Kepulauan Indonesia

Cerita dari, untuk dan tentang Kepulauan Indonesia beserta Penghuni dan Penduduknya

Kisah Nenek Minah dan Tiga Buah Coklat 02

Posted by wahyuancol pada November19, 2009

Setelah menjalani proses hukum yang melelahkan, nenek Minah (55) warga Dusun Sidoharjo Desa Darmakradenan Kecamatan Ajibarang Kabupaten Banyumas, akhirnya bisa pulang ke rumahnya tanpa harus menjalani pengapnya sel penjara. Majelis hakim Pengadilan Negeri Purwokerto yang menyidangkan perkaranya, Kamis (19/11), memang memutuskan Minah terbukti bersalah melakukan pencurian 3 butir buah kakao dan diputus hukuman 1 bulan 15 hari penjara.

Namun dalam putusan itu juga disebutkan, Minah tidak perlu menjalani hukuman tersebut, kecuali bila selama 3 bulan masa percobaan, nenek Minah kembali tersangkut masalah pidana. Bila hal ini terjadi, maka yang bersangkutan wajib menjalani hukuman 1 bulan 15 hari tersebut. Selain itu, Nenek Minah juga hanya diminta membayar ongkos perkara sebesar Rp 1.000.

Persidangan nenek dari tujuh orang anak dan belasan cucu ini, mengundang banyak perhatian masyarakat. Berbagai kalangan LSM di Banyumas, seperti dari Yayasan Babat, Lembaga Pengembangan dan Penelitian Sumber Daya Tanah dan Lingkungan Hidup (LPPSDTLH), Rumah Aspirasi Budiman, Paguyuban Petani Banyumas (PPB) dan Petisi 28.

Setelah sidang ditutup, warga yang memadati ruang sidang tersebut pun sontak bertepuk tangan. Nenek Minah yang diminta berdiri mendengar putusan tersebut, terlihat melontarkan senyum bersahaja. ”Ibu Minah bisa memahami keputusan ini?” tanya Ketua Majelis Hakim Muslich Bambang Luqnowo yang membaca putusan itu. Nenek Minah pun menjawab, ”Nggih, pak hakim. Matur nuwun,” jawabnya.

Dengan kesederhanaannya, Nenek Minah pun langsung keluar ruang sidang begitu sidang ditutup hendak langsung menumpang kendaraan umum untuk pulang ke rumahnya di Desa Darmakradenan yang berjarak sekitar 40 kilometer dari gedung pengadilan. Dia lupa tidak bersalaman dengan dengan para hakim dan jaksa di ruang sidang.

Namun sebelum sempat keluar dari komplek pengadilan, langkahnya dihadang oleh para aktivis LSM yang memberikan ucapan selamat. Bahkan salah seorang aktivis menyerahkan uang yang dikumpulkan dari para pengunjung sidang. ”Niki ngge sangu kondur, mbah (Ini buat bekal pulang, mbah),” kata seorang aktivis LSM tersebut.

Begitu sidang ditutup, beberapa LSM memang langsung mengedarkan kardus untuk diisi sumbangan dari para pengunjung. Tak terkecuali, para hakim yang baru menyidangkan perkara nenek Minah itu, juga ikut menyumbang. Hasil sumbangan ini yang kemudian diserahkan pada nenek Minah.

Sidang kemarin,dilakukan secara maraton dengan agenda tiga materi sekaligus. Mulai pembacaan tuntutan, pledoi atau pembelaan, hingga pembacaan putusan. Pembacaan tuntuan dan pledoi, dilakukan sekaligus tanpa ada jeda waktu. Sedangkan pembacaan putusan, dilakukan setelah majelis hakim menskors sidang setelah penyampaian pledoi.

Dalam tuntutan yang dibacakan di depan sidang, Jaksa Noorhaniyah sebenarnya menuntut hukuman enam bulan penjara. Hal ini karena jaksa menilai, nenek Minah terbukti telah melakukan pencurian 3 butir buah kakao milik PT Rumpun Sari Antan (RSA) 4 yang ada di Desa Darmakradenan Kecamatan Ajibarang.

Sedangkan dalam pledoinya, Nenek Minah yang tak didampingi pengacara, tidak mengajukan argumen pembelaan apa pun. Dia bahkan mengaku bersalah karena telah memetik buah kakao milik PT RSA, namun menurutnya buah kakao itu sudah diambil oleh mandornya, Tarno dan Rajiwan. Nenek Minah hanya minta tidak dihukum penjara, karena dia sudah tua.

Saat membacakan putusan, Ketua Majelis Hakim Muslich Bambang Luqmono yang didampingi dua hakim anggota Dedy Hermawan dan Sohe, sempat tidak bisa menahan isak tangis saat membacakan berkas putusan. ”Saya juga dari keluarga petani. Ibu saya juga petani. Saya tidak bisa membayangkan kalau ibu saya yang menghadapi sidang semacam ini hanya gara-gara tiga butir buah kakao seharga Rp 500,” kata hakim Bambang, saat ditanya wartawan seusai sidang.

Dalam pertimbangan putusannya, majelis hakim menilai bahwa kasus Minah menjadi menarik perhatian masyarakat karena menyentuh sisi kemanusiaan, melukai rasa keadilan karena dimejahijaukan gara-gara tiga butir buah kakao. Majelis hakim menilai, polisi, jaksa dan hakim, mestinya bisa melihat dampak yang ditimbulkan dari perbuatan pelaku. Kalau dampaknya tak terlalu merugikan masyarakat secara luas, termasuk korban sendiri, mestinya bisa ditangani dengan pendekatan lain dulu sehingga tidak semua diproses pidana.

Selain itu, selama proses persidangan berlangsung, tidak ditemui hal-hal yang memberatkan pada Nenek Minah. Sementara yang meringankan, terdakwa Minah sudah lanjut usia, terdakwa Minah adalah petani tua yang tidak punya apa-apa, selalu menghadiri persidangan tepat waktu meski harus tertatih-tatih karena sudah tua dan rumahnya jauh, bahkan proses hukum yang telah dijalani terdakwa Minah telah membuatnya letih jiwa raga, serta menguras tenaga dan harta bendanya. Mejelis hakim menyebutkan, semua yang dialami terdakwa Minah tersebut, sudah cukup menjadi hukuman bagi dirinya.

Berdasarkan pertimbangan-pertimbangan itulah, majelis hakim menjatuhkan hukuman 1 bulan 15 hari tanpa perlu dijalani Nenek Minah, dan membayar biaya perkara senilai Rp 1.000. Terhadap putusan tersebut, jaksa Noorhaniyah menyatakan pikir-pikir untuk mengajukan banding.

Ditanya soal pendapatnya mengenai kasus Nenek Minah, hakim Muslich Bambang Luqnowo menyatakan, kasus seperti ini mestinya tak perlu sampai disidangkan pengadilan. Mestinya bisa diselesaikan lebih secara kekeluargaan. ”Saya kira akan lebih efektif bila diselesaikan dengan baik-baik secara kekeluargaan. Kita sendiri, sebagai lembaga pengadilan, tidak bisa menolak menyidangkan perkaranya, karena kita setelah menerima berkas perkara, mau tidak mau harus menyidangkan perkara ini,” katanya.

Sedangkan Jaksa Noorhaniyah ketika dikonfirmasi, juga menyatakan pihaknya tak bisa mengentikan kasus ini karena berkas-berkas perkara yang dilimpahkan dari kepolisian sudah lengkap. ”Kejaksaan tak bisa mengeluarkan SP3 (Surat Perintah Penghentian Penyidikan), karena seluruh berkas dan buktinya sudah lengkap. Kita hanya bisa mengeluarkan SP3 bila berkasnya tidak lengkap atau barang buktinya kurang,” katanya.

Meski demikian, kalangan LSM yang menghadiri persidangan tak bisa menyembunyikan kegeramannya terhadap PT Rumpun Sari Antan di Desa Darmakradenan. Menurutnya, perusahaan perkebunan itu mestinya justru memberdayakan petani yang ada disekitarnya, bukan malah mengkriminalisasi petani. ”Apalagi, lahan yang digunakan sebagai areal perkebunan PT RSA adalah lahan yang masih disengketakan kepemilikannya oleh para petani,” kata Widoro, dari LSM Babat.

—————-

Demikian kisah tentang Nenek Minah.

Semoga bermanfaat.

Salam,

Wahyu Budi Setyawan

Judul Asli: Hakim Tersedu-sedu Bacakan Putusan Nenek Minah

Oleh: Republika Newsroom

Kamis, 19 November 2009 pukul 14:51:00

http://www.republika.co.id/berita/90390/Hakim_Tersedu_sedu_Bacakan_Putusan_Nenek_Minah

Akses: 19 Nopember 2009

Dikutip dengan sedikit editing yang tidak merubah substansi.

3 Tanggapan to “Kisah Nenek Minah dan Tiga Buah Coklat 02”

  1. ragil puteri said

    apa yang telah dilakukan nenek minah memang memenuhi unsur delik dan ini jelas suatu perbuatan yang tidak dapat dibenarkan, menurut perspektif hukum pidana. tapi penyelesaian kasus ini saya merasa bisa dilakukan hanya dengan mediasi dan penyelesaian sengketa melalui jalur non-litigasi. keadilan tidak melulu soal hukum tertulis, harus dipertimbangkan sisi sosiologisnya juga.

    • wahyuancol said

      Puteri Yth,
      Itulah yang menjadi masalah dalam penegakan hukum di negara kita sekarang ini. Penegakan hukum kita terjebak dalam formalitas, dan mengabaikan rasa atau nurani.
      Salam,
      Wahyu

  2. Negeri ini memang selalu penuh ironi. Salah satu contoh terbaru adalah bagaimana para ‘pencuri’ kelas teri mendapat hukuman yang kurang setimpal dengan perbuatannya. Sangat berbanding terbalik dengan apa yang dialami oleh para pencuri ‘koruptor’ kelas kakap yang banyak menghilangkan miliaran uang rakyat.

    Sungguh sebuah fakta yang menyesakan dada. Mudah-mudahan di kemudian hari hal seperti tidak terjadi lagi. Hukuman harus diberikan dengan seadil-adilnya, sesuai dengan beratnya kesalahan yang dilakukan.
    Cara Membuat Blog

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: