Kepulauan Indonesia

Cerita dari, untuk dan tentang Kepulauan Indonesia beserta Penghuni dan Penduduknya

Perubahan Sosial (Minahasa: Cengkeh dibuang sayang)

Posted by wahyuancol pada November10, 2010

Cengkeh melimpah pada saat penen raya, tetapi apa daya tangan tak sampai. Buah cengkeh tak dapat dipanen karena kekurangan tenaga pemetik.

Suatu sore, Benny Mumu (39), petani di Sendangan, Minahasa, sejenak beristirahat di bawah pohon cengkeh. Ia bekerja memetik cengkeh dari pagi. Ia mampu memetik 100 liter, sementara dua keponakannya memetik 150 liter. Pekerjaan memetik cengkeh itu terpaksa dilakukannya sendiri oleh Benny setelah lima buruh pemetiknya pulang ke Manado. Hasil hari ini baru dua pohon, sementara ia memiliki ratusan pohon cengkeh dikebunnya.

Benny mengaku tidak mampu memetik sendiri seluruh cengkeh miliknya dengan tenaga tiga orang. Mencari tenaga pemetik cengkeh sangat sulit. Lima orang tenaga pemetik yang didatangkan dari manado hanya bertahan seminggu. Padahal Benny menjamin tenaga pemetik dengan upah berlipat ganda dari biasanya. “Setiap liter kami patok Rp. 2.500,- ditambah makan tiga kali dan tempat tinggal,” katanya.

Dulu, kata Benny, upah sebesar itu sudah termasuk makan dan transportasi bolak-balik Minahasa-Manado. Harga cengkeh mentah yang belum dikeringkan mencapai Rp. 14.000,- sampai Rp. 15.000,- per kilogram.

Rein Tumilar, petani di Sonder, mengaku kekurangan tenaga pemetik cengkeh karena keengganan masyarakat terjun ke kebun, terutama generasi muda. Hal ini ironi dengan semaraknya pelaksanaan pemilihan kepala daerah di enam kabupaten dan kota awal Agustus lalu yang mengekspliotasi ribuan orang untuk kampanye. “Anak-anak muda lebih suka terjun ke politik ketimbang menjadi pemetik,” katanya.

Sekarang ini buruh pemetik cengkeh terpaksa didatangkan dari Gorontalo dan Bolaang Mongondow. Mereka diberi upah pemetik Rp. 2.000,- per liter ditambah makan dan serta diberi tempat tinggal. Upah buruh naik dua kali lipat sejak awal Juli lalu yang hanya Rp. 1.000,-.

Setiap hari, setiap buruh pemetik memetik buah cengkeh 50 liter hingga 200 liter. Dengan pendapatan Rp. 600.000,- sampai Rp. 2 juta per minggu, jauh melebihi upah minimum Sulawesi Utara Rp. 1 juta per bulan.

Tetapi, itulah, perubahan telah terjadi.

 

Salam,

WBS

Sumber: Dikutip dari Harian Kompas tanggal 1 Nopember 2010 halaman 35.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: