Kepulauan Indonesia

Cerita dari, untuk dan tentang Kepulauan Indonesia beserta Penghuni dan Penduduknya

Posts Tagged ‘Sampah’

Jakarta Under Water

Posted by wahyuancol pada Januari18, 2013

Kemaren, Kamis 17 Januari 2013, Kota Jakarta dilanda banjir yang menggenangi sebagian besar kawasan kota itu. Banjir bahkan mencapai istana negara, dan acara penerimaan tamu negara, Presiden Argentina, sempat ditunda. Presiden sempat turun ke lapangan meninjau daerah banjir di Kali Ciliwung dengan mempergunakan Sea Rider. Gubernus DKI mengkoordinir kegiatan penanganan dampak banjir langsung dari lapangan. Sekolah-sekolah dan kantor-kantor banyak yang diliburkan. Tanggap darurat banjir diumumkan oleh Gubernur DKI sampai tanggal 27 Januari 2013.

Banjir dimulai dengan siraman hujan lebat yang dimulai sekitar jam 02 dini hari. Setelah itu, air perlahan naik dan menggenangi berbagai kawasan kota Jakarta. Sebelum jam 08 pagi, para pekerja masih dapat mencapai kantor; setelah jam itu, lalu lintas kota lumpuh (Gambar 1). Banyak pegawai atau pekerja yang kembali sebelum sampai ke tempat kerjanya; dan yang sudah sampai berusaha pulang, meskipun dengan berjalan kaki. Ada juga yang memilih menginap di kantor dan pulang di pagi harinya. Militer mengerahkan truknya sebagai alat angkut menggantikan transportasi kota yang lumpuh. Kereta commuter line dari Bekasi hanya sampai Jatinegara, dan yang dari Bogor sampai Manggarai. Sore hari genangan banjir mulai surut, tetapi belum sampai habis semua genangan.

Banjir Bundaran HI Dari Atas Gedung

Gambar 1. Banjir di Bundaran Hotel Indonesia.

(Sumber: http://foto.detik.com/readfoto/2013/01/17/134103/2144944/157/2/banjir-bbanjir-bundaran-hi-dari-atas-gedung)

Banjir tahun ini lebih parah dari pada banjir tahun 2007 dan 2002. Jalan protokol dan istana negara sempat tergenang banjir. Kondisi ini terjadi antara lain karena jebolnya tanggul Kanal Banjir Barat di Latuharhari sepanjang 10 m. Gubernus DKI mengkoorinir langsung upaya memperbaiki tanggul yang jebol itu. Di malam hari, tersiar kabar bahwa tanggul telah diperbaiki.

Pada banjir kali ini sebuah peristiwa yang dramatis lain terjadi. Air banjir masuk membanjiri basement gedung UOB dan menjebak 4 orang pekerja kebersihan.

Di hari kedua, Jum ‘at 18 Januari 2013, sebagian besar daerah genangan banjir di hari pertama masih ada. Di pagi hari transportasi kota masih belum beroperasi. Menjelang siang, beberapa jalur busway bisa dioperasikan. Untuk kantor-kantor yang tidak tergenang banjir, pegawai-pegawainya adanyang masuk untuk bekerja. Namun, tanggul di Latuharhari jebol kembali dengan bukaan sepanjang 30 m. Gubernus DKI meminta bantuan kepada pihak swasta untuk memperbaiki tanggul itu.

—————————–

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika memberitakan bahwa curah hujan yang terjadi di Jakarta pada saat banjir kali ini lebih rendah daripada curah hujan yang terjadi ketika bannir di tahun 2007. Ini artinya bahwa kontribusi curah hujan di tahun 2013 lebih kecil daripada di tahun 2007. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa, sebagai penyebab banjir, kontribusi aliran sungai yang berhulu di daerah Bogor lebih besar daripada kontribusi curah hujan. Di lapangan, aliran Kali Ciliwung meluap.

Di Kota Jakarta sendiri bukan tidak ada masalah yang turut menyebabkan banjir lebih parah. Sampah yang tidak tertangani dengan baik dan sistem drainase kota yang buruk tidak disangkal lagi menyumbang bagi buruknya kondisi banjir tahun ini. Selain itu, jebolnya tanggul Kanal Banjir Barat berkontribusi nyata bagi terjadinya genangan banjir di jalan Thamrin sampai ke istana negara.

