Kepulauan Indonesia

Cerita dari, untuk dan tentang Kepulauan Indonesia beserta Penghuni dan Penduduknya

Pulau Tokongmalangbiru

Posted by wahyuancol pada Oktober23, 2014

Pulau Tokongmalangbiru

Koordinat: 02 18 00 LU, 103 35 47 BT

Titik Referensi: No. TR. 022

Titik Dasar: No. TD. 022

Letak Administrasi: Desa Kiabu, Kecamatan Siantan, Kabupaten Natuna, Propinsi Kepulauan Riau.

Catatan:

  • Berbatasan dengan Malaysia, luas 0,01 km, tidak berpenduduk.
  • Berdasarkan foto atlat (hal. 19): pulau batu, menonjol, pantai bertebing curam. Ada mercusuar. Diperkirakan batuan penyusun pulau ini adalah granit.

Foto:

Informasi lain:

Posted in Mengenal Indonesia, Pulau Kecil Terluar | Leave a Comment »

Pulau Sentut

Posted by wahyuancol pada Oktober22, 2014

Pulau Sentut

Koordinat: 01° 02′ 52″ LU, 104° 49′ 50″ BT

Titik Referensi: No. TR.001A

Titik Dasar: No. TD.001A

Letak Administrasi: Desa Mapur, Kecamatan Bintan Timur, Kabupaten Bintan, Propinsi Kepulauan Riau.

Catatan:

Foto:

Sumber foto: TNI AL (2014)

Informasi lain :

Info Publik Menkominfo

ANZA association

Kembali

 

Posted in Mengenal Indonesia, Pulau Kecil Terluar | Dengan kaitkata: , , , , , , | Leave a Comment »

Pulau-pulau Kecil Terluar Indonesia

Posted by wahyuancol pada Oktober22, 2014

Pada tahun 2007 BAKOSURTANAL (Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional) menerbitkan Atlas Pulau-pulau Kecil Terluar Indonesia. Sekarang BAKOSURTANAL telah berubah nama menjadi BIG (Badan Informasi Geospasial). Tujuan menerbitkan atlas tersebut adalah menyajikan informasi spasial untuk pemerintah dan masyarakat luas tentang pulau-pulau kecil terluar yang dimiliki Indonesia sesuai dengan Peraturan Presiden No. 78 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Pulau-pulau Kecil Terluar. Saya mendapatkan atlas tersebut dengan cara membelinya pada tahun 2011 ketika berkunjung ke instansi pemerintah tersebut untuk keperluan membeli peta. Sampai hari ini, 22 Oktober 2014, saya belum sempat membaca atau melihat isi atlas tersebut secara menyeluruh. Hanya pulau-pulau tertentu saja yang sempat saya lihat karena berkaitan dengan pekerjaan. Rasanya sia-sia saya membeli atlas itu karena tidak terbaca isinya. Keadaan itu membuat saya merasa tidak ada bedanya dengan mereka yang tidak membeli atlas itu. Oleh karena itu, untuk merubah hal yang sia-sia itu menjadi lebih bermanfaat, maka saya bertekad untuk membaca satu per satu tentang pulau-pulau kecil yang ada di dalam atlas tersebut, dan kemudian membuat catatan singkat dan mempublikasikan di dalam blog ini agar para pembaca yang tidak memiliki atlas tersebut dapat juga mengetahui tentang pulau-pulau kecil terluar Indonesia melalui blog ini.

Menurut atlas tersebut, Indonesia memiliki 92 (sembilan puluh dua) buah pulau kecil terluar. Tentu memakan banyak waktu untuk membaca tentang pulau-pulau tersebut dan kemudian menuliskan catatannya di dalam blog ini. Oleh karena itu saya akan mencicilnya sedikit demi sedikit.

  1. Pulau Sentut
  2. Pulau Tokongmalangbiru
  3. Pulau Damar
  4. Pulau Mangkai
  5. Pulau Tokongnanas
  6. Pulau Tokongbelayar

 

 

Posted in Mengenal Indonesia, Pulau Kecil Terluar | Dengan kaitkata: , , , , | Leave a Comment »

Jembatan Kuning di Muara Dua

Posted by wahyuancol pada Oktober20, 2014

Ketika Indonesia mendapat presiden yang baru, Joko Widodo menggantikan Susilo Bambang Yudoyono

Sampai hari Jum’at tanggal 17 Oktober 2014 siang ketika mengendarai mobil melewati Kotabumi saya belum membayangkan kalau sore harinya akan sampai di Muara Dua. Ketika itu saya dan saudara-saudara yang tinggal di Bandar Lampung dalam perjalanan untuk menghadiri acara pernikahan seorang keponakan. Sampai di pagi hari keberangkatan itu saya hanya diberitahukan kalau keponakan saya itu akan menikah di Palembang, sehingga yang terbayang di kepala adalah bahwa saya akan mengunjungi Palembang. Lumayan ada kesempatan mengenal lebih jauh kota tersebut. Saya sebelumnya telah mengunjungi Palembang sebanyak tiga kali, tetapi semuanya hanya melintas di malam hari, sehingga saya tidak memiliki gambaran yang cukup tentang Palembang.

Kemana arah perjalanan di hari itu menjadi jelas ketika perjalanan mendekati Bukit Kemuning. Ketika itu saya meminta salah seorang keponakan yang berjalan bersama saya untuk menanyakan kemana arah perjalanan kepada keponakan yang lain yang telah lebih dahulu berangkat sehari sebelumnya. Jawaban yang diperoleh adalah “setelah sampai Bukit Kemuning, belok ke arah Way Kanan, sesampai di Way Kanan lalu belok ke Martapura, dan sesampai di Martapura kemudian belok kiri ke arah Muara Dua”. Saat itulah arah perjalanan menjadi jelas bagi saya, bahwa kami bukan ke Palembang, melainkan ke Muara Dua.

Kami berangkat meninggalkan rumah di Bandar Lampung sekitar jam 9 pagi. Ada beberapa urusan yang perlu diselesaikan sebelum bisa berangkat meninggalkan kota itu. Sekitar jam 10 kami baru bisa meninggalkan kota dan sampai di Muara Dua menjelang maghrib. Lama perjalanan sekitar 8 jam kartena kami sempat berhenti beberapa kali untuk isi bahan bakar, shalat Jum’at, makan siang dan berhenti karena cucu saya yang masih balita muntah. Secara umum perjalanan lancar. Kondisi jalan secara umum baik meskipun ada yang rusak di beberapa bagian. Untuk rombangan kami, oleh calon besan telah disediakan sebuah rumah sebagai tempat transit selama acara pernikahan. Agar dapat istirahat yang cukup setelah seharian menyopiri mobil, saya minta izin untuk menginap di hotel yang lokasinya sekitar 100 meter dari tempat resepsi pernikahan dilaksanakan. Hotel itu, Hotel Samudera.

Saya masuk ke hotel itu di malam hari dan langsung tidur karena lelah. Di pagi hari saya berkeliling di kawasan hotel yang cukup luas. Saya ingin tahu bagaimana kondisi hotel itu karena ketika masuk saya melihat beberapa kamar dari kelas yang sama tetapi kondisinya berbeda, dan ingin tahu apa yang sedang berlangsung di hotel itu karena ketika malam banyak sekali orang saya lihat beraktifitas di bagian selatan hotel. Hotel itu sedang direnovasi, tetapi nampaknya kegiatan renovasi sedang terhenti; karena hanya terlihat besi-besi yang telah terikat untuk konstruksi dan tidak terlihat bekas-bekas kegiatan tukang yang baru.

Di bagian selatan hotel saya lihat ada rumah yang bagus di atas rata-rata rumah masyarakat umum dengan penjagaan dan tiang bendera di depannya. Di sebelah timurlaut rumah itu ada semacam pendopo. Ketika saya mendekat, bendera merah putih sedang dikibarkan. Saya bertanya kepada orang yang mengibarkan bendera itu. “Ada acara apa di hotel ini?”. “Tidak ada acara apa-apa, itu adalah tempat menerima tamu. Ini adalah Rumah Dinas Bupati”, jawab orang itu.

Rasa ingin tahu tentang hubungan hotel dan rumah dinas itu muncul, dan selanjutnya saya bertanya, “hotel ini milik Pemda Muara Dua?”. “Bukan”, jawabnya, “hotel milik Bupati”. Saya belum puas mengenai hubungan hotel dan rumah dinas itu, tetapi tidak mungkin bertanya lebih detil. Rasa ingin tahu saya ternyata kemudian terjawab ketika saya ngobrol di lokasi resepsi pernikahan. “Bupati kita ini memang orang yang memiliki banyak uang sebelum menjadi bupati”, orang yang saya ajak bicara menjelaskan. Lalu dijelaskan lagi, “Dia memilih rumahnya sebagai rumah dinas, sedang Rumah Dinas Bupati yang sebenarnya dipakai oleh Wakil Bupati”.

Setelah berkeliling di kawasan hotel, saya berjalan kaki ke arah sebuah jembatan besi yang membentang di atas Sungai Komering, dengan tujuan ingin mengetahui kondisi sungai yang ketika datang hanya dapat saya lihat sekilas. Ketika saya berjalan ke arah jembatan matahari telah melewati pucuk-pucuk daun dari pohon-pohon yang tumbuh di perbukitan di sebelah timur Muara Dua. Sesampai di jembatan besi itu, saya dibuat kagum dengan keindahan pemandangan Jembatan Kuning yang berada di sebelah barat Jembatan Besi ini. Ketika kemarin sore saya sampai di Muara Dua, sebenarnya saya telah melihat jembatan itu, tetapi menjelang manghrib pemandangannya biasa saja. Tentang Jembatan Kuning ini, saya mendapat penjelasan bahwa dahulu jembatan itu buatan Belanda, kemudian ketika diperbaiki jembatan dibuat oleh orang Italia. Karena jembatan yang lama warnanya kuning dan sudah dinamakan Jembatan Kuning, maka jembatan yang baru itu juga diberi warna kuning.

Jembatan Kuning di Muara Dua. Jembatan ini melintang di atas Sungai Komering di Muara Dua. 18 Oktober 2014, pagi. Di foto menghadap ke barat, dari Jembatan Besi Selabung.

Jembatan ini dibuat dengan konstruksi baja menggantung. Di bagian tengah bentang jembatan terdapat semacam “sayap” tempat orang bisa berdiri menikmati pemandangan sungai dengan tidak mengganggu lalu lintas di atas jembatan itu. Di kala sore, banyak orang datang ke jembatan itu menikmati pemandangan Sungai Komering.

Melihat pemandangan yang indah Jembatan Kuning tersebut, saya membayangkan alangkah indahnya pemandangan di kawasan itu apabila kedua sisi sungai itu diatur dengan baik. Mari kita lihat gambar di bawah ini dan membayangkan andaikata rumah-rumah di sisi sungai itu dibuat menghadap ke sungai dan sungai itu menjadi pekarangan depan rumah.

IMG_8431 Sisi utara Sungai Komering

Jembatan Kuning dan sisi utara Sungai Komering. 18 Oktober 2014, pagi. Dari Jembatan Besi

 

IMG_8432 Sisi selatan Sungai Komering

Jembatan Kuning dan sisi selatan Sungai Komering. 18 Oktober 2014, pagi. Dari Jembatan Besi

Sungai Komering dimanfatkan oleh penduduk setempat untuk mandi dan mencuci. Apa perbedaan pola pemanfaatan sungai antara pagi dan siang hari.

IMG_8434 Aktifitas Pagi

Aktifitas pagi di Sungai Komering di Muara Dua. 18 Oktober 2014. Dari Jembatan Besi.

 

IMG_8456 Aktifitas Sore

Aktifitas sore hari di Sungai Komering di Muara Dua. 18 Oktober 2014. Foto dari Jembatan Besi menghadap ke timur.

 

IMG_8472 Aktifitas Sore

Aktifitas sore di Sungai Komering. 19 Oktober 2014. Foto dari Jembatan Kuning ke arah barat.

IMG_8474 Aktifitas Sore

Aktifitas sore di Sungai Komering. 19 Oktober 2014. Foto dari Jembatan Kuning ke arah barat.

 

IMG_8481 Sore di Jembatan Besi

Sore hari di Jembatan Besi Selabung, Muara Dua. 19 Oktober 2014. Foto dari utara menghadap ke selatan. Masyarakat berhennti di atas jembatan untuk menikmati pemandangan Sungai Komering.

Mengamati cara penduduk setempat memanfaatkan aliran sungai, terbetik di dalam kepala tentang bagaimana kualitas air Sungai Komering itu.

Sungai Komering mendapatkan aliran air yang utama dari Danau Ranau. Secara administrasi danau ini terbagi menjadi dua, sebagian masuk wilayah administrasi Propinsi Lampung dan sebagian lainnya masuk Propinsi Sumatera Selatan. Dari Muara Dua dibutuhkan waktu sekitar 1 jam untuk mencapai Danau Ranau dengan mobil. Melalui jaluir ini pula kota Liwa yang berada di Propinsi Lampung dapat dijangkau. Dari Liwa, kita bisa memilih jalan untuk kembali ke Bandar Lampung, mau lewat Bukit Kemuning di jalur tengah, atau Krui di jalur pantai barat Pulau Sumatera.

—————————————–

Melanjutkan cerita jalan-jalan pagi tadi. Dari Jembatan Besi Selabung saya berjalan ke arah kanan, ke arah kedatangan kami kemarin sore. Saya melewati deretan pertokoan Pasar Ulu. Terus berjalan sambil melihat-lihat. Di sepanjang jalan di depan pertokoan saya lihat banyak tahi burung di bawah jalur kabel listrik yang menggantung. Saya terus berjalan melewati tiga blok pertokoan dan kemudian belok ke sebuah taman kota.

Taman itu bersih. Di tengah taman ada sebuah tugu yang di atasnya ada patung burung walet atau seriti. Terletak di depan Mesjid Besar. Nama mesjid ini tidak saya ketahui karena huruf-huruf di papan namanya sebagian telai tiada. Ketika mesjid itu akan saya foto, kamera SLR Digital yang saya bawa macet. Karena kamera macet, saya memutuskan untuk kembali ke hotel tempat saya menginap. Sebelum kamera saya macet, saya sempat membuat beberapa foto mengenai taman itu di pagi hari. Acara pagi hari saya di Muara Dua tanggal 18 Oktober 2014 berakhir di taman kota ini.

IMG_8446 Taman Walet Muara Dua

Taman kota di Muara Dua. 18 Oktober 2014 pagi. Foto dari arah Mesjid Besar Muara Dua ke arah barat.

 

IMG_8445 Patung Walet

Patung Walet di puncak tugu di tengah taman kota Muara Dua. 18 Oktober 2014.

—————————

Sesampai di hotel saya beristirahat sambil mencoba mencari tahu penyebab mengapa kamera saya macet. Tidak berhasil, dan kamera masih macet. Tiba-tiba listrik di kamar hotel padam. Saya berjalan ke luar kamar dan menemui pegawai hotel menanyakan tentang listrik yang padam. Saya memperoleh jawaban, “Mungkin PLN sedang melakukan perbaikan jaringan listrik yang tertimpa pohon, biasanya sampai sore”. Setelah memberikan jawaban itu, tak lama kemudian dia menambahkan. “Di sini listrik mati biasa pak. Kalau dalam waktu satu minggu listrik tidak mati, orang-orang malah bertanya mengapa heran”. Kemudian ditambahkan lagi, “kalau sampai jam 17.30 nanti masih mati listrik, kita menyalakan generator listrik”.

Dengan situasi seperti itu, saya hanya diam. Tidak protes, karena saya pikir tidak ada gunanya. Ketika saya berjalan-jalan di jalan-jalan kota menuju ke pasar tradisional di lokasi yang baru, saya melihat toko-toko yang membutuhkan listrik semuanya menyalakan generator listrik. Di hari berikutnya, hari Minggu, kejadian serupa terulang lagi. Sekitar jam 9 pagi listrik padam. Bila listrik padam, maka efek berikutnya yang sangat terasa bagi saya yang biasa tinggal di kota besar di Jawa adalah hilangnya sinyal telpon seluler. Semua operator tidak ada sinyal. Sayangnya saya ketika itu tidak mencari tahu bagaimana pengaruh padamnya aliran listrik seharian terhadap sambungan telpon kabel di Muara Dua.

Sambil berjalan ke arah pasar tradisional itu, pikiran saya mengembara sampai kepada ingatan tentang buku ajar anak sekolah dari Kementerian Pendidikan Nasional yang bisa diperoleh dengan cara download melalui jaringan internet. Tak terbayangkan oleh saya bagaimana daerah-daerah yang bisa mengalami pemadaman listrik seharian seperti di Muara Dua ini dapat mengikuti langkah daerah-daerah lain yang listriknya tidak pernah padam. Saya di Muara Dua hanya hari Sabtu dan Minggu. Entah bagaimana dengan hari-hari lainnya yang merupakan hari kerja atau hari anak sekolah.

Letak pasar tradisonal itu sekitar 1,5 km dari hotel tempat saya menginap. Saya melewati terminal bis tipe B. Jalan-jalan terlihat bersih. Ketika saya berjalan sangat sering pengendara sepeda motor melambatkan laju motornya di dekat saya sambil berkata, “ojek pak?”. Nampaknya jasa ojek menjadi moda angkutan utama di kota itu, karena saya tidak melihat adanya mobil angkutan umum di dalam kota. Ini memang kota kecamatan.

Di depan pasar tradisional ada SPBU Pertamina. Mungkin satu-satunya SPBU di Muara Dua. Dalam perjalan menuju ke Muara Dua di hari Jum’at yang lalu. Di Martapura saya mengisi penuh tangki mobil. Saya katakan kepada keponakan saya, “kita harus mengisi penuh tangki mobil karena kita tidak tahu bagaimana kondisi persediaan BBM di Muara Dua”. Kemudian saya tambahkan, “kalau nanti di Muara Dua tidak ada SPBU atau sedang terjadi kelangkaan BBM, bila tangki penuh sekarang, kita masih bisa bergerak dan keluar dari Muara Dua”.

Di pasar tradisonal itu saya berkeliling. Tidak ada bedanya dengan pasar-pasar tradisional di daerah lain di Indonesia. Tidak ada yang istimewa di pasar itu. Saya hanya membeli pisang dan mangga. Juga membeli sebilah pisau dapur, karena teringat istri saya pernah meminta untuk dibelikan pisau dapur yang baru. Penjual pisau itu seorang ibu-ibu setengah baya. Ketika saya tanyakan pisau ini buatan mana, “pisau ini buatan Palembang”, jawabnya. Kemudian ibu penjual itu menambahkan, “di daerah ini tidak ada produksi apapun. Hanya ada …….(saya lupa dua hasil perkebunan di Muara Dua yang disebutkan ibu itu)”.

——————————-

Sore hari tanggal 18 Oktober 2014 setelah acara Akad Nikah keponakan saya itu selesai. Saya pamit untuk melanjutkan perjalanan saya tadi pagi di kota Muara Dua yang belum selesai. Foto-foto suasana sore hari di Sungai Komering, Jembatan Kuning dan Jembatan Besi Selabung yang telah saya sajikan di depan adalah hasil dari perjalanan sore ini. Karena melihat adanya keramaian di Jembatan Besi Selabung dan Jembatan Kuning di sore hari, maka saya memutuskan untuk kembali ke taman kota, dengan pikiran mungkin di taman itu ramai orang bermain.

Ternyata benar. Taman kota yang ketika pagi tampak sepi dan bersih, ternyata di sore hari sangat ramai dikunjungi warga kota Muara Dua. Taman kota berubah menjadi arena bermain anak-anak seperti terlihat di foto berikut ini.

IMG_8482 Taman Walet Sore

Taman kota Muara Dua ketika sore yang berubah menjadi arana bermain anak-anak. 18 Oktober 2014.

Dari taman kota saya melanjutkan perjalanan ke arah pasar lama yang telah diubah menjadi Taman Budaya. Ketika itu menjelang maghrib. Di pinggir jalan terlihat orang-orang yang bersiap di depan rumahnya untuk menunaikan shalat maghrib di mesjid. Gedung Taman Budaya telah berdiri. Tetapi nampaknya masih dalam proses penyelesaian.

Tidak lama di taman budaya itu, azan maghrib berkumandang. Saya kembali ke Mesjid Besar untuk shalat maghrib. Setelah shalat maghrib saya berjalan pulang ke hotel. Taman kota yang ketika sore menjadi arena bermain anak-anak, telah sepi. Terlihat beberapa orang terlihat membersihkan sampah yang dihasilkan pengunjung taman.

Dalam perjalanan pulang itulah saya memperoleh jawaban tentang tahi burung yang saya lihat tadi pagi. Ternyata di kabel listrik, tembok-tembok, dan pohon-pohon di tepi jalan banyak hinggap burung walet yang tidur di tempat-tempat itu. Saya teringat hal serupa juga ada di Townsville, Australia. Saya mengunjungi kota itu sekitar 10 tahun yang lalu. Bedanya dengan Muara Dua adalah jenis burungnya. Bila di Muara Dua burungnya burung Walet, maka di Townsville, burungnya burung Nuri berkepala hitam.

——————————-

Hari minggu siang jam 12.45, kami kembali ke Bandar Lampung.

Salam,

WBS

Posted in Ah... Indonesia ku, Kualitas Bangsa | Dengan kaitkata: , , , , , , , , , , , , , | Leave a Comment »

Karakter Orang Indonesia 03: menurut Rhenald Kasali

Posted by wahyuancol pada Juli11, 2014

Kita baru menyelesaikan pemilihan presiden yang baru tanggal 9 Juli 2014 yang lalu. Sekarang ini memasuki tahap penghitungan suara. Pemilihan presiden 9 Juli diawali dengan kegiatan kampanye para calon presiden dan wakil presiden. Setelah pemilihan presiden, suasana diwarnai oleh kegiatan Hitung Cepat yang dilakukan oleh berbagai lembaga survei, dan kemudian dilanjutkan oleh klaim kemenangan oleh kedua belah pihak berdasarkan hasil dari perhitungan cepat oleh lembaga survei yang mereka percaya kebenarannya.

Berbagai hal terjadi ketika kampanye, mulai dari kampanye kreatif hingga kampanye hitam. Sifat-sifat baik dan sifat-sifat buruk bangsa Indonesia muncul kepermukaan. Keadaan ini dipotret oleh Profesor Rhenald Kasali, khususnya yang berkaitan dengan Sifat-sifat Buruk.

Saya telah membaca apa yang ditulis oleh Profersor Rhenald Kasali itu, dan saya menyetujuinya. Oleh karena itu saya rasa ada baiknya bila isi tulisan itu diketahui oleh banyak orang yang menginginkan kebaikan bagi Bangsa Indonesia. Itulah alasan mengapa saya turut menyebarkan pandangan tersebut. Tulisan tersebut saya kutip tanpda modifikasi dari tulisan yang berjudul Pemilu dan Sifat-sifat Buruk Kita (http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2014/07/11/060200626/Pemilu.dan.Sifat-sifat.Buruk.Kita?utm_source=WP&utm_medium=box&utm_campaign=Kknwp).

—————————

Seorang teman yang tahunan tinggal di Berlin tiba-tiba begitu bersemangat ikut mencoblos. Padahal, dulu di Jakarta dia sama sekali tidak pernah menyentuh undangan untuk ikut memilih. “Malas,” katanya.

Sama seperti sebagian besar kita, malas karena banyak alasan. Malas karena lawannya, atau kecurangan yang bakal dihadapinya sudah tak berimbang. Ada calon yang kita sukai, namun lawannya ternyata mempunyai wajah yang lebihcameragenic.Jadi, apalah artinya suara kita, mudah diduga hasilnya. Tak memilih pun tak ada pengaruhnya.

Ada lagi suasana lain, kita sudah yakin jagoan akan menang. Nyatanya kalah juga. Kabarnya, banyak kecurangan yang bisa dilakukan, mulai dari suara yang bisa dibeli, panitia yang bisa diatur, sampai komputer yang bisa dimainkan. Tetapi kini, 16 tahun setelah reformasi, sepertinya kita sudah sama-sama pintar.

Mereka yang dulu menang, dua bulan lalu marah-marah di tivi karena tahun ini kalah dalam pileg. Tapi dengarkanlah kemarahannya, “Saya bukan kalah, tapi dicurangi. Ini kecurangan ada dimana-mana,” ujarnya ketus. Seorang teman yang dulu dikalahkan terkekeh-kekeh mendengar ocehan politisi yang suka bicara seenaknya di tivi itu. “Lha, orang-orang lain belajar curangnya dari mana kalau bukan dari dia?”

Sampai hari ini kita masih banyak mendengar sas-sus tentang aneka kecurangan yang dilakukan berbagai pihak dalam pemilu beberapa tahun lalu. Modusnya amat beragam. Ada yang mengaitkan dengan pembobolan bank, mafia migas, impor bahan-bahan pokok, dan lain sebagainya. Otak kita keruh dipenuhi hal-hal itu.

Tapi mengapa teman saya dan juga tenaga-tenaga kerja kita di luar negeri begitu bersemangat mencoblos? Ia memberikan alasan. “Pertama, saya serem melihat mafia makin bertebaran di Indonesia. Saya takut jago saya kalah,” ujarnya.

“Dan kedua, apa yang mereka lakukan kepada jago saya, adalah cerminan dari apa yang dilakukan orang-orang jahat  terhadap saya. Dan itu adalah cerminan dari sifat-sifat buruk bangsa kita, yang harus dikalahkan,” ujarnya.

 

Seperti apa?

Seperti apakah sifat-sifat buruk itu? Tidak sulit menemukannya karena ia hidup nyata dalam perjalanan karier kita sehari-hari. Bahkan di dunia akademik, ini pun biasa sekali dihadapi banyak orang. Di perusahaan swasta juga makin banyak ditemui. Dalam birokrasi, sifat-sifat buruk itu biasa kita dengar saat menjelang pelantikan pejabat. Orang yang sudah terpilih bisa tak jadi dilantik gara-gara sms atau surat kaleng. Gunjingan negatif justru disebarkan pada orang-orang bagus.

Dalam soal tender, bukan hal baru orang saling sikat dan menjelekkan, bahkan membawa pesaingnya ke ranah hukum, menyebarkan kesalahan kepada wartawan abal-abal yang siap melakukan pemerasan. Sewaktu menjadi pansel KPK, saya juga biasa menerimablack campaignyang ditujukan pihak tertentu terhadap calon-calon tertentu. Jangan heran,black campaigntak pernah diarahkan pada kandidat yang lemah.

Di sini kita menjadi biasa melihat kebenaran dijungkir balikkan. Orang yang bersih dituduh korupsi dan sebaliknya. Akademisi pintar dikatakan plagiat, yang plagiat menjadi aktivis antiplagiat. Demikian seterusnya. Kalau kita biarkan, jangankan keluar darimiddle income trap,memutuskan siapa yang layak ya menjadi presiden saja kita tak akan mampu.

Lihatlah tak mudah orang mengakui kekalahan, meski itu bagian dari karakter pemenang. Ditambah lagi KPU dan Bawaslu cenderung mendiamkan. Bayangkan di zaman kecepatan dan keakurasian data seperti ini kita harus menunggu sampai tanggal 22. Maksudnya kita dibiarkan ribut terus selama dua minggu?

Yang saya maksud adalah sifat-sifat buruk dalam menghadapi persaingan. Maklum, selama lebih dari 30 tahun kita tidak menghadapi persaingan. Semua jabatan publik adalah pemberian presiden atau atasan. Atasan pun mendapatkannya bukan karena memenangkan persaingan, melainkan karena mendapatkan melalui rekomendasi atau kebaikan budi.

Sifat-sifat buruk itu diawali dengan penghinaan, lalu diikuti dengan fitnah demi fitnah, selebaran gelap, lempar batu sembunyi tangan, mudah terhina, merasa cepat tersinggung, sakit hati, lalu membalas dendam dengan mengirim kebencian. Kita bukan membuat puisi untuk menyatakan kekaguman pada seseorang, melainkan untuk mencacinya. Alih-alih menyampaikan program, sifat-sifat buruk itu justru ditampilkan dengan menjelek-jelekkan calon pemenang. Kita beranggapan akan menjadi terlihat hebat karena mampu menghina orang yang disangka hebat. Kita menjadi termotivasi untuk menang bukan karena kita memiliki sifat-sifat sebagai pemenang, melainkan karena kita tak mampu menerima kekalahan.

Kita berdoa untuk menang karena kita tidak mau mendengar sabda Tuhan. Kita hanya berbicara terus tiada henti agar Tuhan menutup mulut, dan beranggapan hanya kita yang punya hak untuk menjadi pemenang. Padahal hidup ini adalah sebuah keseimbangan, dan dalam setiap kompetisi hanya akan ada satu pemenang, namun tentara sejati tahu persis: terdapat perbedaan antara memenangkan pertempuran dengan memenangkan peperangan.

Dan prajurit sejati akan menjunjung tinggi kehormatannya, tahu dimana medan pertempuran dan siapa yang harus dilindungi. Demokrasi adalah kompetisi untuk merebut suara rakyat, bukan untuk membumihanguskan negeri.

Prilaku seperti ini pernah dibahas Denis Waitley dalam bukuPsychology of Winning untuk menjelaskan karakter yang biasa dimiliki para pemenang. Pemenang menjalankan prinsip-prinsip yang membuatnya dihormati, bukan sebaliknya.

Salim Bueno (209) menulis: “Winners train and grain, losers complain. Losers seek attention, while winners earn respect. Losers blame others for their problems, while winners find solution.

Hari-hari lalu kita telah menyaksikan sifat-sifat buruk yang dipertontonkan orang-orang yang katanya bertarung untuk menjadi pemimpin. Ada mantan petinggi di berbagai lembaga yang dulu kita pikir mereka sangat terhormat. Sebagai pendidik, harus saya katakan saya sangat kecewa dan sedih menyaksikan ulah mereka. Apalagi bila membiarkan pihaknya melakukan cara-cara curang, memelintir fakta, menyebarkan kebencian demi kemenangan.

Anak-anak muda, perhatikanlah, itu bukan karakterwinners.Mereka menganut azas-azas yang dianut paralosers. Apakah mereka bisa menang? Bisa! Bisa saja, tetapi kalau kita ingin membangun bangsa ini menjadi bangsa yang besar, bukan itu caranya. Tengoklah bangsa-bangsa besar. Mereka justru mengadopsi mentalitas pemenang.

Dengarkan pula kata bijak Vince Lombardi berikut ini:“Winning is not a sometime thing; it’s an all time thing. You don’t win once in a while, you don’t do things right once in a while, you do them right all the time. Winning is habit. Unfortunately, so is losing.”(Prof. Rhenald Kasali)

————————-

Semoga bermanfaat.

Salam,

WBS

Posted in Ah... Indonesia ku, HUMANIORA, Kualitas Bangsa | Dengan kaitkata: , , , , , , , , , | Leave a Comment »

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.