Kepulauan Indonesia

Cerita dari, untuk dan tentang Kepulauan Indonesia beserta Penghuni dan Penduduknya

Tulisan terkirim dikaitan (tagged) ‘Rob’

Menanti Kedatangan Rob

Ditulis oleh wahyuancol di/pada November4, 2009

Berikut ini adalah kutipan dari KOMPAS.com edisi pagi ini Rabu 4 Nopember 2009 (http://megapolitan.kompas.com/read/xml/2009/11/04/06154523/rob.datang.pagi.hari)

JAKARTA, KOMPAS.comWarga Marunda, Jakarta Utara, dikejutkan dengan datangnya air pasang atau rob pada pukul 09.00. Padahal, biasanya, rob hanya datang pada malam atau dini hari. Untuk persiapan menghadapi banjir, Jakarta harus menambah 15 polder lagi dari 33 polder yang sudah ada sekarang.

Datangnya rob pada pagi hari kemarin benar-benar membuat warga Marunda sibuk memindahkan barang-barang rumah tangganya. Warga meninggalkan kesibukan mereka karena harus membendung air yang terus masuk dari laut.

”Biasanya air pasang datang malam hari. Eh, kok, sekarang pagi, saya jadi tidak bisa jualan,” kata Nisah (45), warga RT 003 RW 07 Marunda, Cilincing, Jakarta Utara (Jakut). Dia harus memindahkan isi rumahnya, seperti bangku, meja, pakaian, dan perabot masak.

Usman, Ketua RT 003 RW 07 Marunda, Cilincing, menjelaskan, air pasang yang datang pagi hingga siang ini memang di luar dugaan warga. ”Apalagi sekarang belum memasuki angin barat, wajar saja jika warga banyak yang panik dan terburu-buru memberesi perabotan rumahnya. Rob biasanya terjadi pada musim angin barat,” kata Usman.

Usman menambahkan, agar pihak Pemerintah Kota (Pemkot) Jakut secepatnya membuat tanggul atau dam di pesisir pantai. Tujuan agar warga Pantai Marunda tak lagi cemas dan khawatir ketika banjir rob tiba. Apalagi, sekarang ini banjir rob sulit diprediksi. Kalau dahulu warga bisa berpatokan pada bulan dan datangnya angin, sekarang ini harus selalu siap dan waspada.

———————————

Dengan kutipan berita di atas saya ingin menunjukkan bahwa Kalender Bencana dapat dibuat dengan mudah bahkan untuk skala suatu pemukiman sekali pun.

Kutipan berita di atas menunjukkan bahwa masyarakat sebenarnya telah melihat hubungan antara rob (bencana) dengan posisi bulan dan musim (hubungan bumi bulan dan matahari). Hanya mungkin mereka belum mengerti betul bagaimana kaitan antara posisi bulan dan matahari terhadap bumi, hubungannya dengan musim angin dan kedatangan rob.

Mereka sebelumnya telah mengamati kapan rob datang ke pemukiman mereka. Tetapi ketidak pahaman akan hal yang saya sebutkan di atas menyebabkan mereka berkesimpulan bahwa rob hanya datang pada malam dan dini hari.

Apa yang terjadi di kalangan penduduk Marunda itu menunjukkan bahwa secara tersirat mereka telah memiliki Kalender Bancana Rob, hanya saja, kalender itu masih berada di dalam pikiran mereka masing-masing dan belum dituliskan. Dengan sedikit menambah pemahaman mereka tentang pasang surut, saya kira mereka akan dapat membuat kalender bencana mereka sendiri dengan baik.

Salam,

Wahyu

Ditulis dalam PROSES (BENCANA) ALAM, Pasang surut, Rob | Bertanda: , , , | Leave a Comment »

Siklus Bencana Alam di Indonesia

Ditulis oleh wahyuancol di/pada Januari13, 2009

Bencana alam adalah fenomena yang sangat biasa bagi sebagian besar penduduk Indonesia. Sepanjang tahun dapat dipastikan bencana alam itu pasti datang silih berganti. Hal itu dapat terjadi karena karakteristik Kepulauan Indonesia yang unik, yaitu karena: (1) terletak di daerah tropis, (2) terletak di antara dua samudera, (3) terletak di antara dua benua, dan (4) kondisi fisik yang berupa pulau-pulau baik besar maupun kecil dengan kondisi geomorfologi yang bervasiasi dari lahan basah di dekat pantai sampai pegunungan berlereng terjal.

Kondisi Berulang

Letak Kepulauan Indonesia di daerah tropis menyebabkan Matahari selalu berada di atasnya dan dilintasi Matahari ketika bergerak dari posisinya di belahan Bumi bagian utara ke belahan Bumi bagian selatan dan sebaliknya.

Perubahan posisi Matahari yang bergerak pulang balik tersebut di atas mempengaruhi perubahan temperatur udara di Benua Asia dan Australia yang mengapit Kepulauan Indonesia. Perubahan tersebut selalu berulang sepanjang tahun seiring dengan pergerakan Matahari yang telah disebutkan di atas. Ketika Matahari berada di belahan Bumi bagian selatan, daratan di Benua Australia lebih panas daripada daratan di Benua Asia, sehingga terjadi gerakan udara dari Benua Asia ke Benua Australia. Di kawasan Kepulauan Indonesia secara umum pada saat itu terjadi apa yang dikenal sebagai Musim Angin Barat, seperti yang sedang terjadi sekarang ini. Sebaliknya, ketika Matahari berada di belahan Bumi bagian utara, daratan Benua Asia lebih panas daripada daratan Benua Australia, sehingga terjadi gerakan angin dari Benua Australia ke Benua Asia. Di kawasan Kepulauan Indonesia secara umum pada saat itu terjadi Musim Angin Timur.

Pada saat Musim Angin Barat, di Kepulauan Indonesia juga terjadi Musim Hujan dengan curah hujan yang tinggi. Sebaliknya, pada saat Musim Angin Timur di Kepulauan Indonesia terjadi musim kering atau kemarau.

Selain kondisi yang berulang tahunan itu, ada kondisi yang berulang bulanan, yaitu kondisi pergantian antara Bulan Purnama dan Bulan Mati.

Bencana Terkait

Gelombang Tinggi

Bencana ini muncul setiap tahun berkaitan dengan musim angin yang bertiup kencang. Bencana ini terjadi di pantai-pantai yang berhadapan dengan arah datangnya angin. Bila Musim Angin Barat, maka pantai-pantai yang terbuka dari arah barat yang terkena. Demikian pula sebaliknya bila Musim Angin Timur maka pantai-pantai yang terbuka dari arah timur yang kena.

Banjir

Bencana ini muncul setiap tahun tatkala Musim Hujan tiba dengan curah hujan yang tinggi. Bencana ini melanda dataran rendah di sekitar aliran sungai atau di dataran banjir atau di pemukiman yang buruk sistem drainasenya. Di daerah pesisir, genangan banjir ini dapat saling memperkuat dengan banjir karena pasang surut. Daerah yang terkena bencana banjir ini dapat meluas dan banjir dapat makin hebat seiring dengan kerusakan di daerah aliran sungai atau kerusakan lingkungan.

Banjir Pasang Surut (Rob)

Bencana ini muncul berkaitan dengan siklus gerak bulan. Dengan demikian banjir ini berulang bulanan. Daerah yang terkena bencana ini adalah dataran pantai di daerah pesisir yang rendah atau daerah rawa-rawa pantai. Genangan banjir ini dapat diperkuat dengan banjir karena curah hujan. Jadi, banjir ini dapat terjadi lebih hebat di saat musim hujan.

Kekeringan

Bencana ini muncul setiap tahun pada saat Musim Kering atau Kemarau. Daerah-daerah yang terkena bencana ini adalah daerah-daerah yang kondisi sumberdaya air tawarnya terbatas dan bercurah hujan rendah. Daerah yang terkena bencana ini makin meluas seiring dengan terjadinya kerusakan lingkungan.

Tanah Longsor

Bencana tanah longsor atau gerakan tanah terjadi setiap tahun bertepatan dengan Musim Hujan. Daerah-daerah yang terancam oleh bencana ini adalah daerah pegunungan atau perbukitan yang berlereng terjal. Bencana ini dapat makin hebat seiring dengan meningkatnya kerusakan lingkungan di sekitarnya.

Kebakaran Hutan

Kebakaran hutan dapat terjadi setiap tahun pada saat Musim Kemarau. Di Indonesia, munculnya bencana ini berkaitan erat dengan cara pembukaan lahan yang dilakukan dengan membakar. Bencana ini umumnya terjadi di Pulau Sumatera dan Kalimantan.

Siklus Bencana

Bila kita cermati waktu-waktu terjadinya bencana alam tersebut di atas, maka kita dapat menggambarkan suatu siklus bencana alam di Indonesia dalam periode satu tahun. Siklus itu berjalan sesuai dengan berjalannya perubahan musim yang disebabkan oleh perjalanan Matahari berpindah dari langit belahan Bumi bagian utara ke selatan atau sebaliknya.

Penutup

Sebagai penutup dapat kita katakan bahwa ada bencana alam yang terjadi berulang di Indonesia setiap tahun. Kita dapat memperkirakan rentang waktu terjadinya, dan kawasan yang akan mengalami bencana itu. Menghadapi bencana-bencana itu, pemetaan daerah-daerah yang mungkin terkena bencana-bencana itu merupakan salah satu langkah yang penting.

Semoga bermanfaat.

Salam,

Wahyu

Ditulis dalam PROSES (BENCANA) ALAM | Bertanda: , , , , , , , , , | 2 Komentar »

12 Jan 2009, Senin, Banjir Pasang Surut Melanda Jakarta

Ditulis oleh wahyuancol di/pada Januari12, 2009

Hari ini Senin tanggal 12 Januari 2009, bertepatan dengan tanggal 15 hari bulan. Saat ini adalah saat bulan purnama, nanti malam.

Siang ini, banjir pasang surut mulai melanda Jakarta bagian utara. Dari pengamatan di Ancol bagian timur, saat ini jam 12.42 air pasang terlihat masuk ke melalui jalan masuk  kawasan wisata pantai Ancol. Tampak air mengalir masuk melewati bagian jalan yang ditinggikan.

Hari ini Jakarta memang kelabu oleh mendung. sejak pagi.  Tadi pagi hujan sebentar dan tidak deras. Sampai jam 11 tadi udara di luar masih cukup hangat. Air yang masuk dan naik melalui jalan itu, yang kehadirannya tidak disertai hujan, menunjukkan bahwa air itu adalah air pasang dari laut yang naik.

Sekarang jam 12.46. Air laut masih terus meninggi. Kenderaan yang lewat di jalan masuk Ancol itu sudah mulai terganggu. Ketinggian air sudah mencapai mesin sepeda motor.

Banjir seperti ini pernah terjadi pada tahun 2007 yang lalu. Ketika itu air datang menyusul hujan yang turun lebat beberapa jam sebelumnya.

Sekarang ini, banjir pasang datang tanpa disertai hujan. Sementara itu, Jakarta tampak kelabu karena mendung yang menggantung. Bila saat ini turun hujan lebat, maka genangan air yang datang dari pasang surut akan ditambah dengan air yang datang dari hujan lelalui aliran sungai. Bila itu terjadi dalam dua tiga jam ini sebelum pasang menjadi surut, maka Jakarta bagian utara akan mengalami banjir yang cukup parah.

Tentang pasang surut, saat ini posisi bulan sedang berada di belahan bumi di seberang posisi Indonesia. Nanti malam, bulan purnama baru akan nampak di langit Indonesia dan akan berada di titik kulminasi tengah malam. Karena itu, dapat diprediksi bahwa banjir pasang surut yang terjadi seperti siang ini akan terulang lagi besok.

Jam 14.15

Genangan banjir mulai surut.

Banjir pasang surut yang saya lihat dari jendela ruang kerja tadi ternyata hanya terbatas pada bagian jalan yang sedikit agak rendah. Air menggenang hanya di sekitar bundaran di depan pintu masuk Ancol bagian timur. Belum sampai melanda perkantoran di sekitarnya. Meskipun demikian, kondisi yang tampaknya sepele itu bagi Ancol, bagi kawasan lain di Jakarta bagian utara mungkin lain. Hal itu karena di kawasan wisata Ancol saat ini sudah dibuat sedemikian rupa sistem drainase yang dilengkapi dengan tanggul dan rumah pompa untuk memompa air laut yang masuk ke kawasan Ancol kembali ke luar. Logikanya, di kawasan yang sudah dolengkapi dengan pompa saja masih bisa tergenang (meski sedikit), maka bagaimana dengan kawasan rendah lainnya yang tidak dilengkapi dengan pompa air?

