Kepulauan Indonesia

Cerita dari, untuk dan tentang Kepulauan Indonesia beserta Penghuni dan Penduduknya

Tulisan terkirim dikaitan (tagged) ‘Pasang surut’

Rumitnya Masalah Banjir di Jakarta 2: perlukah seorang diktator?

Ditulis oleh wahyuancol di/pada November14, 2009

Sekarang Jakarta mulai memasuki musim hujan. Persoalan rutin yang seakan tanpa ujung penyelesaian kembali muncul, yaitu banjir. Musim hujan ini dan banjir yang berasosiasi dengannya di Jakarta ini sesungguhnya menjadi bukti kita warga Jakarta belum tahu bagaimana bersyukur terhadap nikmat yang diberikan Tuhan sehingga nikmat itu berubah menjadi bencana.

Kemarin sore, Jum’at 13 Nopember 2009, saya sempat mengamati salah satu lokasi banjir di Matraman. Banjir di kawasan itu menjadi bukti bahwa mengelola drainase mikro adalah hal yang sangat penting bagi kawasan perkotaan.

Berikut tanggapan Pak Gubernur tentang banjir DKI:

Menurut Foke, penanganan banjir yang dilakukan Pemda DKI selama ini selalu terkendala oleh perilaku masyarakat sendiri yang tidak tertib. Tidak ada antisipasi masyarakat, terutama yang tinggal di bantaran sungai. Padahal warga tahu banjir selalu mengancam setiap musim penghujan.

Foke mencontohkan relokasi warga di bantaran sungai yang dipindahkan ke Rumah Susun (Rusun). Walaupun sudah dipindahkan ke rumah susun yang aman dari banjir, tetap saja mereka keukeuh tinggal di bantaran kali.

“Coba itu dicek di rusun Bidaracina. Mereka sudah pasti balik lagi ke bantaran kali di dekat Kampung Melayu,” ujarnya memberi contoh.

Kemudian, ini tanggapan dari Ketua Forum Warga Jakarta:

“Kenapa Jakarta bisa tergenang, ini menunjukan saluran mikro drainase tidak beres. Ini kan aneh, anggaran PU tiap tahun mengalami kenaikan, tapi tidak ada hasilnya. Kepala Dinas PU harus dipecat,” ujar Ketua Forum Warga Kota Jakarta (Fakta) Azaz Tigor Nainggolan.

Hal itu dikatakan Tigor saat dihubungi detikcom, Sabtu (14/11/2009).

Tigor menjelaskan pemerintah memang telah berusaha membangun jaringan drainase besar seperti banjir kanal timur, tetapi jika drainase mikro di seluruh Jakarta tidak dibenahi, maka dipastikan setiap hujan turun, Jakarta akan tergenang dan kemacetan akan terjadi di mana-mana.

Advokat publik ini menambahkan masih banyak kekurangan penataan Kota Jakarta. Banyak bantaran kali yang belum diberi pembatas, sehingga air langsung melupa begitu hujan turun.

“Seperti di dekat Matraman itu, di Jl Pramuka ada kali kecil, tidak ada pembatasnya. Ditambah lagi penerangan sangat kurang,” jelasnya.

Tigor pun meminta agar masyarakat Jakarta berhenti membuang sampah di kali-kali. Namun Dinas Kebersihan juga dituntut bekerja untuk mengelola sampah dengan baik.

————————-

Dari dua kutipan berita diatas kita bisa melihat persoalan banjir di Jakarta ternyata bukan semata masalah genangan air belaka, tetapi masalah manajemen kota dan mental warganya.

Berikut ini beberapa hal yang patut dicatat:

  1. Banjir di Jakarta dapat dibedakan menjadi 3 macam banjir:
    1. Banjir yang berkaitan dengan aliran sungai. Banjir ini melanda daerah yang sering kita sebut sebagai daerah bantaran sungai. Banjir tipe inilah yang dibicarakan oleh Bapak Gubernur yang beritanya kita kutip di atas. Banjir ini berkaitan dengan kondisi cutah hujan di daerah Bogor. Sering terjadi di Jakarta tidak hujan dan banjir tipe ini terjadi karena di Bogor hujan lebat. Banjir tipe ini diperburuk dengan buruknya kondisi alur sungai-sungai yang ada di Jakarta, dan warga yang berkeras tinggal atau membangun di bantaran sungai.
    2. Banjir yang berkaitan dengan buruknya kondisi drainase kota. Banjir inilah yang saya saksikan kemaren sore dan malam, dan seperti yang dibicarakan oleh Ketua Forum Warga Jakarta yang beritanya juga kita kutip di atas. Banjir ini tidak berkaitan dengan aliran sungai utama, apalagi dengan hujan di Bogor. Banjir ini terjadi bila di Jakarta terjadi curah hujan tinggi. Drainase kota yang buruk menyebabkan air permukaan tidak dapat segera masuk ke aliran sungai tetapi mengaliur ke pemukiman warga dan menggenangi jalan-jalan. Buruknya kondisi drainase kota bisa karena drainase tidak memadai (sehingga perlu ditambah atau diperbesar), drainase rusak (perlu diperbaiki), drainase tersumbat sampah atau endapan pasir (perlu dibersihkan). Banyak kita lihat drainase tertutup sehingga kita tidak tahu bagaimana kondisinya, apakah berfungsi atau tersumbat (jawaban baru kita ketahui ketika hujan turun).
    3. Banjir yang terjadi karena pasang surut air laut. Banjir ini terjadi di pesisir utara Jakarta dan terutama terjadi pada saat bulan mati atau bulan purnama.
  2. Ketiga tipe banjir itu dapat terjadi secara terpisah di waktu yang berbeda,  maupun bersama-sama di waktu yang sama. Ketiga tipe banjir ini terjadi bersama ketika musim hujan telah terjadi merata di kawasan Jakarta dan Bogor dan pada saat bulan mati atau purnama. Hal itu biasanya terjadi di bulan Januari dan Februari setiap tahun.
  3. Karena ketiga tipe banjir itu memiliki karakter yang berbeda, maka penanganannya pun tentu harus berbeda pula.
  4. Berkaitan dengan masalah sampah, persoalan ini mengarah kepada dua pihak, pertama, masyarakat atau penduduk yang membuang sampah; dan ke-dua, pemerintah yang bertanggungjawab menangangi sampah.
    1. Persoalan yang ada pada penduduk atau masyarakat yang sering didengungkan adalah mereka membuang sampah sembarangan sehingga sampah masuk ke saluran drainase dan aliran sungai. Penduduk atau masyarakat tentu tidak sepenuhnya salah juga, karena pihak pemerintah sendiri belum mampu menangani seluruh sampai dari penduduk
    2. Persoalan yang ada pada pemerintah daerah adalah bahwa pemerintah tidak dapat melayani masyarakat membuang seluruh sampah yang dihasilkan masyarakjat setiap hari. Tidak seluruh sampah dari masyarakat dapat dilayani oleh pemerintah daerah untuk dibuang. Alasan yang sering dinyatakan dalam masalah ini adalah armada pengangkut sampah kurang, dan problem berkaitan dengan tempat pembuangan sampah. Persoalan tempat pembuangan sampah di Bantargebang antara Pemda DKI dan Pemda Bekasi menunjukkan masalah sampah belun serius ditangani.
  5. Tentang masalah saluran drainase yang penuh dengan endapan pasir, sulit menyelesaikan masalah ini selama kita masih melihat banyak tanah atau pasir yang berserakan di jalanan Jakarta.
  6. Tentang banjir pasang surut, banjir ini berasosiasi dengan fenomena subsiden atau turunnya permukaan tanah. Pesatnya pembangunan fisik di Jakarta bagian utara yang tercermin dari banyaknya gedung, rumah dan jalan-jalan semakin membuat banjir pasang surut semakin parah karena semua pembangunan fisik di kawasan tepi pantai hakekaknya menambah beban fisik terhadap lahan yang beluk cukup mengalami kompaksi.

Ditulis dalam Banjir, PROSES (BENCANA) ALAM | Bertanda: , , , , , , , | Leave a Comment »

Menanti Kedatangan Rob

Ditulis oleh wahyuancol di/pada November4, 2009

Berikut ini adalah kutipan dari KOMPAS.com edisi pagi ini Rabu 4 Nopember 2009 (http://megapolitan.kompas.com/read/xml/2009/11/04/06154523/rob.datang.pagi.hari)

JAKARTA, KOMPAS.comWarga Marunda, Jakarta Utara, dikejutkan dengan datangnya air pasang atau rob pada pukul 09.00. Padahal, biasanya, rob hanya datang pada malam atau dini hari. Untuk persiapan menghadapi banjir, Jakarta harus menambah 15 polder lagi dari 33 polder yang sudah ada sekarang.

Datangnya rob pada pagi hari kemarin benar-benar membuat warga Marunda sibuk memindahkan barang-barang rumah tangganya. Warga meninggalkan kesibukan mereka karena harus membendung air yang terus masuk dari laut.

”Biasanya air pasang datang malam hari. Eh, kok, sekarang pagi, saya jadi tidak bisa jualan,” kata Nisah (45), warga RT 003 RW 07 Marunda, Cilincing, Jakarta Utara (Jakut). Dia harus memindahkan isi rumahnya, seperti bangku, meja, pakaian, dan perabot masak.

Usman, Ketua RT 003 RW 07 Marunda, Cilincing, menjelaskan, air pasang yang datang pagi hingga siang ini memang di luar dugaan warga. ”Apalagi sekarang belum memasuki angin barat, wajar saja jika warga banyak yang panik dan terburu-buru memberesi perabotan rumahnya. Rob biasanya terjadi pada musim angin barat,” kata Usman.

Usman menambahkan, agar pihak Pemerintah Kota (Pemkot) Jakut secepatnya membuat tanggul atau dam di pesisir pantai. Tujuan agar warga Pantai Marunda tak lagi cemas dan khawatir ketika banjir rob tiba. Apalagi, sekarang ini banjir rob sulit diprediksi. Kalau dahulu warga bisa berpatokan pada bulan dan datangnya angin, sekarang ini harus selalu siap dan waspada.

———————————

Dengan kutipan berita di atas saya ingin menunjukkan bahwa Kalender Bencana dapat dibuat dengan mudah bahkan untuk skala suatu pemukiman sekali pun.

Kutipan berita di atas menunjukkan bahwa masyarakat sebenarnya telah melihat hubungan antara rob (bencana) dengan posisi bulan dan musim (hubungan bumi bulan dan matahari). Hanya mungkin mereka belum mengerti betul bagaimana kaitan antara posisi bulan dan matahari terhadap bumi, hubungannya dengan musim angin dan kedatangan rob.

Mereka sebelumnya telah mengamati kapan rob datang ke pemukiman mereka. Tetapi ketidak pahaman akan hal yang saya sebutkan di atas menyebabkan mereka berkesimpulan bahwa rob hanya datang pada malam dan dini hari.

Apa yang terjadi di kalangan penduduk Marunda itu menunjukkan bahwa secara tersirat mereka telah memiliki Kalender Bancana Rob, hanya saja, kalender itu masih berada di dalam pikiran mereka masing-masing dan belum dituliskan. Dengan sedikit menambah pemahaman mereka tentang pasang surut, saya kira mereka akan dapat membuat kalender bencana mereka sendiri dengan baik.

Salam,

Wahyu

Ditulis dalam PROSES (BENCANA) ALAM, Pasang surut, Rob | Bertanda: , , , | Leave a Comment »

9 Feb 2009, Senin, Banjir Pasang Surut Melanda Jakarta

Ditulis oleh wahyuancol di/pada Februari9, 2009

Sebagaimana telah diprakirakan kemarin, hari ini Senin tanggal 9 Febuari 2009 banjir pasang surut kembali melanda Jakarta bagian utara. Pengamatan di Ancol menunjukkan air mulai naik ke jalan sejak jam 10. Air masuk melalui saluran air. Tidak seperti biasanya, hari ini tampak jalan masuk ke kawasan wisata Ancol ditutup. Tidak ada wisatawan yang masuk.

Sementara air bergerak naik, siang ini Jakarta tertutup awan kelabu. Berangin.

Sekarang, jam 11.15, ketinggian air telah mencapai bibir taman di sekityar jalan masuk Ancol timur. Air juga menggenangi lapangan parkir Komplek Balai Samudera Ancol.

Jam 11.45, air bergerak turun.

Jam 12.10,pintu masuk kawasan wisata Ancol dibuka kembali untuk umum.

Ditulis dalam Banjir, LAPORAN PANDANGAN MATA, PROSES (BENCANA) ALAM, Pasang surut, Wilayah Pesisir | Bertanda: , , , , | Leave a Comment »

8 Feb 2009, Minggu, Banjir Pasang Surut Melanda Jakarta

Ditulis oleh wahyuancol di/pada Februari8, 2009

Hari ini, Minggu tanggal 8 Febuari 2009 Jakarta bagian utara kembali dilanda banjir pasang surut. Air mulai naik sejak jam 8 pagi. Jam 9 air sudah melanda jalan masuk ke Ancol bagian timur. Jam 10 air mulai menjamah lapangan parkir Komplek Balai Samudera Ancol. Jam 10.45 lapangan parkir itu sudah tergenang air laut. Air mengalir deras masuk dan naik melalui saluran-saluran air yang terhubung ke laut di pantai Ancol.

Sementara air bergerak naik, pagi ini di Ancol berawan, udara hangat. Di bagian selatan jakarta tampak mendung menebal. Pada jam 10.55, mendung kelabu mulai tampak menebal di atas langit Ancol.

Kalender hari ini mununjukkan tanggal 8 Febuari 2009 bertepatan dengan tanggal 12 hari bulan. Bulan purnama masih akan 3 hari lagi dan jatuh pada hari Rabu tanggal 11 Febuari 2009. Ini berarti bahwa akan terjadi banjir pasang surut yang lebih tinggi, yang terus meningkat ketinggiannya mulai hari ini, dan akan mencapai puncaknya pada Rabu tanggal 11 Febuari 2009.

Berkaitan dengan kemungkinan tersebut, kita berharap bahwa pada 3 hari kedepan hujan yang deras dan lama tidak turun di Bogor atau Jakarta. Apabila hujan itu terjadi, maka banjir pasang surut akan diperhebat oleh suplai air hujan.

Dengan terjadinya banjir pasang surut kali ini, berarti telah terjadi banjir pasang surut dalam dua purnama yang berurutan. Apakah ini berarti bahwa banjir pasang surut pasti terjadi di bagian utara Jakarta di setiap purnama? Kita masih perlu mengamatinya di waktu-waktu mendatang. Apabila benar bahwa setiap purnama banjir pasang surut melanda Jakarta, maka satu hal yang pasti bahwa subsiden telah terjadi di Jakarta dalam skala yang lebih hebat dari sebelumnya.

Apa yang perlu dilakukan sampai hari rabu nanti?

Untuk yang tinggal di daerah banjir, bersiap-siaplah dengan memindahkan barang-barang berharga anda ke tempat yang lebih tinggi.

Untuk yang tinggal di bagian kota yang lain, hindari berurusan ke bagian utara Jakarta, karena banjir dapat menyebabkan kemacetan dan mungkin anda terjebak di dalamnya.

Semoga bermanfaat.

Salam,

Wahyu

Ditulis dalam Banjir, PROSES (BENCANA) ALAM, Pasang surut, Subsiden, Wilayah Pesisir | Bertanda: , , , | 1 Komentar »

12 Jan 2009, Senin, Banjir Pasang Surut Melanda Jakarta

Ditulis oleh wahyuancol di/pada Januari12, 2009

Hari ini Senin tanggal 12 Januari 2009, bertepatan dengan tanggal 15 hari bulan. Saat ini adalah saat bulan purnama, nanti malam.

Siang ini, banjir pasang surut mulai melanda Jakarta bagian utara. Dari pengamatan di Ancol bagian timur, saat ini jam 12.42 air pasang terlihat masuk ke melalui jalan masuk  kawasan wisata pantai Ancol. Tampak air mengalir masuk melewati bagian jalan yang ditinggikan.

Hari ini Jakarta memang kelabu oleh mendung. sejak pagi.  Tadi pagi hujan sebentar dan tidak deras. Sampai jam 11 tadi udara di luar masih cukup hangat. Air yang masuk dan naik melalui jalan itu, yang kehadirannya tidak disertai hujan, menunjukkan bahwa air itu adalah air pasang dari laut yang naik.

Sekarang jam 12.46. Air laut masih terus meninggi. Kenderaan yang lewat di jalan masuk Ancol itu sudah mulai terganggu. Ketinggian air sudah mencapai mesin sepeda motor.

Banjir seperti ini pernah terjadi pada tahun 2007 yang lalu. Ketika itu air datang menyusul hujan yang turun lebat beberapa jam sebelumnya.

Sekarang ini, banjir pasang datang tanpa disertai hujan. Sementara itu, Jakarta tampak kelabu karena mendung yang menggantung. Bila saat ini turun hujan lebat, maka genangan air yang datang dari pasang surut akan ditambah dengan air yang datang dari hujan lelalui aliran sungai. Bila itu terjadi dalam dua tiga jam ini sebelum pasang menjadi surut, maka Jakarta bagian utara akan mengalami banjir yang cukup parah.

Tentang pasang surut, saat ini posisi bulan sedang berada di belahan bumi di seberang posisi Indonesia. Nanti malam, bulan purnama baru akan nampak di langit Indonesia dan akan berada di titik kulminasi tengah malam. Karena itu, dapat diprediksi bahwa banjir pasang surut yang terjadi seperti siang ini akan terulang lagi besok.

Jam 14.15

Genangan banjir mulai surut.

Banjir pasang surut yang saya lihat dari jendela ruang kerja tadi ternyata hanya terbatas pada bagian jalan yang sedikit agak rendah. Air menggenang hanya di sekitar bundaran di depan pintu masuk Ancol bagian timur. Belum sampai melanda perkantoran di sekitarnya. Meskipun demikian, kondisi yang tampaknya sepele itu bagi Ancol, bagi kawasan lain di Jakarta bagian utara mungkin lain. Hal itu karena di kawasan wisata Ancol saat ini sudah dibuat sedemikian rupa sistem drainase yang dilengkapi dengan tanggul dan rumah pompa untuk memompa air laut yang masuk ke kawasan Ancol kembali ke luar. Logikanya, di kawasan yang sudah dolengkapi dengan pompa saja masih bisa tergenang (meski sedikit), maka bagaimana dengan kawasan rendah lainnya yang tidak dilengkapi dengan pompa air?

Ah, iya. Pada bulan yang lalu, pada saat air laut pasang saya melintas di pinggir danau Ancol. Saya melihat air naik ke jalan masuk melalui saluran drainase. Pelataran pasir tergenang. Di danau itu ada tugu. Jalan yang menghubungkan tugu tersebut dengan daratan ketika itu sudah tergenang air laut yang pasang. Saya ingat. Dahulu di tahun 1978  saya pernah ke tugu itu. Masih ada kolong antara jembatan dan air danau. Sekarang, jalan penghubung itu tergenang. Siang tadi ketika air pasang naik, saya kira kawasan di sekitar danau Ancol itu kembali tergenang. Saya tidak melihatnya, dan hanya memperkirakan berdasarkan pengalaman bulan sebelumnya itu.

Lalu, apa arti dari semua itu? Logika sederhana adalah bahwa bila kita membangun sesuatu tentu kita berusaha untuk lebih tinggi dari kemungkinan genangan air. Sekarang, bila daerah tempat kita membangun itu telah tergenang air, tanggul terus dibangun dan rumah pompa air juga dibangun serta lantai lahan ditinggikan, maka artinya adalah daerah tempat kita itu telah mengalami subsiden atau penurunan permukaan tanah. Itulah yang sekarang ini terjadi di Ancol dan Jakarta bagian utara umumnya seperti di Kawasan Pelabuhan Tanjung Priok, Kawasan Perdagangan Mangga Dua, Kawasan Pelabuhan Muara Baru.

Semoga bermanfaat.

Salam,

Wahyu

Ditulis dalam Banjir, PROSES (BENCANA) ALAM, Pasang surut, Wilayah Pesisir | Bertanda: , , , , , | Leave a Comment »