Kepulauan Indonesia

Cerita dari, untuk dan tentang Kepulauan Indonesia beserta Penghuni dan Penduduknya

Posts Tagged ‘Lumpur’

Agats, Kabupaten Asmat, Papua

Posted by wahyuancol pada November20, 2014

Agats

Kota Agats sekarang adalah ibukota dari Kabupaten Asmat, Propinsi Papua. Kota ini terletak di dataran rendah di kawasan pesisir di bagian selatan Pulau Papua (Gambar 1). Secara fisik, kota ini berada di kawasan rawa mangrove berelumpur di tepi sungai Asewets (Gambar 2).

Agats

Gambar 1. Agats di pesisir selatan Pupau Papua. Sumber citra: Tageo.

Agats Lokasi

Gambar 2. Agats. Kenampakan detil kondisi lingkungan fisik tempat kota berada. Sumber Citra: Google Earth.

Lokasi tempat berkembangnya kota ini di tepi sungai di kawasan rawa mangrove membuat kota ini berkembang menjadi kota yang unik di Indonesia. Semua bangunan di kota ini berkaki karena kota ini harus berkembang dengan menyesuaikan diri dengan kondisi lingkungan rawa mangrove (Gambar 3), dan Agats berkembang menjadi waterfront city (Gambar 4).

Agats typical street

Gambar 3. Kota Agats yang berkembang sebagai kota berkaki karena menyesuaikan diri dengan lingkungan rawa. Sumber foto: Henry S, Panoramio.

Agats dari udara

Gambar 4. Kota Agats di tepi sungai dari udara. (Sumber: Lubis, 2010)

Agats dari sungai

Gambar 5. Kota Agats dilihat dari arah sungai. (Sumber: Lubis, 2010)

————————–

Kondisi Agats dan lingkungan tempat kota itu berada mungkin dapat dibandingkan dengan Venesia di Italia. Kota Venesia dikenal sebagai Kota Terapung. Kota itu berkembang di atas rawa-rawa, dan dibangun di atas pondasi kayu yang ditancapkan ke dalam lumpur rawa hingga mencapai batuan yang kuat menahan beban (Gambar 6).

Wooden Foundations of Venice

Gambar 6. Pondasi kayu Kota Venesia. Sumber: Dhwty, 2014.

 

Kota Venesia unik karena kota itu dibangun di suatu lagoon dan dikelilingi oleh tubuh air. Kota itu dibangun dengan menggabungkan lebih dari seratus pulau yang dipisahkan oleh kanal-kanal dan dihubungkan oleh 433 jembatan (Finn et al., 2011, hal. 1).

Kota Venesia dan lingkungan lagoonnya adalah hasil dari proses dinamis yang menggambarkan interaksi antara manusia dan ekosistem alamiahnya (UNESCO World Heritage Centre, tanpa tahun)

Kota Venesia didirikan tahun 421 AD oleh para pengungsi dari kawasan pesisir yang bernama Venesia. Pada mulanya kota itu hanya mencakup sejumlah pulau kecil. Mereka membangun desa-desa di dalam areal lagoon yang berfungsi sebagai barier pelindung yang melindungi mereka dari serangan musuh yang sering terjadi ketikan mereka hidup di daratan utama. Dengan berjalannya waktu, kota berkembang hingga mencakup semua pulau di tengah lagoon, dan secara bertahap digabungkan mendaji satu. Gabungan pulau-pulau itu pertama kali dikelola sebagai satu kesatuan pemerintahan dalam bentuk republik pada tahun 726 AD (Finn et al., 2011, hal. 3).

Ketika Venesia berkembang dari tempat pengungsian temporer menjadi kota permanen, penduduk kota itu menyadari bahwa mereka membangun di atas lahan rawa dengan membuat pondasi kayu yang ditancapkan ke dalam lumpur rawa hingga mencapai endapan lempung keras di dasar lagoon. Sampai sekarang telah jutaan tiang kayu ditancapkan untuk membangun jembatan, kanal dan gedung-gedung. Untuk membangun pondasi bangunan, lapisan-lapisan papan kayu oak diletakkan di atas tiang-tiang pondasi, dan kemudian di atasnya diletakkan bata (brick) dari marmer (Cocks, 2006).

