Kepulauan Indonesia

Cerita dari, untuk dan tentang Kepulauan Indonesia beserta Penghuni dan Penduduknya

Metakognisi

Posted by wahyuancol pada November3, 2014

Sejak menjadi Menteri, Ibu Susi Pudjiastuti menarik perhatian banyak pihak. Salah satu hal yang menjadi perhatian publik adalah karena ia hanya seorang yang berijazah SMP, dan tidak menyelsaikan pendidikan SMA.

Pagi ini saya membaca sebuah tulisan yang menarik berkaitan dengan Ibu menteri itu yang ditulis oleh Prof. Rhenald Kasali. Tulisan itu adalah tentang metakognisi, yaitu hal yang tidak berkaitan dengan pendidikan formal yang menentukan kesuksesan banyak orang besar. Setelah membaca tulisan itu, saya bisa menilai diri saya sendiri, dan mengetahui di mana posisi saya. Kemudian saya berpikir, mungkin orang lain yang membaca tulisan itu juga akan dapat mengambil pelajaran dari tulisan itu.

Berikut ini adalah tulisan yang saya maksud itu. Teks tulisan itu saya kutip semuanya seperti yang dipublikasikan di kolom Ekonomi / Inspirasi dari kompas.com. Yang tidak saya kutip hanya foto-foto dari tiga orang yang dijadikan teladan di dalam tulisan itu.

—————————————

Moeryati Soedibyo, Dian Sastro dan Metakognisi Susi Pudjiastuti

Saya kebetulan mentor bagi dua orang ini: Dian Sastro dan Mooryati Soedibyo. Tetapi pada Susi Pujiastuti, yang kini menjadi menteri, saya justru belajar.

Ketiganya perempuan hebat. Tetapi selalu diuji oleh sebagian kecil orang yang mengaku pandai. Entah ini stereotyping, atau soal buruknya metakognisi bangsa. Saya kurang tahu persis.

Moeryati Soedibyo

Sewaktu diterima di program doktoral UI yang pernah saya pimpin, usianya saat itu sudah 75 tahun.  Namun berbeda dengan mahasiswa lain yang datang pakai jeans, dia selalu berkebaya. Dan Anda tentu tahu berapa lama waktu yang diperlukan untuk berkebaya, bukan?

Tetapi ia memiliki hal yang tak dimiliki orang lain: self discipline. Sampai hari ini dia adalah satu-satunya mahasiswa saya yang tak pernah absen barang sehari pun. Padahal saat itu ia salah satu pimpinan MPR.

Memang ia tampak sedikit kewalahan “bersaing” dengan rekan kuliahnya yang jauh lebih muda. Tetapi rekan-rekan kuliahnya mengakui,  kemajuannya cepat. Dari bahasa jamu ke bahasa strategic management dan science yang banyak aturannya.

Teman-teman belajarnya bersaksi: “Pukul 8 malam kami yang memimpin diskusi. Tetapi pukul 24.00, yang muda mulai ngantuk, Ibu Moor yang memimpin. Dia selalu mengingatkan tugas harus selesai dan tak boleh asal jadi.”

Masalahnya, ia pemilik perusahaan besar, dan usianya sudah lanjut. Ada Stereotyping dalam kepala sebagian orang, sosok seperti ini jarang ada yang mau kuliah sungguhan untuk meraih ilmu. Nyatanya, kalangan berduit lebih senang meraih gelar Doktor HC (Honoris Causa) yang jalurnya cukup ringan.

Tetapi Mooryati tak memilih jalur itu. Ia ingin melatih kesehatan otaknya, mengambil risiko dan lulus 4 tahun kemudian. Hasil penelitiannya menarik perhatian Richard D’aveni  (Tuck School-USA), satu dari 50 guru strategi teratas duniia. Belakangan ia juga sering diminta memaparkan kajian risetnya di Amerika Serikat, Belanda, dan Jerman.

Meski diuji di bawah guru besar terkemuka Prof. Dorodjatun Kuntjoro Jakti, kadang saya masih mendengar ucapan-ucapan miring dari orang-orang yang biasa menggunakan kacamata buram yang lidahnya pahit. Ada saja orang yang mengatakan ia “diluluskan” dengan bantuan, “sekolahnya hanya dua tahun” dan seterusnya. Dan anehnya, kabar itu justru beredar di kalangan perempuan yang tak mau tahu keteladanan yang ia tunjukkan. Kadang ada juga yang merasa lebih tahu dari apa yang sebenarnya terjadi.

Tetapi ada satu hal yang mereka sulit menyangkal. Perempuan yang meraih doktor di usia 79 tahun ini, berhasil mewujudkan usahanya menjadi besar tanpa fasilitas. Perusahaannya juga go public. Padahal yang menjadi dosennya saja belum tentu bisa melakukan hal itu. Bahkan membuat publikasi ilmiah internasional saja tidak.  Namun bu Moor juga berhasil mengangkat reputasi jamu di pentas dunia.

Dian Sastro

Ini juga mahasiswi saya yang keren. Sewaktu diterima di program S2 UI, banyak juga yang bertanya: Apa benar artis mau bersusah payah belajar lagi di UI?

Anak-anak saya di UI tahu persis bahwa saya memang cenderung bersahabat, tetapi mereka juga tahu sikap saya:no bargain on process and quality.”

Dian, sudah artis, saat mulai kuliah sedang hamil pula. Urusannya banyak: keluarga, film dan seabrek tugas. Tetapi lagi-lagi, satu hal ini jarang dimiliki yang lainnya: self discipline. Ia tak pernah abai menjalankan tugas.

Sebulan yang lalu setelah lulus dengan cum laudedari MM UI, ia berbagi pengalaman hidupnya di program S1 pada kelas yang saya asuh.

“Saat ayah saya meninggal dunia, ibu saya berujar: kamu bukan anak orang kaya. Ibu tak bisa menyekolahkan, kalau kamu tidak outstanding,” ujarnya.

Ia pun melakukan riset terhadap putri-putri terkenal. Di situ ia melihat nama-nama besar yang tak lahir dari kemudahan. “Saya tidak cantik, dan tak punya apa-apa,” ujarnya.

Dengan uang sumbangan dari para pelayat ayahnya, ia belajar di sebuah sekolah kepribadian. Setiap pagi ia juga melatih disiplin,jogging berkilo-kilometer dari Jatinegara hingga ke Cawang, ikut seni bela diri. “Mungkin kalian tak percaya karena tak pernah menjalaninya ,” ujarnya.

Itulah mental kejuangan, yang kini disebut ekonom James Heckman sebagai kemampuan nonkognisi. Dian lulus cum laudedari S2 UI, dari ilmu keuangan pula yang sarat matematikanya. Padahal bidang studi S1-nya amat berjauhan: filsafat.

Metakognisi Susi

Sekarang kita bahas menteri kelautan dan perikanan yang ramai diolok-olok karena “sekolahnya”. Beruntung, banyak juga yang membelanya.

Khusus terhadap Susi, saya bukanlah mentornya. Ia terlalu hebat. Justru sering saya undang memberi kuliah. Dia adalah self driver sejati, yang bukan putus sekolah melainkan berhenti secara sadar. Sampai di sini saya ingin mengajak Anda merenung, adakah di antara kita yang punya kesadaran dan keberanian sekuat itu?

Tetapi berbeda dengan kebanyakan orangtua yang membiarkan anaknya menjadipassenger, ayah Susi justru marah besar. Di usia muda, di pesisir selatan yang terik, Susi  memaksa hidup mandiri. Ditemani sopir, Ia menyewa truk dari Pangandaran, membawa ikan dan udang, di lelang di Jakarta. Itu dijalaninya bertahun-tahun, seorang diri.

Saat saya mengirim mahasiswa pergi “melihat pasar” ke luar negeri tiga orang satu negara, Susi membujuk saya agar cukup satu orang satu negara. Dan saya menurutinya (Kisah mereka bisa di baca dalam buku: 30 Paspor di Kelas sang Profesor).

Dari usaha perikanannya itu ia jadi mengerti penderitaan yang dialami nelayan. Ia juga belajar seluk beluk logistik  ikan, menjadi eksportir, sampai terbentuk keinginan memiliki pesawat agar ikan tangkapan nelayan bisa diekspor dalam bentuk  hidup yang nilainya lebih tinggi. Dari ikan jadilah bisnis carter pesawat yang dibawahnya ada storage untuk membawa ikan segar.

Dari Susi, kita bisa belajar bahwa kehidupan tak bisa hanya di bangun dari hal-hal kognitif semata yang hanya bisa didapat dari bangku sekolah. Kita memang membutuhkan matematika dan fisika untuk memecahkan rahasia alam. Kita juga butuh ilmu-ilmu baru yang basisnya adalah kognisi. Tetapi tanpa kemampuan nonkognisi semua sia-sia.

Ilmu nonkognisi itu belakangan naik kelas, menjadi metakognisi: faktor pembentuk yang paling penting di balik lahirnya ilmuwan-ilmuwan besar, wirausaha kelas dunia dan praktisi-praktisi handal. Kemampuan bergerak, berinisiatif, self discipline, menahan diri, fokus, respek, berhubungan baik dengan orang lain, tahu membedakan kebenaran dengan pembenaran, mampu membuka dan mencari “pintu”, adalah fondasi penting bagi pembaharuan, dan kehidupan yang  produktif.

Manusia itu belajar untuk membuat diri dan bangsanya tangguh, bijak mengatasi masalah, mampu mengambil keputusan, bisa membuat kehidupan kebih produktif dan penuh kedamaian. Kalau cuma bisa membuat keonaran dan adu pandai saja kita belum tuntas mengurai persepsi, baru sekedar mampu mendengar, tapi belum bisa menguji kebenaran dengan bijak dan mengembangkannya ke dalam tindakan yang produktif.

Ketiga orang itu mungkin tak sehebat Anda yang senang melihat kecerdasan orang dari pendekatan kognitif yang bermuara pada angka, teori, ijazah dan stereotyping. Tetapi saya harus mengatakan, studi-studi terbaru menemukan, ketidakmampuan meredam rasa tidak suka atau kecemburuan pada orang lain, kegemaran menyebarkan fitnah dan rasa benar sendiri, hanya akan menghasilkan kesombongan diri.

Anak-anak kita pada akhirnya belajar dari kita, dan apa yang kita ucapkan dalam kesaharian kita juga akan membentuk mereka, dan masa depan mereka.

Prof Rhenald Kasali adalah Guru Besar Ilmu Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.

—————————————–

Demikian apa yang saya baca pagi ini. Semoga bermanfaat bagi yang membacanya.

Salam,

WBS

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: