Kepulauan Indonesia

Cerita dari, untuk dan tentang Kepulauan Indonesia beserta Penghuni dan Penduduknya

MBG: Aktifitas Mitigasi dan Karakter Bencana

Posted by wahyuancol pada Juni4, 2008

Aktifitas mitigasi bencana sesungguhnya adalah upaya untuk mengeliminasi atau mengurangi kemungkinan terjadinya bencana, atau mengurangi efek dari bencana yang tidak dapat dicegah kejadiannya (Warfield, tanpa tahun). Selanjutnya disebutkan bahwa efektifitas tindakan mitigasi bencana tergantung pada ketersediaan informasi tentang bencana, resiko keadaan darurat (emergency risks), dan tindakan tanggapan (counter measures) yang diambil. Dengan demikian, fase mitigasi mencakup pembentukan kebijakan publik dan rencana memodifikasi penyebab bencana atau memitigasi efek bencana atas manusia, harta benda dan infra struktur.

Dalam kaitannya dengan upaya untuk mengeliminasi atau mengurangi terjadinya bencana, mamahami karakter dari suatu bencana adalah sangat penting, karena pengetahuan akan karakter bencana yang akan terjadi merupakan hal yang menjadi dasar bagi penentuan tindakan-tindakan pencegahan atau tindakan tanggapan yang perlu dilakukan terhadap suatu bencana. Hal ini menunjukkan bahwa mengetahui atau memahami dengan baik karakteristik dari suatu bencana geologi merupakan langkah awal yang mendasar dalam kegiatan mitigasi bencana.

Agar tindakan mitigasi bencana dapat efektif, berbagai hal yang perlu diketahui dari suatu jenis bencana geologi adalah:

1) Pencetus Utama, yaitu adalah proses, kondisi atau kejadian yang menyebabkan terjadinya suatu bencana. Faktor pencetus atau penyebab terjadinya bencana berbeda antara satu jenis bencana geologi dengan jenis bencana geologi lainnya. Faktor ini pebnting diketahui karena memberikan gambaran tentang berbagai karakter lainnya dari suatu jenis bencana geologi terkait, seperti karakter kedatangan atau kejadian bencana, prediktabilitas kejadian bencana, durasi berlangsungnya bencana, dan luas areal yang terkena bencana.

2) Sifat Kedatangan atau Kejadian, yaitu kondisi waktu yang berkaitan dengan munculnya suatu bencana, seperti cepat dan tiba-tiba, atau perlahan-lahan; terus menerus, periodik atau tidak menentu; musiman atau tidak terkait dengan waktu tertentu. Berbagai sifat ata karakter kedatangan atau kejadian bencana ini berkaitan erat dengan karakter faktor pencetus atau agen yang bekerja (working agents). Misalnya, erosi pantai yang disebabkan oleh gelombang laut sifat kedatangan atau kejadiannya berbeda dengan tsunami, karena meskipun sama-sama gelombang laut tetapi karakternya berbeda. Erosi pantai datang atau terjadi perlahan-lahan, sedang tsunami datang cepat dan tiba-tiba.

3) Prediktabilitas, yaitu bisa atau tidaknya suatu kejadian bencana diperkirakan kedatangan atau kejadiannya. Hal ini sangat penting karena menentukan keselamatan jiwa dan harta benda. Apabila kedatang atau kejadian suatu bencana dapat diprediksi atau diperkirakan, maka kita dapat menghindar dari bencana itu. Prediktabilitas suatu bencana ini berkaitan erat dengan karakter faktor-faktor pencetus atau agen-agen yang bekerja. Sebagai contoh, kalau erosi pantai terjadi karena gelombang laut, sedang gelombang laut kejadiannya berkaitan dengan tiupan angin dan terjadinya tiupan angin berkaitan dengan musim tertentu, maka kita dapat memperkirakan waktu dan lokasi terjadinya erosi pantai. Apabila kita telah mengetahui daerah-daerah yang akan tererosi, tentu kita dapat menghindari tempat-tempat itu sebagai pemukiman atau aktifitas lainnya yang permanen, atau menentukan langkah antisipasi bila telah terlanjut berada di daerah tersebut.

4) Durasi, yaitu lamanya berlangsung suatu peristiwa bencana. Durasi dapat berlangsung dalam hitungan menit, jam, hari, bulan atau tahun. Contohnya, tsunami berlangsung hanya beberapa menit, banjir pasang-surut berlangsung dalam beberapa jam, erosi pantai berlangsung terus menerus sepanjang waktu atau tahunan. Faktor durasi ini ditentukan oleh faktor pencetus bencana dan karakter agen yang bekerja.

5) Areal Terganggu, yaitu luas areal yang akan terkena bencana bila bencana itu benar-benar terjadi. Faktor ini menentukan besarnya kerugian material yang mungkin ditimbulkan oleh suatu bencana. Makin luas areal yang terganggu maka makin banyak pula harta benda yang mungkin rusak. Dengan mengetahui luas areal yang mungkin terganggu atau terkena bencana, maka kita dapat menentukan batas kawasan atau daerah aman yang tidak terjangkau bencana. Faktor ini ditentukan oleh karakter agen atau proses yang bekerja dan kondisi fisik daerah pesisir. Sebagai contoh, tsunami dapat merusak daerah yang sangat luas dan jauh sampai pedalaman di kawasan pesisir bermorfologi datar dan rendah sebagaimana yang terjadi di Banda Aceh, sedang untuk pantai bertebing atau berlereng terjal, gelombang tsunami hanya sampai di tebing itu.

Kembali

Iklan

2 Tanggapan to “MBG: Aktifitas Mitigasi dan Karakter Bencana”

  1. Singal said

    Penguasa negeri perlu memberi penerangan atau sosialisasi kepada masyarakat.

  2. terima kasih, artikel yg sangat bermanfaat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: