Kepulauan Indonesia

Cerita dari, untuk dan tentang Kepulauan Indonesia beserta Penghuni dan Penduduknya

Posts Tagged ‘Charles Darwin’

Junghuhn: Kecintaan dan Antusiasme

Posted by wahyuancol pada Januari10, 2012

APA YANG TERJADI BILA KECINTAAN DAN ANTUSIASME BERGABUNG MENJADI SATU?

Mari kita simak cerita dari seorang rekan berikut ini.

=====================

Sabtu 7 Januari 2012 kemarin, bersama sekitar 80 orang dari suatu komunitas yang senang jalan-jalan sambil belajar di lapangan, saya mengunjungi makam Junghuhn di Jayagiri Lembang.

Di depan nisannya yang ditinggikan seperti obelisk, saya membentang poster berisi foto diri Junghuhn, biografi singkat, miniatur peta Jawanya yang monumental, lukisan-lukisan beberapa gunung yang didakinya, dan tentu saja ilmu yang “dimuliakannya”: botani, termasuk dua spesies kina dan geografi/ekologi tumbuhan.

Para peserta yang sangat beragam latar belakang profesi dan pekerjaannya dan umurnya, dari bayi yang masih digendong ibunya sampai seorang kakek berusia 78 tahun menyimak dengan khidmat diselingi decak kagum atas karya2 Junghuhn, duduk di pelataran makam Junghuhn atau berdiri mendekati poster dan nisan.

Mengapa memilih Junghuhn, sebab ia bukan hanya perintis budidaya kina di Indonesia, tetapi jauh dari itu, ia adalah perintis penelitian geologi, kartografi/geodesi, geografi, botani, bahkan antropologi di Jawa. Dan, hal ini tak banyak diketahui masyarakat umum. Umumnya, mereka tahu Junghuhn dengan kata kunci kina, padahal bukan hanya kina.

Saya pernah menulis beberapa kali tentang Junghuhn buat milis2, saya tak akan mengulangi menjelaskan kiprahnya sebab itu pernah saya tulis, juga pernah ditulis di beberapa majalah. Tetapi ada beberapa hal yang belum diketahui selama ini, yaitu tentang kepribadian dan kutipan2 pernyataan Junghuhn yang berguna buat kita, itulah yang saya bagikan Sabtu kemarin itu.

Saya menggali lebih jauh kepribadian Junghuhn dari buku tulisan Rudiger Siebert (2002), “Deutsche Spuren in Indonesien” (Horleman Verlag, Bad Honnef). Dalam buku berbahasa Jerman ini, Siebert mengulas biografi 10 tokoh Jerman yang berkarya di Indonesia, antara lain Junghuhn.

Saya cantumkan kata-kata Junghuhn yang penting di poster, dan membacakannya untuk semua yang mendengar:

“Di sana aku menghargai dan memelihara ilmuku bagaikan benda keramat, selama 12 tahun aku menjelajahi gunung-gunung dan hutan-hutan Kepulauan Sunda yang mempesonakan itu. Dengan sengaja aku mengikuti jalan setapak yang sepi, dan tidak ada petunjuk jalan lain yang menemaniku kecuali KECINTAAN pada pekerjaan itu dan ANTUSIASME.” (dikutip dan diterjemahkan dari kata pengantar buku magnum opusnya, “Java, seine Gestalt, Pflanzendecke und innere Bauart”, 1854) (Jawa: Bentuknya, Flora dan Struktur-Dalamnya).

Junghuhn melalukan semua yang dilakukannya terhadap Jawa tanpa berbekal pendidikan formal. Pendidikan formalnya adalah dokter medis dan ia menjalani profesi sebagai dokter militer di Indonesia selama 3 tahun 7 bulan, sementara ia memetakan Jawa, mendaki semua gunungnya, meneliti geologi dan tumbuhan-tumbuhannya termasuk pembudidayaan kina selama sekitar 21 tahun, dengan diselingi 2 tahun bekerja memetakan sebagian Sumatra Utara. Lalu saat cuti sakit di Belanda, ia mengerjakan semua datanya menjadi buku-bukunya yang terkenal, magnum opusnya, dan peta Jawanya yang luar biasa, selama 7 tahun. Maka total hampir 30 tahun hidupnya, dari 54 tahun umurnya, didayagunakan untuk Jawa sampai akhir hayatnya. Semuanya bermodalkan dua hal ini: KECINTAAN dan ANTUSIASME, bukan latar belakang akademik.

Junghuhn tergila-gila oleh keinginannya melakukan riset. Ia laki-laki penuh energi, berwajah serius, dengan pandangan mata yang skeptis. Walaupun Junghuhn mengagumi alam, bahkan seperti orang yang menjadikan alam sebagai agamanya, ia bukanlah penghayal. ia ingin mencari fakta mengenai sifat-sifat alam, dan ia mengharapkan agar data dan catatannya akan disimpan untuk penggunaan generasi selanjutnya, maka ia sangat mementingkan publikasi dan ia marah besar ketika intrik politik dan iri hati dari kalangan ilmuwan dan akademikus hampir membuat magnum opus Junghuhn tentang Jawa tidak dipublikasikan.

Pulau Jawa menantang segala kekuatan dan kreativitas Junghuhn, menguras energinya. Pulau Jawa juga yang melemahkan tubuhnya sehingga berkali-kali membuatnya mesti mengambil cuti sakit yang lama. Ia menjadi orang pertama yang menjelajahi pulau ini secara sistematis. Alam Jawa ditelitinya dalam keadaan serba sulit dan penuh pengorbanan. Ia menyusahkan dirinya sendiri, tetapi juga menyusahkan orang-orang lain, yaitu para pembantunya di lapangan, orang-orang Jawa. Orang2 Jawa tak mengerti kemauan Junghuhn yang dianggapnya gila, mendaki semua puncak gunung yang kala itu diyakini orang2 Jawa sebagai tempat yang berbahaya, tempat jin, dedemit, dan sebangsanya. Tetapi Junghuhn adalah orang dengan disiplin diri yang luar biasa.

Junghuhn tidak pernah mengambil jalan yang paling gampang. Ia menyusahkan dirinya sendiri dan para pembantunya. pasti Junghuhn telah dengan keras bertindak kepada dirinya sendiri dan kepada orang lain. Tetapi kekerasannya menghasilkan semua magnum opusnya tentang Jawa. Kita menyaksikan seorang ilmuwan otodidak yang berpikir lugas dan yang mengumpulkan fakta dalam jumlah yang sangat besar. Dan Junghuhn melakukan semua yang dihasilkannya sendirian, tanpa teman ilmuwan lain, tanpa dibantu organisasi apa pun. Pekerjaan yang telah dilakukan Junghuhn selama 30 tahun untuk Jawa benar2 pekerjaan raksasa yang dilakukannya sendiri, hanya dengan teman2 orang Jawa para pembantunya yang suka dipaksanya untuk tidak takut mendaki puncak2 gunung.

Sebenarnya yang dikerjakan Junghuhn di lapangan melebihi Charles Darwin, pengembang teori evolusi. Tetapi mengapa Junghuhn tak dikenal dunia internasional seluas Darwin? Sebab Darwin mengeluarkan suatu teori alam yang menghebohkan pada zamannya, sementara Junghuhn menampilkan lukisan alam yang ada, sekalipun sangat detail. Tiga volume buku Junghuhn tentang Jawa, lebih tebal 3x dari semua karya Charles Darwin yang termuat di compendiumnya.

————–

Begitulah, siang itu di makam Junghuhn yang pada tahun 1919 kemudian dijadikan cagar alam dan area plasma nutfah kina, saya berusaha memberitahukan sumbangsih apa yang sebenarnya diberikan Junghuhn untuk Indonesia, untuk pengetahuan Jawa, agar kita mengenalnya dengan lebih baik. Karya para spesialis selanjutnya berdiri di atas karya raksasa yang diletakkan junghuhn. Di makamnya, di suatu pojok tumbuh pohon-pohon kina yang budidayanya pernah dirintis Junghuhn. Pohon-pohon itu adalah kenangan hidup seorang lelaki yang luar biasa, tipe peneliti tunggal yang sudah hilang dari dunia kita ini, yang kini dipenuhi para spesialis…

Nisannya dan obelisknya kini dijadikan sasaran vandalists yang meninggalkan corat-coretnya. Mereka tak menghargai orang luar biasa yang kini terbaring sisa debu tanah dan serpihan tulang di bawahnya: Junghuhn, tetapi karyanya tetap abadi dan bersejarah.

Ke arah belakang dari makam Junghuhn, ada makam lain yang tak bernama, yang rusak berat, tanpa nisan, dan penuh coretan, kotor tak terurus, padahal itu adalah makam Johann de Vrij, pada masanya ahli kimia paling unggul di Hindia Belanda, yang ditugaskan Pemerintah Belanda membantu junghuhn membudidayakan kina. Tanpa Johann de Vrij, Indonesia tak akan pernah mencapai predikat penghasil kina no 1 di dunia sebelum Perang Dunia ke-2. Tokh kini, ia seolah tidak dihargai, bahkan jarang orang mengenal itu makam siapa, selain dipakai duduk-duduk pasangan muda-mudi…

Harus dikagumi apa yang dapat dicapai oleh seseorang dalam keadaan historis tertentu – apabila orang itu adalah tokoh yang luar biasa seperti Junghuhn !

Semoga penjelasan saya siang itu di makam Junghuhn dipahami dan menginsipirasi sekitar 80 orang anggota komunitas, dan semoga tulisan ini juga menginspirasi kita semua.

Tak ada karya besar dihasilkan tanpa KECINTAAN dan ANTUSIASME.

salam,
Awang

===================

Demikian kisah yang saya kutip dari seorang teman, mendahului izinnya.

Terima kasih Pak Awang.

Salam,

Wahyu

Iklan

Posted in PARA PERINTIS, Sejarah | Dengan kaitkata: , , , , , , , | Leave a Comment »

Teori Evolusi (Darwin) dan Paper Halmahera (Wallace): Lahirnya Teori Evolusi

Posted by wahyuancol pada November1, 2008

Ketika berbicara tentang Teori Evolusi, pikiran kita tentu segera melayang kepada Charles Darwin. Teori itu demikian mengguncang dunia. Banyak yang menolak, namun banyak pula yang mendukungnya. Debat pun sering terjadi di mana-mana. Lalu ……., apa hubungan teori itu dengan Halmahera?

Sejarah mencatat bahwa, ternyata munculnya Teori Evolusi itu sangat erat hubungannya dengan Halmahera. Hal itu bermula dari dua orang ilmuwan yang bersahabat, yaitu Charles Darwin dan Alfred Russel Wallace. Berikut ini adalah kisahnya sebagaimana diceritakan kembali oleh Awang Harun Satyana beberapa tahun yang lalu (tahun 2004) yang mendapatkan cerita itu dari berbagai referensi.

Selamat menikmati, dan semoga bermanfaat.

====================

Teori evolusi yang diumumkan Charles Darwin melalui bukunya yang terkenal “The Origin of Species…” (1859) – buku terjemahan edisi bahasa Indonesianya baru saja diterbitkan oleh Yayasan Obor Jakarta 2004 – ternyata bak sebuah drama dan tidak lepas dari iklim persaingan antar ilmuwan pada masa itu. Demikian kesan saya setelah membaca dua buku relatif baru: Swischer, Curtis, Lewin (2001) : The Java Man, dan Gribbin and Gribbin (2002) : Science – A History.

Dan, ternyata penelitian zoologi Alfred Russel Wallace di Kepulauan Halmahera, Indonesia lah (bukunya yang terkenal the Malayan Archipelago sudah pula diterjemahkan 2 tahun yang lalu dengan judul Menjelajah Kepulauan Nusantara) yang mendorong Darwin cepat-cepat mengumumkan teori evolusinya sebelum didahului Wallace. Dan, Charles Lyell, geologist Inggris terkenal saat itu dan yang mempopulerkan konsep uniformitarianisme, kawan akrab Darwin di the Linnaen Society Inggris, terlibat dalam persaingan antar naturalist kelas dunia ini.

Charles Darwin dan Alfred Wallace bersahabat, Wallace lebih muda 14 tahun. Wallace sering main2 ke rumah Darwin dan melihat-lihat koleksi Darwin hasil ekspedisinya ke pulau-pulau di Pasifik dengan kapal survey HMS Beagle. Saat itu, Darwin belum menuliskan hasil penelitiannya menjadi buku terkenal itu. Rupanya, Darwin agak ragu dan lama berpikir untuk mengumumkan teorinya. Wallace, sebagai sesama naturalist juga sering melakukan ekspedisi ke pulau2 yang belum dikenal dengan baik saat itu. Sebelum ke Malaya dan Indonesia, dia pernah melakukan ekspedisi besar ke Amerika Selatan, dan Wallace menjadi pemasok koleksi2 binatang dan tumbuhan untuk Darwin.

Tahun 1854, Wallace berangkat ke Malaya dan memulai perjalanan muhibahnya sebagai naturalist, ini kira-kira enam bulan sebelum Darwin mulai mengumpulkan catatan2 perjalanannya untuk menulis buku. Sebaga naturalist yang Wallace hormati, Wallace tetap berhubungan dengan Darwin di Inggris untuk meminta pertimbangan2nya. Tahun 1855 Wallace menerbitkan sebuah paper dan mengagetkan Darwin sebab teori spesiasi (bagaimana spesies berubah menjadi spesies baru) adalah persis seperti yang sedang dipikirkan Darwin. Charles Lyell segera memprovokasi Darwin : “Ayo, cepat-cepatlah kamu publikasikan hasil2 penelitianmu, sebelum Wallace atau orang lain mendahuluimu” begitu kira-kira. Saat itu, Darwin telah 19 tahun kembali dari perjalanannya. Ada beberapa paper yang telah dia tulis, tetapi belum diterbitkan karena masih ragu apakah teorinya benar, Darwin hanya mendiskusikannya dengan kawan2 dekatnya termasuk Lyell.

Dan, di bulan Februari 1858, saat Wallace telah sampai di Halmahera dan tengah terbaring sakit oleh demam, dia menulis sebuah paper penting yang diilhami oleh penelitiannya (terutama serangga) di gugusan Kepulauan Halmahera, berjudul, “On the Tendency of Varieties to Depart Indefinitely from the Original Type” Paket ini diterima Darwin tanggal 18 Juni 1858. Darwin shock dan segera ingat tulisannya di tahun 1842-1844 yang belum ia terbitkan. Kekagetan Darwin bertambah dengan tiba2 meninggalnya anaknya yang masih kecil Charles Waring Darwin akibat demam tinggi (scarlet fever). Darwin menceritakan kekagetan yang beruntun ini kepada Charles Lyell dengan note :

“Your words have come true with a vengeance – that I should be forestalled…I never saw a more striking coincidence; if Wallace had my MS sketch written out in 1842, he could not have made a better short abstract ! … I shall, of course, at once and offer to send it to any journal”

Charles Lyell, yang lebih sering berperan sebagai tempat Darwin curhat, segera bertindak cepat dan sigap. “Jangan kuatir” katanya. Tentu Darwin senang sebab saat itu Darwin pasrah saja oleh kekagetan yang datang bertubi2. Darwin menyerahkan segalanya kepada Lyell dan dia pergi untuk memakamkan anaknya.

Apa yang dilakukan Lyell ? Lyell menggabung paper unpublished Darwin tahun 1844 dengan paper Wallace, dan memberi judul baru, “On the Tendency of Species to Form Varieties; and on the Perpetuation of Varieties and Species by Means of Selection” oleh Charles Darwin, Alfred Wallace; dikomunikasikan oleh Sir Charles Lyell dan Joseph Hooker (Hooker adalah kalangan inner circle Darwin lainnya). Apakah Wallace yang sedang terbaring sakit di tengah belantara Halmahera dikonsultasikan ? tentu tidak…

Dan, setahun kemudian terbitlah buku Darwin yang sangat terkenal itu “On the Origin of Species by Means of Natural Selection, or the Preservation of Favoured Races in the Struggle for Life”, diterbitkan oleh John Murray pada 24 November 1859. Kalau sempat membacanya, kita akan tahu bahwa pasti banyak campur tangan geologist Sir Charles Lyell di dalamnya. Darwin menulisnya hanya butuh waktu setahun, sebab dia dikejar ketakutan didahului oleh siapa pun…

Apa yang terjadi dengan Alfred Wallace di Indonesia ? Dia tidak marah, tetap santun, dan tetap meneruskan ekspedisinya dari Halmahera ke pulau2 lain di Indonesia. Bahkan Wallace menyebut teori evolusi sebagai Darwinisme. Dan Darwin menghormati Wallace dengan menyebut cukup sering namanya di bukunya. Pulang ke Inggris, Wallace pun dihormati sebagai ilmuwan besar oleh pihak Kerajaan Inggris, tetap berkawan dengan Darwin, menerima uang pensiun setahun 200 pundsterling dari Ratu Victoria, terpilih sebagai anggota the Royal Society tahun 1893, menerima Order of Merit tahun 1910, dan meninggal tahun 1913.

Begitulah, dari pojok timurlaut Indonesia, di gugusan Kepulauan Halmahera di Ternate, Tidore, Bacan, dan Morotai, sebuah paper yang dikirim Wallace membuat Charles Darwin segera menuliskan bukunya yang menggoncang dunia itu.

Mungkin, sebuah pelajaran bagi kita “Publish or Perish”.

Salam,

awang

Posted in Dari Indonesia untuk Dunia | Dengan kaitkata: , , , , , | 2 Comments »

TEORI EVOLUSI (ASAL USUL SPESIES) DARWIN

Posted by wahyuancol pada September22, 2008

Makhluk hidup di Bumi ini sangat beraneka ragam jenisnya.  Secara sederhana dan kasat mata kita dapat dengan mudah membedakan antara tumbuhan dan hewan. Namun demikian, kita juga mengetahui bahwa tumbuhan maupun hewan sangat banyak jenisnya atau spesiesnya.

