Kepulauan Indonesia

Cerita dari, untuk dan tentang Kepulauan Indonesia beserta Penghuni dan Penduduknya

Posts Tagged ‘Tektonik’

Rob 1 (arti istilah, makna praktis)

Posted by wahyuancol pada Januari24, 2011

Arti Istilah

Rob adalah istilah lain untuk menyebutkan banjir pasang-surut. Tidak diketahui persis asal kata dari istilah itu, tetapi istilah itu populer di Semarang. Perlu diketahui bahwa Kota Semarang adalah salah satu kota pesisir di Indonesia yang bermasalah dengan banjir pasang-surut.

Makna praktis Rob

Apabila kita melihat banjir pasang-surut atau rob melanda suatu kawasan, satu hal yang penting dicatat adalah, bahwa kawasan tersebut memiliki ketinggian permukaan tanah yang lebih rendah daripada permukaan air laut pada saat air laut pasang. Keadaan itu bersifat permanen. Artinya adalah banjir pasang surut rutin terjadi di kawasan itu dan diperlukan campur tangan manusia untuk menghindarinya.

Mengapa  demikian? Karena secara alamiah, dalam kurun waktu hidup manusia permukaan tanah atau daratan tidak mungkin naik dengan sendirinya sehingga melebihi ketinggian muka laut ketika pasang. Hal seperti itu hanya mungkin terjadi bila ada gerak tektonik yang mengangkat kawasan tersebut, dan itu hanya terjadi dalam skala waktu geologi, atau bila ada guncangan gempa yang luar bias seperti yang terjadi di Nias pada peristiwa Tsunami 26 Desember 2004.

Demikian pula dengan fenomena pasang-surut. Tidak mungkin kurun waktu sejarah hidup manusia permukaan laut turun sehingga permukaan daratan menjadi lebih tinggi. Bahkan sekarang ada kecenderungan muka laut naik yang memberikan gambaran bahwa di masa depan banjir pasang-surut akan lebih parah dalam arti genangan air akan makin dalam dan luar areal genangan akan makin luas menjangkau ke arah daratan.

Semoga bermanfaat,

Salam.

Lebih jauh tentang Rob? Silahkan klik link di bawah ini:

Rob 2, Rob 3, Rob 4

Iklan

Posted in Air, Banjir, GLOSARIUM, HIDROSFER, Pasang surut, PROSES (BENCANA) ALAM, R | Dengan kaitkata: , , , , , | 2 Comments »

Bencana Alam di Indonesia 4 (Dimensi Manusia)

Posted by wahyuancol pada Oktober28, 2010

Indonesia Taman Fenomena Geologi

Posisi Indonesia yang unik yang terletak di antara dua benua dan dua samudera, serta di pertemuan interaksi antara tiga Lempeng Kerak Bumi yang utama, membuat Indonesia menjadi “tanam” dari berbagai fenomena dan proses geologi.

Angin monsoon yang silih berganti sepanjang tahun, menghadirkan pula musim hujan dan kemarau yang silih berganti. Musim hujan mendatangkan banjir, dan sebaliknya musim kemarau menghasilkan kekeringan.

Interaksi lempeng kerak bumi yang menjadi bagian dari Kepulauan Indonesia, menghadirkan deretan gunungapi, kawasan pegunungan dan perbukitan. Pegunungan dan perbuykitan memberikan ancaman bahaya longsong atau gerakan tanah di musim hujan.

Perbatasan lempeng kerak bumi yang menghadirkan palung-palung laut dalam, menggoreskan jalur rawan bencana tsunami di sepanjang deretan pulau-pulau mulai dari Sumatera sampai Nusa Tenggara, Papua sampai Sulawesi Utara.

Itulah gambaran singkat tentang potensi bencana di Kepulauan Indonesia.

Lalu, bagaimana dengan manusianya?

Mengenai hal ini, mari kita simak apa yang ditulis oleh ediotorial Harian Media Indoenesia berikut ini:

INDONESIA dalam banyak hal adalah contoh ekstrem tentang disorientasi terhadap realitas alam. Inilah negara dengan potensi kebencanaan tertinggi di dunia, tetapi di sini hidup subur tabiat kebencanaan yang amat rendah.

Alam dengan seluruh keperkasaan dan determinasinya tidak diupayakan pemahaman, tetapi dilawan dengan segala kekonyolan. Tidak menghiraukan peringatan untuk mengungsi dari rumah kendati Gunung Merapi hendak meletus sehingga berujung kematian, misalnya, merupakan salah satu bentuk kekonyolan itu.

Kekonyolan juga diperlihatkan Gubernur Jakarta Fauzi Bowo. Banjir yang melanda Jakarta dengan intensitas yang bertambah setiap tahun tidak mau diakui sebagai hukuman alam terhadap kerakusan pelanggaran tata ruang, tetapi cuaca ekstrem yang dipersalahkan.

Bencana yang terjadi setiap tahun, dan kali ini serentak dan beruntun, dari Wasior di Papua, Mentawai di Sumatra Barat, hingga Merapi di Yogyakarta, adalah pukulan-pukulan telak terhadap tabiat kebencanaan kita yang amat rendah. Bencana-bencana besar tidak memberi efek pembelajaran apa-apa.

Sebagai negara dengan gunung api aktif terbanyak di dunia, Indonesia sesungguhnya adalah negara dengan masyarakat yang dipaksa siaga 24 jam sepanjang tahun dan sepanjang masa. Tetapi, kita justru hidup di tengah masyarakat dan negara yang bertabiat tenteram aman sentosa.

Coba tengok sistem kedaruratan yang lahir dari manajemen bencana. Negara memiliki Badan Penanggulangan Bencana Nasional dengan kewenangan yang tumpang-tindih. Bencana alam adalah pos anggaran minimalis yang longgar terhadap korupsi. Sejumlah bupati dan gubernur masuk bui karena seenaknya memakai dana bencana.

Negara bencana yang tersebar dalam ribuan pulau seperti Indonesia menuntut pusat-pusat penanggulangan yang tersebar pula, lengkap dengan seluruh fasilitas kedaruratan. Tidak boleh fasilitas kedaruratan itu berada hanya di satu tempat. Kekurangan kantong mayat untuk membungkus 15 korban kapal motor Tersanjung yang tenggelam di perairan utara Flores adalah contoh telanjang tentang manajemen kedaruratan yang tidak tersebar dengan intensitas dan kegawatan yang sama.

Kita terbiasa dengan manajemen kedaruratan post factum. Setelah gunung meletus, banjir menggasak, dan tsunami menyapu, seluruh otoritas bergegas dalam serbakedaruratan dan, umumnya, melebihi dosis.

Para menteri berebutan mengunjungi lokasi, bahkan pada saat yang sama tumpah ruah ke sana. Mentawai sebagai contoh. Pagi dikunjungi Wakil Presiden, sore didatangi Presiden langsung dari luar negeri.

Hari-hari pertama setelah bencana, kita lebih sibuk mencari dan menghitung mayat dan mengabaikan pertolongan pada yang hidup. Media massa berlomba memberitakan angka kematian.

Padahal, yang jauh lebih penting adalah manajemen kedaruratan prabencana. Janganlah membabat hutan. Janganlah melanggar tata ruang. Janganlah membangun rumah di kaki dan pinggang gunung. Janganlah membangun di bantaran sungai dan sejumlah jangan yang lain.

Tetapi, inilah negara yang dikelola dengan semangat lupa waktu dan lupa tempat. Penguasa hanya omong banjir di musim hujan, omong kebakaran di musim panas. Tetapi, lebih banyak lupa dan abai. Lalu ketika bencana datang, dengan gampangnya menyalahkan alam.

Mereka kesal, tetapi tidak mampu berbicara banyak dan hanya mampu mengatakan hajab sirajab bin mustajab.

Sumber: http://www.mediaindonesia.com/read/2010/10/28/178215/70/13/Tabiat-Kebencanaan

———–

Demikian gambaran tentang Indonesia sekarang ini.

Jadi, bencana alam yang menimbulkan kerugian bagi penduduk Indonesia  tidak semata karena proses alam, tetapi juga karena faktor manusia.

