Kepulauan Indonesia

Cerita dari, untuk dan tentang Kepulauan Indonesia beserta Penghuni dan Penduduknya

Tulisan terkirim dikaitan (tagged) ‘Manusia’

Banjir 2 (dimensi manusia)

Ditulis oleh wahyuancol di/pada November1, 2009

Secara alamiah, banjir adalah proses alam yang biasa dan merupakan bagian penting dari mekanisme pembentukan dataran di Bumi kita ini. Melalui banjir, muatan sedimen tertransportasikan dari daerah sumbernya di pegunungan atau perbukitan ke daratan yang lebih rendah, sehingga di tempat yang lebih rendah itu terjadi pengendapan dan terbentuklah dataran. Melalui banjir pula muatan sedimen tertransportasi masuk ke laut untuk kemudian diendapkan diendapkan di tepi pantai sehingga terbentuk daratan, atau terus masuk ke laut dan mengendap di dasar laut. Banjir yang terjadi secara alamiah ini sangat ditentukan oleh curah hujan.

Perlu benar kita sadari bahwa banjir itu melibatkan air, udara dan bumi. Ketiga hal itu hadir di alam ini dengan mengikuti hukum-hukum alam tertentu yang selalu dipatuhinya. Seperti: air mengalir dari atas ke bawah, apabila air ditampung di suatu tempat dan tempat itu penuh sedang air terus dimasukkan maka air akan meluap, dan sebagainya.

Tetapi, manusia dapat juga menyebabkan banjir.

Bila air hujan turun dan sampai di permukaan Bumi, sebagian air itu meresap ke dalam tahan dan membentuk  air tanah, sebagian lainnya mengalir di permukaan tanah sebagai aliran permukaan yang secara umum terekspresikan sebagai aliran sungai, dan sebgaian kecil menguap kembali. Secara alamiah, pada waktu-waktu tertentu, ketika curah hujan sangat tinggi di musim hujan, aliran air permukaan menjadi sangat besar memebihi kapasitas alur sungai sehingga tidak dapat tersalurkan dengan baik melalui aliran sungai. Air meluap dan terjadilah apa yang kita sebut banjir.

Aliran permukaan = curah hujan – (peresapan air + penguapan air)

Besarnya curah hujan dan penguapan air di suatu kawasan adalah faktor yang ditentukan oleh kondisi alam dan manusia tidak dapat mempengaruhinya. Manusia hanya dapat mempengaruhi peresapan air ke dalam tanah.

Peresapan air ke dalam tanah ditentukan oleh faktor-faktor berikut ini:

  1. Kondisi tanah. Tanah berpasir yang gembur lebih mudah menyerap air daripada tanah yang banyak mengandung lempung. Untuk faktor ini, manusia dapat mengurangi peresapan air melalui cara pemadatan tanah, atau menutup permukaan tanah dengan material yang kedap air seperti menutup permukaan tanah dengan semen.
  2. Kondisi permukaan tanah. Permukaan tanah yang ditumbuhi rumbut atau belukar lebih banyak menyerap air daripada tanah yang tanpa rumput/belukar atau rumput/belukarnya jarang. Manusia dapat mempengaruhi faktor ini dengan cara memelihara rumput/belukar, atau menghilangkan rumput/belukar.
  3. Besarnya kemiringan lereng permukaan tanah. Tanah dengan sudut kemiringan lereng yang lebih kecil lebih  mudah menyerap air daripada tanah dengan sudut kemiringan lereng lebih besar. Manusia dapat mempengaruhi faktor ini mengurangi kemiringan lereng, seperti dengan membuat lahan berteras.
  4. Vegetasi penutup. Tanah yang banyak ditumbuhi pohon lebih banyak menyerap air daripada tanah sedikit atau tidak ditumbuhi pohon. Manusia dapat mempengaruhi faktor ini dengan menanam atau memelihara pohon untuk mengurangi aliran permukaan, atau menebang pohon yang dapat meningkatkan aliran permukaan.

Perlu kita ingat bahwa ke-empat faktor tersebut tidak berdiri sendiri, melainkan dapat berkaitan satu sama lain. Sebagai contoh: apabila kita memiliki lahan yang berlereng dan kita ingin meningkatkan banyaknya air yang meresap di lahan itu atau mengurangi aliran permukaan, maka kita dapat melakukannya dengan menanaminya dengan pohon-pohon atau membuatnya berteras-teras. Contoh sebaliknya, apabila ada lahan miring bervegetasi, seperti lereng gunung yang berhutan, jumlah air yang mengalir sebagai air permukaan akan meningkat apabila kita menebang pohon-pohon itu. Pada contoh yang terakhir inilah, maka banjir tidak lagi murni alamiah, tetapi telah dipengaruhi oleh campur tangan manusia.

Manusia dapat memilih takdirnya.

Karena manusia dapat mempengaruhi debit aliran permukaan dan dapat mempelajari karakter aliran sungai, maka berkaitan dengan banjir kita dapat mengatakan bahwa manusia dapat memilih takdirnya sendiri.

Apabila kita tidak ingin terkena banjir maka perlu melakukan hal-hal berikut ini:

  1. Jangan bertempat tinggal di daerah yang secara alamiah merupakan tempat penampungan air bila aliran sungai meluap, seperti di dataran tepi sungai yang akan dilalui oleh air sungai bila debitnya meningkat, di dataran banjir di sepanjang aliran sungai yang akan digenangi air bila air sungai meluap ketika curah hujan tinggi di musim hujan, atau di rawa-rawa.
  2. Jangan merusak hutan di daerah peresapan air di pegunungan atau perbukitan, karena lahan yang terbuka akan meningkatkan aliran permukaan yang menyebabkan banjir di waktu yang sebenarnya tidak terjadi banjir, atau memperhebat banjir yang biasanya terjadi.
  3. Menjaga alur tetap baik sehingga aliran air sungai  lancar. Alur sungai yang menyempit atau terbendung akan menyebabkan banjir.
  4. Untuk daerah pemukiman atau perkotaan, kita harus menjaga saluran drainase agar tetap baik dan tidak tersumbat sehingga dapat berfungsi sebagaimana mestinya menyalurkan air hujan yang turun atau menyalurkan aliran permukaan ke sungai-sungai atau saluran yang lebih besar.

Itulah hal-hal yang perlu dilakukan agar manusia tidak terkena banjir atau memilih takdirnya untuk tidak kena banjir.

Perlu Kerjasama.

Untuk dapat memilih takdir tidak terkena banjir, manusia tidak dapat berdiri sendiri, melainkan harus bekerjasama. Skala kerjasama bisa dalam satu komplek pemukiman, satu kota, satu DAS (Daerah Aliran Sungai) dan bahkan harus seluruh umat manusia.

Kerjasama seluruh umat manusia di bumi ini diperlukan untuk dapat menghadapi banjir yang disebabkan oleh perubahan iklim global. Dengan kata lain, diperlukan kerjasama internasional untuk menghadapinya.

Kerjasama seluruh manusia yang tinggal di suatu DAS diperlukan untuk dapat mengatasi masalah banjir yang melibatkan suatu sistem tata air yang melibatkan suatu DAS.

Untuk banjir yang terjadi di suatu kawasan pemukiman atau kota karena buruknya drainase, maka perlu kerjasama seluruh penghuni pemukiman atau kota tersebut dalam arti yang seluas-luasnya, baik itu kerjasama antar anggota masyarakat, kerjasama antara masyarakat dan pemerintah, dan kerjasama antar instansi pemerintah, serta kerjasaman antara eksekutif, legislatif dan yudikatif. Misalnya: apabila masyarakat dihimbau tidak membuang sampah sembarangan, tentu pemerintah harus menyediakan tempat pembuangan sampah yang memadai dan selalu mengangkutnya ke TPA (Tempat Pembuangan Akhir); bila DinasKebersihan membutuhkan tambahan armada pengangkut sampah maka Pemerintah harus memenuhinya; dan sebagainya.

Penutup

Sebagai penutup, perlu kita ingat bahwa banjir adalah proses alam dan manusia dapat mempengaruhi kejadiannya. Dengan pengetahuannya, manusia dapat memilih takdirnya untuk kena banjir atau tidak kena banjir. Dalam memilih takdirnya itu, manusia perlu bekerjasama. Skala kerjasama yang diperlukan disesuaikan dengan skala persoalan yang dihadapi.

Semoga bermanfaat.

Salam,

Wahyu

Ditulis dalam Air, B, Banjir, GLOSARIUM, HIDROSFER, PROSES (BENCANA) ALAM | Bertanda: , , , , , , , , , , , | Leave a Comment »

Memahami Proses Penciptaan 3: Partikel elementer dan material organik

Ditulis oleh wahyuancol di/pada September3, 2009

Pada kesempatan sebelumnya, kita telah berbicara tentang partikel elementer dan alam semesta. Sekarang kita coba berbicara tentang partikel elementer dan material organik.

————————-

Material Organik

Di dalam ilmu kimia, orang membedakan antara senyawa organik dan inorganik. Perbedaan awal antara senyawa organik dan inorganik itu didasarkan pada kepercayaan bahwa molekul-molekul dari sistem yang hidup (living system, organisme) adalah unik dan tidak dapat disintesis atau diciptakan di dalam laboratorium. Sekarang, pendapat itu tidak dapat diterima, karena sekarang di dalam industri manufaktur menghasilkan senyawa organik baik dalam riset maupun industri obat-obatan adalah hal yang rutin dilakukan. Memang, secara alamiah, molekul-molekul organik dihasilkan oleh sistem yang hidup.

Senyawa organik adalah senyawa kimia yang mengandung karbon yang memiliki kelompok fungsional.

Di dalam ilmu kimia, sejumlah kecil atom di dalam suatu susunan dapat menentukan sifat-sifat kimia dari suatu kelompok senyawa kimia dan sifat-sifat molekul dimana atom itu bergabung. Kelompok senyawa itu adalah kelompok fungsional (functional groups). Misalnya, group carboxyl COOH, atau group amine NH2.

Material organik dapat didefinisikan sebagai senyawa kimia yang merupakan rantai karbon dan mengandung hidrogen dengan atau tanpa oksigen, nitrogen atau unsur-unsur lain.

Penyusun Tubuh Manusia

Tubuh manusia terutama tersusun oleh empat unsur atau elemen utama, yaitu hidrogen (H), oksigen (O), karbon (C), dan nitrogen (N). Kombinasi dari unsur-unsur kimia itulah yang menentukan atau membentuk berbagai komponen tubuh manusia.

Komponen penyusun tubuh manusia adalah:

  1. Air (H2O), sebanyak 98-99%.
  2. Lemak atau Lipid, dominan tersusun oleh H dan C.
  3. Protein, merupakan senyawa yang tersusun oleh C, H, O, N, S dan unsur-unsur lain.
  4. Karbohidrat, pemberi energi bagi sel, tersusun oleh C, H dan O.
  5. Nucleic Acid adalah penyimpan, penyalur dan pengekspresi informasi genetik. Nucleic acid tersusun oleh sub-unit yang disebut nucleotide yang mengandung satu group fosfat, satu gula dan satu ring atau rantai karbon dan atom nitrogen.

Uraian tentang tubuh manusia ini juga mewakili gambaran tentang hewan.

Penyusun Tumbuhan

Kayu bukan senyawa kimia tunggal, tetapi memiliki berbagai struktur. Semua struktur tersebut dikenal sebagai senyawa organik yang sebagian besar adalah karbon (C), hidrogen (H) dan oksigen (O).

Kayu sebagian besar adalah selulose. Selulose adalah karbohidrat yang tersusun oleh C, H dan O.

———————————

Dari uraian di atas jelas bahwa, senyawa organik atau material organik penyusun tubuh manusia dan hewan serta tumbuhan tersusun oleh unsur-unsur atom yang merupakan bagian unsur-unsur atom yang kita kenal dalam Sistem Periodik atau Susunan Berkala unsur kimia. Unsur-unsur yang dominan adalah C, H, O, N, S dan P.

Dengan demikian, kita pun dapat mengatakan bahwa tumbuhan, hewan dan manusia juga berasal dari partikel elementer, sebagaimana halnya dengan mineral dan batuan serta Bumi yang telah kita bicarakan sebelumnya.

Akhirnya, kembali kita dapat bertanya: siapa yang memberikan potensi kepada atom-atom itu dan mengendalikannya untuk membentuk senyawa organik? Tidak mungkin kan semua itu terjadi secara kebetulan?

Demikian hubungan antara partikel elementer dan material organik.

Semoga bermanfaat.

Selamat berpuasa.

Salam,

Wahyu

Ditulis dalam Alam Semesta | Bertanda: , , , , , , , , , , , , , , | 2 Komentar »

Manusia dan Bencana Alam

Ditulis oleh wahyuancol di/pada Mei8, 2009

Bagaimana sikap manusia terhadap bencana alam?

Pertanyaan itu sering menggelitik setiap kali mengetahui telah terjadi suatu bencana yang menyebabkan kehilangan harta maupun jiwa. Beberapa waktu setelah bencana terjadi orang sibuk memberikan pertolongan, dan sebagian sibuk memberikan analisis tentang sebab-sebab kejadian tersebut, dan kemudian sering diikuti saling menyalahkan.

Tetapi, manusia kadang juga bersikap aneh. Sebelum bencana terjadi, sering peringatan telah diberikan, bukti-bukti yang nyata juga telah dipaparkan, dan analisis tentang kemungkinan terjadinya bencana dan kerugian yang akan ditimbulkan juga telah sangat jelas. Namun semua itu sering kali tidak ditanggapi dengan memadai, seakan masehat yang masuk dari telinga kiri dan keluar dari telinga kanan.

Tentang hal ini ada satu contoh, yaitu tentang masalah bencana tsunami. Setelah peristiwa tsunami tanggal 26 Desember 2004, perhatian kita semuanya tertuju pada tsunami, dan pemerintahpun sangat mendukung berbagai program yang berkaitan dengan tsunami. Sebelum kejadian bencana tersebut, tidak ada perhatian yang cukup tentang tsunami. Kira-kira dua tahun sebelumnya, yaitu pada tanggal 18-19 Maret 2002, di Bandung diadakan Workshop tentang Tsunami dengan tema “Tsunami Risk and Its Reduction in the Asia – Pacific Region” yang diselenggarakan oleh Universitas Kyoto-ITB-BMG. Ketika itu, acara itu dapat dikatakan sangat sepi, dihadiri oleh kurang dari seratus orang peserta yang terus menyusut ketika acara berlangsung. Tidak ada pemberitaan di media massa. 

Pada kasus bencana erupsi letusan gunungapi pun demikian. Sulit sekali meyakinkan penduduk untuk mau mengungsi hanya dengan informasi tentang kemungkinan bahaya. Tetapi, semuanya mudah dilakukan setelah bencana nyata di depan mata. Sebagai contoh, ketika erupsi lutusan Gunung Merapi di Yogyakarta tahun 2007.

Kondisi semacam itu nampaknya khas untuk manusia. Bukan hanya di Indonesia, tetapi juga di berbagai negara lain di dunia. Salah satu contoh, seperti ketika erupsi Gunung De Colima tahun 1998-2000.

Berikut ini salah satu contoh kasus yang sedang terjadi di Bandung sebagaimana dituturkan oleh Prof. R.P. Koesoemadinata dalam emailnya di IAGI-net, yang saya kutip dengan izin beliau.

Ini saya sekarang ini menghadapi masalah sosial dalam hal antisipasi
bencana.

Di desa rumah kami jalannya menyisir gawir, dan jalan ini asalnya jalan desa
yang kemudian diaspal sekitar 30 tahun yang lalu. Lalu lintas makin ramai
saja, dan terutama terjadi parkir mobil disisi tebing tamu cafe-cafe yang
menjamur disini, dan truk2 yang bawa material bangunan.

Sudah agak lama jalan sudah retak-retak tanda-tanda mau longsong, dan sudah lama saya laporkan ke kepala desa. Sebulan yang lalu terjadi longsor kecil, saya tulis surat peringatan akan adanya bahaya longsong ke Kepala Desa dengan tembusan ke Camat dan Kepala Dinas PU Kabupaten, Bandung dan Kepala Pusat Mitigasi Bencana Alam.

Beberapa kali dilakukan rapat dengan dengan Camat, Polsek, dengan warga setempat lainnya, pemilik cafe, dan 2 orang professsor (bayangkan katanya pertama kali ada rapat desa dihadliri professor, 2-nya dari ITB lagi). Namun walaupun disadari oleh rapat bahkan diputuskan supaya dilarang parkir sepanjang tebing dan juga membatasi truk yang lewat, sampai kini tidak ada tindakan apa-apa dari Kepala Desa (mungkin takut kehilangan uang parkir?), seolah-olah tidak ada apa-apa. Padahal terjadi rempag lagi di badan
jalan, walaupun kecil. Kalau terjadi longsor besar mungkin seluruh badan
jalan akan kena, karena jalan ini buntu saya mungkin tidak bisa keluar.
Daerahnya sendiri saya nilai cukup aman, tidak pernah ada longsor yang
terjadi secara alami, longsor terjadi kalau orang bikin tembok tinggi dan
diisi tanah (cut and fill).

Inilah mentalitas kita dalam menghadapi bencana, “kumaha engke” bae daripada “engke kumaha”. Tetapi mentalitas ini juga ternyata didapatkan di penduduk California (menurut suatu film dokumenter entah di Discovery Channel atau National Geographic), di mana orang tetap membangun rumah-rumah mewah senilai sampai jutaan dollar di daerah yang sudah terbukti rawan longsor, gempa dan kebakaran hutan.

Demikian gambaran tentang sikap manusia terhadap bencana alam. Nampaknya, manusia sulit diyakinkan akan terjadinya bencana sebelum bencana itu benar-benar terjadi dan menimpa dirinya.

Mungkinkan itu naluri manusia untuk mati?

Salam,

Wahyu

Ditulis dalam Manusia | Bertanda: , , , | Leave a Comment »

Erosi 3 (dimensi manusia)

Ditulis oleh wahyuancol di/pada Maret3, 2009

Kali ini kita coba lihat dimensi atau faktoir manusia yang berkaitan dengan erosi.

Erosi dapat berkaitan dengan manusia dalam 2 hal. Pertama berkenaan dengan pencetusan erosi atau peningkatan intensitas atau laju erosi, dan Ke-dua berkaitan dengan dampak erosi.

Telah sama kita ketahui bahwa sebagai suatu proses alam, erosi pasti terjadi. Untuk dapat terjadinya erosi, tentu harus terpenuhinya kondisi-kondisi alamiah tertentu. Campur tangan manusiua terhadap proses erosi terada pada tataran pengubahan kondisi-kondisi yang menjadi prasayarat bagi berlangsungnya erosi.

Sebagai Pencetus

Campurtangan manusia dapat terjadi dalam bentuk menghadirkan kondisi prasyarat terjadinya erosi. Dengan campur tangan manusia, di daerah yang semula tidak ada erosi, menjadi ada erosi; daerah yang semula erosi ringan jadi erosi berat; daerah yang semula laju erosinya pelan menjadi lebih cepat. Misalnya, membuat lereng lebih curam (tebing jalan), membuat kekuatan aliran air terkonsentrasi di suatu tempat (pengaturan drainase), mengurangi atau menghilangkan hal-hal yang menghambat aliran air (penebangan hutan).

Dalam hal manusia sebagai penyebab erosi, hal ini dapat terjadi karena dua hal: (1) karena ketidaktahuan, dan (2) karena ketidakpedulian dengan kerusakan lingkungan. Untuk kondisi yang pertama, dapat diatasi dengan pendidikan atau pengajaran. Untuk kondisi yang kedua diperlukan penegakan hukum. 

Sebagai Korban

Proses erosi dapat merugikan kepentingan manusia. Dalam hal ini kita dapat menyebut manusia sebagai korban. Macam-macam kerugian yang dapat dialami manusia karena erosi seperti: kehilangan tanah yang subur (erosi menghilangkan lapisan permukaan tanah, pada erosi permukaan), mengalami kerusakan lahan (lahan menjadi tertoreh-toreh oleh erosi riil atau gully di daerah berlereng, bad land topography), kehilangan lahan secara fisik (lahan benar-benar hilang tererosi, pada kasus erosi lateral di tepi aliran sungai atau di tepi pantai).

Kemudian, pada tingkat diatasnya, manusia mengalami kerugian karena kehilangan atau kerusakan segala sesuatu atau aset yang ada di atas lahan yang tererosi itu, seperti kehilangan kebun, pemukiman, jalan, dan berbagai macam objek lainnya yang dibangun di atas lahan yang tererosi itu.

Dalam hal manusia sebagai korban erosi, tentu manusia selalu berupaya untuk menghindar atau berusaha mengatasi proses erosi itu. Upaya untuk mengatasi mkasalah erosi bukanlah pekerjaan sederhana yang ringan, melainkan pekerjaan yang rumit dan berbiaya tinggi. Olah karena itu, upaya penanggulangan masalah erosi ini dilakukan oleh Pemerintah atau masyarakat berdasarkan pertimbangan nilai kerugian yang mungkin timbul karena erosi bila erosi itu terjadi di suatu kawasan. Sebagai contoh, bila erosi mengancan jalan raya, maka upaya penanggukangan pasti dilakukan. Seperti di daerah Eretan, Indramayu. Erosi pantai mengancam jalan Pantura yang vital, maka di sepanjang pantai dipasang pertahanan pantai.

 

Demikian. Semoga bermanfaat.

Salam,

Wahyu

Ditulis dalam E, Erosi | Bertanda: , , | Leave a Comment »

Untung Tuhan Tidak Mengikuti Kehendak Manusia

Ditulis oleh wahyuancol di/pada Februari22, 2009

Bumi ini diciptakan relatif bulat. Memiliki satelit bernama Bulan. Keduanya diberi putaran yang berselisih sedikit, 50 menit.

Bumi dan Bulan bersama-sama mengelilingi matahari dalam lintasan berbentuk elip. Sumbu rotasi Bumi dibuat sedikit menyudut terhadap bidang orbit Bumi.

Semua itu dibuat agar di Bumi terjadi pergantian musim dan pergeseran serta variasi pasang surut. Agar air dan panas tersebar bergantian. Agar terjadi perubahan musim angin yang dengannya hujan ditebarkan. Agar arus laut bersirkulasi. Dengan angin dan arus benih-benih kehidupan di tebarkan di Bumi

Musim panas, dingin, semi dan gugur; Pasang dan surut; Hujan dan kering; Bulan purnama dan bulan mati; semuanya adalah cara rezeki ditebarkan di Bumi ini.

Tetapi inilah manusia.

Tanyakanlah arti empat musim pada penduduk Inggris atau Belanda atau Jepang atau China; Tanyakanlah arti pasang surut, purnama dan bulan mati pada Suku Bajo dan nelayan; Tanyakanlah arti hujan dan kekeringan kepada penduduk daerah tropis. Tanya arti panas pada petani tembakau; tanya arti hujan pada pak Tani di sawah.

Ketika kedinginan di musim dingin, kita menginkan panas; Ketika banjir di musim hujan kita mendambakan panas.

Sebaliknya, ketika panas kita merindukan dingin; ketika kering kerontang kita merindukan hujan yang lebat.

Untung Tuhan tidak mengikuti kehendak manusia.

Ditulis dalam Alam Semesta, Cara Bumi di Hidupkan | Bertanda: , , , , , , , , | 1 Komentar »