Rasa ingin tahu adalah fitrah manusia. Oleh karena itu kecenderungan untuk mengetahui dan memahami apa-apa yang ada di sekelilingnya adalah juga fitrah manusia. Fitrah itu diberikan oleh Tuhan kepada manusia dalam rangka memberi bekal kemampuan kepada manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Sebagai mana kita ketahui, sebenarnya, untuk kebutuhan hidupnya manusia itu hanya membutuhkan ruang yang aman dan energi yang cukup. Ruang untuk hidup manusia disediakan Tuhan dalam bentuk hamparan permukaan Bumi, sedang energi untuk hidup manusia yang mendasar dipenuhi oleh makhluk hidup (tumbuhan maupun hewan). Agar kebutuhan energinya terjamin, maka manusia perlu memahami karakter dari sumber-sumber energinya (baca: makanan). Untuk alasan itulah maka pada tingkat yang paling dasar Tuhan memberikan naluri ingin tahu kepada manusia.

Kembali kepada banyaknya jenis tumbuhan dan hewan di sekeliling manusia. Dalam rangka mempermudah untuk mempelajarinya, manusia melakukan pengelompokan atau klasifikasi. Dari upaya melakukan klasifikasi itulah kemudian manusia melihat kemungkinan adanya hubungan antara jenis atau spesies mankhluk yang satu dengan yang lainnya. Selanjutnya tentu wajar bila manusia mempertanyakan dari mana dan bagaimana makhluk yang demikian banyak jenisnya itu bisa muncul atau hadir di Bumi?

Charles Darwin (1809-1882) adalah salah satu diantara banyak orang yang berusaha untuk mempelajari tentang bagaimana asal-usul makhluk hidup yang demikian banyak jenisnya di muka Bumi ini. Darwin mengunjungi Kepulauan Galapagos. Di sana dia mengamati keberagaman burung finch dan iguana. Hasil pengamatan tersebut menghasilkan hipotesa bahwa makhluk hidup berubah dengan berjalannya waktu. Pertanyaan yang kemudian muncul tentu adalah bagaimana perubahan yang berlangsung dengan berjalannya waktu itu terjadi?

Buku The Origin of Species (1859) adalah buku yang berisikan pikiran Darwin tentang bagaimana spesies-spesies makhluk hidup itu muncul. Sampai sekarang, pikiran tentang munculnya berbagai jenis makhluk melalui proses evolusi yang dikemukakan di dalam buku tersebut hampir 150 tahun yang lalu masih terus diperdebatkan orang. Ada orang yang menerima teori evolusi dan banyak pula yang menentang atau menolaknya.

Tidak banyak diantara kita yang mendapat kesempatan untuk membaca buku tersebut. Dalam rangka memperingat ulang tahun ke-150 penerbitan buku tersebut, seorang teman telah memberikan ulasan tentang buku itu. Dengan izin darinya lah ulasan tentang buku yang menarik itu dapat saya muat di dalam blog ini. Semoga bermanfaat.

Salam dari Ancol,

Wahyu Budi Setyawan

Terima kasih saya sampaikan kepada rekan Awang Harus Satyana yang telah memberikan izin untuk memuat ulasan tersebut didalam blog ini.

—————-

“The Origin of Species” (Darwin, 1859) akan kita peringati 150 tahunnya tahun depan. Buku Darwin tersebut merupakan buku paling penting kalau kita mau memahami apa yang dipikirkan Darwin tentang evolusi. Sebelum menyerang teori evolusi, sebaiknya dibaca dulu buku ini, sehingga bisa diputuskan apakah teori evolusi layak diserang atau bahkan didukung.

Dari internet mungkin bisa didapat digitalnya, tetapi saya lebih suka mempelajarinya dari bukunya sebab bisa dibaca di mana saja, di kereta, di bus atau santai sambil berbaring. Saya punya tiga buku Darwin ini, salah satunya adalah terjemahan Indonesia-nya yang mudah diperoleh di Yayasan Obor Indonesia, penerbit yang menerjemahkannya (kalau berminat coba buka website obor di http://www.obor.or.id ). Saya membeli terjemahannya tahun 2004 (diterjemahkan tahun 2003 oleh para dosen biologi Universitas Nasional), mestinya sih masih tersedia terjemahannya.

Inti buku ini sederhana saja : Darwin memaparkan pembuktian bahwa makhluk hidup berevolusi serta menjelaskan bagaimana seleksi alamiah menyebabkan spesies-spesies berubah. Menurut cerita, buku ini dicetak untuk pertama kalinya hanya 1250 eksemplar sebab penerbitnya tidak yakin bahwa buku ini akan laku terjual. Ternyata, pada hari pertama saja ada di toko, seluruh buku ini habis terjual. Kemudian ternyata juga bahwa buku-buku ini banyak dibeli untuk dibakar.

Darwin menggambarkan The Origin sebagai suatu argumen panjang. Saya ingat dulu saat masih SMP di Bandung suka nongkrong malam-malam di perpusatakaan British Council di Jalan Tamblong beberapa minggu demi menyaksikan film tentang Darwin. Di situ digambarkan Darwin dengan tenangnya menulis argument-argumen. Belakangan saya tahu bahwa Darwin tak tenang menulis bukunya sebab ia takut didahului oleh Alfred Russel Wallace, sang pengelana Nusantara, yang juga menemukan gejala yang sama yang sedang dipikirkan Darwin : evolusi oleh seleksi alam. Atas dorongan dan bantuan Charles Lyell-lah, Darwin dapat menyelesaikan karya monumentalnya dalam waktu yang singkat. Charles Lyell, ahli geologi itu adalah seperti seorang ayah untuk Darwin.

Teori Evolusi Darwin

Agar argument Darwin mudah dipahami, ia memulai bukunya (Bab 1) dengan menampilkan variasi-variasi yang terjadi pada tanaman-tanaman dan hewan-hewan di sekitar rumah hasil domestikasi. Setelah mendiskusikan sifat-sifat yang dimiliki oleh biakan-biakan yang berbeda, ia mulai menjelaskan bagaimana biakan-biakan yang berbeda itu bisa muncul. Darwin menjelaskan bahwa itu muncul akibat seleksi buatan (artificial selection), manusia memilih mana-mana yang akan dibiakkan mana yang tak boleh. Tentu saja yang dibiakkan adalah yang memiliki sifat-sifat yang baik atau unggul.

Bab 2 The Origin, berpindah dari variasi-variasi makhluk hidup di sekitar rumah ke variasi jenis di alam liar. Darwin di sini menjelaskan apa itu spesies, bagaimana variasi-variasinya. Di sini Darwin menampilkan pengamatan atau kesimpulan bahwa spesies-spesies itu bukan sesuatu yang terakhir atau yang tetap, tetapi disebutnya sebagai “spesies-spesies dalam penantian”. Menanti apa ? Menanti untuk berubah. Jadi spesies2 itu adalah hanya bagian dari jalan panjang menuju spesies berikutnya. Jelas Darwin mulai berbeda pandangannya dari ahli-ahli biologi sezamannya.

Bab 3 The Origin, Darwin terpesona dengan pandangan Malthus (1798) si ahli demografi itu bahwa akibat jumlah populasi lebih banyak daripada sumberdaya yang ada maka akan terjadi perjuangan demi kelangsungan hidup dengan cara berebut sumberdaya yang terbatas. Yang unggul yang akan terus hidup. Di bab ini maka Darwin menuliskan “suatu perjuangan demi bertahan hidup tak dapat dielakkan merupakan akibat dari laju pesat perbanyakan diri organisme hidup”. Darwin juga memaparkan faktor-faktor yang membatasi jumlah spesies, misalnya efek2 kepadatan berlebih, serangan pemangsa, serta musim dingin yang kering dan ekstrim.

Bab 4 The Origin, merupakan bagian yang paling penting. Judulnya adalah Natural Selection. Ini merupakan gagasan besar Darwin tetapi saat itu sangat sulit diterima. Dalam seleksi alam, menurut Darwin, variasi-variasi yang menguntungkan dipertahankan, sementara yang merugikan disingkirkan dan akhirnya musnah. Darwin menyusun daftar yang memaparkan sederetan adaptasi yang dikaitkannya dengan akumulasi bertahap dari variasi-variasi yang berguna. Ia menyatakan bahwa, tidak seperti manusia, alam mendasari seleksinya pada seluruh perlengkapan kehidupan. Alam menitikberatkan pada nilai adaptif setiap sifat makhluk hidup tanpa terkecuali, dan dalam proses ini tidak ada satu pun yang terlewatkan.

Bab 5 The Origin, Law of Variation, dimulai Darwin dengan penyangkalan bahwa variasi-variasi disebabkan faktor kebetulan. Menurut Darwin semua ada kendalinya. Darwin percaya akan variasi berkelanjutan – variasi yang tersusun atas suatu rangkaian tak terbatas dari perbedaan-perbedaan kecil antar individu.

Bab-Bab yang tersisa dari The Origin (sampai Bab 15) menguraikan sederetan topik yang telah membuat Darwin tetap sibuk. Topik-topik tersebut mencakup evolusi adaptasi fisik, asal muasal naluri, fosil, klasifikasi, kontribusi geologi ke dalam evolusi, kesulitan-kesulitan teori evolusi, dan distribusi makhluk hidup.

Darwin tentang Evolusi Manusia

Sekarang kita lihat apa kata Darwin tentang evolusi manusia. Sumber terbaik untuk mempelajarinya ada dalam bukunya “The Descent of Man” (Darwin, 1871) – yang ini belum ada terjemahannya dalam bahasa Indonesia.

Karena begitu banyaknya serangan-serangan kepada evolusi berasal dari hal evolusi manusia, maka Darwin memandang perlu menulis buku khusus tentang evolusi manusia. Inti buku ini Darwin beragumen bahwa manusia dan kera memiliki leluhur jauh yang sama dan bahwa semua ciri manusia telah berevolusi melalui serangkaian langkah yang bertahap.

Dalam buku ini Darwin menunjukkan bahwa atribut-atribut manusia yang terhebat sekalipun –kecerdasan dan ungkapan emisional kita- bisa saja dihasilkan melalui seleksi alamiah sehingga memungkinkan manusia juga berevolusi dari leluhur-leluhur hewan.

Bagaimana dan mengapa kecerdasan manusia muncul ? Pandangan Darwin mengatakan bahwa hal tersebut berhubungan dengan gaya hidup. Leluhur nenek moyang manusia dan kera pada awalnya merupakan penghuni pepohonan, namun secara bertahap mereka mulai hidup di darat. Berjalan dengan kedua kaki dan membebaskan tangan mereka untuk memanipulasi benda-benda dan akhirnya untuk menciptakan perkakas. Hal ini, kata Darwin, menyediakan batu loncatan bagi perkembangan kecerdasan karena seleksi alamiah selanjutnya akan memelihara ukuran otak yang terus mengalami peningkatan, yang diperlukan untuk ketangkasan tangan.

Pengetahuan Biologi Moderen tentang Evolui Manusia

Bagaimana pengetahuan biologi saat ini tentang evolusi manusia ? Apakah manusia berevolusi dari kera? Tidak. Manusia memang berasal dari superfamily yang sama dengan kera, tetapi kera dan manusia berpisah dalam pohon evolusi sekitar 4-5 juta tahun yang lalu. Dari situ manusia berevolusi sendiri melalui perkembangan bertahap hominid sampai akhirnya manusia moderen muncul beberapa puluh ribu tahun yang lalu.

Penutup

Di bawah ada tulisan tentang semua karya Darwin (The Darwin Compendium) yang pernah saya posting beberapa bulan yang lalu.

Apakah teori evolusi Darwin yang diuraikannya dalam The Origin semuanya benar ? Tidak, sebagian salah, tetapi sebagian juga benar. Mana yang benar mana yang salah menurut ilmu pengetahuan sekarang nanti kita bahas lagi, juga tentang evolusi manusia, implikasi sosial dan implikasi agama.

Dengan singkat bisa dikatakan : evolusi terjadi, tetapi tidak persis seperti yang Darwin teorikan.

Salam,

Awang

Posted in Alam Semesta, Cara Bumi di Hidupkan | Dengan kaitkata: , , , , , | 3 Comments »

(Seputar) Teori Evolusi (Darwin)

Posted by wahyuancol pada Juni13, 2008

Teori Evolusi.

Bagi kalangan terdidik di Indonesia, kata tersebut pasti pernah di dengar, dan hampir pasti selalu diasosiasikan dengan Darwin. Banyak kalangan yang dapat menerima teori tersebut, tetapi banyak pula yang menolaknya. Hal itu tidak saja terjadi di Indonesia, melainkan juga di dunia internasional. Namun demikian, dapat dipastikan bahwa sebagian besar para pendukung atau penolak teori tersebut belum mengetahui apa sebenarnya yang didukung atau ditolak itu.

Buku  “The Origin of  Species” (Darwin,  1859)  adalah buku  yang paling terkenal dan banyak diserang. Tetapi Darwin tidak hanya menulis buku tersebut. Ada empat buah buku lain yang berisikan pikiran Darwin tentang kehidupan di alam ini.  Bagi kita di Indonesia, tentu sangat sulit mendapatkan buku-buku tersebut.  Kalau pun berhasil mendapatkannya, masih diperlukan usaha keras untuk membaca dan memahaminya.  Buku-buku karya Darwin tersebut  telah diterbitkan dalam  bentuk sebuah himpunan yang diberi  judul “The Darwin Compendium”.  Buku tersebut sangat berat dan tebal (1874 halaman), dan ditulis dalam Bahasa Inggris  Victorian Zaman Pertengahan (akhir Abad ke-19).

Meskipun demikian, ada hal yang menggembirakan. Seorang teman yang sangat mencintai Ilmu pengetahuan telah membeli buku tersebut dan membacanya, dan telah pula menuliskan gambaran umum tentang isi buku tersebut.

Selanjutnya, apa yang saya sampaikan di bawah ini adalah apa yang tulis oleh teman saya itu dan telah disebarkan via iagi-net. Dengan izin tertulis darinya, saya memuat tulisan itu di dalam blog ini. Harapannya adalah semoga bermanfaat untuk memperluas wawasan kita.

Judul aslinya adalah “The Darwin Compendium”. Saya kutip dengan sedikit editing teks untuk mempermudah pembacaan dan tidak merubah tulisan aslinya.

Terima kasih untuk Awang Harun Satyana yang telah memberikan izin bagi saya untuk mempublikasi ulang tulisan ini.

============================

The Darwin Compendium

Wednesday, June 11, 2008 1:27 PM

From:

To: “IAGI” <iagi-net@iagi.or.id>

Charles Darwin (1809-1882) tak hanya menulis “The Origin of Species” (1859). Ada empat buku lainnya yang berhubungan yang tak terlalu banyak dibicarakan orang tetapi sangat penting kalau mau mempelajari teori evolusi Darwin secara utuh. Untuk menemukan kelima buku Darwin itu tidak mudah, tetapi penerbit Amerika Barnes and Noble mengumpulkannya ke dalam satu buku yang diberi judul “The Darwin Compendium”. Setiap orang yang mau mendebat teori evolusi atau mendukungnya, sebaiknya membaca dulu buku ini agar debat atau dukungannya punya dasar, tidak hanya ikut-ikutan.

“The Darwin Compendium” adalah buku yang berat dan tebal (1874 halaman) terbitan tahun 2005. Buku ini saya beli pada Desember 2005 saat sedang mengunjungi Unocal di Sugarland, Texas. Perlu waktu lama membaca buku ini, selain butuh konsistensi, butuh spirit untuk melawan kejenuhan dan menyerah, tak mudah pula memahami bahasa Inggris Victorian zaman pertengahan- akhir abad ke-19 yang menjadi bahasa buku ini.

Buku ini membantu memahami apa yang sesungguhnya Darwin pikirkan dan pertahankan tentang evolusi. Perasaan Darwin pun bisa kita baca di salah satu karyanya yaitu otobiografinya. Semua penganut dan pengritik teori evolusi yang dikembangkan Darwin sebaiknya membaca buku ini sebelum mempercayai atau menolak teori evolusi. Karena the Darwin Compendium mengumpulkan lima karya utama Darwin sejak sebelum ia mengumumkan teori evolusi, mempertahankannya, dan menceritakan apa yang ia rasakan berhubungan dengan teorinya yang kontroversial pada zamannya itu; maka kita akan mendapatkan gambaran yang utuh tentang Charles Darwin dan teori evolusi.

Kelima buku utama Darwin yang dikumpulkan dalam The Darwin Compendium adalah seperti berikut.

1. ”Voyage of the Beagle” (Darwin, 1839) berisi catatan Darwin sebagai naturalis dalam kapal Beagle yang berlayar ke pulau-pulau selatan termasuk Kepulauan Galapagos di lepas pantai sebelah barat Amerika Selatan. Di kepulauan ini Darwin mengamati keberagaman burung finch (sejenis kutilang) dan iguana yang menjadi salah satu dasar hipotesisnya bahwa makhluk hidup berubah dengan berjalannya waktu.

2. ”The Origin of Species” (Darwin, 1859), buku Darwin paling terkenal dan yang paling banyak diserang, mengatakan bahwa seleksi alam – teori survival of the fittest (yang paling cocok dengan alam yang akan terus hidup) – menghasilkan begitu banyak varietas kehidupan di Bumi.

3. ”The Descent of Man” (Darwin, 1871), berargumentasi bahwa begitu banyak bukti yang menunjukkan bahwa manusia adalah bagian kerajaan hewan dan telah dibentuk mengikuti hukum alam yang sama yang menghasilkan semua kehidupan lain di Bumi.

4. ”The Expression of Emotions in Man and Animals” (Darwin, 1872), buku ini meneliti lebih lanjut tesis bahwa manusia adalah bagian dunia alam. Di dalam buku ini Darwin berargumentasi bahwa ekspresi wajah pada manusia merupakan bentuk kompleks komunikasi yang dilakukan oleh sistem perototan yang begitu rumit yang merupakan hasil proses evolusi.

5. Setelah bertahun-tahun mengalami masa-masa penghinaan, penyerangan, maupun penghargaan karena teori-teorinya, Charles Darwin menceritakan perasaan dan hidupnya dalam sebuah otobiografi berjudul, ”Autobiography of Charles Darwin” (Darwin, 1876).

—————

Kontroversi di seputar Darwin

Ada banyak kontroversi seputar Darwin, kadang-kadang disebut idea-ideanya berbahaya. Ketika mengingat Darwin orang mengingat gambar monyet yang berubah menjadi manusia, alam semesta yang tak memerlukan tangan Mahakuasa, dan pandangan kehidupan yang selalu berubah. Ada juga mitos-mitos yang ditujukan kepada Darwin : bahwa dia menemukan evolusi, dia membenci Tuhan, dia meninggalkan Kekristenan, dia mengatakan bahwa manusia keturunan monyet, dan saat-saat menjelang ajal dia katanya meninggalkan kepercayaannya akan evolusi. Darwin disalahkan untuk sesuatu yang disebut social Darwinism – idea bahwa yang kuat harus mengungguli yang lemah. Dengan membaca kelima karya utama Darwin yang dikumpulkan dalam The Darwin Compendium barangkali kita akan berpendapat bahwa semua kontroversi dan mitos itu adalah salah.

Kehidupan itu telah tua dan berubah secara perlahan, dan makhluk hidup perubah seiring waktu

Buku ”Voyage of the Beagle” (Darwin, 1839) mengabadikan apa yang dilihat, dialami dan dipikirkan Darwin saat dia bekerja sebagai naturalis di kapal Beagle dalam pelayaran selama lima tahun (1831-1836). Dalam perjalanan ini Darwin mengumpulkan banyak spesimen tumbuhan, hewan, juga fosil. Darwin juga dalam perjalanan ini melihat sisi buruk kekerasan manusia berupa perbudakan dan kekerasan dalam nama agama. Semua penglihatan ini baik alam maupun sosial mempengaruhi Darwin bagaimana memandang dunia. Kepulauan Galapagos punya arti khusus buat Darwin dalam perjalanan ini. Di kepulauan ini, setiap pulau punya jenis burung finch yang berbeda tetapi saling berkerabat. Di sini juga ada kura-kura dan iguana yang sedikit berbeda di setiap pulau. Darwin bertanya mengapa begitu banyak varietas yang berbeda untuk burung-burung dan iguana yang sama, apa maksud keanekaragaman ini ? Kondisi di Galapagos bersama data lainnya mulai membentuk idea sekaligus membentuk keraguan dalam diri Darwin akan penjelasan teologis zaman itu tentang asal dan keberagaman kehidupan. Buku geologi tulisan Charles Lyell (1797-1875) ”The Principles of Geology” (1830) yang dibawa Darwin ke mana-mana sangat besar pengaruhnya membentuk idea Darwin bahwa kehidupan itu telah tua dan berubah secara perlahan, seperti halnya Bumi yang diajarkan Lyell bahwa Bumi berubah perlahan, secara seragam sepanjang waktu yang lama. Di bukunya Lyell mengajarkan bahwa umur Bumi jauh lebih tua daripada 6000-10.000 tahun seperti yang dipercayai saat itu. Lyell mengajarkan juga bahwa Bumi berubah secara gradual, bukan mendadak atau melalui katastrofisme. Pulang dari perjalanannya itu, Darwin segera membukukan catatan-catatan pengamatannya dan bukunya ini mendapatkan sambutan luas. Setelah itu Darwin mempelajari dengan hati-hati semua spesimennya dan ia makin yakin dengan yang ia percayai: makhluk hidup berubah seiring waktu.

Thomas Huxley: “Anatomi primata dan manusia sangat mirip dan itu merupakan bukti bahwa mereka berhubungan.

Di samping buku geologi Lyell, Charles Darwin juga membaca buku Thomas Malthus (1766-1834) berjudul ”Essays on the Principle of Population” (1798). Malthus berargumen bahwa jumlah populasi selalu lebih besar daripada jumlah makanan yang tersedia. Maka, terjadilah perjuangan untuk tetap hidup (struggle for survival). Idea gradualisme Lyell, idea struggle for survival Malthus, dan penelitian Darwin selama pelayarannya dengan Beagle, telah membentuk konsep seleksi alam yang dikembangkan Darwin. Ia berpendapat bahwa setiap generasi menghasilkan keturunan yang agak berbeda daripada orang tuanya. Perbedaan ini kadang-kadang menjadi penting untuk supaya dapat lestari dan berkembang lagi. Kelompok organisme yang dapat beradaptasi terhadap lingkungan meningkatkan peluangnya untuk menghasilkan generasi berikutnya. Perbedaan genetik dikombinasi dengan perubahan lingkungan dalam waktu yang lama akan mengakibatkan spesiasi. Spesiasi-spesiasi ini telah menyebabkan keanekaragaman makhluk hidup di Bumi. Idea ini dijelaskan Darwin dalam bukunya yang paling terkenal ”The Origin of Species” (1859). Sejak buku ini, orang mengenal Darwin dengan adagium ”manusia berasal dari monyet” Padahal, di bukunya itu Darwin tak pernah mengatakan hal tersebut. Hubungan monyet dengan manusia muncul di buku Thomas Huxley, seorang pembela garis keras Darwin, yang menulis buku ”Evidence for Man’s Place in Nature” (1863). Huxley di bukunya itu menyatakan bahwa anatomi primata dan manusia sangat mirip dan itu merupakan bukti bahwa mereka berhubungan. Manusia adalah bagian dari dunia binatang, tidak terpisah daripadanya. Manusia adalah hasil seleksi alam dan evolusi. Manusia dan primata punya nenek moyang yang sama. Maka, kiranya yang kita kenal dengan keberatan terhadap evolusi pada saat ini sebenarnya berasal dari idea Huxley bukan Darwin.

Darwin: “manusia adalah bagian dari dunia binatang dan diciptakan menurut hukum-hukum alam yang sama yang mengatur makhluk hidup lainnya.”

Terinspirasi oleh Huxley, Darwin kemudian menulis buku yang khusus membahas evolusi manusia; ”The Descent of Man” (1871). Di buku ini Darwin berargumen bahwa banyak bukti yang menunjukkan bahwa manusia adalah bagian dari dunia binatang dan diciptakan menurut hukum-hukum alam yang sama yang mengatur makhluk hidup lainnya. Kalau Huxley mencari bukti kesamaan anatomi, Darwin mencari bukti kesamaan tingkah laku antara binatang dan manusia. Menurut Darwin, tingkah laku adalah hasil seleksi alam. Moralitas pun adalah produk evolusi. Kepercayaan kepada Tuhan pun adalah hasil perkembangan intelektual dan nalar. Begitu menurut Darwin.

Darwin: “Ekspresi wajah binatang dan manusia menunjukkan banyak kesamaan.”

Untuk lebih menguatkan tesisnya bahwa manusia adalah bagian alam, Darwin menulis buku yang lain, “The Expresion of Emotions in Man and Animals” (1872). Di bukunya ini Darwin mengemukakan bahwa ekspresi wajah adalah bentuk kompleks komunikasi oleh sistem perototan yang rumit yang merupakan hasil proses evolusi. Emosi yang ditunjukkan oleh ekspresi wajah juga merupakan akibat seleksi alam. Darwin menganalisis bahwa semua emosi dan ekspresi wajah sama saja untuk segala bangsa, bagaimana kalau mereka senang,marah, ketakutan, dan lain-lain. Menurut Darwin, ekspresi wajah binatang dan manusia menunjukkan banyak kesamaan.

Terakhir, Darwin menulis “Autobiography of Charles Darwin” (1876) yang sebenarnya bukan ditulis untuk umum, tetapi untuk keluarganya agar anak-anaknya bisa memahami apa yang menjadi kepercayaan bapaknya (evolusi). Tetapi kemudian Francis Darwin, salah seorang anaknya, menerbitkannya pada tahun 1887 dengan menghilangkan sebagian manuskrip yang dirasakan akan kontroversial. Tahun 1958, cucu Charles Darwin, Nora Barlow menerbitkannya lagi secara utuh berjudul Autobiography of Charles Darwin.

Evolusi atau Kreasionisme

Karya-karya Darwin selalu kontroversial sejak diterbitkan untuk pertama kalinya sampai sekarang sebab Darwin menyentuh langsung hal-hal yang sangat mendasar (falsafi) tentang kehidupan. Karya2-nya mengeksplorasi hal2 ini: dari mana kehidupan berasal, bagaimana ia bisa sampai ke sini, realitas Yang Mahakuasa. Pemikiran-pemikiran yang dicetuskannya pun mengalami evolusi. Menjelang abad kedua puluh, kemajuan-kemajuan dalam genetika, biologi molekuler, dan biokimia telah memberikan kita pandangan-pandangan yang lebih mendalam dibandingkan pada masa Darwin. Síntesis antara seleksi alam klasik dan ilmu-ilmu moderen in telah melahirkan neo-Darwinisme. Walaupun ilmu-ilmu baru ini banyak memberikan dukungan untuk teori evolusi Darwin, kontroversi terus saja berlangsung. Selama akhir abad ke-20 dan awal abad ke-21 ini kita melihat orang-orang berdebat soal evolusi, termasuk sampai ke pengadilan, seperti di beberapa negara bagian di Amerika Serikat (Kansas khususnya) dan Australia. Perdebatan ini adalah di sekitar pertanyaan mana yang harus diajarkan di sekolah-sekolah umum, apakah evolusi atau lawannya (kreasionisme). Orang-orang fundamental menganggap Darwin sebagai terkutuk dan teori evolusinya tak punya bukti apa pun. Sebaliknya, para ilmuwan fundamental beranggapan bahwa bila ingin memahami alam yang tanpa campur tangan adikodrati, maka orang harus menerima Darwin dan teorinya.

Pahami dahulu, baru bicara

Sebenarnya perdebatan tentang evolusi banyak berasal dari kesalahpahaman tentang teori evolusi itu sendiri. Tidak banyak para pendebat evolusi yang membaca karya-karya asli Darwin. Mereka umumnya membaca literatur-literatur yang ditulis oleh para penyerang Darwin. Ini berakibat bahwa pemahaman mereka tentang evolusi Darwin akan semakin jauh dari yang sebenarnya.

Setiap orang yang mau mendebat sebuah teori harusnya dalam posisi “well informed” dengan teori aslinya agar yang didebatnya tepat sasaran dan substantial. Dalam hal teori evolusi yang dikembangkan dan dipublikasikan Darwin, buku “The Darwin Compendium” ini merupakan buku yang baik untuk memulai. Lima karya asli Darwin ada di situ.

Kutipan paragraf terakhir di buku paling terkenal Darwin:

“There is grandeur in this view of life, with its several powers, having been originally breathed into a few forms or into one; and that, whilst this planet has gone cycling on according to the fixed law of gravity, from so simple a beginning endless forms most beautiful and most wonderful have been, and are being, evolved.” (Charles Robert Darwin, “The Origin of Species” – 1859)

Penutup

Tak ada yang sempurna. Teori evolusi juga ada kesalahan dan kesulitannya sendiri, Darwin juga menyadari hal itu dan menuliskan bab khusus tentang hal tersebut di dalam bukunya tahun 1859 itu. Darwin tak semuanya benar, tetapi juga tak semuanya salah. Semua berubah, ilmu pengetahuan pun berubah atau lebih tepat berkembang, yang tetap hanya perubahan itu sendiri.

Salam,

Awang

———–

Semoga bermanfaat,

Wahyu

Posted in Alam Semesta, Cara Bumi di Hidupkan | Dengan kaitkata: , , , , , , , , | 6 Comments »