Ditulis oleh wahyuancol di/pada Februari22, 2009
Bumi ini diciptakan relatif bulat. Memiliki satelit bernama Bulan. Keduanya diberi putaran yang berselisih sedikit, 50 menit.
Bumi dan Bulan bersama-sama mengelilingi matahari dalam lintasan berbentuk elip. Sumbu rotasi Bumi dibuat sedikit menyudut terhadap bidang orbit Bumi.
Semua itu dibuat agar di Bumi terjadi pergantian musim dan pergeseran serta variasi pasang surut. Agar air dan panas tersebar bergantian. Agar terjadi perubahan musim angin yang dengannya hujan ditebarkan. Agar arus laut bersirkulasi. Dengan angin dan arus benih-benih kehidupan di tebarkan di Bumi
Musim panas, dingin, semi dan gugur; Pasang dan surut; Hujan dan kering; Bulan purnama dan bulan mati; semuanya adalah cara rezeki ditebarkan di Bumi ini.
Tetapi inilah manusia.
Tanyakanlah arti empat musim pada penduduk Inggris atau Belanda atau Jepang atau China; Tanyakanlah arti pasang surut, purnama dan bulan mati pada Suku Bajo dan nelayan; Tanyakanlah arti hujan dan kekeringan kepada penduduk daerah tropis. Tanya arti panas pada petani tembakau; tanya arti hujan pada pak Tani di sawah.
Ketika kedinginan di musim dingin, kita menginkan panas; Ketika banjir di musim hujan kita mendambakan panas.
Sebaliknya, ketika panas kita merindukan dingin; ketika kering kerontang kita merindukan hujan yang lebat.
Untung Tuhan tidak mengikuti kehendak manusia.
Ditulis dalam Alam Semesta, Cara Bumi di Hidupkan | Bertanda: Angin, Arus, Bulan, Bumi, Manusia, Matahari, Musim, Rezeki, Tuhan | 1 Komentar »
Ditulis oleh wahyuancol di/pada September20, 2008
Bumi berbentuk oblate spheroid, yang berarti diameter ekuator lebih panjang daripada diameter kutub. Bumi berrotasi pada sumbunya dari barat ke timur, dan Bumi berrevolusi mengelilingi Matahari dengan orbit yang berbentuk ellips. Pada titik terdekat – yang disebut perihelion, jarak Bumi dan Matahari 147.000.000 km dan terjadi pada bulan Juli, sedang pada titik terjauh – yang disebut aphelion, berjarak 150.000.000 km dan terjadi pada bulan Januari. Fakta lain adalah bahwa sumbu rotasi Bumi membentuk sudur 23,5o terhadap bidang orbit Bumi.
Bentuk bumi bulat menyebabkan penyerapan radiasi sinar Matahari oleh Bumi berkurang sesuai dengan perubahan posisi lintang dari ekuator ke kutub (Gambar 8). Selanjutnya, posisi sumbu rotasi Bumi yang menyudut 23,5o terhadap bidang orbit Bumi menyebabkan terjadinya variasi penyinaran tahunan di permukaan Bumi (Gambar 9). Variasi pemanasan Bumi ini mengendalikan sirkulasi samudera dan atmosfer, dan juga siklus hidrologi.

Gambar 8. Variasi intersitas penyinaran Matahari terhadap permukaan Bumi sebagai akibat dari perbedaan posisi lintang. Perbedaan intersitas penyinaran itu menyebabkan perbedaan energi panas dari Matahari yang diterima oleh Bumi sesuai dengan posisi lintang suatu tempat di permukaan Bumi. Sumber: Berner dan Berner (1987).

Gambar 9. Gerak revolusi Bumi terhadap matahari dan posisi sumbu rotasi Bumi yang membentuk sudut 23,5o terhadap bidang orbit Bumi menyebabkan perubahan musim sepanjang tahun. Sumber: Berner dan Berner (1987).
Sirkulasi atmosfer adalah konsekuensi dari ketidakseimbangan panas di permukaan Bumi yang terjadi karena perbedaan intensitas penyinaran yang telah dibicarakan di atas, dan gerak rotasi Bumi. Gambaran umum sirkulasi atmosfer yang menunjukkan angin rata-rata tahunan disajikan dalam Gambar 10.

Gambar 10. Gambaran umum sirkulasi atmosfer. Sumber: Berner dan Berner (1987).
Kembali Terus
Ditulis dalam Cara Bumi di Hidupkan | Bertanda: Intensitas Penyinaran Matahari, Matahari, Rotasi Bumi, Siklus hidrologi, Sirkulasi Atmosfer, Sirkulasi Samudera, Sistem Bumi | 3 Komentar »
Ditulis oleh wahyuancol di/pada Juni21, 2008
Keterkaitan antar Siklus
Gambaran hubungan antara siklus hidrologi, siklus batuan dan siklus tektonik dapat dilihat pada Gambar 7. Interaksi semacam itu telah berlangsung secara terus menerus sejak di Bumi terdapat air laut sekitar 4 milyar tahun yang lalu.

Gambar 7. Keterkaitan antara siklus hidrologi, siklus batuan dan siklus tektonik. Sumber: Skinner dan Porter (2000).
Hal yang penting dari interaksi ketiga siklus tersebut adalah gambaran tentang bagaimana material bergerak dari satu reservoir ke reservoir yang lain dan proses-proses yang menggerakkannya. Selain itu, ketiga siklus tersebut juga memperlihatkan bagaimana peranan energi panas yang berasal dari bagian dalam Bumi dan dari Matahari berperanan dalam menggerakkan suatu proses dan memindahkan material dari satu reservoir ke reservoir yang lain.
Kembali Terus
Ditulis dalam Cara Bumi di Hidupkan | Bertanda: Bumi, Energi panas, Gerakan material, Matahari, Siklus Batuan, Siklus hidrologi, Siklus Tektonik | Leave a Comment »
Ditulis oleh wahyuancol di/pada Juni21, 2008
Siklus batuan menggambarkan seluruh proses yang dengannya batuan dibentuk, dimodifikasi, ditransportasikan, mengalami dekomposisi, dan dibentuk kembali sebagai hasil dari proses internal dan eksternal Bumi. Siklus batuan ini berjalan secara kontinyu dan tidak pernah berakhir. Siklus ini adalah fenomena yang terjadi di kerak benua (geosfer) yang berinteraksi dengan atmosfer, hidrosfer, dan biosfer dan digerakkan oleh energi panas internal Bumi dan energi panas yang datang dari Matahari.
Kerak bumi yang tersingkap ke udara akan mengalami pelapukan dan mengalami transformasi menjadi regolit melalui proses yang melibatkan atmosfer, hidrosfer dan biosfer. Selanjutnya, proses erosi mentansportasikan regolit dan kemudian mengendapkannya sebagai sedimen. Setelah mengalami deposisi, sedimen tertimbun dan mengalami kompaksi dan kemudian menjadi batuan sedimen. Kemudian, proses-proses tektonik yang menggerakkan lempeng dan pengangkatan kerak Bumi menyebabkan batuan sedimen mengalami deformasi. Penimbunan yang lebih dalam membuat batuan sedimen menjadi batuan metamorik, dan penimbunan yang lebih dalam lagi membuat batuan metamorfik meleleh membentuk magma yang dari magma ini kemudian terbentuk batuan beku yang baru. Pada berbagai tahap siklus batuan ini, tektonik dapat mengangkat kerak bumi dan menyingkapkan batuan sehingga batuan tersebut mengalami pelapukan dan erosi. Dengan demikian, siklus batuan ini akan terus berlanjut tanpa henti (Gambar 5).

Gambar 5. Siklus batuan. Menggambarkan proses yang menyebabkan batuan berubah dari satu bentuk ke bentuk yang lain dan ditransportasikan. Sumber: Skinner dan Porter (2000)
Kembali Terus
Ditulis dalam Batuan, Cara Bumi di Hidupkan | Bertanda: Atmosfer, Batuan beku, Batuan metamorfik, Batuan sedimen, BIOSFER, Deformasi, Dekomposisi, Energi panas, Erosi, Geosfer, HIDROSFER, Magma, Matahari, Pelapukan batuan, Regolit, Siklus Batuan, Tektonik | 1 Komentar »
Ditulis oleh wahyuancol di/pada Juni17, 2008
Siklus hidrologi adalah fenomena yang terutama terjadi di atmosfer dan digerakkan oleh panas dari Matahari yang menguapkan air dari samudera dan daratan (Gambar 4A). Uap air yang dihasilkan bergerak naik masuk ke atmosfer dan kemudian bergerak bersama aliran udara. Dalam perjalanannya bersama aliran udara, beberapa bagian uap air mengalami kondensasi dan kemudian mengalami presipitasi dalam bentuk hujan atau salju dan kembali ke samudera atau daratan Gambar 4B. Air hujan yang jatuh ke daratan dapat mengalir masuk kedalam aliran sungai, meresap ke dalam tanah, atau menguap kembali ke udara untuk bergerak kembali dalam siklus. Sebagian air yang di dalam tanah diserap oleh tanaman, dan kemudian mengembalikan air itu ke atmosfer melalui daun dengan proses transpirasi. Salju dapat tetap berada di daratan selama satu atau dua musim dan bisa lebih lama hingga mencair dan airnya mengalir meninggalkan salju. Berbagai reservoir dan alur pergerakan air dalam siklus hidrologi adalah seperti pada Gambar 4C.

Gambar 4A. Siklus hidrologi (panah abu-abu) dan energi Matahari (panah putih). Sumber: Ingmanson dan Wallace (1985).

Gambar 4B. Siklus hidrologi dan transfer material tahunan. Sumber: Duxbury et al. (2002).

Gambar 4C. Siklus hidrologi. Menggambarkan proses dan pergerakan air dari reservoir satu ke reservoir yang lain. Sumber: Skinner dan Porter (2000).
Kembali Terus
Ditulis dalam Air, Alam Semesta, Cara Bumi di Hidupkan | Bertanda: Aliran sungai, Atmosfer, Hujan, Kondensasi, Matahari, Presipitasi, Samudera, Siklus hidrologi | 1 Komentar »