Kepulauan Indonesia

Cerita dari, untuk dan tentang Kepulauan Indonesia beserta Penghuni dan Penduduknya

Transportasi Air Sungai Mahakam Meredup

Posted by wahyuancol pada November10, 2014

Transportasi air di Sungai Mahakam, Kalimantan Timur, yang alurnya merentang dari Samarinda hingga Kutai Barat yang pernah jaya hingga tahun 1990-an kini meredup. Hal itu terjadi karena berkembangnya transportasi darat yang terjadi seiring dengan pembangunan di kawasan tersebut. Jalur transportasi air sepanjang 523 km dari Kota Samarinda hingga Long Bangun, Kutai Barat, hampir semuanya tergantikan oleh transportasi darat.

Sebagai gambaran, kapal yang melayani rute Samarinda-Tenggarong-Melak-Long Iram-Long Bangun (Mahakam Hulu) dari semula minimal empat kali sehari, kini hanya ada dua kali sehari. Hingga tahun 1990-an kapal dengan kapasitas 100 orang selalu penuh, kini hanya terisi sekitar 50%, bahkan kadang hanya 30%.

Sumber: Bahan diolah dari laporan di Harian Kompas tanggal 6 Nopember 2014 dengan judul: “Hilir Mudik di Mahakam yang meredup”.

Catatan:

Perubahan yang terjadi diatas adalah suatu keniscayaan. Transportasi darat di kawasan tersebut lebih efektif dan efisien dari pada transportasi sungai. Dengan demikian adalah wajar bila orang beralih moda transportasi.

Keadaan tersebut mungkin analog dengan perubahan yang terjadi pada moda transportasi jamaah haji Indonesia. Dahulu sebelum transportasi pesawat udara berkembang semaju seperti sekarang, jamaah haji Indonesia di berangkatkan ke Arab Saudi dengan kapal laut. Sebelum meninggalkan Indonesia, pelabuhan laut terakhir yang disinggahi kapal-kpal jemaah haji tersebut adalah pelabuhan Sabang di Pulau Weh, Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam untuk mengisi logistik. Tetapi sekarang, setelah transportasi udara berkembang, jemaah haji diangkut dengan pesawat udara.

Kondisi yang serupa juga bisa dilihat pada perubahan pola transportasi Jakarta – Bandung. Semula, perjalanan darat Jakarta – Bandung melalui rute Jakarta-Bogor-Puncak-Cianjur-Padalarang-Cimahi-Bandung {Rute pertama}. Di sepanjang rute tersebut berkembang tempat istirahat dan rumah makan. Kemudian ketika rute tersebut menjadi sangat padat dan menimbulkn kemacetan, rute berubah melalui Purwakarta, yaitu Jakarta-Purwakarta-Padalarang-Cimahi-Bandung {Rute kedua}. Perubahan tersebut membawa perubahan bagi kondisi perekonomian masyarakat di kedua rute tersebut. Banyak tempat istirahat dan rumah makan di sepanjang jalur Rute Pertama mati, dan banyak tempat istirahat dan rumah makan berkembang di Rute kedua. Selanjutnya, jalan tol yang menghubungkan Jakarta – Bandung dibangun, maka semua kenderaan dari Jakarta ke Bandung dan sebaliknya memilih melalui jalan tol {Rute ketiga}. Perubahan kembali terjadi. Tempat istirahat dan rumah makan di sepanjang Rute kedua banyk yang tutup, dan di sepanjang Rute ketiga berkembang rest area.

Salam,

WBS

 

Kisah serupa:

Sungai Musi

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: