Kepulauan Indonesia

Cerita dari, untuk dan tentang Kepulauan Indonesia beserta Penghuni dan Penduduknya

Posts Tagged ‘Merapi’

Mengapa Bertahan Tinggal di Daerah Rawan Bencana? 2 (Kabar dari Lereng Merapi)

Posted by wahyuancol pada November10, 2010

Gunung Merapi melontarkan awan panas. Ribuah orang mengungsi. Lebih seratus orang tewas. Banyak ternak yang mati dan kebun yang rusak.

Meskipun demikian, ternyata masih ada saja orang yang bertahan tinggal di rumahnya meskipun berada di dalam zona bahaya seakan tanpa kenal takut.

Mengapa demikian:

  1. Demi ayam (Warjo, 48; dan Sukiyem,45, istrinya). Ayam-ayam itu adalah harapan ke depan untuk keluarga Warjo. Pasalnya, kebun sayur miliknya gagal panen setelah tertutup abu vulkanik. (http://regional.kompas.com/read/2010/11/10/19161694/Demi.Ayam..Warjo.Bertahan.di.Radius.4.Km-5 ).
  2. Demi sapi (Arjo Wiroyo Surabi, 70; dan istrinya Suwarni, 65. http://regional.kompas.com/read/2010/11/09/17072425/Demi.Lima.Sapi..Sumarwi.Tak.Mau.Ngungsi)
  3. (Kami) di kaki Gunung Merbabu dan jauh dari (aliran) sungai (dari Merapi) (Warga Dusun Wonolelo, Sawangan, Magelang) (http://regional.kompas.com/read/2010/11/10/21180420/Satu.Dusun.Masih.Bertahan-5)

Apa Arti Sapi?

Ibarat tabungan deposito atau emas 24 karat, sapi merupakan aset berharga bagi sebagian besar warga Kabupaten Boyolali yang tinggal di lereng Gunung Merapi. Saat Merapi meletus, sapi-sapi itu yang kemudian menjadi sandaran terakhir bagi kehidupan mereka.

Hal inilah yang dirasakan warga Desa Samiran, Kecamatan Selo, Boyolali, yang harus mengungsi saat Gunung Merapi meletus, 26 Oktober, 3 November, dan 6 November.

”Saat ini, sapi ini yang menjadi satu-satunya sandaran hidup kami,” ujar Suladi (32), dengan tatapan kosong. Dengan wajah lelah, Ketua RT 1 RW 1 Desa Samiran, ini sedang menunggui sapi-sapinya yang diungsikan ke kompleks Pasar Hewan Singkil, Sunggingan.

Setelah menyelamatkan diri dan keluarga ke lokasi pengungsian pada Selasa (2/11), Suladi mengaku tidak tenang sebelum memindahkan ternak, karena lahan perkebunan sudah tak mungkin diharapkan. Dengan sisa tabungan, Suladi dan sekitar 64 warga satu RT-nya bahu-membahu mengungsikan 80 ekor sapi pada Minggu (7/11) lalu ke pasar hewan ini.

Begitu diungsikan ke kandang, sapi-sapi ini mereka jaga bergantian siang-malam tanpa henti. ”Kami khawatir kalau hilang. Lagipula dengan dijaga begini, kan jadi tahu kalau tiba-tiba ada sapi yang sakit,” kata Suladi yang punya dua ekor sapi.

(http://regional.kompas.com/read/2010/11/11/05012662/Tinggal.Sapi.yang.Jadi.Sandaran.Hidup.Kami…)

Semoga bermanfaat.

Salam,

WBS

Iklan

Posted in HUMANIORA | Dengan kaitkata: , , , , , | Leave a Comment »

Erupsi Merapi 2010 3 (Siklus erupsi Merapi 10 hari?)

Posted by wahyuancol pada November9, 2010

Mekanisme Erupsi

Erupsi gunungapi adalah proses keluarnya magma dari dalam bumi. Ketika magma bergerak naik, banyak gas dilepaskan, dan tekanan gas itulah yang menimbulkan semburan material volkanik.

Gas yang dilepaskan oleh magma yang naik itu tidak serta merta bisa keluar. Adanya material volkanik di kawah mencegah gas yang lepas dari magma untuk bisa segera keluar. Agar gas dapat keluar, diperlukan adanya tekanan yang cukup. Bila tekanan gas sudah mencapai tahap cukup kuat untuk mendobrak sumbat yang ada di kawah, maka gas akan keluar dengan tekanan yang tinggi. Proses keluanya gas itu kadang disertai dentuman, sehingga kita kadang kita dapat mendengar suara dentuman bersamaan dengan terjadinya semburan material volkanik.

Proses meningkatnya tekanan  gas itu membuthkan waktu. Jebolnya sumbat kawah oleh tekanan gas tergantung oleh laju produksi gas dari magma yang meningkatkan tekanan gas, dan kekuatan sumbat kawah menahan tekanan gas. Makin kuat sumbat kawah, maka makin besar kemungkinan terjadinya erupsi letusan yang kuat.

Siklus Erupsi

Dalam periode erupsi Gunung Merapi di akhir tahun 2010 ini, erupsi pertama yang kuat terjadi pada tanggal 26 Oktober 2010. Setelah itu kondisi mereda dan hanya ada erupsi yang kecil-kecil. Kemudian terjadi lagi erupsi yang kuat, bahkan lebih kuat, pada tanggal 5 Nopember 2010. Setelah itu, keadaan kembali relatif mereda sampai hari ini. Hanya ada beberapa erupsi yang kecil.

Pertanyaannya adalah: “Apakah itu menandakan erupsi Merapi sudah mulai mereda?”.

Pertanyaan ini belum dapat dijawab secara langsung. Kita perlu memperhatikan kemungkinan siklus erupsi Gunung Merapi.

Dari data yang ada, antara erupsi pertama tanggal 26 Oktober 2010 sampai 5 Nopember 2010 berjarak sekitar 9 hari. Di hari ke sepuluh erupsi terjadi. Apabila kita berasumsi bahwa waktu yang diperlukan untuk satu periode erupsi (waktu untuk mengumpulkan tekanan gas) adalah 10 hari, maka kita bisa memperhitungkan bahwa erupsi selanjutnya akan terjadi nanti di sekitar tanggal 15 Nopember 2010.

Bila nanti pada tanggal 15 Oktober 2010 terjadi erupsi, maka berarti erupsi Merapi masih terus perlanjut, Merapi belum memasuki periode penurunan intensitas erupsi.

Sebaliknya, bila nanti pada tanggal 15 Oktober 2010 tidak terjadi erupsi, maka kita bisa berharap bahwa Merapi sudah mulai memasuki periode penurunan intensitas erupsi.

Prediksi ini hanya prediksi berdasarkan perhitungan matematis sederhana. Harapannya adalah prediksi dapat memberikan gambaran sederhana tentang perkembangan kondisi erupsi Merapi.

Kita tentu berharap bahwa erupsi Merapi sudah memasuki periode penurunan intensitas erupsi.

Salam,

WBS

Posted in PROSES (BENCANA) ALAM, Volkanisme | Dengan kaitkata: , , , , , , , | Leave a Comment »

Erupsi Merapi 2010 2 (Waspadai Aliran Lahar Liar dari Kali Gendol)

Posted by wahyuancol pada November6, 2010

Saluran Kali Gendol Penuh

Dari Kompas.com sore ini, Sabtu 6 Nopember 2010, saya membaca berita (disertai foto lapangan) tentang penuhnya saluran aliran Kali Gendol di Dusun Bonggang, Desa Argomulyo, Kecamatan Cangkringan, Sleman, Yogyakarta.

Di bawah ini adalah kutipan berita tersebut.

——————————————

Hulu Sungai Gendol di wilayah atas Cangkringan, Sleman, yang berjarak sekitar 5 km dari puncak Merapi, berubah menjadi gunungan setelah tertimbun material vulkanik yang dimuntahkan Merapi pada Kamis (4/11/2010) malam.

“Sebelum terimbun, sungai ini lebar dan dalam, kira-kira sedalam 30 meter. Seperti jurang kalau dilihat dari tepi sungai,” kata Suwarjo (42), penduduk setempat, yang meninggalkan lokasi pengungsian untuk menengok rumahnya.

Ketika Antara mendatangi lokasi pada Sabtu (6/11/2010) siang dan menyaksikan hulu sungai itu dari jarak 5 meter, Suwarjo berteriak untuk memperingatkan bahwa material itu masih mengandung bara.

Bagi orang luar, bukan penduduk Cangkringan, fenomena sungai Gendol itu mencengangkan. Tak ada tanda-tanda sama sekali bahwa di bawah ribuan ton lahar itu ada sebuah sungai sedalam jurang. Aroma belerang yang menyengat tercium di kawasan berbahaya ini.

Sumber:

http://regional.kompas.com/read/2010/11/06/17181462/Aneh.Bin.Ajaib..Padi.Tak.Tersentuh.Lahar-5

———————————–

Aliran Lahar Liar

Penuhnya alur Kali Gendol tersebut membuat alur aliran sungai tersebut kehilangan kemampuan untuk membatasi atau mengendalikan arah aliran lahar bila terjadi aliran lahar datang dari hulu sungai tersebut. Keadaan tersebut sangat berbahaya, karena bila benar-benar terjadi aliran lahar, maka aliran lahar yang melewati lokasi yang penuh itu dapat menjadi liar tak terarah karena kehilangan salurannya. Aliran lahar (bila terjadi) dapat mengalir ke mana-mana atau meluber ke mana-mana.

Penutup

Aliran Kali Gendol agar diwaspadai. Perhatikan juga fenomena yang sama di sungai-sungai yang lain.

Salam,

WBS

Artikel terkait: Lahar

Posted in Banjir, PROSES (BENCANA) ALAM, Volkanisme | Dengan kaitkata: , , , , | 3 Comments »

Erupsi Merapi 2010 1 (Erupsi Paroksismal)

Posted by wahyuancol pada November5, 2010

Erupsi Proksismal

Erupsi Gunung Merapi yang terletak di perbatasan Propinsi Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta itu di akhir Oktober dan awal Nopember tahun 2010 ini ternyata berbeda sekali dari karakter erupsinya di tahun 2006. Erupsi sekarang yang keluar dari ujung lubang kepundannya,  episodik dan terus meningkat intensitasnya, serta semburan kolom debu volkanik yang menjulang tinggi ke angkasa menunjukkan bahwa erupsi Merapi tahun ini merupakan erupsi tipe paroksismal (paroxysmal erupsion).

Meningkatnya intensitas erupsi Merapi ini dapat dilihat dari makin jauhnya jangkauan luncuran awan panas, dan makin tingginya kolom erupsi.

Erupsi paroksismal ini bisa terjadi oleh dua macam sebab: pertama, karena tibanya magma baru yang kaya akan gas dari dalam bumi, dan ke-dua karena pertumbuhan kubah di puncak pada ketinggian tertentu.

Skenario Erupsi Merapi

Kita tidak tahu sampai kapan drama erupsi Merapi kali ini akan berakhir, karena kita tidak tahu bagaimana sesungguhnya aktifitas magma yang ada di dalam bumi di bawah Merapi. Harapan kita, erupsi itu segera berakhir setelah erupsinya yang tertinggi di hari Kami 4 Nopember 2010.

Dengan kecenderungan erupsi yang terus meningkat intensitasnya ini, yang dikawatirkan adalah erupsi paroksismal itu akan berlanjut dengan eruspi paroksismal yang diiringi dengan letusan (explosif blow) yang dapat menghancurkan sebagian puncak Merapi, yang kemudian dapat diikuti dengan runtuhnya sebagian tubuh gunungapi itu ke dalam dapur magma, membentuk kaldera.

Atau, bila erupsi seperti yang berlangsung sekarang berkelanjutan, maka dapur magma dangkal akan kosong dan akan terjadi collapse sebagian tubuh Merapi membentuk kaldera.

Kekhawatiran tersebut muncul setelah penulis mempelajari kembali sejarah erupsi Gunung Krakatau tahun 1883.

Salam,

WBS

Posted in PROSES (BENCANA) ALAM, Volkanisme | Dengan kaitkata: , , , , , , | Leave a Comment »

Volkanisme 2 (Erupsi Gunungapi: proses geologi berdampak global)

Posted by wahyuancol pada November2, 2010

Sejak akhir bulan yang lalu, bulan Oktober 2010, sampai sekarang di awal Nopember 2010, kepada kita masih disuguhkan drama erupsi Gunung Merapi yang terletak di perbatasan Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Semburan awan panas gunungapi tersebut memberikan dampak langsung bagi lingkungan di lereng gunung itu dan penghuninya, berupa kematian manusia dan ternak, kerusakan lingkungan dalam bentuk kerusakan tumbuhan yang terbakar maupun karena tertutup debu, kerusakan fisik bangunan dan berbagai infrasuktur. Banyak penduduk menjadi pengungsi dan mereka kehilangan sumber penghidupan mereka beruka kerusakan kebung dan ladang serta kematian ternak peliharaan.

Dampak erupsi Gunung Merapi itu juga dirasakan ke beberapa daerah lain yang jauh, yaitu antara lain sampai ke Kebumen dan Pangandaran, dalam bentuk hujan abu. Dalam bentuk yang lain, erupsi Gunung Merapi ini juga dirasakan oleh masyarakat yang lebih luas, yaitu dalam bentuk penundaan atau pembatalan penerbangan dari atau ke Yogyakarta dan Solo.

Beberapa bulan yang lalu di bulan April 2010, kita disuguhkan berita tentang banyaknya orang terlantar di berbagai bandara di berbagai negara sebagai akibat dari erupsi gunungapi di Eslandia, sebuah pulau kecil di tengah Samudera Atlantik. Erupsi Gunung Eyjafjallajokull di pulau yang terletak di Pematang Tengah Samudera itu melontar debu ke atmosfer yang oleh angin kemudian diterbangkan ke Benua Eropa. Debu itu menyebabkan pesawat terbang tidak berani beroperasi dan banyak bandara ditutup di Eropa, dan penerbangan di Amerika Utara dan Selatan, Asia-Pasifik, dan Afrika terganggu. Itulah dampak yang paling cepat dari erupsi gunungapi di masa moderen sekarang yang dirasakan secara hampir di seluruh bagian belahan Bumi.

Selain melontarkan debu yang dapat menimbulkan dampak yang terasa secara global, erupsi letusan gunung tersebut juga menyebabkan melelehnya gletser di sekitar kawah dan menyebabkan meluapnya sungai di dekat gletser tersebut.

Peristiwa tersebut mengingatkan kita bahwa erupsi gunungapi adalah satu-satunya fenomena alam yang bisa menunculkan dampak yang terasa secara global. Di Bumi memang terdapat berbagai proses alam (geologi) yang lain yang dapat merubah kondisi lingkungan, tetapi hanya volkanisme yang dapat memberikan dampak secara global. Dalam kurun waktu sejarah (historical time), di Indonesia tercatat erupsi Gunung Krakatau tahun 1883 dan Tambora tahun 1815 serta Krakatau Purba tahun 535 AD (Masehi) yang memberikan dampak global. Sedang dalam kurun waktu sejarah geologi, sekitar 74.000 tahun yang lalu, tercatat letusan gunungapi purba yang menghasilkan danau Toba.

Dalam sejarah geologi, tercatat beberapa periode kepunahan massal, dan banyak ahli yang percaya bahwa volcanism adalah penyebab kematian massal tersebut.

Salam,

WBS

Volkanisme 1 (Volkanisme: pengertian dan fenomena)

Volkanisme 3 (Volkanisme: hakekat, kerugian dan manfaat)

Posted in PROSES (BENCANA) ALAM, Volkanisme | Dengan kaitkata: , , , , , , | Leave a Comment »