Kepulauan Indonesia

Cerita dari, untuk dan tentang Kepulauan Indonesia beserta Penghuni dan Penduduknya

Di Tengah Bencana Dahsyat, Warga Jepang Tetap Tertib

Posted by wahyuancol pada Maret13, 2011

Saat ini Bangsa Jepang sedang mendapatkan musibah berupa bencana Gempa Bumi dan Tsunami. Gempa dan Tsunami tersebut tidak kalah hebatnya dari Tsunami yang terjadi pada tanggal 26 Desember 2004 yang menimpa sebagian besar Propinsi Nangroe Aceh Darussalam. Rusaknya Reaktor Nuklir Pembangkit Tenaga Listrik yang menyebakan terjadinya kebocoran radioaktif seakan menyempurnakan kehebatan bencana alam itu. Di sana bercampur menjadi satu antara bencana alam (Gempa dan Tsunami) dengan bencana karena partisipasi manusia (seperti runtuhnya gedung, kebakaran, dan kebocoran radioaktif).

Di tengah bencana alam yang demikian hebatnya itu, ternyata ada pelajaran yang sangat berharga yang masih bisa diberikan oleh Bangsa Jepang bagi dunia. Sepanjang berita yang tersiarkan, tidak ada kepanikan, tidak ada tangis histeris, tidak ada rebutan atau kerusuhan. Bangsa Jepang telah memberikan contoh tentang ketertiban yang luar biasa. Mungkin saat ini tidak ada bangsa lain yang mampu menandingi ketertiban itu.

Untuk memperoleh gambaran yang lebih jauh tentang hal itu, berikut ini adalah kisah tentang ketertiban Bangsa Jepang itu yang saya kutip dari Detik.Com. Sengaja cerita yang masih sangat panas itu saya sebarkan ulang agar makin luas kalangan yang membacanya dan dapat menarik pelajaran darinya.

————————

Dunia berdecak kagum dengan mentalitas masyarakat Jepang. Di saat terjadi bencana gempa dan tsunami yang mematikan, mereka tetap mengantre dengan tertib di supermarket untuk mendapatkan bahan makanan. Tidak ada rebutan, tidak ada kerusuhan!

Rupanya tidak hanya di supermarket saja suasana ketertiban di tengah bencana itu terlihat pada masyarakat negeri sakura. Ketika gempa baru saja terjadi, lalu lintas macet total. Namun, penduduk Jepang tetap bersikap tenang menghadapinya.

“Lalu lintas bagai di neraka dan sering kali hanya satu mobil dapat berjalan ketika lampu lalu lintas berubah menjadi hijau. Tapi semua begitu tenang dan mengemudi dengan aman dan memberikan jalan kepada satu sama lain,” ucap salah salah satu pengendara, Arakawa.

Arakawa mengucapkan hal itu melalui akun twitter, yang lalu diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh seorang translator bernama Aya Watanabe (@vida_es_bella). Watanabe menghimpun beberapa tweet para korban gempa yang menunjukkan ketertiban dan rasa kesetiakawanan warga Jepang.

Masih di jalan raya, seorang pengguna jalan lain mengatakan, ia mengemudi selama 10 jam untuk pulang ke rumah saat gempa menghentak pada Jumat sore, 11 Maret lalu. Lalu lintas sangat padat. Namun, ia tidak mendengar bunyi klakson sekali pun. “Yang terdengar hanyalah ucapan terima kasih antara satu sama lain, karena telah diberi jalan,” katanya.

Sikap tetap tertib dan tidak emosional juga terlihat di stasiun-staiun kereta api. Seperti diberitakan, ketiga gempa terjadi, jaringan KA Tokyo Metro sempat menghentikan operasinya dengan alasan keselamatan penumpang. Banyak penumpang yang terlantar di stasiun. Namun, mereka tetap menunggu dengan sabar sampai KA dapat beroperasi kembali. Para penumpang juga senang dengan cara petugas KA yang tetap melayani mereka dengan senyuman.

Seorang warga Jepang yang ingin menempuh perjalanan dari Oedo menuju Hikari Gaoka mengatakan, stasiun sangat penuh dengan penumpang. Sampai-sampai ada penumpang yang menunggu di luar gerbang tiket. Akan tetapi, semua tertib dan mengikuti arahan petugas stasiun. “Kami membentuk garis sempurna. Tidak ada tali partisi. Tapi kami memberikan ruang untuk orang lain berjalan. Semua orang mengikuti petunjuk yang diberikan oleh staf stasiun. Ketenangan ini sangat mutlak dan nyata. Saya kagum dengan kekuatan mental orang-orang ini,” kata dia.

Bagaimana dengan di Indonesia?

—————————-

Demikian sebuah contoh nyata dari Bangsa Jepang untuk dunia. Bukan cerita fiktif.

Mari kita bayangkan situasi di Jakarta sehari-hari. Suasananya dapat dikatakan bertolak belakang 180 derajad. Dalam hal berlalu lintas, dalam kondisi tanpa bencana pun kemacetan terjadi. Pengguna jalan saling menyerobot. Kemacetan karena kenderaan yang saling mengunci bukan cerita asing di persimpangan. Apa bila ada ruang kosong di depannya, segera diisi meskipun hal itu menimbulkan kemacetan. Tidak ada ceritanya memberi jalan kepada pengguna jalan lain.

Dengan situasi masyarakat kota Jakarta yang seperti itu, cerita tentang ketertiban dari Jepang itu seakan sebuah cerita yang ada hanya di sebuah negeri dongeng.

Saya merasa, hanya ada dua kata kunci tentang ketertiban Bangsa Jeopang itu, yaitu saling percaya satu sama lain yang juga kuat dan saling menghormati.

Semoga menjadi contoh yang bermanfaat.

Salam,

Wahyu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: