Kepulauan Indonesia

Cerita dari, untuk dan tentang Kepulauan Indonesia beserta Penghuni dan Penduduknya

Gagap Menghadapi Kemajuan Teknologi

Posted by wahyuancol pada Maret23, 2016

Jakarta 22 Maret 2016 dilanda demonstrasi para sopir angkutan umum yang didominasi oleh sopir taksi konvensional. Mereka berdemonstrasi menolak kehadiran jasa transportasi berbasis online (daring – dalam jaringan). Demonstrasi itu berhasil melumpuhkan transportasi di Ibukota Negara ini. Para demonstran itu menuntut kepada Pemerintah agar menutup jasa transportasi model baru itu karena mereka menganggap telah merugikan mereka. Berbagai macam tanggapan muncul.

Untuk dapat memahami apa yang sebenarnya sedang terjadi, sebuah uraian menarik telah ditulis oleh Heru Margianto. Inti pesan dari tulisan itu adalah bahwa kita (semua pihak terkait) harus berubah mengikuti perkembangan teknologi agar tidak tertinggal dilindas perubahan yang terjadi karena perkembangan teknologi.

Di bawah ini adalah tulisan itu. Selamat menikmati.

———————————————

Mereka yang Gagap Menghadapi Perubahan

Oleh: Heru Margianto 

Don Tapscott dan Anthony Williams sudah jauh-jauh hari mengingatkan, ada gelombang ekonomi model baru yang menjalar ke seantero bumi. Model baru yang berkembang karena kehadiran internet ini mengubah cara sebuah produk diciptakan dan dipasarkan. Namanya kolaborasi.

Kata Tapscott dan Williams, gelombang baru tersebut akan memicu kebingungan dan perselisihan. Dalam bukunya “Wikinomics” yang terbit Desember 2006 mereka menulis,

“Namun, bisa diduga paradigma baru akan memicu pergeseran dan kebingungan. Paradigma baru kerap disambut dengan dingin, atau lebih buruk lagi, dengan ejekan atau permusuhan. Benturan kepentingan memerangi peralihan ini. Para pemimpin lama menghadapi kesulitan besar untuk menerima paradigma baru.”

Kata Tapscott dan Williams lagi,

“Pelajaran utama bagi manajer bisnis adalah perusahaan yang kuno, tertutup, dan berfokus ke dalam sedang sekarat, tidak peduli dari industri apa Anda berasal.”

Cerita tentang aksi demonstrasi anarkitis kemarin antara sopir taksi tradisional dan pelaku jasa transportasi berbasis teknologi aplikasi adalah cerita tentang benturan antara paradigma ekonomi lama dan baru.

Teknologi informasi yang berkembang demikian cepat melahirkan model ekonomi berbasis aplikasi di bidang transportasi secara kolaboratif. Disebut model baru karena para pelaku usaha tidak berada dalam sebuah ikatan hirarki sebuah korporasi.

Siapapun yang memiliki motor atau mobil dapat bergabung dalam aplikasi Uber, Grab, atau Go-Jek. Tidak ada relasi struktural “bos” dan “pegawai”.

Ikatannya sangat longgar sehingga biaya operasional sebuah perusahaan terpangkas sedemikian rupa. Begitu efisiennya usaha bersama ini sehingga mereka dapat mengenakan tarif lebih murah kepada konsumennya.

Berbeda dengan model bisnis transportasi tradisional seperti Blue Bird atau Taksi Express. Sebagai sebuah perusahaan, semua alat-alat produksi harus dimiliki sendiri sebagai modal awal usaha.

Para pekerjapun terikat dalam sebuah ikatan kontrak kerja yang ekslusif. Akibatnya, tentu biaya operasional tidak kecil yang berujung pada ongkos yang harus dikeluarkan konsumen ketika menggunakan jasa mereka.

Rhenald Khasali menguraikan dengan sangat gamblang tentang apa dan bagaimana Wikinomics dalam tulisannya Demo Sopir Taksi dan Fenomena “Sharing Economy”.

Sudah jadi bagian hidup

Kini model bisnis kolaboratif jasa transportasi berbasis aplikasi sudah menjadi bagian dari keseharian masyarakat Jakarta. Soal ojek, misalnya, dalam banyak hal jauh lebih menguntungkan pesan layanan Grab atau Go-Jek ketimbang ojek pangkalan.

Dari sisi harga, Grab atau Go-Jek lebih pasti dan murah, tidak perlu pusing tawar-menawar (haree geenee masih nawar?). Kadang, kalau ada promo, konsumen bisa keliling Jakarta hanya dengan tarif Rp 10.000. Harga ojek pangkalan, bisa 2-3 kali lipat.

Dari sisi kemudahan, amatlah praktis layanan ini. Semuanya tersedia di layar ponsel. Seluruh informasi tertera di sana, mulai dari jarak, waktu tempuh, harga, identitas pengendara, hingga kirim pesan lokasi kepada orang terdekat untuk memastikan yang bersangkutan tahu posisi kita saat ini. Kita juga tidak perlu berpanas-panas keluar ruangan untuk cari ojek, cukup usap-usap telepon, layanan datang.

Layanannya pun beragam. Tidak hanya mengantar orang, tapi juga bisa untuk mengirim atau mengambil barang bahkan memintanya membeli makanan atau belanjaan.

Jasa transportasi berbasis aplikasi ini juga menyediakan ruangfeedback. Dengan sistem rating, kita bisa mengapresasi jika puas atau “menghukum” pengendara jika tidak puas. Dengan ojek tradisional, kita hanya bisa mengumpat jika dikecewakan.

Demikian pula dengan layanan jasa transportasi roda empat: lebih murah dan praktis.

Pendek kata, itu semua telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari kita.

Di sisi lain, layanan inipun membuka lapangan pekerjaan bagi ribuan orang. Mereka yang tidak memiliki kesempatan pendidikan di perguruan tinggi, memiliki kesempatan untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Bagi mereka, pintu-pintu perusahaan tradisional biasanya tertutup rapat.

So, perusahaan berbasis aplikasi ini memiliki implikasi sosial yang luas. Memberangus layanan ini sebagaimana diserukan sekelompok orang sama artinya melawan konsumen sendiri dan keniscayaan zaman.

Kita juga memahami kegelisahan para sopir taksi yang berada di bawah naungan “bisnis legal”.  Sudah pasti, dengan segala keunggulan yang diberikan layanan transportasi berbasis aplikasi,  konsumen mereka akan tergerus.

Tidak ada cara lain, para pengelola jasa transportasi itu harus berbenah, menyesuaikan diri dengan zaman. Sederhana saja. Di mana-mana, dalam hal apapun, konsumen selalu  memilih yang terbaik bagi mereka.

Mereka yang gagap

Dunia kita memang sedang berubah dan akan terus berubah. Masalahnya, bukan pada perubahan yang terjadi, tapi soal bagaimana menghadapi perubahan itu. Demo anarkis kemarin setidaknya menegaskan satu hal: perubahan selalu membawa kegagapan.

Para pengusaha bisnis transportasi tergagap-gagap menghadapi perkembangan teknologi yang berjalan begitu cepat. Mereka tidak bergegas untuk beradaptasi.

Layanan jasa berbasis aplikasi tidak datang tiba-tiba. Nadiem Makarim merintis Gojek sejak tahun 2011. Nadim melihat peluang, sementara para pelaku bisnis tradisional tidak.

Untuk mengatasi kegagapan ini, tidak ada cara lain, para pengelola bisnis transportasi tradisional harus berubah. Mereka harus mendekatkan diri mereka kepada konsumen melalui teknologi. Berinovasilah. Perilaku konsumenmu berubah.

Kegagapan ini umum terjadi di segala bidang usaha yang bisnisnya terkoyak-koyak oleh interet. Di bidang media, kita mendengar kabar soal tutupnya sejumlah koran, tidak hanya di Indonesia, tapi juga di dunia. Para pelaku bisnis media pun dituntut berubah menyesuaikan cara mereka mengelola usaha agar tidak tenggelam oleh senjakala.