Salam,

WBS

Artikel terkait:

Manusia dan Bencana Alam

Bencana Alam di Indonesia 1

Bencana Alam di Indonesia 2

Bencana Alam di Indonesia 3

Posted in Ah... Indonesia ku, HUMANIORA, Kualitas Bangsa | Dengan kaitkata: , , , , , | Leave a Comment »

Batuan 2 (perubahan)

Posted by wahyuancol pada November21, 2008

Batuan penyusun kulit bumi atau litosfer dapat mengalami perubahan. Berdasarkan karakter perubahan yang terjadi, perubahan itu dapat dibedakan menjadi beberapa kategori sebagai berikut:

  1. Pelapukan. Pelapukan dapat dibedakan menjadi pelapukan fisik dan kimiawi. Pelapukan kimiawi, yaitu pelapukan yang terjadi karena perubahan komposisi kimiawi; pelapukan ini menyebabkan batuan mengalami perubahan komposisi kimia; agen utama penyebab pelapukan tipe ini adalah air. Pelapukan fisik adalah pelapukan yang terjadi karena kerusakan fisik batuan seperti pecahnya batuan karena akar tumbuhan, atau pecahnya batuan karena perubahan temperatur; pelapukan ini menyebabkan batuan pecah menjadi fragmen-fragmen batuan yang lebih kecil. Pembicaraan tentang pelapukan batuan terutama dilakukan ketika kita berbicara tentang geomorfologi dan pembentukan tanah. Proses pelapukan ini terutama terjadi di permukaan bumi, dimana batuan (litosfer) mengalami kontak dengan atmosfer dan hidrosfer serta biosfer.
  2. Deformasi, yaitu perubahah fisik batuan karena pengaruh tekanan. Karena deformasi batuan dapat terlipat, terpatahkan dan atau mengalami kerusakan fisik seperti retak. Pembicaraan tentang deformasi dilakukan ketika berbicara tentang struktur geologi. Proses deformasi ini terjadi di bawah permukaan bumi yang melibatkan perlapisan batuan dan tubuh-tubuh batuan beku atau metamorf.
  3. Perubahan jenis batuan yang menyebabkan suatu jenis batuan menjadi jenis batuan yang lain , seperti dari batuan beku menjadi batuan sedimen atau batuan, dari batuan sedimen menjadi batuan metamorf atau batuan beku, atau dari batuan metamorf menjadi batuan sedimen atau batuan beku. Pembicaraan tentang perubahan jenis batuan ini dilakukan ketika kita berbicara tentang petrologi. Di sini kita berbicara tentang siklus batuan. Proses perubahan jenis batuan ini terjadi di litosfer secara keseluruhan mulai dari permukaan bumi bahkan sampai mantel. Proses ini melibatkan seluruh agen geomorfologi, gerak-gerak tektonik, dan temperatur.

Posted in B, Batuan | Dengan kaitkata: , , , , , , , , , , , | 1 Comment »

Rob 4 (Banjir Air Pasang [Rob] dan Subsiden: Jawaban untuk Nisa)

Posted by wahyuancol pada November19, 2008

Nisa, salah seorang pengunjung blog ini, pada tanggal 11 Nopember 2008 melalui komentar, mengajukan beberapa pertanyaan tentang banjir air pasang (Rob), terutama tentang hubungan antara perluasan genangannya dan subsiden. Karena jawabannya cukup panjang, maka jawaban itu saya posting sebagai judul tersendiri.

Semoga bermanfaat.

Salam,

Wahyu

————–

Tanya – 1:

Apakah perluasan banjir air pasang hanya disebabkan oleh faktor subsiden dan faktor bangunan fisik? Bisakah kita melihatnya dalam bentuk spasial?

Jawab:

Ya, perluasan kawasan banjir karena air pasang disebabkan oleh subsiden. Bila tidak ada subsiden, maka luas kawasan genangan banjir air pasang ditentukan oleh ketinggian air laut pada saat pasang dan ini ditentukan oleh posisi bulan dan matahari. Dan, ketinggian air yang terjadi tidak mungkin melebihi ketinggian air pasang maksimum yang mungkin terjadi di kawasan itu.

