Kepulauan Indonesia

Cerita dari, untuk dan tentang Kepulauan Indonesia beserta Penghuni dan Penduduknya

Archive for the ‘Semburan Lumpur’ Category

Tentang semburan lumpur di Indonesia.

Bencana Alam di Indonesia 3 (yang tidak bersiklus)

Posted by wahyuancol pada November7, 2010

Selain bencana alam yang bersiklus atau rutin terjadi, di Indonesia juga ada bencana alam yang kejadiannya tidak rutin atau tidak bersiklus. Apabila bencana alam yang bersiklus kejadiannya terkaitan dengan proses-proses di Atmosfer atau berkaitan dengan gerakan bumi sebagai bagian dari sistem benda langit, maka bencana alam yang tidak bersiklus ini berkaitan dengan proses-proses geologi yang berlangsung di Bumi.

Berikut ini adalah macam-macam bencana alam yang tidak bersiklus itu.

Bencana terkait dengan Aktifitas Volkanisme

Macam-macam bencana yang berkaitan dengan aktifitas volkanisme adalah:

  1. Aliran awan panas. Bencana ini terjadi ketika gunungapi bererupsi; jadi bencana ini hanya dapat terjadi di sekitar gunungapi yang sedang aktif bererupsi (seperti aktifitas Gunung Merapi sekarang, Oktober dan Nopember 2010)
  2. Aliran lahar. Bencana ini juga terjadi di sekitar tubuh gunungapi. Lahar dapat dibedakan menjadi lahar panas dan lahar dingin. Lahar panas dapat terjadi karena dua kondisi. Pertama, terjadi apabila ada danau kawah di gunungapi yang aktif bererupsi, sehingga ketika terjadi erupsi material panas yang bercampur air mengalir menuruni lereng gunungapi sebagai lahar panas. Kedua, terjadi apabila endapan material panas hasil erupsi gunungapi yang menumpuk di lereng gunungapi mendapat siraman hujan yang banyak, sehingga endapan gunungapi yang panas yang bercampur dengan air mengalir menuruni lereng gunungapi sebagai lahar panas. Lahar dingin terjadi bila endapan material gunungapi yang telah dingin mendapat siraman air hujan yang banyak, sehingga percampuran keduanya mengalir menuruni lereng gunungapi.
  3. Semburan/Hujan abu, pasir dan batu. Bencana ini terjadi ketika gunungapi aktif bererupsi (seperti Merapi sekarang ini). Jangkauan bencana ini bisa bersifat sangat lokal di sekitar gunungapi yang bererupsi itu, dan bisa pula berskala global. Bencana yang berskala global terjadi bila semburan debu oleh gunungapi yang bererupsi dapat masuk ke lapisan atmosfer yang tinggi, seperti letusan Gunung Tambura tahun 1815 dan Krakatau tahun 1883.
  4. Semburan gas beracun. Bencana semburan gas beracun dapat terjdi di lingkungan gunungapi yang berada dalam fase masa akhir erupsi seperti di daerah Dieng. Gas yang disemburkan terutama adalah gas H2S.
  5. Tsunami. Bencana tsunami dapat terjadi karena erupsi letusan gunungapi yang terjadi di laut, seperti yang terjadi ketika letusan Gunung Krakatau tahun 1883. Ketika itu tsunami melanda kawasan pesisir Selat Sunda baik yang di Pulau Jawa (Banten) maupun di Pulau Sumatera (Lampung).

Bencana terkait dengan Gempa Bumi Tektonik

Macam-macam bencana yang berkaitan dengan Gempa Bumi Tektonik adalah:

  1. Bangunan runtuh. Bencana ini terjadi apabila terjadi goncangan gempa yang keras lebih dari 5 skala Richter. Kematian yang berkaitan dengan  gempa terjadi karena bangunan yang runtuh karena gempa dan menimpa manusia. Bencana ini umum terjadi di perkotaan atau kawasan pemukiman.
  2. Gerakan tanah atau Tanah Longsor. Bencana ini dapat terjadi menyusul terjadinya gempa yang kuat yang melanda daerah pegunungan atau perbukitan yang berlereng terjal. Kemungkinan bencana ini membesar apabila gempa terjadi di musim hujan.
  3. Tsunami. Bencana ini dapat terjadi menyusun terjadinya gempa yang kuat di laut. Kawasan yang terlanda tsunami bisa bersifat lokal dan bisa berskala regional. Tsunami bulan Desember 2004 (dikenal sebagai Tsunami Aceh) yang terjadi menyusun gempa di sebelah barat Pulau Sumatera bagian utara adalah contoh tsunami yang berskala regional. Sedang tsunami yang terjadi bulan Oktober 2010 yang melanda Pulau Mentawai adalah contoh tsunami berskala lokal.

