Kepulauan Indonesia

Cerita dari, untuk dan tentang Kepulauan Indonesia beserta Penghuni dan Penduduknya

Archive for Juni, 2008

BG: Tsunami

Posted by wahyuancol pada Juni24, 2008

Tsunami adalah fenomena gelombang raksasa yang melanda ke daratan. Fenomena ini dapat terjadi karena gempa bumi atau gangguan berskala besar di dasar laut, seperti longsoran bawah laut atau erusi letusan gunungapi di bawah laut (Skinner dan Porter, 2000). Gelombang tsunami dapat merambat sangat cepat (dapat mencapai kecepatan 950 km/jam), panjang gelombangnya sangat panjang (dapat mencapat panjang 250 km). Di samudera, tinggi gelombang tsunami cukup rendah sehingga sulit diamati, dan ketika mencapai perairan dangkal ketinggiannya dapat mencapai 30 m. Sifat kedatangan gelombang tsunami sangat mendadak dan tidak adanya sistem peringatan dini merupakan penyebab dari banyaknya korban jiwa yang jatuh ketika gelombang tsunami melanda ke daratan pesisir yang banyak penduduknya. Contoh yang paling mutakhir peristiwa kencana tsunami ini adalah ketika tsunami melanda pesisir barat dan utara Pulat Sumatera di Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam pada tanggal 26 Desember 2004.

Tsunami yang terjadi karena gempa bumi atau longsoran di bawah laut kejadiannya berkaitan erat dengan sistem interaksi lempeng kerak bumi yang membentuk sistem penunjaman dan palung laut dalam. Sementara itu, tsunami yang terjadi karena erupsi letusan gunungapi kejadiannya berkaitan erat dengan kehadiran gunungapi bawah laut, baik yang muncul di permukaan laut maupun yang tidak muncul di permukaan laut. Dengan demikian, potensi suatu kawasan pesisir untuk dilanda tsunami dapat diperhitungkan dari keberadaan sistem penunjaman lempeng yang membentuk palung laut dalam, dan keberadaan gunungapi bawah laut. Meskipun demikian, kita tidak dapat melakukan prediksi tentang kapan akan terjadinya tsunami karena kita tidak dapat melakukan prediksi tentang kapan terjadinya gempa, longsoran bawah lautm atau letusan gunungapi bawah laut yang dapat mencetuskan tsunami.

Dalam sejarah moderen, di Indonesia pernah terjadi tsunami karena erupsi letusan gunungapi, yaitu ketika Gunung Krakatau di Selat Sunda meletus pada tahun 1883. Sementara itu, tsunami yang terjadi karena londsoran bawah laut pernah terjadi pada tahun 1998 di sebelah utara Papua New Guinea (Synolakis dan Okal, 2002; Monastersky, 1999).

Dari uraian tentang tsunami dan berbagai pencetusnya itu, maka kita dapat menentukan kawasan-kawasan pesisir yang potensial untuk terlanda tsunami, yaitu dengan memperhitungkan posisi kawasan-kawasan pesisir terhadap keberadaan sistem penunjaman dan palung laut dalam, serta kehadiran gunungapi bawah laut, meskipun kita tidak dapat menentukan kapan tsunami akan terjadi. Bagi Kepulauan Indonesia, posisi geografisnya yang diapit oleh dua samudera (Samudera Pasifik dan Hindia), serta posisi tektonik yang terletak di kawasan interaksi tiga lempeng kerak bumi utama, dan kehadiran gunungapi bawah laut membuatnya menjadi sangat potensial untuk terkena bencana tsunami. Gambaran tentang kejadian tsunami di Indonesia dalam dua dekade terakir dapat dilihat pada Tabel 3 dan Gambar 1. Secara garis besar dapat dikatakan bahwa kawasan-kawasan pesisir Indonesia yang sangat berpotensi terkena tsunami adalah:

1) Kawasan pesisir dari pulau-pulau yang menghadap ke Samudera Pasifik dan Samudera Hindia. Potensi sumber kejadian tsunami yang utama di kawasan-kawasan itu adalah sistem penunjamanyang ada di hadapan kawasan-kawasan pesisir itu.

2) Kawasan pesisir dari pulau-pulau di kawasan Laut Banda. Di kawasan ini, tsunami dapat berasal dari kawasan Busur Banda maupun berasal dari Samudera Pasifik atau Samudera Hindia yang masuk ke kawasan itu.

