah hujan yang tinggi di kedua kawasan tersebut, maka hanya akan terjadi banjir pasang-surut biasa di bagian utara Jakarta.

Semoga prediksi itu tidak menjadi kenyataan. Amin.

——————————

Hari ini, Minggu 20 Januari 2013, daerah Pluit, Penjaringan menjadi fokus perhatian dalam penanganan masalah banjir di Jakarta. Sementara di kawasan lain genangan banjir telah surut, genangan banjir di Penjaringan meningkat ketinggiannya. Hari ini  genangan masih mencapai lebih dari 1,5 m. Bagi kawasan Penjaringan, banjir kali ini adalah yang terburuk dalam sejarah kawasan itu. Untuk mempercepat penanganan masalah banjir di kawasan Pluit, Marinir TNI AL mengerahkan 3 kendaraan angkut amfibi yang dipergunakan untuk evakuasi, dan penyebaran bantuan logistik.

Pada hari ini, perbaikan tanggul di Latuharhary selesai dengan tanggul sementara. Upaya mencari pekerja yang terjebak di basement gedung UOB juga selesai, dengan 2 orang ditemukan selamat dan 2 orang tewas.

Presiden mengunjungi pengungsi banjir di daerah Jatinegara. Saat tulisan ini di-update, Menteri PU sedang memberikan penjelasan tentang program penanganan banjir Jakarta kepada Presiden di lapangan. Di sebutkan beberapa kali bahwa salah satu masalah utama dalam upaya penangulangan banjir adalah masalah pembebasan lahan.

Ada yang menarik, Presiden mengoreksi menterinya dalam berbahasa Indonesia. Pak menteri menyebutkan Banjir Kanal Barat, dan dikoreksi oleh Presiden bahwa dalam Bahasa Indonesia yang benar adalah Kanal Banjir Barat.

Pada penjelasan Menteri PU tersebut disampaikan beberapa rencana: (1) Penyelesaiam Kanal banjir Barat, (2) Sodetan dari Kali Ciliwung ke Kanal Banjir Timur, (3) Pembuatan Waduk Ciawi, (4) Terowongan bawah tanah serba guna, dan (4) Tanggul lepas pantai di Teluk Jakarta.

Setelah penjelasan Menteri PU, kemudian diadakan rapat tertutup antara Presiden, beberapa menteri terkait, Gubernur DKI, Ketua BNBP. Setelah pertemuan itu, Presiden mengumumkan pada konferensi pers bahwa prioritas upaya mengatasi banjir di Jakarta adalah: (1) Membuat sodetan dari Kali Ciliwung ke Kanal Banjir Timur; kegitan ini ditanggung oleh Pemerintah Pusat dan diharapkan selesai pertengahan 2014, dan (2) Menata aliran Kali Ciliwung; kegiatan ini ditanggung bersama antara Pemerintah Pusat dan Pmda DKI.

Pada kesempatan ini Presiden juga menyinggung masalah sampah. Diperlukan kerjasama masyarakat luas untuk mengatasi masalah sampah ini.

Semoga berhasil.

——————————-

Hari Senin 21 Januari 2013, fokus utama penanganan banjir di daerah Pluit. Air masih menggenangi jalan-jalan di kawasan itu. Selain masalah pertolongan korban banjir, di media massa muncul berita tentang penjarahan meski terbatas, dan orang mulai menghitung-hitung kerugian karena banjir.

Hari Selasa 22 Januari 2013, banyak perhitungan kerugian karena banjir muncul. Menurut Gubernur DKI, kerugian akibat banjir mencapai Rp 20 triluyun. Sedang BNBP menyebutkan 20 korban jiwa dan 50.000 pengungsi (Sumber: http://news.detik.com/read/2013/01/22/182253/2149936/10/jokowi-kerugian-akibat-banjir-jakarta-rp-20-triliun?nd771104bcj). Jalan berlubang yang terjadi karena banjir menyebabkan kecelakaan yang menewaskan pengendara sepeda motor.

Hari Rabu 23 Januari 2013, mulai dilihat dampak banjir terhadap kegiatan industri di Jakarta.

Salam,

WBS

Berikut adalah peta resmi banjir Jakarta:

Peta tanggal 17 januari 2013

Sumber: http://tekno.kompas.com/read/xml/2013/01/17/15432676/Ini.Dia..Peta.Digital.Resmi.Banjir.Jakarta

Peta tanggal 18 Januari 2013

(Sumber:http://www.aifdr.org/wp-content/uploads/2013/01/Jakarta_flood_18_1_13_0600.jpg )

Ditulis dalam Banjir, PROSES (BENCANA) ALAM | Dengan kaitkata: , , , , , , , , , , , | Leave a Comment »

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.