Kepulauan Indonesia

Cerita dari, untuk dan tentang Kepulauan Indonesia beserta Penghuni dan Penduduknya

Posts Tagged ‘Tataguna Lahan’

MBG: Sedimentasi

Posted by wahyuancol pada Juni6, 2008

Sedimentasi adalah masuknya muatan sedimen ke dalam suatu lingkungan perairan tertentu melalui media air dan diendapkan di dalam lingkungan tersebut. Sedimentasi yang terjadi di lingkungan pantai menjadi persoalan bila terjadi di lokasi-lokasi yang terdapat aktifitas manusia yang membutuhkan kondisi perairan yang dalam seperti pelabuhan, dan alur-alur pelayaran, atau yang membutuhkan kondisi perairan yang jernih seperti tempat wisata, ekosistem terumbu karang atau padang lamun. Untuk daerah-daerah yang tidak terdapat kepentingan seperti itu, sedimentasi memberikan keuntungan, karena sedimentasi menghasilkan pertambahan lahan pesisir ke arah laut.

4.6.1. Pencetus

Sedimentasi di suatu lingkungan pantai terjadi karena terdapat suplai muatan sedimen yang tinggi di lingkungan pantai tersebut. Suplai muatan sedimen yang sangat tinggi yang menyebabkan sedimentasi itu hanya dapat berasal dari daratan yang dibawa ke laut melalui aliran sungai. Pembukaan lahan di daerah aliran sungai yang meningkatkan erosi permukaan merupakan faktor utama yang meningkatkan suplai muatan sedimen ke laut. Selain itu, sedimentasi dalam skala yang lebih kecil dapat terjadi karena transportasi sedimen sepanjang pantai.

4.6.2. Karakter kedatangan atau kejadian

Sedimentasi di perairan pesisir terjadi perlahan dan berlangsung menerus selama suplai muatan sedimen yang tinggi terus berlangsung. Perubahan laju sedimentasi dapat terjadi bila terjadi perubahan kondisi lingkungan fisik di daerah aliran sungai terkait. Pembukaan lahan yang meningkatkan erosi permukaan dapat meningkatkan laju sedimentasi. Sebaliknya, pembangunan dam atau pengalihan aliran sungai dapat merubah kondisi sedimentasi menjadi kondisi erosional.

Bila sedimentasi semata-mata karena tranportasi muatan sedimen sepanjang pantai, laju sedimentasi yang terjadi relatif lebih lambat bila dibandingkan dengan sedimentasi yang mendapat suplai muatan sedimen dari daratan.

4.6.3. Prediktabilitas

Berkaitan dengan aktifitas manusia, persoalan yang muncul karena sedimentasi dapat diperhitungkan sejak awal ketika aktifitas tersebut dimulai melalui studi geomorfologi pesisir dan transportasi sedimen. Demikian pula dengan kemungkinan perubahannya, dapat diprediksi dengan studi tersebut.

4.6.4. Durasi

Proses sedimentasi berlangsung perlahan dan terus menerus selama suplai muatan sedimen yang banyak dari daratan masih terus terjadi. Proses sedimentasi berhenti atau berubah menjadi erosi bila suplai muatan sedimen berkurang karena pembangunan dam atau pengalihan alur sungai.

4.6.5. Areal terganggu

Areal yang terganggu oleh proses sedimentasi terbatas pada lokasi-lokasi yang terdapat aktifitas manusia yang membutuhkan perairan yang cukup dalam, seperti pelabuhan dan alur-alur pelayaran.

4.6.6. Aktifitas mitigasi

Untuk melindungi pelabuhan dan alur pelabuhan, upaya mitigasi dapat dilakukan dengan membangun jetty. Sementara itu, tindakan upaya menghentikan atau mengurangi sedimentasi di suatu kawasan teluk misalnya, dapat dilakukan dengan pengalihan alur sungai yang diketahui suplai muatan sedimen dari sungai itu mengerah ke teluk tersebut. Dalam skala yang lebih luas, mitigasi bencana karena sedimentasi dapat dilakukan dengan pengelolaan DAS (Daerah Aliran Sungai) yang merupakan sumber utama muatan sedimen yang masuk ke perairan.

Kembali

Iklan

Posted in Erosi, PROSES (BENCANA) ALAM, Sedimentasi | Dengan kaitkata: , , , , , , , , , | 12 Comments »

MBG: Banjir Luapan Sungai

Posted by wahyuancol pada Juni6, 2008

Banjir luapan sungai adalah banjir yang terjadi karena aliran sunga memiliki debit di atas normal sehingga air sungai melimpah keluar dari saluran sungai. Aliran sungai dikatakan normal apabila aliran sungai itu terbatas di bawah tebing saluran sungai. Daerah di sekitar aliran sungai besar umumnya adalah dataran banjir yang terbentuk oleh sistem fluvial yang mengakomodasi debit aliran sungai yang besar dan jarang terjadi (Cooke dan Doornkamp, 1977). Di daerah hilir dari suatu sistem aliran sungai, dataran banjir dapat juga berupa dataran pantai.

4.5.1. Pencetus

Banjir tipe ini disebabkan oleh debit liran sungai di atas normal akibat curah hujan yang tinggi di Daerah Aliran Sungai (DAS).

4.5.2. Karakter kedatangan atau kejadian

Menurut Cooke dan Doornkamp (1977), karakteristik banjir tipe ini ditentukan oleh tiga hal, yaitu fenomena transien (misalnya curah hujan atau es yang mencair), karakter cekungan DAS, dan tataguna lahan. Disebutkan pula bahwa hal yang penting dari banjir tipe ini adalah sifatnya yang berulang (episodik) dan karakter “discharge”.

Curah hujan yang tinggi adalah faktor penyebab yang utama. Oleh karena itu, banjir ini hanya datang di musim hujan. Kejadiannya diawali oleh curah hujan yang tinggi dalam waktu yang cukup lama.

4.5.3. Prediktabilitas

Kejadian banjir ini dapat diprediksi berdasarkan pada karakter curah hujan dalam setahun dan karakter DAS. Secara kasar dapat dikatakan bahwa banjir ini akan terjadi di musim hujan. Cepatnya kedatangan dan lamanya genangan dapat diprediksi dari karakter DAS dan sejarah banjir yang pernah terjadi. Dalam rangka memprediksi kejadian banjir ini, informasi prediksi curah hujan dari BMG perlu diperhatikan. BMG sedang membangun website tentang klimatologi yang berisi prediksi curah hujan dan banjir (Gambar 10).

4.5.4. Durasi

Lamanya banjir ditentukan oleh tingginya curah hujan dan lamanya hujan, serta karakter cekungan DAS. Karakter DAS menentukan lamanya genangan banjir.

4.5.5. Areal terganggu

Areal yang tergenang oleh banjir ini adalah dataran banjir di sekitar muara sungai. Luasnya areal genangan ditentukan oleh karakter aliran sungai atau luas dataran banjirnya dan besarnya debit banjir. Selain itu, untuk daerah-daerah dekat pantai, kondisi pasang-surut yang ada pada waktu banjir terjadi mempengaruhi hebatnya banjir ini.

4.5.6. Aktifitas mitigasi

Selain informasi peringatan dini, memetakan daerah rawan banjir adalah upaya mitigasi bencana yang penting. Dengan peringatan dini penduduk dapat mengungsi sebelum banjir melanda, sedang dengan peta daerah rawan banjir diharapkan penduduk dapat memilih lokasi pemukiman yang aman dan pemerintah dapat merencanakan pengembangan wilayah dengan baik dan membangun di lokasi-lokasi yang aman.

Di depan disebutkan bahwa salah satu faktor yang mempengaruhi karakter banjir adalah tataguna lahan di dalam cekungan DAS. Oleh karena itu, perubahan-perubahan kondisi lingkungan fisik yang berupa perubahan tataguna lahan di dalam suatu DAS perlu dipantau terus menerus, karena perubahan lingkungan itu dapat mempengaruhi kondisi banjir. Karena perubahan kondisi tataguna lahan di dalam suatu DAS, daerah yang semula bebas banjir dapat berubah menjadi daerah banjir.

Untuk daerah-daerah dekat pantai, kondisi pasang surut perlu diperhatikan karena meningkatnya debit banjir yang bertepatan dengan kondisi laut pasang dapat memperhebat banjir yang terjadi.

Kambali

Posted in Banjir, PROSES (BENCANA) ALAM | Dengan kaitkata: , , , , , | 1 Comment »

MBG: Erosi Pantai

Posted by wahyuancol pada Juni5, 2008

Erosi pantai adalah proses terkikisnya material penyusun pantai oleh gelombang dan material hasil kikisan itu terangkut ke tempat lain oleh arus. Dari sudut pandang keseimbangan interaksi antara kekuatan-kekuatan asal darat dan kekuatan-kekuatan asal laut, erosi pantai terjadi karena kekuatan-kekuatan asal laut lebih kuat daripada kekuatan-kekuatan asal darat.

4.3.1. Pencetus

Aktifitas gelombang di pantai adalah faktor utama yang aktif menyebabkan erosi pantai. Dengan demikian, tiupan angin menjadi faktor penting yang menentukan terjadi atau tidaknya erosi pantai di tempat-tempat atau segmen-segmen pantai tertentu dan pada musim-musim tertentu. Arah angin menentukan segmen-segmen pantai yang akan tererosi, sedang kecepatan angin dan “fetch” menentukan kekuatan gelombang yang terbentuk dan memukul ke pantai.

Arus dekat pantai menentukan arah pergerakan muatan sedimen di sepanjang pantai. Arus itu memindahkan muatan sedimen dari satu tempat ke tempat lain di sepanjang pantai atau membawa muatan sedimen dari satu sel pantai ke sel pantai yang lain atau membawa muatan sedimen keluar ke perairan lepas pantai. Pola arus dekat pantai perkembangannya ditentukan oleh gelombang yang bergerak menghampiri pantai. Dengan demikian, faktor angin juga secara tidak langsung mempengaruhi transportasi muatan sedimen.

4.3.2. Karakter kedatangan atau kejadian

Erosi pantai berlangsung perlahan dan menerus. Laju erosi pantai ditentukan oleh berbagai faktor, antara lain orientasi garis pantai, konfigurasi garis pantai, batuan penyusun pantai, arah dan kecepatan angin, serta aktifitas manusia. Dalam satu siklus musim, erosi pantai yang paling efektif atau laju erosi yang tinggi terjadi pada saat angin kencang bertiup dengan arah tegak lurus atau menyerong terhadap orientasi garis pantai. Di Indonesia, erosi yang efektif terjadi pada saat musim barat dan musim timur. Selain itu laju erosi dapat mengalami perlambatan bila konfigurasi garis pantai mencapai kondisi keseimbangan tertentu dimana energi gelombang tidak dapat menggerus lagi material penyusun pantai atau transportasi muatan sedimen yang masuk dan keluar dalam satu siklus musim sama volumenya. Pada prinsipnya erosi pantai pantai di suatu segmen pantai tertentu tidak dapat dihentikan sebelum kondisi keseimbangan tersebut tercapai. Dengan kata lain, erosi pantai akan terus berlangsung selama kondisi keseimbangan konfigurasi garis pantai belum tercapai.

4.3.3. Prediktabilitas

Erosi pantai dapat diprediksi kejadiannya berdasarkan pada pola arah angin dan kecepatan angin yang terdapat disuatu kawasan, orientasi garis pantai, konfigurasi garis pantai, dan material penyusun pantai. Tempat atau lokasi erosi terjadi tetap sepanjang waktu, dan waktu erosi berlangsung pun tetap pada musim-musim tertentu. Prediksi arah tiupan angin dan kecepatannya (Gambar 8) dan arah angin dan tinggi gelombang yang ditimbulkannya (Gambar 9) dipublikasikan oleh BMG.

4.3.4. Durasi

Dalam skala waktu besar, jangka panjang, erosi pantai berlangsung terus menerus sampai kondisi keseimbangan konfigurasi garis pantai tercapai atau keseimbangan berubah karena perubahan kondisi lingkungan dari faktor-faktor yang mempengaruhinya. Dalam jangka pendek, temporer, erosi pantai terjadi pada saat musim angin tertentu berlaku, dan berhenti ketika musim berganti.

4.3.5. Areal terganggu

Ketika erosi pantai berlangsung, erosi hanya mengenai garis pantai dari segmen pantai yang tererosi. Laju erosi yang terjadi menentukan berapa lebar lahan tepi pantai yang hilang tererosi dalam suatu jangka waktu tertentu. Untuk jangka panjang, membicarakan masalah erosi yang terjadi di suatu segmen pantai berarti membicarakan kemungkinan luas lahan pantai yang akan hilang pada suatu periode waktu tertentu. Dengan kata lain, berbicara masalah erosi untuk jangka panjang berarti membicarakan lahan pantai yang terancam hilang oleh erosi.

4.3.6. Aktifitas mitigasi

Di depan telah disebutkan bahwa pada dasarnya erosi pantai tidak dapat dihentikan. Oleh karena itu, aktifitas mitigasi bencana erosi hanya dapat memperlambat laju erosi dan mencegah terjadinya kerugian materil karena erosi.

Upaya untuk memperlambat laju erosi dapat dilakukan dengan membangun bangunan teknik di pantai untuk memperkuat garis pantai, dan menangkap sedimen (metode teknik pantai), atau untuk mempertahankan konfigurasi pantai yang dapat menstabilkan garis pantai seperti memperkuat “headland” (metode geomorfologi); mengatur penggunaan lahan atau membuat zonasi penggunaan lahan tepi pantai agar tidak terdapat aktifitas manusia yang memperlemah batuan penyusun pantai (metode tataguna lahan).

Upaya untuk mencegah terjadinya kerugian materi dapat dimulai dengan memetakan segmen-segmen pantai yang rentan terhadap erosi dan membuat zonasi ancaman bahaya erosi. Dengan zonasi itu diharapkan penduduk dapat memilih lokasi yang aman untuk membangun rumah atau melakukan berbagai aktifitas, dan pemerintah dapat memilih lokasi aman untuk membangun berbagai infrastruktur.

Kembali

Posted in Erosi, PROSES (BENCANA) ALAM | Dengan kaitkata: , , , , , , , , , , | 2 Comments »