3) Kawasan pesisir pulau-pulau yang berhadapan dengan gunungapi bawah laut, seperti kawasan pesisir di kedua sisi Selat Sunda yang mengelilingi Gunung Krakatau.

Koreksi untuk Tabel 3. Pada nomor urut ke-10, tertulis “Pangandaran, Jawa Tengah”; yang benar adalah “Pangandaran, Jawa Barat”. Terima kasih untuk Sdr. Yan Yan (Komentar 1) yang menunjukkan kekeliruan ini.

Kembali Terus

Posted in PROSES (BENCANA) ALAM, Tsunami, Volkanisme, Wilayah Pesisir | Dengan kaitkata: , , , , , , , , , | 3 Comments »

BENCANA GEOLOGI DI DAERAH PESISIR INDONESIA (BG)

Posted by wahyuancol pada Juni21, 2008

Tulisan ini telah dipubliksikan di Jurnal Alami, BPPT. Bila ingin mengutip sebagai referensi, bisa disitasi sebagai berikut:

Setyawan, W.B., 2007, Bencana geologi di daerah pesisir Indonesia. Alami v. 12, n. 2, 1-11.

Abstrak

Kepulauan Indonesia terletak diantara dua benua dan dua samudera, dan terbentuk sebagai hasil interaksi tiga lempeng kerak bumi utama. Konsekuensi dari setting lingkungan yang demikian adalah bahwa kondisi meteorologi dan oseanografi di Kepulauan Indonesia sangat dipengaruhi kedua benua, kedua samudera maupun konfigurasi lempeng kerak bumi di kawasan itu. Proses-proses geologi atau bencana geologi yang berlangsung di kawasan tersebut sangat ditentukan oleh kondisi meteorologi, oseanografi dan pola interaksi lempeng kerak bumi di sekitarnya. Hasil analisis terhadap setting lingkungan di kawasan Kepulauan Indonesia dan sekitarnya menunjukkan bahwa bencana geologi yang dapat terjadi di daerah pesisir dari pulau-pulau yang ada di Kepulauan Indonesia adalah tsunami, gelombang badai, banjir luapan sungai, banjir pasang surut, erosi pantai, sedimentasi dan subsiden. Karakter dari setiap bencana tersebut sangat ditentukan oleh karakter dari pemicunya, yaitu memiliki tempat kejadian yang tertentu, waktu kejadian yang tertentu, maupun muncul dengan gejala awal yang tertentu pula.

Daftar Isi:

1. Pendahuluan

2. Proses Geologi dan Bencana Geologi

3. Metodologi

4. Macam-macam Bencana Geologi

4.1. Tsunami

4.2. Gelombang Badai / Gelombang Tinggi

4.3. Banjir

4.3.1. Banjir Luapan Sungai

4.3.2. Banjir Pasang-surut

4.4. Erosi Pantai

4.5. Sedimentasi

4.6. Subsiden

5. Kesimpulan

Ucapan Terima Kasih

Daftar Pustaka

———————-

1. PENDAHULUAN

Berbagai proses geologi selalau bekerja di sekitar kita. Proses-proses tersebut bekerja membentuk roman muka bumi. Ada kalanya, proses-proses yang bekerja itu bersentuhan dengan manusia dan dapat menyebabkan kerusakan harta benda dan bahkan kematian. Proses-proses geologi yang dapat menimbulkan kerugian pada manusia itu selanjutnya disebut sebagai bencana geologi.

Bila kita memperhatikan lokasi tempat proses-proses geologi berlangsung, maka akan tampak bahwa proses-proses geologi dapat terjadi di semua tempat di permukaan bumi. Oleh karena itu, bencana geologi dapat juga terjadi di berbagai tempat di permukaan bumi. Meskipun demikian, macam-macam proses geologi atau bencana geologi yang terjadi di suatu setting lingkungan sangat ditentukan oleh kondisi geologi dan geomofologi yang ada di lingkungan tersebut. Sebagai contoh, macam-macam bencana geologi yang dapat terjadi di daerah pegunungan tentu akan berbeda dengan macam-macam bencana geologi yang dapat terjadi di daerah pesisir.

Indonesia adalah negara kepulauan. Konsekuensinya adalah bahwa wilayah pesisir merupakan kawasan yang dominan terdapat di Indonesia. Selanjutnya, adalah suatu kenyataan bahwa banyak penduduk Indonesia tinggal di kawasan pesisir dan berhubungan dengan laut. Kondisi tersebut dapat dilihat dari banyaknya kota-kota besar di Indonesia yang terletak di kawasan pesisir. Oleh karena itu, mengetahui macam-macam bencana geologi yang dapat terjadi di kawasan pesisir dan memahami karakteristiknya merupakan hal yang penting dalam rangka upaya mitigasi bencana tersebut.

Tulisan ini memberikan gambaran tentang bencana geologi yang mungkin terjadi di dan mengenai daerah pesisir di Kepulauan Indonesia.

2. PROSES GEOLOGI DAN BENCANA GEOLOGI

Proses geologi adalah semua proses yang berlangsung di permukaan bumi atau di bawah permukaan bumi yang melibatkan semua materialyang ada di bumi. Proses-proses tersebut berlangsung di dalam suatu sistem yang bekerja membangun dan membentuk permukaan bumi, dan memindahkan material dari satu tempat ke tempat lain atau dari satu sistem ke sistem yang lain. Dengan demikian, sesuai dengan perbedaan karakter material yang terlibat dan lokasinya, proses-proses geologi memiliki karakter yang “site specific” (khas menurut lokasinya) meskipun dengan pemisahan yang tidak ketat.

Di daerah pesisir, proses-proses geologi yang khas untuk daerah pesisir umumnya adalah proses-proses geologi hasil interaksi dari angin, gelombang, pasang-surut dan arus. Sebagai bencana geologi, proses-proses geologi itu dapat terekspresikan sebagai tsunami, gelombang karena badai, banjir, erosi pantai dan sedimentasi. Selain itu, ada satu proses geologi yang umum terjadi di daerah pesisir yang tidak ada kaitannya dengan berbagai fenomena yang telah disebutkan di atas, yaitu subsiden. Macam bencana yang terakhir ini berkaitan dengan kondisi geologi daerah pesisir dan aktifitas manusia.

3. METODOLOGI

Makalah ini ditulis berdasarkan pada hasil analisis yang dilakukan terhadap kondisi fisik yang dominan dari pulau-pulau di Kepulauan Indonesia, serta analisis konsekuensi yang berkaitan dengan masalah lingkungan dari posisi Kepulauan Indonesia yang terletak di antara dua benua – Benua Australia dan Asia, dan di antara dua samudera – Samudera Hindia dan Pasifik.

Data dan informasi yang dipergunakan sebagai contoh kasus di dalam makalah ini diutamakan berasal dari hasil penelitian (Tabel 1) dan pengamatan lapangan informal di berbagai lokasi – di Jakarta, Semarang, dan Banda Aceh serta berbagai lokasi lainnya di sepanjang pesisir utara Pulau Jawa, dan kesempatan yang penulis dapatkan. Selain itu juga dipergunakan contoh-contoh kasus dari berbagai referensi sebagai pelengkap.

4. MACAM-MACAM BENCANA GEOLOGI

Berbagai macam bencana geologi dapat terjadi di daerah pesisir, mulai dari yang sangat spektakuler seperti tsunami sampai yang sangat tenang dan berlangsung sangat pelan seperti subsiden. Dari sudut pandang pencetusnya, bencana geologi di daerah pesisir dapat terjadi secara alamiah murni, maupun terjadi dengan campur tangan manusia. Tabel 2 merangkum berbagai karakteristik dari berbagai bencana geologi yang dapat terjadi di daerah pesisir dengan penekanan di Indonesia.

Mohon maaf. Link ke macam-macam bencana sedang dikerjakan. Trims.

4.1. Tsunami

4.2. Gelombang Badai / Gelombang Tinggi

4.3. Banjir

4.3.1. Banjir Luapan Sungai

4.3.2. Banjir Pasang-surut

4.4. Erosi Pantai

4.5. Sedimentasi

4.6. Subsiden

5. KESIMPULAN

Dari makalah ini terlihat bahwa:

1) Wilayah pesisir di Kepulauan Indonesia berpotensi untuk mengalami bencana geologi berupa tsunami, gelombang badai, banjir luapan sungai, banjir pasang surut, erosi pantai, sedimentasi, dan subsiden. Semua macam bencana itu pernah terjadi di dan sekarang ini beberapa di antaranya sedang berlangsung di Kepulauan Indonesia.