Bencana yang umum terjadi di kawasan pesisir

Bencana yang biasa terjadi di kawasan pesisir adalah subsiden, yaitu turunnya permukaan tanah. Menyusul terjadinya subsiden adalah terjadinya banjir karena pasang-surut. Apabila kejadian subsiden bukan di kawasan pesisir, maka bencana yang menyertainya adalah banjir karena hujan.

Bencana karena sebab-sebab lain dan sangat lokal

Bencana alam lain yang sangat lokal dan sangat spesifik adalah  amblesan dan gunung lumpur. Amblesan ini terjadi karena permukaan tanah tiba-tiba turun, dan umumnya terjadi daerah berbukit-bukit. Fenomena gunung lumpur adalah fenomena munculnya lumpur ke permukaan bumi. Lumpur dapat muncul begitu saja di dalam rumah. Fenomena ini banyak terjadi di Jawa Timur.

Salam,

WBS

Bencana Alam di Indonesia 1

Bencana Alam di Indonesia 2

Bencana Alam di Indonesia 4

Posted in Banjir, Gempa, PROSES (BENCANA) ALAM, Semburan Lumpur, Subsiden, Tsunami, Volkanisme | Dengan kaitkata: , , , , , , , , , | Leave a Comment »

Penyebab Semburan Lumpur Sidoarjo: Kebenaran ilmiah?

Posted by wahyuancol pada November1, 2008

Sampai hari ini, semburan lumpur Sidoarjo masih terus berlangsung dan tidak dapat diperkirakan kapan akan berhenti. Sementara penyelesaian terhadap tuntutan ganti kerugian yang timbul karena genangan lumpur tersebut belum jelas ujungnya, debat tentang penyebab semburan lumpur itu pun terus berlanjut. Debat berlangsung dalam forum nasional maupun internasional, dalam forum formal berupa seminar maupun informal dalam mail-list, di dalam jurnal-jurnal ilmiah, bahkan di pengadilan.

Dua Pendapat

Sampai sekarang, setelah dua setengah tahun berdebat, belum ada kesatuan pendapat dari pihak-pihak yang berdebat, dan pendapat tentang asal semburan lumpur tersebut secara garis besar terbagi menjadi dua, yaitu: (1) yang mempercayai bahwa semburan itu adalah bencana alam yang dipicu oleh Gempa Yogyakarta pada tanggal 27 Mei 2006, dan (2) yang mempercayai bahwa semburan itu terjadi karena kesalahan dalam kegiatan pemboran Sumur Banjarpanji-1.

Dari sudut pandang hukum, mengetahui mana penyebab semburan lumpur itu penting, karena akan berkonsekuensi pada penentuan siapa yang harus bertanggungjawab terhadap kerugian yang timbul karena genangan lumpur tersebut.

Di pihak lain, dari sudut pandang ilmiah, mengetahui penyebab semburan lumpur yang benar juga penting, karena dapat menjadi pejaran agar kesalahan serupa tidak terulang lagi.

Voting

Pada tanggal 28 oktober 2008 yang lalu, dalam pertemuan AAPG di Capetown, Afrika Selatan, juga dilakukan debat tentang penyebab semburan lumpur itu. Yang menarik dari debat itu adalah, debat diakhiri dengan “voting” tentang apa penyebab semburan lumpur itu. Kepada para hadirin diberikan empat pilihan: (1) Gempa sebagai pemicu, (2) Pengeboran sebagai pemicu, (3) kombinasi gempa dan pemboran sebagai pemicu, dan (4) baik gempa maupun pengeboran tidak meyakinkan (inconclusive).

Hasil dari voting itu adalah, 3 orang memilih gempa sebagai pemicu, 42  pemboran, 13 kombinasi, dan 16 inconclusive.

Mana yang Benar secara ilmiah?

Apa yang terjadi di dalam forum AAPG di Capetown itu telah menjadi pembicaraan yang hangat dan seru di iagi-net. Pembicaraan via mail-list itu mempertanyakan keabsahan penentuan kebenaran ilmiah melalui voting. “Science is not democracy.” Kebenaran ilmiah tidak dapat ditentukan dengan voting melainkan dengan fakta-fakta yang mendukungnya. Dan, akhirnya diskusi mengarah pada pertanyaan tentang “Apa itu kebenaran ilmiah?”

Kebenaran Ilmiah

Berikut ini saya kutipkan apa yang ditulis oleh Prof. R.P. Koesoemadinata dalam iagi-net pada tanggal 31 Oktober 2008, dengan sedikit editing yang tidak merubah makna dari tulisan itu.

Apakah sebenarnya yang dinamakan kebenaran ilmiah? Walaupun science berusaha untuk mencapai kebenaran hakiki, namun pada hakekatnya kebenaran ilmiah adalah sesaat tergantung pada data-data hasil pengamatan yang ada pada waktu itu. Ini sudah masuk pada realm Philosophy of Science. Sebagaimana dikatakan Karl Popper, seorang science philosopher/historian, semua teori ilmiah akan tumbang pada sesuatu waktu dan akan digantikan oleh teori baru, karena science yang sehat harus selalu berusaha (mengatasi) apa yang dia namakan sebagai ‘falsification’. Pelaku science harus terus menerus selalu berusaha menjatuhkan/menyalahkan (falsification) teori yang berlaku.  Thomas S. Kuhn, (1962) seorang ahli fisika dan history of science terkenal dengan  dengan bukunya “The Structure of Scientific Revolutions” dan pencetus istilah “paradigm” juga mengemukakan hal yang serupa, bahkan pada perioda apa yang dinamakannya sebagai ‘normal science’ terdapat selain teori, tetapi juga suatu paradigm suatu set cara-cara dan metoda2 yang diterima oleh masyarakat ilmiah sebagai kebenaran.

Dengan demikian dalam science apa yang dianggap benar itu adalah teori ataupun ‘fakta’ yang dapat diterima oleh majoritas masyarakat ilmiah, bukan absolute truth. Jadi suatu teori atau gejala yang terus menerus muncul dan digunakan serta dikutip dalam publikasi ilmiah itulah yang dianggap benar karena telah diterima oleh masyarakat. Banyak teori yang menarik seperti kepunahan masal yang disebabkan benturan meteor atau juga disebut ‘neo-catastrophism’ kelihatannya belum terlihat dalam majalah-majalah ilmiah seperti AAPG, GSA, Geological Society, dan kelihatannya belum diterima oleh masyarakat ilmiah  walaupun sudah banyak ditayangkan di National Geographic dan Discovery Channel.

Jadi suatu kebenaran ilmiah adalah sesuatu yang dapat diterima oleh majoritas masyarakat ilmiah pada suatu saat. Maka metoda jajak pendapat (voting) di antara para ahli adalah sah-sah saja untuk mengetahui pendapat yang didukung oleh majoritas sekelompok pakar yang terkemuka. Dalam hal perdebatan ilmiah tentu saja tidak bisa polling dilakukan terhadap khalayak ramai yang awam akan ilmu yang diperdebatkan, tentu harus terhadap pakar yang mengikutinya.  Sebaliknya saya kira suatu keputusan yang dikeluarkan oleh suatu instansi atau hasil suatu seminar sekelompok pakar yang terpilih/pantia perumus tidak dapat serta merta dinyatakan sebagai kebenaran ilmiah. Boleh jadi kesimpulan/keputusan itu sebetulnya tidak dapat diterima oleh majoritas masyarakat ilmiah yang mengikuti seminar itu. Suatu teori untuk dapat diterima oleh majoritas masyarakat ilmiah sering memerlukan waktu yang lama. Sebagai contoh teori plate-tectonics yang sekarang dianggap bukan lagi teori tetapi sebagai fakta ilmiah, konon katanya memerlukan waktu 50 tahun.

Penutup

Sampai saat ini, belum dapat ditentukan pendapat mana yang benar secara ilmiah. Kita hanya dapat menunggu pendapat mana yang banyak dirujuk oleh tulisan ilmiah di dalam berbagai jurnal ilmiah terkemuka.

Sekarang, yang perlu segera dilakukan adalah menghentikan penderitaan masyarakat yang terkena musibah genangan lumpur tersebut tanpa harus menunggu dicapainya kebenaran ilmiah tentang penyebab semburan lumpur itu. Pemerintah bertanggungjawab untuk menyelesaikan masalah ini, terlepas dari persoalan apa pencetus terjadinya semburan lumpur itu.

Posted in Dari Indonesia untuk Dunia, Semburan Lumpur | Dengan kaitkata: , , , | Leave a Comment »

Menghentikan Semburan Lumpur Sidoarjo dengan Bola-bola Beton: bisakah?

Posted by wahyuancol pada Maret4, 2007

Berkaitan dengan upaya penanggulangan semburan lumpur Sidoarjo, mari kita simak kutipan berita Kompas Cyber Media hari ini Minggu 4 Maret 2007 di bawah ini:

Terkait dengan penanggulangan lumpur panas, kemarin sebanyak 33 rangkaian bola beton dimasukkan ke dalam pusat semburan. Rangkaian bola beton yang masuk ke pusat semburan ini terbanyak dibandingkan hari-hari sebelumnya. Dengan masuknya 33 rangkaian bola beton, berarti sudah 78 rangkaian bola beton telah masuk ke dalam pusat semburan.

Alat detektor tekanan yang dimasukkan ke pusat semburan, Kamis lalu, telah keluar. Dengan keluarnya alat detektor ini, berarti kedalaman lubang semburan itu mencapai 300 meter.

Selain dengan alat detektor, anggota Tim Supervisi dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Institut Teknologi Bandung Satriya Bijaksana mengatakan, tim mencoba menalikan benang ukur ke salah satu rangkaian bola beton untuk mengetahui kedalaman semburan lumpur. “Ternyata sampai benang habis, yakni sekitar 1.000 meter, bola beton itu terus masuk ke dalam lubang. Berarti bisa diartikan bola beton masuk sampai lebih dari kedalaman 1.000 meter,” ujar Satriya. (APA)

*************

Saya membayangkan, bila lubang saluran semburan lumpur jauh melebihi besarnya diamater bola-bola beton itu, maka bola-bola beton yang berat itu dapat jatuh bebas sampai ke dasar “kantong” lumpur. (Karena bola-bola itu dirancang agar tidak dapat disemburkan keluar oleh daya dorong semburan lumpur) — ini berarti bola-bola beton tidak dapat menghambat semburan lumpur.

(Pada awal kejadian, mungkin lubang saluran semburan lumpur kecil, sebesar lubang bor. Tetapi setelah dilalui oleh sumpur bertekanan sedemikian banyak, maka sangat mungkin terjadi penggerusan dinding saluran sehingga saluran membesar).

Kemudian, bila “kantong” lumpur yang ada jauh di dalam bumi ternyata memiliki ruang yang sangat luas untuk dapat menampung bola-bola beton yang jatuh itu, maka bola-bola beton itu akan tersebar di dasar “kantong” lumpur. Benar bahwa bola-bola beton itu diikat satu sama lain dengan tali, tetapi ikatannya berbentuk rentengan dan tali antara bola satu dengan berikutnya cukup panjang (ini seperti kita memasukkan kelereng ke dalam sumur) — ini juga berarti lumpur akan tetap bebas untuk disemburkan ke permukaan.

(Lumpur dan air yang disembukan sedemikian banyak dan sampai sekaran belum ada indikasi akan berhenti, keadaan itu membayangkan adanya suatu ruang yang sangat besar yang membuat bola-bola beton yang masuk ke dalamnya menjadi tidak berarti)

Pertanyaan selanjutnya, bila apa yang saya bayangkan itu benar, maka berapa banyak bola beton yang harus kita masukkan ke dalam bumi agar dapat menghentikan semburan lumpur?

Salam dari Ancol, 4 Febuari 2007

Wahyu

Posted in Semburan Lumpur | Dengan kaitkata: , , , | Leave a Comment »

Menanti Perundingan Lumpur Sidoarjo

Posted by wahyuancol pada Februari26, 2007

Setelah pemblokiran jalan tol dan rel kereta api dibubarkan polisi, pada Sabtu 24 Febuari 2006 sore dikabarkan oleh SuaraSurabaya.net bahwa warga Perum TAS I akan berunding membahas bantuan dari Lembaga bantuan Hukum (LBH) Surabaya yang menyatakan bersedia akan melakukan pendampingan terhadap korban luapan lumpur Lapindo warga TAS untuk upaya litigasi. AGUSTINUS diantara tim perunding warga korban lumpur mengatakan, tawaran LBH sementara ini akan dibicarakan malam ini di penampungan Pasar Baru Porong. Selain membicarakan tawaran LBH nantinya dalam perundingan ini akan membahas persiapan-persiapan menjelang rencana perwakilan yang akan ditemui JUSSUF KALLA Wakil Presiden (Wapres) di Surabaya. Menurut rencana, Senin (26/02) lusa (hari ini), Wapres akan menemui perwakilan warga untuk membicarakan tuntutan cash and carry. Jika Senin lusa pemerintah yang diwakili Wapres tidak bisa memberikan kepastian tentang ganti rugi cash and carry, bisa saja warga akan melakukan blokade yang sama seperti sebelumnya. Rencananya yang akan diblokade jalan menuju Bandara Internasional Juanda. Demikian berita dari ssnet, 24 Februari 2007, 18:47:48.

Sebenarnya, yang dituntut warga adalah ganti rugi (ganti atas kerugian yang diderita). Sederhana. Tetapi persoalan menjadi rumit karena siapa yang harus membayarkan ganti rugi itu. PT Lapindo Brantas tidak mencantumkan Perumahan Tanggulangin Anggun Sejahtera (Perumtas) dalam daftar wilayah yang mendapatkan ganti rugi, walaupun perumahan itu juga tenggelam dalam Lumpur. Manajer Sumber Daya Manusia PT Lapindo Sebastian Ja’afar saat dialog dengan 16 perwakilan Perumtas mengatakan, Pedoman soal ganti rugi hanya pada peta yang dikirimkan Timnas (tim nasional penganggulangan lumpur Lapindo) pada 4 Desember lalu. Pada peta itu, desa-desa yang mendapat ganti rugi adalah Jatirejo, Siring, Renokenongo dan Kedungbendo (non perum TAS). Juru Bicara Warga Perumtas Yohanes Imam Sumadi mengatakan, “Sejak pipa meledak Perumtas mulai terkena lumpur, jadi peta yang dibuat timnas sebenarnya tidak sesuai,” kata Juru Bicara Warga Perumtas Yohanes Imam Sumadi.

Sementara Lapindo tetap berpegang pada hasil kesepakatan sebelumnya, dan warga tetap pada tuntutannya karena kenyataannya memang mereka tergenang lumpur, ternyata Pemerintah tidak mengambil tindakan apapun. Karena itu bisa dimengerti bila warga Perum TAS merasa terombang-ambing tanpa kepastian nasib., dan kemudian mereka memakai bahasa yang lebih keras untuk menyuarakan tuntutan mereka. Itulah yang kemudian mencetuskan kegiatan pemblokiran jalan tol dan rel kereta api beberapa hari yang lalu.

Secara hukum, Lapindo tidak dapat disalahkan, karena mereka telah memenuhi kesepakatan. Namun, kenyataan di lapangan, Perum TAS tergenang lumpur dan warganya sekarang tinggal di pengungsian. Melihat desa-desa lain mendapat ganti rugi, maka wajar bila warga Perum TAS juga menuntut ganti rugi. Seharusnya, menghadapi situasi ini pemerintah turun tangan.

Pembuatan peta kawasan yang akan mendapat ganti rugi, yang disepakati pada tanggal 4 Desember 2006, sangat tergesa-gesa, dan belum memperhitungkan kondisi semburan lumpur yang belum dapat dipastikan kapan berhentinya. Itu suatu keteledoran. Seharusnya keteledoran itu menjadi tanggungjawab pemerintah, karena pemerintah melalui Timnas yang menyodorkan peta itu kepada Lapindo untuk disepakati.

Di waktu-waktu yang akan datang. Bila upaya menghentikan atau mengurangi semburan lumpur dengan bola-bola benton gagal. Sangat mungkin bila kawasan genangan lumpur akan makin meluas melampaui luas kawasan genangan yang sekarang. Seharusnya, kemungkinan ini diperhitungkan dalam menetapkan kawasan yang mendapat ganti rugi atau dalam menentukan tindakan lain terkait dengan upaya penanganan semburan Lumpur Sidoarjo.

Salam dari Ancol, 26 Febuari 2007
Wahyu

Posted in Semburan Lumpur | Dengan kaitkata: , , , , , , | Leave a Comment »