—————————-

Ketika musim hujan datang dan banjir seperti sekarang ini, Bendungan Katulampa di Bogor mendapat perhatian yang tinggi (Gambar 2). Ketinggian airnya dipantau 24 jam dan terus menerus dilaporkan perkembangannya kepada khalayak umum. Hal itu karena volume air yang datang dari bendung itu menentukan kondisi banjir di Jakarta. Bagi pengendalian banjir di Jakarta, bendungan tersebut memegang peran yang sangat vital.  Muncul di dalam pikiran, apa yang akan terjadi dengan Kota Jakarta bila bendungan itu jebol di saat seperti sekarang ini? Rasanya sudah waktunya pula kita memikirkan kondisi bendungan tersebut, karena bendung itu adalah buatan Belanda dahulu dan umurnya sudah tua. Bendung Katulampa dibuat oleh Belanda pada tahun 1911 dan diresmikan tahun 1912. Berarti tahun ini genap 100 tahun umur bendung tersebut.

Gambar 2. Bendungan Katulampa. Keselamatan Jakarata dari bencana banjir sangat ditentukan oleh kondisi bendungan ini.

(Sumber: http://news.detik.com/read/2013/01/18/220704/2146941/10/kata-belanda-katulampa-bagian-pengendalian-banjir-batavia?nd772205mr)

—————————

Hari ini, Sabtu 19 Januari 2013, adalah hari ketiga sejak banjir yang melumpuhkan Jakarta. Kota Jakarta terasa hangat meski mendung putih menutupi kota. Cuaca yang cerah sudah terlihat tadi malam. Langit bersih dengan bintang-bintang dan bulan sabit. Sebagian besar angkutan umum, termasuk busway telah beroperasi kembali, menandakan Jakarta telah berdenyut kembali meskipun beberapa kawasan masih tergenang banjir. Pelayanan kereta api masih terganggu. Secara umum, genangan banjir di Jakarta telah surut. Namun di daerah Penjaringan banjir masih tinggi dan ada kecenderungan naik.

Musim hujan masih akan berlangsung sampai Februari. Kondisi bulan purnama akan terjadi pada tanggal 27 Januari 2013. Ada yang memprediksi bahwa pada tanggal tersebut kemungkinan banjir akan datang kembali. Prediksi itu bisa menjadi kenyataan bila tanggal 25 dan 26 Januari 20113 terjadi curah hujan yang tinggi di Bogor dan Jakarta. Apabila tidak ada curah hujan yang tinggi di kedua kawasan tersebut, maka hanya akan terjadi banjir pasang-surut biasa di bagian utara Jakarta.

Semoga prediksi itu tidak menjadi kenyataan. Amin.

——————————

Hari ini, Minggu 20 Januari 2013, daerah Pluit, Penjaringan menjadi fokus perhatian dalam penanganan masalah banjir di Jakarta. Sementara di kawasan lain genangan banjir telah surut, genangan banjir di Penjaringan meningkat ketinggiannya. Hari ini  genangan masih mencapai lebih dari 1,5 m. Bagi kawasan Penjaringan, banjir kali ini adalah yang terburuk dalam sejarah kawasan itu. Untuk mempercepat penanganan masalah banjir di kawasan Pluit, Marinir TNI AL mengerahkan 3 kendaraan angkut amfibi yang dipergunakan untuk evakuasi, dan penyebaran bantuan logistik.

Pada hari ini, perbaikan tanggul di Latuharhary selesai dengan tanggul sementara. Upaya mencari pekerja yang terjebak di basement gedung UOB juga selesai, dengan 2 orang ditemukan selamat dan 2 orang tewas.

Presiden mengunjungi pengungsi banjir di daerah Jatinegara. Saat tulisan ini di-update, Menteri PU sedang memberikan penjelasan tentang program penanganan banjir Jakarta kepada Presiden di lapangan. Di sebutkan beberapa kali bahwa salah satu masalah utama dalam upaya penangulangan banjir adalah masalah pembebasan lahan.

Ada yang menarik, Presiden mengoreksi menterinya dalam berbahasa Indonesia. Pak menteri menyebutkan Banjir Kanal Barat, dan dikoreksi oleh Presiden bahwa dalam Bahasa Indonesia yang benar adalah Kanal Banjir Barat.

Pada penjelasan Menteri PU tersebut disampaikan beberapa rencana: (1) Penyelesaiam Kanal banjir Barat, (2) Sodetan dari Kali Ciliwung ke Kanal Banjir Timur, (3) Pembuatan Waduk Ciawi, (4) Terowongan bawah tanah serba guna, dan (4) Tanggul lepas pantai di Teluk Jakarta.

Setelah penjelasan Menteri PU, kemudian diadakan rapat tertutup antara Presiden, beberapa menteri terkait, Gubernur DKI, Ketua BNBP. Setelah pertemuan itu, Presiden mengumumkan pada konferensi pers bahwa prioritas upaya mengatasi banjir di Jakarta adalah: (1) Membuat sodetan dari Kali Ciliwung ke Kanal Banjir Timur; kegitan ini ditanggung oleh Pemerintah Pusat dan diharapkan selesai pertengahan 2014, dan (2) Menata aliran Kali Ciliwung; kegiatan ini ditanggung bersama antara Pemerintah Pusat dan Pmda DKI.

Pada kesempatan ini Presiden juga menyinggung masalah sampah. Diperlukan kerjasama masyarakat luas untuk mengatasi masalah sampah ini.

Semoga berhasil.

——————————-

Hari Senin 21 Januari 2013, fokus utama penanganan banjir di daerah Pluit. Air masih menggenangi jalan-jalan di kawasan itu. Selain masalah pertolongan korban banjir, di media massa muncul berita tentang penjarahan meski terbatas, dan orang mulai menghitung-hitung kerugian karena banjir.

Hari Selasa 22 Januari 2013, banyak perhitungan kerugian karena banjir muncul. Menurut Gubernur DKI, kerugian akibat banjir mencapai Rp 20 triluyun. Sedang BNBP menyebutkan 20 korban jiwa dan 50.000 pengungsi (Sumber: http://news.detik.com/read/2013/01/22/182253/2149936/10/jokowi-kerugian-akibat-banjir-jakarta-rp-20-triliun?nd771104bcj). Jalan berlubang yang terjadi karena banjir menyebabkan kecelakaan yang menewaskan pengendara sepeda motor.

Hari Rabu 23 Januari 2013, mulai dilihat dampak banjir terhadap kegiatan industri di Jakarta.

Salam,

WBS

Berikut adalah peta resmi banjir Jakarta:

Peta tanggal 17 januari 2013

Sumber: http://tekno.kompas.com/read/xml/2013/01/17/15432676/Ini.Dia..Peta.Digital.Resmi.Banjir.Jakarta

Peta tanggal 18 Januari 2013

(Sumber:http://www.aifdr.org/wp-content/uploads/2013/01/Jakarta_flood_18_1_13_0600.jpg )

Iklan

Posted in Banjir, PROSES (BENCANA) ALAM | Dengan kaitkata: , , , , , , , , , , , | Leave a Comment »

Banjir, Deep Tunnel dan Sampah di Jakarta

Posted by wahyuancol pada Januari6, 2013

Mengawali awal tahun 2013, salah satu hal yang hanyat dibicarakan di musim angin barat dan hujan yang dingin di Jakarta adalah masalah banjir, deep tunnel dan sampah. Tentang banjir dan deep tunnel telah cukup banyak di uraikan oleh Majalah (Digital) Detik Edisi 57 (31 Des 2012 – 6 Januari 2013). Di akhir tulisan itu disinggung masalah sampah yang akan menjadi salah satu persoalan di dalam sistem deep tunnel. Pada kesempatan ini saya akan menyampaikan pikiran tentang masalah sampah ini.

Disebutkan bahwa membuang sampah ke sungai telah menjadi kebiasaan warga Jakarta. Demikian disampaikan oleh Muhammad Hasan, Dirjen Sumberdaya Air Kementerian PU di dalam artikel Majalah Detik itu.

Sekarang mari kita coba cermati masalah sampah ini.

Pertama, masyarakat membuang sampah ke sungai karena itu cara yang termudah bagi meraka untuk membuang sampah. Dapat dipastikan bahwa sampah yang masuk ke sungai itu adalah sampah yang tidak tertangani oleh dinas kebersihan kota Jakarta. Bagi masyarakat yang tinggal di pemukiman kumuh dengan lorong-lorong sempit di tepi sungai, membuang sampah memerlukan upaya yang lebih banyak dibandingkan membuangnya ke sungai. Untuk kelompok masyarakat ini memang diperlukan upaya penyadaran untuk tidak membaung sampah ke sungai, dan upaya yang lebih dari dinas kebersihan kota untuk menjangkau mereka. Selain itu, fasilitas penampungan sampah sebelum diangkut oleh petugas kebersihan perlu diperbanyak hingga menjangkau mereka.

Kedua, masuknya sampah ke sungai merupakan cermin dari kurangnya kemampuan dinas kebersihan kota menangani sampah kota. Kurangnya kemampuan dinas kebersihan itu berkaitan dengan kurangnya personil, kurangnya peralatan kerja mereka, dan cara pengelolaan sampah di tempat pembuangan sampah akhir. Kurangnya personil dapat dilakukan dengan merekrut tenaga kebersihan yang banyak sesuai dengan kebutuhan. Mungkin bekerja sebagai tenaga kebersihan untuk mengurus sampah kota bukan pekerjaan yang menarik pada saat ini. Untuk merubah kondisi ini, setidaknya ada dua hal yang dapat dilakukan: (1) naikkan gaji tenaga kebersihan kota sehingga banyak orang akan tertarik untuk bekerja sebagai tenaga kebersihan; (2) ubah penampilan sehari-hari tenaga kebersihan kota ketika berdinas sehingga mereka tampak menarik, berwibawa  dan mereka sendiri bangga dengan penampilannya ketika berdinas, seperti tenaga pemadam kebakaran atau Satpol PP.

Terkait dengan peralatan kerja, beri mereka peralatan yang canggih dan banyak jumlahnya. Salah satu contohnya adalah truk pengangkut sampah. Sediakan truk pengangkut sampah dalam jumlah banyak. Truk-truk pengangkut sampah yang rusak agar diganti dengan yang baru atau diperbaiki. Dengan truk dalam jumlah banyak diharapkan tidak ada sampah yang tidak terangkut pada waktunya. Dengan truk pengangkut sampah yang baik diharapkan tidak ada sampah yang tercecer atau bau yang menyebar kemana-mana ketika sampah itu tiangkut.

Terkait dengan pengelolaan sampah di lokasi pembuangan sampah akhir, mungkin perlu diupayakan cara yang lebih cepat untuk memusnahkan sampah, atau mengkonversinya.

Perlu dipikirkan cara pemusnahan sampah dengan pemusnah sampah yang bergerak. Dengan cara ini, sampah tidak perlu lagi diangkut dalam jumlah besar ke suatu tempat tertentu yang jauh sehingga pemusnahan sampah bisa dilakukan lebih cepat.

Demikian pemikiran awal tahun tentang masalah sampah di Jakarta.

Salam,

WBS

Posted in Banjir | Dengan kaitkata: , , , , , , | 1 Comment »

Rumitnya Masalah Banjir di Jakarta 2: perlukah seorang diktator?

Posted by wahyuancol pada November14, 2009

Sekarang Jakarta mulai memasuki musim hujan. Persoalan rutin yang seakan tanpa ujung penyelesaian kembali muncul, yaitu banjir. Musim hujan ini dan banjir yang berasosiasi dengannya di Jakarta ini sesungguhnya menjadi bukti kita warga Jakarta belum tahu bagaimana bersyukur terhadap nikmat yang diberikan Tuhan sehingga nikmat itu berubah menjadi bencana.

Kemarin sore, Jum’at 13 Nopember 2009, saya sempat mengamati salah satu lokasi banjir di Matraman. Banjir di kawasan itu menjadi bukti bahwa mengelola drainase mikro adalah hal yang sangat penting bagi kawasan perkotaan.

Berikut tanggapan Pak Gubernur tentang banjir DKI:

Menurut Foke, penanganan banjir yang dilakukan Pemda DKI selama ini selalu terkendala oleh perilaku masyarakat sendiri yang tidak tertib. Tidak ada antisipasi masyarakat, terutama yang tinggal di bantaran sungai. Padahal warga tahu banjir selalu mengancam setiap musim penghujan.

Foke mencontohkan relokasi warga di bantaran sungai yang dipindahkan ke Rumah Susun (Rusun). Walaupun sudah dipindahkan ke rumah susun yang aman dari banjir, tetap saja mereka keukeuh tinggal di bantaran kali.

“Coba itu dicek di rusun Bidaracina. Mereka sudah pasti balik lagi ke bantaran kali di dekat Kampung Melayu,” ujarnya memberi contoh.

Kemudian, ini tanggapan dari Ketua Forum Warga Jakarta:

“Kenapa Jakarta bisa tergenang, ini menunjukan saluran mikro drainase tidak beres. Ini kan aneh, anggaran PU tiap tahun mengalami kenaikan, tapi tidak ada hasilnya. Kepala Dinas PU harus dipecat,” ujar Ketua Forum Warga Kota Jakarta (Fakta) Azaz Tigor Nainggolan.

Hal itu dikatakan Tigor saat dihubungi detikcom, Sabtu (14/11/2009).

Tigor menjelaskan pemerintah memang telah berusaha membangun jaringan drainase besar seperti banjir kanal timur, tetapi jika drainase mikro di seluruh Jakarta tidak dibenahi, maka dipastikan setiap hujan turun, Jakarta akan tergenang dan kemacetan akan terjadi di mana-mana.

Advokat publik ini menambahkan masih banyak kekurangan penataan Kota Jakarta. Banyak bantaran kali yang belum diberi pembatas, sehingga air langsung melupa begitu hujan turun.

“Seperti di dekat Matraman itu, di Jl Pramuka ada kali kecil, tidak ada pembatasnya. Ditambah lagi penerangan sangat kurang,” jelasnya.

Tigor pun meminta agar masyarakat Jakarta berhenti membuang sampah di kali-kali. Namun Dinas Kebersihan juga dituntut bekerja untuk mengelola sampah dengan baik.

————————-

Dari dua kutipan berita diatas kita bisa melihat persoalan banjir di Jakarta ternyata bukan semata masalah genangan air belaka, tetapi masalah manajemen kota dan mental warganya.

Berikut ini beberapa hal yang patut dicatat:

  1. Banjir di Jakarta dapat dibedakan menjadi 3 macam banjir:
    1. Banjir yang berkaitan dengan aliran sungai. Banjir ini melanda daerah yang sering kita sebut sebagai daerah bantaran sungai. Banjir tipe inilah yang dibicarakan oleh Bapak Gubernur yang beritanya kita kutip di atas. Banjir ini berkaitan dengan kondisi cutah hujan di daerah Bogor. Sering terjadi di Jakarta tidak hujan dan banjir tipe ini terjadi karena di Bogor hujan lebat. Banjir tipe ini diperburuk dengan buruknya kondisi alur sungai-sungai yang ada di Jakarta, dan warga yang berkeras tinggal atau membangun di bantaran sungai.
    2. Banjir yang berkaitan dengan buruknya kondisi drainase kota. Banjir inilah yang saya saksikan kemaren sore dan malam, dan seperti yang dibicarakan oleh Ketua Forum Warga Jakarta yang beritanya juga kita kutip di atas. Banjir ini tidak berkaitan dengan aliran sungai utama, apalagi dengan hujan di Bogor. Banjir ini terjadi bila di Jakarta terjadi curah hujan tinggi. Drainase kota yang buruk menyebabkan air permukaan tidak dapat segera masuk ke aliran sungai tetapi mengaliur ke pemukiman warga dan menggenangi jalan-jalan. Buruknya kondisi drainase kota bisa karena drainase tidak memadai (sehingga perlu ditambah atau diperbesar), drainase rusak (perlu diperbaiki), drainase tersumbat sampah atau endapan pasir (perlu dibersihkan). Banyak kita lihat drainase tertutup sehingga kita tidak tahu bagaimana kondisinya, apakah berfungsi atau tersumbat (jawaban baru kita ketahui ketika hujan turun).
    3. Banjir yang terjadi karena pasang surut air laut. Banjir ini terjadi di pesisir utara Jakarta dan terutama terjadi pada saat bulan mati atau bulan purnama.
  2. Ketiga tipe banjir itu dapat terjadi secara terpisah di waktu yang berbeda,  maupun bersama-sama di waktu yang sama. Ketiga tipe banjir ini terjadi bersama ketika musim hujan telah terjadi merata di kawasan Jakarta dan Bogor dan pada saat bulan mati atau purnama. Hal itu biasanya terjadi di bulan Januari dan Februari setiap tahun.
  3. Karena ketiga tipe banjir itu memiliki karakter yang berbeda, maka penanganannya pun tentu harus berbeda pula.
  4. Berkaitan dengan masalah sampah, persoalan ini mengarah kepada dua pihak, pertama, masyarakat atau penduduk yang membuang sampah; dan ke-dua, pemerintah yang bertanggungjawab menangangi sampah.
    1. Persoalan yang ada pada penduduk atau masyarakat yang sering didengungkan adalah mereka membuang sampah sembarangan sehingga sampah masuk ke saluran drainase dan aliran sungai. Penduduk atau masyarakat tentu tidak sepenuhnya salah juga, karena pihak pemerintah sendiri belum mampu menangani seluruh sampai dari penduduk
    2. Persoalan yang ada pada pemerintah daerah adalah bahwa pemerintah tidak dapat melayani masyarakat membuang seluruh sampah yang dihasilkan masyarakjat setiap hari. Tidak seluruh sampah dari masyarakat dapat dilayani oleh pemerintah daerah untuk dibuang. Alasan yang sering dinyatakan dalam masalah ini adalah armada pengangkut sampah kurang, dan problem berkaitan dengan tempat pembuangan sampah. Persoalan tempat pembuangan sampah di Bantargebang antara Pemda DKI dan Pemda Bekasi menunjukkan masalah sampah belun serius ditangani.
  5. Tentang masalah saluran drainase yang penuh dengan endapan pasir, sulit menyelesaikan masalah ini selama kita masih melihat banyak tanah atau pasir yang berserakan di jalanan Jakarta.
  6. Tentang banjir pasang surut, banjir ini berasosiasi dengan fenomena subsiden atau turunnya permukaan tanah. Pesatnya pembangunan fisik di Jakarta bagian utara yang tercermin dari banyaknya gedung, rumah dan jalan-jalan semakin membuat banjir pasang surut semakin parah karena semua pembangunan fisik di kawasan tepi pantai hakekaknya menambah beban fisik terhadap lahan yang beluk cukup mengalami kompaksi.

Posted in Banjir, PROSES (BENCANA) ALAM | Dengan kaitkata: , , , , , , , | 4 Comments »

Rumitnya Masalah Banjir di Jakarta

Posted by wahyuancol pada Februari4, 2007

Banjir dapat dipastikan terjadi setiap tahun di Jakarta pada bulan Januari-Febuari. Meskipun demikian, persoalan itu sangat rumit untuk diselesaikan. Mengapa? Persoalannya ternyata tidak hanya berkaitan dengan kondisi alam, tetapi juga menyangkut hubungan antar daerah yang makin diperumit oleh otonomi daerah. Sikap masyarakat pun ternyata juga menjadi masalah tersendiri.

Banjir benar-benar telah melanda Jakarta. Bila kemaren Jum’at 2 Febuari 2007 Jakarta dinyatakan Siaga III, maka pada hari Sabtu 3 Febuari 2007 telah dinyatakan Siaga I dalam menghadapi masalah banjir. Banjir kali ini mengingatkan kita pada banjir pada tahun 2002 yang lalu. Siklus banjir lima tahunan telah datang.Dengan banjir ini, berbagai upaya mengatasi masalah banjir yang telah dilakukan dalam kurun waktu 5 tahun (2002 – 2007) seakan tidak ada artinya. Berbagai pernyataan yang muncul sebelumnya tentang kesiapan menghadapi banjir, telah terbukti hanya isapan jempol belaka.

Persoalan banjir di Jakarta tidak mungkin diselesaikan oleh Jakarta sendiri. Sama-sama kita ketahui bahwa air yang datang melanda Jakarta datang dari Bogor. Kenyataan ini adalah hal yang tidak mungkin di nafikan. Setiap musim hujan tiba, volume air yang datang dari Bogor tidak sanggup ditampung oleh sistem aliran sungai yang melintas di Jakarta. Keadaan ini terekspresikan dengan hadirnya Banjir. Berbagai ide untuk menyelesaikan masalah banjir di jakarta ini sebenarnya telah dikemukakan. Perlunya upaya yang terpadu untuk mengatasi masalah banjir di Jakarta juga telah diungkapkan sejak lama oleh para ahli. Tetapi semua usulan yang diajukan itu kandas.

Mengapa???

