Kepulauan Indonesia

Cerita dari, untuk dan tentang Kepulauan Indonesia beserta Penghuni dan Penduduknya

Archive for September, 2008

TEORI EVOLUSI (ASAL USUL SPESIES) DARWIN

Posted by wahyuancol pada September22, 2008

Makhluk hidup di Bumi ini sangat beraneka ragam jenisnya.  Secara sederhana dan kasat mata kita dapat dengan mudah membedakan antara tumbuhan dan hewan. Namun demikian, kita juga mengetahui bahwa tumbuhan maupun hewan sangat banyak jenisnya atau spesiesnya.

Rasa ingin tahu adalah fitrah manusia. Oleh karena itu kecenderungan untuk mengetahui dan memahami apa-apa yang ada di sekelilingnya adalah juga fitrah manusia. Fitrah itu diberikan oleh Tuhan kepada manusia dalam rangka memberi bekal kemampuan kepada manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Sebagai mana kita ketahui, sebenarnya, untuk kebutuhan hidupnya manusia itu hanya membutuhkan ruang yang aman dan energi yang cukup. Ruang untuk hidup manusia disediakan Tuhan dalam bentuk hamparan permukaan Bumi, sedang energi untuk hidup manusia yang mendasar dipenuhi oleh makhluk hidup (tumbuhan maupun hewan). Agar kebutuhan energinya terjamin, maka manusia perlu memahami karakter dari sumber-sumber energinya (baca: makanan). Untuk alasan itulah maka pada tingkat yang paling dasar Tuhan memberikan naluri ingin tahu kepada manusia.

Kembali kepada banyaknya jenis tumbuhan dan hewan di sekeliling manusia. Dalam rangka mempermudah untuk mempelajarinya, manusia melakukan pengelompokan atau klasifikasi. Dari upaya melakukan klasifikasi itulah kemudian manusia melihat kemungkinan adanya hubungan antara jenis atau spesies mankhluk yang satu dengan yang lainnya. Selanjutnya tentu wajar bila manusia mempertanyakan dari mana dan bagaimana makhluk yang demikian banyak jenisnya itu bisa muncul atau hadir di Bumi?

Charles Darwin (1809-1882) adalah salah satu diantara banyak orang yang berusaha untuk mempelajari tentang bagaimana asal-usul makhluk hidup yang demikian banyak jenisnya di muka Bumi ini. Darwin mengunjungi Kepulauan Galapagos. Di sana dia mengamati keberagaman burung finch dan iguana. Hasil pengamatan tersebut menghasilkan hipotesa bahwa makhluk hidup berubah dengan berjalannya waktu. Pertanyaan yang kemudian muncul tentu adalah bagaimana perubahan yang berlangsung dengan berjalannya waktu itu terjadi?

Buku The Origin of Species (1859) adalah buku yang berisikan pikiran Darwin tentang bagaimana spesies-spesies makhluk hidup itu muncul. Sampai sekarang, pikiran tentang munculnya berbagai jenis makhluk melalui proses evolusi yang dikemukakan di dalam buku tersebut hampir 150 tahun yang lalu masih terus diperdebatkan orang. Ada orang yang menerima teori evolusi dan banyak pula yang menentang atau menolaknya.

Tidak banyak diantara kita yang mendapat kesempatan untuk membaca buku tersebut. Dalam rangka memperingat ulang tahun ke-150 penerbitan buku tersebut, seorang teman telah memberikan ulasan tentang buku itu. Dengan izin darinya lah ulasan tentang buku yang menarik itu dapat saya muat di dalam blog ini. Semoga bermanfaat.

Salam dari Ancol,

Wahyu Budi Setyawan

Terima kasih saya sampaikan kepada rekan Awang Harus Satyana yang telah memberikan izin untuk memuat ulasan tersebut didalam blog ini.

