Kepulauan Indonesia

Cerita dari, untuk dan tentang Kepulauan Indonesia beserta Penghuni dan Penduduknya

Archive for the ‘E’ Category

Erupsi 3 (Tipe-tipe erupsi: erupsi aliran)

Posted by wahyuancol pada November17, 2014

Klasifikasi Tipe Erupsi

Tipe erupsi dapat diklasifikasikan dengan berbagai dasar, yaitu:

  1. Berdasarkan pada bentuk dan lokasi bukaan (vent) yang darinya magma keluar,
  2. Berdasarkan pada hubungannya dengan air,
  3. Berdasarkan cara magma keluar dari kawah.

Tipe Erupsi Berdasarkan Cara Magma Keluar dari Kawah

Berdasarkan cara magma keluar dari kawah, erupsi dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu:

  1. Erupsi Aliran (effusive eruption): bila magma keluar dari kawah dengan cara mengalir sebagai aliran lava.
  2. Erupsi Letusan (explosive eruption): bila magma keluar dari kawah dengan cara dilontarkan ke udara sebagai material piroklastik.

Terjadinya perbedaan tipe erupsi ini adalah karena perbedaan kekentalan magma dan kandungan gas. Kekentalan magma di tentukan oleh kandungan silika (SiO2) di dalam magma. Makin tinggi kandungan silika di dalam magma, maka magma makin kental; dan sebaliknya, makin sedikit kandungan silika di dalam magma, maka magma makin cair.

Bila magma kental, maka gas akan terperangkap di dalam magma seperti gas di dalam botol minuman bersoda. Makin banyak gas yang terperangkap di dalam magma, maka tekanan magma makin tinggi. Bila magma yang bertekanan tinggi ini keluar secara cepat, maka akan terjadi erupsi letusan.

Sementara itu, bila magma cari, maka gas akan mudah lepas dari dalam magma; dan bila magma keluar maka akan terjadi erupsi aliran, magma keluar sebagai aliran lava.

Erupsi Aliran (Erupsi Effusif, Effusive Eruption)

Erupsi aliran mengeluarkan magma cair dalam bentuk aliran lava. Di kawah yang mengeluarkan magma cair ini dapat terbentuk lava fountain (mancuran lava, analogi: untuk air mancur disebut water fountain). Erupsi Gunung Kalauea di Pulau Hawaii yang sedang berlangsung saat ini adalah contoh aktual dari erupsi tipe aliran ini (Gambar 1). Aliran lava tersebut saat ini sedang melanda daerah pemukiman dan menghanguskan segala sesuatu yang dilandanya.

Gambar 1. Aliran lava Gunung Kilauea. Lava pijar yang mengalir membakar segala sesuatu yang dilandanya. Foto 26 Oktober 2014 (Sumber: USGS Hawaii Volcano Observatory).

 

Erupsi tipe aliran ini bisa terjadi dari dalam bentuk erupsi celah (Gambar 2) maupun erupsi kawah (Gambar 3).

Gambar 2. Erupsi celah dengan pancuran lava dan aliran lava di Gunung Kilauea, Hawaii. Foto dari USGS tanggal 5 Maret 2011.  Dikutip dari Red Orbit 9 Maret 2011.

 

Gambar 3. Erupsi kawah dengan pancuran lava dan aliran lava di Hawaii. 2 Juni 1986. (Sumber: USGS Hawaiian Volcano Observatory)

 

Bacaan:

British Geological Survey (Types of Eruption)

 

Erupsi 1 (Pengertian)

Erupsi 2 (Tipe-tipe erupsi: erupsi celah)

Posted in E, GLOSARIUM | Dengan kaitkata: , , , , , , , , | Leave a Comment »

Erupsi 2 (Tipe-tipe erupsi: erupsi celah)

Posted by wahyuancol pada November8, 2010

Klasifikasi Tipe Erupsi

Tipe erupsi dapat diklasifikasikan dengan berbagai dasar, yaitu:

  1. Berdasarkan pada bentuk dan lokasi bukaan (vent) yang darinya magma keluar,
  2. Berdasarkan pada hubungannya dengan air,
  3. Berdasarkan cara magma keluar dari kawah.

Tipe Erupsi Berdasarkan Bentuk dan Lokasi Bukaan (Vent)

Berdasarkan bentuk bukaan, erupsi dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu:

  1. Erupsi Celah (fissure eruption): bila material volkanik keluar melalui bukaan berupa retakan atau celah yang memanjang.
  2. Erupsi Kawah (central vent eruption): bila material volkanik keluar melalui lubang yang bulat. Bila kawah gunungapi berada di puncak gunung, maka disebut erupsi puncak (summit erupsion); sedang bila berada di lereng gunungapi, disebut erupsi lereng (flank erupsion).

Erupsi Celah

Erupsi celah umumnya terjadi di daerah-daerah yang banyak mengalami sistem retakan memanjang atau sistem retakan yang sejajar. Bila sistem retakan tersebut berada di atas dapur magma basalt, maka magma basalt yang berviskositas rendah akan bererupsi (keluar) melalui celah-celah tersebut. Erupsi tipe ini bersifat tenang dan sedikit sekali material yang terlontarkan ke udara. Bila erupsi ini berhenti, magma yang berada di dalam celah akan mendingin dan mengkristal membenuk tubuh batuan beku yang dikenal sebagai dike (dyke).

Erupsi tipe ini umumnya dijumpai di daerah Pematang Tengah Samudera (Mid Oceanic Ridge) seperti di Pulau Eslandia dan di daerah Hot Spot di tengah samudera seperti di Hawaii.

flow flow in rift zone

Erupsi celah di Hawai. Sumber: National Park of Hawaii.

Erupsi celah. Photo: USGS. Dikutip dari Hawai Lava Daily.

 

Pulau Eslandia adalah bagian dari Pematang Tengah Samudera (Mid-Atlantic Ridge) yang tersingkap ke udara. Oleh karena itu erupsi celah disebut juga Erupsi Tipe Eslandik (Icelandic Eruption). Aliran lava karena erupsi ini yang terbesar terjadi tahun 1783 yang dikenal sebagai Aliran Laki (Laki flow). Erupsi itu terjadi melalui celah sepanjang 25 km, menghasilkan 12 kilometer kubik lava yang mengisi dua lembah sungai yang dalam dan menutupi suatu kawasan dengan luas lebih dari 500 km persegi. Aliran lavanya mengalir mencapai 40 km.

Di Hawai, erupsi celah yang terjadi dikenal sebagai Tirai Api (Curtain of Fire), yang terjadi karena magma basalt yang miskin akan gas keluar melalui celah dan membentuk dinding yang menyala.

Banjir Basalt

Dalam sejarah geologi Bumi, diketahui ada tiga kejadian erupsi celah yang mengeluarkan lava basal yang sangat banyak, yang setiap erupsinya menutupi permukaan bumi seluas ratusan kilometer persegi, dan dikenal sebagai Erupsi Banjir Basalt (Flood Basalts Eruption). Fenomena banjir basalt dapat terjadi di lingkungan darat maupun di lingkungan laut. Contoh empat kejadian banjir basalt di lingkungan darat adalah sebagai berikut:

  1. Ethiopian Flood Basalt di Ethiopia yang bererupsi sekitar 30 juta tahun yang lalu, dengan durasi erupsi 1 juta tahun.
  2. Columbia River Flood Basalts di Amerika Serikat yang berupa rangkaian erupsi yang berlangsung antara 17-14 juta tahun yang lalu. Salah satu alirannya mencapai jarak 500 km dari sumbernya;
  3. Deccan Flood Basalts di India yang bererupsi sekitar 65 juta tahun yang lalu, dengan durasi erusi 6 juta tahun, dan
  4. Siberian Flood Basalts di Siberia yang bererupsi sekitar 245 juta tahun yang lalu.

 

Lokasi banjir basalt yang utama menurut Jerram dan Widdowson (2005). Dikutip dari Reeg.

Peta lokasi Ethipian Flood Basalt. Sumber: Hofmann et al (1997)

Peta penyebaran Columbia River Flood Basalt. Sumber: Camp & Ross (2004)

Peta penyebaran Deccan Flood Basalt. Dikutip dari: Geological Survey of India.

Peta penyebatan Siberian Flood Basalt menurut Ivanov (2008).

 

Menurut Hofmann et al (1997), banjir basalt merupakan bukti dari mantle plume yang menerobos litosfer, dan berkaitan dengan fenomena pecahnya kerak kontinen. Selain itu juga disebutkan bahwa banjir basalt berkaitan dengan fenomena krisis iklim global dan kepunahan massal yang pernah terjadi dalam perjalanan sejarah Bumi.

Mantle plume yang naik (A) dan kemudianb membentur litosfer dan menyebabkan banjir basalt (B) atau pulau-pulau volkanik (C).

 

Continental breakup dalam kondisi normal (Kasus A)  dan dengan penerobosan mantle plume yang mencetuskan banjir basal (Kasus B). Sumber: Korenaga (2004).

 

Artikel terkait:

BasaltErupsi 1

Referensi:

Kinds of Volcanic Eruptions [http://volcano.oregonstate.edu/education/vwlessons/kinds/kinds.html]

How Volcanoes Work: Fissure Eruption [http://www.geology.sdsu.edu/how_volcanoes_work/Fissure.html]

Posted in Batuan, E, GLOSARIUM, LITOSFER, PROSES (BENCANA) ALAM, Volkanisme | Dengan kaitkata: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a Comment »

Erosi 3 (dimensi manusia)

Posted by wahyuancol pada Maret3, 2009

Kali ini kita coba lihat dimensi atau faktoir manusia yang berkaitan dengan erosi.

Erosi dapat berkaitan dengan manusia dalam 2 hal. Pertama berkenaan dengan pencetusan erosi atau peningkatan intensitas atau laju erosi, dan Ke-dua berkaitan dengan dampak erosi.

Telah sama kita ketahui bahwa sebagai suatu proses alam, erosi pasti terjadi. Untuk dapat terjadinya erosi, tentu harus terpenuhinya kondisi-kondisi alamiah tertentu. Campur tangan manusiua terhadap proses erosi terada pada tataran pengubahan kondisi-kondisi yang menjadi prasayarat bagi berlangsungnya erosi.

Sebagai Pencetus

Campurtangan manusia dapat terjadi dalam bentuk menghadirkan kondisi prasyarat terjadinya erosi. Dengan campur tangan manusia, di daerah yang semula tidak ada erosi, menjadi ada erosi; daerah yang semula erosi ringan jadi erosi berat; daerah yang semula laju erosinya pelan menjadi lebih cepat. Misalnya, membuat lereng lebih curam (tebing jalan), membuat kekuatan aliran air terkonsentrasi di suatu tempat (pengaturan drainase), mengurangi atau menghilangkan hal-hal yang menghambat aliran air (penebangan hutan).

Dalam hal manusia sebagai penyebab erosi, hal ini dapat terjadi karena dua hal: (1) karena ketidaktahuan, dan (2) karena ketidakpedulian dengan kerusakan lingkungan. Untuk kondisi yang pertama, dapat diatasi dengan pendidikan atau pengajaran. Untuk kondisi yang kedua diperlukan penegakan hukum. 

Sebagai Korban

Proses erosi dapat merugikan kepentingan manusia. Dalam hal ini kita dapat menyebut manusia sebagai korban. Macam-macam kerugian yang dapat dialami manusia karena erosi seperti: kehilangan tanah yang subur (erosi menghilangkan lapisan permukaan tanah, pada erosi permukaan), mengalami kerusakan lahan (lahan menjadi tertoreh-toreh oleh erosi riil atau gully di daerah berlereng, bad land topography), kehilangan lahan secara fisik (lahan benar-benar hilang tererosi, pada kasus erosi lateral di tepi aliran sungai atau di tepi pantai).

Kemudian, pada tingkat diatasnya, manusia mengalami kerugian karena kehilangan atau kerusakan segala sesuatu atau aset yang ada di atas lahan yang tererosi itu, seperti kehilangan kebun, pemukiman, jalan, dan berbagai macam objek lainnya yang dibangun di atas lahan yang tererosi itu.

Dalam hal manusia sebagai korban erosi, tentu manusia selalu berupaya untuk menghindar atau berusaha mengatasi proses erosi itu. Upaya untuk mengatasi mkasalah erosi bukanlah pekerjaan sederhana yang ringan, melainkan pekerjaan yang rumit dan berbiaya tinggi. Olah karena itu, upaya penanggulangan masalah erosi ini dilakukan oleh Pemerintah atau masyarakat berdasarkan pertimbangan nilai kerugian yang mungkin timbul karena erosi bila erosi itu terjadi di suatu kawasan. Sebagai contoh, bila erosi mengancan jalan raya, maka upaya penanggukangan pasti dilakukan. Seperti di daerah Eretan, Indramayu. Erosi pantai mengancam jalan Pantura yang vital, maka di sepanjang pantai dipasang pertahanan pantai.

 

Demikian. Semoga bermanfaat.

Salam,

Wahyu

Posted in E, Erosi | Dengan kaitkata: , , | Leave a Comment »

Erosi 2 (hakekat erosi, keuntungan, kerugian)

Posted by wahyuancol pada Februari28, 2009

Dalam posting sebelumnya telah disebutkan bahwa Erosi adalah lepasnya material padat (sedimen, tanah, batuan dan tertikel lain) dari batuan induknya oleh air, angin, es, gaya gravitasi atau organisme.

Apabila kita perhatikan baik-baik proses erosi yang terjadi maka kita akan melihat keadaan berikut ini:

  1. Erosi menyebabkan hilangnya material dari suatu tempat. Di lokasi asal material tersebut terjadi pengurangan material. Selain itu, apabila daerah tersebut tinggi, maka erosi menyebabkannya menjadi lebih rendah. Dari sudut pandang geomorlogi maka, erosi merupakan bagian penting dari proses pendataran (pembentukan dataran)permukaan Bumi. Selain  itu, erosi juga bekerja mengukir permukaan Bumi. Hasilnya adalah alur-alur air atau lembah-lembah sungai di daerah perbukitan atau pegunungan. Jadi, tanpa erosi maka gunung-gunung akan tetap menjuilang tinggi dan tidak ada ukiran alur air dan lembah sungai yang indah itu.
  2. Erosi merupakan penghasil muatan sedimen untuk ditransportasikan dan kemudian diendapkan di tempat lain. Jadi, bila tidak diawali oleh proses erosi maka tidak akan ada muatan sedimen yang dapat ditransportasikan, dan selanjutnya tidak akan ada pengendapan yang akan terjadi. Dengan demikian dapatlah kita katakan bahwa proses erosi merupakan kunci dari proses transportasi sedimen dan proses pengendapan sedimen.

Itulah hakekat dari proses erosi.

Kerugian karena Erosi

Sebagaimana halnya proses alam lainnya, erosi dikatakan merugikan bila mengenai kepentingan manusia secara langsung dan segera dirasakan pengaruhnya.

Berikut ini beberapa kerugian karena erosi:

  1. Kehilangan tanah yang subur di daerah pertanian atau perkebunan yang mengalami erosi. Erosi permukaan tanah menyebabkan humus tanah yang subur di suatu kawasan hilang terbawa ke tempat lain. Pembuatan lahan persawahan berteras di daerah berlereng merupakan salah satu upaya mengurangi kerugian karena erosi ini.
  2. Kehilangan lahan secara fisik dan berbagai objek di atasnya. Contoh dari kondisi ini adalah erosi yang terjadi di sepanjang tepi aliran sungai atau tepi pantai. Erosi menyebabkan kehilangan lahan. Bila di atas lahan itu ada rumah, jalan atau berbagai objek lainnya, maka semuanya akan turut hilang bersamaan dengan hilangnya lahan karena erosi itu.

Keuntungan karena Erosi

Di atas telah disebutkan bahwa erosi merupakan kunci bagi proses transportasi sedimen dan proses sedimentasi. Keuntungan dari proses erosi ini dengan demikian harus kita lihat dari sudut pandang yang lebih luas dan menyeluruh. Kita harus melihat bahwa erosi menguntungkan karena tanpa erosi maka sedimentasi tidak akan terjadi. Tanpa erosi, maka tak kan ada sedimentasi, maka tidak akan ada lahan persawahan dataran rendah yang subur. Tanpa erosi di darat, maka tak kan ada sedimentasi di pantai atau laut dalam, maka tidak akan ada delta-delta atau endapan laut yang darinya kita mendapatkan minyak dan gas bumi.

Dari sudut pandang sumberdaya mineral (diingatkan oleh Sani JR tanggal 12 Sep 2009 tetapi baru di update malam ini 6 Nop 2010), erosi berarti dua hal:

  1. Erosi menyebar rahasia keberadaan mineral yang berada di dalam bumi sehingga dapat diketahui melalui penyebaran material hasil erosi melalui alur-alur sungai. Para ahli geokimia mencari endapan mineral salah satu caranya adalah  dengan cara melacak melalui endapan di aliran sungai.
  2. Erosi dapat menyebabkan endapan mineral yang terdapat jauh di dalam bumi tersingkap ke permukaan bumi sehingga dapat ditemukan dan dimanfaatkan oleh manusia.

Penutup

Erosi adalah sebagian dari proses alam yang penting bagi kelangsungan hidup di Bumi. Keuntungan dan kerugian dari proses itu bersifat relatif, tergantung dari cara kita memandangnya.

Ingin tahu lebih jauih tentang erosi? Erosi 1

Posted in Cara Bumi di Hidupkan, E, Erosi, Sedimen | Dengan kaitkata: , , , , , , , , , | 4 Comments »

Erupsi 1 (Pengertian)

Posted by wahyuancol pada November28, 2008

Erupsi adalah fenomena keluarnya magma dari dalam bumi. Erupsi dapat dibedakan menjadi erupsi letusan (explosive erupstion) dan erupsi non-letusan (non-explosive eruption). Jenis erupsi yang terjadi ditentukan oleh banyak hal seperti kekentalan magma, kandungan gas di dalam magma, pengaruh air tanah, dan kedalaman dapur magma (magma chamber). Kekentalan magma dan kandungan gas di dalam magma ditentukan oleh komposisi kimia magma.

Pada erupsi letusan, proses keluarnya magma disertai tekanan yang sangat kuat sehingga melontarkan material padat yang berasal dari magma maupun tubuh gunungapi ke angkasa.

Pada erupsi non-letusan, magma keluar dalam bentuk lelehan lava atau pancuran lava (lava fountain), gas atau uap air.

Di dalam Bahasa Indonesia, kata erupsi sering diterjemahkan sebagai “letusan”. Sebenarnya, terjemahan itu tidak sepenuhnya tepat. Terjemahan tersebut hanya tepat untuk tipe erupsi letusan.

Salam,

WBS

Tipe-tipe erupsi:

Erupsi 2 (Tipe-tipe erupsi: erupsi celah)

Erupsi 3 (Tipe-tipe erupsi: erupsi aliran)

Posted in E, Volkanisme | Dengan kaitkata: , , , , , , | 20 Comments »