Mari kita simak artikel di bawah ini yang saya kutip dari Kompas Cyber Media, Sabtu, 3 Febuari 2007.
******************


Banjir Jakarta Perlu Solusi Terintegrasi

(Pembuka artikel dihilangkan)
Pada tahun 2001, Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) merilis foto satelit mengenai perubahan penggunaan lahan di Bogor, terutama di daerah tangkapan air (catchment area) hulu Sungai Ciliwung, dari kawasan hijau yang diisi vegetasi menjadi kawasan terbangun. Setahun kemudian, banjir besar melanda Jakarta dan sekitarnya.
Data LAPAN, kawasan terbangun di daerah itu, yang pada 1992 hanya 101.363 hektar, pada 2006 naik dua kali lipat menjadi 225.171 hektar. Sedangkan kawasan tidak terbangun yang semula 665.035 hektar menyusut menjadi 541.227 hektar. Menurut Bambang S Tedjasukmana, Deputi Bidang Penginderaan Jauh LAPAN, di Bogor, permukiman meluas di sepanjang daerah tangkapan air Sungai Ciliwung. Limpahan penduduk dan aktivitas dari Jakarta menyebabkan perumahan, kawasan jasa dan perdagangan, serta industri terus menyebar ke Citeureup, sampai ke Depok. Di hulu, air hujan yang seharusnya terserap ke tanah justru mengalir ke sungai. Tidak ada lagi pepohonan yang menyimpan air di dalam tanah. Tidak ada lagi tanah yang terbuka untuk menyimpan air. Kawasan yang semula diperuntukkan untuk kawasan hijau telah berganti fungsi karena tuntutan perkembangan ekonomi kota. Fungsi konservasi lingkungan tidak lagi diperhatikan.

Di hilir, daerah aliran sungai yang masuk ke Jakarta pun dipadati oleh rumah-rumah penduduk dan bangunan lainnya. Bahkan, beberapa bagian badan sungai menyempit karena banyaknya rumah yang didirikan di atas sungai. Pengamatan Kompas, Sungai Ciliwung yang dulu lebarnya mencapai 40 meter, kini menyempit antara 13 meter sampai 20 meter. Kedalaman sungai di beberapa lokasi juga tinggal dua meter. Dengan kondisi itu, hujan dengan intensitas sedang di kawasan hulu atau bahkan hujan di dalam Kota Jakarta pun akan membuat Sungai Ciliwung langsung meluap. Banjir pun tidak terhindarkan di Jakarta.

Langkah terintegrasi

Menurut peneliti hidrologi dan rekayasa lingkungan Universitas Indonesia, Firdaus Ali, masalah banjir yang kompleks dari hulu sampai hilir membutuhkan penanganan yang terintegrasi, dari hulu sampai hilir juga.
“Menangani banjir di hilir tanpa memperbaiki kawasan hulu akan menjadi pekerjaan sia-sia karena limpahan air banjir dari hulu akan selalu lebih besar dari daya tampung sungai,” ujarnya.

Pada kondisi normal, kata Firdaus, debit air yang masuk Sungai Ciliwung sampai di Pintu Air Manggarai mencapai 28 meter kubik per detik. Sedangkan pada saat hujan lebat dan banjir, debit air melonjak sampai 200 meter kubik per detik. Fluktuasi debit air yang sangat tajam itu menandakan rendahnya daya serap air di hulu dan kecilnya daya tampung di hilir. Menanggapi kondisi itu, Kepala Dinas Pekerjaan Umum DKI Jakarta Wisnu Subagyo Yusuf mengemukakan, perbaikan kawasan hulu dengan reboisasi atau pembatasan pengalihan penggunaan lahan sulit dilakukan.

Otonomi daerah membuat pemerintah kabupaten dan kota di kawasan hulu lebih memilih peningkatan pendapatan asli daerah (PAD) dari pemberian izin untuk perumahan atau kawasan komersial. Oleh karena itu, ujar Wisnu, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta mengajukan dua usul pencegahan banjir di hulu. Kedua usulan itu adalah sudetan Sungai Ciliwung yang dihubungkan ke Sungai Cisadane dan membangun bendungan Ciawi di hulu Sungai Ciliwung. Kedua usulan itu bertujuan untuk mengatur debit air yang akan masuk ke hilir Sungai Ciliwung. Sudetan Sungai Ciliwung ke Sungai Cisadane dimaksudkan untuk mengalihkan debit air banjir Ciliwung ke sungai yang mengalir ke Tangerang itu. Daerah resapan air Cisadane yang relatif masih hijau dan badan sungai yang belum menyempit dinilai sanggup menampung limpahan air banjir dari Sungai Ciliwung.

Sayangnya, proyek yang rencananya akan didanai oleh Jepang itu ditolak oleh para pemuka masyarakat dan Pemerintah Kota Tangerang. Tanpa dilimpahi air dari Ciliwung, Sungai Cisadane pun sering menimbulkan banjir di Tangerang.

Mengingat otonomi daerah, Pemprov Jakarta tidak dapat memaksakan kehendaknya dan rencana itu batal. Rencana membangun bendungan Ciawi juga gagal. Pemprov DKI Jakarta yang bersedia membayar Rp 200 miliar untuk pembebasan lahan seluas 200 hektar justru tidak dapat menggunakan dananya. Dana APBD tidak dapat digunakan untuk pembangunan di luar wilayah administrasi, kecuali diberikan dalam bentuk hibah ke Pemerintah Kabupaten Bogor. Namun, karena tidak ada jaminan dari Pemerintah Kabupaten Bogor untuk menggunakan dana hibah guna membangun bendungan Ciawi, rencana itu akhirnya tidak pernah terwujud.

Di sisi hilir, kata Wisnu, Jakarta sangat mengandalkan Banjir Kanal Timur. Saluran yang saat ini sedang dalam masa pembebasan lahan diprediksikan dapat menampung limpahan air dari lima sungai utama di Jakarta dan melindungi kawasan seluas 270 kilometer persegi. Banjir Kanal Timur akan melengkapi Banjir Kanal Barat untuk menampung air dari 40 persen wilayah Jakarta yang lebih rendah dari permukaan laut. Air itu akan dialirkan dengan cepat ke laut dengan menggunakan sistem polder dan pompa.

Solusi

Direktur Tata Ruang dan Perumahan Bappenas Salysra Widya mengutarakan, permasalahan egoisme wilayah dalam menyusun langkah mengatasi banjir dapat dijembatani oleh pemerintah pusat. Jakarta, Bogor, Depok, dan Tangerang dapat duduk bersama dengan pemerintah pusat untuk merealisasikan ide rekayasa sungai dan pembatasan peralihan penggunaan lahan di kawasan daerah resapan air. Namun, Pemprov DKI Jakarta perlu memberikan kompensasi tertentu kepada pemerintah-pemerintah daerah yang bersangkutan agar mereka tetap dapat memperoleh PAD jika menjalankan rencana itu. Dengan demikian, semua daerah saling diuntungkan meskipun Jakarta harus mengeluarkan dana besar untuk itu.

Solusi di hulu harus berkesinambungan, antara pembatasan penggunaan lahan, reboisasi intensif, dan pembangunan bendungan. Jika hanya satu langkah yang dilaksanakan, langkah lain akan menjadi kurang efektif. Di hilir, selain pembuatan Banjir Kanal Timur, Firdaus mengusulkan pembuatan penampungan air bawah tanah dalam skala besar atau deep tunnel reservoir. Penampungan air bawah tanah, seperti yang diterapkan Chicago (Amerika Serikat) dan Singapura mampu menampung sekitar 200 juta meter kubik air dan dapat bertahan 125 tahun. Ide penampungan air bawah tanah adalah menampung semua limpahan air banjir dan limbah cair dari sanitasi lingkungan ke dalam bendungan bawah tanah. Air tampungan itu dapat diolah dan digunakan sebagai cadangan air baku bagi Jakarta.

Saat ini, kata Firdaus, Indonesia menghadapi perubahan iklim akibat pemanasan global. Perubahan iklim tersebut menyebabkan musim hujan lebih pendek, tetapi curah hujan lebih tinggi.Jika air tersebut tidak disimpan dalam penampungan yang besar, Jakarta akan terancam kekeringan dan banjir dalam waktu yang bergantian sepanjang tahun. Bencana yang akan semakin memiskinkan Indonesia. Biaya pembuatan penampungan air bawah tanah itu, menurut Firdaus, diperkirakan “hanya” memerlukan Rp 12 triliun. Jumlah tersebut masih terjangkau oleh APBD DKI Jakarta 2007 yang mencapai Rp 21,5 triliun. (Emilius Caesar Alexey)

******************

Sekarang, mari kita simak solusi yang diajukan itu. Apakah solusi membuat penampungan air bawah tanah akan berhasil?

Rasanya perlu kita pelajari lebih jauh kemungkinannya. Masalah yang dihadapi dalam pembuatan Banjir Kanal Timur mungkin dapat kita cermati.

Selain itu, kurangnya disiplin kita atau ketidak-mampuan kita dalam mengelola sampah dapat menjadi masalah tersendiri bila penampungan itu nantinya dapat terwujud.

Salam dari Ancol, Minggu, 4 Febuari 2007
Wahyu

Posted in Banjir | Dengan kaitkata: , , , | 6 Comments »