Kepulauan Indonesia

Cerita dari, untuk dan tentang Kepulauan Indonesia beserta Penghuni dan Penduduknya

Tanpa Bahasa Pemersatu Bangsa, Kesenjangan Kaya – Miskin Sangat Berbahaya

Posted by wahyuancol pada April27, 2010

Bahasa adalah alat komunikasi sehari-hari. Bagi kita di Indonesia, masalah bahasa ini terasa biasa saja, karena kita tidak pernah merasakan masalah kebangsaan yang berkaitan dengan bahasa. Kita dapat dengan mudah berjalan dari Sabang sampai Merauke dengan tidak mengalami hambatan bahasa. Karena tidak merasakan masalah berkaitan dengan bahasa, maka kita sering tidak merasa bersyukur atau lupa bersyukur memiliki Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan.

Apa yang ada di Indonesia itu, ternyata tidak ada di Belgia. Persoalan bahasa kini mengancam kesatuan negara kecil itu. Tulisan di bawah ini, yang dikutip dari Tajuk Rencana Harian Kompas tanggal 27 April 2010, menggambarkan dengan jelas mengenai hal tersebut. Tulisan dikutip dengan sedikit modifikasi yang tidak merubah substansinya.

Selanjutnya, untuk memperoleh gambaran yang lebih utuh tentang persoalan itu, dikutipkan juga berita tentang krisis politik di Belgia itu. Dari berita tersebut terlihat jelas bahwa dengan tiadanya bahas persatuan, masalah kesenjangan antara kaya dan miskin menjadi sangat berbahaya. Namun, hal itu tidak berarti bahwa kita (bangsan Indonesia) yang memiliki bahasa persatuan dapat mengabaikan bersoalan jurang kaya dan miskin.

—————————

Tragedi Belgia dari Bahasa

Apakah Belgia, negeri kecil di Eropa berpenduduk 10,6 juta jiwa (2009), dan markas besar NATO dan Uni Eropa, harus pecah gara-gara bahasa?

Krisis politik yang menimpa pemerintahan Perdana Menteri Yves Leterme, dan berujung pada hancurnya pemerintahan koalisi itu Kamis lalu, sebenarnya merupakan cerminan dari masalah lama yang menyelimuti Belgia dan tak pernah terselesaikan.

Masalah utama yang membuat negeri itu terbelah adalah menyangkut bahasa. Belgia terbagi menjadi tiga wilayah federal, yakni Flanders di bagian utara yang berbahasa Belanda, Wallonia di bagian selatan yang berbahasa Perancis (serta minoritas Jerman), dan Brussels, ibu kota negara, campuran.

Orang yang berbahasa Belanda jumlahnya lebih banyak, yakni 6 juta jiwa, yang berbahasa Perancis 3,5 juta jiwa, dan wilayah campuran, Brussels, satu juta jiwa. Penduduk wilayah utara lebih makmur dan angka pengangguran juga lebih rendah dibandingkan dengan wilayah selatan.

Sebenarnya negeri itu sejak semula kelahirannya memiliki masalah dengan bahasa yang digunakan penduduknya. Mereka yang berbahasa Belanda merasa ditindas oleh orang-orang berbahasa Perancis yang memerintah negeri itu selama sekitar 100 tahun setelah revolusi 1830.

Konstitusi Belgia ditulis dalam bahasa Perancis. Versi bahasa Belanda baru ditulis seabad kemudian. Karena itulah mereka yang berbahasa Belanda, yang merupakan kelompok mayoritas, menuntut pengakuan.

Negeri yang pernah diduduki Jerman pada waktu Perang Dunia I dan II, serta menikmati perkembangan ekonomi hebat selama 50 terakhir ini, menjadi model demokrasi liberal di Eropa. Akan tetapi, senyatanya, negeri ini menyimpan bom waktu—masalah bahasa—yang sewaktu-waktu bisa meledak sehingga kerap kali memunculkan gagasan pemecahan Belgia menjadi dua.

Nikmatnya Bangsa Indonesia

Kita tahu bahwa setiap penggunaan bahasa bersifat ideologis. Bahasa adalah ideologi. Bahasa Indonesia pun bersifat ideologis. Ideologi itu mengenai penentuan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan (Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928) dan bahasa negara (UUD 1945 Pasal 36).

Saat para tokoh pemuda mengikrarkan Sumpah Pemuda, mereka digerakkan ideologi kebangsaan yang demokratis dan egaliter. Maka, pilihan jatuh pada bahasa Melayu—yang merupakan bahasa dasar bahasa Indonesia, dengan jumlah penutur sedikit—bukan bahasa Jawa atau Sunda, yang penutur aslinya lebih banyak.

Tidak berlebihan kalau bangsa Indonesia lebih beruntung dibanding bangsa Belgia, dan pantas bersyukur, karena kita memiliki bahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatu. Bahasa ini ibarat mukjizat yang bisa menyatukan seluruh Nusantara.

Itu yang tidak dimiliki Belgia.

————————

“Belanda” Musuhi “Perancis”

Senin, 26 April 2010 | 03:45 WIB

Brussels, minggu. Raja Belgia Albert II akhirnya menggelar rapat darurat yang melibatkan partai-partai ”Flemish” yang memusuhi ”Francophone”, Sabtu (24/4). Raja ingin mencegah pemilihan perdana menteri baru untuk menggantikan Yves Leterne.

PM Leterme mengajukan pengunduran diri, Kamis lalu. Hingga Sabtu, Presiden belum menanggapi surat Leterme. Raja ingin mencegah terjadinya konflik antara partai politik Francophone (warga Belgia pengguna bahasa Perancis) dan Flemish (pengguna bahasa Belanda) yang dikenal tidak akur. Flemish merasa superior atas Francophone.

Leterme mengajukan pengunduran diri setelah partai utama Flemish, VLD Terbuka, mundur dari koalisi lima partai propemerintah, yang juga didukung Francophone.

Sebelumnya sudah terjadi perselisihan tajam antara komunitas berbahasa Belanda dan Perancis tentang aturan pemilu di wilayah strategis dan penting di Brussels. Leterme mengajukan pengunduran diri dua bulan sebelum Belgia akan menempati kursi Presiden Uni Eropa (UE).

Albert belum menanggapi Leterme karena Raja menyadari, koalisi lima partai merupakan benteng tangguh untuk mencegah terjadinya pemisahan wilayah berdasarkan penggunaan bahasa. Jika Raja langsung menyetujui permintaan Leterme, berarti bisa muncul gelombang politik yang berpotensi memecah persatuan Belgia.

Raja sudah menugasi Menteri Keuangan Didier Reynders untuk segera mengorganisasi pertemuan di antara partai-partai yang mewakili dua komunitas utama di negara tersebut. Komunitas berbahasa Belanda yang kaya mendominasi Flanders di wilayah utara Belgia. Komunitas berbahasa Perancis yang miskin mendominasi Wallonia hingga ke wilayah selatan.

Albert II meminta Reynders untuk bisa memastikan terciptanya sebuah kondisi yang baik. Kondisi ini diperlukan untuk pelaksanaan negosiasi yang cepat soal berbagai masalah institusional.

Kesenjangan pendapatan

Menurut sebuah pernyataan di istana kerajaan, Reynders sudah menyanggupi permintaan Raja. Fokus pembicaraan mereka adalah menyangkut hak-hak warga berbahasa Perancis di pinggiran Brussels, ibu kota Belgia.

Pemimpin VLD Terbuka Alexander De Croo menarik partai keluar dari koalisi sebagai reaksi tidak puas atas berbagai persoalan utama, yang sering menjadi pemicu ketegangan di antara dua komunitas utama tersebut. Semua partai ingin mencegah terjadinya krisis politik berkepanjangan.

Warga Brussels sebenarnya bangga akan kedudukan ibu kota itu sebagai ”pusat” Uni Eropa. Krisis politik adalah akibat dari semakin melebarnya jurang pendapatan antara warga kaya dan miskin di negara itu. Krisis ini memang sulit dihadapi Raja, tetapi dia harus bersikap.

Presiden UE Herman van Rompuy mengatakan, ”Akal yang baik akan menang.” Leterme diharapkan bisa bekerja lagi dengan suatu semangat baru.(AFP/AP/REUTERS/CAL)

————————

Demikian pelajaran dari Belgia. Semoga bermanfaat.

Salam,

Wahyu

2 Tanggapan to “Tanpa Bahasa Pemersatu Bangsa, Kesenjangan Kaya – Miskin Sangat Berbahaya”

  1. Ogi said

    Wah,bgs nih untuk bahan mading saya. Blh saya jadikan bahan tmbahan referensi saya, nggak?
    Tntunya dg mncantumkan sumbernya, biar nggak plagiat.
    Makasi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: