Kepulauan Indonesia

Cerita dari, untuk dan tentang Kepulauan Indonesia beserta Penghuni dan Penduduknya

Archive for Mei 30th, 2008

Problem Ujung Dunia (Tepi Alam Semesta dan Tepi Waktu)

Posted by wahyuancol pada Mei30, 2008

Di dalam ceramah Stephen Hawking tentang asal usul alam semesta disinggung sedikit persoalan Ujung Dunia (Baca: Ujung Bumi) ketika membicarakan tentang permulaan waktu. Secara singkat dijelaskan bahwa problem ujung dunia terjadi ketika orang mengira bahwa dunia (baca: Bumi) itu datar. Pertanyaannyadalah apakah dunia itu seperti sebuah piring datar, dengan laut tumpah di ujung-ujungnya? Dijelaskan bahwa persoalan ujung dunia itu terpecahkan ketika orang menyadari bahwa dunia itu bulat.

Di sini kita coba melihat bagaimana problem ujung dunia itu terselesaikan.

Bumi Datar

Mari kita berpikir bahwa Bumi itu datar seperti sepotong papan. Pada model Bumi Datar itu kita bisa menunjukkan adanya atas – bawah, dan arah mendatar. Pada arah mendatar ini, dengan mempergunakan refeensi tertentu kita dapat mengatakan adanya arah depan – belakang, dan kiri – kanan. Selanjutnya, bila jarak pada arah-arah bidang datar itu sama semuanya maka kita mendapatkan model Bumi yang datar yang pada bidang mendatarnya berbentuk lingkaran, seperti sebuah cakram.

Pada model Bumi berbentuk cakram, pertnyaan yng dapat muncul adalah dimana batas bawah Bumi?, dan dimana tepi Bumi pada arah mendatar? Terkait dengan pertanyaan-pertanyaan tersebut adalah Bagaimana kondisi tepi Bumi?

Dari pengalaman empiris, batas atas dari laut atau datar adalah kontak antara laut atau darat dengan udara.

Ketika orang-orang mengira bahwa Bumi itu datar dan kemampuan menjelajah manusia masih sangat terbatas baik di darat dan di laut, pertanyaan-pertanyaan tersebut dalah pertanyaan-pertanyaan yang sangat sulit diperoleh jawabannya. Baik ketika di darat maupun di laut, orang hanya mampu melihat Bumi sebatas cakrawala. Dalam kondisi yang demikian itu, orang yang berjalan terus ke suatu arah tertentu di permukaan Bumi akan menemukan bahwa “Bumi tanpa batas” atau “Bumi tak bertepi”. Hal itu karena orang berjalan di permukaan Bumi yang bulat dengan pikiran bahwa Bumi adalah datar.

Bumi Bulat

Pada model Bumi yang berbentuk bulat seperti bola maka, arah-arah yang ada pada model Bumi datar menjadi relatif. Pada model ini, bila kita mengelilingi Bumi pad arah tertentu maka, arah depan bertemu dengan arah belakang, dan arah kiri bertemu dengan arah kanan. Untuk kondisi yang demikian itu, penyebatan suatu arah membutuhkan suatu titik atau bidang referensi buatan. Jadi, pada model Bumi Bulat tidak ada lagi arah mendatar. Konsekuensinya adalah, pada model Bumi Bulat tidak ada tepi atau ujung Bumi pada arah mendatar, karena tidak ada bidang datar. Yang ada adalah bidang melengkung yang membentuk bola.

Bagaimana dengan arah “atas” dan “bawah”? Pada model Bumi Bulat seperti bola, arah “atas” menjadi “arah yang mennjuk ke arah menjauh dari pusat Bumi”, sedang arah “bawah” menjadi “arah yang menunjuk ke arah pusat Bumi”. Dengan demikian, pertanyaannya menjadi: “Bagaimana atau apa yang ada di Pusat Bumi?, dan “Bagaimana atau apa yang da di sisi terluar atau tepi Bumi?”.

Sistem Bumi

Konsep Sistem Bumi memandang Bumi sebagai suatu sistem yang terdiri dari Litosfer, Hidrosfer, Atmosfer, dan Biosfer. Litosfer adalah bagian Bumi yang berupa daratan atau batuan. Hidrosfer adalah bagian Bumi yang merupakan tubuh air, terutama laut. Atmosfer adalah bagian Bumi yang merupakan udara yang menyelubungi litosfer dan hidrosfer. Biosfer adalah makhluk hidup yang ada di Bumi, termasuk manusia.

Sampai sekarang manusia belum dapat mengetahui secara langsung dan pasti apa yang terdapat di pusat Bumi. Pengetahuan manusia tentang pusat Bumi hanyalah hasil interpretasi dari rekaman gelombang seismik. Sementara itu, di sisi lain, batas terluar dari Sistem Bumi dapat diketahui melalui pengamatan terhadap Bumi dari ruang angkasa mealui satelit. Hasil analisis terhadap kondisi atmosfer Bumi menunjukkan bahwa peralihan dari atmosfer ke ruang angkasa terjadi secara bergradasi.

Penggunaan teknologi satelit atau pesawat ruang angkasa untuk dapa melihat Bumi secara menyeluruh, atau untuk dapat melihat bahwa Bumi berbentuk bulat memberikan isyarat bahwa, untuk dapat mengetahui bentuk Bumi kita harus melihat Bumi dari luar Sistem Bumi (dari ruang angkasa). Bila kita tidak keluar dri Sistem Bumi maka pengetahuan kita tentang bentuk Bumi yang bulat adalah hasil dari analisis berbagai data dan fakta tentang Bumi.

Penutup

Uraian d atas memberikan gambaran bahwa pemahaman atas Sistem Bumi dapat diperoleh melalui pemahaman hukum-hukum alam dari dalam Sistem Bumi, atau diperoleh melalui pengamatan visual dari luar Sistem Bumi atau dari ruang angkasa.

Melalui pengamatan dari luar Sistem Bumi (dari satelit atau pesawat ruang angkasa) kita benar-benar melihat langsung secara visual bentuk Bumi yang bulat dan dapat pula mengetahui batas terluar yang membatasinya dengan ruang angkasa.

Selanjutnya, kembali pada pembicaraan tentang alam semesta dan waktu yang dibicarakan di dalam ceramah dari Stephen Hawking; Bagaimana bila pemikiran di atas kita terapkan pada alam semesta? Untuk mengatahui batas alam semesta dan waktu, dapatkan kita mengetahui alam semesta dari dalam dan dari luar sistem alam semesta itu? Demikian pula dengan waktu, dapatkan kita meninggalkan sistem waktu untuk dapat melihat batsa waktu? Atau, dapatkan batas waktu dianalisis dari dalam sistem waktu?

Posted in Alam Semesta | Dengan kaitkata: , , , , , , , , | 13 Comments »