Kepulauan Indonesia

Cerita dari, untuk dan tentang Kepulauan Indonesia beserta Penghuni dan Penduduknya

Memunyai?

Posted by wahyuancol pada Januari8, 2017

Tulisan ini saya ambil dari tulisan Yanwardi dengan judul seperti di atas yang dipublikasikan oleh Harian Kompas, Sabtu, 7 januari 2017 di halaman 13, kolom Bahasa.

Saya tertarik dengan tulisan ini karena menjawab persoalan yang saya hadapi sejak lama,  berhadapan dengan kata “memerhatikan”. Persoalan itu muncul setelah dalam beberapa tahun ini di dalam surat kabar ini sering muncul kata “memerhatikan”. Saya merasa bahwa “memperhatikan” lebih benar daripada “memerhatikan” karena lebih mudah diucapkan, dan pengucapan itu sudah saya lakukan sejak saya belajar Bahasa Indonesia ketika Sekolah Dasar lebih 40 tahun yang lalu. Di bawah ini adalah tulisan itu yang saya kutip utuh dengan sedikit modifikasi penambahan.


Agak aneh bagi saya sikap sebagian praktisi dan pemerhati bahasa yang bersikeras mengubah mempunyai menjadi memunyai. Sejak dahulu penurut bahasa memilih mempunyai ketimbang memunyai. Bahkan, sebagian di antara mereka, ketika saya tanyakan kedua kata itu, justru bertanya balik, “Emang ada kata memunyai?” Bagi penurut asli Bahasa Indonesia, kata-kata, seperti mempunyai, mengurung, memukul, menyapu dan menusuk (saya tambahkan: memperhatikan, mempengaruhi) terucap dengan sendirinya, tidak mengingat dulu bahwa sistem morfofonemik (proses fonologis akibat pertemuan morfem dengan morfem), yakni awalan “me(N)-“, kalau bertemu kata dasar berawal huruf/fonem/bunyi k, p, s dan t harus luluh, apalagi sampai mencari nasal yang harus homorgan (ng, m, ny dan n). Otak penutur akan pusing bila demikian. untunglah intuisi bahasa penutur bergerak otomatis ketika berbahasa.

Data yang terujar dari penutur Bahasa Indonesia inilah yang dianalisis oleh ahli bahasa, diabstraksikan, atau disimpulkan. Ahli bahasa menjelaskan mengapa, misalnya, dalam mempunyai, /p/ tidak luluh, berbeda dengan bentukan yang kata dasarnya berawal /p/ lainnya: memukul, memaku, memoles, memutih, dll. Pemerhati bahasa dalam konteks ini hendaknya tidak terburu-buru memukul rata suatu gejala kebahasaan: mempunyai harus jadi memunyai. Siapa tahu ada “kaidah” lain yang berlaku pada kata mempunyai. Pada kenyataannya, dalam konteks sistem morfofonemik awalan “me(N)-” + D (dasar) yang berawalan k, p, s dan t, hukum peluluhan hanya salah satu kaidahnya. Kaidah ini tampak langsung bertabrakan dengan data, misalnya, mengepak, mengesol, dan mengetik. Tampak di situ fonem awal dasar (p, s, dan t) tidak luluh. Belum lagi, kata dasar yang berawal fonem k, p, s, dan t yang diikuti konsonan tidak luluh pula (memproduksi, menstabilkan, dll).

Sekurangnya dalam sistem morfofonemik awalan “me(N)-” + D yang berawal dengan k, p, s, dan t terdapat lima kaidah:

  1. Kaidah peluluhan (jika huruf pertama dasar diikuti vokal): mengurung (D: kurung), memasang (D: pasang), menyapu (D: sapu), menuruk (D: tusuk).
  2. Kaidah pengekalan (jika huruf pertama dasar diikuti konsonan): memproduksi (D: produksi), menstabilkan (D: stabil), mentraktir (D: traktir), mengklaim (D: klaim).
  3. Kaidah penambahan bunyi /e/ (jika dasar bersuku satu yang diikuti vokal): mengepak (D: pak), mengesol (D: sol), mengetik (D: tik).
  4. Kaidah semantik (jika peluluhan mengakibatkan kemungkinan ambigu (maka jangan luluh)): mengkaji (menelaah) (D: kaji).
  5. Kaidah disimilasi (alat ucap kesulitan melafalkan bentuk peluluhannya: mempunyai, mempengaruhi, memperhatikan (D: punya).

Kaidah disimilasi bukan sesuatu yang baru. Dalam sistem morfonemik awalan “ber + ajar” tampak juga mengalami disimilasi, yakni bunyi /r/ menjadi “bel-” (belajar). Dengan melihat fakta kebahasaan tersebut, saya berpendapat tidak ada argumen kebahasaan yang kuat untuk mengubah mempunyai menjadi memunyai. Salah satu ciri bahwa suatu hukum bahasa “kurang tepat” adalah adanya resistensi oleh penutur bahasa. Jika hanya beberapa penutur yang melakukan “penolakan”, misalnya, dengan merasakan kejanggalan, bisa jadi penutur tersebut yang tidak tepat. Namun, jika sebagian besar penutur merasakan kejanggalan atas suatu hukum bahasa, saya pikir “hukum bahasa”-nya yang tidak tepat. Resistensi akan terjadi di sini.

Ada sebagian ahli bahasa dan praktisi bahasa yang menganalisis bahasa bukan berdasarkan data, melainkan berdasarkan asumsi mereka. Inilah yang menurut saya, harus dihindari sebagaimana terjadi atas kemunculan bentukan memunyai. Bahasa adalah milik penutur bahasa. data yang dihasilkan mereka merupakan data yang sahih dianalisis, bukan data artifisial berdasarkan asumsi.


Demikian kutipan yang saya lakukan.

Mengenai hal tersebut di atas, saya teringat dahulu guru Tata Bahasa di SMA mengatakan, kalau dasarnya adalah kata serapan dari bahasa asing, maka berlaku Kaidah Pengekalan agar tidak membingungkan. Misalnya, memproduksi dari kata dasar “produksi” yang diserap dari bahasa Inggris; mempraktekkan (D: praktek).

Kemudian, ada lagi yang mengganggu saya, yaitu: mana yang benar “diembuskan” atau “dihembuskan”? Menurut saya, yang benar “dihembuskan”, tetapi sekarang ada yang mengatakan yang benar “diembuskan”.

Salam,

WBS

Posted in Bahasa Indonesia | Dengan kaitkata: , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a Comment »

Banjir 24 Oktober 2016 di Pasteur (Dataran Tinggi, Cekungan Bandung) Bandung

Posted by wahyuancol pada Oktober29, 2016

Kota Bandung berada di kawasan dataran tinggi Bandung. Secara fisik, kawasan tersebut merupakan suatu cekungan yang dikelilingi oleh gunung-gunung dan di kenal sebagai Cekungan Bandung. Cekungan Bandung, secara administratif merupakan bagian dari Kabupaten Bandung, Bandung Barat dan Sumedang, serta Kota Bandung dan Cimahi. Sejarah geologi kawasan tersebut menunjukkan bahwa cekungan tersebut sebelumnya adalah sebuah danau. Danau antar gunung (Gambar 1). Di dalam cekungan tersebut diendapkan endapan danau. Pada tahun 2005, penduduk yang mendiami Cekungan Bandung mencapai lebih dari 7 juta jiwa (Abidin et al., 2009).

001-cekungan-bandung

Gambar 1. Topografi kawasan Cekungan Bandung dan sekitarnya (Gumilar et al., 2015).

Sesuai dengan karakter fisik lingkungannya itu, maka adalah wajar bila banjir rutin melanda kawasan yang rendah dari Kota Bandung yang merupakan bagian yang paling rendah dari cekungan tersebut. Keadaan tersebut diperparah oleh terjadinya penurunan permukaan tanah (Gumilar et al., 2014).

Pada hari Senin tanggal 24 Oktober 2016, terjadi banjir yang “tidak biasa” di Kota Bandung setelah hujan deras turun sangat lama. Banjir terjadi di kawasan Pasteur yang berada di bagian yang tinggi dari Kota Bandung. Aliran air yang sangat deras mengalir di jalan Pasteur, melanda dan menghanyutkan segala sesuatu yang ada di jalan tersebut, termasuk mobil.

Pertanyaannya adalah mengapa bisa demikian? Apa yang salah dengan tata air di kawasan itu?

Secara sederhana, bila hujan turun ke permukaan Bumi (presipitasi = P), maka air hujan akan mengalami penguapan (evaporasi = E) dan meresap masuk ke dalam tanah (infiltrasi = I). Apabila volume air hujan yang jatuh ke Bumi lebih kecil daripada volume air yang mengusap dan meresap ke dalam tanah, maka air hujan itu akan habis dan tidak ada air yang mengalis di permukaan Bumi. Sebaliknya, apabila volume air hujan yang jatuh ke Bumi itu lebih besar daripada air yang menguap ke udara dan meresap ke dalam tanah, maka terjadilah kelebihan air di permukaan Bumi yang mengalir sebagai aliran air di permukaan Bumi.

Pada mulanya, aliran air di permukaan Bumi bergerak bebas menuruni lereng. Kemudian aliran air itu bergabung satu sama lain dan akhirnya membentuk tali air. Tali air itu kemudian berkembang menjadi alur-alur, alur-alur bergabung dan akhirnya menjadi sungai. Semua itu merupakan satu sistem aliran air permukaan.

Di kawasan perkotaan, sistem aliran air tersebut terganti oleh sistem drainase kota. Air hujan yang turun di kawasan perkotaan akan masuk ke dalam sistem drainase kota, dan kemudian dialirkan ke sungai-sungai yang mengalir melintasi kota.

Di daeah yang masih alamiah, ketika musim hujan, curah hujan tinggi, maka kita akan melihat aliran air yang besar debitnya di sungai-sungai. Hal itu karena banyaknya air permukaan yang masuk ke dalam alur-alur sungai. Apabila terjadi curah hujan yang sangat tinggi, aliran permukaan menjadi sangat banyak maka alur sungai tidak dapat menampung volume air yang masuk. Air meluap keluar, dan kita mengenalnya sebagai banjir. Luapan air sungai ini biasanya terjadi di daerah hilir dan terjadi karena sungai utama tidak mampu menampung air yang masuk dari cabang-cabangnya dari daerah hulu.

Di daerah perkotaan, sebelum air hujan masuk ke aliran sungai, air terlebih dahulu masuk ke sistem drainase kota. Pengelolaan sistem drainase yang buruk bisa menyebabkan aliran air permukaan tidak dapat masuk ke dalam sistem saluran air. Atau, sistem saluran air yang dibuat terlalu sempit  sehingga air meluap. Apabila air hujan gagal masuk ke dalam sistem drainase kota, maka air akan bergerak liar dan mengalir masuk ke jalan-jalan karena jalanlah yang kondisinya memberi kemudahan bagi air untuk mengalir. Banjir seperti inilah ke kemaren itu terjadi di Kota Bandung.

Jadi, sebagai kesimpulan, banjir yang terjadi pada tanggal 24 Oktober 2016 di Kota Bandung itu, selain karena angka curah hujan yang tinggi, juga karena buruknya sistem drainase kota tersebut. Curah hujan yang tinggi menyebabkan tingginya debit aliran air permukaan. Buruknya sistem drainase menyebabkan debit aliran air permukaan yang tinggi itu tidak dapat masuk mengalir di dalam saluran air sehingga air mengalir di jalan raya.

Dalam skala yang lebih kecil, kasus seperti ini juga terjadi di Desa Sekaran, Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang di dekat Kampus Universitas Negeri Semarang. Apabila hujan lebat terjadi dalam waktu cukup lama, maka jalan utama yang di desa itu yang melintasi kampus UNNES menjadi seperti sungai.

Salam,

WBS

Posted in Banjir, FENOMENA ALAM, HIDROSFER, HUMANIORA, Manusia dan Alam, PROSES (BENCANA) ALAM, Sungai | Dengan kaitkata: , , , , | Leave a Comment »

Gelombang Bono di Sungai Kampar, Riau

Posted by wahyuancol pada Oktober9, 2016

Afif Farhan di dalam detikTravel pada tanggal 6 Oktober 2016 menulis tentang Gelombang Bono di Sungai Kampar, Kabupaten Pelalawan, Propinsi Riau sebagai salah satu objek wisata. Disebutkan bahwa gelombang itu dapat mencapai ketinggian 6 meter, kecepatan 40 km/jam dan panjang 300 meter. Gelombang bergerak dari arah muara sungai ke hulu sungai. Waktu kejadiannya hanya pada waktu-waktu tertentu, yaitu biasanya pada saat bulan purnama setiap tanggal 10-20 perhitungan bulan Melayu (Arab) atau pada kisaran bulan Agustus – Desember tanggal Masehi.

Gelombang Bono sesungguhnya adalah fenomena Tidal Bore. Menurut Bartsch-Winkler & Lynch (1988), Tidal Bore adalah fenomena gelombang tunggal yang terjadi secara alamiah karena pasang-surut dengan ketinggian gelombang berkisar dari 0,2 – 6 meter. Gelombang bergerak dari muara sungai ke arah hulu.  Terjadi di dalam estuari dengan pasang surut semidiurnal atau hampir semidiurnal dengan amplitudo lebih dari 4 meter. Pembentukan Tidal Bore tergantung pada kedalaman air dan kecepatan air pasang yang masuk dan aliran sungai yang keluar. Donnelly & Chasnson (2002) menyebutkan bahwa di Sungai Pungue, Mozambique, tidal bore memasuki aliran sungai sampai 80 km. Tidal Bore berpengaruh terhadap ekosistem.

Menurut Chanson (2013), tidal bore adalah suatu seri gelombang yang menjalar ke arah hulu sungai ketika aliran arus pasang-surut berbalik masuk ke muara sungai selama periode awal pasang naik. Pembentukan tidal bore terjadi ketika amplitudo pasang-surut 4,5 – 6 meter (makrotidal), zona estuari atau mulut sungai berbentuk corong yang dapat memperbesar amplitudo pasang-surut, dan ada perubahan kedalaman yang tiba-tiba. Proses pembentukan tidal bore adalah amplitudo pasang-surut yang besar dan mengalami amplifikasi di dalam estuari.

Tidal Bore adalah fenomena alam yang umum dijumpai di berbagai belahan bumi. Bartsch-Winkler & Lynch (1988) telah membuat katalog tidal bore untuk seluruh dunia. Setidaknya tercetat tidal bore di 67 lokasi di 16 negara. Namun, fenomena Gelombang Bono di Sungai Kampar ini belum tercatat.

Fenomena tidal bore di Sungai Kampar, Kabupaten Pelalawan, Riau, sebenarnya sudah lama dikenal oleh masyarakat setempat. Efek negatif gelombang tersebut yang dapat menyebabkan kematian membuat gelombang tersebut ditakuti oleh masyarakat setempat. Pada tahun 2010 keadaan berubah. Hal itu terjadi setelah beberapa peselancar profesional dari Brazil dan Perancis berhasil berselancar di Gelombang Bono. Sejak itu Gelombang Bono dipandang sebagai potensi wisata (Setiawan, 2012).

Semoga bermanfaat.

Salam,

WBS

Daftar Pustaka

Bartsch-Winkler, S. & Lynch, D.K., 1988. Catalog of Worldwide Tidal Bore Occurences and Characteristic. U.S. Geological Survey Circulas 1022.

Chanson, H., 2013. Environmental Fluid Dynamics of Tidal Bore: Theoretical Consideration and Fields Observation. In: Fluid Mechanics of Environmental Interfaces, C. Gualtieri and D.T. Mihailovic (eds.), 2nd Edition, Chapter 10, pp. 295-321 (ISBN 978-041-5621564), Taylor & Francis, Leiden, The Netherlands.

Donnelly, C. & Chanson, H., 2002. Environmental Impact of Tidal Bore in Tropical Rivers. Proc. 5th Intl. River Manage. Symp., Brisbane, Australia, Sept 2002.

Setiawan, H., 2013. Bono Tidal Bore: Unique Riau River Surfing (https://www.engagemedia.org/Members/Hisam/videos/surf_bono/view). Akses 9 Okt 2016.

 

Posted in Dari Indonesia untuk Dunia, FENOMENA ALAM, Gelombang, HIDROSFER, Objek Wisata, Pasang surut, PROSES (BENCANA) ALAM, Sungai, Wilayah Pesisir | Dengan kaitkata: , , , , , , , | Leave a Comment »

Gagap Menghadapi Kemajuan Teknologi

Posted by wahyuancol pada Maret23, 2016

Jakarta 22 Maret 2016 dilanda demonstrasi para sopir angkutan umum yang didominasi oleh sopir taksi konvensional. Mereka berdemonstrasi menolak kehadiran jasa transportasi berbasis online (daring – dalam jaringan). Demonstrasi itu berhasil melumpuhkan transportasi di Ibukota Negara ini. Para demonstran itu menuntut kepada Pemerintah agar menutup jasa transportasi model baru itu karena mereka menganggap telah merugikan mereka. Berbagai macam tanggapan muncul.

Untuk dapat memahami apa yang sebenarnya sedang terjadi, sebuah uraian menarik telah ditulis oleh Heru Margianto. Inti pesan dari tulisan itu adalah bahwa kita (semua pihak terkait) harus berubah mengikuti perkembangan teknologi agar tidak tertinggal dilindas perubahan yang terjadi karena perkembangan teknologi.

Di bawah ini adalah tulisan itu. Selamat menikmati.

———————————————

Mereka yang Gagap Menghadapi Perubahan

Oleh: Heru Margianto 

Don Tapscott dan Anthony Williams sudah jauh-jauh hari mengingatkan, ada gelombang ekonomi model baru yang menjalar ke seantero bumi. Model baru yang berkembang karena kehadiran internet ini mengubah cara sebuah produk diciptakan dan dipasarkan. Namanya kolaborasi.

Kata Tapscott dan Williams, gelombang baru tersebut akan memicu kebingungan dan perselisihan. Dalam bukunya “Wikinomics” yang terbit Desember 2006 mereka menulis,

“Namun, bisa diduga paradigma baru akan memicu pergeseran dan kebingungan. Paradigma baru kerap disambut dengan dingin, atau lebih buruk lagi, dengan ejekan atau permusuhan. Benturan kepentingan memerangi peralihan ini. Para pemimpin lama menghadapi kesulitan besar untuk menerima paradigma baru.”

Kata Tapscott dan Williams lagi,

“Pelajaran utama bagi manajer bisnis adalah perusahaan yang kuno, tertutup, dan berfokus ke dalam sedang sekarat, tidak peduli dari industri apa Anda berasal.”

Cerita tentang aksi demonstrasi anarkitis kemarin antara sopir taksi tradisional dan pelaku jasa transportasi berbasis teknologi aplikasi adalah cerita tentang benturan antara paradigma ekonomi lama dan baru.