—————-

“The Origin of Species” (Darwin, 1859) akan kita peringati 150 tahunnya tahun depan. Buku Darwin tersebut merupakan buku paling penting kalau kita mau memahami apa yang dipikirkan Darwin tentang evolusi. Sebelum menyerang teori evolusi, sebaiknya dibaca dulu buku ini, sehingga bisa diputuskan apakah teori evolusi layak diserang atau bahkan didukung.

Dari internet mungkin bisa didapat digitalnya, tetapi saya lebih suka mempelajarinya dari bukunya sebab bisa dibaca di mana saja, di kereta, di bus atau santai sambil berbaring. Saya punya tiga buku Darwin ini, salah satunya adalah terjemahan Indonesia-nya yang mudah diperoleh di Yayasan Obor Indonesia, penerbit yang menerjemahkannya (kalau berminat coba buka website obor di http://www.obor.or.id ). Saya membeli terjemahannya tahun 2004 (diterjemahkan tahun 2003 oleh para dosen biologi Universitas Nasional), mestinya sih masih tersedia terjemahannya.

Inti buku ini sederhana saja : Darwin memaparkan pembuktian bahwa makhluk hidup berevolusi serta menjelaskan bagaimana seleksi alamiah menyebabkan spesies-spesies berubah. Menurut cerita, buku ini dicetak untuk pertama kalinya hanya 1250 eksemplar sebab penerbitnya tidak yakin bahwa buku ini akan laku terjual. Ternyata, pada hari pertama saja ada di toko, seluruh buku ini habis terjual. Kemudian ternyata juga bahwa buku-buku ini banyak dibeli untuk dibakar.

Darwin menggambarkan The Origin sebagai suatu argumen panjang. Saya ingat dulu saat masih SMP di Bandung suka nongkrong malam-malam di perpusatakaan British Council di Jalan Tamblong beberapa minggu demi menyaksikan film tentang Darwin. Di situ digambarkan Darwin dengan tenangnya menulis argument-argumen. Belakangan saya tahu bahwa Darwin tak tenang menulis bukunya sebab ia takut didahului oleh Alfred Russel Wallace, sang pengelana Nusantara, yang juga menemukan gejala yang sama yang sedang dipikirkan Darwin : evolusi oleh seleksi alam. Atas dorongan dan bantuan Charles Lyell-lah, Darwin dapat menyelesaikan karya monumentalnya dalam waktu yang singkat. Charles Lyell, ahli geologi itu adalah seperti seorang ayah untuk Darwin.

Teori Evolusi Darwin

Agar argument Darwin mudah dipahami, ia memulai bukunya (Bab 1) dengan menampilkan variasi-variasi yang terjadi pada tanaman-tanaman dan hewan-hewan di sekitar rumah hasil domestikasi. Setelah mendiskusikan sifat-sifat yang dimiliki oleh biakan-biakan yang berbeda, ia mulai menjelaskan bagaimana biakan-biakan yang berbeda itu bisa muncul. Darwin menjelaskan bahwa itu muncul akibat seleksi buatan (artificial selection), manusia memilih mana-mana yang akan dibiakkan mana yang tak boleh. Tentu saja yang dibiakkan adalah yang memiliki sifat-sifat yang baik atau unggul.

Bab 2 The Origin, berpindah dari variasi-variasi makhluk hidup di sekitar rumah ke variasi jenis di alam liar. Darwin di sini menjelaskan apa itu spesies, bagaimana variasi-variasinya. Di sini Darwin menampilkan pengamatan atau kesimpulan bahwa spesies-spesies itu bukan sesuatu yang terakhir atau yang tetap, tetapi disebutnya sebagai “spesies-spesies dalam penantian”. Menanti apa ? Menanti untuk berubah. Jadi spesies2 itu adalah hanya bagian dari jalan panjang menuju spesies berikutnya. Jelas Darwin mulai berbeda pandangannya dari ahli-ahli biologi sezamannya.

Bab 3 The Origin, Darwin terpesona dengan pandangan Malthus (1798) si ahli demografi itu bahwa akibat jumlah populasi lebih banyak daripada sumberdaya yang ada maka akan terjadi perjuangan demi kelangsungan hidup dengan cara berebut sumberdaya yang terbatas. Yang unggul yang akan terus hidup. Di bab ini maka Darwin menuliskan “suatu perjuangan demi bertahan hidup tak dapat dielakkan merupakan akibat dari laju pesat perbanyakan diri organisme hidup”. Darwin juga memaparkan faktor-faktor yang membatasi jumlah spesies, misalnya efek2 kepadatan berlebih, serangan pemangsa, serta musim dingin yang kering dan ekstrim.

Bab 4 The Origin, merupakan bagian yang paling penting. Judulnya adalah Natural Selection. Ini merupakan gagasan besar Darwin tetapi saat itu sangat sulit diterima. Dalam seleksi alam, menurut Darwin, variasi-variasi yang menguntungkan dipertahankan, sementara yang merugikan disingkirkan dan akhirnya musnah. Darwin menyusun daftar yang memaparkan sederetan adaptasi yang dikaitkannya dengan akumulasi bertahap dari variasi-variasi yang berguna. Ia menyatakan bahwa, tidak seperti manusia, alam mendasari seleksinya pada seluruh perlengkapan kehidupan. Alam menitikberatkan pada nilai adaptif setiap sifat makhluk hidup tanpa terkecuali, dan dalam proses ini tidak ada satu pun yang terlewatkan.

Bab 5 The Origin, Law of Variation, dimulai Darwin dengan penyangkalan bahwa variasi-variasi disebabkan faktor kebetulan. Menurut Darwin semua ada kendalinya. Darwin percaya akan variasi berkelanjutan – variasi yang tersusun atas suatu rangkaian tak terbatas dari perbedaan-perbedaan kecil antar individu.

Bab-Bab yang tersisa dari The Origin (sampai Bab 15) menguraikan sederetan topik yang telah membuat Darwin tetap sibuk. Topik-topik tersebut mencakup evolusi adaptasi fisik, asal muasal naluri, fosil, klasifikasi, kontribusi geologi ke dalam evolusi, kesulitan-kesulitan teori evolusi, dan distribusi makhluk hidup.

Darwin tentang Evolusi Manusia

Sekarang kita lihat apa kata Darwin tentang evolusi manusia. Sumber terbaik untuk mempelajarinya ada dalam bukunya “The Descent of Man” (Darwin, 1871) – yang ini belum ada terjemahannya dalam bahasa Indonesia.

Karena begitu banyaknya serangan-serangan kepada evolusi berasal dari hal evolusi manusia, maka Darwin memandang perlu menulis buku khusus tentang evolusi manusia. Inti buku ini Darwin beragumen bahwa manusia dan kera memiliki leluhur jauh yang sama dan bahwa semua ciri manusia telah berevolusi melalui serangkaian langkah yang bertahap.

Dalam buku ini Darwin menunjukkan bahwa atribut-atribut manusia yang terhebat sekalipun –kecerdasan dan ungkapan emisional kita- bisa saja dihasilkan melalui seleksi alamiah sehingga memungkinkan manusia juga berevolusi dari leluhur-leluhur hewan.

Bagaimana dan mengapa kecerdasan manusia muncul ? Pandangan Darwin mengatakan bahwa hal tersebut berhubungan dengan gaya hidup. Leluhur nenek moyang manusia dan kera pada awalnya merupakan penghuni pepohonan, namun secara bertahap mereka mulai hidup di darat. Berjalan dengan kedua kaki dan membebaskan tangan mereka untuk memanipulasi benda-benda dan akhirnya untuk menciptakan perkakas. Hal ini, kata Darwin, menyediakan batu loncatan bagi perkembangan kecerdasan karena seleksi alamiah selanjutnya akan memelihara ukuran otak yang terus mengalami peningkatan, yang diperlukan untuk ketangkasan tangan.

Pengetahuan Biologi Moderen tentang Evolui Manusia

Bagaimana pengetahuan biologi saat ini tentang evolusi manusia ? Apakah manusia berevolusi dari kera? Tidak. Manusia memang berasal dari superfamily yang sama dengan kera, tetapi kera dan manusia berpisah dalam pohon evolusi sekitar 4-5 juta tahun yang lalu. Dari situ manusia berevolusi sendiri melalui perkembangan bertahap hominid sampai akhirnya manusia moderen muncul beberapa puluh ribu tahun yang lalu.

Penutup

Di bawah ada tulisan tentang semua karya Darwin (The Darwin Compendium) yang pernah saya posting beberapa bulan yang lalu.

Apakah teori evolusi Darwin yang diuraikannya dalam The Origin semuanya benar ? Tidak, sebagian salah, tetapi sebagian juga benar. Mana yang benar mana yang salah menurut ilmu pengetahuan sekarang nanti kita bahas lagi, juga tentang evolusi manusia, implikasi sosial dan implikasi agama.

Dengan singkat bisa dikatakan : evolusi terjadi, tetapi tidak persis seperti yang Darwin teorikan.

Salam,

Awang

Posted in Alam Semesta, Cara Bumi di Hidupkan | Dengan kaitkata: , , , , , | 3 Comments »

NEGARA PARA KORUPTOR (3): 18 Modus Korupsi di Daerah

Posted by wahyuancol pada September20, 2008

Di dalam Sidang Paripurna Dewan Perwakilan Daerah (DPD) di Jakarta yang dilaksanakan pada hari Jum’at tanggal 22 Agustus 2008, Komisi Pemberatasan Korupsi (KPK) memberikan bahan tertulis kepada para peserta sidang. Di dalam bahan yang dibagikan itu KPK membeberkan adanya 18 modus operandi penyalahgunaan anggaran  (Modus Korupsi) di daerah.

Ke-18 modus tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Pengusaha menggunakan pengaruh pejabat pusat untuk “membujuk” kepala daerah/pejabat daerah mengintervensi proses pengadaan dalam rangka memenangkan pengusaha/rekanan tertentu dan meninggikan harga atau nilai kontrak dan pengusaha/rekanan dimaksud memberikan sejumlah uang kepada pejabat pusat maupun daerah.
  2. Pengusaha mempengaruhi kepala daerah/pejabat daerah untuk mengintervensi proses pengadaan agar rekanan tertentu dimenangkan dalam tender atau ditunjuk langsung dan harga barang/jasa dinaikkan (mark-up), kemudian selisihnya dibagi-bagikan.
  3. Panitia pengadaan membuat spesifikasi barang yang mengarah ke merek atau produk tertentu dalam rangka memenangkan rekanan tertentu dan melakukan mark-up harga atau nilai kontrak.
  4. Kepala daerah/pejabat daerah memerintahkan bawahannya untuk mencairkan dan menggunakan dana/anggaran yang tidak sesuai dengan peruntukannya kemudian mempertanggungjawabkan pengeluaran-pengeluaran dimaksud dengan menggunakan bukti-bukti yang tidak benar atau fiktif.
  5. Kepala daerah/pejabat daerah memerintahkan bawahannya menggunakan dana/uang daerah untuk kepentingan pribadi koleganya, atau untuk kepentingan pribadi kepala daerah/pejabat daerah yang bersangkutan atau kelompok tertentu, kemudian mempertanggungjawabkan pengeluaran-pengeluaran dimaksud dengan menggunakan bukti-bukti fiktif.
  6. Kepala daerah menerbitkan peraturan daerah sebagai dasar pemberian upah pungut atau honor dengan menggunakan dasar peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi yang tidak berlaku lagi.
  7. Pengusaha, pejabat eksekutif, dan pejabat legislatif daerah sepakat melakukan tukar guling (ruislag) atas aset pemda dan melakukan mark-down atas aset pemda serta mark-up atas aset pengganti dari pengusaha/rekanan.
  8. Para kepala daerah meminta uang jasa (dibayar di muka) keada pemenang tender sebelum melaksanakan proyek.
  9. Kepala daerah menerika sejumlah uang dari rekanan dengan menjanjikan akan diberikan proyek pengadaan.
  10. Kepala daerah membuka rekening atas nama kas daerah dengan spesimen pribadi (bukan pejabat dan bendahara yang ditunjuk), dimaksudkan untuk mempermudah pencairan dana tanpa melalui prosedur.
  11. Kepala daerah meminta atau menerima jasa giro/tabungan dana pemerintah yang ditempatkan di bank.
  12. Kepala daerah memberikan izin pengelolaan sumberdaya alam kepada perusahaan yang tidak memiliki kemampuan teknis dan finansial untuk kepentingan pribadi atau kelompoknya.
  13. Kepala daerah menerima uang/barang yang berhubungan dengan proses perizinan yang dikeluarkannya.
  14. Kepala daerah/keluarga/kelompoknya membeli lebih dahulu barang dengan harga yang sudah murah kemudian dijual kembali kepada instansinya dengan harga yang sudah di-mark-up.
  15. Kepala daerah meminta bawahannya untuk mencicilkan barang pibadinya dengan menggunakn anggaran daerah.
  16. Kepala daerah memberikan dana kepada pejabat tertentu dengan beban pada anggaran dengan alasan pengurusan DAU/DAK.
  17. Kepala daerah memberikan dana kepada  DPRD dalam proses penyusunan APBD.
  18. Kepala daerah mengeluarkan dana untuk perkara pribadi dengan beban anggaran daerah.

Sumber: Harian KOMPAS, Sabtu, 23 Agustus 2008; halaman muka.

Posted in Ah... Indonesia ku | Dengan kaitkata: , | 2 Comments »

SB: Sistem Bumi dan Matahari dan Sirkulasi Atmosfer

Posted by wahyuancol pada September20, 2008

Bumi berbentuk oblate spheroid, yang berarti diameter ekuator lebih panjang daripada diameter kutub. Bumi berrotasi pada sumbunya dari barat ke timur, dan Bumi berrevolusi mengelilingi Matahari dengan orbit yang berbentuk ellips. Pada titik terdekat – yang disebut perihelion, jarak Bumi dan Matahari 147.000.000 km dan terjadi pada bulan Juli, sedang pada titik terjauh – yang disebut aphelion, berjarak 150.000.000 km dan terjadi pada bulan Januari. Fakta lain adalah bahwa sumbu rotasi Bumi membentuk sudur 23,5o terhadap bidang orbit Bumi.

Bentuk bumi bulat menyebabkan penyerapan radiasi sinar Matahari oleh Bumi berkurang sesuai dengan perubahan posisi lintang dari ekuator ke kutub (Gambar 8). Selanjutnya, posisi sumbu rotasi Bumi yang menyudut 23,5o terhadap bidang orbit Bumi menyebabkan terjadinya variasi penyinaran tahunan di permukaan Bumi (Gambar 9). Variasi pemanasan Bumi ini mengendalikan sirkulasi samudera dan atmosfer, dan juga siklus hidrologi.

Gambar 8. Variasi intersitas penyinaran Matahari terhadap permukaan Bumi sebagai akibat dari perbedaan posisi lintang. Perbedaan intersitas penyinaran itu menyebabkan perbedaan energi panas dari Matahari yang diterima oleh Bumi sesuai dengan posisi lintang suatu tempat di permukaan Bumi. Sumber: Berner dan Berner (1987).

Gambar 9. Gerak revolusi Bumi terhadap matahari dan posisi sumbu rotasi Bumi yang membentuk sudut 23,5o terhadap bidang orbit Bumi menyebabkan perubahan musim sepanjang tahun. Sumber: Berner dan Berner (1987).

Sirkulasi atmosfer adalah konsekuensi dari ketidakseimbangan panas di permukaan Bumi yang terjadi karena perbedaan intensitas penyinaran yang telah dibicarakan di atas, dan gerak rotasi Bumi. Gambaran umum sirkulasi atmosfer yang menunjukkan angin rata-rata tahunan disajikan dalam Gambar 10.

Gambar 10. Gambaran umum sirkulasi atmosfer. Sumber: Berner dan Berner (1987).

Kembali Terus

Posted in Cara Bumi di Hidupkan | Dengan kaitkata: , , , , , , | 7 Comments »

SB: Keistimewaan Bumi

Posted by wahyuancol pada September20, 2008

Ada dua hal utama yang membedakan antara Bumi dengan planet-planet yang lain di dalam Sistem Tata Surya, yaitu:

1) Bumi memiliki air dalam jumlah besar dan membentuk sub-sistem hidrosfer sedang planet-planet yang lain tidak memiliki air. Dengan kata lain, hidrosfer hanya dijumpai di Bumi dan tidak dijumpai di planet-planet yang lain.

2) Di Bumi terdapat fenomena tektonik lempeng sedang di planet-planet yang lain tidak ada. Fenomena tektonik lempeng mengindikasikan bagian internal Bumi yang cair dan memiliki energi panas yang tinggi.

Berlangsungnya siklus hidrologi, siklus batuan dan siklus tektonik di Bumi berkaitan erat dengan keberadaan dua hal tersebut. Siklus hidrologi tidak dapat berlangsung bila di Bumi tidak ada hidrosfer, sedang siklus batuan dan tektonik tidak dapat berlangsung bila tidak ada tektonik lempeng. Dengan demikian, bila keberadaan hidrosfer dan tektonik lempeng hanya ada di Bumi, maka ketiga siklus tersebut hanya berlangsung di Bumi dan tidak dapat berlangsung di planet-planet yang lain.

Kembali Terus

Posted in Cara Bumi di Hidupkan | Dengan kaitkata: , , , , , , | Leave a Comment »

Ironi Pulau Kelapa

Posted by wahyuancol pada September20, 2008

Indonesia memiliki belasan ribu pulau yang kawasan pesisirnya banyak ditumbuhi kelapa. Dan, kita juga tahu bahwa kelapa sangat akrab dengan kehidupan penduduk Indonesia pada umumnya. Namun ternyata selama ini kita telah lalai dengan apa yang kita miliki itu. Tulisan seorang teman – Awang Harun Satyana,  tentang ironi itu di bawah ini rasanya perlu kita cermati.

————-

Minggu lalu sebuah harian ibu kota (Bisnis Jakarta, 26 Agustus 2008) membuat saya termenung.

Dengan panjang garis pantai lebih dari dua kali keliling Bumi, Indonesia memiliki areal kelapa terluas di dunia, yaitu sekitar 3,9 juta hektare. Produksi tahunannya 3,3 juta ton setara kopra.

Meskipun demikian, Indonesia bukan produsen kelapa terbesar di dunia sehingga Indonesia bukan pula penguasa pasar kelapa dunia. Adalah Filipina produsen kelapa terbesar di dunia yang menguasai 40,5 %  pangsa pasar kelapa dunia, sementara Indonesia hanya menguasai 19,2 %. Lalu, Indonesia baru mampu menghasilkan 22 jenis produk turunan kelapa, sementarta Filipina sudah mampu menghasilkan 100 jenis produk turunan kelapa.

