Kepulauan Indonesia

Cerita dari, untuk dan tentang Kepulauan Indonesia beserta Penghuni dan Penduduknya

Posts Tagged ‘kebenaran ilmiah’

Penyebab Semburan Lumpur Sidoarjo: Kebenaran ilmiah?

Posted by wahyuancol pada November1, 2008

Sampai hari ini, semburan lumpur Sidoarjo masih terus berlangsung dan tidak dapat diperkirakan kapan akan berhenti. Sementara penyelesaian terhadap tuntutan ganti kerugian yang timbul karena genangan lumpur tersebut belum jelas ujungnya, debat tentang penyebab semburan lumpur itu pun terus berlanjut. Debat berlangsung dalam forum nasional maupun internasional, dalam forum formal berupa seminar maupun informal dalam mail-list, di dalam jurnal-jurnal ilmiah, bahkan di pengadilan.

Dua Pendapat

Sampai sekarang, setelah dua setengah tahun berdebat, belum ada kesatuan pendapat dari pihak-pihak yang berdebat, dan pendapat tentang asal semburan lumpur tersebut secara garis besar terbagi menjadi dua, yaitu: (1) yang mempercayai bahwa semburan itu adalah bencana alam yang dipicu oleh Gempa Yogyakarta pada tanggal 27 Mei 2006, dan (2) yang mempercayai bahwa semburan itu terjadi karena kesalahan dalam kegiatan pemboran Sumur Banjarpanji-1.

Dari sudut pandang hukum, mengetahui mana penyebab semburan lumpur itu penting, karena akan berkonsekuensi pada penentuan siapa yang harus bertanggungjawab terhadap kerugian yang timbul karena genangan lumpur tersebut.

Di pihak lain, dari sudut pandang ilmiah, mengetahui penyebab semburan lumpur yang benar juga penting, karena dapat menjadi pejaran agar kesalahan serupa tidak terulang lagi.

Voting

Pada tanggal 28 oktober 2008 yang lalu, dalam pertemuan AAPG di Capetown, Afrika Selatan, juga dilakukan debat tentang penyebab semburan lumpur itu. Yang menarik dari debat itu adalah, debat diakhiri dengan “voting” tentang apa penyebab semburan lumpur itu. Kepada para hadirin diberikan empat pilihan: (1) Gempa sebagai pemicu, (2) Pengeboran sebagai pemicu, (3) kombinasi gempa dan pemboran sebagai pemicu, dan (4) baik gempa maupun pengeboran tidak meyakinkan (inconclusive).

Hasil dari voting itu adalah, 3 orang memilih gempa sebagai pemicu, 42  pemboran, 13 kombinasi, dan 16 inconclusive.

Mana yang Benar secara ilmiah?

Apa yang terjadi di dalam forum AAPG di Capetown itu telah menjadi pembicaraan yang hangat dan seru di iagi-net. Pembicaraan via mail-list itu mempertanyakan keabsahan penentuan kebenaran ilmiah melalui voting. “Science is not democracy.” Kebenaran ilmiah tidak dapat ditentukan dengan voting melainkan dengan fakta-fakta yang mendukungnya. Dan, akhirnya diskusi mengarah pada pertanyaan tentang “Apa itu kebenaran ilmiah?”

Kebenaran Ilmiah

Berikut ini saya kutipkan apa yang ditulis oleh Prof. R.P. Koesoemadinata dalam iagi-net pada tanggal 31 Oktober 2008, dengan sedikit editing yang tidak merubah makna dari tulisan itu.

Apakah sebenarnya yang dinamakan kebenaran ilmiah? Walaupun science berusaha untuk mencapai kebenaran hakiki, namun pada hakekatnya kebenaran ilmiah adalah sesaat tergantung pada data-data hasil pengamatan yang ada pada waktu itu. Ini sudah masuk pada realm Philosophy of Science. Sebagaimana dikatakan Karl Popper, seorang science philosopher/historian, semua teori ilmiah akan tumbang pada sesuatu waktu dan akan digantikan oleh teori baru, karena science yang sehat harus selalu berusaha (mengatasi) apa yang dia namakan sebagai ‘falsification’. Pelaku science harus terus menerus selalu berusaha menjatuhkan/menyalahkan (falsification) teori yang berlaku.  Thomas S. Kuhn, (1962) seorang ahli fisika dan history of science terkenal dengan  dengan bukunya “The Structure of Scientific Revolutions” dan pencetus istilah “paradigm” juga mengemukakan hal yang serupa, bahkan pada perioda apa yang dinamakannya sebagai ‘normal science’ terdapat selain teori, tetapi juga suatu paradigm suatu set cara-cara dan metoda2 yang diterima oleh masyarakat ilmiah sebagai kebenaran.

Dengan demikian dalam science apa yang dianggap benar itu adalah teori ataupun ‘fakta’ yang dapat diterima oleh majoritas masyarakat ilmiah, bukan absolute truth. Jadi suatu teori atau gejala yang terus menerus muncul dan digunakan serta dikutip dalam publikasi ilmiah itulah yang dianggap benar karena telah diterima oleh masyarakat. Banyak teori yang menarik seperti kepunahan masal yang disebabkan benturan meteor atau juga disebut ‘neo-catastrophism’ kelihatannya belum terlihat dalam majalah-majalah ilmiah seperti AAPG, GSA, Geological Society, dan kelihatannya belum diterima oleh masyarakat ilmiah  walaupun sudah banyak ditayangkan di National Geographic dan Discovery Channel.

Jadi suatu kebenaran ilmiah adalah sesuatu yang dapat diterima oleh majoritas masyarakat ilmiah pada suatu saat. Maka metoda jajak pendapat (voting) di antara para ahli adalah sah-sah saja untuk mengetahui pendapat yang didukung oleh majoritas sekelompok pakar yang terkemuka. Dalam hal perdebatan ilmiah tentu saja tidak bisa polling dilakukan terhadap khalayak ramai yang awam akan ilmu yang diperdebatkan, tentu harus terhadap pakar yang mengikutinya.  Sebaliknya saya kira suatu keputusan yang dikeluarkan oleh suatu instansi atau hasil suatu seminar sekelompok pakar yang terpilih/pantia perumus tidak dapat serta merta dinyatakan sebagai kebenaran ilmiah. Boleh jadi kesimpulan/keputusan itu sebetulnya tidak dapat diterima oleh majoritas masyarakat ilmiah yang mengikuti seminar itu. Suatu teori untuk dapat diterima oleh majoritas masyarakat ilmiah sering memerlukan waktu yang lama. Sebagai contoh teori plate-tectonics yang sekarang dianggap bukan lagi teori tetapi sebagai fakta ilmiah, konon katanya memerlukan waktu 50 tahun.

Penutup

Sampai saat ini, belum dapat ditentukan pendapat mana yang benar secara ilmiah. Kita hanya dapat menunggu pendapat mana yang banyak dirujuk oleh tulisan ilmiah di dalam berbagai jurnal ilmiah terkemuka.

Sekarang, yang perlu segera dilakukan adalah menghentikan penderitaan masyarakat yang terkena musibah genangan lumpur tersebut tanpa harus menunggu dicapainya kebenaran ilmiah tentang penyebab semburan lumpur itu. Pemerintah bertanggungjawab untuk menyelesaikan masalah ini, terlepas dari persoalan apa pencetus terjadinya semburan lumpur itu.

Posted in Dari Indonesia untuk Dunia, Semburan Lumpur | Dengan kaitkata: , , , | Leave a Comment »

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.