Kepulauan Indonesia

Cerita dari, untuk dan tentang Kepulauan Indonesia beserta Penghuni dan Penduduknya

Gerakan Tanah 01 (Definisi dan Arti)

Posted by wahyuancol pada Desember14, 2014

Definisi dan Pengertian Gerakan Tanah

Gerakan Tanah adalah pergerakan atau perpindahan material di permukaan bumi dari tempat yang tinggi ke tempat yang rendah karena gaya gravitasi.

Kata “Gerakan Tanah” adalah terjemahan dari kata dalam Bahasa Inggris “Mass Movement” atau “Mass Wasting“.

Material yang yang bergerak dapat berupa tanah, bongkah batuan atau hancuran batuan.

Gerakan material yang menuruni lereng tersebut berkisar dari sangat cepat sampai sangat lambat.

Gerakan tanah dapat melibatkan komponen air, tetapi jumlahnya sangat sedikit. Maksudnya, air yang terlibat tidak menjadi media yang membawa material yang bergerak itu, seperti air pada aliran sungai.

Di Indonesia, gerakan tanah yang paling dikenal adalah “tanah longsor“.

Arti Gerakan Tanah

Gerakan tanah adalah salah satu proses yang penting di permukaan bumi. Dengan gerakan tanah, permukaan bumi diukir atau dikupas, dan material dipemukaan bumi berpindah dari tempat yang tinggi ke tempat yang rendah. Lebih jauh lagi, dengan gerakan tanah material di permukaan bumi yang berada di tempat-tempat yang tinggi dapat lebih cepat masuk ke dalam sistem aliran sungai, sehingga dapat ditransportasikan ke laut melalui aliran sungai, untuk akhirnya diendapkan di laut.

 

 

Posted in Cara Bumi di Hidupkan, FILSAFAT, Gerakan Tanah, PROSES (BENCANA) ALAM | Dengan kaitkata: , , , , , , , | Leave a Comment »

Pulau Laag

Posted by wahyuancol pada Desember10, 2014

Pulau Laag

Koordinat: 05° 23′ 14″ LS, 137° 43′ 07″ BT

Titik Referensi: No. TR.092

Titik Dasar: No. TD.092

Letak Administrasi: Distrik , Kabupaten Asmat, Propinsi Papua.

Catatan:

  • Koordinat yang dikutip dari Atlas Pulau-pulau Kecil Terluar di atas bila diplot pada Google Earth jatuh di laut.
  • Posisi koordinatberikut ini dari Geographic.Org,  05° 22′ 00″ LS, 137° 44′ 00″ BT.
  • Nama lain pulau ini adaah Laag-eiland (Geonames.org),
  • Direktori Pulau-pulau Kecil Kementrian Kelautan dan Perikanan menyebutkan nama lain Pulau Laag adalah Pulau Jat (KKP). Kemungkinan nama ini salah karena menurut Getamap.net ada pulau lain di sebelah utara Pulau Laag yang bernama Pulau Djats.
  • Kata “laag” berasal dari Bahas Belanda yang berarti “rendah” (low – Bahasa Inggris)
  • Pulau Laag tidak berpenduduk.
  • Di pulau ini terdapat mercusuar tetapi tidak belum terekam di dalam citra satelit (World of Lighthouses)
  • Berdasarkan definisi atau pengertian pulau, maka Pulau Laag ini tidak dapat lagi disebut sebagai sebuah pulau. Secara visual bentuk pulau sudah tidak ditemukan lagi karena telah bergabung dengan Pulau Papua. Namun demikian, secara politis pulau ini masih diakui keberadaannya sebagai sebuah pulau, karena di pulau itu ada titik referensi dan titik dasar yang dipergunakan sebagai dasar penentuan batas negara.
  • Berbagai sumber menyebutkan bahwa di sebelah timur Pulau Laag terdapat Pulau Kecil (Pulau Klein), tetapi sekarang pulau itu tidak dijumpai lagi.

Informasi lain:

  • Pulau Laag adalah pulau yang telah kehilangan bentuknya dan karakternya sebagai sebuah pulau karena telah menyatu dengan daratan Pulau Papua. Kesimpulan ini dibuat berdasarkan pengamatan terhadap citra satelit dari Google Earth. Citra satelit tersebut memperlihatkan bahwa kawaan pesisir selatan Pulau Papua adalah daerah yang memiliki tingkat sedimentasi yang tinggi. Hal itu ditunjukkan dari banyaknya gosong pasir atau lumpur di perairan pesisir dekat pantai, terutama di sekitar muara-muara sungai (Gambar 1). Sangat mungkin bahwa Pulau Laag semula adalah sebuah mangrove cay, yaitu gosong pasir atau lumpur yang ditumbuhi oleh vegetasi mangrove.
  • Pulau Kecil atau Pulau Klein, saya duga juga mangrove cay. Karena dinamika kawasan tersebut yang sangat tinggi, maka pulau tersebut hilang. Beberapa situs, yang saya kutip di atas, masih menyebutkan lokasi keberadaan pulau tersebut.
Pulau Laag dan sekitarnya 02 ket

Gambar 1. Pulau Laag dan kawasan sekitarnya. Sumber Citra dari Google Earth, tanggal pencitraan 13 Desember 2011.

  • Menurut Buku Panduan Pelayaran, yang dipublikasikan oleh Pemerintah Amerika, pulau ini memiliki panjang 1000 m pada arah Utara – Selatan dan lebar 463 m, berelevasi rendah dan banyak ditumbuhi vegetasi. Pulau ini terletak sekitar 5 mil di sebelah Selatan – Baratdaya muara Sungai Blumen. Informasi ini memperkuat dugaan mengenai sejarah pulau ini yang diuraikan di atas. Buku ini juga menyebutkan keberadaan Pulau kecil yang sudah tidak ada lagi wujudnya itu.
  • Malam ini (11 Des 2014), dugaan saya tentang Pulau Laag dan tentang Pulau Kecil (Pulau Klein) yang saya uraikan di atas terjawab. Saya berhasil menemukan sebuah peta koleksi dari The University of Texas at Austin yaitu peta dari Joint Operations Graphic yang bissa dikenal sebagai JOG Map. Lembar: Pulau Laag, Indonesia; Nomor Seri: 1501 AIR; Nomor Lembar: SB 53-8; Edisi 1; Skala 1:250.000. Peta hasil kompilasi data terbaik sampai tahun 1967. Dipublikasikan oleh U.S. Army Map Service. Cuplikan peta itu yang memperlihatkan keberadaan Pulau Laag dapat dilihat pada Gambar 2.
Pulau Laag  JOG Map txu-oclc-224033150-sb53-08

Gambar 2. Pulau Laag dan kawasan sekitarnya tahun 1967. Tanda panah menunjuk ke Pulau Laag dan Pulau Kecil (Pulau Klein). Bandingkan dengan Gambar 1. Tampak Pulau Laag masih terpisah dari Pulau Papua, dan Pulau Kecil masih hadir. Sekarang, Pulau Laag telah menyatu dengan Pulau Papua dan Pulau Kecil telah hilang. Peta ini dikutip dari Peta Lembar Pulau Laag (JOG Map Lembar SB 53-8).

 

  • Peta Pulau Laag di atas juga memberikan nama lain dari Sungai Momats, yaitu Sungai Lecoco D’Armandville.
  • Mempertimbangkan sejarah perkembangan pulau ini, diperkirakan di masa mendatang garis pantai pulau ini akan terus berubah karena sedimentasi.

Prediksi Respon Terhadap kenaikan Muka Laut Global:

  • Karena pulau ini berada di lingkungan dengan tingkat sedimentasi yang tinggi, kenaikan muka laut global diperkirakan tidak akan berpengaruh terhadap kehadiran pulau ini meskipun elevasinya rendah.

Catatan Tambahan:

  • Berdasarkan hal-hal yang saya sampaikan di atas, maka dengan ini saya menyatakan bahwa Atlat Pulau-pulau Kecil Terluar dari Badan Informasi Geospasial (BIG – dahulu Bakosurtanal) perlu dikoreksi.
  • Koreksi juga perlu dilakukan untuk jumlah pulau-pulau kecil terluar yang sampai saat ini masih menyebutkan adanya Pulau Laag.

 Kembali

 

Posted in Mengenal Indonesia, Pulau Kecil Terluar | Dengan kaitkata: , , , , , , , , , , , , | Leave a Comment »

Transportasi Sekoci Sungai Musi Meredup

Posted by wahyuancol pada Desember1, 2014

Dahulu, sebelum transportasi darat berkembang seperti sekarang di kawasan aliran Sungai Musi, Sungai Musi adalah jalur transportasi utama di kawasan tersebut yang menghubungkan Kota Palembang dengan desa-desa di tepi sungai itu maupun antar desa tepi sungai. Sekoci (perahu) adalah alat transportasi utama. Seiring dengan berjalannya waktu, pembangunan berlangsung. Banyak jalan dan jembatan dibangun di kawasan aliran Sungai Musi oleh Pemerintah untuk memudahkan masyarakat. Keadaan tersebut juga merubah kebiasaan transportasi masyarakat setempat dari moda transportasi air ke transportasi darat. Kejayaan transportasi sekocipun meredup.

Apa yang disampaikan oleh pemilik Romzy (32) dan Andri (35), dan warga Desa Mandi Aur, Muara Kelingi, Toni (36), memberikan gambaran yang baik tentang perubahan itu.

Andri menyebutkan, sekitar tahun 2005, dalam sehari dia mampu memperoleh penghasilan sekitar Rp 500.000,- dari pekerjaan mengantar penumpang ke sejumlah desda tujuan di tepi Sungai Musi. Kini seharinya dia hanya memperoleh sekitar Rp 100.000,-.

Toni menyebutkan, sekoci telah lenyap dari desanya sejak tahun 2005 setelah jalan menuju desa-desa di tepi Sungai Musi dibangun.

Romi menceritakan, harga bahan bakar minyak yang semakin tinggi menyebabkan biaya operasional angkutan sekoci meningkat, sehingga tarif angkutan dinaikkan. Keadaan tersebut membuat pengguna jasa angkutan sekoci berkurang.

Salah satu tujuan pembangunan adalah untuk memberikan kemudahan bagi kehidupan masyarakat umum, termasuk kemudahan bertransportasi. Pembangunan infrastruktur jalan dan jembatan memberikan kemudahan transportasi bagi masyarakat umum. Bupati Empat Lawang, Budi Antoni Aljufri, menyebutkan “jika jalan dan jembatan tidak cepat dibangun, kasihan masyarakat karena biaya untuk transportasi air tinggi”.

Kini, seiring dengan peningkatan pembangunan transportasi darat, penggunaan sekoci yang dahulu menjadi budaya masyarakat bantara sungai kini lambat laun ditinggalkan. Pemanfaatan sekoci kini hanya untuk acara-acara pariwisata.

Itulah perubahan.

Salam,

WBS

Sumber: Sekoci Kian Tersisih di Musi, Kompas.com, Travel/News, 28 Nopember 2014.

Kisah serupa:

Sungai Mahakam

Posted in HUMANIORA, Perubahan Sosial | Dengan kaitkata: , , , , , , | Leave a Comment »

Agats, Kabupaten Asmat, Papua

Posted by wahyuancol pada November20, 2014

Agats

Kota Agats sekarang adalah ibukota dari Kabupaten Asmat, Propinsi Papua. Kota ini terletak di dataran rendah di kawasan pesisir di bagian selatan Pulau Papua (Gambar 1). Secara fisik, kota ini berada di kawasan rawa mangrove berelumpur di tepi sungai Asewets (Gambar 2).

Agats

Gambar 1. Agats di pesisir selatan Pupau Papua. Sumber citra: Tageo.

Agats Lokasi

Gambar 2. Agats. Kenampakan detil kondisi lingkungan fisik tempat kota berada. Sumber Citra: Google Earth.

Lokasi tempat berkembangnya kota ini di tepi sungai di kawasan rawa mangrove membuat kota ini berkembang menjadi kota yang unik di Indonesia. Semua bangunan di kota ini berkaki karena kota ini harus berkembang dengan menyesuaikan diri dengan kondisi lingkungan rawa mangrove (Gambar 3), dan Agats berkembang menjadi waterfront city (Gambar 4).

Agats typical street

Gambar 3. Kota Agats yang berkembang sebagai kota berkaki karena menyesuaikan diri dengan lingkungan rawa. Sumber foto: Henry S, Panoramio.

Agats dari udara

Gambar 4. Kota Agats di tepi sungai dari udara. (Sumber: Lubis, 2010)

Agats dari sungai

Gambar 5. Kota Agats dilihat dari arah sungai. (Sumber: Lubis, 2010)

————————–

Kondisi Agats dan lingkungan tempat kota itu berada mungkin dapat dibandingkan dengan Venesia di Italia. Kota Venesia dikenal sebagai Kota Terapung. Kota itu berkembang di atas rawa-rawa, dan dibangun di atas pondasi kayu yang ditancapkan ke dalam lumpur rawa hingga mencapai batuan yang kuat menahan beban (Gambar 6).

Wooden Foundations of Venice

Gambar 6. Pondasi kayu Kota Venesia. Sumber: Dhwty, 2014.

 

Kota Venesia unik karena kota itu dibangun di suatu lagoon dan dikelilingi oleh tubuh air. Kota itu dibangun dengan menggabungkan lebih dari seratus pulau yang dipisahkan oleh kanal-kanal dan dihubungkan oleh 433 jembatan (Finn et al., 2011, hal. 1).

Kota Venesia dan lingkungan lagoonnya adalah hasil dari proses dinamis yang menggambarkan interaksi antara manusia dan ekosistem alamiahnya (UNESCO World Heritage Centre, tanpa tahun)

Kota Venesia didirikan tahun 421 AD oleh para pengungsi dari kawasan pesisir yang bernama Venesia. Pada mulanya kota itu hanya mencakup sejumlah pulau kecil. Mereka membangun desa-desa di dalam areal lagoon yang berfungsi sebagai barier pelindung yang melindungi mereka dari serangan musuh yang sering terjadi ketikan mereka hidup di daratan utama. Dengan berjalannya waktu, kota berkembang hingga mencakup semua pulau di tengah lagoon, dan secara bertahap digabungkan mendaji satu. Gabungan pulau-pulau itu pertama kali dikelola sebagai satu kesatuan pemerintahan dalam bentuk republik pada tahun 726 AD (Finn et al., 2011, hal. 3).

Ketika Venesia berkembang dari tempat pengungsian temporer menjadi kota permanen, penduduk kota itu menyadari bahwa mereka membangun di atas lahan rawa dengan membuat pondasi kayu yang ditancapkan ke dalam lumpur rawa hingga mencapai endapan lempung keras di dasar lagoon. Sampai sekarang telah jutaan tiang kayu ditancapkan untuk membangun jembatan, kanal dan gedung-gedung. Untuk membangun pondasi bangunan, lapisan-lapisan papan kayu oak diletakkan di atas tiang-tiang pondasi, dan kemudian di atasnya diletakkan bata (brick) dari marmer (Cocks, 2006).

Sampai Abad ke-16, tiang-tiang pondasi ditanam dengan palu yang dipukulkan dengan tangan. Pekerjaan dilakukan di dalam air dan dimulai dengan membangun dinding pelindung. Kemudian air dibuang dan tiang-tiang kayu sepanjang 3-6 meter dengan diameter 20-25 cm ditancapkan. Sebelum ada mesin untuk memukul palu, tiang-tiang ditancapkan  sedalam 2-3 meter, tetapi setelah ada mesin, tiang-tiang ditancapkan lebih dalam lagi. Rata-rata kepadatan tiang adalah 9 tiang per meter persegi, dan bila diperlukan jumlah tiang ditambah (De Miranda et al., tanpa tahun).

Penggunaan kayu untuk mendukung struktur bangunan lebih menguntungkan daripada batu atau logam. Kayu hanya lapuk oleh mikroorganisme. Kayu pondasi di Venesia berada di dalam air dan tidak berhubungan dengan udara, sehingga mikroorganisme tidak dapat berkembang. Dengan demikian pelapukan oleh mikroorganisme tidak terjadi. Sebaliknya, kontak kayu dengan air garam yang terus menerus menyebabkan kayu mengeras karena mengalami petrifikasi. Kayu berubah menjadi keras seperti batu (Dhwty, 2014).

Dengan memberikan uraian tentang Kota Venesia ini saya berharap semoga dalam membangun Kota Agats kita dapat mengambil pelajaran dari perkembangan Kota Venesia.

———————————

Agats adalah kota kecil di pesisir selatan Papua. Letaknya yang jauh dari Ibukota negara dan akses yang sulit untuk mencapai kota itu membuat kota itu tidak menarik perhatian. Tetapi, pada bulan Nopember 1961, mata dunia pernah tertuju ke kota itu, yaitu ketika Michael Clark Rockefeller, anak Gubernur Kota New York, Amerika Serikat, hilang di perairan sekitar Agast. Agats adalah tempat keberangkatannya yang terakhir sebelum hilang. Setelah sebelumnya melakukan perjalanan selama dua bulan di pedalaman, pada pertengahan Nopember rombongannya kembali ke Agats untuk mengisi perbekalan untuk sebulan perjalanan. Pada tanggal 17 Nopember 1961 ia berangkat kembali meninggalkan untuk menuju ke Laut Arafura untuk mengunjungi pesisir selatan. Ketika melintasi muara Sungai Betsj atau Eilanden, perahunya terbalik diterpa gelombang.

Michael Clark Rockefeller (23) berangkat bersama seorang ahli antropologi berkebangsaan Belanda, Dr. ReneW. Wassing (34) dan didampingi oleh dua orang penduduk lokal sebagai asisten melakukan melakukan perjalanan untuk mencari benda-benda seni primitif Asmat dengan mempergunakan perahu penduduk lokal (The Miami News 26 Nov. 1961). Setelah perahu terbalik, dua asisten penduduk lokal berenang ke pantai untuk mencari bantuan. Setelah hampir seharian terapung dengan berpegangan pada perahu yang terbalik dan tanpa pertolongan, pada tanggal 19 Nopember 1961 karena khawatir hanyut ke laut lepas Michael berenang ke darat dengan bantuan dua drum minyak kosong sebagai pelampung yang diikatkan ke pinggangnya (Smithsonian Magazine March 2014). Michael tenggelam dalam upayanya berenang ke darat. Dr. Wassing berhasil diselamatkan tanggal 20 Nopember 1961. Pencarian terhadap Michael dilakukan dari darat, laut dan udara. Di darat pencarian dilakukan dengan bantuan 5000 orang penduduk setempat yang menyisir seluruh kawasan rawa mangrove di kawasan itu. Upah diberikan untuk penduduk lokal dalam bentuk tembakau (Chicago Tribune 26 Nov. 1961).

Siapa Michael C. Rockefeller? Ia adalah anak dari laki-laki termuda dari Nelson Aldrich dan Mary Todhunter Clark Rockefeller. Neneknya, Abby Aldrich Rockefeller, adalah pendiri the Museum of Modern Art (Museum Seni Moderen), dan ayahnya mendirikan the Museum of Primitive Art (Museum Seni Primitif), dan kedua museum itu sekarang menjadi bagian dari the Metropolitan Museum of Art (Museum Seni Metropolitan) di Kota New York, Amerika Serikat. Michael adalah seorang sarjana lulusan Universitas Hardvard. Ia melakukan perjalanan ke Papua (New Guinea) mempelajari kehidupan Suku Ndani di Lembah Baliem dan budaya Asmat di pesisir selatan Papua (Sumber: Fredonia University).

Hilangnya Michael C. Rockefeller di perairan selatan Papua memunculkan berbagai spekulasi, seperti: (1) Dia ditangkap dan ditahan sebagai tawanan, (2) Dia bergabung dengan penduduk asli dan bersembunyi di dalam hutan, (3) Dia tewas dimakan ikan hiu, dan (4) Dia mencapai pantai, kemudian dibunuh dan dimakan oleh penduduk asli Asmat. Kisahnya berkembang menjadi bersifat mistis. Kisahnya dimainkan di panggung sandiwara Broardway, ditulis sebagai novel, lirik musik rock, dan bahkan acara televisi (television show) tahun 1980 (Sumber:Smithsonian Magazine edisi Maret 2014).

Dr. Rene Wassing kembali ke Belanda dan menjadi kurator Museum voor Volkenkunde (Ethnographic Museum, Museum Etnografi) di Rotterdam yang sekarang dikenal sebagai the Wereld (World) Museum. Dr. Wassing lahir di Palembang. Sampai sekarang, di masa tuanya, dia masih memandang dirinya sebagai anak daerah tropis (Sumber: Papua Heritage Foundation).

Bacaan:

Lubis, B.U., 2010. Agats: the waterfront city of the Asmat. Nakhara 6: 75-82.

Finn, O., Ouellette, J., Hutchinson, K. and Muller, R., 2011. The Building Block of Venice. Worcester Polytechnic Institute. (http://www.wpi.edu/Pubs/E-project/Available/E-project-121611-063819/unrestricted/Final_Report_B11_Maint_2.6.pdf). Akses 20 Nopember 2014.

UNESCO World Heritage Centre, tanpa tahun. Venice and Its Lagoon. (http://whc.unesco.org/en/list/394). Akses 21 Nopember 2014.

Cocks, A.S., 2006. The Science of Saving Venice. WMF.org. (http://www.wmf.org/sites/default/files/wmf_article/pg_23-29_venice_c.pdf). Akses 20 Nopember 2014.

De Miranda, M., Barbisan, U., Pogacnik, M. and Skansi, L., (tanpa tahun). Bridges in Venice – Architectural and Structural engineering aspects. (http://www.iuav.it/Ricerca1/ATTIVITA-/aree-temat/costruttiv/arte-del-c/materiali/iabse/iabse-scalzi.pdf). Akses 20 Nopember 2014.

Dhtwy, 2014. The Construction of Venice, the Floating City. Ancient Origin. (http://www.ancient-origins.net/ancient-places-europe/construction-venice-floating-city-001750). Akses 20 Nopember 2014.

 

(under construction)

 

Posted in Kota Kecil, Mengenal Indonesia | Dengan kaitkata: , , , , , , , , , , | Leave a Comment »

Erupsi 3 (Tipe-tipe erupsi: erupsi aliran)

Posted by wahyuancol pada November17, 2014

Klasifikasi Tipe Erupsi

Tipe erupsi dapat diklasifikasikan dengan berbagai dasar, yaitu:

  1. Berdasarkan pada bentuk dan lokasi bukaan (vent) yang darinya magma keluar,
  2. Berdasarkan pada hubungannya dengan air,
  3. Berdasarkan cara magma keluar dari kawah.

Tipe Erupsi Berdasarkan Cara Magma Keluar dari Kawah

Berdasarkan cara magma keluar dari kawah, erupsi dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu:

  1. Erupsi Aliran (effusive eruption): bila magma keluar dari kawah dengan cara mengalir sebagai aliran lava.
  2. Erupsi Letusan (explosive eruption): bila magma keluar dari kawah dengan cara dilontarkan ke udara sebagai material piroklastik.

Terjadinya perbedaan tipe erupsi ini adalah karena perbedaan kekentalan magma dan kandungan gas. Kekentalan magma di tentukan oleh kandungan silika (SiO2) di dalam magma. Makin tinggi kandungan silika di dalam magma, maka magma makin kental; dan sebaliknya, makin sedikit kandungan silika di dalam magma, maka magma makin cair.

Bila magma kental, maka gas akan terperangkap di dalam magma seperti gas di dalam botol minuman bersoda. Makin banyak gas yang terperangkap di dalam magma, maka tekanan magma makin tinggi. Bila magma yang bertekanan tinggi ini keluar secara cepat, maka akan terjadi erupsi letusan.

Sementara itu, bila magma cari, maka gas akan mudah lepas dari dalam magma; dan bila magma keluar maka akan terjadi erupsi aliran, magma keluar sebagai aliran lava.

Erupsi Aliran (Erupsi Effusif, Effusive Eruption)

Erupsi aliran mengeluarkan magma cair dalam bentuk aliran lava. Di kawah yang mengeluarkan magma cair ini dapat terbentuk lava fountain (mancuran lava, analogi: untuk air mancur disebut water fountain). Erupsi Gunung Kalauea di Pulau Hawaii yang sedang berlangsung saat ini adalah contoh aktual dari erupsi tipe aliran ini (Gambar 1). Aliran lava tersebut saat ini sedang melanda daerah pemukiman dan menghanguskan segala sesuatu yang dilandanya.

Gambar 1. Aliran lava Gunung Kilauea. Lava pijar yang mengalir membakar segala sesuatu yang dilandanya. Foto 26 Oktober 2014 (Sumber: USGS Hawaii Volcano Observatory).

 

Erupsi tipe aliran ini bisa terjadi dari dalam bentuk erupsi celah (Gambar 2) maupun erupsi kawah (Gambar 3).

Gambar 2. Erupsi celah dengan pancuran lava dan aliran lava di Gunung Kilauea, Hawaii. Foto dari USGS tanggal 5 Maret 2011.  Dikutip dari Red Orbit 9 Maret 2011.

 

Gambar 3. Erupsi kawah dengan pancuran lava dan aliran lava di Hawaii. 2 Juni 1986. (Sumber: USGS Hawaiian Volcano Observatory)

 

Bacaan:

British Geological Survey (Types of Eruption)

 

Erupsi 1 (Pengertian)

Erupsi 2 (Tipe-tipe erupsi: erupsi celah)

Posted in E, GLOSARIUM | Dengan kaitkata: , , , , , , , , | Leave a Comment »

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.