Kepulauan Indonesia

Cerita dari, untuk dan tentang Kepulauan Indonesia beserta Penghuni dan Penduduknya

Posts Tagged ‘Geologi’

Junghuhn: Kecintaan dan Antusiasme

Posted by wahyuancol pada Januari10, 2012

APA YANG TERJADI BILA KECINTAAN DAN ANTUSIASME BERGABUNG MENJADI SATU?

Mari kita simak cerita dari seorang rekan berikut ini.

=====================

Sabtu 7 Januari 2012 kemarin, bersama sekitar 80 orang dari suatu komunitas yang senang jalan-jalan sambil belajar di lapangan, saya mengunjungi makam Junghuhn di Jayagiri Lembang.

Di depan nisannya yang ditinggikan seperti obelisk, saya membentang poster berisi foto diri Junghuhn, biografi singkat, miniatur peta Jawanya yang monumental, lukisan-lukisan beberapa gunung yang didakinya, dan tentu saja ilmu yang “dimuliakannya”: botani, termasuk dua spesies kina dan geografi/ekologi tumbuhan.

Para peserta yang sangat beragam latar belakang profesi dan pekerjaannya dan umurnya, dari bayi yang masih digendong ibunya sampai seorang kakek berusia 78 tahun menyimak dengan khidmat diselingi decak kagum atas karya2 Junghuhn, duduk di pelataran makam Junghuhn atau berdiri mendekati poster dan nisan.

Mengapa memilih Junghuhn, sebab ia bukan hanya perintis budidaya kina di Indonesia, tetapi jauh dari itu, ia adalah perintis penelitian geologi, kartografi/geodesi, geografi, botani, bahkan antropologi di Jawa. Dan, hal ini tak banyak diketahui masyarakat umum. Umumnya, mereka tahu Junghuhn dengan kata kunci kina, padahal bukan hanya kina.

Saya pernah menulis beberapa kali tentang Junghuhn buat milis2, saya tak akan mengulangi menjelaskan kiprahnya sebab itu pernah saya tulis, juga pernah ditulis di beberapa majalah. Tetapi ada beberapa hal yang belum diketahui selama ini, yaitu tentang kepribadian dan kutipan2 pernyataan Junghuhn yang berguna buat kita, itulah yang saya bagikan Sabtu kemarin itu.

Saya menggali lebih jauh kepribadian Junghuhn dari buku tulisan Rudiger Siebert (2002), “Deutsche Spuren in Indonesien” (Horleman Verlag, Bad Honnef). Dalam buku berbahasa Jerman ini, Siebert mengulas biografi 10 tokoh Jerman yang berkarya di Indonesia, antara lain Junghuhn.

Saya cantumkan kata-kata Junghuhn yang penting di poster, dan membacakannya untuk semua yang mendengar:

“Di sana aku menghargai dan memelihara ilmuku bagaikan benda keramat, selama 12 tahun aku menjelajahi gunung-gunung dan hutan-hutan Kepulauan Sunda yang mempesonakan itu. Dengan sengaja aku mengikuti jalan setapak yang sepi, dan tidak ada petunjuk jalan lain yang menemaniku kecuali KECINTAAN pada pekerjaan itu dan ANTUSIASME.” (dikutip dan diterjemahkan dari kata pengantar buku magnum opusnya, “Java, seine Gestalt, Pflanzendecke und innere Bauart”, 1854) (Jawa: Bentuknya, Flora dan Struktur-Dalamnya).

Junghuhn melalukan semua yang dilakukannya terhadap Jawa tanpa berbekal pendidikan formal. Pendidikan formalnya adalah dokter medis dan ia menjalani profesi sebagai dokter militer di Indonesia selama 3 tahun 7 bulan, sementara ia memetakan Jawa, mendaki semua gunungnya, meneliti geologi dan tumbuhan-tumbuhannya termasuk pembudidayaan kina selama sekitar 21 tahun, dengan diselingi 2 tahun bekerja memetakan sebagian Sumatra Utara. Lalu saat cuti sakit di Belanda, ia mengerjakan semua datanya menjadi buku-bukunya yang terkenal, magnum opusnya, dan peta Jawanya yang luar biasa, selama 7 tahun. Maka total hampir 30 tahun hidupnya, dari 54 tahun umurnya, didayagunakan untuk Jawa sampai akhir hayatnya. Semuanya bermodalkan dua hal ini: KECINTAAN dan ANTUSIASME, bukan latar belakang akademik.

Junghuhn tergila-gila oleh keinginannya melakukan riset. Ia laki-laki penuh energi, berwajah serius, dengan pandangan mata yang skeptis. Walaupun Junghuhn mengagumi alam, bahkan seperti orang yang menjadikan alam sebagai agamanya, ia bukanlah penghayal. ia ingin mencari fakta mengenai sifat-sifat alam, dan ia mengharapkan agar data dan catatannya akan disimpan untuk penggunaan generasi selanjutnya, maka ia sangat mementingkan publikasi dan ia marah besar ketika intrik politik dan iri hati dari kalangan ilmuwan dan akademikus hampir membuat magnum opus Junghuhn tentang Jawa tidak dipublikasikan.

Pulau Jawa menantang segala kekuatan dan kreativitas Junghuhn, menguras energinya. Pulau Jawa juga yang melemahkan tubuhnya sehingga berkali-kali membuatnya mesti mengambil cuti sakit yang lama. Ia menjadi orang pertama yang menjelajahi pulau ini secara sistematis. Alam Jawa ditelitinya dalam keadaan serba sulit dan penuh pengorbanan. Ia menyusahkan dirinya sendiri, tetapi juga menyusahkan orang-orang lain, yaitu para pembantunya di lapangan, orang-orang Jawa. Orang2 Jawa tak mengerti kemauan Junghuhn yang dianggapnya gila, mendaki semua puncak gunung yang kala itu diyakini orang2 Jawa sebagai tempat yang berbahaya, tempat jin, dedemit, dan sebangsanya. Tetapi Junghuhn adalah orang dengan disiplin diri yang luar biasa.

Junghuhn tidak pernah mengambil jalan yang paling gampang. Ia menyusahkan dirinya sendiri dan para pembantunya. pasti Junghuhn telah dengan keras bertindak kepada dirinya sendiri dan kepada orang lain. Tetapi kekerasannya menghasilkan semua magnum opusnya tentang Jawa. Kita menyaksikan seorang ilmuwan otodidak yang berpikir lugas dan yang mengumpulkan fakta dalam jumlah yang sangat besar. Dan Junghuhn melakukan semua yang dihasilkannya sendirian, tanpa teman ilmuwan lain, tanpa dibantu organisasi apa pun. Pekerjaan yang telah dilakukan Junghuhn selama 30 tahun untuk Jawa benar2 pekerjaan raksasa yang dilakukannya sendiri, hanya dengan teman2 orang Jawa para pembantunya yang suka dipaksanya untuk tidak takut mendaki puncak2 gunung.

Sebenarnya yang dikerjakan Junghuhn di lapangan melebihi Charles Darwin, pengembang teori evolusi. Tetapi mengapa Junghuhn tak dikenal dunia internasional seluas Darwin? Sebab Darwin mengeluarkan suatu teori alam yang menghebohkan pada zamannya, sementara Junghuhn menampilkan lukisan alam yang ada, sekalipun sangat detail. Tiga volume buku Junghuhn tentang Jawa, lebih tebal 3x dari semua karya Charles Darwin yang termuat di compendiumnya.

————–

Begitulah, siang itu di makam Junghuhn yang pada tahun 1919 kemudian dijadikan cagar alam dan area plasma nutfah kina, saya berusaha memberitahukan sumbangsih apa yang sebenarnya diberikan Junghuhn untuk Indonesia, untuk pengetahuan Jawa, agar kita mengenalnya dengan lebih baik. Karya para spesialis selanjutnya berdiri di atas karya raksasa yang diletakkan junghuhn. Di makamnya, di suatu pojok tumbuh pohon-pohon kina yang budidayanya pernah dirintis Junghuhn. Pohon-pohon itu adalah kenangan hidup seorang lelaki yang luar biasa, tipe peneliti tunggal yang sudah hilang dari dunia kita ini, yang kini dipenuhi para spesialis…

Nisannya dan obelisknya kini dijadikan sasaran vandalists yang meninggalkan corat-coretnya. Mereka tak menghargai orang luar biasa yang kini terbaring sisa debu tanah dan serpihan tulang di bawahnya: Junghuhn, tetapi karyanya tetap abadi dan bersejarah.

