Kepulauan Indonesia

Cerita dari, untuk dan tentang Kepulauan Indonesia beserta Penghuni dan Penduduknya

Tulisan terkirim dikaitan (tagged) ‘Subsiden’

Rumitnya Masalah Banjir di Jakarta 2: perlukah seorang diktator?

Ditulis oleh wahyuancol di/pada November14, 2009

Sekarang Jakarta mulai memasuki musim hujan. Persoalan rutin yang seakan tanpa ujung penyelesaian kembali muncul, yaitu banjir. Musim hujan ini dan banjir yang berasosiasi dengannya di Jakarta ini sesungguhnya menjadi bukti kita warga Jakarta belum tahu bagaimana bersyukur terhadap nikmat yang diberikan Tuhan sehingga nikmat itu berubah menjadi bencana.

Kemarin sore, Jum’at 13 Nopember 2009, saya sempat mengamati salah satu lokasi banjir di Matraman. Banjir di kawasan itu menjadi bukti bahwa mengelola drainase mikro adalah hal yang sangat penting bagi kawasan perkotaan.

Berikut tanggapan Pak Gubernur tentang banjir DKI:

Menurut Foke, penanganan banjir yang dilakukan Pemda DKI selama ini selalu terkendala oleh perilaku masyarakat sendiri yang tidak tertib. Tidak ada antisipasi masyarakat, terutama yang tinggal di bantaran sungai. Padahal warga tahu banjir selalu mengancam setiap musim penghujan.

Foke mencontohkan relokasi warga di bantaran sungai yang dipindahkan ke Rumah Susun (Rusun). Walaupun sudah dipindahkan ke rumah susun yang aman dari banjir, tetap saja mereka keukeuh tinggal di bantaran kali.

“Coba itu dicek di rusun Bidaracina. Mereka sudah pasti balik lagi ke bantaran kali di dekat Kampung Melayu,” ujarnya memberi contoh.

Kemudian, ini tanggapan dari Ketua Forum Warga Jakarta:

“Kenapa Jakarta bisa tergenang, ini menunjukan saluran mikro drainase tidak beres. Ini kan aneh, anggaran PU tiap tahun mengalami kenaikan, tapi tidak ada hasilnya. Kepala Dinas PU harus dipecat,” ujar Ketua Forum Warga Kota Jakarta (Fakta) Azaz Tigor Nainggolan.

Hal itu dikatakan Tigor saat dihubungi detikcom, Sabtu (14/11/2009).

Tigor menjelaskan pemerintah memang telah berusaha membangun jaringan drainase besar seperti banjir kanal timur, tetapi jika drainase mikro di seluruh Jakarta tidak dibenahi, maka dipastikan setiap hujan turun, Jakarta akan tergenang dan kemacetan akan terjadi di mana-mana.

Advokat publik ini menambahkan masih banyak kekurangan penataan Kota Jakarta. Banyak bantaran kali yang belum diberi pembatas, sehingga air langsung melupa begitu hujan turun.

“Seperti di dekat Matraman itu, di Jl Pramuka ada kali kecil, tidak ada pembatasnya. Ditambah lagi penerangan sangat kurang,” jelasnya.

Tigor pun meminta agar masyarakat Jakarta berhenti membuang sampah di kali-kali. Namun Dinas Kebersihan juga dituntut bekerja untuk mengelola sampah dengan baik.

————————-

Dari dua kutipan berita diatas kita bisa melihat persoalan banjir di Jakarta ternyata bukan semata masalah genangan air belaka, tetapi masalah manajemen kota dan mental warganya.

Berikut ini beberapa hal yang patut dicatat:

  1. Banjir di Jakarta dapat dibedakan menjadi 3 macam banjir:
    1. Banjir yang berkaitan dengan aliran sungai. Banjir ini melanda daerah yang sering kita sebut sebagai daerah bantaran sungai. Banjir tipe inilah yang dibicarakan oleh Bapak Gubernur yang beritanya kita kutip di atas. Banjir ini berkaitan dengan kondisi cutah hujan di daerah Bogor. Sering terjadi di Jakarta tidak hujan dan banjir tipe ini terjadi karena di Bogor hujan lebat. Banjir tipe ini diperburuk dengan buruknya kondisi alur sungai-sungai yang ada di Jakarta, dan warga yang berkeras tinggal atau membangun di bantaran sungai.
    2. Banjir yang berkaitan dengan buruknya kondisi drainase kota. Banjir inilah yang saya saksikan kemaren sore dan malam, dan seperti yang dibicarakan oleh Ketua Forum Warga Jakarta yang beritanya juga kita kutip di atas. Banjir ini tidak berkaitan dengan aliran sungai utama, apalagi dengan hujan di Bogor. Banjir ini terjadi bila di Jakarta terjadi curah hujan tinggi. Drainase kota yang buruk menyebabkan air permukaan tidak dapat segera masuk ke aliran sungai tetapi mengaliur ke pemukiman warga dan menggenangi jalan-jalan. Buruknya kondisi drainase kota bisa karena drainase tidak memadai (sehingga perlu ditambah atau diperbesar), drainase rusak (perlu diperbaiki), drainase tersumbat sampah atau endapan pasir (perlu dibersihkan). Banyak kita lihat drainase tertutup sehingga kita tidak tahu bagaimana kondisinya, apakah berfungsi atau tersumbat (jawaban baru kita ketahui ketika hujan turun).
    3. Banjir yang terjadi karena pasang surut air laut. Banjir ini terjadi di pesisir utara Jakarta dan terutama terjadi pada saat bulan mati atau bulan purnama.
  2. Ketiga tipe banjir itu dapat terjadi secara terpisah di waktu yang berbeda,  maupun bersama-sama di waktu yang sama. Ketiga tipe banjir ini terjadi bersama ketika musim hujan telah terjadi merata di kawasan Jakarta dan Bogor dan pada saat bulan mati atau purnama. Hal itu biasanya terjadi di bulan Januari dan Februari setiap tahun.
  3. Karena ketiga tipe banjir itu memiliki karakter yang berbeda, maka penanganannya pun tentu harus berbeda pula.
  4. Berkaitan dengan masalah sampah, persoalan ini mengarah kepada dua pihak, pertama, masyarakat atau penduduk yang membuang sampah; dan ke-dua, pemerintah yang bertanggungjawab menangangi sampah.
    1. Persoalan yang ada pada penduduk atau masyarakat yang sering didengungkan adalah mereka membuang sampah sembarangan sehingga sampah masuk ke saluran drainase dan aliran sungai. Penduduk atau masyarakat tentu tidak sepenuhnya salah juga, karena pihak pemerintah sendiri belum mampu menangani seluruh sampai dari penduduk
    2. Persoalan yang ada pada pemerintah daerah adalah bahwa pemerintah tidak dapat melayani masyarakat membuang seluruh sampah yang dihasilkan masyarakjat setiap hari. Tidak seluruh sampah dari masyarakat dapat dilayani oleh pemerintah daerah untuk dibuang. Alasan yang sering dinyatakan dalam masalah ini adalah armada pengangkut sampah kurang, dan problem berkaitan dengan tempat pembuangan sampah. Persoalan tempat pembuangan sampah di Bantargebang antara Pemda DKI dan Pemda Bekasi menunjukkan masalah sampah belun serius ditangani.
  5. Tentang masalah saluran drainase yang penuh dengan endapan pasir, sulit menyelesaikan masalah ini selama kita masih melihat banyak tanah atau pasir yang berserakan di jalanan Jakarta.
  6. Tentang banjir pasang surut, banjir ini berasosiasi dengan fenomena subsiden atau turunnya permukaan tanah. Pesatnya pembangunan fisik di Jakarta bagian utara yang tercermin dari banyaknya gedung, rumah dan jalan-jalan semakin membuat banjir pasang surut semakin parah karena semua pembangunan fisik di kawasan tepi pantai hakekaknya menambah beban fisik terhadap lahan yang beluk cukup mengalami kompaksi.

Ditulis dalam Banjir, PROSES (BENCANA) ALAM | Bertanda: , , , , , , , | Leave a Comment »

Banjir Air Pasang (Rob) dan Subsiden: Jawaban untuk Nisa

Ditulis oleh wahyuancol di/pada November19, 2008

Nisa, salah seorang pengunjung blog ini, pada tanggal 11 Nopember 2008 melalui komentar, mengajukan beberapa pertanyaan tentang banjir air pasang (Rob), terutama tentang hubungan antara perluasan genangannya dan subsiden. Karena jawabannya cukup panjang, maka jawaban itu saya posting sebagai judul tersendiri.

Semoga bermanfaat.

Salam,

Wahyu

————–

Tanya – 1:

Apakah perluasan banjir air pasang hanya disebabkan oleh faktor subsiden dan faktor bangunan fisik? Bisakah kita melihatnya dalam bentuk spasial?

Jawab:

Ya, perluasan kawasan banjir karena air pasang disebabkan oleh subsiden. Bila tidak ada subsiden, maka luas kawasan genangan banjir air pasang ditentukan oleh ketinggian air laut pada saat pasang dan ini ditentukan oleh posisi bulan dan matahari. Dan, ketinggian air yang terjadi tidak mungkin melebihi ketinggian air pasang maksimum yang mungkin terjadi di kawasan itu.

Subsiden menyebabkan kawasan genangan banjir air pasang bertambah luas. Subsiden itu sendiri dapat terjadi karena sebab-sebab alamiah maupun karena aktifitas manusia. Penyebab alamiah dari subsiden antara lain adalah pemadatan endapan sedimen secara alamiah, dan gerak tektonik. Sedang aktifitas manusia yang dapat menyebabkan subsiden antara lain kegiatan pengambilan air tanah yang berlebihan, dan mendirikan bangunan fisik yang menjadi beban bagi tanah atau lahan sehingga mempercepat laju pemadatan endapan sedimen.

Perluasan kawasan genangan banjir air pasang dapat dilihat secara spasial. Kondisi makin meluasnya daerah genangan banjir mencerminkan makin meluasnya daerah yang mengalami subsiden. Apabila kita dapat memetakan batas-batasnya secara periodik, maka kita dapat melihat perkembangannya.

Tanya – 2:

Mungkinkah saya bisa menspasialkan banjir pasang (rob)? Maksudnya, apakah datanya menungkinkan?

Jawab:

Mungkin. Kawasan banjir pasang atau rob dapat kita spasialkan atau kita petakan. Untuk memetakannya, seperti telah disebutkan dalam jawaban pertanyaan pertama, kita hanya perlu memetakan batas-batas daerah genangan banjir. Untuk mengetahui apakah kondisi banjir yang kita petakan itu adalah banjir karena genangan air laut pasang yang sama ketinggiannya dengan yang kita petakan sebelumnya, maka kita perlu memperhatikan prediksi pasang surut.

Sebagai informasi tambahan: Prediksi pasang surut untuk lokasi-lokasi tertentu, khususnya pelabuhan, dipublikasikan oleh Dinas Hidro-Oseanografi TNI-AL. Buku prediksi itu dijual untuk umum.

Tanya – 3:

Sebenarnya, banjir pasang (rob) itu secara alamiah memang selalu mengalami perluasan? Atau ada faktor yang telah mempercepat laju pertumbuhan luas genangan?

Jawab:

Perlu dipahami bahwa fenomena banjir air pasang itu adalah fenomena yang hanya terjadi di bagian daerah pesisir yang berbatasan langsung dengan laut. Secara sederhana, daerah tersebut dapat kita sebut daerah pantai. Secara alamiah, terjadi atau tidaknya banjir air pasang di daerah pantai sangat ditentukan oleh kondisi geologi dan geomorfologi daerah pantai tersebut. Bila daerah pantai merupakan daerah berbatuan keras dan bermorfologi tinggi – maksudnya lebih tinggi daripada permukaan laut, maka tidak akan terjadi banjir air pasang di daerah tersebut. Sebaliknya, bila daerah pantai merupakan daerah rawa pantai atau daerah rawa di sekitar muara sungai, maka banjir air pasang akan terjadi di daerah tersebut.

Ciri khas daerah rawa pantai yang terjadi karena proses sedimentasi adalah, daerah tersebut tersusun oleh endapan sedimen yang belum mengalami pemadatan. Contohnya adalah daerah pesisir Jakarta dan Semarang. Secara alamiah, beban fisik dari endapan sedimen di bagian atas akan menyebabkan pemadatan dari endapan sedimen di bagian bawah. Proses ini pasti terjadi. Apabila manusia mendirikan bangunan fisik di atas rawa, maka berarti menambah beban fisik yang mempercepat proses pemadatan endapan sedimen.

Selanjutnya, untuk dapat mengatakan apakah di suatu kawasan, secara alamiah kawasan banjir air pasang mengalami perluasan atau tidak, kita perlu juga mengetahui kondisi tektonik di daerah tersebut dan proses sedimentasi yang terjadi. Kombinasi kedua hal itu akan menentukan ada atau tidaknya perluasan daerah genangan banjir pasang yang terjadi secara alamiah. Untuk daerah yang secara tektonik mengalami penurunan, maka daerah genangan banjir akan meluas. Untuk daerah pantai yang mengalami sedimentasi tinggi sehingga garis pantai bergeser ke arah laut, maka daerah genangan banjir air pasang akan bergeser ke arah laut mengikuti pergeseran garis pantai.

Tanya – 4:

Di jurnal yang lain (situs dalam negri) selalu dikemukakan kalau banjir pasang lebih disebabkan oleh faktor global, sementara saya baca di laporan Sea Level Rise in the Coastal Waters of Washington State rata-rata faktor lokal justru berpengaruh meski tidak signifikan. Mohon penjelasan.

Jawab:

Dari struktur kalimatnya, saya melihat tidak ada pertentangan dari kedua penyataan tersebut di atas. Pada pernyataan pertama disebutkan “banjir pasang lebih disebabkan oleh faktor global”. Pernyataan ini menunjuk pada faktor dominan, dan tidak meniadakan faktor lokal. Sementara pada pernyataan ke-dua disebutkan “rata-rata faktor lokal justru berpengaruh meski tidak signifikan”. Pernyataan yang ke-dua ini menyebutkan adanya faktor lokal yang tidak signifikan. Artinya, pengaruh faktor lokal tidak berarti dan dapat diabaikan. Secara tersirat pernyataan ke-dua menyebutkan ada faktor non-lokal yang dominan.

Selanjutnya apabila kita coba tinjau substansi dari pernyataan itu, pada pernyataan pertama perlu penjelasan lebih lanjut apa yang dimaksud dengan “faktor global” dalam pernyataan itu, dan faktor-faktor apa saja (global maupun lokal) yang dipergukanan dalam analisis. Kemudian, untuk pernyataan ke-dua, perlu penjelasan tentang faktor-faktor lokal dan non-lokal yang diperhitungkan dalam analisis yang dilakukan itu.

Ditulis dalam Banjir, PROSES (BENCANA) ALAM, Pasang surut, Rob, Subsiden, Wilayah Pesisir | Bertanda: , , , , , , , | Leave a Comment »

BENCANA GEOLOGI DI DAERAH PESISIR INDONESIA (BG)

Ditulis oleh wahyuancol di/pada Juni21, 2008

Tulisan ini telah dipubliksikan di Jurnal Alami, BPPT. Bila ingin mengutip sebagai referensi, bisa disitasi sebagai berikut:

Setyawan, W.B., 2007, Bencana geologi di daerah pesisir Indonesia. Alami v. 12, n. 2, 1-11.

Abstrak

Kepulauan Indonesia terletak diantara dua benua dan dua samudera, dan terbentuk sebagai hasil interaksi tiga lempeng kerak bumi utama. Konsekuensi dari setting lingkungan yang demikian adalah bahwa kondisi meteorologi dan oseanografi di Kepulauan Indonesia sangat dipengaruhi kedua benua, kedua samudera maupun konfigurasi lempeng kerak bumi di kawasan itu. Proses-proses geologi atau bencana geologi yang berlangsung di kawasan tersebut sangat ditentukan oleh kondisi meteorologi, oseanografi dan pola interaksi lempeng kerak bumi di sekitarnya. Hasil analisis terhadap setting lingkungan di kawasan Kepulauan Indonesia dan sekitarnya menunjukkan bahwa bencana geologi yang dapat terjadi di daerah pesisir dari pulau-pulau yang ada di Kepulauan Indonesia adalah tsunami, gelombang badai, banjir luapan sungai, banjir pasang surut, erosi pantai, sedimentasi dan subsiden. Karakter dari setiap bencana tersebut sangat ditentukan oleh karakter dari pemicunya, yaitu memiliki tempat kejadian yang tertentu, waktu kejadian yang tertentu, maupun muncul dengan gejala awal yang tertentu pula.

Daftar Isi:

1. Pendahuluan

2. Proses Geologi dan Bencana Geologi

3. Metodologi

4. Macam-macam Bencana Geologi

4.1. Tsunami

4.2. Gelombang Badai / Gelombang Tinggi

4.3. Banjir

4.3.1. Banjir Luapan Sungai

4.3.2. Banjir Pasang-surut

4.4. Erosi Pantai

4.5. Sedimentasi

4.6. Subsiden

5. Kesimpulan

Ucapan Terima Kasih

Daftar Pustaka

———————-

1. PENDAHULUAN

Berbagai proses geologi selalau bekerja di sekitar kita. Proses-proses tersebut bekerja membentuk roman muka bumi. Ada kalanya, proses-proses yang bekerja itu bersentuhan dengan manusia dan dapat menyebabkan kerusakan harta benda dan bahkan kematian. Proses-proses geologi yang dapat menimbulkan kerugian pada manusia itu selanjutnya disebut sebagai bencana geologi.

Bila kita memperhatikan lokasi tempat proses-proses geologi berlangsung, maka akan tampak bahwa proses-proses geologi dapat terjadi di semua tempat di permukaan bumi. Oleh karena itu, bencana geologi dapat juga terjadi di berbagai tempat di permukaan bumi. Meskipun demikian, macam-macam proses geologi atau bencana geologi yang terjadi di suatu setting lingkungan sangat ditentukan oleh kondisi geologi dan geomofologi yang ada di lingkungan tersebut. Sebagai contoh, macam-macam bencana geologi yang dapat terjadi di daerah pegunungan tentu akan berbeda dengan macam-macam bencana geologi yang dapat terjadi di daerah pesisir.

Indonesia adalah negara kepulauan. Konsekuensinya adalah bahwa wilayah pesisir merupakan kawasan yang dominan terdapat di Indonesia. Selanjutnya, adalah suatu kenyataan bahwa banyak penduduk Indonesia tinggal di kawasan pesisir dan berhubungan dengan laut. Kondisi tersebut dapat dilihat dari banyaknya kota-kota besar di Indonesia yang terletak di kawasan pesisir. Oleh karena itu, mengetahui macam-macam bencana geologi yang dapat terjadi di kawasan pesisir dan memahami karakteristiknya merupakan hal yang penting dalam rangka upaya mitigasi bencana tersebut.

Tulisan ini memberikan gambaran tentang bencana geologi yang mungkin terjadi di dan mengenai daerah pesisir di Kepulauan Indonesia.

2. PROSES GEOLOGI DAN BENCANA GEOLOGI

Proses geologi adalah semua proses yang berlangsung di permukaan bumi atau di bawah permukaan bumi yang melibatkan semua materialyang ada di bumi. Proses-proses tersebut berlangsung di dalam suatu sistem yang bekerja membangun dan membentuk permukaan bumi, dan memindahkan material dari satu tempat ke tempat lain atau dari satu sistem ke sistem yang lain. Dengan demikian, sesuai dengan perbedaan karakter material yang terlibat dan lokasinya, proses-proses geologi memiliki karakter yang “site specific” (khas menurut lokasinya) meskipun dengan pemisahan yang tidak ketat.

Di daerah pesisir, proses-proses geologi yang khas untuk daerah pesisir umumnya adalah proses-proses geologi hasil interaksi dari angin, gelombang, pasang-surut dan arus. Sebagai bencana geologi, proses-proses geologi itu dapat terekspresikan sebagai tsunami, gelombang karena badai, banjir, erosi pantai dan sedimentasi. Selain itu, ada satu proses geologi yang umum terjadi di daerah pesisir yang tidak ada kaitannya dengan berbagai fenomena yang telah disebutkan di atas, yaitu subsiden. Macam bencana yang terakhir ini berkaitan dengan kondisi geologi daerah pesisir dan aktifitas manusia.

3. METODOLOGI

Makalah ini ditulis berdasarkan pada hasil analisis yang dilakukan terhadap kondisi fisik yang dominan dari pulau-pulau di Kepulauan Indonesia, serta analisis konsekuensi yang berkaitan dengan masalah lingkungan dari posisi Kepulauan Indonesia yang terletak di antara dua benua – Benua Australia dan Asia, dan di antara dua samudera – Samudera Hindia dan Pasifik.

Data dan informasi yang dipergunakan sebagai contoh kasus di dalam makalah ini diutamakan berasal dari hasil penelitian (Tabel 1) dan pengamatan lapangan informal di berbagai lokasi – di Jakarta, Semarang, dan Banda Aceh serta berbagai lokasi lainnya di sepanjang pesisir utara Pulau Jawa, dan kesempatan yang penulis dapatkan. Selain itu juga dipergunakan contoh-contoh kasus dari berbagai referensi sebagai pelengkap.

4. MACAM-MACAM BENCANA GEOLOGI

Berbagai macam bencana geologi dapat terjadi di daerah pesisir, mulai dari yang sangat spektakuler seperti tsunami sampai yang sangat tenang dan berlangsung sangat pelan seperti subsiden. Dari sudut pandang pencetusnya, bencana geologi di daerah pesisir dapat terjadi secara alamiah murni, maupun terjadi dengan campur tangan manusia. Tabel 2 merangkum berbagai karakteristik dari berbagai bencana geologi yang dapat terjadi di daerah pesisir dengan penekanan di Indonesia.

Mohon maaf. Link ke macam-macam bencana sedang dikerjakan. Trims.

4.1. Tsunami

4.2. Gelombang Badai / Gelombang Tinggi

4.3. Banjir

4.3.1. Banjir Luapan Sungai

4.3.2. Banjir Pasang-surut

4.4. Erosi Pantai

4.5. Sedimentasi

4.6. Subsiden

5. KESIMPULAN

Dari makalah ini terlihat bahwa:

1) Wilayah pesisir di Kepulauan Indonesia berpotensi untuk mengalami bencana geologi berupa tsunami, gelombang badai, banjir luapan sungai, banjir pasang surut, erosi pantai, sedimentasi, dan subsiden. Semua macam bencana itu pernah terjadi di dan sekarang ini beberapa di antaranya sedang berlangsung di Kepulauan Indonesia.

2) Berbagai macam bencana geologi tersebut kehadirannya berkaitan erat dengan posisi geografis, tektonik dan kondisi geologi serta geomorfologi Kepulauan Indonesia.

3) Tiap-tiap macam bencana tersebut adalah spesifik dalam hal pencetusnya. Kondisi itu menyebabkan setiap macam bencana bersifat “site specific” dan “time specific”. Artinya, setiap bencana tertentu hanya terjadi di suatu kawasan tertentu dan pada waktu tertentu sesuai dengan pencetusnya. Namun demikian, ada kawasan-kawasan yang berpotensi untuk terkena lebih dari satu macam bencana.

4) Dari berbagai macam bencana tersebut di atas, semuanya dapat diperkirakan lokasi yang berpotensi untuk terkena; dan hampir semuanya dapat diprediksi kemungkinan waktu kejadiannya, kecuali tsunami. Walaupun demikian, semua macam bencana tersebut memberikan indikasi awal kedatangannya.

Ucapan Terima Kasih

Penulis mengucapkan terima kasih kepada Ir. Wisyanto, MT yang telah memberikan informasi dan peluang untuk penulisan makalah ini. Survei lapangan di wilayah pesisir Serang, Binuangeun dan Pasauran di Propinsi Banten di lakukan dengan biaya DIPA Pusat Penelitian Oseanografi LIPI tahun 2003 dan 2004, perjalanan ke Cirebon dengan DIPA tahun 2006, dan Eretan, Jawa Barat dengan DIPA tahun 2007.

DAFTAR PUSTAKA

Antara News, 2007. Gelombang Pasang Landa Pantai Aceh hingga Bali. [http://www.antara.co.id/arc/2007/5/18/gelombang-pasang-landa-pantai-aceh-hingga-bali/]. Akses 18 Juni 2007.

Arbriyakto, D. dan Kardyanto, D., 2002. Identifikasi pengukuran kerugian fisik bangunan rumah dan kerugian sosial penduduk kawasan pantai Kota Semarang. [http://sim.nilim.go.jp/GE/SEMI3/PROSIDING/1-Semarang.doc]. Akses: 18 Juni 2007.

AVISO, 2007. Southern Swell in the Indian Ocean. [http://www.aviso.oceanobs.com/html/applications/meteo/houle_australe_uk.html]. Akses: 1 Juni 2007.

BBC Indonesia, 2007. Gelombang pasang landa pesisir. [http://www.bbc.co.uk/Indonesian/news/story/2007/070520_tidalwave.shtml]. Akses: 1 Juni 2007.

Cooke, R.U. and Doornkamp, J.C., 1977. Geomorphology in Environmental Management: an introduction (reprint edition). Clarendon Press, Oxford, 413 p.

Diposaptono, S., Nizam dan Asvaliantina, V., 2001. Erosi pantai dan klasifikasinya, kasus di Indonesia. Prosiding Konferensi Energi, Sumberdaya Alam dan Lingkungan 2001, L-11-21.

Environmental Literacy Council, 2006. Coastal Land Loss in Louisiana. [http://www.enviroliteracy.org/article.php/1129.html]. Akses: 16 Juni 2007.

ESA, 2007. Huge waves from one strom slam coast some 6000 km apart. [http://www.esa.int/esaEO/SEMMJJ9RR1F_economy_o.html] Akses: 1 Juni 2007.

Fauzi dan Ibrahim, G., 2002. Lessons learned from large tsunami that occurred in Indonesia. Paper presented in International Workshop on Tsunami Risk and Its Reduction in the Asia-Pacific Region, Bandung, March 18-19, 2002.

King, C.A.M, 1953. The Relationship betweem wave incidence, wind direction, and beach change at Marsden Bay, County Durham. In: J.A. Steers (editor), 1971, Introduction to Coastline Development, Macmillan and Co Ltd., London, 117-132.

Kompas, 2007. Warga harus meningkatkan kewaspadaan. [http://www.kompas.com/kompas-cetak/0705/Jabar/21907.htm]. Akses: 1 Juni 2007.

Kompas, 2007b. Ratusan Rumah di Muara Karang Terendam. Kompas edisi cetak Sabtu 16 Juni 2007, Rubrik Metropolitan. [http://www.kompas.com/]. Akses: 16 Juni 2007.

Media Indonesia Online, 2007. Banjir air laut pasang kembali merendam Pantura. [http://www.media-indonesia.com/]. Rubrik Nusantara, Jum’at 15 Juni 2007.

Media Indonesia, 2007. Kandas dihantam badai. Berita foto, selasa 12 Juni 2007, h. 12.

Monastersky, R., 1999. Seabed slide blamed for deadly tsunami. Sciences News, v. 156, n. 7, p. 100. [http://www.sciencenews.org/pages/sn_arc99/8_14_99/fob2.htm]. Akses: 30 Mei 2007.

Setyawan, W.B., 2002. Bahaya Tsunami dan Upaya Mitigasinya di Indonesia. Year Book Mitigasi Bencana 2002. Pusat Pengkajian dan Penerapan Teknologi Pengelolaan Sumberdaya Lahan dan Kawasan, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, 16-22.

Setyawan, W.B., 2003. Karakteristik garis pantai Propinsi banten 1: Pertumbuhan Delta Ciujung-Cidurian Baru. Makalah dipresentasikan dalam Temu Ilmiah ISOI-Bidang Geologi Kelautan, Bandung 25 Agustus 2003.

Skinner, B.J. and Porter, S.C., 2000. The Dynamic Earth: an introduction to physical geology, 4th edition, John Willey & Sons, Inc., New York, 112 p.

Suara Merdeka, 2007. Tergenang Rob. Suara Merdeka, Jum’at 8 Juni 2007, Berita Foto, Rubrik Lintas Semarang, h. H.

Synolakis, C.E. and Okal, E.A., 2002. The 1998 Papua New Guinea Tsunami: evidence for an underwater slump. Abstract presented in International Workshop on Tsunami Risk and Its Reduction in the Asia-Pacific Region, Bandung, March 18-19, 2002.

Tapper, N., 2002. Climate, climatic variability and atmospheric circulation patterns in the Maritime Continent Region. In: P. Kershaw, B. David, N. Tapper, D. Penny and J. Brown (editors), Bridging Wallace’s Line: the environmental and cultural history and dynamic of the SE-Asian-Australian Region, Advance in Geoecology 34, Catena Verlag GMBH, Reiskirchen, 5-28.

Ditulis dalam PROSES (BENCANA) ALAM, Wilayah Pesisir | Bertanda: , , , , , , , , , | 2 Komentar »

MBG: Banjir Pasang-surut dan Subsiden

Ditulis oleh wahyuancol di/pada Juni5, 2008

Banjir pasang-surut adalah banjir yang terjadi karena naiknya air laut dan menggenangi daratan ketika air laut mengalami pasang. Subsiden adalah turunnya muka tanah karena beban fisik di atasnya.

4.4.1. Pencetus

Pasang-surut air laut adalah faktor utama yang mencetuskan banjir ini. Namun demikian, untuk kondisi atau tempat tertentu, yaitu di daerah terbangun, banjir pasang surut ini terjadi menyusul subsiden yang terjadi di tempat tersebut. Hal itu terutama terjadi di kota-kota pesisir seperti Jakarta dan Semarang.

Subsiden dapat terjadi di lahan-lahan pesisir yang terbentuk karena proses fluvial atau proses marin yang mendapat beban fisik yang diatasnya.

4.4.2. Karakter kedatangan atau kejadian

Banjir pasang-surut terjadi karena air laut naik ketika pasang. Kenaikan air laut terjadi perlahan-lahan sesuai dengan gerak pasang air laut. Ketinggian air banjir sesuai dengan ketinggian air laut pasang. Selanjutnya genangan banjir ini bergerak turun ketika air laut bergerak turun. Selain itu, waktu kedatangan dan ketinggian banjir ini berubah-ubah mengikuti irama pasang-surut air laut.

Subsiden terjadi perlahan-lahan dan sering tidak dirasakan secara langsung. Terjadinya subsiden baru disadari setelah terlihat tanda-tanda perubahan fisik pada bangunan yang dibangun di atas lahan yang mengalami subsiden itu.

4.4.3. Prediktabilitas

Waktu kejadian banjir pasang-surut dapat diprediksi sebagaimana prediksi pasang-surut dapat dilakukan. Demikian pula dengan luas daerah genangan atau daerah-daerah yang akan tergenang pada suatu waktu tertentu dapat diprediksi berdasarkan prediksi ketinggian air laut pasang. Terkait dengan prediksi pasang-surut, institusi yang menerbitkan prediksi pasang-surut tahunan di Indonesia adalah Jawatan Hidro-oseanografi TNI-AL (Janhidros).

Terjadinya subsiden dapat diprediksi dengan melakukan analisis kondisi geologi suatu daerah.

4.4.4. Durasi

Lama genangan banjir pasang-surut hanya beberapa jam sesuai dengan waktu gerak pasang-surut air laut. Selanjutnya, karena pola kejadian banjir ini mengikuti pola pasang-surut maka kejadian banjir pasang-surut akan terus berulang sebagaimana berulangnya peristiwa pasang-surut air laut sepanjang waktu.

Subsiden yang terjadi karena beban fisik kan berlangsung terus tanpa batas waktu tertentu selama beban fisik masih berada di atasnya.

4.4.5. Areal terganggu

Areal genangan banjir pasang-surut adalah daerah-daerah rawa pantai atau dataran rendah tepi pantai. Luas daerah yang tergenang oleh banjir pasang-surut ini ditentukan oleh ketinggian air laut pada saat pasang. Terkait dengan subsiden, luas daerah genangan banjir pasang-surut akan bertambah luas bila daerah di sekitar daerah genangan tersebut terjadi subsiden. Selain itu perlu juga ketahui bahwa karena beban bangunan fisik, daerah-daerah dekat pantai yang semula bukan daerah banjir dapat berubah menjadi daerah banjir karena subsiden.

4.4.6. Aktifitas mitigasi

Banjir pasang-surut tidak dapat dicegah atau dihentikan terjadinya. Bila dilihat dari akar persoalannya, banjir pasang surut yang menimpa manusia sebenarnya terjadi karena manusia gagal membaca karakter daerah pesisir ketika pembangunan dimulai, yaitu bahwa daerah-daerah daratan tepi pantai yang terbentuk karena proses fluviatil atau marin akan mengalami subsiden bila mendapat beban fisik di atasnya.

Untuk daerah-daerah yang telah terlanjur menjadi daerah genangan banjir pasang-surut tidak ada tindakan yang dapat membebaskan daerah tersebut secara permanen dari banjir itu. Upaya pembuatan tanggul di sepanjang pantai atau meninggikan daerah genangan dengan cara menimbun hanya membebaskan daerah genangan banjir untuk sementara, karena subsiden akan terus berlangsung.

Menghadapi karakter persoalan yang demikian, upaya yang perlu dilakukan untuk menghindar dari bahaya banjir pasang surut ini adalah dengan memetakan daerah-daerah pesisir yang rentan terhadap ancaman banjir dan subsiden, terutama di daerah-daerah yang berdekatan dengan daerah perkotaan atau pemukiman. Dengan adanya peta daerah ancaman bahaya tersebut diharapkan penduduk atau pengambil keputusan dapat menghindari untuk melakukan pengembangan atau pembangunan fisik di daerah rawan itu. Prinsipnya, upaya mitigasi dilakukan untuk mencegah penduduk atau pemerintah melakukan pembangunan fisik di daerah berpotensi subsiden.

Bagi daerah terbangun yang mengalami banjir pasang-surut dan subsiden, hanya tersedia dua alternatif pilihan, yaitu meninggalkan daerah bencana itu, atau menanggung biasa perawatan bangunan selamanya.

Kembali

Ditulis dalam Banjir, PROSES (BENCANA) ALAM, Subsiden | Bertanda: , , , | 3 Komentar »

MENGHADAPI ANCAMAN BAHAYA GEOLOGI di WILAYAH PESISIR (MBG)

Ditulis oleh wahyuancol di/pada Juni3, 2008

Bencana alam akhir-akhir ini telah menarik perhatian kita semua. Khusus bagi kawasan pesisir, banjir karena pasang surut atau naiknya air laut ke darat karena gelombang tinggi menjadi perhatian, terutama di daerah kota besar seperti Jakarta. Tetapi, bahaya geologi di daerah pesisir tidak hanya itu. Pada kesempatan ini saya mencoba memberikan gambaran apa saja bahaya geologi di daerah pesisir dan bagaimana kita kita menanggapi ancamannya. Materi kali ini adalah makalah yang pernah saya presentasikan dalam seminar di Yogyakarta pada 15 Februari 2008 yang diselenggarakan oleh Jurusan Teknik Geologi – UGM.

Bila ada yang ingin mengutipnya sebagai referensi tulisan ilmiah, penulisan sitasinya adalah sebagai berikut:

Setyawan, W.B., 2008. Menghadapi ancaman bahaya geologi di Wilayah Pesisir. Dalam: S. Husein, S.S. Surjono, S.B. Samodra dan D.N.E. Putra (editor), Tantangan dan Strategi Pendidikan Geologi dalam Pembangunan Nasional, Prosiding Seminar Nasional Ilmu Kebumian 2008, Jurusan Teknik Geologi FT UGM, Yogyakarta: H2-1 sampai H2-24.

———–

Daftar Isi:

Abstrak

1. Pendahuluan

2. Siklus Manajemen Bencana

3. Aktifitas Mitigasi dan Karakter Bencana

4. Karakter Bahaya Geologi dan Upaya Mitigasinya

4.1. Tsunami

4.2. Gelombang Tinggi

4.3. Erosi Pantai

4.4. Banjir Pasang-surut dan Subsiden

4.5. Banjir Luapan Sungai

4.6. Sedimentasi

5. Kesimpulan

Referensi

———

Abstrak

Bahaya geologi hakekatnya adalah proses geologi yang mengancam keselamatan harta dan atau jiwa manusia. Keberadaan ancaman bahaya geologi di suatu kawasan berkaitan dengan kondisi geologi di kawasan itu. Manajemen ancaman bahaya geologi dapat dipandang sebagai bagian dari upaya untuk mengurangi dampak negatif apabila bahaya geologi itu benar-benar terjadi (mitigasi bencana) dan merencanakan bagaimana menanggapi bencana geologi bila terjadi (preparadnes).

Mitigasi dan preparadnes bencana adalah fase awal dari suatu siklus manajemen bencana. Aktifitas mitigasi bencana sesungguhnya adalah upaya untuk mengeliminasi atau mengurangi kemungkinan terjadinya bencana, atau mengurangi efek dari bencana yang tidak dapat dicegah kejadiannya. Efektifitas suatu akifitas mitigasi bencana ditentukan oleh: (1) faktor pencetus, (2) karakter kedatangan / kejadian, (3) prediktabiltas, (4) durasi suatu bencana dan (5) areal terganggu.

Di kawasan pesisir yang merupakan daerah transisi antara darat dan laut dapat terjadi bencana geologi dengan air laut sebagai agen yang bekerja (working agents): tsunami, gelombang tinggi, banjir pasang surut dan erosi pantai; dan dapat pula terjadi bencana geologi yang berkaitan dengan air permukaan: banjir limpasan sungai; dengan muatan sedimen: sedimentasi, dan dengan kompaksi batuan: subsiden. Karakter dari setiap macam bencana itu perlu dipahami agar kita dapat menyusun strategi menghadapi ancamannya. Secara umum, disamping memperkirakan waktu kejadian, pemetaan daerah-daerah di kawasan pesisir yang terancam oleh suatu ancaman bahaya geologi adalah langkah penting yang harus dilakukan dalam aktifitas mitigasi bencanaa atau geologi itu yang dilakukan berdasarkan karakter dari bencana atau bahaya geologi tersebut.

1. Pendahuluan

Dalam beberapa tahun terakhir ini, di Indonesia banyak terjadi bencana alam, baik yang datang dari laut maupun yang sumber kejadiannya di darat. Terjadinya tsunami pada tanggal 26 Desember 2004 yang melanda sebagian besar wilayah pesisir barat dan utara Pulau Sumatera, khususnya di Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam begitu menghentakkan, dan membuat perhatian masyarakat umum di Indonesia menarah ke bencana (alam) geologi yang datang dari laut itu.

Bahaya geologi atau bencana geologi dapat terjadi di bagian bumi manapun, termasuk di wilayah pesisir. Bahaya geologi di daerah pesisir berkaitan dengan proses-proses geologi khas untuk daerah pesisir. Proses-proses geologi tersebut umumnya adalah proses-proses geologi yang berkaitan dengan kondisi angin, gelombang, pasang-surut dan arus, dan terekspresikan dalam bentuk tsunami, gelombang karena badai, banjir pasang-surut, erosi pantai. Selain itu, ada pula bencana geologi yang tidak berkaitan dengan berbagai faktor yang disebutkan itu, yaitu sedimentasi yang berkaitan dengan suplai muatan sedimen dari daratan, dan bencana subsiden yang berkaitan dengan kompaksi batuan atau endapan sedimen.

Manajemen ancaman bahaya geologi dapat dipandang sebagai bagian dari upaya untuk mengurangi dampak negatif apabila ancaman bahaya geologi benar-benar terjadi dan menjadi bencana geologi (mitigasi bencana), dan merencanakan bagaimana menanggapi bencana geologi bila terjadi (preparadnes atau kesiagaan bencana). Makalah ini bertujuan memberikan gambaran bagaimana menanggapi ancamanan dari berbagai macam bahaya geologi di daerah pesisir dengan memperhitungkan karakternya.

———-

5. Kesimpulan

Dari uraian di atas jelas terlihat bahwa ancaman bahaya geologi di daerah pesisir dapat datang dalam berbagai bentuk kejadian. Meskipun demikian, hanya ada dua agen utama yang bekerja yaitu air laut dan air permukaan. Air laut sebagai agen yang bekerja hadir dalam bentuk gelombang dan pasang-surut, sedang air permukaan hadir dalam bentuk debit air permukaan yang besar.

Aktifitas mitigasi bencana adalah upaya untuk memperkecil dampak negatif dari suatu bencana. Terkait upaya itu, mengetahui waktu kejadian dan lokasi kejadian adalah hal yang penting karena dengan kedua hal itu manusia dapat menghindar dari bahaya yang datang.

Tidak semua macam bahaya geologi dapat diketahui dengan pasti waktu kedatangan, seperti tsunami. Namun ada pula bahaya geologi yang kedatangannya sedemikian halus sehingga manusia terlambat menyadarinya sampai bahaya itu benar-benar terjadi dan manusia tidak dapat menghindar lagi, seperti subsiden, banjir, dan erosi pantai. Oleh karena itu, pemetaan daerah-daerah yang berpotensi untuk terkena bahaya geologi menjadi faktor kunci dalam ke-efektifan upaya mitigasi. Dengan mengetahui daerah-daerah yang berpotensi terkena bahaya, diharapkan manusia dapat menghindari daerah-daerah tersebut dalam melakukan aktifitas. Sampai pada titik ini, kesadaran masyarakat akan potonsi bencana menjadi hal yang penting, karena hanya dengan kesadaran akan bahaya yang akan menimpalah yang membuat masyarakat bersedia untuk menghindar dari daerah-daerah bahaya. Dengan demikian, kegiatan pembelajaran publik sangat penting untuk dilaksanakan berdampingan dengan berbagai uaya mitigasi yang lain.

Dalam upaya melakukan prediksi waktu dan lokasi kejadian bahaya geologi yang berkaitan dengan gelombang laut, prediksi kondisi angin dan gelombang laut (meteorologi maritim) adalah informasi penting. Sementara itu, untuk bahaya yang berkaitan dengan air permukaan, prediksi kondisi curah hujan adalah faktor kunci. Terkait dengan kedua hal itu, institusi yang bertanggung-jawab adalah BMG.

Untuk prediksi bencana banjir pasang-surut, pengetahuan akan kondisi fisik lahan pesisir, terutama berkaitan dengan daya dukungnya, adalah sangat penting. Perlu disadari bahwa bencana banjir pasang-surut tidak datang begitu saja. Bencana ini bisa dipastikan dimulai dari keterlanjuran manusia melakukan pembangunan fisik di daerah daratan relatif baru dan labil di tepi pantai. Keterlanjuran itu terjadi karena kegagalam manusia memahami karakter fisik daerah pesisir. Untuk mengetahui kondisi fisik lahan pesisir dan dapat memetakan daerah yang berpotensi mengalami subsiden, studi geomorfologi pesisir dalah hal yang penting. Di pihak lain, untuk prediksi pasang surut, institusi yang sekarang ini bertanggung-jawab melakukannya adalah Jawatan Hidro-Oseanografi TNI-AL.

Bahaya sedimentasi di perairan pesisir berkaitan erat dengan pengelolaan DAS dan tata-air (aliran sungai dan kanal-kanal) selain berkitan dengan faktor curah hujan. Berbagai institusi terkait dengan masalah ini. Karena itu, diperlukan kerjasama dari berbagai institusi terkait untuk dapat mengelola masalah sedimentasi. Untuk kondisi tertentu, bahaya erosi pantai juga berkaitan dengan pengelolaan aliran sungai atau kanal-kanal.

Referensi

Anonim-Ant, 2007. Gelombang Pasang Landa Berbagai Wilayah Indonesia. [http://portal.antara.co.id/arc/2007/5/18/gelombang-pasang-landa-berbagai-wilayah-indonesia/]. Akses: 2 Febuari 2008.

Anonim-BBC, 2007. Gelombang Pasang Landa Pesisir. [http://www.bbc.co.uk/indonesian/news/story/2007/05/070520_tidalwave.shtml]. Akses: 2 Feburari 2008.

Anonim-Rep, 2007. Gelombang Pasang Terjang Pesisir. [http://202.155.15.208/koran_detail.asp?id=293613&kat_id=3]. Akses: 2 Febuari 2008.

AVISO, 2007. Southern Swell in the Indian Ocean. [http://www.aviso.oceanobs.com/html/applications/meteo/houle_australe_uk.html]. Akses: 1 Juni 2007.

BMG (Badan Meteoprologi dan Geofisika), 2007. Apa itu Tsunami. [http://www.bmg.go.id/data.bmg?Jenis=Teks&IDS=8704394716716499700]. Akses: 11 Febuari 2008.

Cooke, R.U. and Doornkamp, J.C., 1977. Geomorphology in Environmental Management: an introduction (reprint edition). Clarendon Press, Oxford, 413 p.

ESA, 2007. Huge waves from one strom slam coast some 6000 km apart. [http://www.esa.int/esaEO/SEMMJJ9RR1F_economy_o.html] Akses: 1 Juni 2007.

Pariwono, J.I., 2007. Terjangan Gelombang Tinggi ke Pantai-pantai Luar Indonesia di Bulan Mei 2007. Abstrak dipresentasikan pada Pertemuan Ilmiah Tahunan Ikatan Sarjana Oseanologi (ISOI) di Bogor, 22 Nopember 2007.

Setyawan, W.B. dan Witasari, Y., 2004. Pengaruh tsunami tahun 1996 terhadap wilayah pesisir Pulau Biak. Dalam: Setyawan, W.B., Witasari, Y., Arifin, Z., Ongkosongo, O.S.R. dan Birowo, S. (editor). Prosiding Seminar Laut Nasional III, 29-31 Mei 2001, Jakarta, Ikatan Sarjana Oseanologi Indonesia, hal. 135-141.

Skinner, B.J. and Porter, S.C., 2000. The Dynamic Earth: an introduction to physical geology, 4th edition, John Willey & Sons, Inc., New York, 112 pp.

Srinivas, H., tanpa tahun. The Indian Ocean Tsunami and Its Environmental Impacts. [http://www.gdrc.org/uem/disasters/disenvi/tsunami.html]. Akses: 22 Januari 2008

Tapper, N., 2002. Climate, climatic variability and atmospheric circulation patterns in the Maritime Continent Region. In: P. Kershaw, B. David, N. Tapper, D. Penny and J. Brown (editors), Bridging Wallace’s Line: the environmental and cultural history and dynamic of the SE-Asian-Australian Region, Advance in Geoecology 34, Catena Verlag GMBH, Reiskirchen, p. 5-28.

UNESCO/IOC, 2007. Welcome to the UNESCO/IOC global tsunami website, a one-stop resource for all tsunami-related information. [http://www.ioc-tsunami.org/]. Akses: 11 Febuari 2008.

Warfield, C., tanpa tahun, The Disaster Management Cycle. [http://www.grdc.org/uem/disaster/1-dm_cycle.html]. Akses: 22 Januari 2008.

————

Terima Kasih, Ancol 6 Juni 2008

Ditulis dalam Banjir, Erosi, PROSES (BENCANA) ALAM, Sedimentasi, Wilayah Pesisir | Bertanda: , , , , , , , , , , , , , | 1 Komentar »