Dengan garis pantai terpanjang di dunia, lahan kelapa terluas di dunia, mengapa Indonesia hanya mampu memasok tak sampai seperlima konsumsi dunia, sementara Filipina yang garis pantai dan lahannya lebih pendek dan lebih sempit, mampu mengungguli Indonesia ? Jelas produktivitas kelapa kita rendah, tak sampai 1 ton per hektare per tahun. Apa penyebabnya ? Banyak kebun kelapa yang pohon-pohonnya telah tua dan sakit, tetapi tak diremajakan atau dirawat. Nah, terlena lagi lalu kita terkesiap saat sebuah negara kecil mengungguli kita. Sudah terlambat jelas, tetapi kalau tetap tak peduli ya sungguh keterlaluan.

Indonesia punya 18.110 pulau (data 2003, sebelumnya 17.508, sebelumnya lagi 13.667 pulau); Filipina punya 7107 pulau. Semakin banyak pulaunya tentu semakin panjang garis pantainya. Karena kelapa banyak tumbuh di pantai-pantai pulau tropis, maka semakin banyak pulaunya semakin banyak pohon kelapanya. Sayang, Indonesia kalah oleh Filipina soal produktivitas kelapa.

Padahal kelapa dalam kehidupan orang Indonesia punya akar yang sangat panjang dalam sejarah. Bahkan sesungguhnya Merah Putih kita diturunkan dari tradisi sejarah purba nenek moyang Indonesia yang gemar menyantap kelapa dan gula merah. Sang Saka Merah Putih adalah Gula Merah dan Kelapa Putih. Misalnya, pada zaman Kerajaan Mataram, warna merah putih dikenal sebagai Gula Kelapa (Gula=merah, Kelapa=putih). Salah satu bentuknya masih tersimpan sebagai pusaka dalam Keraton Surakarta, yaitu bendera Kyai Ageng Tarub, putra Raden Wijaya, yang dasarnya berwarna putih dengan tulisan Arab Jawa dan atasnya bergaris merah. Dalam babad tanah Jawa yang bernama Babad Mentawis disebutkan bahwa ketika Sultan Ageng berperang melawan negri Pati. Tentaranya bernaung di bawah bendera Merah Putih “Gula Kelapa”. Sultan Ageng memerintah tahun 1613-1645.

Bacalah buku Mohammad Yamin (1958 : 6000 Tahun Sang Saka Merah Putih), di dalamnya kita akan tahu betapa kelapa telah mengurat dan mengakar di kehidupan orang Indonesia sejak masa purba.

Ismail Marzuki, mungkin akan menangis melihat kenayataan bahwa Indonesia bukan pulau kelapa yang jaya (lagi). Sang komponis besar kita itu menganggit  sebuah lagu yang selalu dinyanyikan sampai sekarang – tetapi tinggal kenangan. Inilah sebuah tragis Rayuan Pulau Kelapa.

”Tanah airku Indonesia

Negeri elok amat kucinta

Tanah tumpah darahku yang mulia

yang kupuja sepanjang masa

Tanah airku aman dan makmur

Pulau kelapa yang amat subur

Pulau melati pujaan bangsa

Sejak dulu kala

Melambai-lambai

Nyiur di pantai

Berbisik-bisik

Raja Kelana

Memuja pulau

Nan indah permai

Tanah airku, Indonesia”

Kelapa, Cocos nucifera, Linn memang belum diketahui asal-muasalnya; tetapi nama Cocos berasal dari bahasa Arab : “gauzoz Indi”, artinya “biji dari Indonesia”. Sejak dulu kala Indonesia adalah Pulau Kelapa. Mari kita jayakan lagi !

Salam,

awang

———-

Tulisan ini sebelumnya dipublikasikan di dalam [iagi-net-I] (OOT), pada tanggal 1 September 2008 dengan judul: “Tragis Rayuan Pulau Kelapa”. Dikutip dengan izin tertulis dari penulisnya.

Posted in Ah... Indonesia ku | Dengan kaitkata: , , , , | Leave a Comment »