Ke arah belakang dari makam Junghuhn, ada makam lain yang tak bernama, yang rusak berat, tanpa nisan, dan penuh coretan, kotor tak terurus, padahal itu adalah makam Johann de Vrij, pada masanya ahli kimia paling unggul di Hindia Belanda, yang ditugaskan Pemerintah Belanda membantu junghuhn membudidayakan kina. Tanpa Johann de Vrij, Indonesia tak akan pernah mencapai predikat penghasil kina no 1 di dunia sebelum Perang Dunia ke-2. Tokh kini, ia seolah tidak dihargai, bahkan jarang orang mengenal itu makam siapa, selain dipakai duduk-duduk pasangan muda-mudi…

Harus dikagumi apa yang dapat dicapai oleh seseorang dalam keadaan historis tertentu – apabila orang itu adalah tokoh yang luar biasa seperti Junghuhn !

Semoga penjelasan saya siang itu di makam Junghuhn dipahami dan menginsipirasi sekitar 80 orang anggota komunitas, dan semoga tulisan ini juga menginspirasi kita semua.

Tak ada karya besar dihasilkan tanpa KECINTAAN dan ANTUSIASME.

salam,
Awang

===================

Demikian kisah yang saya kutip dari seorang teman, mendahului izinnya.

Terima kasih Pak Awang.

Salam,

Wahyu

Iklan

Posted in PARA PERINTIS, Sejarah | Dengan kaitkata: , , , , , , , | Leave a Comment »

IESO 2010 Telah Selesai

Posted by wahyuancol pada Oktober1, 2010

Olimpiade Ilmu Kebumian International yang ke-empat tahun 2010 di Yogyakarta telah selesai dilaksanakan. Upacara penutupannya telah dilaksanakan pada hari Senin tanggal 27 September 2010 di University Club, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Taiwan mendapatkan 3 medali emas, Korea 2, dan Indonesia dan Jepang 1. Detil lebih jauh mengenai kegiatan selama pelaksanaan olimpiade ini dapat dilihat di dalam website: http://www.ieso2010.ugm.ac.id/

Materi yang dilombakan di dalam olimpiade ini meliputi empat bidang, yaitu Geologi (dan Geofisika), Meteorologi, Oseanografi dan Astronomi. Tes dilakukan secara tertulis dan praktek lapangan. Hal baru dalam pelaksanaan olimpade di Yogyakarta ini adalah adanya tes praktek di lapangan untuk bidang oseanografi yang dilaksanakan di Pantai Baron, Kabupaten Gunungkidul. Materi yang diujikan dalam tes praktek lapangan oseanografi itu adalah pengukuran temperatur air dan pH air dengan menggunakan pH-meter digital, dan pengamatan kondisi gelombang dan pantai bertebing dari ketinggian bukit di sisi timur Teluk Baron.

Untuk tahun 2011, IESO akan dilaksanakan di Italia.

Demikian kabar terakhir tentang IESO ke-4 tahun 2010 di Yogyakarta.

Salam,

Wahyu

Catatan:

Hari ini, Selasa 12 September 2010,  saya lihat website IESO ini telah ditutup. Yang tertinggal hanyalah sembilan publikasi selama pelaksanaan IESO tersebut yang dapat di download.

Posted in Dari Indonesia untuk Dunia | Dengan kaitkata: , , , , , , , , , | Leave a Comment »

MENGHADAPI ANCAMAN BAHAYA GEOLOGI di WILAYAH PESISIR (MBG)

Posted by wahyuancol pada Juni3, 2008

Bencana alam akhir-akhir ini telah menarik perhatian kita semua. Khusus bagi kawasan pesisir, banjir karena pasang surut atau naiknya air laut ke darat karena gelombang tinggi menjadi perhatian, terutama di daerah kota besar seperti Jakarta. Tetapi, bahaya geologi di daerah pesisir tidak hanya itu. Pada kesempatan ini saya mencoba memberikan gambaran apa saja bahaya geologi di daerah pesisir dan bagaimana kita kita menanggapi ancamannya. Materi kali ini adalah makalah yang pernah saya presentasikan dalam seminar di Yogyakarta pada 15 Februari 2008 yang diselenggarakan oleh Jurusan Teknik Geologi – UGM.

Bila ada yang ingin mengutipnya sebagai referensi tulisan ilmiah, penulisan sitasinya adalah sebagai berikut:

Setyawan, W.B., 2008. Menghadapi ancaman bahaya geologi di Wilayah Pesisir. Dalam: S. Husein, S.S. Surjono, S.B. Samodra dan D.N.E. Putra (editor), Tantangan dan Strategi Pendidikan Geologi dalam Pembangunan Nasional, Prosiding Seminar Nasional Ilmu Kebumian 2008, Jurusan Teknik Geologi FT UGM, Yogyakarta: H2-1 sampai H2-24.

———–

Daftar Isi:

Abstrak

1. Pendahuluan

2. Siklus Manajemen Bencana

3. Aktifitas Mitigasi dan Karakter Bencana

4. Karakter Bahaya Geologi dan Upaya Mitigasinya

4.1. Tsunami

4.2. Gelombang Tinggi

4.3. Erosi Pantai

4.4. Banjir Pasang-surut dan Subsiden

4.5. Banjir Luapan Sungai

4.6. Sedimentasi

5. Kesimpulan

Referensi

———

Abstrak

Bahaya geologi hakekatnya adalah proses geologi yang mengancam keselamatan harta dan atau jiwa manusia. Keberadaan ancaman bahaya geologi di suatu kawasan berkaitan dengan kondisi geologi di kawasan itu. Manajemen ancaman bahaya geologi dapat dipandang sebagai bagian dari upaya untuk mengurangi dampak negatif apabila bahaya geologi itu benar-benar terjadi (mitigasi bencana) dan merencanakan bagaimana menanggapi bencana geologi bila terjadi (preparadnes).

Mitigasi dan preparadnes bencana adalah fase awal dari suatu siklus manajemen bencana. Aktifitas mitigasi bencana sesungguhnya adalah upaya untuk mengeliminasi atau mengurangi kemungkinan terjadinya bencana, atau mengurangi efek dari bencana yang tidak dapat dicegah kejadiannya. Efektifitas suatu akifitas mitigasi bencana ditentukan oleh: (1) faktor pencetus, (2) karakter kedatangan / kejadian, (3) prediktabiltas, (4) durasi suatu bencana dan (5) areal terganggu.

Di kawasan pesisir yang merupakan daerah transisi antara darat dan laut dapat terjadi bencana geologi dengan air laut sebagai agen yang bekerja (working agents): tsunami, gelombang tinggi, banjir pasang surut dan erosi pantai; dan dapat pula terjadi bencana geologi yang berkaitan dengan air permukaan: banjir limpasan sungai; dengan muatan sedimen: sedimentasi, dan dengan kompaksi batuan: subsiden. Karakter dari setiap macam bencana itu perlu dipahami agar kita dapat menyusun strategi menghadapi ancamannya. Secara umum, disamping memperkirakan waktu kejadian, pemetaan daerah-daerah di kawasan pesisir yang terancam oleh suatu ancaman bahaya geologi adalah langkah penting yang harus dilakukan dalam aktifitas mitigasi bencanaa atau geologi itu yang dilakukan berdasarkan karakter dari bencana atau bahaya geologi tersebut.

1. Pendahuluan

Dalam beberapa tahun terakhir ini, di Indonesia banyak terjadi bencana alam, baik yang datang dari laut maupun yang sumber kejadiannya di darat. Terjadinya tsunami pada tanggal 26 Desember 2004 yang melanda sebagian besar wilayah pesisir barat dan utara Pulau Sumatera, khususnya di Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam begitu menghentakkan, dan membuat perhatian masyarakat umum di Indonesia menarah ke bencana (alam) geologi yang datang dari laut itu.

Bahaya geologi atau bencana geologi dapat terjadi di bagian bumi manapun, termasuk di wilayah pesisir. Bahaya geologi di daerah pesisir berkaitan dengan proses-proses geologi khas untuk daerah pesisir. Proses-proses geologi tersebut umumnya adalah proses-proses geologi yang berkaitan dengan kondisi angin, gelombang, pasang-surut dan arus, dan terekspresikan dalam bentuk tsunami, gelombang karena badai, banjir pasang-surut, erosi pantai. Selain itu, ada pula bencana geologi yang tidak berkaitan dengan berbagai faktor yang disebutkan itu, yaitu sedimentasi yang berkaitan dengan suplai muatan sedimen dari daratan, dan bencana subsiden yang berkaitan dengan kompaksi batuan atau endapan sedimen.

Manajemen ancaman bahaya geologi dapat dipandang sebagai bagian dari upaya untuk mengurangi dampak negatif apabila ancaman bahaya geologi benar-benar terjadi dan menjadi bencana geologi (mitigasi bencana), dan merencanakan bagaimana menanggapi bencana geologi bila terjadi (preparadnes atau kesiagaan bencana). Makalah ini bertujuan memberikan gambaran bagaimana menanggapi ancamanan dari berbagai macam bahaya geologi di daerah pesisir dengan memperhitungkan karakternya.

———-

5. Kesimpulan

Dari uraian di atas jelas terlihat bahwa ancaman bahaya geologi di daerah pesisir dapat datang dalam berbagai bentuk kejadian. Meskipun demikian, hanya ada dua agen utama yang bekerja yaitu air laut dan air permukaan. Air laut sebagai agen yang bekerja hadir dalam bentuk gelombang dan pasang-surut, sedang air permukaan hadir dalam bentuk debit air permukaan yang besar.

Aktifitas mitigasi bencana adalah upaya untuk memperkecil dampak negatif dari suatu bencana. Terkait upaya itu, mengetahui waktu kejadian dan lokasi kejadian adalah hal yang penting karena dengan kedua hal itu manusia dapat menghindar dari bahaya yang datang.

Tidak semua macam bahaya geologi dapat diketahui dengan pasti waktu kedatangan, seperti tsunami. Namun ada pula bahaya geologi yang kedatangannya sedemikian halus sehingga manusia terlambat menyadarinya sampai bahaya itu benar-benar terjadi dan manusia tidak dapat menghindar lagi, seperti subsiden, banjir, dan erosi pantai. Oleh karena itu, pemetaan daerah-daerah yang berpotensi untuk terkena bahaya geologi menjadi faktor kunci dalam ke-efektifan upaya mitigasi. Dengan mengetahui daerah-daerah yang berpotensi terkena bahaya, diharapkan manusia dapat menghindari daerah-daerah tersebut dalam melakukan aktifitas. Sampai pada titik ini, kesadaran masyarakat akan potonsi bencana menjadi hal yang penting, karena hanya dengan kesadaran akan bahaya yang akan menimpalah yang membuat masyarakat bersedia untuk menghindar dari daerah-daerah bahaya. Dengan demikian, kegiatan pembelajaran publik sangat penting untuk dilaksanakan berdampingan dengan berbagai uaya mitigasi yang lain.

Dalam upaya melakukan prediksi waktu dan lokasi kejadian bahaya geologi yang berkaitan dengan gelombang laut, prediksi kondisi angin dan gelombang laut (meteorologi maritim) adalah informasi penting. Sementara itu, untuk bahaya yang berkaitan dengan air permukaan, prediksi kondisi curah hujan adalah faktor kunci. Terkait dengan kedua hal itu, institusi yang bertanggung-jawab adalah BMG.

Untuk prediksi bencana banjir pasang-surut, pengetahuan akan kondisi fisik lahan pesisir, terutama berkaitan dengan daya dukungnya, adalah sangat penting. Perlu disadari bahwa bencana banjir pasang-surut tidak datang begitu saja. Bencana ini bisa dipastikan dimulai dari keterlanjuran manusia melakukan pembangunan fisik di daerah daratan relatif baru dan labil di tepi pantai. Keterlanjuran itu terjadi karena kegagalam manusia memahami karakter fisik daerah pesisir. Untuk mengetahui kondisi fisik lahan pesisir dan dapat memetakan daerah yang berpotensi mengalami subsiden, studi geomorfologi pesisir dalah hal yang penting. Di pihak lain, untuk prediksi pasang surut, institusi yang sekarang ini bertanggung-jawab melakukannya adalah Jawatan Hidro-Oseanografi TNI-AL.

Bahaya sedimentasi di perairan pesisir berkaitan erat dengan pengelolaan DAS dan tata-air (aliran sungai dan kanal-kanal) selain berkitan dengan faktor curah hujan. Berbagai institusi terkait dengan masalah ini. Karena itu, diperlukan kerjasama dari berbagai institusi terkait untuk dapat mengelola masalah sedimentasi. Untuk kondisi tertentu, bahaya erosi pantai juga berkaitan dengan pengelolaan aliran sungai atau kanal-kanal.

Referensi

Anonim-Ant, 2007. Gelombang Pasang Landa Berbagai Wilayah Indonesia. [http://portal.antara.co.id/arc/2007/5/18/gelombang-pasang-landa-berbagai-wilayah-indonesia/]. Akses: 2 Febuari 2008.

Anonim-BBC, 2007. Gelombang Pasang Landa Pesisir. [http://www.bbc.co.uk/indonesian/news/story/2007/05/070520_tidalwave.shtml]. Akses: 2 Feburari 2008.

Anonim-Rep, 2007. Gelombang Pasang Terjang Pesisir. [http://202.155.15.208/koran_detail.asp?id=293613&kat_id=3]. Akses: 2 Febuari 2008.

AVISO, 2007. Southern Swell in the Indian Ocean. [http://www.aviso.oceanobs.com/html/applications/meteo/houle_australe_uk.html]. Akses: 1 Juni 2007.

BMG (Badan Meteoprologi dan Geofisika), 2007. Apa itu Tsunami. [http://www.bmg.go.id/data.bmg?Jenis=Teks&IDS=8704394716716499700]. Akses: 11 Febuari 2008.

Cooke, R.U. and Doornkamp, J.C., 1977. Geomorphology in Environmental Management: an introduction (reprint edition). Clarendon Press, Oxford, 413 p.

ESA, 2007. Huge waves from one strom slam coast some 6000 km apart. [http://www.esa.int/esaEO/SEMMJJ9RR1F_economy_o.html] Akses: 1 Juni 2007.

Pariwono, J.I., 2007. Terjangan Gelombang Tinggi ke Pantai-pantai Luar Indonesia di Bulan Mei 2007. Abstrak dipresentasikan pada Pertemuan Ilmiah Tahunan Ikatan Sarjana Oseanologi (ISOI) di Bogor, 22 Nopember 2007.

Setyawan, W.B. dan Witasari, Y., 2004. Pengaruh tsunami tahun 1996 terhadap wilayah pesisir Pulau Biak. Dalam: Setyawan, W.B., Witasari, Y., Arifin, Z., Ongkosongo, O.S.R. dan Birowo, S. (editor). Prosiding Seminar Laut Nasional III, 29-31 Mei 2001, Jakarta, Ikatan Sarjana Oseanologi Indonesia, hal. 135-141.

Skinner, B.J. and Porter, S.C., 2000. The Dynamic Earth: an introduction to physical geology, 4th edition, John Willey & Sons, Inc., New York, 112 pp.

Srinivas, H., tanpa tahun. The Indian Ocean Tsunami and Its Environmental Impacts. [http://www.gdrc.org/uem/disasters/disenvi/tsunami.html%5D. Akses: 22 Januari 2008

Tapper, N., 2002. Climate, climatic variability and atmospheric circulation patterns in the Maritime Continent Region. In: P. Kershaw, B. David, N. Tapper, D. Penny and J. Brown (editors), Bridging Wallace’s Line: the environmental and cultural history and dynamic of the SE-Asian-Australian Region, Advance in Geoecology 34, Catena Verlag GMBH, Reiskirchen, p. 5-28.

UNESCO/IOC, 2007. Welcome to the UNESCO/IOC global tsunami website, a one-stop resource for all tsunami-related information. [http://www.ioc-tsunami.org/]. Akses: 11 Febuari 2008.

Warfield, C., tanpa tahun, The Disaster Management Cycle. [http://www.grdc.org/uem/disaster/1-dm_cycle.html]. Akses: 22 Januari 2008.

————

Terima Kasih, Ancol 6 Juni 2008

Posted in Banjir, Erosi, PROSES (BENCANA) ALAM, Sedimentasi, Wilayah Pesisir | Dengan kaitkata: , , , , , , , , , , , , , | 1 Comment »