Kepulauan Indonesia

Cerita dari, untuk dan tentang Kepulauan Indonesia beserta Penghuni dan Penduduknya

Archive for the ‘Manusia’ Category

Kisah Dari Lereng Merapi 2 (Bunuh Diri: Haruskah ini terjadi?)

Posted by wahyuancol pada November8, 2010

Kisah ini terjadi di lokasi pengungsian pada hari Minggu 7 Nopember 2010 ketika Gunung Merapi sedang aktif bererupsi.

Kisah ini tentang rakyat kecil yang kehilangan harapan akan masa depan hidupnya setelah sapi-sapi miliknya mati semuanya terkena awan panas dari Gunung Merapi.

Di tengah-tengah kondisi yang kalau balau itu Pemerintah mengeluarkan janji akan membeli semua sapi milik masyarakat lereng Merapi yang mati kena awan panas. Tetapi, apakah berita itu dapat dipercaya? Bagi sebagian masyarakat yang mengungsi itu mungkin kabar itu meragukan.

Oleh karena itu, mungkin, peristiwa tragis di bawah ini terjadi.

Inilah kisah itu

———————————-

Seorang pengungsi bencana letusan Gunung Merapi di Stadion Maguwoharjo, Sokiran (46) warga Dusun Manggong, Desa Kepuharjo, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman, Minggu (7/11/2010) nekat bunuh diri dengan menceburkan diri ke selokan yang ada di sisi barat stadion.

“Korban ini kemungkinan stres sejak mengungsi di Stadion Maguwoharjo,” kata Kepala Desa Kepuharjo, Cangkringan Heri Suprapto. Menurut dia, korban diduga stres karena teringat akan ternaknya yang mati semua akibat terjangan lahar panas Gunung Merapi pada Jumat lalu. “Korban sudah menunjukkan gejala stres sejak tiga hari lalu, sesaat setelah tiba di Stadion Maguwoharjo, korban selalu bilang ingin pulang dan juga ingin mati saja,” katanya.

Ia mengatakan, dirinya bersama dengan para pengungsi dari Kepuharjo sudah berusaha menenangkannya dan membujukknya agar tidak melakukan perbuatan nekat tersebut.
“Namun tadi rupanya kami sedikit lengah, saat korban pamit untuk mandi ternyata dimanfaatkan untuk bunuh diri dengan mencebur di dalam selokan yang dan langsung terseret hingga puluhan meter dan tewas,” katanya.

Heri mengatakan, selama ini Sokiran mengandalkan hidup keluarganya dari ternak sapi perah miliknya.”Korban kehilangan empat sapi yang mati akibat terkena lahar panas, kami sudah berupaya membujuk dan memberitahu bahwa sapi-sapinya yang mati akan diganti pemerintah, namun rupanyan ia tidak mudah untuk menerima musibah ini dan memilih mengambil jalan pintas,” katanya.

Ia mengatakan, atas kejadian tersebut dirinya saat ini terus berupaya mendampingi para pengungsi dari Desa Kepuharjo agar mereka tidak stres dan bisa menerima musibah ini.
“Kami terus memberikan keyakinan kepada warga yang mengungsi bahwa ini adalah ujian dari Tuhan dan semua harus tabah dalam menghadapinya, kami tidak ingin warga terlalu larut dalam keputusasaan,” katanya.

Sumber:

http://regional.kompas.com/read/2010/11/08/04493431/Astaga..Satu.Pengungsi.Nekad.Bunuh.Diri-5

————————–

Setelah membaca cerita di atas mungkin pantas bila kita bertanya:

“Apakah sudah sedemikian rendah tingkat kepercayaan sebagian masyarakat kepada Pemerintah?” atau,

“Apakah keputus asaan itu terjadi karena janji itu terlalu terlambat realisasinya sehingga menimbulkan keraguan yang menyebabkan putus asa?”

Semoga bermanfaat.

Salam,

WBS

 

 

Iklan

Posted in Ah... Indonesia ku, FILSAFAT, HUMANIORA, Kualitas Bangsa, Manusia | Dengan kaitkata: , , , , , , | Leave a Comment »

Kisah Dari Lereng Merapi 1 (“Sayang Nyawa atau Sapi?”, “Tapi….!?, Apakah Pemerintah Dapat Dipercaya?”)

Posted by wahyuancol pada November6, 2010

Kisah ini terjadi di lereng Gunung Merapi yang sedang aktif bererupsi pada Sabtu 6 Nopember 2010.

Kisah ini tentang rakyat kecil yang berjuang mempertahankan masa depannya di tengah-tengah kacau balaunya kehidupan masyarakat karena erupsi lutusan Gunung Merapi.

Di tengah-tengah kondisi yang kalau balau itu Pemerintah mengeluarkan janji akan membeli semua sapi milik masyarakat lereng Merapi yang mati kena awan panas. Namun, sebagian masyarakat pengungsi itu janji tersebut diragukan.

Oleh karena itulah ia berjuang melawan panasnya debu Merapi demi masa depannya yang masih diharapkannya dari dua ekor sapinya yang telah dua hari tidak diberinya makan karena ditinggal mengungsi menghindar dari sergapan awan panas.

Inilah kisah itu.

—————————-

Demi memberi makan ternaknya yang ditinggal di rumah, beberapa warga Merapi rela mengadu nyawa dengan kembali ke daerah rawan. Padahal tindakan tersebut sangat berbahaya, mengingat beberapa desa di lereng Merapi masih diselimuti awan panas dan pasir membara yang telah merenggut puluhan jiwa.

Namun ada saja warga yang masih nekad dengan menerobos barisan polisi dan relawan yang memblokade jalan Kaliurang KM 24, dekat Universitas Islam Indonesia (UII).

Lepas barikade pertama, 50 meter kemudian laju motor yang dikendarai Suparman dengan setumpuk rumput di jok belakangnya kembali dihentikan dua orang anggota polisi lalu lintas. Kali ini, Suparman (26) tidak bisa lagi lolos.

Jenengan sayang nyowo opo sayang sapi. Nek sayang nyowo balik lagi aja, sapi mati bisa diganti, nek nyowo sopo sing ganti (Anda sayang nyawa atau sayang sapi. Kalau sayang nyowo silahkan balik, sapi mati bisa diganti, kalau nyawa siapa yang mau ganti),” tegur polisi lalu lintas lengkap dengan jaket skotlight dan masker penutup kepada Suparman di Jl Kaliurang KM 14, Sleman, Yogyakarta, Sabtu (6/11/2010).

Suparman berencana pulang ke desanya untuk memberi makan dua ekor sapinya. Lelaki bertubuh kecil ini merupakan warga dusun Watuadek, Desa Wukirsari, Cangkringan, Sleman.

Sapi kulo rong dino rung mangan Mas, mesakne Mas (Sapi saya dua hari belum makan, kasihan Mas),” ujar Suparman yang mencoba mengadukan nasibnya kepada beberapa wartawan dan anggota SAR yang berada di lokasi.

Anggota SAR yang ada di lokasi pun berusaha menjelaskan kondisi dusun yang akan didatangi Suparman. Wukirsari, tempat Suparman tinggal masih dalam kondisi berbahaya.

“Masih bahaya Mas, jangan ke sana dulu. Yang dibilang pak polisi betul, saya baru dari sana dan masih panas banget,” ujar salah seorang anggota SAR kepada Suparman.

Kecuali kulitmu baja, kados Gatotkoco nopo Superman, monggo. Nek jenengan cuma wong biasa mending ngandap mawon malih (Kecuali kulitmu baja seperti Gatotkaca atau Superman silahkan. Kalau cuma manusia biasa mending turun ke bawah lagi),” tambahnya.

Suparman sendiri mengaku sudah tidak tahu malu saat dirinya terpaksa meminjam sebilah arit untuk membabat rumput yang banyak tersedia di sekitar Stadion Maguwoharjo tempat keluarga mengungsi. Rumput dan ilalang yang kini menyesaki motor seyogyanya akan diberikan kepada kepada dua ekor sapi peliharaannya yang ditinggalkan di rumah.

Duh wis isin, malah ra isoh munggah. Trus nggo opo iki (Sudah malu tapi ternyata tidak bisa naik. Buat apa rumput ini),” keluh Parman.

Sebenarnya Parman sudah mendengar adanya ganti rugi yang diberikan Pemkab Sleman untuk ternak yang mati akibat meletusnya Merapi. Tapi Parman sendiri tak yakin bila hal tersebut akan ditepati, terpaksa ia pun mengadu nyawa dengan memberikan pakan untuk dua ekor sapinya.

Seringe ndobos mas, nek ndobos kan kulo sing rugi (Seringnya bohong mas, kalau bohong kan saya yang rugi),” ujarnya polos.

Namun Parman pun segera diberi jaminan oleh beberapa warga sekitar yang merasa iba dengan bapak satu putra ini. “Nek ndobos, iki akeh wartawan, lapor no. Engko ditulis, diberitakne gede-gede, pasti diganti sapimu (Kalau bohong, disini banyak wartawan, laporkan. Biar diberitakan besar-besaran, pasti diganti sapimu),” ujar warga sekitar
yang mencoba menasehati Parman.

Banyak orang yang memberi nasihat, membuat Parman luluh. Setumpuk rumput yang telah diikat itupun akhirnya terpaksa ia bawa kembali ke tempat pengungsian.

Nggih kulo mandap mawon, monggo sedoyonipun (Iya saya turun saja. Permisi semuanya),” ujarnya sambil meninggalkan lokasi menuju pengungsiannya di Stadion Maguwoharjo.(her/nvc)

Sumber:

http://www.detiknews.com/read/2010/11/06/134224/1488191/10/jenengan-sayang-nyawa-apa-sayang-sapi

—————————–

Berikut ini adalah komentar pembaca tentang berita itu

“Ini bukan masalah demi nyawa rela berkorban untuk sapinya, tapi dibenak orang desa yg lugu seperti ini sudah tertanam kalau pemerintah itu biasanya sering mengumbar janji manis, baik saat pilkada maupun pemilu. jadi rakyat kecil seperti Suparman ini punya pemikiran yang sederhana saja sudah susah payah mencari rejeki terus hilang begitu saja.”

“Andai para pemimpin kita amanah, tak mungkin bpk ini akan memberi makan sapinya krn pasti percaya akan penggantian hewan.”

“Buat yg komennya jahat, pada ngatain pak suparman, kalian semua belum tau rasanya jadi orang miskin apa? kenapa c ga bisa melihat masalah dari banyak sisi? kalian berkata seolah-olah kalian tau segalanya, tapi kalian ga tau apa2. kalian semua ga punya empati! dah mati rasa! cobalah kalian jadi dia, hidup sebagai petani kecil di lereng merapi, baru tau rasa semua!”

“Jangan mencela , jangan menyalahkan. Coba tempatkan diri anda seperti mereka. Hidup mereka sudah susah, mungkin dalam pikirannya cuman sapinya sebagai gantungan hidupnya.”

“Kalo saya jd suparman…mgkn melakukan hal yg sama…krn ndak percaya sama janji pemerintah…misalnya diganti…paling diganti seharga ayam…..”

“Sampeyan Suparman tapi ati sampeyan Superman, pak pejabat terhormat dimirengke bpk meniko, bapak Suparman ngendhiko jujur opo anane.”

“Rakyat kecil aja udah tau klo pemerintah gag bisa dipercaya, jadi lebih baek mengadu nyawa untuk nyelametin hewannya, drpd nunggu janji pemrintah yang gag jelas.”