2) Berbagai macam bencana geologi tersebut kehadirannya berkaitan erat dengan posisi geografis, tektonik dan kondisi geologi serta geomorfologi Kepulauan Indonesia.

3) Tiap-tiap macam bencana tersebut adalah spesifik dalam hal pencetusnya. Kondisi itu menyebabkan setiap macam bencana bersifat “site specific” dan “time specific”. Artinya, setiap bencana tertentu hanya terjadi di suatu kawasan tertentu dan pada waktu tertentu sesuai dengan pencetusnya. Namun demikian, ada kawasan-kawasan yang berpotensi untuk terkena lebih dari satu macam bencana.

4) Dari berbagai macam bencana tersebut di atas, semuanya dapat diperkirakan lokasi yang berpotensi untuk terkena; dan hampir semuanya dapat diprediksi kemungkinan waktu kejadiannya, kecuali tsunami. Walaupun demikian, semua macam bencana tersebut memberikan indikasi awal kedatangannya.

Ucapan Terima Kasih

Penulis mengucapkan terima kasih kepada Ir. Wisyanto, MT yang telah memberikan informasi dan peluang untuk penulisan makalah ini. Survei lapangan di wilayah pesisir Serang, Binuangeun dan Pasauran di Propinsi Banten di lakukan dengan biaya DIPA Pusat Penelitian Oseanografi LIPI tahun 2003 dan 2004, perjalanan ke Cirebon dengan DIPA tahun 2006, dan Eretan, Jawa Barat dengan DIPA tahun 2007.

DAFTAR PUSTAKA

Antara News, 2007. Gelombang Pasang Landa Pantai Aceh hingga Bali. [http://www.antara.co.id/arc/2007/5/18/gelombang-pasang-landa-pantai-aceh-hingga-bali/]. Akses 18 Juni 2007.

Arbriyakto, D. dan Kardyanto, D., 2002. Identifikasi pengukuran kerugian fisik bangunan rumah dan kerugian sosial penduduk kawasan pantai Kota Semarang. [http://sim.nilim.go.jp/GE/SEMI3/PROSIDING/1-Semarang.doc]. Akses: 18 Juni 2007.

AVISO, 2007. Southern Swell in the Indian Ocean. [http://www.aviso.oceanobs.com/html/applications/meteo/houle_australe_uk.html]. Akses: 1 Juni 2007.

BBC Indonesia, 2007. Gelombang pasang landa pesisir. [http://www.bbc.co.uk/Indonesian/news/story/2007/070520_tidalwave.shtml]. Akses: 1 Juni 2007.

Cooke, R.U. and Doornkamp, J.C., 1977. Geomorphology in Environmental Management: an introduction (reprint edition). Clarendon Press, Oxford, 413 p.

Diposaptono, S., Nizam dan Asvaliantina, V., 2001. Erosi pantai dan klasifikasinya, kasus di Indonesia. Prosiding Konferensi Energi, Sumberdaya Alam dan Lingkungan 2001, L-11-21.

Environmental Literacy Council, 2006. Coastal Land Loss in Louisiana. [http://www.enviroliteracy.org/article.php/1129.html]. Akses: 16 Juni 2007.

ESA, 2007. Huge waves from one strom slam coast some 6000 km apart. [http://www.esa.int/esaEO/SEMMJJ9RR1F_economy_o.html] Akses: 1 Juni 2007.

Fauzi dan Ibrahim, G., 2002. Lessons learned from large tsunami that occurred in Indonesia. Paper presented in International Workshop on Tsunami Risk and Its Reduction in the Asia-Pacific Region, Bandung, March 18-19, 2002.

King, C.A.M, 1953. The Relationship betweem wave incidence, wind direction, and beach change at Marsden Bay, County Durham. In: J.A. Steers (editor), 1971, Introduction to Coastline Development, Macmillan and Co Ltd., London, 117-132.

Kompas, 2007. Warga harus meningkatkan kewaspadaan. [http://www.kompas.com/kompas-cetak/0705/Jabar/21907.htm]. Akses: 1 Juni 2007.

Kompas, 2007b. Ratusan Rumah di Muara Karang Terendam. Kompas edisi cetak Sabtu 16 Juni 2007, Rubrik Metropolitan. [http://www.kompas.com/]. Akses: 16 Juni 2007.

Media Indonesia Online, 2007. Banjir air laut pasang kembali merendam Pantura. [http://www.media-indonesia.com/]. Rubrik Nusantara, Jum’at 15 Juni 2007.

Media Indonesia, 2007. Kandas dihantam badai. Berita foto, selasa 12 Juni 2007, h. 12.

Monastersky, R., 1999. Seabed slide blamed for deadly tsunami. Sciences News, v. 156, n. 7, p. 100. [http://www.sciencenews.org/pages/sn_arc99/8_14_99/fob2.htm]. Akses: 30 Mei 2007.

Setyawan, W.B., 2002. Bahaya Tsunami dan Upaya Mitigasinya di Indonesia. Year Book Mitigasi Bencana 2002. Pusat Pengkajian dan Penerapan Teknologi Pengelolaan Sumberdaya Lahan dan Kawasan, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, 16-22.

Setyawan, W.B., 2003. Karakteristik garis pantai Propinsi banten 1: Pertumbuhan Delta Ciujung-Cidurian Baru. Makalah dipresentasikan dalam Temu Ilmiah ISOI-Bidang Geologi Kelautan, Bandung 25 Agustus 2003.

Skinner, B.J. and Porter, S.C., 2000. The Dynamic Earth: an introduction to physical geology, 4th edition, John Willey & Sons, Inc., New York, 112 p.

Suara Merdeka, 2007. Tergenang Rob. Suara Merdeka, Jum’at 8 Juni 2007, Berita Foto, Rubrik Lintas Semarang, h. H.

Synolakis, C.E. and Okal, E.A., 2002. The 1998 Papua New Guinea Tsunami: evidence for an underwater slump. Abstract presented in International Workshop on Tsunami Risk and Its Reduction in the Asia-Pacific Region, Bandung, March 18-19, 2002.

Tapper, N., 2002. Climate, climatic variability and atmospheric circulation patterns in the Maritime Continent Region. In: P. Kershaw, B. David, N. Tapper, D. Penny and J. Brown (editors), Bridging Wallace’s Line: the environmental and cultural history and dynamic of the SE-Asian-Australian Region, Advance in Geoecology 34, Catena Verlag GMBH, Reiskirchen, 5-28.

Posted in PROSES (BENCANA) ALAM, Wilayah Pesisir | Dengan kaitkata: , , , , , , , , , | 4 Comments »

SB: Siklus Hidrologi, Batuan dan Tektonik

Posted by wahyuancol pada Juni21, 2008

Keterkaitan antar Siklus

Gambaran hubungan antara siklus hidrologi, siklus batuan dan siklus tektonik dapat dilihat pada Gambar 7. Interaksi semacam itu telah berlangsung secara terus menerus sejak di Bumi terdapat air laut sekitar 4 milyar tahun yang lalu.

Gambar 7. Keterkaitan antara siklus hidrologi, siklus batuan dan siklus tektonik. Sumber: Skinner dan Porter (2000).

Hal yang penting dari interaksi ketiga siklus tersebut adalah gambaran tentang bagaimana material bergerak dari satu reservoir ke reservoir yang lain dan proses-proses yang menggerakkannya. Selain itu, ketiga siklus tersebut juga memperlihatkan bagaimana peranan energi panas yang berasal dari bagian dalam Bumi dan dari Matahari berperanan dalam menggerakkan suatu proses dan memindahkan material dari satu reservoir ke reservoir yang lain.

Kembali Terus

Posted in Cara Bumi di Hidupkan | Dengan kaitkata: , , , , , , | Leave a Comment »

SB: Siklus Tektonik

Posted by wahyuancol pada Juni21, 2008

Berbeda dari sikus batuan yang terutama merupakan fenomena yang terjadi di kerak benua, maka siklus tektonik terutama melibatkan kerak samudera, dan prosesnya didominasi oleh proses-proses di bagian dalam Bumi yang digerakkan oleh energi geotermal Bumi.

Gambaran siklus tektonik dapat dilihat pada Gambar 6A dan B. Ketika magma yang datang dari mantle muncul di tempat pemekaran lantai samudera, maka ditempat itu akan terbentuk kerak samudera baru. Kerak samudera yang tua akan kembali ke dalam mantle di zona penunjaman. Dengan demikian, masa hidup kerak samudera lebih pendek daripada masa hidup kerak benua.

Gambar 6A. Siklus tektonik. Kontak antara magma dengan air laut di zona pemekaran samudera menunjukkan interaksi antara geosfer dan hidrosfer yang mempengaruhi komposisi air laut, sementara itu volkanisme menunjukkan kontak antara geosfer dan atmosfer yang mempengaruhi komposisi udara. Sumber: Skinner dan Porter (2000).

Gambar 6B. Siklus tektonik. Menggambarkan aliran proses dan pergerakan material. Sumber: Skinner dan Porter (2000).

Fenomena volkanisme dapat terjadi berkaitan dengan mekanisme penunjaman. Ketika kerak samudera masuk kembali ke dalam mantel dan meleleh kembali, unsur-unsur volatil dari kerak samudera itu menyebabkan kerak benua di atasnya meleleh. Magma yang terbentuk muncul ke permukaan sebagai gunungapi. Dengan demikian terjadi penambahan material baru ke kerak benua. Di pihak lain, aktifitas gunungapi yang mengeluarkan debu dan gas dari dalam Bumi mempengaruhi komposisi udara. Kondisi ini menunjukkan interaksi antara geosfer dan atmosfer.

Selain di zona penunjaman, magma dapat muncul di daerah pemekar lantai samudera. Di daerah pemekaran lantai samudera, interaksi antara kerak samudera dengan samudera di atasnya mempengaruhi komposisi air laut disekitarnya. Magma yang muncul di zona pemekaran dan membentuk kerak samudera baru membentuk batuan beku yang panas dan bereaksi dengan air laut. Unsur-unsur dari dalam batuan yang panas bereaksi dengan unsur-unsur yang ada di dalam air laut. Ini adalah salah satu cara mantle mempengaruhi komposisi air laut, dan juga cara yang penting bagaimana material dan proses dari siklus tektonik berinteraksi dengan siklus hidrologi.

Kembali Terus

Posted in Batuan, Cara Bumi di Hidupkan, Volkanisme | Dengan kaitkata: , , , , , , , , , , , , , | 2 Comments »

SB: Siklus Batuan

Posted by wahyuancol pada Juni21, 2008

Siklus batuan menggambarkan seluruh proses yang dengannya batuan dibentuk, dimodifikasi, ditransportasikan, mengalami dekomposisi, dan dibentuk kembali sebagai hasil dari proses internal dan eksternal Bumi. Siklus batuan ini berjalan secara kontinyu dan tidak pernah berakhir. Siklus ini adalah fenomena yang terjadi di kerak benua (geosfer) yang berinteraksi dengan atmosfer, hidrosfer, dan biosfer dan digerakkan oleh energi panas internal Bumi dan energi panas yang datang dari Matahari.

Kerak bumi yang tersingkap ke udara akan mengalami pelapukan dan mengalami transformasi menjadi regolit melalui proses yang melibatkan atmosfer, hidrosfer dan biosfer. Selanjutnya, proses erosi mentansportasikan regolit dan kemudian mengendapkannya sebagai sedimen. Setelah mengalami deposisi, sedimen tertimbun dan mengalami kompaksi dan kemudian menjadi batuan sedimen. Kemudian, proses-proses tektonik yang menggerakkan lempeng dan pengangkatan kerak Bumi menyebabkan batuan sedimen mengalami deformasi. Penimbunan yang lebih dalam membuat batuan sedimen menjadi batuan metamorik, dan penimbunan yang lebih dalam lagi membuat batuan metamorfik meleleh membentuk magma yang dari magma ini kemudian terbentuk batuan beku yang baru. Pada berbagai tahap siklus batuan ini, tektonik dapat mengangkat kerak bumi dan menyingkapkan batuan sehingga batuan tersebut mengalami pelapukan dan erosi. Dengan demikian, siklus batuan ini akan terus berlanjut tanpa henti (Gambar 5).

Gambar 5. Siklus batuan. Menggambarkan proses yang menyebabkan batuan berubah dari satu bentuk ke bentuk yang lain dan ditransportasikan. Sumber: Skinner dan Porter (2000)

Kembali Terus

Posted in Batuan, Cara Bumi di Hidupkan | Dengan kaitkata: , , , , , , , , , , , , , , , , | 8 Comments »