Di industri retail, kita melihat pertumbuhan yang masif di bidang e-commerce dalam beberapa tahun belakangan ini. Toko online merebak. Ada Lazada, Olx, Bukalapak, you name it.

Trafiknya terus meningkat. Para pemodal dari luar berbondong-bondong menanamkan duitnya di Indonesia. Dalam soal belanja, perilaku kita memang sudah berubah.

Selain pelaku usaha, pemerintah pun gagap menghadapi perkembangan teknologi yang demikian cepat ini. Indonesia mengalami kekosongan dalam mengelola bisnis yang satu ini. Belum ada regulasi yang mengatur.

Beberapa orang lantas menyebutnya bisnis ilegal. Tidak salah.Wong, memang tidak ada regulasinya. Tapi, manfaatnya besar bagi publik. Aspek yuridis semata tidak selayaknya mengalahkan azas manfaat.

Betul, secara sederhana bisa saja ditegaskan bahwa semua layanan transportasi dikembalikan ke UU soal Transportasi Umum, seperti yang disampaikan Menteri Perhubungan Ignasius Jonan. Namun, undang-undang yang ada kiranya belum mengakomodir dimensi sosial ekonomi kolaboratif yang menjadi karakter di era digital saat ini.

Kita mendukung dan menanti pemerintah untuk segera merumuskan kebijakan soal layanan jasa tranportasi berbasis aplikasi.

—————————-

Istilah-istilah yang perlu dipahami:

Sharing economy (ekonomi kolaboratif)

Demikian, semoga bermanfaat.

Salam,

WBS

Posted in Ah... Indonesia ku, HUMANIORA, Kualitas Bangsa, Perubahan Sosial, Uncategorized | Leave a Comment »

2015 in review

Posted by wahyuancol pada Desember30, 2015

Asisten statistik WordPress.com menyiapkan laporan tahunan 2015 untuk blog ini.

Berikut ini kutipannya:

Aula konser di Sydney Opera House menampung 2.700 orang. Blog ini telah dilihat sekitar 40.000 kali di 2015. Jika itu adalah konser di Sydney Opera House, dibutuhkan sekitar 15 penampilan terlaris bagi orang sebanyak itu untuk menontonnya.

Klik di sini untuk melihat laporan lengkap.

Posted in Uncategorized | Leave a Comment »

Pulau Batugoyang

Posted by wahyuancol pada Januari11, 2015

Pulau Batugoyang

Koordinat: 06° 57′ 01″ LS, 134° 11′ 38″ BT

Titik Referensi: No. TR. 102

Titik Dasar: No. TD. 102

Letak Administrasi: Kecamatan Aru Selatan, Kabupaten Kepulauan Aru, Propinsi Maluku.

Catatan:

  • Pulau mana yang dimaksud dengan Pulau Batugoyang tidak dapat ditunjukkan dengan pasti (Gambar 1). Menurut posisi yang diberikan di atas oleh Atlas Pulau-pulau Kecil Terluar, lokasi itu menunjuk ke sebuah pulau batu yang agak jauh di sebelah selatan Tanjung Ngabordamlu (Pada citra diberi nama Pulau Batugoyang 01). Tetapi, pada citra satelit yang disajikan di dalam atlas tersebut,  diberi tanda pada pada sebuah pulau yang persis di sebelah selatan Tanjung Ngabordamlu (Pada citra diberi nama Pulau Batugoyang 02).
Aru Tanjung Ngabordamlu ket

Gambar 1. Kawasan Tanjung Ngabordamlu.

 

  • Posisi koordinat Pulau Batugoyang 02 pada Google Earth: 6° 56′ 36,34″ LS, 134° 11′ 59,43″ BT (di bagian tengah pulau).
  • Situs Direktori Pulau-pulau Kecil dari Kementerian Kelautan dan Perikanan menyebutkan nama lain dari pulau ini adalah Pulau Dimel. Situs ini menyebutkan posisi koordinat pulau ini sama dengan posisi yang diberikan oleh Atlat Pulau-pulau Kecil Terluar. Situs ini menyebutkan bahwa Pulau Batugoyang adalah sebuah sea stack. Sea stack adalah sebuah untuk sebuah pulau yang terbentuk karena mundurnya garis pantai dari suatu pulau yang lebih besar. Apabila kita berpegang pada pernyataan ini., maka yang dimaksud dengan Pulau Batugoyang adalah pulau yang pada Gambar 1 di atas ditandai dengan Pulau Batugoyang 02.
  • Untuk mengetahui pulau mana yang dimaksud dengan Pulau Batugoyang, perlu dilakukan konfirmasi dengan Peta Laut dari Dinas Hidro-oseanografi TNI AL.

Underconstruction

Kembali

Posted in Mengenal Indonesia, Pulau Kecil Terluar | Dengan kaitkata: , , , , | Leave a Comment »

2014 in review

Posted by wahyuancol pada Desember30, 2014

Asisten statistik WordPress.com menyiapkan laporan tahunan 2014 untuk blog ini.

Berikut ini kutipannya:

Madison Square Garden dapat menyediakan 20.000 tempat duduk untuk sebuah konser. Blog ini telah dilihat sekitar 67.000 kali di 2014. Jika itu adalah konser di Madison Square Garden, dibutuhkan sekitar 3 penampilan terlaris bagi orang sebanyak itu untuk menontonnya.

Klik di sini untuk melihat laporan lengkap.

Posted in Blog Review, Review Tahunan | Dengan kaitkata: , | Leave a Comment »

Gerakan Tanah 01 (Definisi dan Arti)

Posted by wahyuancol pada Desember14, 2014

(Penulisan artikel ini terinspirasi oleh peristiwa longsor di Kabupaten Banjarnegara yang menimbun Dusun Jimblung, 14 Desember 2014)

Definisi dan Pengertian Gerakan Tanah

Gerakan Tanah adalah pergerakan atau perpindahan material di permukaan bumi dari tempat yang tinggi ke tempat yang rendah karena gaya gravitasi.

Kata “Gerakan Tanah” adalah terjemahan dari kata dalam Bahasa Inggris “Mass Movement” atau “Mass Wasting“.

Material yang yang bergerak dapat berupa tanah, bongkah batuan atau hancuran batuan.

Gerakan material yang menuruni lereng tersebut berkisar dari sangat cepat sampai sangat lambat.

Gerakan tanah dapat melibatkan komponen air, tetapi jumlahnya sangat sedikit. Maksudnya, air yang terlibat tidak menjadi media yang membawa material yang bergerak itu, seperti air pada aliran sungai.

Di Indonesia, gerakan tanah yang paling dikenal adalah “tanah longsor“.

Arti Gerakan Tanah

Gerakan tanah adalah salah satu proses yang penting di permukaan bumi. Dengan gerakan tanah, permukaan bumi diukir atau dikupas, dan material dipemukaan bumi berpindah dari tempat yang tinggi ke tempat yang rendah. Lebih jauh lagi, dengan gerakan tanah material di permukaan bumi yang berada di tempat-tempat yang tinggi dapat lebih cepat masuk ke dalam sistem aliran sungai, sehingga dapat ditransportasikan ke laut melalui aliran sungai, untuk akhirnya diendapkan di laut.

Arti penting dari gerakan tanah akan terlihat jelas bila kita melihat sistem sedimentasi dari sudut pandang atau dengan pendekatan “sumber dan tempat pengendapan” (the source-to-sink) (Gambar 1), atau dari sudut pandang sistem aliran sungai (Gambar 2).

Gambar 1. Sistem sedimentasi dilihat melalui pendekatan “sumber dan tempat pengendapan”. Sumber gambar: G. Bertotti, TU Delft OpenCourseWare. Dalam sistem ini, gerakan tanah banyak terjadi di daerah sumber.

Gambar 2. Sistem aliran sungai. Sumber gambar: Lyle C. Begay, Fluvial Geomorphology. Dalam sistem ini, gerakan tanah terutama terjadi di daerah hulu.

 

 

Posted in Cara Bumi di Hidupkan, FILSAFAT, Gerakan Tanah, PROSES (BENCANA) ALAM | Dengan kaitkata: , , , , , , , , , , , , | 1 Comment »

 
Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.