Subsiden menyebabkan kawasan genangan banjir air pasang bertambah luas. Subsiden itu sendiri dapat terjadi karena sebab-sebab alamiah maupun karena aktifitas manusia. Penyebab alamiah dari subsiden antara lain adalah pemadatan endapan sedimen secara alamiah, dan gerak tektonik. Sedang aktifitas manusia yang dapat menyebabkan subsiden antara lain kegiatan pengambilan air tanah yang berlebihan, dan mendirikan bangunan fisik yang menjadi beban bagi tanah atau lahan sehingga mempercepat laju pemadatan endapan sedimen.

Perluasan kawasan genangan banjir air pasang dapat dilihat secara spasial. Kondisi makin meluasnya daerah genangan banjir mencerminkan makin meluasnya daerah yang mengalami subsiden. Apabila kita dapat memetakan batas-batasnya secara periodik, maka kita dapat melihat perkembangannya.

Tanya – 2:

Mungkinkah saya bisa menspasialkan banjir pasang (rob)? Maksudnya, apakah datanya menungkinkan?

Jawab:

Mungkin. Kawasan banjir pasang atau rob dapat kita spasialkan atau kita petakan. Untuk memetakannya, seperti telah disebutkan dalam jawaban pertanyaan pertama, kita hanya perlu memetakan batas-batas daerah genangan banjir. Untuk mengetahui apakah kondisi banjir yang kita petakan itu adalah banjir karena genangan air laut pasang yang sama ketinggiannya dengan yang kita petakan sebelumnya, maka kita perlu memperhatikan prediksi pasang surut.

Sebagai informasi tambahan: Prediksi pasang surut untuk lokasi-lokasi tertentu, khususnya pelabuhan, dipublikasikan oleh Dinas Hidro-Oseanografi TNI-AL. Buku prediksi itu dijual untuk umum.

Tanya – 3:

Sebenarnya, banjir pasang (rob) itu secara alamiah memang selalu mengalami perluasan? Atau ada faktor yang telah mempercepat laju pertumbuhan luas genangan?

Jawab:

Perlu dipahami bahwa fenomena banjir air pasang itu adalah fenomena yang hanya terjadi di bagian daerah pesisir yang berbatasan langsung dengan laut. Secara sederhana, daerah tersebut dapat kita sebut daerah pantai. Secara alamiah, terjadi atau tidaknya banjir air pasang di daerah pantai sangat ditentukan oleh kondisi geologi dan geomorfologi daerah pantai tersebut. Bila daerah pantai merupakan daerah berbatuan keras dan bermorfologi tinggi – maksudnya lebih tinggi daripada permukaan laut, maka tidak akan terjadi banjir air pasang di daerah tersebut. Sebaliknya, bila daerah pantai merupakan daerah rawa pantai atau daerah rawa di sekitar muara sungai, maka banjir air pasang akan terjadi di daerah tersebut.

Ciri khas daerah rawa pantai yang terjadi karena proses sedimentasi adalah, daerah tersebut tersusun oleh endapan sedimen yang belum mengalami pemadatan. Contohnya adalah daerah pesisir Jakarta dan Semarang. Secara alamiah, beban fisik dari endapan sedimen di bagian atas akan menyebabkan pemadatan dari endapan sedimen di bagian bawah. Proses ini pasti terjadi. Apabila manusia mendirikan bangunan fisik di atas rawa, maka berarti menambah beban fisik yang mempercepat proses pemadatan endapan sedimen.

Selanjutnya, untuk dapat mengatakan apakah di suatu kawasan, secara alamiah kawasan banjir air pasang mengalami perluasan atau tidak, kita perlu juga mengetahui kondisi tektonik di daerah tersebut dan proses sedimentasi yang terjadi. Kombinasi kedua hal itu akan menentukan ada atau tidaknya perluasan daerah genangan banjir pasang yang terjadi secara alamiah. Untuk daerah yang secara tektonik mengalami penurunan, maka daerah genangan banjir akan meluas. Untuk daerah pantai yang mengalami sedimentasi tinggi sehingga garis pantai bergeser ke arah laut, maka daerah genangan banjir air pasang akan bergeser ke arah laut mengikuti pergeseran garis pantai.