“Bagi rakyat miskin, sapi, kerbau, kambing mungkin satu-satunya harta paling berharga yang mereka miliki dan merupakan penyambung nyawa mereka sebagai satu diantara sedikit mata pencaharian yang ada selain menjadi buruh tani atau pekerjaan kasar lainnya, bahkan ada yang rela tidur satu ruangan bersama sapi karena begitu berharganya ternak itu bagi mereka. Wajar saja kalau mereka berjuang mati-matian demi ternak mereka. Semoga Detik menjadi salah satu media yang paling pertama menyuarakan suara hati mereka jika ternyata janji pemerintah untuk memberi ganti rugi atas ternak yang ada ternyata hanya menjadi omong kosong belaka.”

“Ini bukti bahwa rakyat sdh hilang kepercayaan pd aparat pemerintah, dia tdk percaya bahwa instruksi presiden akan dijalankan dgn baik.”

“Bukti bahwa rakyat ga percaya ama pemerintah… kasian rakyat kecil… mereka sering dibohongi…”

————–

Semoga kisah ini bermanfaat.

Salam,

WBS

Posted in Ah... Indonesia ku, FILSAFAT, HUMANIORA, Kualitas Bangsa, Manusia | Dengan kaitkata: , , , , , , | Leave a Comment »

Karakter Orang Indonesia 02: menurut Mochtar Lubis

Posted by wahyuancol pada November2, 2009

Saya teringat, ketika SMA dahulu pernah membaca buku tulisan Mochtar Lubis yang membahas tentang ciri-ciri manusia Indonesia. Dalam perjalanan waktu, buku tersebut hilang entah kemana. Keinginan untuk membaca kembali buku tersebut muncul kembali akhir-akhir ini khususnya setelah mengikuti Seminar Internasional di Yogyakarta yang diselenggarakan oleh Sekolah Paskasarjana UGM tanggal 20-22 Oktober 2009 yang lalu yang bertema “Disaster: Theory, Research and Policy.” Terungkap di dalam seminar tersebut bahwa “Gotongroyong” adalah salah satu faktor utama yang menyebabkan masyarakat di Bantul, Yogyakarta bisa cepat pulih dari kerusakan karena gempa tanggal 27 Mei 2006. Kearifan lokal perlu dihidupkan kembali dalam rangka mitigasi bencana.

Saya berusaha mencari dengan bantuan internet, dan saya dapatkan sebagai berikut: pertama, saya mencapatkan resensi buku tulisan Mochtar Lubis itu dari Blog Psikologi Indonesia (http://www.psigoblog.com/2009/02/manusia-indonesia-kini-ala-mochtar.html), dan kedua, saya mendapat sebuah tulisan singkat dari Kompasiana (http://umum.kompasiana.com/2009/05/10/ciri-manusia-indonesia-menurut-mochtar-lubis/). Sebenarnya ada juga beberapa sumber lain dalam bentuk blog yang memberikan ciri-ciri orang Indonesia menurut Mochtar Lubis itu, tetapi dua sumber yang pertama saya sebutkan itu saya kira sudah memadai. Sementara saya berusaha mendapatkan buku tua itu, berikut ini adalah apa yang saya dapat dari kedua sumber itu.

———————–

Bagian ini saya kutip dari Blog Psikologi Indonesia dari artikel yang berjudul “Manusia Indonesia Kini ala Mochtar Lubis” yang ditulis oleh Amarilldo.

Buku Manusia Indonesia adalah sebuah buku yang diangkat dari ceramah Mochtar Lubis di Institut Kesenian Jakarta (IKJ) pada tanggal 6 April 1977. didalamnya menceritakan sifat-sifat yang melekat pada manusia Indonesia, dikatakan dalam 6 buah sifat yaitu pertama, munafik atau hipokrit. Kedua, enggan bertanggung jawab atas perbuatannya. Ketiga, sikap dan perilaku yang feodal. Keempat, masih percaya pada takhayul. Kelima, artistik. Keenam, lemah dalam watak dan karakter. Di Indonesia nama Mochtar Lubis telah dikenal sebagai seorang pengarang dan jurnalis. Sejak zaman pendudukan Jepang ia telah dalam lapangan penerangan. Ia turut mendirikan Kantor Berita ANTARA, kemudian mendirikan dan memimpin harian Indonesia Raya yang telah dilarang terbit. Ia mendirikan majalah sastra Horizon bersama-sama kawan-kawannya. Pada waktu pemerintahan rezim Soekarno, ia dijebloskan ke dalam penjara hampir sembilan tahun lamanya dan baru dibebaskan pada tahun 1966. Serta beliau sering kali mendapat penghargaan atas karya-karya tulisnya.

Segala tuduhan yang dijadikan oleh Mochtar Lubis pada dasarnya hanyalah merupakan sebuah stereotip tentang keadaan manusia Indonesia yang tergeneralisasi. Namun stereotip itu sendiri tidaklah seluruhnya benar dan juga tidak seluruhnya salah. Stereotip terbentuk dari adanya pengalaman dan juga pengamatan sehingga melekat pada manusia Indonesia, walau dalam sisi tidak benarnya, stereotip diperkuat oleh prasangka dan juga generalisasi. Buku ini sudah ada sejak tahun 1977, namun kenapa ketika penulis membaca dan mengamati ternyata isinya sungguh cukup relevan dengan keadaan lingkungan masyarakat Indonesia saat ini. Padahal Muchtar Lubis sendiri juga mengatakan dalam tanggapan atas tanggapan dalam buku ini tentang subjektifitas dalam pemikirannya, setelah menerima kritik dan masukkan dari bapak psikologi Indonesia, Sarlito Wirawan, tentang tidak bisanya menggeneralisasi penduduk Indonesia yang pada dasarnya bersifat majemuk dari berbagai aspek. Ditambahkan lagi oleh Sarlito Wirawan bahwa profil kepribadian tentang manusia Indonesia yang diungkapkan oleh Mochtar Lubis hanya didasari pengamatan-pengamatannya sendiri tanpa didasari oleh data-data objektif yang demikian segala tuduhan itu tidak memberi gambaran persis berapa persen sebenarnya dari manusia Indonesia yang dimaksud oleh Mochtar Lubis.

Ciri manusia Indonesia yang pertama menurut Mochtar Lubis adalah munafik atau hipokritis Dalam ciri yang pertama ini dijelaskan bahwa kemunafikan merupakan sifat manusia Indonesia sebagai contoh, negara kita dipimpin oleh manusia-manusia beragama yang memakai simbol-simbol agama entah itu pada nama (seperti gelar) atau aksesoris pakaian, namun coba diperhatikan bahwa masih ditemukan tempat-tempat prostitusi baik itu didalam kota maupun diluar kota, dan yang parahnya lagi mereka tumbuh subur bagai jamur. Pidato-pidato tentang kebajikan dan kebijaksanaan ada dimana-mana, diucapkan dan didengarkan, namun korupsi masih saja merajalela. Manusia Indonesia juga terkenal bersikap alim hanya dilingkungannya sendiri, jika sudah datang keluar negeri maka mereka akan segera mencari kepuasan seperti pergi ke-nightclub dan prostitusi. Manusia-manusia memakai topeng dengan tujuan mencari selamat sendiri, memakai prinsip terhadap atasan dengan sikap ABS (asal bapak senang), penggunaan kata bapak yang menurut Mochtar Lubis bukanlah kata panggilan yang cocok kepada atasan dikarenakan yang memanggil bapak pastilah anak dan anak berada dibawah kuasa bapak yang berkuasa penuh. Yang demikian tadi adalah yang ada pada jaman Mochtar Lubis yaitu 1977 kebelakang, dan kini mari coba kita bandingkan dengan keadaan bangsa Indonesia kini. Rasa-rasanya pada sebagian titik tidaklah berubah seperti korupsi sepertinya baru beberapa tahun terakhir ini saja gencar dilakukan berarti kira-kira sudah lama juga bangsa ini terbelit masalah korupsi pada para pengurus negaranya. Mungkin yang kini berbeda adalah keberadaan klab malam di Indonesia sudah berstandar Internasional sehingga para pengunjung sudah tidak perlu lagi lari keluar negeri untuk menikmati semua fasilitas hedonis itu. Kemunafikan pada manusia Indonesia ternyata pada masa sekarang sudah merambak pada berbagai macam aspek, banyak sekali kalau kita perhatikan mulut-mulut manis yang mengumbar janji, mengatakan yang kebalikan dari apa yang akan dilaksanakan, topeng-topeng kepalsuan, bagai penebar kebaikan pada tampak luar yang berhati busuk dan berwatak yang buruk didalamnya. Sama seperti milik Mochtar Lubis semua ini hanyalah stereotip, benarkah atau tidak benarkah semua hanyalah tuduhan tapi beralasan. Yang jelas dalam masyarakat kita sekarang masih ada juga mereka-mereka yang tidak bersifat munafik, mereka yang tidak hipokrisi dan masih ada mereka yang baik secara luar dan dalam.

Lalu pada ciri yang kedua adalah enggan bertanggung jawab atas perbuatannya, kata “bukan saya” merupakan suatu kata penyelamat dalam menghadapi sesuatu yang tidak baik atau berakibat buruk. Lepas dari tanggung jawab dengan mengatakan “saya hanya melaksanakan tugas dari atasan” merupakan pembelaan paling ampuh dari suatu kesalahan yang dilakukan. dalam Manusia Indonesia, Mochtar Lubis menyebutkan korupsi yang ada di Pertamina sebagai contoh nyata, dimana pada saat itu ratusan juta dollar uang negara dikorupsi, belum lagi pelanggaran-pelanggaran yang telah dilakukan oleh jajaran Pertamina mulai dari Presiden Direktur hingga ke lapisan bawah, namun tidak seorangpun yang dituntut. Kalau dilihat berarti kebobrokan dalam tubuh Pertamina sudah berlangsung sekian lama, sampai beberapa waktu lalu semua terbongkar, walau belum tuntas. 30 tahun lebih berarti memang Pertamina menjalankan semua praktek kotornya. Selain itu manusia Indonesia jika menerima sesuatu yang bersifat mengangangkat derajatnya seperti penghargaan dan pujian maka akan langsung diterima, walau mungkin salah sasaran dalam pemberiannya. Manusia Indonesia menurut yang digambarkan oleh Mochtar Lubis tidak akan sungkan-sungkan untuk tampil kedepan menerima bintang, tepuk tangan, surat pujian, piagam penghargaan, dan sebagainya. Dari ciri yang kedua ini memang sudah sangat menyedihkan apa yang terjadi pada masa tahun 1977 kebelakang tersebut. namun jika penulis samakan dengan masa tahun 2009, sepertinya kenyataan ini masih tidak berubah. Lihat saja para pelaku korupsi yang saling salah-menyalahkan, tidak mau mengaku dan melemparkan tanggung jawab kepada pihak-pihak lain, sampai akhirnya diketahui bahwa korupsi yang terjadi berjalan secara “Berjamaah”, begitulah kiranya ditulis dalam beberapa koran.

Ciri yang ketiga adalah jiwa Feodal yang masih tertanam subur dalam diri Manusia Indonesia. Dikatakan dalamnya bahwa nilai-nilai Feodalisme merupakan warisan dari negara-negara kerajaan yang ada pada jaman dahulu di nusantara, lalu diambil alih oleh para penjajah, terjadi revolusi kemerdekaan yang sebenarnya bertujuan untuk menghilangkan feodalisme yang ada pada diri manusia Indonesia. Sikap-sikap feodal ini bersifat destruktif dikarenakan seorang bawahan akan menganggap mereka yang lebih tinggi dari mereka adalah benar dalam setiap tindakannya, ketidak bolehan dalam menyangkal walau itu salah sekalipun merupakan salah satu keburukan dari feodalisme, selain itu juga menghancurkan harkat dan martabat manusia sebagai manusia yang sama derajatnya dengan manusia lain. seperti yang ada dalam jaman sekarang dimana seorang bawahan dikatakan tidak sopan jika menegur atasan karena alasan yang benar, merupakan suatu bentuk dari feodalisme, tidak didengarnya suara mereka yang ada dibawah sebagai suara manusia juga merupakan bentuk nyata dari feodalisme yang terjadi pada manusia Indonesia. Hanya saja kerajaan yang dimaksud sudah bukan raja lagi sebagai pemimpin namun raja-raja tersebut sudah diganti namanya menjadi presiden, menteri, jenderal, presiden direktur dan lainnya. Nyata sekali bahwa feodalisme menghambat proses perkembangan manusia dikarenakan tidak sampainnya kritik terhadap pemimpin dikarenakan 2 hal yaitu bawahan yang segan dalam melakukannya dan pemimpin yang tidak mau mendengar suara dari bawah.

Ciri keempat adalah Manusia Indonesia masih percaya takhayul, sepertinya sudah berlangsung lama semua ini, tak perlu dipertanyakan lagi tentang apa yang terjadi pada masa 1977 kebelakang tersebut. coba saja lihat keadaan sekarang, siaran tv menampilkan segala macam sihir, kuntilanak, jailangkung, pocong, genderuwo, dan aksi dukun-men-dukun. Belum lagi ditambah film-film bioskop yang menampilkan segala macam judul berbau setan dan makhluk halus, dan film-film layar lebar tersebut dibuat atas dasar adanya permintaan pasar terhadap jenis film misteri horor. Yang terbaru dari takhayul ini adalah kisah dukun-dukun cilik yang dapat menyembuhkan sembarang penyakit, mereka kedapatan pasien sampai puluhan ribu orang dalam sehari. Sungguh mengejutkan memang dalam keadaan dunia yang sudah modern dan dikuasai oleh iptek seperti ini masih ada mereka yang mengharapkan keajaiban yang tidak mungkin dijelaskan oleh rasio. Kepercayaan terhadap segala macam keramat-keramat juga masih ada di Indonesia, dan para pelakunya juga sebagian adalah manusia-manusia berijazah yang dikatakan berpendidikan itu. Namun dalam tanggapannya penulis setuju dengan Sarlito Wirawan, yang mengatakan dalam taggapan terhadap ceramah Mochtar Lubis, bahwa mengenai mitos dan mistik bukanlah monopoli manusia Indonesia semata, melainkan suatu sifat hakiki manusiawi, yaitu untuk memenuhi kebutuhan akan rasa aman (security need). Selama manusia masih belum bisa mengatasi bahaya-bahaya dan ancaman-ancaman dengan dengan kemapuan dan ilmu penghetahuannya sendiri, selama itu manusia masih akan mencari pelindung terhadap mitos dan mistik. Dalam hal manusia Indonesia Sarlito Wirawan mengatakan bahwa gejala mitos dan mistik ini lebih banyak terdapat di kalangan “angkatan tua”. Dikarenakan mereka tidak menerima pendidikan yang layak, namun karena jasa-jasanya pada masa revolusi maka mereka harus mengisi kedudukan penting dalam pemerintahan. Dengan sendirinya kemampuan dan ilmu yang mereka milik belumlah cukup untuk memegang jabatan itu dan mereka masih merasa kurang “secure” dalam memegang jabatan mereka itu, maka larilah mereka kepada praktek-praktek perdukunan dan mistik. Dikalangan angkatan yang lebih muda seperti para sarjana atau mahasiswa, terlihat bahwa praktek-praktek mistik sudah jauh berkurang, meskipun belum dapat dikatakan sudah hilang sama sekali. Sarlito Wirawan yakin dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dinegara kita, maka mitos dan mistik pun akan makin berkurang, demikianlah apa yang dikatakan oleh Sarlito Wirawan dalam tanggapannya terhadap manusia Indonesia ala Mochtar Lubis. Tapi sepertinya pernyataan dari Sarlito Wirawan tampaknya meleset, kenyataannya di Indonesia hal mistik malah semkin merebak dari hari-ke-hari, hal ini ditunjukkan dengan munculnya klinik-klinik “spiritual healing” (yang bagi penulis hal ini merupakan suat modernisasi dari praktek perdukunan dengan menggunakan bahasa inggris dengan nama “spritual healing”). Ditambah lagi ilmu psikologi kini memiliki mazhabnya yang keempat yaitu psikologi transpersonal yang didalamnya membahas dimensi sprirtual manusia termasuk hal-hal mistik. Namun dalam satu sisi memang benar kegemaran terhadap mistisme ini bukanlah sekedar monopoli dari manusia Indonesia saja melainkan juga pada masyarakat barat dengan film-film berbau exorcism, vampir, dracula, zombi, sihir-sihir seperti Harry Potter dan lain sebagainya. Nampaknya mungkin semua manusia sudah mulai tidak rasional lagi, dan menikmati hal tersebut, yang dimungkinkan terjadi karena semakin sedikitnya rasa aman yang dapat dimiliki pada jaman sekarang ini pada sebagian masyarakat yng mengakibatkan mengambil jalan irasional untuk mendapatkan kebutuhannya akan rasa aman tersebut.

Ciri kelima dari manusia Indonesia adalah artistik, berjiwa seni, hal ini memang sudah dapat terlihat dari kayanya budaya daerah yang ada di Indonesia yang dalam tiap-tiap daerahnya memiliki keseniannya masing-masing. Kesenian merupakan hasil dari kebudayaan, dengan demikian maka masyarakat Indonesia memang memiliki jiwa berkarya dan mencintai keindahan. Belum lagi ditemukan peninggalan-peninggalan bangunan kuno, seperti candi-candi yang menakjubkan, menandakan bahwa manusia Indonesia memiliki peradabannya sendiri. bahkan dimasa sekarang ini musik Indonesia dikabarkan telah “menjajah” negeri tetangganya Malaysia, dengan adanya suatu bentuk pemboikotan terhadap radio swasta di Malaysia, dikarenakan lebih sering memutar lagu artis dari Indonesia dibandingkan lagu dari artis lokalnya sendiri. selain itu banyak juga hasil karya asli anak bangsa yang sudah diekspor keluar negeri dan kebanyakan dari hal itu adalah karya-karya kesenian. Jadi kalau masalah seni bangsa ini tidak perlu takut, selama masih ada generasi penerus yang mau mempertahankannya maka kesenian tradisional ini akan selalu terjaga kelestariannya.

Ciri yang keenam adalah memiliki watak dan karakter yang lemah. Tidak kuatnya manusia Indonesia dalam mempertahankan atau memperjuangkan keyakinannya merupakan bahasan yang menjadi inti ciri keenam manusia Indonesia. Mochtar Lubis mengatakan hal ini ditandai dengan adanya pelacuran-pelacuran Intelektual dalam banyak bidang. Pelacuran intelektual sebagai contohnya adalah manipulasi hasil yang ditujukan agar dapat mempertahankan suatu penguasa lain, seperti seseorang ahli pangan mengatakan bahwa tidak berbahaya menggunakan suatu produk dari produsen tertentu, padahal produk yang dijual mengandung zat yang berbahaya bagi pengkonsumsi, namun karena sudah diberikan upah, maka ahli tersebut menutupi kenyataan dan mengatakan bahwa tidak ada yang salah pada produk tersebut, sehingga dikatakan sebagai pelacuran intelektual. Yang terjadi kini dalam pemerintahan adalah dengan adanya kebijakan-kebijakan yang bersifat menyengsarakan rakyat, para ahli yang bersangkutan pada bidangnya masing-masing tidak melakukan apa-apa walaupun tahu pada kenyatannya bahwa kebijakan yang ada itu salah, sehingga para ahli itu dapat dikatakan sebagai pelacur intelek. Tidak kuatnya seseorang dalam mempertahankan kebenaran akan membawa keburukan bagi masyarakat luas, dikerenakan tanpa kebenaran maka yang terjadi adalah pembolak-balikkan yang menuju pada ketidak jelasan, sehingga yang terjadi adalah bergesernya nilai-nilai dalam masyarakat kearah yang negatif.

Keenam ciri ini memang berkesan menjelek-jelekkan bangsa sendiri, namun dengan ini semua diharapkan tidak menjadi suatu bentuk kebencian terhadap bangsa sendiri, melainkan sebagai cermin dalam bertindak. Walau semua penjabaran Mochtar Lubis adalah subjektif dan tidak mewakili, namun sepertinya kalau dipikirkan ada kebenaran dalam pengamatan yang telah ia lakukan. Menurut ST Sularto (dalam Kompas) pernah ketika tahun 1982 Mochtar Lubis diminta merefleksikan kembali ”manusia Indonesia”, dengan tegas ia mengatakan tidak ada perubahan. Makin parah. Andaikan permintaan itu disampaikan kembali, di saat Mochtar Lubis sudah tiada (meninggal 2 Juli 2004), niscaya ia menangis di alam baka. Bangsa Indonesia bukanlah bangsa yang kerdil, bukan bangsa yang lemah, namun bangsa yang belum menunjukkan taringnya kepada dunia. Diharapkan pada masa yang akan datang manusia Indonesia menjadi bangsa yang besar, yang berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah dengan bangsa-bangsa lain, walau sekarang sudah demikian adanya namun rasanya masih ada sebagian dari manusia-manusia Indonesia yang tidak merasakan hal yang sama. Semoga dari tulisan yang jauh dari sempurna dan membutuhkan banyak kritik ini dapat menjadi masukkan bagi saudara-saudara sebangsa dan setanah air.

————————–

Bagian ini saya kutip dari Kompasiana dari artikel yang berjudul “Ciri Manusia Indonesia: Menurut Mochtar Lubis” yang ditulis oleh Chappy Hakim.

Ciri pertama manusia Indonesia adalah hipokrit atau munafik. Di depan umum kita mengecam kehidupan seks terbuka atau setengah terbuka, tapi kita membuka tempat mandi uap, tempat pijat, dan melindungi prostitusi. Kalau ditawari sesuatu akan bilang tidak namun dalam hatinya berharap agar tawaran tadi bisa diterima. Banyak yang pura-pura alim, tapi begitu sampai di luar negeri lantas mencari nightclub dan pesan perempuan kepada bellboy hotel. Dia mengutuk dan memaki-maki korupsi, tapi dia sendiri seorang koruptor. Kemunafikan manusia Indonesia juga terlihat dari sikap asal bapak senang (ABS) dengan tujuan untuk survive.?

Ciri kedua manusia Indonesia, segan dan enggan bertanggung jawab atas perbuatannya. Atasan menggeser tanggung jawab atas kesalahan kepada bawahan dan bawahan menggeser kepada yang lebih bawah lagi. Menghadapi sikap ini, bawahan dapat cepat membela diri dengan mengatakan, ”Saya hanya melaksanakan perintah atasan.”?

Ciri ketiga manusia Indonesia berjiwa feodal. Sikap feodal dapat dilihat dalam tata cara upacara resmi kenegaraan, dalam hubungan organisasi kepegawaian. Istri komandan atau istri menteri otomatis menjadi ketua, tak peduli kurang cakap atau tak punya bakat memimpin. Akibat jiwa feodal ini, yang berkuasa tidak suka mendengar kritik dan bawahan amat segan melontarkan kritik terhadap atasan.?

Ciri keempat manusia Indonesia, masih percaya takhayul. Manusia Indonesia percaya gunung, pantai, pohon, patung, dan keris mempunyai kekuatan gaib. Percaya manusia harus mengatur hubungan khusus dengan ini semua untuk menyenangkan ”mereka” agar jangan memusuhi manusia, termasuk memberi sesajen.?”Kemudian kita membuat mantra dan semboyan baru, Tritura, Ampera, Orde Baru, the rule of law, pemberantasan korupsi, kemakmuran yang adil dan merata, insan pembangunan,” ujar Mochtar Lubis. Dia melanjutkan kritiknya, ”Sekarang kita membikin takhayul dari berbagai wujud dunia modern. Modernisasi satu takhayul baru, juga pembangunan ekonomi. Model dari negeri industri maju menjadi takhayul dan lambang baru, dengan segala mantranya yang dirumuskan dengan kenaikan GNP atau GDP.”?