Teknologi informasi yang berkembang demikian cepat melahirkan model ekonomi berbasis aplikasi di bidang transportasi secara kolaboratif. Disebut model baru karena para pelaku usaha tidak berada dalam sebuah ikatan hirarki sebuah korporasi.

Siapapun yang memiliki motor atau mobil dapat bergabung dalam aplikasi Uber, Grab, atau Go-Jek. Tidak ada relasi struktural “bos” dan “pegawai”.

Ikatannya sangat longgar sehingga biaya operasional sebuah perusahaan terpangkas sedemikian rupa. Begitu efisiennya usaha bersama ini sehingga mereka dapat mengenakan tarif lebih murah kepada konsumennya.

Berbeda dengan model bisnis transportasi tradisional seperti Blue Bird atau Taksi Express. Sebagai sebuah perusahaan, semua alat-alat produksi harus dimiliki sendiri sebagai modal awal usaha.

Para pekerjapun terikat dalam sebuah ikatan kontrak kerja yang ekslusif. Akibatnya, tentu biaya operasional tidak kecil yang berujung pada ongkos yang harus dikeluarkan konsumen ketika menggunakan jasa mereka.

Rhenald Khasali menguraikan dengan sangat gamblang tentang apa dan bagaimana Wikinomics dalam tulisannya Demo Sopir Taksi dan Fenomena “Sharing Economy”.

Sudah jadi bagian hidup

Kini model bisnis kolaboratif jasa transportasi berbasis aplikasi sudah menjadi bagian dari keseharian masyarakat Jakarta. Soal ojek, misalnya, dalam banyak hal jauh lebih menguntungkan pesan layanan Grab atau Go-Jek ketimbang ojek pangkalan.

Dari sisi harga, Grab atau Go-Jek lebih pasti dan murah, tidak perlu pusing tawar-menawar (haree geenee masih nawar?). Kadang, kalau ada promo, konsumen bisa keliling Jakarta hanya dengan tarif Rp 10.000. Harga ojek pangkalan, bisa 2-3 kali lipat.

Dari sisi kemudahan, amatlah praktis layanan ini. Semuanya tersedia di layar ponsel. Seluruh informasi tertera di sana, mulai dari jarak, waktu tempuh, harga, identitas pengendara, hingga kirim pesan lokasi kepada orang terdekat untuk memastikan yang bersangkutan tahu posisi kita saat ini. Kita juga tidak perlu berpanas-panas keluar ruangan untuk cari ojek, cukup usap-usap telepon, layanan datang.

Layanannya pun beragam. Tidak hanya mengantar orang, tapi juga bisa untuk mengirim atau mengambil barang bahkan memintanya membeli makanan atau belanjaan.

Jasa transportasi berbasis aplikasi ini juga menyediakan ruangfeedback. Dengan sistem rating, kita bisa mengapresasi jika puas atau “menghukum” pengendara jika tidak puas. Dengan ojek tradisional, kita hanya bisa mengumpat jika dikecewakan.

Demikian pula dengan layanan jasa transportasi roda empat: lebih murah dan praktis.

Pendek kata, itu semua telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari kita.

Di sisi lain, layanan inipun membuka lapangan pekerjaan bagi ribuan orang. Mereka yang tidak memiliki kesempatan pendidikan di perguruan tinggi, memiliki kesempatan untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Bagi mereka, pintu-pintu perusahaan tradisional biasanya tertutup rapat.

So, perusahaan berbasis aplikasi ini memiliki implikasi sosial yang luas. Memberangus layanan ini sebagaimana diserukan sekelompok orang sama artinya melawan konsumen sendiri dan keniscayaan zaman.

Kita juga memahami kegelisahan para sopir taksi yang berada di bawah naungan “bisnis legal”.  Sudah pasti, dengan segala keunggulan yang diberikan layanan transportasi berbasis aplikasi,  konsumen mereka akan tergerus.