Tanya – 4:

Di jurnal yang lain (situs dalam negri) selalu dikemukakan kalau banjir pasang lebih disebabkan oleh faktor global, sementara saya baca di laporan Sea Level Rise in the Coastal Waters of Washington State rata-rata faktor lokal justru berpengaruh meski tidak signifikan. Mohon penjelasan.

Jawab:

Dari struktur kalimatnya, saya melihat tidak ada pertentangan dari kedua penyataan tersebut di atas. Pada pernyataan pertama disebutkan “banjir pasang lebih disebabkan oleh faktor global”. Pernyataan ini menunjuk pada faktor dominan, dan tidak meniadakan faktor lokal. Sementara pada pernyataan ke-dua disebutkan “rata-rata faktor lokal justru berpengaruh meski tidak signifikan”. Pernyataan yang ke-dua ini menyebutkan adanya faktor lokal yang tidak signifikan. Artinya, pengaruh faktor lokal tidak berarti dan dapat diabaikan. Secara tersirat pernyataan ke-dua menyebutkan ada faktor non-lokal yang dominan.

Selanjutnya apabila kita coba tinjau substansi dari pernyataan itu, pada pernyataan pertama perlu penjelasan lebih lanjut apa yang dimaksud dengan “faktor global” dalam pernyataan itu, dan faktor-faktor apa saja (global maupun lokal) yang dipergukanan dalam analisis. Kemudian, untuk pernyataan ke-dua, perlu penjelasan tentang faktor-faktor lokal dan non-lokal yang diperhitungkan dalam analisis yang dilakukan itu.

Ingin tahu lebih jauh? Silahkan ke Rob 1, Rob dan Subsiden

Posted in Banjir, Pasang surut, PROSES (BENCANA) ALAM, Rob, Subsiden, Wilayah Pesisir | Dengan kaitkata: , , , , , , , | Leave a Comment »

SB: Siklus Batuan

Posted by wahyuancol pada Juni21, 2008

Siklus batuan menggambarkan seluruh proses yang dengannya batuan dibentuk, dimodifikasi, ditransportasikan, mengalami dekomposisi, dan dibentuk kembali sebagai hasil dari proses internal dan eksternal Bumi. Siklus batuan ini berjalan secara kontinyu dan tidak pernah berakhir. Siklus ini adalah fenomena yang terjadi di kerak benua (geosfer) yang berinteraksi dengan atmosfer, hidrosfer, dan biosfer dan digerakkan oleh energi panas internal Bumi dan energi panas yang datang dari Matahari.

Kerak bumi yang tersingkap ke udara akan mengalami pelapukan dan mengalami transformasi menjadi regolit melalui proses yang melibatkan atmosfer, hidrosfer dan biosfer. Selanjutnya, proses erosi mentansportasikan regolit dan kemudian mengendapkannya sebagai sedimen. Setelah mengalami deposisi, sedimen tertimbun dan mengalami kompaksi dan kemudian menjadi batuan sedimen. Kemudian, proses-proses tektonik yang menggerakkan lempeng dan pengangkatan kerak Bumi menyebabkan batuan sedimen mengalami deformasi. Penimbunan yang lebih dalam membuat batuan sedimen menjadi batuan metamorik, dan penimbunan yang lebih dalam lagi membuat batuan metamorfik meleleh membentuk magma yang dari magma ini kemudian terbentuk batuan beku yang baru. Pada berbagai tahap siklus batuan ini, tektonik dapat mengangkat kerak bumi dan menyingkapkan batuan sehingga batuan tersebut mengalami pelapukan dan erosi. Dengan demikian, siklus batuan ini akan terus berlanjut tanpa henti (Gambar 5).

Gambar 5. Siklus batuan. Menggambarkan proses yang menyebabkan batuan berubah dari satu bentuk ke bentuk yang lain dan ditransportasikan. Sumber: Skinner dan Porter (2000)

Kembali Terus

Posted in Batuan, Cara Bumi di Hidupkan | Dengan kaitkata: , , , , , , , , , , , , , , , , | 8 Comments »