Ciri kelima, manusia Indonesia artistik. Karena dekat dengan alam, manusia Indonesia hidup lebih banyak dengan naluri, dengan perasaan sensualnya, dan semua ini mengembangkan daya artistik yang dituangkan dalam ciptaan serta kerajinan artistik yang indah.?

Ciri keenam, manusia Indonesia, tidak hemat, boros, serta senang berpakaian bagus dan berpesta. Dia lebih suka tidak bekerja keras, kecuali terpaksa. Ia ingin menjadi miliuner seketika, bila perlu dengan memalsukan atau membeli gelar sarjana supaya dapat pangkat. Manusia Indonesia cenderung kurang sabar, tukang menggerutu, dan cepat dengki. Gampang senang dan bangga pada hal-hal yang hampa.?

Kita, menurut Mochtar Lubis, juga bisa kejam, mengamuk, membunuh, berkhianat, membakar, dan dengki. Sifat buruk lain adalah kita cenderung bermalas-malas akibat alam kita yang murah hati.?

Selain menelanjangi yang buruk, pendiri harian Indonesia Raya itu tak lupa mengemukakan sifat yang baik. Misalnya, masih kuatnya ikatan saling tolong. Manusia Indonesia pada dasarnya berhati lembut, suka damai, punya rasa humor, serta dapat tertawa dalam penderitaan. Manusia Indonesia juga cepat belajar dan punya otak encer serta mudah dilatih keterampilan. Selain itu, punya ikatan kekeluargaan yang mesra serta penyabar.

Dan terakhir ada juga yang mengatakan bangsa kita senang melihat orang susah dan susah melihat orang senang.

—————————-

Demikian gambaran atau karakter orang Indonesia menurut Mochtar Lubis yang dikemukakan tahun 1977.

Semoga bermanfaat.

Salam,

Wahyu

Karakter yang lain? KOI 01

Posted in Ah... Indonesia ku, FILSAFAT, HUMANIORA, Kualitas Bangsa, Manusia | Dengan kaitkata: , , , , , | 5 Comments »

PERUBAHAN IKLIM GLOBAL, Dampaknya terhadap Manusia secara Global

Posted by wahyuancol pada Juni2, 2009

Mengutip Kantor Berita AFP, Harian Kompas, Senin 1 Juni 2009 menurunkan berita tentang dampak perubahan iklim global terhadap manusia di Bumi.

Diberitakan bahwa laporan yang dikerjakan oleh Global Humanitarian Forum di London, Inggris, menyebutkan, perubahan iklim global telah menewaskan 300.000 jiwa setiap tahunnya. kerugian yang ditimbulkan mencapai 125 miliar dollar Amerika Serikat. Disebutkan pula bahwa 325 juta jiwa kaum miskin adalah yang paling menderita. Laporan itu diungkapkan pada hari Jum’at (29/5/2009), dan di klaim sebagai laporan pertama mengenai dampak perubahan iklim terhadap manusia secara global.

Berikut ini adalah gambaran tentang bagaimana kerugian itu terjadi, antara lain:

  1. Karena Banjir dan Badai Tahunan. Penduduk Banglades termasuk salah satu masyarakat yang paling menderita karena juitaan jiwa dihantam banjir dan badai tahunan.
  2. Karena Kekeringan Massal. Para petani di Uganda salah satu kelompok yang dihantam kekeringan massal.
  3. Karena Kenaikan Muka Laut. Penduduk di pulau-pulau kecil, seperti di Karibia dan Pasifik terancam kehilangan wilayah karena kanaikan muka laut.

Prediksi 2030

Laporan itu menyebutkan, bila tidak ada penanganan berarti, maka pada 2030 kematian global akibat perubahan iklim akan mendekati setengah juta jiwa per tahun. Kerugian finansial mencapai 300 miliar dollar AS.

Disebutkan bahwa:

  1. Sebagian besar kematian disebabkan oleh degradasi lingkungan yang menimbulkan kekurangan gizi di banyak tempat.
  2. Kenaikan suhu 2 derajad celsius membunuh banyak spesies flora dan fauna yang berguna bagi kehidupan.
  3. Bagi warga pesisir, selain ancaman badai yang meningkat dan kenaikan muka laut, ikan konsumsi bergerak ke tengah laut, sehingga nelayan makin kesulitan menangkap ikan.
  4. Bagi petani, perubahan pola cuaca akan menyulitkan musim tanam. Suhu yang hangat juga mempengaruhi perkembangbiakan serangga penyerbuk di negara-negara empat musim.

Laporan itu juga menyebutkan adanya kegentingan global yang berkaitan dengan perubahan iklim global, yaitu:

  1. Kelaparan Global,
  2. Migrasi Massal, dan
  3. Kematian Massal.

Demikian laporan dari Global Humanitarian Forum.

Persoalannya sekarang, Bagaimana dengan Indonesia?

Bagi Indonesia dampak perubahan iklim juga akan seperti yang digambarkan dalam laporan itu.

  1. Banjir tahunan akan meningkat di banyak daerah, antara lain seperti di Pesisir Timur Pulau Sumatera, Kalimantan, Pesisir Utara Pulau Jawa.
  2. Kekeringan akan makin meluas seperti di pulau-pulau Nusa Tenggara.
  3. Kenaikan muka laut mengancam kita kehilangan banyak daratan pesisir di Sumatera, Jawa, Kalimantan, dan banyak pulau-pulau kecil akan tenggelan seperti pulau-pulau di Kepulauan Seribu, dan Taka Bonerate.
  4. Masalah degradasi lingkungan akan bnayk terjadi di berbagai pulau di Indonesia yang berujung pada ancaman kekurangan gizi penduduknya.
  5. Ancaman gelombang badai dan angin ribut juga akan makin meningkat di banyak kawasan pesisir.
  6. Para nelayan juga akan makin sulit menangkap ikan bila ikan bergerak ke tengah laut.
  7. Para petani kita juga akan kesulitan menghadapi perubahan pola cuaca.

Akhirnya, sudah siapkah kita menghadapi semua kemungkinan itu?

Semoga bermanfaat.

Salam,

Wahyu

Posted in Banjir, Cara Bumi di Hidupkan, Manusia, Wilayah Pesisir | Dengan kaitkata: , , , , , , , , , , | 1 Comment »

Manusia dan Bencana Alam

Posted by wahyuancol pada Mei8, 2009

Bagaimana sikap manusia terhadap bencana alam?

Pertanyaan itu sering menggelitik setiap kali mengetahui telah terjadi suatu bencana yang menyebabkan kehilangan harta maupun jiwa. Beberapa waktu setelah bencana terjadi orang sibuk memberikan pertolongan, dan sebagian sibuk memberikan analisis tentang sebab-sebab kejadian tersebut, dan kemudian sering diikuti saling menyalahkan.

Tetapi, manusia kadang juga bersikap aneh. Sebelum bencana terjadi, sering peringatan telah diberikan, bukti-bukti yang nyata juga telah dipaparkan, dan analisis tentang kemungkinan terjadinya bencana dan kerugian yang akan ditimbulkan juga telah sangat jelas. Namun semua itu sering kali tidak ditanggapi dengan memadai, seakan masehat yang masuk dari telinga kiri dan keluar dari telinga kanan.

Tentang hal ini ada satu contoh, yaitu tentang masalah bencana tsunami. Setelah peristiwa tsunami tanggal 26 Desember 2004, perhatian kita semuanya tertuju pada tsunami, dan pemerintahpun sangat mendukung berbagai program yang berkaitan dengan tsunami. Sebelum kejadian bencana tersebut, tidak ada perhatian yang cukup tentang tsunami. Kira-kira dua tahun sebelumnya, yaitu pada tanggal 18-19 Maret 2002, di Bandung diadakan Workshop tentang Tsunami dengan tema “Tsunami Risk and Its Reduction in the Asia – Pacific Region” yang diselenggarakan oleh Universitas Kyoto-ITB-BMG. Ketika itu, acara itu dapat dikatakan sangat sepi, dihadiri oleh kurang dari seratus orang peserta yang terus menyusut ketika acara berlangsung. Tidak ada pemberitaan di media massa.

Pada kasus bencana erupsi letusan gunungapi pun demikian. Sulit sekali meyakinkan penduduk untuk mau mengungsi hanya dengan informasi tentang kemungkinan bahaya. Tetapi, semuanya mudah dilakukan setelah bencana nyata di depan mata. Sebagai contoh, ketika erupsi lutusan Gunung Merapi di Yogyakarta tahun 2007.

Kondisi semacam itu nampaknya khas untuk manusia. Bukan hanya di Indonesia, tetapi juga di berbagai negara lain di dunia. Salah satu contoh, seperti ketika erupsi Gunung De Colima tahun 1998-2000.

Berikut ini salah satu contoh kasus yang sedang terjadi di Bandung sebagaimana dituturkan oleh Prof. R.P. Koesoemadinata dalam emailnya di IAGI-net, yang saya kutip dengan izin beliau.

Ini saya sekarang ini menghadapi masalah sosial dalam hal antisipasi
bencana.

Di desa rumah kami jalannya menyisir gawir, dan jalan ini asalnya jalan desa
yang kemudian diaspal sekitar 30 tahun yang lalu. Lalu lintas makin ramai
saja, dan terutama terjadi parkir mobil disisi tebing tamu cafe-cafe yang
menjamur disini, dan truk2 yang bawa material bangunan.

Sudah agak lama jalan sudah retak-retak tanda-tanda mau longsong, dan sudah lama saya laporkan ke kepala desa. Sebulan yang lalu terjadi longsor kecil, saya tulis surat peringatan akan adanya bahaya longsong ke Kepala Desa dengan tembusan ke Camat dan Kepala Dinas PU Kabupaten, Bandung dan Kepala Pusat Mitigasi Bencana Alam.

Beberapa kali dilakukan rapat dengan dengan Camat, Polsek, dengan warga setempat lainnya, pemilik cafe, dan 2 orang professsor (bayangkan katanya pertama kali ada rapat desa dihadliri professor, 2-nya dari ITB lagi). Namun walaupun disadari oleh rapat bahkan diputuskan supaya dilarang parkir sepanjang tebing dan juga membatasi truk yang lewat, sampai kini tidak ada tindakan apa-apa dari Kepala Desa (mungkin takut kehilangan uang parkir?), seolah-olah tidak ada apa-apa. Padahal terjadi rempag lagi di badan
jalan, walaupun kecil. Kalau terjadi longsor besar mungkin seluruh badan
jalan akan kena, karena jalan ini buntu saya mungkin tidak bisa keluar.
Daerahnya sendiri saya nilai cukup aman, tidak pernah ada longsor yang
terjadi secara alami, longsor terjadi kalau orang bikin tembok tinggi dan
diisi tanah (cut and fill).

Inilah mentalitas kita dalam menghadapi bencana, “kumaha engke” bae daripada “engke kumaha”. Tetapi mentalitas ini juga ternyata didapatkan di penduduk California (menurut suatu film dokumenter entah di Discovery Channel atau National Geographic), di mana orang tetap membangun rumah-rumah mewah senilai sampai jutaan dollar di daerah yang sudah terbukti rawan longsor, gempa dan kebakaran hutan.

Demikian gambaran tentang sikap manusia terhadap bencana alam. Nampaknya, manusia sulit diyakinkan akan terjadinya bencana sebelum bencana itu benar-benar terjadi dan menimpa dirinya.

Mungkinkan itu naluri manusia untuk mati?

Salam,

Wahyu

Artikel terkait: Dimensi Manusia dan Bencana Alam di Indonesia

Posted in Manusia | Dengan kaitkata: , , , | Leave a Comment »