Tidak ada cara lain, para pengelola jasa transportasi itu harus berbenah, menyesuaikan diri dengan zaman. Sederhana saja. Di mana-mana, dalam hal apapun, konsumen selalu  memilih yang terbaik bagi mereka.

Mereka yang gagap

Dunia kita memang sedang berubah dan akan terus berubah. Masalahnya, bukan pada perubahan yang terjadi, tapi soal bagaimana menghadapi perubahan itu. Demo anarkis kemarin setidaknya menegaskan satu hal: perubahan selalu membawa kegagapan.

Para pengusaha bisnis transportasi tergagap-gagap menghadapi perkembangan teknologi yang berjalan begitu cepat. Mereka tidak bergegas untuk beradaptasi.

Layanan jasa berbasis aplikasi tidak datang tiba-tiba. Nadiem Makarim merintis Gojek sejak tahun 2011. Nadim melihat peluang, sementara para pelaku bisnis tradisional tidak.

Untuk mengatasi kegagapan ini, tidak ada cara lain, para pengelola bisnis transportasi tradisional harus berubah. Mereka harus mendekatkan diri mereka kepada konsumen melalui teknologi. Berinovasilah. Perilaku konsumenmu berubah.

Kegagapan ini umum terjadi di segala bidang usaha yang bisnisnya terkoyak-koyak oleh interet. Di bidang media, kita mendengar kabar soal tutupnya sejumlah koran, tidak hanya di Indonesia, tapi juga di dunia. Para pelaku bisnis media pun dituntut berubah menyesuaikan cara mereka mengelola usaha agar tidak tenggelam oleh senjakala.

Di industri retail, kita melihat pertumbuhan yang masif di bidang e-commerce dalam beberapa tahun belakangan ini. Toko online merebak. Ada Lazada, Olx, Bukalapak, you name it.

Trafiknya terus meningkat. Para pemodal dari luar berbondong-bondong menanamkan duitnya di Indonesia. Dalam soal belanja, perilaku kita memang sudah berubah.

Selain pelaku usaha, pemerintah pun gagap menghadapi perkembangan teknologi yang demikian cepat ini. Indonesia mengalami kekosongan dalam mengelola bisnis yang satu ini. Belum ada regulasi yang mengatur.

Beberapa orang lantas menyebutnya bisnis ilegal. Tidak salah.Wong, memang tidak ada regulasinya. Tapi, manfaatnya besar bagi publik. Aspek yuridis semata tidak selayaknya mengalahkan azas manfaat.

Betul, secara sederhana bisa saja ditegaskan bahwa semua layanan transportasi dikembalikan ke UU soal Transportasi Umum, seperti yang disampaikan Menteri Perhubungan Ignasius Jonan. Namun, undang-undang yang ada kiranya belum mengakomodir dimensi sosial ekonomi kolaboratif yang menjadi karakter di era digital saat ini.

Kita mendukung dan menanti pemerintah untuk segera merumuskan kebijakan soal layanan jasa tranportasi berbasis aplikasi.

—————————-

Istilah-istilah yang perlu dipahami:

Sharing economy (ekonomi kolaboratif)

Demikian, semoga bermanfaat.

Salam,

WBS

Posted in Ah... Indonesia ku, HUMANIORA, Kualitas Bangsa, Perubahan Sosial, Uncategorized | Leave a Comment »

2015 in review

Posted by wahyuancol pada Desember30, 2015

Asisten statistik WordPress.com menyiapkan laporan tahunan 2015 untuk blog ini.

Berikut ini kutipannya:

Aula konser di Sydney Opera House menampung 2.700 orang. Blog ini telah dilihat sekitar 40.000 kali di 2015. Jika itu adalah konser di Sydney Opera House, dibutuhkan sekitar 15 penampilan terlaris bagi orang sebanyak itu untuk menontonnya.

Klik di sini untuk melihat laporan lengkap.

Posted in Uncategorized | Leave a Comment »