Ah, iya. Pada bulan yang lalu, pada saat air laut pasang saya melintas di pinggir danau Ancol. Saya melihat air naik ke jalan masuk melalui saluran drainase. Pelataran pasir tergenang. Di danau itu ada tugu. Jalan yang menghubungkan tugu tersebut dengan daratan ketika itu sudah tergenang air laut yang pasang. Saya ingat. Dahulu di tahun 1978  saya pernah ke tugu itu. Masih ada kolong antara jembatan dan air danau. Sekarang, jalan penghubung itu tergenang. Siang tadi ketika air pasang naik, saya kira kawasan di sekitar danau Ancol itu kembali tergenang. Saya tidak melihatnya, dan hanya memperkirakan berdasarkan pengalaman bulan sebelumnya itu.

Lalu, apa arti dari semua itu? Logika sederhana adalah bahwa bila kita membangun sesuatu tentu kita berusaha untuk lebih tinggi dari kemungkinan genangan air. Sekarang, bila daerah tempat kita membangun itu telah tergenang air, tanggul terus dibangun dan rumah pompa air juga dibangun serta lantai lahan ditinggikan, maka artinya adalah daerah tempat kita itu telah mengalami subsiden atau penurunan permukaan tanah. Itulah yang sekarang ini terjadi di Ancol dan Jakarta bagian utara umumnya seperti di Kawasan Pelabuhan Tanjung Priok, Kawasan Perdagangan Mangga Dua, Kawasan Pelabuhan Muara Baru.

Semoga bermanfaat.

Salam,

Wahyu

Ditulis dalam Banjir, PROSES (BENCANA) ALAM, Pasang surut, Wilayah Pesisir | Bertanda: , , , , , | Leave a Comment »

Banjir Air Pasang (Rob) dan Subsiden: Jawaban untuk Nisa

Ditulis oleh wahyuancol di/pada November19, 2008

Nisa, salah seorang pengunjung blog ini, pada tanggal 11 Nopember 2008 melalui komentar, mengajukan beberapa pertanyaan tentang banjir air pasang (Rob), terutama tentang hubungan antara perluasan genangannya dan subsiden. Karena jawabannya cukup panjang, maka jawaban itu saya posting sebagai judul tersendiri.

Semoga bermanfaat.

Salam,

Wahyu

————–

Tanya – 1:

Apakah perluasan banjir air pasang hanya disebabkan oleh faktor subsiden dan faktor bangunan fisik? Bisakah kita melihatnya dalam bentuk spasial?

Jawab:

Ya, perluasan kawasan banjir karena air pasang disebabkan oleh subsiden. Bila tidak ada subsiden, maka luas kawasan genangan banjir air pasang ditentukan oleh ketinggian air laut pada saat pasang dan ini ditentukan oleh posisi bulan dan matahari. Dan, ketinggian air yang terjadi tidak mungkin melebihi ketinggian air pasang maksimum yang mungkin terjadi di kawasan itu.

Subsiden menyebabkan kawasan genangan banjir air pasang bertambah luas. Subsiden itu sendiri dapat terjadi karena sebab-sebab alamiah maupun karena aktifitas manusia. Penyebab alamiah dari subsiden antara lain adalah pemadatan endapan sedimen secara alamiah, dan gerak tektonik. Sedang aktifitas manusia yang dapat menyebabkan subsiden antara lain kegiatan pengambilan air tanah yang berlebihan, dan mendirikan bangunan fisik yang menjadi beban bagi tanah atau lahan sehingga mempercepat laju pemadatan endapan sedimen.

Perluasan kawasan genangan banjir air pasang dapat dilihat secara spasial. Kondisi makin meluasnya daerah genangan banjir mencerminkan makin meluasnya daerah yang mengalami subsiden. Apabila kita dapat memetakan batas-batasnya secara periodik, maka kita dapat melihat perkembangannya.

Tanya – 2:

Mungkinkah saya bisa menspasialkan banjir pasang (rob)? Maksudnya, apakah datanya menungkinkan?

Jawab:

Mungkin. Kawasan banjir pasang atau rob dapat kita spasialkan atau kita petakan. Untuk memetakannya, seperti telah disebutkan dalam jawaban pertanyaan pertama, kita hanya perlu memetakan batas-batas daerah genangan banjir. Untuk mengetahui apakah kondisi banjir yang kita petakan itu adalah banjir karena genangan air laut pasang yang sama ketinggiannya dengan yang kita petakan sebelumnya, maka kita perlu memperhatikan prediksi pasang surut.

Sebagai informasi tambahan: Prediksi pasang surut untuk lokasi-lokasi tertentu, khususnya pelabuhan, dipublikasikan oleh Dinas Hidro-Oseanografi TNI-AL. Buku prediksi itu dijual untuk umum.

Tanya – 3:

Sebenarnya, banjir pasang (rob) itu secara alamiah memang selalu mengalami perluasan? Atau ada faktor yang telah mempercepat laju pertumbuhan luas genangan?

Jawab:

Perlu dipahami bahwa fenomena banjir air pasang itu adalah fenomena yang hanya terjadi di bagian daerah pesisir yang berbatasan langsung dengan laut. Secara sederhana, daerah tersebut dapat kita sebut daerah pantai. Secara alamiah, terjadi atau tidaknya banjir air pasang di daerah pantai sangat ditentukan oleh kondisi geologi dan geomorfologi daerah pantai tersebut. Bila daerah pantai merupakan daerah berbatuan keras dan bermorfologi tinggi – maksudnya lebih tinggi daripada permukaan laut, maka tidak akan terjadi banjir air pasang di daerah tersebut. Sebaliknya, bila daerah pantai merupakan daerah rawa pantai atau daerah rawa di sekitar muara sungai, maka banjir air pasang akan terjadi di daerah tersebut.

Ciri khas daerah rawa pantai yang terjadi karena proses sedimentasi adalah, daerah tersebut tersusun oleh endapan sedimen yang belum mengalami pemadatan. Contohnya adalah daerah pesisir Jakarta dan Semarang. Secara alamiah, beban fisik dari endapan sedimen di bagian atas akan menyebabkan pemadatan dari endapan sedimen di bagian bawah. Proses ini pasti terjadi. Apabila manusia mendirikan bangunan fisik di atas rawa, maka berarti menambah beban fisik yang mempercepat proses pemadatan endapan sedimen.

Selanjutnya, untuk dapat mengatakan apakah di suatu kawasan, secara alamiah kawasan banjir air pasang mengalami perluasan atau tidak, kita perlu juga mengetahui kondisi tektonik di daerah tersebut dan proses sedimentasi yang terjadi. Kombinasi kedua hal itu akan menentukan ada atau tidaknya perluasan daerah genangan banjir pasang yang terjadi secara alamiah. Untuk daerah yang secara tektonik mengalami penurunan, maka daerah genangan banjir akan meluas. Untuk daerah pantai yang mengalami sedimentasi tinggi sehingga garis pantai bergeser ke arah laut, maka daerah genangan banjir air pasang akan bergeser ke arah laut mengikuti pergeseran garis pantai.

Tanya – 4:

Di jurnal yang lain (situs dalam negri) selalu dikemukakan kalau banjir pasang lebih disebabkan oleh faktor global, sementara saya baca di laporan Sea Level Rise in the Coastal Waters of Washington State rata-rata faktor lokal justru berpengaruh meski tidak signifikan. Mohon penjelasan.

Jawab:

Dari struktur kalimatnya, saya melihat tidak ada pertentangan dari kedua penyataan tersebut di atas. Pada pernyataan pertama disebutkan “banjir pasang lebih disebabkan oleh faktor global”. Pernyataan ini menunjuk pada faktor dominan, dan tidak meniadakan faktor lokal. Sementara pada pernyataan ke-dua disebutkan “rata-rata faktor lokal justru berpengaruh meski tidak signifikan”. Pernyataan yang ke-dua ini menyebutkan adanya faktor lokal yang tidak signifikan. Artinya, pengaruh faktor lokal tidak berarti dan dapat diabaikan. Secara tersirat pernyataan ke-dua menyebutkan ada faktor non-lokal yang dominan.

Selanjutnya apabila kita coba tinjau substansi dari pernyataan itu, pada pernyataan pertama perlu penjelasan lebih lanjut apa yang dimaksud dengan “faktor global” dalam pernyataan itu, dan faktor-faktor apa saja (global maupun lokal) yang dipergukanan dalam analisis. Kemudian, untuk pernyataan ke-dua, perlu penjelasan tentang faktor-faktor lokal dan non-lokal yang diperhitungkan dalam analisis yang dilakukan itu.

Ditulis dalam Banjir, PROSES (BENCANA) ALAM, Pasang surut, Rob, Subsiden, Wilayah Pesisir | Bertanda: , , , , , , , | Leave a Comment »