Sampai Abad ke-16, tiang-tiang pondasi ditanam dengan palu yang dipukulkan dengan tangan. Pekerjaan dilakukan di dalam air dan dimulai dengan membangun dinding pelindung. Kemudian air dibuang dan tiang-tiang kayu sepanjang 3-6 meter dengan diameter 20-25 cm ditancapkan. Sebelum ada mesin untuk memukul palu, tiang-tiang ditancapkan  sedalam 2-3 meter, tetapi setelah ada mesin, tiang-tiang ditancapkan lebih dalam lagi. Rata-rata kepadatan tiang adalah 9 tiang per meter persegi, dan bila diperlukan jumlah tiang ditambah (De Miranda et al., tanpa tahun).

Penggunaan kayu untuk mendukung struktur bangunan lebih menguntungkan daripada batu atau logam. Kayu hanya lapuk oleh mikroorganisme. Kayu pondasi di Venesia berada di dalam air dan tidak berhubungan dengan udara, sehingga mikroorganisme tidak dapat berkembang. Dengan demikian pelapukan oleh mikroorganisme tidak terjadi. Sebaliknya, kontak kayu dengan air garam yang terus menerus menyebabkan kayu mengeras karena mengalami petrifikasi. Kayu berubah menjadi keras seperti batu (Dhwty, 2014).

Dengan memberikan uraian tentang Kota Venesia ini saya berharap semoga dalam membangun Kota Agats kita dapat mengambil pelajaran dari perkembangan Kota Venesia.

———————————

Agats adalah kota kecil di pesisir selatan Papua. Letaknya yang jauh dari Ibukota negara dan akses yang sulit untuk mencapai kota itu membuat kota itu tidak menarik perhatian. Tetapi, pada bulan Nopember 1961, mata dunia pernah tertuju ke kota itu, yaitu ketika Michael Clark Rockefeller, anak Gubernur Kota New York, Amerika Serikat, hilang di perairan sekitar Agast. Agats adalah tempat keberangkatannya yang terakhir sebelum hilang. Setelah sebelumnya melakukan perjalanan selama dua bulan di pedalaman, pada pertengahan Nopember rombongannya kembali ke Agats untuk mengisi perbekalan untuk sebulan perjalanan. Pada tanggal 17 Nopember 1961 ia berangkat kembali meninggalkan untuk menuju ke Laut Arafura untuk mengunjungi pesisir selatan. Ketika melintasi muara Sungai Betsj atau Eilanden, perahunya terbalik diterpa gelombang.

Michael Clark Rockefeller (23) berangkat bersama seorang ahli antropologi berkebangsaan Belanda, Dr. ReneW. Wassing (34) dan didampingi oleh dua orang penduduk lokal sebagai asisten melakukan melakukan perjalanan untuk mencari benda-benda seni primitif Asmat dengan mempergunakan perahu penduduk lokal (The Miami News 26 Nov. 1961). Setelah perahu terbalik, dua asisten penduduk lokal berenang ke pantai untuk mencari bantuan. Setelah hampir seharian terapung dengan berpegangan pada perahu yang terbalik dan tanpa pertolongan, pada tanggal 19 Nopember 1961 karena khawatir hanyut ke laut lepas Michael berenang ke darat dengan bantuan dua drum minyak kosong sebagai pelampung yang diikatkan ke pinggangnya (Smithsonian Magazine March 2014). Michael tenggelam dalam upayanya berenang ke darat. Dr. Wassing berhasil diselamatkan tanggal 20 Nopember 1961. Pencarian terhadap Michael dilakukan dari darat, laut dan udara. Di darat pencarian dilakukan dengan bantuan 5000 orang penduduk setempat yang menyisir seluruh kawasan rawa mangrove di kawasan itu. Upah diberikan untuk penduduk lokal dalam bentuk tembakau (Chicago Tribune 26 Nov. 1961).

Siapa Michael C. Rockefeller? Ia adalah anak dari laki-laki termuda dari Nelson Aldrich dan Mary Todhunter Clark Rockefeller. Neneknya, Abby Aldrich Rockefeller, adalah pendiri the Museum of Modern Art (Museum Seni Moderen), dan ayahnya mendirikan the Museum of Primitive Art (Museum Seni Primitif), dan kedua museum itu sekarang menjadi bagian dari the Metropolitan Museum of Art (Museum Seni Metropolitan) di Kota New York, Amerika Serikat. Michael adalah seorang sarjana lulusan Universitas Hardvard. Ia melakukan perjalanan ke Papua (New Guinea) mempelajari kehidupan Suku Ndani di Lembah Baliem dan budaya Asmat di pesisir selatan Papua (Sumber: Fredonia University).

Hilangnya Michael C. Rockefeller di perairan selatan Papua memunculkan berbagai spekulasi, seperti: (1) Dia ditangkap dan ditahan sebagai tawanan, (2) Dia bergabung dengan penduduk asli dan bersembunyi di dalam hutan, (3) Dia tewas dimakan ikan hiu, dan (4) Dia mencapai pantai, kemudian dibunuh dan dimakan oleh penduduk asli Asmat. Kisahnya berkembang menjadi bersifat mistis. Kisahnya dimainkan di panggung sandiwara Broardway, ditulis sebagai novel, lirik musik rock, dan bahkan acara televisi (television show) tahun 1980 (Sumber:Smithsonian Magazine edisi Maret 2014).

Dr. Rene Wassing kembali ke Belanda dan menjadi kurator Museum voor Volkenkunde (Ethnographic Museum, Museum Etnografi) di Rotterdam yang sekarang dikenal sebagai the Wereld (World) Museum. Dr. Wassing lahir di Palembang. Sampai sekarang, di masa tuanya, dia masih memandang dirinya sebagai anak daerah tropis (Sumber: Papua Heritage Foundation).

Bacaan:

Lubis, B.U., 2010. Agats: the waterfront city of the Asmat. Nakhara 6: 75-82.

Finn, O., Ouellette, J., Hutchinson, K. and Muller, R., 2011. The Building Block of Venice. Worcester Polytechnic Institute. (http://www.wpi.edu/Pubs/E-project/Available/E-project-121611-063819/unrestricted/Final_Report_B11_Maint_2.6.pdf). Akses 20 Nopember 2014.

UNESCO World Heritage Centre, tanpa tahun. Venice and Its Lagoon. (http://whc.unesco.org/en/list/394). Akses 21 Nopember 2014.

Cocks, A.S., 2006. The Science of Saving Venice. WMF.org. (http://www.wmf.org/sites/default/files/wmf_article/pg_23-29_venice_c.pdf). Akses 20 Nopember 2014.

De Miranda, M., Barbisan, U., Pogacnik, M. and Skansi, L., (tanpa tahun). Bridges in Venice – Architectural and Structural engineering aspects. (http://www.iuav.it/Ricerca1/ATTIVITA-/aree-temat/costruttiv/arte-del-c/materiali/iabse/iabse-scalzi.pdf). Akses 20 Nopember 2014.

Dhtwy, 2014. The Construction of Venice, the Floating City. Ancient Origin. (http://www.ancient-origins.net/ancient-places-europe/construction-venice-floating-city-001750). Akses 20 Nopember 2014.

 

(under construction)

 

Iklan

Posted in Kota Kecil, Mengenal Indonesia | Dengan kaitkata: , , , , , , , , , , | Leave a Comment »

Menghentikan Semburan Lumpur Sidoarjo dengan Bola-bola Beton: bisakah?

Posted by wahyuancol pada Maret4, 2007

Berkaitan dengan upaya penanggulangan semburan lumpur Sidoarjo, mari kita simak kutipan berita Kompas Cyber Media hari ini Minggu 4 Maret 2007 di bawah ini:

Terkait dengan penanggulangan lumpur panas, kemarin sebanyak 33 rangkaian bola beton dimasukkan ke dalam pusat semburan. Rangkaian bola beton yang masuk ke pusat semburan ini terbanyak dibandingkan hari-hari sebelumnya. Dengan masuknya 33 rangkaian bola beton, berarti sudah 78 rangkaian bola beton telah masuk ke dalam pusat semburan.

Alat detektor tekanan yang dimasukkan ke pusat semburan, Kamis lalu, telah keluar. Dengan keluarnya alat detektor ini, berarti kedalaman lubang semburan itu mencapai 300 meter.

Selain dengan alat detektor, anggota Tim Supervisi dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Institut Teknologi Bandung Satriya Bijaksana mengatakan, tim mencoba menalikan benang ukur ke salah satu rangkaian bola beton untuk mengetahui kedalaman semburan lumpur. “Ternyata sampai benang habis, yakni sekitar 1.000 meter, bola beton itu terus masuk ke dalam lubang. Berarti bisa diartikan bola beton masuk sampai lebih dari kedalaman 1.000 meter,” ujar Satriya. (APA)

*************

Saya membayangkan, bila lubang saluran semburan lumpur jauh melebihi besarnya diamater bola-bola beton itu, maka bola-bola beton yang berat itu dapat jatuh bebas sampai ke dasar “kantong” lumpur. (Karena bola-bola itu dirancang agar tidak dapat disemburkan keluar oleh daya dorong semburan lumpur) — ini berarti bola-bola beton tidak dapat menghambat semburan lumpur.

(Pada awal kejadian, mungkin lubang saluran semburan lumpur kecil, sebesar lubang bor. Tetapi setelah dilalui oleh sumpur bertekanan sedemikian banyak, maka sangat mungkin terjadi penggerusan dinding saluran sehingga saluran membesar).

Kemudian, bila “kantong” lumpur yang ada jauh di dalam bumi ternyata memiliki ruang yang sangat luas untuk dapat menampung bola-bola beton yang jatuh itu, maka bola-bola beton itu akan tersebar di dasar “kantong” lumpur. Benar bahwa bola-bola beton itu diikat satu sama lain dengan tali, tetapi ikatannya berbentuk rentengan dan tali antara bola satu dengan berikutnya cukup panjang (ini seperti kita memasukkan kelereng ke dalam sumur) — ini juga berarti lumpur akan tetap bebas untuk disemburkan ke permukaan.

(Lumpur dan air yang disembukan sedemikian banyak dan sampai sekaran belum ada indikasi akan berhenti, keadaan itu membayangkan adanya suatu ruang yang sangat besar yang membuat bola-bola beton yang masuk ke dalamnya menjadi tidak berarti)

Pertanyaan selanjutnya, bila apa yang saya bayangkan itu benar, maka berapa banyak bola beton yang harus kita masukkan ke dalam bumi agar dapat menghentikan semburan lumpur?

Salam dari Ancol, 4 Febuari 2007

Wahyu

Posted in Semburan Lumpur | Dengan kaitkata: , , , | Leave a Comment »

Menanti Perundingan Lumpur Sidoarjo

Posted by wahyuancol pada Februari26, 2007

Setelah pemblokiran jalan tol dan rel kereta api dibubarkan polisi, pada Sabtu 24 Febuari 2006 sore dikabarkan oleh SuaraSurabaya.net bahwa warga Perum TAS I akan berunding membahas bantuan dari Lembaga bantuan Hukum (LBH) Surabaya yang menyatakan bersedia akan melakukan pendampingan terhadap korban luapan lumpur Lapindo warga TAS untuk upaya litigasi. AGUSTINUS diantara tim perunding warga korban lumpur mengatakan, tawaran LBH sementara ini akan dibicarakan malam ini di penampungan Pasar Baru Porong. Selain membicarakan tawaran LBH nantinya dalam perundingan ini akan membahas persiapan-persiapan menjelang rencana perwakilan yang akan ditemui JUSSUF KALLA Wakil Presiden (Wapres) di Surabaya. Menurut rencana, Senin (26/02) lusa (hari ini), Wapres akan menemui perwakilan warga untuk membicarakan tuntutan cash and carry. Jika Senin lusa pemerintah yang diwakili Wapres tidak bisa memberikan kepastian tentang ganti rugi cash and carry, bisa saja warga akan melakukan blokade yang sama seperti sebelumnya. Rencananya yang akan diblokade jalan menuju Bandara Internasional Juanda. Demikian berita dari ssnet, 24 Februari 2007, 18:47:48.

Sebenarnya, yang dituntut warga adalah ganti rugi (ganti atas kerugian yang diderita). Sederhana. Tetapi persoalan menjadi rumit karena siapa yang harus membayarkan ganti rugi itu. PT Lapindo Brantas tidak mencantumkan Perumahan Tanggulangin Anggun Sejahtera (Perumtas) dalam daftar wilayah yang mendapatkan ganti rugi, walaupun perumahan itu juga tenggelam dalam Lumpur. Manajer Sumber Daya Manusia PT Lapindo Sebastian Ja’afar saat dialog dengan 16 perwakilan Perumtas mengatakan, Pedoman soal ganti rugi hanya pada peta yang dikirimkan Timnas (tim nasional penganggulangan lumpur Lapindo) pada 4 Desember lalu. Pada peta itu, desa-desa yang mendapat ganti rugi adalah Jatirejo, Siring, Renokenongo dan Kedungbendo (non perum TAS). Juru Bicara Warga Perumtas Yohanes Imam Sumadi mengatakan, “Sejak pipa meledak Perumtas mulai terkena lumpur, jadi peta yang dibuat timnas sebenarnya tidak sesuai,” kata Juru Bicara Warga Perumtas Yohanes Imam Sumadi.

Sementara Lapindo tetap berpegang pada hasil kesepakatan sebelumnya, dan warga tetap pada tuntutannya karena kenyataannya memang mereka tergenang lumpur, ternyata Pemerintah tidak mengambil tindakan apapun. Karena itu bisa dimengerti bila warga Perum TAS merasa terombang-ambing tanpa kepastian nasib., dan kemudian mereka memakai bahasa yang lebih keras untuk menyuarakan tuntutan mereka. Itulah yang kemudian mencetuskan kegiatan pemblokiran jalan tol dan rel kereta api beberapa hari yang lalu.

Secara hukum, Lapindo tidak dapat disalahkan, karena mereka telah memenuhi kesepakatan. Namun, kenyataan di lapangan, Perum TAS tergenang lumpur dan warganya sekarang tinggal di pengungsian. Melihat desa-desa lain mendapat ganti rugi, maka wajar bila warga Perum TAS juga menuntut ganti rugi. Seharusnya, menghadapi situasi ini pemerintah turun tangan.

Pembuatan peta kawasan yang akan mendapat ganti rugi, yang disepakati pada tanggal 4 Desember 2006, sangat tergesa-gesa, dan belum memperhitungkan kondisi semburan lumpur yang belum dapat dipastikan kapan berhentinya. Itu suatu keteledoran. Seharusnya keteledoran itu menjadi tanggungjawab pemerintah, karena pemerintah melalui Timnas yang menyodorkan peta itu kepada Lapindo untuk disepakati.

Di waktu-waktu yang akan datang. Bila upaya menghentikan atau mengurangi semburan lumpur dengan bola-bola benton gagal. Sangat mungkin bila kawasan genangan lumpur akan makin meluas melampaui luas kawasan genangan yang sekarang. Seharusnya, kemungkinan ini diperhitungkan dalam menetapkan kawasan yang mendapat ganti rugi atau dalam menentukan tindakan lain terkait dengan upaya penanganan semburan Lumpur Sidoarjo.

Salam dari Ancol, 26 Febuari 2007
Wahyu

Posted in Semburan Lumpur | Dengan kaitkata: , , , , , , | Leave a Comment »