Kepulauan Indonesia

Cerita dari, untuk dan tentang Kepulauan Indonesia beserta Penghuni dan Penduduknya

Ironi Pulau Kelapa

Posted by wahyuancol pada September20, 2008

Indonesia memiliki belasan ribu pulau yang kawasan pesisirnya banyak ditumbuhi kelapa. Dan, kita juga tahu bahwa kelapa sangat akrab dengan kehidupan penduduk Indonesia pada umumnya. Namun ternyata selama ini kita telah lalai dengan apa yang kita miliki itu. Tulisan seorang teman – Awang Harun Satyana,  tentang ironi itu di bawah ini rasanya perlu kita cermati.

————-

Minggu lalu sebuah harian ibu kota (Bisnis Jakarta, 26 Agustus 2008) membuat saya termenung.

Dengan panjang garis pantai lebih dari dua kali keliling Bumi, Indonesia memiliki areal kelapa terluas di dunia, yaitu sekitar 3,9 juta hektare. Produksi tahunannya 3,3 juta ton setara kopra.

Meskipun demikian, Indonesia bukan produsen kelapa terbesar di dunia sehingga Indonesia bukan pula penguasa pasar kelapa dunia. Adalah Filipina produsen kelapa terbesar di dunia yang menguasai 40,5 %  pangsa pasar kelapa dunia, sementara Indonesia hanya menguasai 19,2 %. Lalu, Indonesia baru mampu menghasilkan 22 jenis produk turunan kelapa, sementarta Filipina sudah mampu menghasilkan 100 jenis produk turunan kelapa.

Dengan garis pantai terpanjang di dunia, lahan kelapa terluas di dunia, mengapa Indonesia hanya mampu memasok tak sampai seperlima konsumsi dunia, sementara Filipina yang garis pantai dan lahannya lebih pendek dan lebih sempit, mampu mengungguli Indonesia ? Jelas produktivitas kelapa kita rendah, tak sampai 1 ton per hektare per tahun. Apa penyebabnya ? Banyak kebun kelapa yang pohon-pohonnya telah tua dan sakit, tetapi tak diremajakan atau dirawat. Nah, terlena lagi lalu kita terkesiap saat sebuah negara kecil mengungguli kita. Sudah terlambat jelas, tetapi kalau tetap tak peduli ya sungguh keterlaluan.

Indonesia punya 18.110 pulau (data 2003, sebelumnya 17.508, sebelumnya lagi 13.667 pulau); Filipina punya 7107 pulau. Semakin banyak pulaunya tentu semakin panjang garis pantainya. Karena kelapa banyak tumbuh di pantai-pantai pulau tropis, maka semakin banyak pulaunya semakin banyak pohon kelapanya. Sayang, Indonesia kalah oleh Filipina soal produktivitas kelapa.

Padahal kelapa dalam kehidupan orang Indonesia punya akar yang sangat panjang dalam sejarah. Bahkan sesungguhnya Merah Putih kita diturunkan dari tradisi sejarah purba nenek moyang Indonesia yang gemar menyantap kelapa dan gula merah. Sang Saka Merah Putih adalah Gula Merah dan Kelapa Putih. Misalnya, pada zaman Kerajaan Mataram, warna merah putih dikenal sebagai Gula Kelapa (Gula=merah, Kelapa=putih). Salah satu bentuknya masih tersimpan sebagai pusaka dalam Keraton Surakarta, yaitu bendera Kyai Ageng Tarub, putra Raden Wijaya, yang dasarnya berwarna putih dengan tulisan Arab Jawa dan atasnya bergaris merah. Dalam babad tanah Jawa yang bernama Babad Mentawis disebutkan bahwa ketika Sultan Ageng berperang melawan negri Pati. Tentaranya bernaung di bawah bendera Merah Putih “Gula Kelapa”. Sultan Ageng memerintah tahun 1613-1645.

Bacalah buku Mohammad Yamin (1958 : 6000 Tahun Sang Saka Merah Putih), di dalamnya kita akan tahu betapa kelapa telah mengurat dan mengakar di kehidupan orang Indonesia sejak masa purba.

Ismail Marzuki, mungkin akan menangis melihat kenayataan bahwa Indonesia bukan pulau kelapa yang jaya (lagi). Sang komponis besar kita itu menganggit  sebuah lagu yang selalu dinyanyikan sampai sekarang – tetapi tinggal kenangan. Inilah sebuah tragis Rayuan Pulau Kelapa.

”Tanah airku Indonesia

Negeri elok amat kucinta

Tanah tumpah darahku yang mulia

yang kupuja sepanjang masa

Tanah airku aman dan makmur

Pulau kelapa yang amat subur

Pulau melati pujaan bangsa

Sejak dulu kala

Melambai-lambai

Nyiur di pantai

Berbisik-bisik

Raja Kelana

Memuja pulau

Nan indah permai

Tanah airku, Indonesia”

Kelapa, Cocos nucifera, Linn memang belum diketahui asal-muasalnya; tetapi nama Cocos berasal dari bahasa Arab : “gauzoz Indi”, artinya “biji dari Indonesia”. Sejak dulu kala Indonesia adalah Pulau Kelapa. Mari kita jayakan lagi !

Salam,

awang

———-

Tulisan ini sebelumnya dipublikasikan di dalam [iagi-net-I] (OOT), pada tanggal 1 September 2008 dengan judul: “Tragis Rayuan Pulau Kelapa”. Dikutip dengan izin tertulis dari penulisnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: