Kepulauan Indonesia

Cerita dari, untuk dan tentang Kepulauan Indonesia beserta Penghuni dan Penduduknya

Posts Tagged ‘Geomorfologi’

Erosi 2 (hakekat erosi, keuntungan, kerugian)

Posted by wahyuancol pada Februari28, 2009

Dalam posting sebelumnya telah disebutkan bahwa Erosi adalah lepasnya material padat (sedimen, tanah, batuan dan tertikel lain) dari batuan induknya oleh air, angin, es, gaya gravitasi atau organisme.

Apabila kita perhatikan baik-baik proses erosi yang terjadi maka kita akan melihat keadaan berikut ini:

  1. Erosi menyebabkan hilangnya material dari suatu tempat. Di lokasi asal material tersebut terjadi pengurangan material. Selain itu, apabila daerah tersebut tinggi, maka erosi menyebabkannya menjadi lebih rendah. Dari sudut pandang geomorlogi maka, erosi merupakan bagian penting dari proses pendataran (pembentukan dataran)permukaan Bumi. Selain  itu, erosi juga bekerja mengukir permukaan Bumi. Hasilnya adalah alur-alur air atau lembah-lembah sungai di daerah perbukitan atau pegunungan. Jadi, tanpa erosi maka gunung-gunung akan tetap menjuilang tinggi dan tidak ada ukiran alur air dan lembah sungai yang indah itu.
  2. Erosi merupakan penghasil muatan sedimen untuk ditransportasikan dan kemudian diendapkan di tempat lain. Jadi, bila tidak diawali oleh proses erosi maka tidak akan ada muatan sedimen yang dapat ditransportasikan, dan selanjutnya tidak akan ada pengendapan yang akan terjadi. Dengan demikian dapatlah kita katakan bahwa proses erosi merupakan kunci dari proses transportasi sedimen dan proses pengendapan sedimen.

Itulah hakekat dari proses erosi.

Kerugian karena Erosi

Sebagaimana halnya proses alam lainnya, erosi dikatakan merugikan bila mengenai kepentingan manusia secara langsung dan segera dirasakan pengaruhnya.

Berikut ini beberapa kerugian karena erosi:

  1. Kehilangan tanah yang subur di daerah pertanian atau perkebunan yang mengalami erosi. Erosi permukaan tanah menyebabkan humus tanah yang subur di suatu kawasan hilang terbawa ke tempat lain. Pembuatan lahan persawahan berteras di daerah berlereng merupakan salah satu upaya mengurangi kerugian karena erosi ini.
  2. Kehilangan lahan secara fisik dan berbagai objek di atasnya. Contoh dari kondisi ini adalah erosi yang terjadi di sepanjang tepi aliran sungai atau tepi pantai. Erosi menyebabkan kehilangan lahan. Bila di atas lahan itu ada rumah, jalan atau berbagai objek lainnya, maka semuanya akan turut hilang bersamaan dengan hilangnya lahan karena erosi itu.

Keuntungan karena Erosi

Di atas telah disebutkan bahwa erosi merupakan kunci bagi proses transportasi sedimen dan proses sedimentasi. Keuntungan dari proses erosi ini dengan demikian harus kita lihat dari sudut pandang yang lebih luas dan menyeluruh. Kita harus melihat bahwa erosi menguntungkan karena tanpa erosi maka sedimentasi tidak akan terjadi. Tanpa erosi, maka tak kan ada sedimentasi, maka tidak akan ada lahan persawahan dataran rendah yang subur. Tanpa erosi di darat, maka tak kan ada sedimentasi di pantai atau laut dalam, maka tidak akan ada delta-delta atau endapan laut yang darinya kita mendapatkan minyak dan gas bumi.

Dari sudut pandang sumberdaya mineral (diingatkan oleh Sani JR tanggal 12 Sep 2009 tetapi baru di update malam ini 6 Nop 2010), erosi berarti dua hal:

  1. Erosi menyebar rahasia keberadaan mineral yang berada di dalam bumi sehingga dapat diketahui melalui penyebaran material hasil erosi melalui alur-alur sungai. Para ahli geokimia mencari endapan mineral salah satu caranya adalah  dengan cara melacak melalui endapan di aliran sungai.
  2. Erosi dapat menyebabkan endapan mineral yang terdapat jauh di dalam bumi tersingkap ke permukaan bumi sehingga dapat ditemukan dan dimanfaatkan oleh manusia.

Penutup

Erosi adalah sebagian dari proses alam yang penting bagi kelangsungan hidup di Bumi. Keuntungan dan kerugian dari proses itu bersifat relatif, tergantung dari cara kita memandangnya.

Ingin tahu lebih jauih tentang erosi? Erosi 1

Iklan

Posted in Cara Bumi di Hidupkan, E, Erosi, Sedimen | Dengan kaitkata: , , , , , , , , , | 4 Comments »

Batuan 2 (perubahan)

Posted by wahyuancol pada November21, 2008

Batuan penyusun kulit bumi atau litosfer dapat mengalami perubahan. Berdasarkan karakter perubahan yang terjadi, perubahan itu dapat dibedakan menjadi beberapa kategori sebagai berikut:

  1. Pelapukan. Pelapukan dapat dibedakan menjadi pelapukan fisik dan kimiawi. Pelapukan kimiawi, yaitu pelapukan yang terjadi karena perubahan komposisi kimiawi; pelapukan ini menyebabkan batuan mengalami perubahan komposisi kimia; agen utama penyebab pelapukan tipe ini adalah air. Pelapukan fisik adalah pelapukan yang terjadi karena kerusakan fisik batuan seperti pecahnya batuan karena akar tumbuhan, atau pecahnya batuan karena perubahan temperatur; pelapukan ini menyebabkan batuan pecah menjadi fragmen-fragmen batuan yang lebih kecil. Pembicaraan tentang pelapukan batuan terutama dilakukan ketika kita berbicara tentang geomorfologi dan pembentukan tanah. Proses pelapukan ini terutama terjadi di permukaan bumi, dimana batuan (litosfer) mengalami kontak dengan atmosfer dan hidrosfer serta biosfer.
  2. Deformasi, yaitu perubahah fisik batuan karena pengaruh tekanan. Karena deformasi batuan dapat terlipat, terpatahkan dan atau mengalami kerusakan fisik seperti retak. Pembicaraan tentang deformasi dilakukan ketika berbicara tentang struktur geologi. Proses deformasi ini terjadi di bawah permukaan bumi yang melibatkan perlapisan batuan dan tubuh-tubuh batuan beku atau metamorf.
  3. Perubahan jenis batuan yang menyebabkan suatu jenis batuan menjadi jenis batuan yang lain , seperti dari batuan beku menjadi batuan sedimen atau batuan, dari batuan sedimen menjadi batuan metamorf atau batuan beku, atau dari batuan metamorf menjadi batuan sedimen atau batuan beku. Pembicaraan tentang perubahan jenis batuan ini dilakukan ketika kita berbicara tentang petrologi. Di sini kita berbicara tentang siklus batuan. Proses perubahan jenis batuan ini terjadi di litosfer secara keseluruhan mulai dari permukaan bumi bahkan sampai mantel. Proses ini melibatkan seluruh agen geomorfologi, gerak-gerak tektonik, dan temperatur.

Posted in B, Batuan | Dengan kaitkata: , , , , , , , , , , , | 1 Comment »

MBG: Erosi Pantai

Posted by wahyuancol pada Juni5, 2008

Erosi pantai adalah proses terkikisnya material penyusun pantai oleh gelombang dan material hasil kikisan itu terangkut ke tempat lain oleh arus. Dari sudut pandang keseimbangan interaksi antara kekuatan-kekuatan asal darat dan kekuatan-kekuatan asal laut, erosi pantai terjadi karena kekuatan-kekuatan asal laut lebih kuat daripada kekuatan-kekuatan asal darat.

4.3.1. Pencetus

Aktifitas gelombang di pantai adalah faktor utama yang aktif menyebabkan erosi pantai. Dengan demikian, tiupan angin menjadi faktor penting yang menentukan terjadi atau tidaknya erosi pantai di tempat-tempat atau segmen-segmen pantai tertentu dan pada musim-musim tertentu. Arah angin menentukan segmen-segmen pantai yang akan tererosi, sedang kecepatan angin dan “fetch” menentukan kekuatan gelombang yang terbentuk dan memukul ke pantai.

Arus dekat pantai menentukan arah pergerakan muatan sedimen di sepanjang pantai. Arus itu memindahkan muatan sedimen dari satu tempat ke tempat lain di sepanjang pantai atau membawa muatan sedimen dari satu sel pantai ke sel pantai yang lain atau membawa muatan sedimen keluar ke perairan lepas pantai. Pola arus dekat pantai perkembangannya ditentukan oleh gelombang yang bergerak menghampiri pantai. Dengan demikian, faktor angin juga secara tidak langsung mempengaruhi transportasi muatan sedimen.

4.3.2. Karakter kedatangan atau kejadian

Erosi pantai berlangsung perlahan dan menerus. Laju erosi pantai ditentukan oleh berbagai faktor, antara lain orientasi garis pantai, konfigurasi garis pantai, batuan penyusun pantai, arah dan kecepatan angin, serta aktifitas manusia. Dalam satu siklus musim, erosi pantai yang paling efektif atau laju erosi yang tinggi terjadi pada saat angin kencang bertiup dengan arah tegak lurus atau menyerong terhadap orientasi garis pantai. Di Indonesia, erosi yang efektif terjadi pada saat musim barat dan musim timur. Selain itu laju erosi dapat mengalami perlambatan bila konfigurasi garis pantai mencapai kondisi keseimbangan tertentu dimana energi gelombang tidak dapat menggerus lagi material penyusun pantai atau transportasi muatan sedimen yang masuk dan keluar dalam satu siklus musim sama volumenya. Pada prinsipnya erosi pantai pantai di suatu segmen pantai tertentu tidak dapat dihentikan sebelum kondisi keseimbangan tersebut tercapai. Dengan kata lain, erosi pantai akan terus berlangsung selama kondisi keseimbangan konfigurasi garis pantai belum tercapai.

4.3.3. Prediktabilitas

Erosi pantai dapat diprediksi kejadiannya berdasarkan pada pola arah angin dan kecepatan angin yang terdapat disuatu kawasan, orientasi garis pantai, konfigurasi garis pantai, dan material penyusun pantai. Tempat atau lokasi erosi terjadi tetap sepanjang waktu, dan waktu erosi berlangsung pun tetap pada musim-musim tertentu. Prediksi arah tiupan angin dan kecepatannya (Gambar 8) dan arah angin dan tinggi gelombang yang ditimbulkannya (Gambar 9) dipublikasikan oleh BMG.

4.3.4. Durasi

Dalam skala waktu besar, jangka panjang, erosi pantai berlangsung terus menerus sampai kondisi keseimbangan konfigurasi garis pantai tercapai atau keseimbangan berubah karena perubahan kondisi lingkungan dari faktor-faktor yang mempengaruhinya. Dalam jangka pendek, temporer, erosi pantai terjadi pada saat musim angin tertentu berlaku, dan berhenti ketika musim berganti.

4.3.5. Areal terganggu

Ketika erosi pantai berlangsung, erosi hanya mengenai garis pantai dari segmen pantai yang tererosi. Laju erosi yang terjadi menentukan berapa lebar lahan tepi pantai yang hilang tererosi dalam suatu jangka waktu tertentu. Untuk jangka panjang, membicarakan masalah erosi yang terjadi di suatu segmen pantai berarti membicarakan kemungkinan luas lahan pantai yang akan hilang pada suatu periode waktu tertentu. Dengan kata lain, berbicara masalah erosi untuk jangka panjang berarti membicarakan lahan pantai yang terancam hilang oleh erosi.

4.3.6. Aktifitas mitigasi

Di depan telah disebutkan bahwa pada dasarnya erosi pantai tidak dapat dihentikan. Oleh karena itu, aktifitas mitigasi bencana erosi hanya dapat memperlambat laju erosi dan mencegah terjadinya kerugian materil karena erosi.

Upaya untuk memperlambat laju erosi dapat dilakukan dengan membangun bangunan teknik di pantai untuk memperkuat garis pantai, dan menangkap sedimen (metode teknik pantai), atau untuk mempertahankan konfigurasi pantai yang dapat menstabilkan garis pantai seperti memperkuat “headland” (metode geomorfologi); mengatur penggunaan lahan atau membuat zonasi penggunaan lahan tepi pantai agar tidak terdapat aktifitas manusia yang memperlemah batuan penyusun pantai (metode tataguna lahan).

Upaya untuk mencegah terjadinya kerugian materi dapat dimulai dengan memetakan segmen-segmen pantai yang rentan terhadap erosi dan membuat zonasi ancaman bahaya erosi. Dengan zonasi itu diharapkan penduduk dapat memilih lokasi yang aman untuk membangun rumah atau melakukan berbagai aktifitas, dan pemerintah dapat memilih lokasi aman untuk membangun berbagai infrastruktur.

Kembali

Posted in Erosi, PROSES (BENCANA) ALAM | Dengan kaitkata: , , , , , , , , , , | 2 Comments »